Naruto milik Masashi Kishimoto
Story by Swinysoo
.
.
AU. OOC. TYPO(s). Tidak sesuai EyD. GaJe.
.
Rated : T
.
.
Happy Reading
Chapter 2
Flashback
Asrama Konoha High School
Kamar 220
Di ruangan sekaligus kamar bernuansa pink-pink nampak gadis-gadis cantik tengah sibuk dengan urusannya masing-masing. Sibuk bukan berarti sedang belajar ataupun bersih-bersih. Sibuk mereka adalah merias diri. Ruangan sekaligus kamar ini mereka modifikasi sedemikian rupa, dimana setiap sudut cerminnya di pasangi lampu-lampu ala ruang tata rias. Di samping cermin tersebut juga telah tersedia tempat yang sering mereka gunakan untuk menggantung seragam sekolah, tas, dan lain-lain yang tentunya juga hasil buatan mereka. Semua cermin berjejer rapi, tertata disamping kiri tempat tidur masing-masing dan disamping kanan di isi dengan lemari baju.
Kamar asrama Konoha High School memang cukup luas dan keluasan itu di manfaatkan sangat baik oleh mereka untuk membuat isinya terlihat indah bagi siapa saja yang melihat. Semua benda-benda yang ada di dalam kamar ini tertata rapi beserta bunga-bunga di sudut ruang yang menambah kesan menawan. Berbeda lagi dengan suasana para penghuninya yang sekarang nampak kesal akan sesuatu, mereka sedari tadi hanya berdecak ria. Seperti ada yang telah mengusik ketenangan mereka pagi ini.
"Akh..., Sakura-chan! kita harus melakukan sesuatu agar mulut pemuda-pemuda sialan itu diam. Apa kau tidak merasa terganggu, mendengar teriakan-teriakan mereka?" tanya salah satu gadis dari kamar ini, Karin, yang langsung menghentikan kegiatan merias wajahnya kala mendengar teriakkan dari kamar sebelah.
"Eum, benar sekali Karin, aku setuju padamu!" tambah Ino yang juga penghuni kamar, meyakinkan. Sedang kedua gadis lainnya, yakni Hinata dan Tenten mengangguk sebagai tanda bahwa mereka juga setuju dengan perkataan Karin.
Sakura yang sedang asik menata rambut pun, dengan terpaksa berhenti. Setelah melirik keempat sahabatnya yang mulai mengeluh akan sesuatu. Merasa di perhatikan, Sakura pun mengubah posisi duduk menghadap keempat sahabatnya.
"Kalian pikir aku tidak terganggu? Aku diam karena aku sedang memikirkan sesuatu agar mereka tidak membuat keributan lagi nantinya, dengan cara yang lebih cantik tentunya. Aku sedang tidak ingin berdebat dengan mereka sekarang. Maka dari itu aku ingin memberi pelajaran pada mereka, tetapi dengan tidak menyerang ke sana." Sakura mencoba menjelaskan. Sedikit kesal karena proses berpikirnya terganggu.
"Kenapa tidak bilang? Kan, kami bisa membantumu berpikir." sahut Hinata yang juga menghentikan kegiatan merias wajahnya. Sedangkan Ino, Karin, dan Tenten. mengangguk membenarkan perkataan Hinata barusan.
Sakura hanya memutar bola matanya malas mendengar penuturan Hinata itu. Lalu menaruh kedua tangannya di depan dada.
"Okey, sekarang apakah kalian memiliki ide?" tanya Sakura kepada para sahabatnya.
Ino, Karin, Hinata, dan Tenten menggeleng secara bersamaan sebagai respon akan pertanyaan Sakura. Sakura sweatdrop, melihat reaksi yang di tunjukkan keempat sahabatnya yang sama sekali tidak bisa di andalkan.
