Title : Unbeatable (Imperfection)

Author : Enma R. Eyes

Rating : T

Genre : Romance, fluff, sad, hurt/comfort, friendship, and lil bit humor (gagal)

Casts : Akashi Seijuro x OC (You) x Aomine Daiki

Generation of Miracle

Disclaimer : Kurobas milik Fujimaki Tadatoshi, this plot is mine

Setting : Disini anak GoM satu SMA ya yaitu SMA Teikou dan mereka tetap menjadi tim terbaik di Jepang fufufu~ #okeitubenerbenerkeinginanauthor #slapp

Warning : FF Nista, bener ini cuma khayalan edan yang harus author tulis kalo ga bakal runyam(?), intinya ini khayalan semau author, apresiasi buat perasaan dilema antara cinta Akashi atau Aomine #authorcurhat

yang paling penting OOC-ness pasti ada, typo(s) juga mungkin haha but overall happy (rebonding) reading pecinta (akamine) kurobas! ^v^


Previous:

"K-kenapa... kau bisa..." CUPP!

"Lihat! Sekarang kau melamun, kan? Sudah kubilang aku datang kesini karena merindukanmu"

..

..

"Ta-tadi itu siapa-ssu?"

"Sepertinya kenalan Akashi-kun, kalau tidak, mana mungkin mereka bisa sedekat itu,"

"Mungkin saja... krauss... dia... krauss... pacar... krauss... Aka-chin"

"Sepertinya Atsushi benar, nanodayo."

"Kyaaa~! Akashi-kun punya pacar? Tidak mungkin!"


chapter 2: Don't Play with Me

Reader POV –

Ah bosannya... ini hari kedua ya? Hmm. Aku berjalan berkeliling sembari bersenandung kecil seperti biasa. Kebiasaanku adalah suka berjalan-jalan jika berada di tempat yang baru. Kali ini aku berjalan sembari membawa kotak bekal makan siang yang telah kubeli di kantin tadi. Bukan... bukan karena aku malas memasak atau bangun kesiangan, malah tadi bibi di rumah Sei-chan telah membuatkanku makanan tapi tidak kubawa dengan alasan aku ingin mencicipi makanan di kantin sekolahku yang baru ini. Sedikit tidak nyaman memang menolak pemberian orang, tapi aku adalah tipikal orang yang keras kepala.

Tidak, aku tidak sejahat itu. Tentu tidak sejahat Sei-chan, aku tersenyum simpul. Aku masih menerima bekal makan siang yang telah disiapkan oleh bibi tapi pada akhirnya kuberikan pada supir yang telah mengantarkanku dan Sei-chan ke sekolah. Sei-chan sendiri tidak terlalu memusingkan tindakanku.

"Oh..." langkah kakiku terhenti saat menemukan sebuah tangga berwarna hijau tua yang sepertinya menuju ke atap sekolah. Saat kudongakkan kepalaku, aku dapat melihat pintu itu tidak dikunci meski pintu itu dalam keadaan tertutup sebenarnya. Ya berkat kejelian mataku ini.

TTAPP! TTAPP! TTAPP! Aku pun berusaha menaiki tangga itu. Dengan segenap kekuatanku, aku membuka pintu yang terbuat dari besi itu dan phew~ Semilir angin langsung menerpa rambutku saat kepalaku menyembul keluar.

Aku pun segera naik dan keluar. Rupanya tempat ini luas juga ya. Ya atap sekolah, tidak ada hal yang menarik sih hanya hamparan luas atap sekolah yang sepi. Aku pun terus berjalan menelusuri setiap tempat yang ada disana. Saat tiba di ujung atap, kedua mataku melihat siswa-siswi yang lain sedang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing dibawah sana. Ada yang sibuk mengobrol sembari menghabiskan makan siang mereka, ada yang masih sibuk bermain sepak bola bahkan ada juga yang terlihat bermesra-mesraan disana. Aku tersenyum kecil. Ini hampir tak jauh berbeda dengan sekolahku.

