Love Sick


Ini fanfiction adaptasi dari drama Thailand dengan judul yang sama, saya bercerita dengan lattar belakang drama tersebut. Hanya setting di pindah ke Seoul, dan nama cast saya ubah. Dari keseluruhan cerita saya menambahkan beberapa plot karya imajinasi saya.

Please, if you don't like this don't read.

Plot is not mine, just part of this plot is mine.

This story maybe need more time to finish.

Cast is not mine!


BAGIAN 2

"Jangan jangan kau.."

"Jimin! Jadi bagaimana?!" Seperti biasanya, taehyung adalah orang pertama yang menyapaku saat aku terengah-engah kembali ke ruang klub kami. Dia mulai berbicara ketika belum sedetik aku disini.

Sejujurnya, aku tidak tahu bagaimana menjawabnya. Maksudku, Aku marah dan segala-galanya bercampur aduk. Bagaimana bisa Yoongi mempermainkanku seperti itu? Aku kenal dia (walaupun dari jauh) sudah lama, tapi aku tidak tahu kalau kalau dia ternyata gila, mungkin lebih tepatnya sinting.

"Bodoh, aku bukan gay. Brengsek!"

Kalimat itu aku teriakkan lima menit yang lalu sebelum aku kabur dari Ruang kesiswaan dan kembali ke ruangan klubku. Aku tidak percaya akan pendengaranku sekarang. Aku tidak pernah berpikir akan mendengar kata-kata dari seorang Min Yoongi yang segalanya terlihat sempurna. Penampilannya. Keluarganya. Tingkah Lakunya. Nilai-nilainya. Kecerdasaanya. Segala bakat atlet basket, dan berbagai musik yang ia suka. Dan bahkan dia juga punya pacar yang cantik.

Iya… Dia sudah punya pacar, kan!? Pacarnya juga gadis populer di sekolahnya.

Ditambah lagi, Aku kenal Yoongi lama sekali. (Walaupun kita tidak terlalu dekat, karena Yoongi adalah temannya yang dimana Sungjae itu temannya Ji Soo, dan Ji Soo itu teman sekelasku. Bingung? Tapi memang seperti itulah hubungannya.) Kalau kita berpapasan, kadang aku tersenyum kepadanya. Atau, kalau Aku sedang beruntung dan dia ada didepanku saat mengantri sesuatu, aku pasti minta tolong untuk mengambilkannya untukku. Kadang kalau klub kami mengadakan konser, aku selalu datang ke hadapannya dan menjual tiket.

Rasanya, tidak mungkinlah kalau dia punya pikiran semacam "itu" terhadapku.

Dan sebenarnya, kalau dipertanyakan manakah anak yang gay disekolah kepadaku, (dan sebenarnya banyak juga), Yoongi adalah orang terakhir yang terlintas dibenakku.

Mungkin aku salah dengar?

Cuaca sudah mulai dingin. Mungkin karena November sudah dekat dan biasanya menjadi awal musim dingin. Apakah baiknya aku mengurung diri dikamar dan menghabiskan waktu untuk main Video Game? Tapi ada sesuatu yang membuatku menyalakan sepeda motor dan pergi ke rumah yang besar ini.

Aku pernah masuk ke tempat ini dua tahun yang lalu. Anak sulung dari keluarga ini mengadakan pesta ulang tahun ke 15. Aku tidak terlalu dekat atau bagaimana. Tapi kita ada di tingkat yang sama dan rumah kami juga berdekatan. Temanku yang memang akrab dengan dia memohon kepadaku untuk menemaninya datang ke pesta itu.

Aku tidak pernah berpikir kalau bakal kembali ke tempat ini lagi - sendirian. Dan dengan tujuan yang kedengarnnya konyol pula.

Aku memarkirkan sepeda motorku di depan gerbang besar itu, dan mulai mondar-mandir didepannya. Aku bisa melihat bel pintu seolah-olah minta di tekan saat itu, tapi alasanku kesinilah yang membuatku sulit untuk melakukannya.

"Sial! Kenapa jauh jauh ke sini? Yoongi sialan!"

Sebelum aku mulai berteriak sendirian, aku melihat bayangan orang yang sedang berjalan di sekitaran taman. Bayangan itu mencuri perhatianku.

