Seorang guru pria dengan jenggot yang cukup lebat terus saja berceloteh ria seakan seluruh murid di kelas yang diajarnya antusias mendengarkan. Ia tak mempedulikan suara dengkuran Naruto yang tertidur, suara Shikamaru yang menguap dan menggumamkan kata 'bosan' berkali-kali, serta kelakuan kiba yang usil dengan melempar-lemparkan kertas serta menyumpal kertas yang telah diremas-remas ke mulut Naruto yang terbuka saat sedang tertidur.
Dia adalah Hiruzen Sarutobi-sensei, guru agama kelas XII-A. Dia sedang bercerita tentang sejarah penyebaran agama di seluruh dunia. Hanya segelintir orang yang terlihat serius memperhatikan, termasuk Sakura. Tentunya.
Sakura merupakan salah satu murid yang terkenal pandai di kalangan para guru dan ia tak mungkin merusak image yang telah lama dibangunnya hanya karena mengantuk saat mendengarkan guru agamanya bercerita.
Namun sepertinya, tak ada seorangpun yang tahu kalau saat ini, pikirannya tak sedang berada dalam kelas. Pikirannya berkeliaran dan terbang ke tempat lain. Yaitu ke kamar tidurnya, kembali ke pagi di mana ia terbangun dari mimpi nistanya itu.
Sakura masih tak habis pikir, mengapa ia dapat memimpikan hal tersebut. Bagaimana jika yang bersangkutan tahu kalau ia memimpikannya seperti itu? Gila rasanya.
Sakura memejamkan mata dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Berusaha mengenyahkan hal-hal aneh yang tengah mengelilingi otaknya. Ia sedang berusaha untuk kembali fokus tepat ketika gurunya berkata, "Terkadang, sebuah mimpi dapat menggambarkan kehidupan yang akan terjadi. Bisa saja mimpi yang kalian alami akan terjadi suatu saat nanti. Atau, mimpi itu dikirimkan oleh tuhan untuk memperingatkan kita akan sesuatu."
Dan setelah itu, Sakura termangu untuk beberapa saat.
*
Ramai. Itulah satu kata yang dapat menggambarkan suasana kantin siang ini. Semua murid dari berbagai tingkatan kelas berbaur satu dengan yang lainnya demi mengisi perut yang keroncongan. Termasuk Sakura dengan kawan-kawannya. Mereka telah mengambil tempat di sebuah meja di bagian paling pinggir, berhadapan langsung dengan taman sekolah yang indah. Cukup strategis.
Sakura mengaduk-aduk gelas yang berisi jus stroberi tanpa minat. Mengamati keadaan kantin yang penuh serta keempat temannya yang berbincang dengan seru. Ia sedang tak berselera untuk makan. Ia bahkan tak merasa lapar sedikitpun. Ia hanya memesan segelas jus stroberi yang sebenarnya tak ingin dibelinya, sedang keempat kawannya—Ino, Tenten, Temari, dan Hinata —dengan lahapnya menyantap makanan yang mereka pesan beberapa saat yang lalu.
"Hei, hei, kalian tahu tidak?" tanya Ino heboh, yang dibalas dengan tak kalah heboh oleh kawan-kawannya,—minus Hinata—sedangkan Sakura hanya memutar bola matanya dengan bosan.
"Kemarin ..." Ino mengecilkan volume suaranya, membuat yang lain refleks mengarahkan kepala mereka mendekati Ino.
"Ada apa, ada apa?" Itu suara Tenten
"Kemarin ..."
"Ya...?" Kini, semua orang telah mengerubungi Ino. Bahkan, Sakura yang tadinya acuh pun kini ikut mendekati Ino, penasaran.
"Kemarin... Kakashi-sensei mengobati lukaku! Kyaa! _" Jeritnya, membuat yang lain menyerukan nama 'Ino' dengan kompak dan menutup telinga kuat-kuat.
Sakura yang sudah terbiasa mendengar jeritan cempreng gadis itu pun angkat suara, "Huh! Aku kira apa yang akan kau katakan adalah sesuatu yang penting. Dasar Ino pig" ia mendengus sebal sambil kembali melanjutkan aktivitasnya yang terhenti tadi, yaitu mengaduk-aduk jus stroberi.
"Itu penting forehead. P.E.N.T.I.N.G."
"Hn, terserah kau saja lah," balas Sakura sambil yang mencantumkan trademark milik sang Uchiha, 'hn'.
Setelah mengecek telinganya dan memastikan bahwa benda itu masih cukup baik untuk digunakan, Temari buka suara, "Benarkah? Mengobati? Apa maksudmu?"
"Dia mengob ..."
"Mengobati luka hatinya setelah putus dari Gaara," sambar Sakura cepat, memotong perkataan Ino, yang dibalas dengan deathglare olehnya.
"Sebenarnya, itu juga termasuk sih. Karena dia telah mengisi relung hatiku yang kosong setelah ditinggalkan Gaara. Tapi bukan itu yang ingin kukatakan."
"Terus apa dong? Cepat beritahu kami," desak Tenten tak sabar.