"Sudah kuduga, maka dari itu aku tidak memberitahukan kalian sebelumnya dan lebih memilih untuk berpikir sendiri." Sakura kembali memutar kedua bola matanya, malas. Menyadari perubahan raut wajah Sakura yang terlihat kecewa, Ino, Hinata, dan Tenten hanya bisa memanyunkan bibir mereka sambil saling bertukar pandang satu sama lain, berharap ada yang memiliki ide untuk masalah ini. Sampai pandangan tersebut tertuju pada Karin yang berada disamping sebelah kanan mereka semua. Merasa perhatian kini tertuju padanya, Karin pun berkata,"Jangan tanya padaku, aku sedang tidak mood untuk berpikir sekarang!" sambil terus mengelus-elus permukaan wajahnya sendiri.
"Kya, Karin. Apa itu, di sudut bibirmu?" tanya Ino, dengan wajah sok polos.
"Kurasa Karin ingin mencoba hal baru untuk penampilannya, mengingat ia memiliki banyak penggemar di sekolah. Iya, kan, Karin?" tambah Tenten dengan wajah tak berdosa. Karin sendiri merasa tersanjung atas apa yang di katakan Tenten padanya, tanpa menyadari hal baru seperti apakah itu. Tapi Ino berpikir sebaliknya, entah kenapa menurutnya ada yang aneh dengan hal baru yang di maksud Tenten pada Karin. Ia pun kembali menatapnya lekat-lekat.
"Tapi, bukankah itu terlalu berlebihan?" Ino kembali bertanya sambil menunjuk-nunjuk sudut bibir Karin. "Iya sih..." sahut Tenten lagi dengan kepala mangut-mangut tanpa melepas pandangannya ke Karin.
"Benarkah?" Karin yang baru tersadar dari kegiatan Blushing-nya, segera mengambil cermin kecil-biasa untuk mereka gunakan di kelas-yang di pegang Hinata. Padahal cermin miliknya ada di samping tempat ia sekarang berada, tapi yang Karin pilih malah cermin di tangan Hinata yang jelas-jelas jauh darinya. 'Efek samping dari terkejut, mungkin.'batin Ino.
"AKHHHHHHHHHHH...WA-JAH KU...! Ke-kenapa jadi begini?" Karin syok berat melihat keadaan wajahnya di cermin. Melihat bibirnya yang nampak memanjang akibat Lipgloss yang ke luar jalur. Entah kepada siapa Karin bertanya. Ia tak peduli, ia hanya butuh penjelasan atas apa yang terjadi pada wajahnya.
Ino, Hinata, Dan Tenten hanya dapat menikmati kesedihan Karin dengan tertawa ria sepuas-puasnya. Tidak hanya itu, Tenten bahkan telah guling-guling dilantai untuk menyalurkan kepuasannya terhadap 'asupan' yang di berikan Karin kali ini.
Maka dari itu mereka me-mutus-kan, dengan segenap jiwa raga, tanpa paksaan, dan atas kerelaan hati masing-masing, menyatakan bahwa Karin Uzumaki resmi menyandang gelas sebagai gadis terbodoh sekaligus terpopuler karena kebodohannya di angkatan mereka dan hanya berlaku di kalangan mereka. 'Hahahaha congratulation'batin Hinata terharu.
"DIAMMMMMMMM!," Sakura yang sedari tadi tidak bersuara bahkan bergerak dari tempat ia berada, kini angkat bicara setelah melihat kelakuan Sahabat-sahabatnya. Seketika hening, refleks membuat keempat pasang mata menatap kearahmya dengan ekspresi berbeda-beda yang tidak bisa dideskripsikan. Sakura menatap sahabat-sahabatnya, horror.
"Apa kalian tidak ingin melakukan sesuatu? bahkan hanya untuk membantuku berpikir, agar pemuda-pemuda sialan itu tidak menganggu kita lagi nanti di pagi-pagi yang akan datang. Hah? apakah ada di antara kalian yang sudah berusaha untuk berpikir?" tanya Sakura bertubi-tubi saking geramnya.
Tidak ada jawaban.