Setelah tahu keadaan dibawah sana, aku pun segera membalikkan badanku. Berputar menuju sisi sebaliknya. Mataku dapat melihat sesosok pemuda dengan kulit (dakian) tan-nya sedang terbaring santai. Sepertinya ia sedang tidur?

Kaki kecilku terus melangkah mendekatinya. Aku tak mengenalnya. Tentu, aku siswi baru disini. Tapi apa itu? Angin yang berhembus membuka lembaran-lembaran majalah yang ada di dekatnya. Eh..? Sebuah majalah dewasa?

Mataku menyipit saat menemukan majalah dengan foto-foto hampir telanjang bahkan ada yang setengah telanjang atau mungkin ada juga yang benar-benar telanjang penuh.

'Oh... siapa pemuda ini? Eung~ Dasar pemuda pervert..' aku tersenyum penuh arti padanya.

Menarik, memang sih wajar anak SMA terlebih dia laki-laki memiliki benda-benda seperti itu tapi tak kusangka aku akan menemukan kejadian seperti ini begitu cepat di Jepang. Ah aku lupa, bukankah Jepang memang terkenal dengan hal-hal seperti ini? Maksudku untuk hal negatif tentunya.

Aku tak terlalu ambil pusing dengan kejadian itu. Aku memilih duduk tak jauh darinya. Aku pun mulai membuka kotak makan siangku dan mulai mencicipi masakan kantin itu.

'Ehm, lumayan juga rasanya,' gumamku pelan. Sembari melanjutkan acara makan siangku, aku pun menatap pemuda berkulit (sedikit) gelap itu.

Sekilas dia tidak terlihat seperti orang Jepang pada umumnya. Postur tubuhnya sangat tinggi, sekitar 190 cm lebih dan ia memiliki badan yang kekar, tubuh yang atletis... mungkinkah dia seorang atlet? Rambutnya yang berwarna navy blue sesekali tertiup oleh angin. Penampilannya bisa dikatakan tidak terlalu rapi dengan seragamnya yang mencuat keluar tak beraturan. Rupanya tidak terlalu minat dengan fashion ya..?

"Eemh~~" tiba-tiba aku mendengar suara baritone. Ah suara milik pemuda ini ya?

Badannya mulai menggeliat, sepertinya ia akan bangun. Tidur siangmu sudah selesai toh? So interesting.

"Oh... mau bento?" tanyaku saat kedua mata dengan manik bak permata safir itu melihatku. Aku sendiri masih santai melanjutkan acara makan siangku dengan memasukkan bento ke dalam mulutku.

Sejenak, terlihat ia memandang ke arah langit. Dengan kedua tangannya yang terlipat seakan menjadi bantal untuk kepalanya, ia menguap dengan malas. Badannya yang terbaring dengan sempurna pun mulai berubah posisi. Sekarang ia terlihat duduk bersandar pada dinding tak terlalu tinggi yang biasanya kau temui sebagai pembatas agar kau tak jatuh ke bawah.

"Sepertinya aku sudah kenyang, jadi... mau bentoku?" tawarku sekali lagi.

Mungkin di Jepang tindakanku ini bisa dikatakan tidak terlalu sopan tapi tidak di tempat tinggalku sebelumnya, ya London. Disana kami bebas untuk berbagi tetapi selama kau kenal baik dengan orang yang akan kau berikan benda milikmu dan sepertinya aku lupa poin itu.

Ia menatapku. Sorotan matanya terlihat tajam sedangkan aku hanya tersenyum ramah sembari menyodorkan kotak makan siangku ke arahnya. Tak kusangka ia akan mengambil beberapa bento dari kotak makan siangku. Sepertinya dia lapar, aku tersenyum simpul. Jadi dia tipikal orang yang tidak terlalu ambil pusing dengan nilai sopan santun..? Ah tentu saja, lihat hobinya yang suka membaca majalah dewasa itu.