"Baiklah, akan keceritakan. Jadi, kemarin, ketika aku sedang bersepatu roda di trotoar,aku tersandungdan terjatuh. Lututku sedikit berdarah karena aku tak memakai pelindung lutut kala itu. Perih rasanya. Lalu tiba-tiba, seseorang mengulurkan tangan padaku. Saat aku mengangkat kepala, ternyata itu adalah Kakashi-sensei! Dia memapahku dan mengobati luka di lututku. Aaw, saat itu aku merasa sepertia ada jutaan kupu-kupu terbang memenuhi perutku. Nah, begitulah ceritanya."
"Woaah, benarkah? Beruntungnya dirimu." Temari memekik, membuat Sakura kembali memutar bola matanya.
"Hahaha... keren, kan? Lihat ini. Ini luka yang kemarin diobati Kakashi-sensei. Kapan-kapan aku akan lebih sering bersepatu roda di trotoar dan akan lebih sering terjatuh," ucapnya bangga sambil mengangkat kaki yang di bagian lutunya terdapat plester, bagaikan trofi penghargaan yang patut dibanggakan.
"Kalian ini kenapa sih? Kakashi-sensei kan hanya seorang guru matematika dengan rambut beruban. Mengapa kalian begitu tergila-gila padanya?" Sakura bertanya dengan kening berkerut-kerut heran. Setelah mengatakan itu, ingin rasanya Sakura menepuk jidatnya yang lebar, karena ia baru teringat bahwa guru yang sedang mereka bicarakan adalah orang yang sama seperti yang ada dalam mimpi hinanya.
"Huh? Beruban? Itu perak sakura, perak! Ingat itu!" ucap Temari mengingatkan, dibalas dengan Sakura yang memutar bola matanya—lagi.
"Kau ini. Dia itu tampan. Pake banget malahan. Bahkan, sebagian dari fans Sasuke beralih menjadi fans Kakashi-sensei, lho," ujar Ino.
"Benarkah? Menurutku dia biasa saja." Sakura mengangkat bahunya acuh, membuat Ino menepuk jidatnya.
"Dia itu tampan, Sakura. Coba kau perhatikan dia dengan teliti. Wajahnya, matanya, hidung mancungnya, rahangnya. Aw, dan kau akan bertekuk lutut dihadapannya." Tenten mengacung-acungkan sumpit ke depan wajah Sakura dengan semangat bagaikan Soekarno yang sedang berorasi.
"Kalian lebay deh," cibir sakura.
"Me-menurutku..." terdengar sebuah suara lirih, bagai suara kertas yang dirobek. Seketika, Sakura, Tenten, Ino, dan Temari terdiam. Mereka menoleh ke sebuah arah yang diyakini adalah asal dari suara lembut tersebut.
"Menurutku... Kakashi-sensei me-memang ta-tampan," Ucap seorang gadis lavender bermata indigo di bagian paling ujung meja. Wajahnya yang memerah menandakan bahwa ia tengah gugup. Apalagi jika gadis yang hampir dilupakan eksistensinya ini—jika ia tidak berbicara, mungkin semua orang akan lupa bahwa ia berada disana—dipandangi oleh seluruh kawannya dengan tatapan intens, sekaligus tatapan tak percaya.
Oh, demi Kami-sama yang agung, Hinata mengakui kalau Kakashi-sensei tampan? Semua yang mendengarnya—Sakura, Ino, Tenten, dan Temari—tercekat untuk beberapa saat. Bahkan Ino dan Temari nyaris tersedak ludahnya sendiri.
Hinata yang tak menduga akan mendapatkan reaksi seperti ini dari kewan-kawannya langsung memalingkan wajah, berusaha menutupi wajahnya yang saat ini tak hanya sekadar memerah, melainkan sudah seperti kepiting sehabis di rebus.
"A-apa yang kau bilang tadi, Hinata-chan?" Temari bertanya untuk memastikan apakah telinganya bermasalah atu tidak.
"Etto ... a-aku bi-bilang ... Kakashi-sensei ... tampan." Ia menyebutkan kata terakhir dengan berbisik sambil memilin ujung baju seragamnya dengan gugup.
"Tuh, kau dengar kan Sakura, Hinata yang alim dan pemalu pun mengakui ketampanan guru matematika kita yang satu itu" seru Ino penuh Kemenangan yang dibalas dengan dengusan sebal oleh Sakura. "Hn, baiklah-baiklah. Mungkin aku memang salah." Sakura mengangkat kedua tangannya ke udara, tanda menyerah. Membuat kawan-kawannya—minus Hinata—tertawa penuh kemenangan.
Setelah hari ini berakhir, Sakura berniat untuk memperhatikan guru matematikanya itu dengan cermat. Sebegitu tampannya kah Kakashi-sensei hingga separuh fans Sasuke minggat, bahkan mampu membuat seorang Hyuuga Hinata yang alim dan pemalu mengakui ketampanannya? Yeah, Sakura akan mencari kebenaran akan semua hal itu.
tbc
