Fiuh, akhirnya chapter dua selesai juga. Ditunda dulu projeknya karena rumahku kebanjiran. Semoga ceritanya juga membanjirkan hati para reader dengan kepuasan. Terima kasih buat yang sudah membaca, me-review, memfavoriti dan mendukung projekku, aku akan usahakan yang terbaik untuk para readerku tersayang *muach* :seketika para reader muntah darah:. So, without any further ado... ENJOY THE SHOW!

.

.

.

IMOTOU JANAI!

By: Hikage VanaN'Ice

Disclaimer: Saat ini Vocaloid bukan milik saya

Genre: Romance

Pair: RinxLen

Rate: T+

Warning: efek hibernasi yang mungkin terlihat adalah typo, abal, kagak seru,dkk

DON'T LIKE? DON'T READ!

.

.

.

Di depan kamar mandi...

"Oh, nii-sama okaerinasai. Aku sudah menyiapkan air panas untuk kau mandi." Ujar Rin dengan polosnya. Len masih terdiam di tempatnya, wajahnya semakin memerah. Dia melihat air menetes dari rambut Rin dan mulai mengalir melalui leher jenjangnya dan berakhir di sela-sela dada Rin. Len hanya bisa meneguk ludahnya sediri melihat hal itu, pikirannya mulai panas. "Nii-sama, kau tidak apa-apa? Mukamu memerah, kau demam?" Tanya Rin yang khawatir melihat kakaknya yang dari tadi hanya terdiam seribu bahasa. "Waaa! A-Aku baik-baik saja... dan kenapa kamu mandi di jam seperti ini!?" tanya Len kalang kabut sendiri, dia mundur satu langkah memberi jarak dengan adiknya.

"Aku mandi jam segini karena memang aku belum mandi tadi. Kalau begitu aku ke kamarku dulu." Jawab Rin dengan polosnya yang kemudian meninggalkan kakanya di depan kamar mandi. Setelah Rin cukup jauh darinya, Len langsung masuk ke kamar mandi dan menenggelamkan seluruh badannya ke dalam air. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Len langsung nenuju dapur untuk mencari sesuatu yang dapat ia makan.

Ketika menuju dapur, Len mendapati adiknya sedang asyik nonton TV di ruang keluarga. Wajah Len kembali memerah lagi mengingat kejadian memalukan tadi. Rin yang menyadari keberadaan kakaknya menyapa dia, "Ah, nii-sama sudah selesai mandinya? Jika kau lapar aku sudah membuatkan kare untukmu, tinggal kau panaskan." Kata Rin. Len hanya mengangguk dan langsung berjalan cepat menuju dapur. "Kenapa dia bersikap biasa-biasa saja? Seolah-olah aku sendiri yang tampak bodoh, khhh~" gumam Len dalam hati sambil memanaskan karenya.

Kecanggungan terus terjadi sampai Len selesai makan. Dia sama sekali tidak berani mengajak adiknya berbicara. Len membuka kulkas dan mengambil kopi kalengan untuk dia minum. Ketika Len hendak meminum kopinya, terdengar suara soundtrack movie yang sangat menegangkan dan kemudian... KYAAA! Crash! Bruushh! Len menyemburkan kopi di mulutnya yang belum sempat ia minum. Len kaget mendengar jeritan wanita dari arah TV, sepertinya Rin sedang menonton film horor dengan volume yang tinggi.

"Oi! Kecilkan volumenya!" teriak Len yang masih terkena efek kaget.

"Ah, maaf nii-sama." Jawab Rin yang kemudian menurunkan volume TV.

"Hei! Tidak baik seorang gadis begadang. Sebaiknya kau tidur sana!" tegur Len.

"Aku tidak mengantuk." Jawab Rin tanpa mengalihkan pandangannya dari TV.

"Bohong, matamu merah dan dari tadi kau terus menguap." Kata Len.

"Aku tidak mengantuk, nii-sama." Kata Rin dengan suara yang sedikit meninggi. Mood Rin mulai menurun, dia terus memindah-mindahkan channel TV dengan saluran semut tawuran. Len mulai khawatir dengan keadaan adiknya yang tidak stabil. Dia pun memberanikan diri mendekati adiknya dan duduk di sebelahnya, meskipun masih menyisakan jarak yang cukup jelas.

"Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Len sambil menopang dagu dengan tangan kanannya dan siku yang ia senderkan di sofa sambil melihat ke arah berlawanan dari Rin.

"Tidak ada." Jawab Rin singkat.

"Kalau tidak, kau tidak mungkin melakukan hal yang aneh seperti mengganti channel-channel TV random seperti itu." Sindir Len. Merasa kata-kata kakaknya mengenai sasaran, Rin menghentikan kegiatan anehnya itu dan menyimpan remote TV di sampingnya. Rin menekuk lutut dan memeluknya, dia membenamkan kepalanya diantara kedua lututnya.