Mataku sempat melirik majalah di sampingnya sesekali. Sepertinya ia sadar dengan tindakanku tapi lagi-lagi ia terlihat seakan tak peduli. Hidupnya... simple sekali.

Tak sadar, kotak makan siangku hampir kosong. Bentoku ludes dimakannya. Dia lapar, ya? Tapi aku bersikap biasa saja. Toh, aku juga sudah kenyang. Tiba-tiba saja, aku merasa ponselku bergetar. Kubuka flip ponsel bewarna abu-abu itu dan aku mendapatkan sebuah e-mail. Dari Sei-chan rupanya.

'Aku ada latihan basket sore ini, kalau kau mau lihat pergi ke gym tempat kita bertemu kemarin. Ingat, kita pulang bersama.'

Aku tersenyum dan segera menutup flip ponselku. Sebelum aku pergi, rupanya pemuda dengan kulit gelapnya itu juga terlihat akan pergi. Kotak makan siangku? Tentu saja kosong. Haha dia menghabiskannya ya? Anak yang patuh.

Tanpa berbicara apapun bahkan ucapan seperti terima kasih pun tak kudengar dari mulutnya. Orang itu... memang tidak tahu sopan santun ya? Sepertinya ia tipikal orang yang suka berbuat seenaknya. Aku pun tak terlalu memikirkan hal itu. Segera kututup kotak makan siangku dan siap membuangnya saat bertemu dengan tempat sampah.

Kulihat ia memungut majalah (Mai-chan) porno miliknya dan berjalan mendahuluiku. Aku hanya dapat memandangi punggungnya. Ya punggungnya yang terlihat tegap. Sebelum ia benar-benar pergi meninggalkanku, dapat kudengar suara baritone itu sekali lagi, "Terima kasih untuk bentonya".

Aku tersenyum. Rupanya ia bisa berterima kasih juga? Aku pikir aku tidak akan mendengarkan ucapan seperti itu dan ia pun segera berjalan mendahuluiku. Tak lama, aku juga melakukan hal yang sama, ya meninggalkan ruang atap itu.

Sepertinya aku berubah pikiran. Di ruang atap ini... ada hal yang menarik.

.

.

Langkah kakiku terhenti saat aku telah berdiri dan berpegangan pada pipa yang kurasakan dingin yang ada di tribun penonton. Aku memilih untuk melihat latihan basket kali ini dari tempat penonton, setidaknya aku ingin melihat gerak-gerik pemain generasi keajaiban itu dengan baik. Aku pernah mendengar bahwa mereka selalu memenangkan kejuaraan basket sampai tingkat nasional dari kelas satu SMP. Apa sebegitu hebatnya mereka? Mengapa tidak ada satu pun tim yang bisa mengalahkan mereka? Kali ini adalah kesempatan emasku untuk mengetahui semua kemampuan mereka.

Oh orang-orang itu... bukankah mereka yang dulu pernah kutemui saat pertama kali aku bertemu dengan Sei-chan? Rupanya mereka semua teman basket Sei-chan. Ya terlihat dengan postur tubuh mereka yang diatas rata-rata untuk orang Jepang. Tapi bagaimana dengan si rambut baby blue itu, postur tubuhnya bahkan tidak terlalu tinggi seperti teman-temannya yang lain?

WUUUSSH! Tak lama aku melihat sebuah operan super cepat dari pemain dengan rambut baby blue itu, jadi dia berperan sebagai pengoper toh. Tapi si rambut ungu dengan tinggi badan yang mencapai sekitar dua meter atau bahkan lebih malah dengan mudah menghentikan operan super cepat milik pemuda bermanik biru langit itu. Belum selesai, pemuda berambut pirang segera men-dribble bola dengan cepat dan melakukan shoot super lembut seakan berada dalam efek slow motion. Bola yang telah masuk tak berhenti begitu saja, dengan cepat pemuda berambut hijau lumut langsung melakukan shoot dari bawah ring ke ring lawan dan BUKK! Bola berwarna oranye itu masuk. Skor menjadi imbang.