Dirumah ini cuma ada satu remaja cowok.

" Yoongi! Yoongi!" Kucoba meneriakkan nama pemilik bayangan itu. Aku tidak mau berteriak terlalu keras (tapi tidak terlalu pelan juga) tapi aku berusaha menarik perhatiannya.

Nampaknya usahaku terbayarkan. Si tampan yang berengsek itu menoleh dan nampak terkejut. Mungkin ia tak menyangka aku dating ke rumahnya selarut ini . Akhirnya dia berjalan keluar dari bayangan pohon, Aku sadar kalau dia sedang menelpon seseorang.

"Oh, maaf kalau menganggu. -_-"

Tapi nampaknya pemuda itu tidak terlalu terganggu dengan semua ini. Dia memang masih terkejut saat melihatku. Aku bisa melihat saat itu juga kalau dia langsung menutup teleponnya.

"Oh, Jimin. Ada apa?" Dia keluar melalui pintu kecil yang memang bagian dari gerbang itu. Sampai detik ini aku sama sekali belum menyusun apa yang ingin ku bicarakan.

"ugh Yoongi, " Dari mana aku harus mulai "Ehh, Aku…" Sekarang bagimana!? "Aku…"

"Apa kau kesini karena masalah yang tadi pagi?" Banzaai! Akhirnya dia mengerti maksud ku.

"Iya, Itu." Aku berbicara sambil menunjuk dadanya "Kita harus bicara serius." Aku menarik napas sejenak dan menjelaskan kronologis yang mungkin saja salah ku mengerti"

"Pagi tadi , di ruang kesiswaan dan kau disana. Aku tanya tentang pemotongan anggaran klubku. Lalu kau bilang semuanya gara-gara Woonguk yang tidak mau bicara saat rapat anggaran yang kau adakan, jadi aku—"

"Aku masih ingat apa yang terjadi, Jimin." Dia memotong pembicaraanku karena nampaknya dia tidak mau mendengar reka ulang keseluruhan cerita. Tapi terserahlah. Aku tahu dia ingat, tapi setidaknya biarkan aku membangun suasana daripada terasa sangat canggung seperti sekarang!

"Oh, terima kasih kalau masih ingat. Jadi pastinya kau juga ingat kalo kau bersedia membantu klubku. Tapi kau ingin apa sebagai imbalannya? Aku merasa kalau aku salah dengar. Sesuatu… Tentang jadi pacarmu. Kemudian aku mengumpat kepadamu dan langsung pergi. Maaf Yoongi, aku pikir pendengaranku agak terganggu."

"Tapi kau tak salah dengat Jimin-aa."

"Hah? Kau bilang?" Dia baru saja berkata padaku, aku masih bingung, atau memang telingaku yang bermasalah?

"Aku bilang, kau tak salah dengar JImin. Kau mau jadi pacarku?"

Brengsek! Jadi Yoongi benar-benar gay?!

Aku jauh-jauh aku datang kesini! Apa dia akan melakukan sesuatu kepadaku!?

Mendadak tulang-tulangku serasa disiram air es saat aku berhasil mengolah semua ini. Dan aku yakin kalau mukaku saat ini pasti pucat pasi.

Aku menoleh ke arah Yoongi saat mimik mukanya memberikan senyuman dengan maksud yang tersembunyi. Tentu saja aku tidak mau tahu apapun yang dia coba untuk sampaikan. Dan yang pasti, inilah saatnya aku pergi dari sini!

"Jimin! Dengarkan dulu!" Aku sudah dekat dengan sepeda motorku saat dia berhasil menangkap lenganku.

Reaksi normalku adalah balik badan dan menghadapinya, karena aku merasa tidak aman kalau punggungku-lah yang mengadap kearahnya untuk detik ini.

Aku berusaha menutup mata dan dengan kalut aku mengayun-ayunkan tanganku sebisa mungkin untuk menghadapinya. Kondisiku saat ini? Bahkan kelewat menyedihkan hanya untuk dilihat.