"Aku rindu kaa-san ku." Kata Rin dengan suara rendah, Len hanya terdiam mendengar itu. Lily Kagamine adalah ibu dari Rin Kagamine, dia istri kedua dari Rinto Kagamine, ayahnya Len. Tepat satu minggu setelah ibu Len meninggal, ayahnya menikah lagi dengan seorang janda yang sudah memiliki anak. Anak itu adalah Rin Kagamine, gadis yang sekarang tinggal dengan Len.

Len yang pada waktu itu tidak terima ayahnya menikah lagi, kabur dari rumah tanpa mau menemui ibu dan adik angkatnya. Tiga bulan yang lalu, Len menerima kabar bahwa Lily Kagamine meninggal dunia karena kanker hati yang ia derita selama 5 tahun (authornya kejam ngasih penyakit berat yg diderita sampe 5 tahun). Tentu saja Len pada saat itu tidak peduli dengan hal itu dan mengabaikannya.

"Biasanya setiap malam sebelum tidur, aku dan kaa-san selalu menonton TV sampai kami tertidur. Setelah ayahku meninggal, kami selalu bersama sampai akhirnya Rinto tou-sama menikahi kaa-san. Dia bilang padaku akan membiayai pengobatan kaa-san. Rinto tou-sama memang menepati kata-katanya, tapi pada akhirnya kaa-san tidak bisa bertahan lagi. Aku sangat senang bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama kaa-san karena sebelumnya beliau divonis hanya bertahan sampai tahun lalu, itu semua berkat Rinto tou-sama. Tapi... ternyata... sampai saat ini... aku masih belum bisa merelakan kaa-san pergi. Aku rindu kaa-san." Cerita Rin yang mulai terisak-isak. Air matanya terlihat mengalir melalui pipinya dan membasahi lengannya. Rin semakin mempererat pelukannya dan membenamkan kepalanya lebih dalam.

Len hanya terdiam dan iba melihat Rin. Dia merasa Rin tidak jauh beda dengannya. Sam-sama ditinggal mati oleh ibunya karena penyakit yang mereka derita. Tidak bisa berbuat banyak ketika melihat ibunya sudah tidak ada, dan menjadi orang yang sangat dingin tanpa emosi. Len merasa bersalah karena sempat berperilaku kasar pada Rin, ditambah lagi Rin seorang yatim piatu. Dia pasti sangat kesepian, tega sekali tou-sama meninggalkan dia pergi ke Inggris, pikir Len. Len memberanikan diri mengelus kepala Rin. Terasa hentakan di kepala Rin ketika Len mengelus lembut kepala adiknya. Rin mengangkat kepala dan melihat Len dengan ekspresi penuh tanya.

"Kau tidak sendirian, aku ada di sini." Kata Len tegas dengan tatapan yang serius.

"Eh?!" Rin kaget, tiba-tiba Len memeluknya.

"Selama ini kau pasti merasa kesepian, kan? Tenanglah, kau tidak sendirian lagi. Aku, kakakmu, ada di sini." Kata Len sambil mempererat pelukannya. Rin membalas pelukannya dan membenamkan kepalanya ke dada bidang Len.

"Tapi nii-sama bilang kau bukan kakakku." Kata Rin dengan nada yang sedikit menyindir.

"Su-sudahlah, yang lalu tidak perlu dibahas, dan berhenti memanggilku terlalu formal. Cukup nii-san atau aniki saja." Ujar len seraya melepas pelukannya dari Rin. Rin memandang Len sekilas kemudian menundukkan kepalanya.

"Hmm? Kau kenapa?" tanya Len yang heran melihat Rin tiba-tiba menunduk.

"Rin." Kata Rin sambil menunduk dengan suara yang kecil.

"Hah?" Len heran.

"Nii-san juga... panggil aku... Rin." Kata Rin sedikit malu-malu.

"Baiklah... Rin. Karena sekarang sudah larut, sebaiknya kau tidur. Tidak baik seorang gadis begadang." Kata Len dengan lembut sambil mengusap kepala adiknya.

"Tidak bisa. Tiba-tiba aku jadi tidak mengantuk." Ujar Rin. Len berpikir sejenak. Ia kemudian meninggalkan Rin menuju dapur. Len membuat segelas chocolate milkshake dan mengambil setoples choco chip cookies dari lemari makanan. Ia membawanya ke ruang TV dan meletakkannya di meja tepat di depan adiknya. Rin memndang Len dengan wajah herannya.

"Makanan dan minuman ini biasanya dibuatkan oleh mendiang ibuku ketika aku susah tidur waktu aku masih kecil. Ibuku juga sempat mengajariku cara membuatnya. Cobalah!" ujar Len. Rin memandangi cookies yang berada di dalam toples, ia kemudian mengambil satu dan memakannya.

"Uwaaa! Enak sekali nii-san! Ini benar-benar buatan nii-san?" tanya Rin dengan bahagianya sambil terus makan cookies itu saking ketagihannya.

"Yah tentu saja~" ujar Len bangga.