Sial, permainan bola basket macam apa ini? Bahkan alirannya terlalu cepat tapi juga terlihat indah dan elegan, sangat menghibur. Sei-chan yang berperan sebagai pengatur permainan dengan lirikan matanya segera menyuruh temannya yang lebih mirip seperti titan itu menyerang, membalas shoot milik pemuda berkacamata. Dengan hitungan seperkian detik, tepatnya karena langkah kakinya yang begitu besar dan lengan tangannya yang super panjang, pemuda berambut ungu itu pun melakukan dunk sangat keras yang mungkin saja dapat membuat penyangga ring itu patah kapanpun dia mau. Setelah bola masuk ke dalam ring, tiba-tiba seorang pemuda berlari dengan sangat cepat, layaknya seekor panther, ia seakan siap menerobos siapapun yang menghadangnya.

Sadar dengan serangan balik yang didapatkan oleh timnya, pemuda berambut ungu itu pun segera berusaha menghentikan pergerakan pemuda dengan kaos sleeveless berwarna putih tulang itu. Tapi pergerakannya jauh lebih lincah dan ia pun segera men-dribble bola oranye itu sangat cepat menuju daerah pertahanan lawan. Disana masih ada pria bermanik madu, ia berusaha untuk menghentikan pria berkulit tan itu. Seakan punya insting sendiri, bergerak dengan bebasnya seperti hewan, gaya permainan itu... seperti street basketball? Pemuda berkulit tan itu pun langsung menembak dari daerah luar dengan gaya formless-nya, bahkan sebelum Sei-chan menghentikannya dan BUKK! Lagi-lagi bola oranye itu masuk ke dalam ring, kali ini ring milik tim Sei-chan.

'Lumayan juga, gaya permainan itu... awesome!' pujiku dalam hati.

Tak kusangka pemuda yang tadi kutemui di atap dan memakan habis bentoku, tersenyum senang karena telah berhasil memasukkan bola ke dalam ring lawan. Kedua mataku terus memandanginya, jadi dia ini... sangat berbakat dalam bola basket, ya..? Menarik. Tak lupa, seorang gadis dengan surai rambut berwarna merah muda segera mendekatinya. Ia terlihat mengomel dan bersikap begitu manja pada pemuda mesum itu. Mereka tampak seperti sepasang kekasih jadinya. Ehm, pacarnya ya?

Siiiing~~! Merasa diamati, aku pun langsung mencari tahu mata siapa yang mengawasi gerak-gerikku dan kudapati sepasang mata heterokromatik menatapku tajam. Ah Sei-chan, ada apa dengan tatapan matamu itu?

.

.

"Akashi-cchi, selamat tinggal-ssu!"

"Aku duluan, Akashi-kun."

"Aka-chin, sampai jumpa besok."

"Akashi, aku juga pulang duluan, nanodayo"

"Hmm."

Aku hanya terdiam melihat Sei-chan, orang yang ada disampingku ini heran. Mengapa tiba-tiba ia bersikap dingin seperti ini? Tidak, sebenarnya dia memang suka bersikap dingin tapi itu tak berlaku jika ada aku. Tapi kenapa kali ini hal itu seakan sudah kadaluwarsa?

Rasanya jadi hening. Tak ada yang bersuara diantara kami berdua. Bahkan meski kami berdiri dengan begitu dekat sembari menunggu jemputan dari supir Sei-chan, dia sama sekali tak membuka obrolan seperti biasanya. Teman-teman Sei-chan bahkan seperti diabaikan olehnya, ya teman-teman basketnya seperti pemuda berambut pirang yang terlihat feminimseperti bencis-bencis kekar di taman lawang #slapp #ditamparkise, pemuda berambut baby blue dengan muka sedatar triplek, pemuda berambut ungu dengan sekantung penuh makanan ringanber-MSG tinggi yang bisa membunuhmu kapan sajadi tangannya dan terakhir pemuda berambut hijau lumut yang membawa linggis(?) *oke ini lucky item ter-absurd milik midorima* #dorr.

