YOU'RE MINE
KrisKai-HunKai-HanKai-ChanKai
Rated:
T?
Genre:
Romance/Drama
Warning:
BL, Out of Character, CrackPair, AU.
.
Tidak suka? Jangan memaksakan diri. JUST KLIK [X]
-o0o-
Perjalan wisata adalah hal yang paling dinanti oleh semua siswa SMA―apalagi jika kalian adalah siswa tingkat akhir. Terang saja, setelah serentetan tugas dan ujian yang penuh tekanan, setiap orang akan sangat menghargai apa yang orang sebut dengan refreshing. Liburan. Di usia mereka yang terbilang muda, kesenangan adalah nomor satu. Dan tentu saja salah satu kesenangan mereka adalah dengan pergi wisata.
Oh Sehun―si pemuda yang orang-orang bilang kekurangan pigmen karena warna kulitnya yang pucat―pun tak menjadi terkecuali. Layaknya siswa SMA lainnya, Sehun sangat mengantisipasi absennya hari-hari yang penuh dengan jadwal pelajaran dan tugas. Liburan itu seperti mendapati kolam renang di tengah padang pasir yang tandus dan gersang baginya. Seperti sedang beruntung menerima pujian dari guru ter-killer di sekolah. Dan atau―baginya ini pengandaian yang paling ia suka―seperti mendapat sebuah ciuman penuh gairah dari Kai di hari ulang tahunnya.
Sehun merasa beruntung karena setelah semua yang ia jalani beberapa bulan ke belakang―persipan untuk ujian akhirnya―ia tak harus kehilangan kewarasannya ( Jangan memandangnya begitu, bukankah memang tak sedikit kasus siswa bunuh diri karena hal ini?). Sehun memang selalu merasa begitu beruntung. Dia dikarunia begitu banyak kelebihan. Tampan, jago dance, lahir di keluarga kaya, tampan, disukai gadis-gadis, tampan, mempesona, cerdas, berkharisma dan yang terakhir dan terpenting dari semuanya, dia; tampan. Bold, underline, italic cukup menjelaskan.
Satu-satunya yang membuatnya merasa menjadi tidak sempurna mungkin adalah karena dia tidak bisa memiliki Kai. Uh ya, pemuda berkulit eksotis itu sudah mempunyai pacar. Sesuatu yang sangat disayangkan yang memilikinya adalah seorang naga jelek pedofil sok keren.
"Kai, di sini," katanya begitu melihat pemuda itu berjalan di lorong bus. Dia tersenyum tipis pada pemuda itu―padahal ia sudah berjanji dalam hati untuk terus memasang tampang datar agar terlihat keren―sambil menepuk kursi kosong di sampingnya.
Kai mengangguk dan duduk. "Thanks, Hun." katanya.
Ya, sama-sama, manis. Dia ingin mengatakan itu. Tapi tentu saja―tidak. Kai itu paling benci dipanggil manis. Lagian dia memang tidak manis, dia seksi.
Sejujurnya, Sehun tidak pernah begitu serius mengejar seseorang. Bisa dikatakan ini adalah rekor pertamanya berusaha begitu keras demi mendapat perhatian dari seseorang. Terasa aneh karena itu selalu sebaliknya. Orang-oranglah yang selalu mengejar-ngejar dirinya.
Hanya sekedar informasi, ia bahkan mengusir teman sekelasnya yang sudah lebih dulu duduk di sampingnya tadi hanya untuk membuat Kai duduk tepat di sampingnya seperti saat ini.
"Kau tahu? Aku senang sekali akhirnya bisa ikut." Kai menoleh, "Di sana pasti menyenangkan."
Sehun merasa dia sudah gila. Kenapa detakan jantungnya menjadi lebih cepat hanya dengan melihat senyum pemuda itu? "Ya, tentu saja. Di sana 'kan ada aku," balasnya dengan tenang tanpa menoleh. Penuh rasa percaya diri dan aroganisme. Khas Sehun sekali.
Kai tertawa nyaring sambil meninju lengannya main-main mendengar itu.
Duk.