"Apa kalian akan terus membiarkan mereka? lihatlah yang terjadi sekarang karena ulah mereka." Sakura beranjak dari tempatnya seraya menunjuk Karin."Lihat wajah Karin sekarang, bukankah itu karena ulah mereka. Karin terkejut karena mereka teriak-teriak sedari tadi! Apa kalian tidak menyadarinya, Hah? Biar ku tanya sekali lagi, apa kalian tidak ingin melakukan sesuatu untuk membalas perbuatan mereka?" Sakura berdiri di hadapan sahabat-sahabatnya sambil berkacak pinggang.
Tidak ada jawaban.
"Kenapa diam? di saat aku bertanya, kenapa diam?" Sakura makin marah. "Di saat aku ber-, aku punya ide!" potong Hinata tiba-tiba. Mata Ino, Tenten, dan Karin kini terarah padanya.
"Benarkah? apa itu?" tanya ketiganya, antusias. Sedangkan Sakura diam tetap dengan posisinya, masih belum bisa mencerna segala yang terjadi atas ulah sahabatnya itu. Hinata sendiri sudah menjelaskan idenya pada Ino, Tenten, dan Karin yang langsung mendapat persetujuan dari ketiganya.
"Sakura-chan!" panggil Ino. "Bagaimana, kau setuju tidak?" tidak ada jawaban. Cukup lama menunggu namun Sakura tetap bungkam, Ino pun berinisiatif mendekati Sakura dan menepuk bahunya, keras. "Yosh, ayo kita lakukan!" menarik lengan Sakura di susul Tenten, Hinata, dan juga Karin keluar dari kamar.
Tempat penyimpanan sepatu kamar 221 dan 220
"Selesai." Ino sangat senang melihat hasil kerjanya kali ini. Begitu pun dengan Sakura, Hinata, Karin, Dan Tenten yang tersenyum bangga atas hasil buatan mereka.
"Ayo berangkat, sebelum kita terlambat ke sekolah. Kurasa ini sudah cukup membuat mereka kena marah Orochimaru-sensei." Sakura beranjak pergi dari tempatnya diikuti Hinata, Ino, dan Karin. Merasa ada yang tertinggal, Sakura pun berbalik badan.
"Tenten, apa yang kau lakukan?" Sakura menghampiri Tenten yang masih berada di tempat asalnya. Tenten sendiri gelagapan karena pertanyaan Sakura itu. Entah apa yang ia takutkan, tetapi Sakura yakin ada yang sedang Tenten sembunyikan.
"Tenten...?" tanyanya lagi, penuh selidik.
"Ah, tidak-tidak. Hanya..." jawab Tenten terbata-bata.
"Bohong! Pasti ada yang kau sembunyikan dari kami?" tambah Ino.
"Emmmm, Sakura-chan, jangan marah,ya? Aku, aku tadi sebenarnya mencatat semua pertanyaanmu ketika marah, karena aku rasa aku tidak mungkin menjawabnya saat itu juga. Jadi, aku ingin menjawab semuanya nanti. Tidak apa-apa, kan?" jawab Tenten dengan polosnya, seolah yang ia katakan adalah hal yang lumrah terjadi.
Sakura, Ino, Hinata, dan Karin sweaatdrop di tempat mendengar penuturan Tenten, dengan mulut menganga.
Flashback end
"Apa yang kalian lakukan disini?" Nada suara yang di gunakan orang ini benar-benar di buat-buat. Tapi, anehnya Sai, Naruto, Sasori, Sasuke, dan Neji tidak menyadari itu, saking takutnya.