"Jangan melihatnya! Berhenti untuk melihatnya!" tiba-tiba Sei-chan berseru seakan memberikan perintah padaku.

Aku yang tak mengerti apa yang dimaksud balas bertanya, "Sei-chan... sebenarnya apa yang kau pikirkan?"

"Kubilang jangan melihatnya!" kali ini ia menatapku, tajam dan intens seakan ia berkuasa penuh terhadapku. Aku hanya balas tersenyum. Aku tahu apa yang dimaksudkannya dan aku tahu mengapa ia bersikap seperti ini. Kau... merasa cemburu, pangeran?

"Hmm, jangan bersikap sekeras itu. Kau tahu kan, aku datang kesini karena merindukanmu. Kuharap kau tak melupakan hal itu, Seijuro." aku memanggilnya dengan nama kecilnya. Sorotan matanya yang mulanya tajam kini terlihat mulai melemah.

Ia tersenyum menyeringai. Sepertinya ia mengerti perkataanku dengan baik. Tentu saja, bukankah Akashi Seijuro adalah seorang pemuda yang jenius, tentu kata-kataku mudah untuk dia pahami.

"Aku ingat, tapi aku benci melihat tatapanmu padanya." ia mengaku seperti anak kecil. Rupanya pangeran kita tidak berubah. Begitu lemah jika dihadapanku, dia ini...

"Sei-chan, percayalah aku hanya menyukaimu... tidak mungkin kan aku menyukai orang selain dirimu," aku mendongakkan kepalaku guna melihatnya. Lagi-lagi semburat merah tipis itu terlihat oleh mataku. Dia memang tergila-gila padaku.

"Tentu saja, kau milikku. Tidak akan ada orang lain yang boleh memilikimu selain aku." aku pun segera memeluknya, berusaha untuk meyakinkannya. Ia hanya tersenyum.

Hubungan ini, hubungan yang sudah kami buat bahkan sedari kami kecil. Pemuda berambut merah yang benar-benar telah jatuh ke dalam pelukanku. Akashi Seijuro, apakah aku begitu penting untukmu? Apa benar kau harus hidup denganku?

Bagaimana jika suatu hari nanti takdir memiliki pendapat yang berbeda denganmu, akankah kau masih memilikiku?

"Kau belum mengenalkan teman-teman basketmu itu padaku, ayolah kenalkan mereka padaku! Minimal kau harus memberitahukan nama mereka, kan?" aku tak mau meneruskan pikiran anehku itu jadi aku membuka topik obrolan baru dengannya. Sei-chan sendiri hanya balas menggeleng seakan tak mau mengabulkan permintaanku.

"Yaissh~ Sei-chan pelit, aku benci!" aku menggembungkan pipiku. Bersikap manja padanya. Tapi dia selalu mengelus rambutku saat aku melakukan hal itu, ya sedari dia kecil, dia selalu suka dengan rambutku.

"Bodoh!" aku mendengar gumaman kecilnya, aku pun segera mendelik padanya. "Aku akan mengenalkanmu pada mereka nanti atau mungkin aku hanya memberitahukan nama mereka..." sepertinya pemuda ini berusaha mengusiliku.

"Kau akan berpikir dua kali tentang hal itu, Sei-chan" dan CUPP! Aku mencium pipi kanannya. Angin berhembus, ya musim semi yang identik dengan nuansa hijau tumbuh-tumbuhan yang baru saja tumbuh dan suasana senja dengan warna dominan oranye menjadi background kami berdua.

Lagi-lagi semburat merah tipis itu muncul. Aku tersenyum kecil. Kau memang berada dalam kendaliku, Akashi Seijuro. Tak lama dari itu, mobil sedan berwarna merah metalik pun berhenti dihadapan kami. Oh, jemputan kami sudah datang rupanya.