"Awww," Sehun membuat ekspresi benar-benar tersakiti yang meyakinkan. "Kau menyakitiku, Kai," rengeknya. Padahal dalam hati ia sedang sibuk memuji suara tawa Kai. Hanya suara tawa bernada berat yang nyaring, tapi kenapa terdengar begitu seksi? Apalagi saat mendesah ya? Pikirnya.
Kai menyipitkan matanya, tak percaya. "Benarkah? Padahal aku memukulmu main-main."
Sehun menoleh menatap sepasang mata Kai dengan sungguh-sungguh, kedua tangannya tersimpan di tempat yang sama; dada kirinya. Ia menghela nafasnya dan tersenyum masam, "Kau menyakiti hatiku selama ini, kau tahu?" Ia membuat seringai setelahnya,mencondongkan tubuhnya pada orang di sampingnya. "Omong-omong, aku masih berdoa agar kau cepat putus dengan naga jelek itu dan berpaling padaku."
Kai menaikkan sebelah alisnya lalu menggeleng, tak menyaka penyakit drama queen Sehun sudah separah itu. "Shut up," ujarnya sambil mendorong Sehun menjauh dengan hempasan kasar.
Ia tak mengatakan apa-apa lagi saat bus mulai melaju meninggalkan kawasan sekolah. Memilih mendengarkan musik dan tidur.
.
-o0o-
.
Tenang adalah nama tengah Wu Yifan. Keren juga nama tengahnya yang lain, omong-omong. Jadi mulai sekarang kalian bisa memanggilnya dengan Wu―Calm-Cool―Yifan. Itu terdengar amat keren, bukan? Tapi sepertinya ia harus sedikit rela untuk melupakan kedua nama tengah tidak resminya itu karena hal sepele. Pacarnya. Tentu saja, urusan percintaan itu masalah sepele baginya. Ia bahkan bisa mengurus sebuah perusahan besar diusianya semuda ini, menunjukkan betapa ahlinya ia mengurusi sesuatu.
Apa? Kenapa kalian menatapnya seperti itu?
Kalian berfikir jika dia sedang berbohong?
Oh, bagaimana caranya kalian tahu? Astaga.
Baiklah, baiklah. Dirinya sudah ketahuan dengan telak. Jadi tolong tarik kata-katanya tadi tentang masalah ini masalah sepele. Bukan, sama sekali bukan. Masalah Jongin itu selalu urgent dan selalu sukses membuatnya sakit kepala. Melebihi efek saat ia mengurusi tender besar yang sulit mendapat kata deal. Kenapa bisa? Kris juga tidak mengerti. Mungkin ini yang orang-orang sebut dengan; Kai's Syndrom. Sepertinya.
Mobil terparkir di depan gedung dengan suara decitan ban dengan jalan. Cukup keras. Menunjukkan jika rem mobil diinjak secara tiba-tiba setelah melaju dengan kecepatan diatas normal. Sosok pengemudi, Kris, keluar begitu saja lalu membanting pintu mobilnya dengan tanpa perasaan. Melempar kunci mobil pada orang yang berjaga di depan pintu masuk dan berlari menuju lift.
Ah, dia lupa tentang wibawanya rupanya.
Ia sudah kehilangan dua nama tengah tidak resminya. Kehilangan satu tittle lagi sepertinya bukan masalah besar sekarang. Tidak penting. Ia hanya ingin cepat sampai di apartemennya dan mengemasi beberapa barang dan berakhir dengan segera menyusul Kai ke Jeju dengan alternatif tercepat. Ia tidak bisa membiarkan kekasihnya itu tinggal―meski barang tiga hari―dengan orang-orang yang jelas ketidakjelasannya seperti mereka, apalagi tanpa pengawasannya 'kan?
Dari awal ini semua salahnya yang memberi izin pergi. Kris harus lebih sering berlatih untuk menolak rengekkan dan ekspresi anjing terbuang milik Kai mulai dari sekarang, jika tidak ingin perusahaan besarnya bangkrut.
Bayangkan. Jadwalnya hari ini begitu padat. Ada meeting yang―harusnya―tidak boleh ia tinggalkan dan kini ia malah memilih berlibur. Kris merasa cukup prihatin pada Jessica sebagai sekertarisnya, yang saat ini pasti kelimpungan menerima telepon akibat ulahnya ini.