"Aku tak seperti yang kau bayangkan! Tolong jangan menyukaiku, Aku minta maaf! Aku tak bisa jadi pacarmu! Sungguh!" Aku memohon kepadanya, aku bahkan rela kalau harus berlutut saat ini juga. Aku hanya ingin dia melepaskanku agar aku bisa meninggalkan tempat ini. Hari ini Aku tidak siap dengan semua ini! Yoongi benar benar gila!

"Hey! Dengarkan sampai selesai dulu, Jimin! Aku juga tidak seperti yang kau bayangkan!"

Yoongi mengguncangkan seluruh badanku, yang akhirnya membuatku diam dan membuka satu mataku.

EH? Jadi aku salah paham?

"Ayolah masuk dulu,"

"Tidak, aku harus pulang Yoongi"

"Sebentar, hanya sebentar. Kau bilang ingin membahas ini denga serius"

Kemudian dia menarikku masuk ke rumahnya. Apa aku bisa selamat keluar dari sini?!

Butuh waktu yang cukup lama bagi Yoongi agar berhasil menyeretku masuk kedalam rumah. Tenaga nya kali ini lebih kuat di bandingkan denganku,aku tidak lemah. Hanya sekarang aku sedang tidak dalam keadaan yang baik. Setidaknya, pantatku yang dari tadi khawatir, sudah berkenan untuk didudukkan di bawah pohon di taman rumahnya.

Yoongi menatapku tajam, seolah-olah ada satu juta delapan ratus hal yang ingin dia sampaikan kepadaku tapi dia tidak tahu harus mulai dari mana.

Secara pribadi, jelas aku ragu apakah aku benar-benar ingin duduk disini mendengarkannya. -_-"

"Jimin!" Akhirnya dia memanggil namaku. Aku sempat terperanjat dari tempat dudukku. Jadi sekarang, apa yang harus aku lakukan kali ini? Apa aku harus kabur? Menggali lubang? Telpon polisi? Atau mengirimkan Bat-signal?. Aku sangat tak menyukai tatapannya padaku sekarang.

Yoongi menatap lekat-lekat wajahku, dia bisa bisa melihat dengan jelas betapa muaknya diriku saat ini. Dia mendesah.

"Aku bukan gay. Aku sudah punya pacar. Kau tahu dia. Han Yejin itu pacarku." Kenapa selalu mengulang kata-katanya ? Bagaimanapun, apa yang dia biacarakan memang masuk jadi sedikit lebih lega.

Secara alami, aku mengangguk sebagai responku. Karena memang aku tahu, kenyataannya Yejin itu pacarnya Yoongi. Dia seumuran dengan ku, tapi dia tidak satu sekolah dengan kami. Karena Sekolah kami adalah sekolah khusus laki-laki. Yejin itu cantik sekali, dan aku benar-benar serius tentang kecantikannya. Dia nampak natural, walaupun dia tidak memakai make-up sama sekali. Dia selalu mengenakan pakaian yang modis layaknya wanita korea pada umumnya. Simpelnya, kalau dia itu pacarmu, mungkin kau akan merasa malu punya pacar seperti dia. Apalagi kalau dia datang ke sekolah kami, semua orang menatapnya dan mulai meneteskan air liurnya.

Semua orang bilang kalau Yoongi dan Yejin adalah pasangan yang diciptakan oleh surga. Kenyataannya, aku adalah salah satu yang juga bilang seperti itu. Mereka sangat cocok satu sama lain.

Jadi, mau tidak mau, aku jadi penasaran tentang apa yang akan Yoongi katakan selanjutnya.

"Tapi… Aku ingin pacaran denganmu, jimin."

Sial. Cukup aku mendengarkan semua ini!

"Baiklah, Yoongi. Aku tetap berpegang teguh pada pendirianku sebelumnya. Aku pikir aku harus pulang sekarang, aku tidak mau mendengar semua ini lagi. Seharin aku mencoba tak memikirkannya, tapi sama saja hasilnya." Cepat-cepat aku beranjak dan berniat meninggalkan tempat itu. Aku tidak bercanda lagi. Aku sama sekali tidak pahan jalan pikirannya. Bagaimana bisa dia duduk disini mencoba untuk meyakinkanku kalau dia bukan gay? Bahkan sampai membawa-bawa Yejin sebagai buktinya. Tapi sekarang dia bilang kalau dia ingin berpacaran denganku?