"Sei-chan, ayo kita pulang!" aku pun segera menarik tangannya dan sekilas aku melihat sebuah senyuman penuh kemenangan tergambar jelas di wajahnya. Aku pun hanya balas tersenyum.

Reader POV end –

##T.B.C##

.

.

Preview –

"Daiiii-chan! Kenapa kau selalu meninggalkanku!? Aku bilang kan tunggu... tunggu! Kemarin jadi tidak bisa pulang bersama teman-teman yang lain lagi, kan!? Lagian kenapa kau masih suka bolos latihan, sih? Ingat, kita sudah mulai masuk kejuaraan. Kau juga tidak bosan apa hampir selalu mendapat jatah ekstra latihan dari Akashi-kun?!"

"Oii! Berisik sekali kau, Satsuki!"

"Ehm... sumimasen. Sepertinya aku mengganggu kalian... hmm dasar pasangan zaman sekarang,"

"Ah kami bukan pasangan, lagian mana sudi aku dengan cowok dakian seperti dia!"

"Apa maksudmu dengan dakian? Dasar cewek tidak tahu masak!"

"Oh, kalian bukan pasangan?"

"TENTU SAJA TIDAAAAK! DASAR BODOH!"

..

..

"Kau bodoh ya?"

"Tentu saja tidak, aku tidak bo-"

"Kalau begitu, jangan suka tidur! Apa kau memang hobi tidur, dakian?"

"Apa maksudmu memanggilku dengan panggilan seperti itu!?"

..

..

"Bagaimana jika kau bisa mengerjakan tugasmu dengan benar, aku akan memberikanmu bento lagi?"

"Kau... apakah kau bisa masak? Bagaimana jika aku berhasil, kau sendiri yang membuatkanku bento?"

"Kalau begitu, aku tidak akan tanggung-tanggung... 50-50, bagaimana? Berani, kan?"

"Kau meremehkanku? Yang bisa mengalahkanku hanya aku seorang!"

Preview end –


A/N: huwee ini update-nya(?) gimana? lebih panjang sih tapi komedinya dikit banget kayak upil nyempil -_-v tolong review sama sarannya nih, kritik, blame, tuntutan demo jg gapapa #authorngaco ;-; oh iya ternyata bisa lebih cepat update dari yang diperkirakan, phew~ akibat virus merah jambu author sama akamine nih :3

oh iya awalnya ini fanfict mau dibuat alur cepat gitu, tapi karena review dari mey-chan author jadi pikir-pikir lagi.. fict ini juga didedikasikan penuh untuk fangirls Akashi sama Mine-chin *yeeey* :3 untuk komedinya, author bakal berusaha lebih gila lagi dan romance-nya, author akan berusaha semaksimal mungkin buat readers nge-fly *author nangis ga jelas sama kise(?)

btw author masih suka pusing sama POV-nya nih haha? kan ini panpik emang buat reader jadi kadang suka bingung bagusan pake author POV atau reader POV? sarannya ya minna ._. author juga suka banget bikin Akashi POV tapi lain kali akan berusaha buat lebih mendalami peran #tsaah #apadeh #dicukurAkashi

oke daripada kebanyakan cuap-cuap gajelas nih, terima kasih ya buat yg udah baca apalagi yg udah fave, follow, review, waah author ga nyangka, kirain ini panpik bakal mendem gitu aja, tapi domo arigatou minna! ^w^ aoethor tjinta kalian, nanodayo! bye bye~~ #kirimpetasanbanting(?)

p.s: author mau tanya donk, kalo dalam page legal, reader biasanya bisa baca sampe berapa halaman ya dalam satu chapter? author kayaknya bakal bikin yang lebih panjang dari ini mungkin di chapter berikut-berikutnya tapi karena takut kepanjangan jadi dibagi 2 yang awalnya harus satu chapter *malah kasih hints #dorr

readers kasih tau ya, biar author enak nulisnya atau kasih tau jumlah words-nya, oke sangkyuu readers~~ ^-^

## yang udah review, author udah coba bales nee~ maap newbie nih #polos '-'