"Jadi orang penting itu memang sulit," ujar Kris sambil menghela nafas karena merasa bersalah. Ah, omong-omong tentang merasa bersalah. Di mana ia menaruh celana dalamnya, ya? Kris nampak mengingat-ingat. "Mungkin di sini," gumamnya sambil membuka lemari pakaiannya.
Dan setelah mengambil pakaian yang ia rasa akan ia perlukan selama tiga hari di Jeju, ia kembali menutup pintu lemari, membuat cermin besar yang menempel pada pintu lemari itu otomatis merefleksikan bayangan seseorang yang begitu familiar. Dirinya.
Itu dirinya, dalam keadaan berbeda. Dengan rambut yang tidak serapi biasanya. Dengan pakaian yang tidak serapi biasanya. Dan ia juga baru sadar jika tangannya lecet karena mininju batang pohon, dan anehnya baru menyadari perihnya sekarang. Mungkin jika Jongin ada di sini, dia akan mengomelinya tanpa jeda sambil memaki-makinya. Dan Kris hanya akan duduk manis menatapinya dari dekat sambil mengulum senyum.
"Lihat begitu kacaunya dirimu, Yifan," gumam Kris sambil menyentuh permukaan dingin kaca. "Ini belum satu hari…"
Tak ingin membuang waktu lebih lama. Kris mempersiapkan diri kembali. Mengganti pakaiannya dengan pakaian lain yang lebih semi formal dan kembali mengecek barang bawaannya.
"Halo, Pak Kim?" sapanya pada seseorang di seberang. Sebelah tangannya ia gunakan untuk memegang ponsel dan sebelah lagi ia gunakan untuk memegang password dan tiket pesawat. "Tolong carikan hotel tempat Kai menginap di Jeju dan pesankan aku kamar tepat di sampingnya. Ya, sekarang."
Piip.
Secepat sambungan terhubung, secepat itu pula sambungan kembali terputus. Kris bahkan tidak membiarkan orang yang ia telepon tadi berbicara sepatah katapun untuk membalasnya.
Kris itu egois, ingat? Dan ia tentu takkan membiarkan siapapun menganggu miliknya. Apalagi jika itu adalah Kai . "Kupastikan kalian akan menyesal… bocah-bocah." Geramnya.
.
-o0o-
.
Kai tidak menyangka jika berurusan dengan dua orang ini bahkan lebih merepotkan daripada mengurus anak TK. Lihat saja mereka, kenapa bisa begitu ribut hanya karena tempat duduk pesawat. "Kalian ini kenapa sih? Hun? Hyung?" tanya Kai setengah jengah. Bagaimana tidak jengah. Ia jadi tidak bisa duduk karena dua orang ini sibuk berkelahi memperebutkan hal tidak penting di depannya hingga menghalangi jalannya. Padahal ia mengantuk.
"Ini tempat dudukku, hyung."
"Jelas-jelas ini punyaku. Kau lihat nomor seatnya sama dengan nomor di tiketku."
"Kau pasti menukar tiketnya tadi," tuduh Sehun tenang. "Aku duduk di sini. Titik."
"Mana ada? Jelas-jelas ini tempat dudukku!"
Kai meremas mata tertutup dengan perasaan jengkel. Agak heran, memang apa istimewanya kursi itu sehingga begitu diperebutkan oleh mereka? Malas mendengar lebih banyak, Kai mendesah. Dengan kecepatan cahaya penuh menarik dan mengambil tiket di tangan Sehun dengan paksa. Kemudian menaruh tiket miliknya di sana sebagai gantinya.
"Kai apa yang kau―"
"Kalian ingin duduk di tempat yang sama 'kan? Yasudah, duduk saja di tempatku, Hun. Setidaknya kalian bisa duduk berdampingan. Biar aku yang duduk di tempatmu." Dan Kai berbalik pergi menuju kursi di barisan dua dari sana sambil menguap dan tanoa mau tahu lagi. Dia benar-benar mengantuk karena bangun terlalu pagi hari ini. Dan ingin tidur secepatnya.