"Maafkan kami sensei, kami berjanji tidak akan terlambat lagi nanti! Kami benar-benar minta maaf,ini akan menjadi yang pertama dan terakhir kalinya kami terlambat. Jadi, tolong maafkan kami?" cerocos Sai yang langsung membungkuk 90 derajat di hadapan si pemilik tangan yang bahkan belum ia lihat bentuk rupa, batang hidung, dan sebagainya. Sedangkan Sasuke, Neji, Naruto, dan Sasori lebih memilih untuk memalingkan wajah mereka, tidak berani berbuat apa-apa. Bahkan Naruto yang sangat terkenal dengan ketidakbisaan diam pun kini sedang menggigit bibir bawahnya erat, menunggu respon si pemilik tangan terhadap pernyataan Sai yang mereka yakini adalah Orochimaru sensei, guru fisika mereka.
Krik. Krik.
.
Hening.
Beberapa detik kemudian mulai terdengarlah suara tawa tertahan lalu pecah.
"Mm...BUAHAHAHAHA" sang pemilik tangan tertawa terbahak-bahak dengan keras mendengar penuturan dari Sai. Nafasnya mulai tersengal beserta air mata mulai tergenang di kelopak mata menahan tawa yang seakan-akan tidak mau berhenti. Kalau saja ia tidak menutup mulut segera, mungkin ia akan di cap orang gila.
"Suara ini, suara ini bukanlah milik Orochimaru sensei. Ini, ini suara perempuan bukan laki-laki. Walaupun Orochimaru sensei mirip perempuan dengan rambut panjangnya, tapi tetap saja ia laki-laki. Ini bukanlah suara miliknya. Lalu suara ini... suara ini milik siapa?" Pikiran inilah yang sekarang ada di benak mereka. Kalau bukan guru killer tingkat dewa, Orochimaru sensei. Berarti suara ini?...
"Orochimaru sensei hari ini ada rapat. Jadi tidak bisa masuk kelas. Beruntunglah kalian tidak mendapat hukuman kali ini." tuturnya-si pemilik tangan-dengan nada sedikit mengejek.
"K-Kau! Apa yang kau lakukan disini?" Sai bertanya dengan mata melotot pada gadis di hadapannya. "Jangan bilang kau yang memegangi pundakku tadi?" lanjut Sai. Secara perlahan ia dekati gadis itu dengan mata menyipit beserta jari telunjuk yang ia acungkan ke arah gadis itu pula. Melihat Sai yang semakin mendekat, gadis dengan helaian softpink itu pun langsung melayangkan pukulan ke kepala Sai menggunakan buku-buku yang ia bawa.
"Kya... mau apa kau, hah!" gadis itu memukul Sai dimana-mana. Tidak dapat kepala, muka. Tidak dapat muka, tangan. Tidak dapat tangan, badan. Tidak dapat lagi, kaki. Wahhh, sungguh ironis. Gadis itu bahkan tidak memperdulikan orang yang mulai meringis kesakitan akibat pukulannya maupun dengan teman-teman pemuda yang ia pukuli.
" Hahahahaha... rasain tuh, pukulan nenek lampir!" Naruto mentertawakan Sai yang kena pukul gadis bernama Sakura. Naruto merasa dendamnya sudah terbalaskan sekarang.
Ohh, rupanya Naruto dan teman-teman sudah tidak memalingkan muka lagi, setelah mendengar Sai teriak-teriak kena pukul. Malah suasana yang sempat tegang pun kini berganti menjadi sangat menyenangkan-bagi Naruto.
Lain lagi ceritanya bagi Sasuke yang mulai bosan dengan adegan itu. Sasuke tidak bisa pungkiri, rasa takut yang tadi sempat ia rasakan kini perlahan-lahan menghilang. Apalagi setelah ia tau orang yang memegang pundak Sai bukan Orochimaru sensei. Meskipun begitu tetap saja ia merasa kalau berlama-lama berada di sini, tidak akan ada henti-hentinya perseturuan antara kedua insan itu. Mungkin, malah bertambah parah. Tapi anehnya, cara Sasuke kali ini berbeda. Biasanya Sasuke akan pergi meninggalkan siapa saja jika dari salah satu temannya ada yang berkelahi, karena mereka selalu saja memperdebatkan hal-hal sepele menurutnya.