"Keluargaku memaksaku untuk berpacaran dengan seseorang. Aku tidak bisa melawan permintaan mereka. Aku hanya punya adik perempuanku yang bisa membantuku. Dia bilang kalau aku punya pacar laki laki, barulah dia mau membantuku."

"Apa?!" Dia berbicara dengan cepat dan hanya samar-samar sajaaku memahami apa yang dia bicarakan. Aku mulai sadar, kalau aku harus menaruh perhatian lebih besar saat ini.

"Apa tadi? Bicara pelan-pelan yang jelas."

"Aku bilang, keluargaku memaksaku untuk berpacaran dengan seseorang." Yoongi berdesah dengan keras sebelum dia melanjutkan. Semantara itu, aku kembali duduk di sampingnya seperti sebelumnya.

"Oke?"

"Aku tidak bisa melawan orang tuaku. Kau tahu kan kalau mereka itu sangat ketat, Jimin." Dia benar.

Aku ingat dengan baik saat pesta ulang tahun dua tahun yang lalu. Aku harus benar-benar mengendalikan diriku. Aku harus menahan diri agar tidak berbicara sumpah serapah, rasanya lebih mengerikan daripada harus menahan kentut. Maksudku, kalau kau kentut mungkin orang-orang tidak akan tahu (Aku berpikir seperti itu?) tapi kalau aku mulai bicara kotor, aku tahu saat itu juga aku akan diusir keluar dari rumah besar itu. Setelah pesta, aku menghampiri Taehyung. Dia harus mendengarkanku mengeluh selama tiga jam. Telinganya mungkin sudah kebas.

"Tapi aku tidak tahu kenapa, mereka selalu menuruti apapun permintaan Yeri." Lanjut Yoongi, dia berhasil menggoyahkan pikiranku.

Apa? Dia barusan bilang apa? Oh iya, Yeri itu adik perempuannya.

Samar-samaraku ingat dia. Yeri lumayan mengintimidasi seingatku. Jadi kalau Yoongi berkata kepadaku bahwa orang tuanya selalu menuruti permintaan adik Yoongi , Aku tidak terlalu terkejut dengan hal itu.

"Jadi, kalau dia bisa membantuku berbicara kepada orangtuaku, maka Aku tak perlu pacaran dengan wanita pilihan mereka. Tapi" Aku menaikkan alis. Dalam pelajaran bahasa Korea, ajaran sastra dari Ahn Saem bilang kalau apapun yang berada di belakang kata "tapi" adalah ide pokoknya.

Maka dari itu, para siswa harus memperhatikan hal tersebut dengan seksama.

Tapi… saat ini aku agak tidak mau memperhatikan ucapan Yoongi. Apakah ide pokokku sudah jelas dan singkat?

" Apakah bisa aku tak perlu mendengarkan ini?"

"Tolong Jimin! Biarkan aku selesai berbicara." Sekarang aku tahu, Yoongi memang tukang paksa.

Jadi aku duduk dengan muka lelahku menunggu dia melanjutkan, tapi juga ada rasa antisipasi. Perasaan apa ini yang mengalir di tulang-tulangku? Apa artinya aku bakal kehilangan keperjakaanku oleh Yoongi?!

"Yaa, Yeri itu… sama dengan gadis remaja pada umumnya, Jim. Dia sangat suka membaca manga, tapi entah genre manga apa yang di abaca. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Dia membeli banyak sekali genre manga tentang cowok berciuman dengan cowok lain, semuanya ada di kamarnya." Makin lama percakapan ini makin menakutkan.

"karena itu, dia bilang kepadaku jika aku mempunyai pacar cowok, dia dengan senang hati akan berbicara ke orang tua kami demi aku. Dan kalau pacarku imut, manis, dia akan berusaha lebih keras."

Akankah seseorang memberitahuku kapan terakhir aku mengedipkan mata? Apa aku genit? Ugh aku tak tahan lagi. Aku mulai berdoa didalam kepalaku. Aku berharap agar aku tuli untuk 2-3 menit kedepan. Aku berjanji akan rajin membuang sampah kelas selama tiga bulan berturut turut, kalau harapanku dikabulkan.