Seementara itu, Sehun dan Chanyeol berpandangan dan mendesah bersamaan sebelum akhirnya duduk dan diam dengan pasrah. Bukan ini yang sedari tadi mereka ributkan. Dan bukan juga karena alasan yang Kai pikikan. Pada akhirnya tidak ada yang bisa duduk di samping Kai.
"Hai, Kai."
"Luhan-sonsaengnim?"
"Kita bertemu lagi."
Refleks Sehun dan Chanyeol berdiri dan menoleh ke belakang. Mendengar suara tak asing menyapa, meski bukan pada mereka. Bisa ia lihat jika songsaenim mereka yang satu itu kini menampilkan senyum manis yang sarat akan ejekan dan sebuah lambaian tangan pada keduanya saat Kai duduk di sampingnya. Keduanya menggeram dan kembali duduk bersama. Merasa kesal dan saling menyalahkan satu sama lain lagi sedetik kemudian.
Ya, ampun.
"Kenapa tidak membantuku memisahkan mereka tadi, Lu-songsaeng?" heran Kai. Jika memang sang guru berada di dekat mereka, harusnya ia melakukan itu 'kan?
"Hum," Luhan menoleh dan kembali tersenyum manis, "Untuk apa memisahkan mereka jika akhirnya kau akan duduk di sampingku. Benar 'kan, Kai?"
Ah, Kai lupa. Guru olahraganya ini memang sama anehnya dengan kedua anak Tk tadi. Masih ia ingat dengan jelas insiden pencuri ciuman tadi pagi adalah orang yang sama yang kini terlihat begitu manis sekaligus cantik ini. Siapa yang menyangka. "Aku kira semua guru ada di pesawat berbeda," kata Kai mengalihkan pembicaraan. Terdengar bernada ketus.
Luhan mengangguk saja, "Semuanya, kecuali aku."
"Dan kenapa pengecualian itu ada, sonsaeng?" heran Kai setengah tak tertarik. Karena dia mengantuk. Ia malah menguap dan menyamankan posisi duduknya di sandaran kursi sambil menutup mata.
Luhan tersenyum. Ia menyandarkan tangannya pada jendela dan menjadikan tangannya sebagai topangan dagu. "Mengantuk, Kai?" tanyanya dengan tidak nyambung.
"Hum."
Senyum Luhan semakin lebar. "Yakin akan tidur seperti itu?"
Kai membuka matanya perlahan dan menoleh dengan penasaran. "Memang mau tidur dengan posisi bagaimana lagi?" gumam Kai dengan pelan. Ia mengerjapkan-ngerjapkan matanya yang sudah sayu.
Luhan mengangkat bahu sebagai respon. Menyunggingkan senyum manis. "Kau bisa tidur di pangkuanku, di pelukanku, atau mungkin dengan kepala di bahuku?" godanya.
Kai mendesah dan menggeleng tak habis pikir. Namun ia sudah mengantuk sekali, dan pada akhirnya memilih menjatuhkan kepalanya di bahu guru olahraganya itu tanpa membalas kata dan jatuh tertidur dengan begitu cepat.
Sementara itu Luhan syok. Amat syok. Ia tidak menyangka jika Kai akan benar-benar menyetujui tawarannya dengan begitu saja dan langsung jatuh tertidur. Meski ia yang menawari, ia merasa belum siap. Tubuhnya membeku dan tiba-tiba saja terasa sulit bergerak karena tak ingin menganggu tidurnya. Meski begitu Luhan tak bisa tidak tersenyum. Ia menolehkan wajahnya ke kiri dan ia bisa melihat wajah anak didiknya itu begitu tenang. Tangannya yang kanan terangkat untuk mengusap pipi jongin dan sedikit merapikan poni rambutnya yang menghalangi mata.
Anak ini… kenapa begitu manis? Batinnya.
Coret semua kelakuaannya saat terjaga yang begitu bengal dan urakan. Bagaimana pun semua orang pasti terlihat polos saat tertidur, begitupun Kai. Bukankah karena wajah polos itu juga ia bisa begitu mengilai sosok ini? Luhan mengeleng menemukan sesuatu yang terasa dejavu di sini.