Namun hari ini Sasuke malah mendekati Sai dan Sakura yang sedang berkelahi. Tidak hanya sampai di situ saja, Sasuke bahkan menahan tangan Sakura yang hendak memukuli Sai lagi dan lagi.
"Kya! Apa yang kau lakukan?" Sakura melepas pegangan Sasuke di tangannya. Kasar. "Ohhhhh, aku tau, apa kau juga ingin seperti sahabatmu ini. Hah?" Sakura sudah mengambil ancang-ancang, membuat jarak di antara ia dan Sasuke untuk mempermudah proses pukul-memukul dengan memasang kuda-kuda beserta buku sebagai senjata. Sepertinya Sakura sudah siap lahir batin.
"Ayo maju, ayo?" Melihat tidak ada respon dari Sasuke, Sakura pun berkata, "Baiklah, kalau kau tidak mau maju biar aku saja yang maju." mulai mengeluarkan jurus andalan. Dannnnnn...
"Ciaaaaaaaatttttttm...mmmm." baru saja Sakura ingin melayangkan pukulan mautnya pada Sasuke. Ehhhh, ternyata Sasuke udah keduluan mengunci mulut Sakura menggunakan sebelah tangannya, sedangkan yang satu lagi memegangi tangan Sakura dan melipatnya ke belakang-ingat! tangan,bukan yang lain.
Setelah berhasil membekap Sakura. Sasuke memberi interupsi kepada teman- teman seperguruannnya-maksudnya sekamar, untuk memasuki kelas terlebih dahulu. Karena apa? karena dia masih ada urusan dengan Sakura. Sai cs pun mengikuti arahan dari Sasuke, meski ada sedikit gangguan karena Neji sempat menolak untuk ikut serta dalam hal yang berbau-bau suruhan maupun perintah. Apalagi dari Sasuke. Tapi untungnya itu tidak jadi masalah, karena Naruto, Sai, dan Sasori sudah menyeret Neji secara paksa dengan kekuatan mereka.
"Ikuti saja aku!" Sasuke menyeret Sakura tanpa melepas bekapan pada mulutnya. Sakura mencoba berontak, tetapi tenaganya tidak melebihi tenaga Sasuke yang dua kali lipat lebih besar. Apalagi Sasuke adalah seorang lelaki.
"Kya! Apa yang kau lakukan?" teriak Sakura setelah Sasuke melepas dekapan pada mulutnya. "Apa maumu, kenapa kau membawaku kesini?" teriaknya lagi. Sakura benar-benar binggung dengan tingkah Sasuke yang tiba-tiba saja menyeret paksa ia ke atap sekolah. Padahal tadi ia terlihat sangat ketakutan karena terlambat. Hingga ia menyadari sesuatu.
"Aaahhh, apa jangan-jangan kau ingin balas dendam padaku?" Sakura menunjuk-nunjuk Sasuke tepat di batang hidung. "Kau sudah tau kalau itu aku yang melakukannya, dan berniat memberiku pelajaran atau apalah itu yang bisa membuat dendammu terbalaskan. Hah!" nada bicara Sakura meninggi, menandakan ia mulai emosi. Hidung Sakura kembang-kempis setelah selesai mengucapkan kata terakhir dari mulutnya yang ia lontarkan kepada Sasuke.
Mendengar perkataan Sakura yang melebihi panjang kereta api-menurut Sasuke sangat membosankan dengan refleks menepis tangan Sakura, kasar. "Hentikan ocehan mu. Kau membuat telingaku sakit, dasar cerewet!" Sasuke mengorek-ngorek telinganya yang sakit akibat teriakan Sakura.
"APAHH!" bukannya berhenti Sakura malah berteriak lagi. Ia benar-benar marah sekarang. Perempatan siku-siku tergambar di jidat lebarnya. Mendengar perkataan Sasuke itu membuat Sakura murka. 'Bisa-bisanya ia bicara seperti itu'batin Sakura. Ia sangat kesal, marah, dan benci pada pemuda yang sampai sekarang masih belum ia ketahui di mana titik menariknya, sehingga semua siswi di sekolah ini mengejar-ngejarnya tak jelas. 'Dasar gadis-gadis bodoh'pikir Sakura.