Tapi sayangnya tidak ada yang mau mempedulikan hal itu.

"Dan kau itu… imut, juga manis" Itu adalah kalimat berikutnya yang aku dengar.

Sial! Ini memang fakta jika aku lahir lebih kecil dari pada Yoongi. (Sebenarnya, aku tidak pendek atau sejeisnya dan Yoongi pun tidak tinggi juga , mungkin hanya tinggi beberapa centimeter dari padaku, Tapi yang jelas… Aku masih lebih pendek dari pada dia)

Ini bukan salahku juga, aku punya mata yang sipit bahkan jika aku tertawa bagian mataku hanya akan terlihat garis, dan bibirku juga merah seperti pulm… teman-temanku sering mengejek kalau aku ini imut. Tapi semuanya tidak pernah aku pikirkan dalam-dalam. Sampai malam ini aku sadar, secara resmi Yoongi berhasil memasukkanku …

kedalam neraka karena fakta dari teman temanku!

Nampaknya Yoongi bisa membaca pikiranku tanpa perlu memberi tahunya.

"Jimin. Aku tak bermaksud seperti itu, Tapi… tak mungkin juga aku bisa dapat orang seperti Sijin dan mengenalkan kepada Yeri kalau dia pacarku, kan?" Dia tahu caranya membuat contoh kasus yang baik. Dia membawa-bawa Sijin. Sijin itu atlit terbaik disekolah kami. Kamu mungkin bisa menduga kalau dia itu raksasa.

"Mengapa gak mencoba minta tolong Angels Gang?" Aku bertanya ke Yoongi, sambil mengacu ke sekelompok Katoeys yang selalu gaduh, yang bahkan mampu membuat cowok-cowok disekitarnya grogi. Pasti kalaupun Yoongi minta tolong ke mereka, mereka bakal bertarung satu sama lain untuk memperebutkan Yoongi.

"Yeri tidak suka cowok semacam itu, Jimin. Dia lebih suka cowok gay, bukan katoeys." Dan sebenarnya seberapa gay-kah aku?! Rasanya ingin menyemprotkan kata-kata itu ke muka Yoongi sekarang.

"Kan ada Taemin, Yoosoek, Sungjong. Mereka juga manis dan imut. Mereka juga lebih pendek daripada aku. Kenapa kau tak minta tolong ke mereka saja?!"

Aku masih mencoba mengubah pikiran Yoongi. Nampaknya Yoongi juga sudah kehabisan akal. Dia mendesah sekali lagi.

"Mereka itu straight seperti kita. Mereka tak akan pernah setuju dengan ide ini."

" Lalu kenapa aku?!"

"Karena kau dan aku… bisa saling membantu satu sama lain." Rasanya aku membeku ditempat. Apakah aku sekarang sedang diancam?

Aku hampir lupa kalau aku masih butuh bantuan Yoongi. Simpelnya, saat ini aku melihatnya hanya sebagai tumpukan uang.

"Oke? Kita tak perlu berakting terus-terusan, cukup didepan Yeri saja. Kau pasti akan mendapatkan uang untuk klubmu." Apakah aku benar-benar rela kehilangan harga diri hanya demi uang sebesar 20.000 won dengan menjadi pacar Yoongi?!

Aku menatap mukanya yang tersenyum sambil memikirkan ini secara matang. Tapi aku tidak sempat melanjutkan pikiranku karena mendengar suara dengan nada tinggi.

" Yoongi-aa, ini siapa?"

.

.


jujur saja, saya buat ini senyum senyum sendiri karena drama aslinya memang sangat lucu.

Disini Yoongi yang jadi seme, dan jimin uke. Please no bash!

Yoongi memang lebih cocok jadi seme guys.

Masih mau dilanjutin? saya libur habis Ujian Nasional,disamping bingung cari universitas saya iseng iseng rewatch drama ini, muncul aja ide mau buat versi Yoonmin nya. xD

dari beberapa review udah ada yang pernah nonton drama nya ya? jadi udah pada tau jalan ceritannyaa deh! yang pasti tetep review ya buat Yoonmin shipper!

saya excited banget karena Bangtan, awal Mei mau comeback kan! 3 MV sekaligus! keep love Bangtan guys!

thankyou