Ini persis sama dengan kejadian di UKS beberapa bulan lalu. Saat ia menjadi guru olahraga yang baru dan bertugas mengecek UKS. Mungkin itu takdir, karena ia mendapati Jongin tertidur begitu tenang di salah satu ranjang. Dengan ekspresi polosnya. Entah apa yang merasuki Luhan saat itu, karena ia seperti mendapat dorongan untuk mencium bibir itu saat mendekat.
Sebut ini kegilaannya tentang teori 'Buat dia bangun dengan ciumanmu dan kau akan hidup bahagia selamanya' yang ia dapat dari salah satu Princess Disney―Snow White. Nyatanya teori itu hanya omong kosong belaka.
Setelah ia menciumnya, Kai memang bangun. Tapi itu tidak terjadi seharusnya setelahnya.
Ah, mungkin tidak terbuktinya teori ini juga berkaitan dengan ada sedikit kesalahan saat ia melakukan adegan ciuman. Karena Luhan, mengikutsertakan lidahnya untuk berpartisipasi―yang tidak dilakukan sang pangeran dalam film. Mungkin di sana missing linknya terjadi.
Karena yang ia dapat dari akhir cerita yang harusnya berupa '…hidup bahagia bersama selamanya' itu malah menjadi adegan kekerasan sang puteri pada pangeran, berupa sebuah tonjokan telak di pipi kiri hingga lebam. Naas sekali…
Ah, tapi bagaimanapun. Ia sudah jatuh pada sosok sang puteri yang bukan perempuan yang tidak manis serta lembut ini, tidak bisa melepaskannya begitu saja. Apalagi jika untuk seorang setan, manusia bertelinga peri dan seekor naga pengkonsumsi baby cream dan minyak rambut. Tidak. Meskipun si naga jelek yang ia ejek sebagai pengkonsumsi baby cream dan minyak rambut itu sendiri adalah pacar sah Kai. tidak peduli, tidak mau peduli.
Karena… Luhan sudah tergila-gila. Hingga batas yang tak ia akui tidak wajar.
Luhan menggunakan tangannya yang bebas untuk menangkup pipi sebelah kiri Kai, mengusapnya dengan menggunakan ibu jarinya. Menurunkan usapannya hingga ke ujung bibirnya. Sebuah ukiran senyum terbentuk di bibirnya, membentuk kurva sempurna saat ia mencondongkan wajahnya untuk menyambut bibir di depannya. Bibir favoritnya. Ia memejamkan mata―
Cup.
―tunggu.
Luhan membuka matanya merasakan sesuatu yang aneh. Ini tidak terasa sama. Tiba-tiba matanya membulat dan ia memundurkan tubuhnya saat melihat sosok di sampingnya sudah membuka mata sempurna. Dengan jari telunjuk di depan bibirnya.
Jadi… ciuman tadi… jari telunjuk di depan bibir…
"Sial!" umpat Luhan sambil mengusap bibirnya dengan punduk tangan. Ia tidak mencium bibir Kai tadi. Melainkan jari telunjuknya.
"Mencium orang yang sedang tidur, apalagi tanpa izin itu tidak sopan, sonsaengnim," goda Kai sambil mengangkat kepalanya dari tempat semula, ia menggerakkan jarinya ke kiri dan ke kanan sambil berkata "A-a." lalu menyunggingkan senyum miring sebelum memunggungi Luhan dan kembali tidur dengan kepala menyamping ke kiri. Menampilkan leher bagian kanannya.
Dan itu sebuah kesalahan besar.
Greb
CUP
Karena itu membuat Luhan dengan leluasa mendaratkan bibirnya di sana. Dan membuat sebuah tanda kemerahan sebelum Kai berhasil mendorongnya menjauh.
"Apa yang kau lakukan?" geram Kai sambil menutupi lehernya dengan tangan. Rasa kantuknya menguap entaah kemana.
Tapi Luhan hanya membalas dengan sebuah sunggingan senyum yang nampak tak berdosa. Dan berujar santai, "Aku hanya mencicipinya dan ra―"
"Shut up!"
Kai membuang muka, merasakan sesuatu menjalari wajahnya. Ia bergidik akan kelakuan guru olahraga cantiknya, yang benar-benar nekat, dalam diam. Kai bahkan mulai bertanya-tanya. Sebenarnya ada apa dengan orang-orang ini?
.
-o0o-
.