"Memangnya apa yang telah kau lakukan?" tanya Sasuke membuyarkan lamunan Sakura. Jujur saja, Sasuke sudah mengetahui arah pembicaraan Sakura itu. Tapi ia hanya ingin gadis itu yang mengakuinya sendiri. Bukan karena ia ataupun yang lain.
"Apa yang kulakukan?!" seru Sakura dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya. "Dasar, padahal baru tadi pagi aku melakukannya, tapi kau sudah lupa." cerocos Sakura, lalu melipat kedua tangannya di depan dada. Ia tidak habis pikir saja dengan Sasuke yang dengan mudah melupakan perbuatannya. Padahal Sakura berharap hari ini ia dapat melihat wajah Sasuke dengan sejuta kemarahan dan ketidakterimaan terpampang. Walaupun wajah marah, sedih, dan senang Sasuke sama, yakni datar. Setidaknya membuat Sakura puaslah, atas apa yang ia lakukan.
Sasuke yang mendengar ocehan itu pun hanya mangut-mangut sambil memanyunkan bibirnya. "Jadi begitu ya..." masih dengan ekspresi mangut-mangut.
Sakura membuang muka ke samping melihat ekspresi menyebalkan Sasuke yang terkesan datar. Sumpah demi apapun yang ada di dunia ini, ia benar-benar membenci pemuda raven tersebut.
"Jadi benar kalian pelaku-"
"STOP!" Sakura yang baru saja menyadari akan perkataannya dengan cepat membekap mulut Sasuke.'Apa aku mengakui semuanya' batin Sakura, masih mempertahankan posisi mereka.'Apa aku benar-benar mengatakannya? tidak, tidak mungkin' batin Sakura lagi.
Sasuke yang sepertinya juga baru sadar atas perbuatan Sakura pun langsung melepaskan diri."Hei, apa yang kau lakukan, kenapa malah membekapku. Harusnya kau membekap mulut mu yang ceroboh itu, bukan malah mulut ku." Sasuke menjauh selangkah dari Sakura dan membenarkan posisi dasinya yang sempat miring akibat bekapan Sakura. "Salah, ya?" tanya Sakura, canggung. Sasuke sweatdrop di tempat. Sakura garuk-garuk tekuk gaje sambil nyengir.
1 detik...
2 detik...
3 detik...
Raut wajah Sakura perlahan berubah. Sakura yang tadi nyengir sekarang menatap tajam pada Sasuke. "K-Kya,Kya! kenapa malah kau yang marah, harusnya aku yang marah," sambar Sakura."Kau sengaja 'kan memancing-mancing ku agar mengakui semuanya, Hah? jawab, ayo jawab?" Sakura menarik kerah baju Sasuke dengan kencang. Walau berjinjit karena perbedaan tinggi yang kontras, tetapi tetap tidak mengurangi sedikitpun tarikkan pada kerah baju Sasuke itu. Sakura menariknya brutal, sangat brutal. Terbukti dengan Sasuke yang semakin mundur-mundur saja karena ulahnya.
"Lepaskan ak-, hey... kau bahkan belum memberi ku kesempatan untuk bicar-, aduh... hey, akhhhh..." Sakura tidak perduli sama sekali dengan perkataan Sasuke. Dia malah semakin kalang kabut menyerang Sasuke. Sungguh ganas. Sakura dengan segenap ilmu beladirinya yang ia rintih semenjak duduk di kelas 5 SD ini mengamuk ria(?) dan Sasuke juga tidak berontak sama sekali, Sasuke malah memilih untuk berbicara. Mana mempan dengan kemarahan Sakura yang sudah mencapai batas kesabaran itu. Jadi, tidak salah Sakura juga, salah Sasuke sendiri 'kan tidak melawan.