"Ini bahkan lebih enak dibandingkan buatan para maid dan yang dijual di minimarket." Puji Rin.

"Hahaha... Kalau kamu suka, aku bisa membuatkannya kapan pun kau mau." Tawar Len kepada adiknya.

"Sungguh? Kalau begitu aku mau setiap hari." Pinta Rin dengan mata berbinar-binar.

"Ahh... Kalau seperti itu mustahil karena aku harus kuliah dan kerja. Mungkin seminggu sekali." Kata Len sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Kata nii-sama kapan pun aku mau. Kalau begitu seminggu sekali tapi buat 10 toples." Kata Rin sambil menggembungkan pipinya.

"Apa?! Itu mustahil! Maksimal aku hanya sanggup membuat 7 toples." Ujar Len yang kaget mendengar permintaan adiknya.

"Hmmmph~ Ya sudah kalau begitu." Rin pasrah.

"Ah, ada serpihan cookies di pipimu." Kata Len yang melihat serpihan cookies di pipi adiknya. Len mengambil tisu yang ada di meja kemudian membersihkan serpihan itu dari pipi Rin dengan tisu tersebut. Seketika mereka berdua pun saling bertatapan. Lima detik kemudiannmereka tersadar dan memalingkan wajah mereka berdua. Terlihat wajah keduanya mulai memerah.

"Ah, bagaimana kalau sambil menonton film komedi? Mungkin kau akan mengantuk setelahnya."bujar Len memecah keheningan.

"Hahaha... Sejak kapan menonton film komedi bisa membuat orang mengantuk. Nii-san aneh." Ejek Rin.

"Di-diamlah! Kau akan tahu nanti itu berguna." Balas Len sambil memindahkan channel TV. Mereka berdua menikmati acara TV tersebut sambil ngemil cookies. Sesekali mereka tertawa, sesekali mereka bercanda, sesekali mereka mengobrol, itu semua mereka lakukan hingga jam tiga pagi. Beberapa menit kemudian, Rin sudah tertidur di atas sofa, sepertinya dia kecapean. Len yang melihat itu menggendong Rin menuju kamarnya dengan gaya bridal. Len menidurkan Rin di atas kasur dan menyelimutinya. Ketika Len hendak keluar dari kamar Rin, sesuatu menaik tangannya dari belakang. Ternyata tangan Rin yang menarik tangannnya.

"Kaa-san... jangan pergi." Ujar Rin dalam tidurnya. Sepertinya ia mengigau, pikir Len. Dia mencoba melepas genggaman adiknya, tapi semakin Len mencoba untuk melepasnya, semakin kuat Rin menggenggam tangannya. Len melihat air mata menetes dari mata Rin, dia masih bersedih. "Haah.. dasar adik yang merepotkan." Gumam Len dengan suara yang pelan. Apa setiap malam kau selalu seperti ini? Pikir Len yang kemudian terduduk di lantai di sebelah kasur yang ditiduri Rin. Len mengelus-elus kepala Rin, tak lama kemudian Len pun ikut tertidur disamping Rin.

Pagi harinya...

"HYAAAA! NII-SAN MESUM!"

PLAK! GABRUK!

Rin yang kaget melihat Len tertidur di sampingnya sambil menggenggam tangannya langsung teriak dan menampar pipi kakaknya sampai merah. Len sendiri sudah tersungkur di lantai. Len bangun dengan perlahan sambil meringis dan memegang pipinya yang ditampar oleh Rin. "KALAU KAU TIDAK TIDUR DI SOFA DAN TERUS MEMEGANG TANGANKU SEMALAMAN AKU TIDAK AKAN ADA DI KAMARMU!" Len meledak karena kesal ditampar oleh adiknya dan dipaksa terbangun dari tidur nyenyaknya.

"Eh? Masa?" tanya Rin dengan wajah tanpa dosa.

"Iya! Kau mengigau tentang ibumu dan kau menggenggam tanganku yang kau kira tangan milik ibumu." Len menjelaskannya dengan nada kesal.

"Ehee~ maaf nii-san." Kata Rin dengan nada yang imut.

"Haaah, bagaimana keadaanmu? Sudah membaik?" tanya Len.

"Iya, aku sudah merasa sedikit baik." Jawab Rin sambil tersenyum.

"Kalau begitu cepat bangun dan basuh mukamu. Kita akan pergi." Ajak Len.

"Hee? Kemana?" tanya Rin heran.

"Ke supermarket. Membeli keperluan sehari-hari dan bahan makanan. Kau ikut, kan?" tanya Len sambil berdiri dan tersenyum keren(?). "Unn!" jawab Rin dengan semangat sambil mengangguk dan membalas senyuman Len. Kisah mereka pun di mulai sekarang...

(TSUZUKU)

...

So? Bagaimana ceritanya? Tambah menarik kah? Tambah membosankan kah? Tambah absurd kah? Lanjutin atau kagak? Don't forget to leave review after reading. :D

ARIGATOU GOZAIMACHUUUU~~~

:*

(m_ _m)