Keindahan pulau Jeju menyambut Kris saat melangkah keluar. Ia melepas kacamata hitam yang ia kenakan dan tersenyum tipis. Kembali berjalan sambil menaik kopernya. Tak bisa dipercaya. Dia benar-benar di sini sekarang. Meski hanya butuh satu jam perjalanan dari Seoul menuju pulau Jeju dengan pesawat. Kris masih belum mempercayainya. Melihat semua keindahan alam yang sudah lama tak ia rasakan. Kenapa terasa begitu menyenangkan?
Kris menutup matanya, merasakan angin menerpa tubuhnya. Memainkan helai-helai rambutnya.
Rasanya nyaman…
Nyaman sekali…
Tanpa sadar Kris mulai terhanyut dengan kegiatannya itu.
Hmm…
"Maaf tuan, permisi."
"HAH?" Kris tersadar saat itu juga dan berbalik, membungkuk sedikit dan menggeser tubuhnya agar tak menghalangi jalan. Ia lupa jika ia masih ada di tengah jalan keluar bandara sekarang. Dan sepertinya ia juga lupa, berapa besar koper dan tinggi tubuhnya itu bisa berpengaruh pada arus orang-orang ini. Ia mendongak dan matanya membesar saat melihat beberapa orang berjajar dengan tas koper besar, satu persatu melewatinya. Salah satunya sambil menggerutu-gerutu.
"Apa kau artis?"
Kris cukup terkejut saat ada suara yang menyapanya. Belum lagi tatapan menilai yang ia dapat dari orang yang sama, sukses membuat risih. Kris ingin mengatakan, bukan, aku bukan artis tapi bahkan lebih penting dari mereka. Tapi pada nyatanya ia hanya menggeleng sambil tersenyum. Raut wajah orang itu, yang tadinya antusias mentapnya berubah menjadi masam.
Orang itu melewatinya kemudian, lalu mendengus. Mungkin kecewa. "Kalau begitu perhatikan jalanmu anak muda. Kau pikir ini jalan kepunyaan nenekmu? Dasar anak muda zaman sekarang…"
"Maafkan aku," Kris membungkuk sedikit cepat dengan canggung dan memberikan senyum terpaksa kali ini. Cukup tersinggung atas sindiran itu. Sebenarnya ia ingin berkata pada orang itu; jika ia mau, jalan ini memang bisa menjadi miliknya. Tapi lagi-lagi akhirnya dia hanya memilih diam. Ini rekor. Ada orang yang berani memarahi Wu Yifan selain ayahnya dan Jongin. Dan itu adalah seorang ahjumma berumur yang menyangkanya seorang artis tapi kemudian mengejeknya. How funny? Pikirnya sarkastik.
Seberapa lama aku memblokir jalan tadi? Pikir Kris dalam hati sambil kabur dari sana dengan menyeret koper. Mau ditaruh di mana wajah tampannya ini? Batinnya.
Kris berjalan terus dan memilih untuk berhenti di depan sebuah minimarket kecil yang memiliki tempat duduk di depan toko. Ini bukan yang terbaik, tapi setidaknya Kris bisa duduk dan sedikit bersantai untuk menentukan apa yang akan ia lakukan disini, pada hari ini dan pada saat ini.
Tunggu sebentar. Sebenarnya apa tujuan ia datang ke sini tadi? Ah iya, tentu saja. Kai.
Kris mengambil ponsel dan menganti modenya. Baru saja ia akan membuat sebuah panggilan untuk Kai, saat mendapati ponselnya berbunyi terlebih dahulu. Awalnya ia begitu senang saat mengira itu adalah panggilan dari Kai, tapi ia harus menelan pil pahit bernama kehidupan saat melihat nama pemanggilnya. Tidak ada Kai, melainkan pak Kim. Kris merasa menjadi korban pemberi harapan palsu di sini.
"Hm?" balas Kris dingin saat sambungan sudah terhubung.
"Aku-aku hanya ingin memberitahu, tuan. Jika tuan Kai tidak menyewa hotel."
Kris mengangguk mengerti. Mengamati jari kukunya. "Kalau begitu katakan padaku ada di penginapan mereka…"
Jeda sebentar.