Cukup lama mereka seperti itu, sampai...
Cekrek, cekrek, cekrek
Sasuke yang sadar akan kehadiran seseorang selain mereka langsung menghentikan gerakan Sakura. Sakura tentunya masih melawan, tetapi tenaga Sasuke lebih besar darinya. Dengan terpaksa Sakura menyudahi kegiatan tarik-menarik itu.
Sasuke menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas siapa yang melihat mereka. Apakah Naruto, Sasori, Sai, atau... Neji?. Kalau siswa-siswi lain tidak mungkin berkeliaran selama jam pelajaran berlangsung. 'Apakah memang salah-satu dari mereka'batin Sasuke. Secara, yang tidak ada gurunya'kan hanya kelas mereka. Terlebih lagi, hanya merekalah yang mengetahui Sasuke pergi membawa Sakura. Tapi kalau memang benar mereka, untuk apa?...
"Kya!" Sakura melepas cengkeraman Sasuke di lengannya. "Kau kenapa?" tanya Sakura kepada Sasuke. Melihat tidak ada respon, Sakura lalu mengikuti arah pandang Sasuke yang tertuju ke pintu atap. Namun ia tidak melihat apa pun di sana. "Apa yang kau lihat?" tanyanya lagi. Tidak ada respon.
"KYAA!"bentak Sakura.
"Aaa, tidak, tidak apa-apa," jawab Sasuke asal. "Sudahlah, lebih baik kita pergi dari sini". Belum sempat Sakura bertanya, Sasuke sudah melangkah pergi meninggalkannya. Jujur, Sakura masih sangat binggung dengan sikap Sasuke yang gampang berubah-ubah. Tadi menyebalkan, sekarang dingin. Benar-benar aneh.
"Sudahlah." gumam Sakura seraya memunguti buku-bukunya yang ia lempar sembarang ketika berdebat dengan Sasuke tadi. Lalu pergi menyusul Sasuke yang sudah berada sekitar 50 meter di depannya.
0o0
Sakura dan para sahabat-sahabatnya melewati koridor sekolah menuju kantin. Seperti biasa koridor akan di penuhi dengan teriakan-teriakan memuji dari para siswa Konoha High School. Namun kali ini, mereka salah menduga. Teriakan itu bukanlah untuk mereka. Tetapi teriakan tersebut tertuju pada MADING sekolah yang ada di depan mereka. Sepertinya ada berita terbaru, sehingga MADING tersebut banyak di kerumuni para siswa-siswi.
Benar saja, setelah mereka memutuskan untuk mendekat ke MADING, di sana telah ada seorang yang berdiri mempromosikan berita tersebut. Sudah bisa di tebak sebelumnya oleh Sakura kalau MADING ramai, pasti semua berita tersebut bersumber dari Shikamaru. Mereka pun memutuskan untuk lebih mendekat melihat berita itu, mengigat berita yang di sajikan Shikamaru selalu menjadi trending topik di sekolah mereka. Setelah membaca judulnya, Sakura membelalakkan mata melihat isi yang terpampang pada papan MADING yang berada di depannya.
KEDUA SISWA-SISWI TERPOPULER TERTANGKAP BASAH SEDANG BERDUAAN DI ATAP SEKOLAH.
"HE-EH! AP-APA APAAN INI?" Sakura dan sahabat-sahabatnya berteriak histeris.
.
.
.
.
.
Tbc
Akhirnya, Chapter 2 Up juga. Maafkan saya yang sangat-sangat lama mengupdate-nya. Tidak ada maksud sebenarnya untuk Update lama. Semoga saja gak basi ni Ff.
Kalo kata temannya ku sih seperti itu.
Yosh, untuk reader yang baca Ff Gaje ini, tolong review, ya. Jangan sungkan untuk mengkritik. Saya akan mencoba lebih baik dalam menulis.
Arigatou,
Swinysoo