"Pak Kim, ada apa?" Kris bisa menangkap suara menurigakan dari sebrang melalui sambungan telepon, tapi dia tidak benar-benar yakin suara apa itu. "Pak Kim, cepat katakan padaku apa yang salah? Kai menginap di penginapan mana?" Sejujurnya Kris hanya merasa ingin lebih cepat untuk berkenalan dengan pak kasur, paman selimut, bibi bantal dan teman-temannya.
"Itu masalahnya tuan."
"Ha?" Kris itu jenius, tapi ia tidak mengerti. Meski begitu tidak usah repot-repot membayangkan wajahnya yang sedang tidak mengerti. Karena itu masih tampan, serius.
"Rombongan tuan Kai, tidak menginap di hotel ataupun penginapan, Tuan."
Kris menegakkan tubuhnya dan kini sudah memberikan perhatian sepenuhnya. Alisnya yang orang bilang―tentu saja orang lain itu adalah Kai―mirip dengan angry bird kini tertaut menahan heran. Perasaan Kris memburuk, bahkan sebelum mendengar jawabannya dan bertanya "…Lalu?"
Jeda sebentar.
"…Mereka membangun kemah."
Dan Kris hanya bisa…
Duk!
"Shit! Aku benci wisata alam."
…mengumpat sambil menendang meja di depannya. Kebiasaan yang tak pernah hilang saat ia kesal.
.
-o0o-
.
Taman Hanrim adalah tujuan pertama mereka. Sebuah taman yang menyediakan fasilitas untuk berkemah di sekitarnya. Ini tengah hari dan semua orang sedang sibuk membangun kemah mereka masing-masing sesuai dengan kelompoknya sejak tiba. Beberapa yang lain terlihat hilir mudik membereskan barang bawaan atau sekedar mencari kayu untuk api unggun. Sebagian lagi sibuk dengan kuali dan memasak menu makan siang.
"Kai, kau tidak apa-apa?" Minseok bertanya dengan khawatir sambil menepuk bahunya saat ia sibuk dengan tenda kelompoknya.
Kai mengangguk sebagai jawaban, "Aku baik-baik saja, hyung." Ia heran dan malah balik bertanya, "Memangnya kenapa?"
"Tengah hari di saat cuaca cukup panas seperti ini, aku hanya pensaran kenapa kau memakai scarf. Aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak sakit."
Kai tersenyum. Minseok memang begitu perhatian pada siapapun. "Aku baik-baik saja. Hyung tidak usah khawatir."
Dan Minseok berlalu ke sisi lain setelahnya. Mendekati Suho yang sepertinya kesulitan dengan semua tali-tali untuk tenda mereka, Suho memang payah dan sama sekali tidak punya pengalaman dengan itu hingga membuatnya begitu kesulitan. Ya, mereka memang satu kelompok tidur; dirinya, Kim Minseok, Kim Jongdae dan Kim Junmyeon. Kai hanya bersyukur karena kali ini, tidak diperbolehkan acara tukar menukar teman tidur seperti insiden perbutan kursi di pesawat. Dia sudah cukup lelah menengahi sahabat dan hyung kesayangannya itu. Ah, dan jangan lupakan sonsaengnim nekatnya.
Kai menggeleng sambil mengusap lehernya dari balik scarf.
Dan saat itulah, panggilan itu muncul dari ponselnya. Kai menaruh semua barang-barang di tangannya dan berjalan menjauh untuk mengambil tempat sepi saat mengangkatnya. Itu Kris, siapa lagi? "Halo?"
"Halo sayang. Merindukanku?"
Kai tertawa mendengar nada penuh rasa percaya diri berlebihan itu menyapanya, "Yang menelpon lebih dulu 'kan kau. Terlihat sekali siapa yang merindukan siapa." Dan tawanya mengeras saat mendapat umpatan ketidak puasaan dari seberang. Sesuatu tentang 'aku ketahuan' dan sebagainya.
"Bagaimana perjalanmu? Kau sudah sampai?"
"Hum," Kai mengangguk meski tahu Kris tidak akan bisa melihatnya. Senyuman lebar ia tampilkan. "Aku sedang membangun tenda sekarang―" Mata Kai melotot saat melihat tenda yang kelompoknya bangun kini sukses rubuh. Dan ia malah tertawa melihat ekspresi menyesal Junmyeon dan ekspresi panik Jongdae dari kejauhan.
"Kenapa?"
Kai menghentikan tawanya. "Apa semua orang kaya tidak bisa membangun tenda?" tanyanya tidak nyambung. Junmyeon memang anak konglomerat dan wisata alam seperti ini pasti bukan style-nya. Lucu saja melihatnya kerepotan saat membangun tenda.
"Apa maksudmu?"
"Tidak-tidak. Hanya saja, salah satu temanku sepertinya telah merubuhkan tenda kami." Kai terkekeh dan menggeleng. Tiba-tiba saja ia membayangkan Kris yang kerepotan membangun tenda. Kai yakin jika tuan mudanya itu pasti sangat kacau dan tidak bisa berhenti mengumpat saat melakukan itu. Dia 'kan terbiasa tinggal di hotel. Tapi… memangnya untuk apa Kris mau repot-repot begitu? Tidak mungkin sekali. "Ah, Kris. Aku harus membantu membangun tenda lagi."
"Baiklah. Padahal aku masih merindukanmu. Hati-hati, oke? Kau tahu aku selalu mengawasimu. Jadi jangan macam-macam."
"Macam-macam apa? Konyol." kekeh Kai sambil menggeleng tidak mengerti. "Baiklah aku tutup."
Pipp
Dan sambungan terputus. Kai sudah berlari menuju tenda dan kembali membangun tenda mereka setelah menaruh ponselnya di dalam saku. Saat seruan dari guru-guru terdengar.
"Di dekat sini ada pantai Hyeopjae. Anak-anak. Percepat pembangunan tenda kalian dan setelah makan siang kita ke sana! Mengerti?"
"Mengerti!"
Pantai, adalah satu-satunya yang terdengar menyenangkan di telinga mereka hari ini.
.
-o0o-
.
Kris tidak bercanda saat ia mengatakan bahwa ia selalu mengawasi Kai di telepon tadi, karena sekarang pun ia sedang melakukannya dari kejauhan. Ia sengaja memilih lahan yang tak terlalu jauh dari mereka sehingga bisa dengan leluasa mengawasi. Dia sepertinya memiliki bakat menjadi seorang stalker. Seorang CEO yang menjadi stalker di waktu sibuknya, itu terdengar aneh tapi keren juga.
Pantai Hyeopjae? Pikir Kris sambil tersenyum.
Tentu saja dia akan pergi ke sana. Dia akan kemanapun Kai pergi untuk mengawasinya. Tapi...
Kris menoleh pada kemah rubuh yang teronggok di dekat kakinya. "Hahh," desahnya keras sambil menendangnya menjauh.
Masalahnya Ia harus menyelesaikan pembangunan tendanya dulu.
Shit, ia memang membenci wisata alam sejenis ini.
-o To be Continue o-
Note:
Semua tempat itu, entahlah. Hanya imajinasi belaka. Bukankah menurut kalian ini sangat absurd? Haha.
Btw, terimakasih atas respon chapter kemarin yang sangat tidak disangka. Untuk:
Xiuxiu Lu, Septaa, RanHwa19, ggamjongin, ichigo song, Deushiikyungie, BabyMikami, Yoon Hee, nadia, yongchan, Keepbeef Chiken Chubu, sayakanoicinoe, Guest, baek. yeonra, Digichan-chan, ayumKim, ririn, SehunBubbleTea1294, fyleads, LM90, Reddish Bi, ssnowish, miszshanty05, AHeeChanbaek, jurinabc, Jongin48, oniex, askasufa, aniaani47, dimpleXing, faomori, myuu myuu, ockta1810, fhany. aprilia, cha yoori, DioUmmanyaFarhan, bebejoomgin, beauty, RoundLess BL, Wookie, putrimyungkai, Guest, maia. vierr, Guest, GaemGyu92, flamintsqueen, banzaianime80
Dan semua yang sudah memfav dan follow alert. Oh, dan para siders juga―jika ada.
Terimakasih banyak. Membaca review dari kalian semua sangat menyenangkan :)
For the laaaassst;
Wanna Gimme a Review?
