Genre: Family/Drama/Romance
Rating: T
Main Characters: You/Reader, Generation of Miracles and Kuroko Tetsuya
Support Characters: Momoi Satsuki, Nijimura Shuuzou, Mayuzumi Chihiro, Imayoshi Shouichi, Araki Masako, Alexandra Gracia, Takao Kazunari, etc.
.
Kuroko no Basuke/黒子のバスケ (c) Tadotoshi Fujimaki
.
Warnings: Teikō High!AU, Typos, OOC, OC, gaje, lebay, alur kecepatan/kelambatan, tidak sesuai EYD, POV (mungkin) berganti sesuai kebutuhan, dan lain-lain.
.
.
.
"Sayaka-san, ada apa?"
Ketika mulutku membentuk pertanyaan, wanita yang tengah berdiri di depan salah satu pintu kamar itu menoleh padaku dengan tangan yang masih menempel pada permukaan pintu. Ia memiliki surai berwarna chestnut brown yang digelung rapi dan tubuhnya dibalut dengan pakaian pelayan khas Keluarga Akashi. Wanita itu adalah Akemiya Sayaka-san; Kepala Pelayan keluargaku. Selagi aku berjalan mendekatinya, ia menurunkan tangannya lalu membungkukan tubuhnya dengan hormat.
"Daiki Bocchan sepertinya belum bangun," jawab Sayaka-san seraya melirik kecil ke arah pintu. "Saya sudah mengetuk pintu kamarnya beberapa kali, tapi tidak ada sahutan."
Aku menghela napas. Dasar si hitam itu. "Bagaimana dengan yang lain?"
"Semua sudah di ruang makan. Kecuali Ryouta Bocchan yang sedang membenahi kamarnya dan Daiki Bocchan yang masih tidur."
Aku mengangguk mengerti. "Baiklah. Biar aku yang urus Daiki. Sayaka-san bisa melanjutkan pekerjaan yang lain," ujarku sambil tersenyum.
Kali ini, Sayaka-san yang mengangguk seraya bergumam untuk pamit undur diri. Aku melambaikan tangan padanya yang berlalu, kemudian berpaling pada pintu yang saat ini posisinya paling dekat dengan tubuhku. Itu jelas pintu kamar Daiki dan aku jamin penghuninya masih teronggok tak sadarkan diri di atas kasur. Omong-omong soal kamar, seluruh kamar milik anggota Keluarga Akashi berada di lantai dua rumah. Di antara seluruh kamar adik-adikku, kamar Daiki-lah yang letaknya paling jauh dengan kamarku, namun kamar makhluk ganguro ini yang paling sering aku datangi saat pagi hari dibandingkan kamar yang lain—karena sebuah alasan yang kurasa kalian tahu kenapa.
Aku membuka pintu dengan malas, dan pemandangan yang tak enak dilihat langsung mengisi pengelihatanku. Pakaian kotor, tumpukan buku yang-tak-ingin-kutahu-isinya, bekas camilan, kemudian—apa itu yang dikerumuni lalat?—tercecer di mana-mana bagaikan sampah. Aku melotot. Ini terlalu mengerikan sampai aku tak bisa menjelaskannya. Demi Tuhan. Tempat ini tak pantas disebut kamar pribadi, tempat lebih tepat disebut tempat pembuangan sampah.
—Tidak, tempat pembuangan sampah pun masih lebih baik dari ini.
Lantas kudapati si pemilik kamar masih berada di atas kasur—tertidur dengan pose tidur yang kemungkinan besar dapat membuat orang yang melihatnya ilfeel berat. Maaf, aku tidak mau menjelaskan bagaimana posenya secara jelas.
Dengan langkah besar-besar aku menghampiri makhluk ganguro yang masih tidur itu seraya setengah berteriak. "Daiki, bangun! Ini hari pertama sekolahmu, bangun!"
Aku tahu teriakan setengah-setengah seperti itu tidak akan membangunkan Daiki. Yang ada, suara dengkurannya malah semakin keras, seperti saat ini. Kesal, aku merebut paksa guling yang ada di pelukannya hingga membuat si pemilik sedikit bergeser dari posisinya. Ia hanya bergeser, tidak ada tanda-tanda akan bangun.
"Bangun, Daiki!" Dengan sekuat tenaga, kupukul guling itu ke tubuh tegap Daiki. Sekali, ia hanya menggeliat. Dua kali, dia mengerang. Tiga kali, dia membalikan tubuh, membelakangiku—sama sekali tak bangun—seolah mengabaikanku. "DAIKIIIIII!" jeritku super kesal.
Aku menarik napas, berusaha menetralkan emosiku yang mulai meletup-letup. Oke, kalau sudah begini aku harus memanggil Seijuurou dan meminta bantuannya.
Aku baru saja hendak berbalik ketika tiba-tiba sebuah tangan menarik tubuhku dan membawanya ke dalam sebuah pelukan. Aku terbeliak. Kini aku berada di atas kasur dengan Daiki yang memelukku. Wajahku menghadap tepat ke dada bidangnya. Apa-apaan ganguro satu ini?!
Belum sempat aku berusaha melepaskan diri dan meneriakan sumpah serapah, Daiki bergumam dan malah memelukku semakin erat. "Mai-chan~"
Aku terdiam.
Apa? Barusan si bodoh ini bilang apa?
Mai-chan?
Sialan. Aku tidak mau disamakan dengan model yang suka pamer dada.
"DAIKI, KAU—!" Ucapanku terputus karena suatu hal. "—eh?"
Sekarang, aku mengerjap. Memproses sesuatu yang baru saja terjadi.
Tunggu ...
... Apa tangan adikku yang satu ini baru saja ... menyentuh ... bokongku?
.
.
.
"DEMI TUHAN, DAIKI, LEPASKAN AKU! AKU INI KAKAKMU, BUKAN HORIKITA MAI SIALAN ITU!"
Dan tonjokanku pun melayang.
.
pink orchid;
mizuno shiena ⓒ 2015
.
[ one : Teikō high ]
.
Dari insiden di kamar Daiki hingga sekarang—di perjalanan menuju sekolah, aku sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata pun. Yang kulakukan sekarang hanyalah memandang keluar jendela mobil, memperhatikan jalan yang sudah dipadati manusia yang akan memulai aktivitas. Warna pink dari pohon sakura yang berjajar di sepanjang jalan memenuhi pengelihatanku. Seharusnya aku senang melihatnya, tapi mood-ku sudah terlanjur jelek sehingga aku tidak merasakan apa-apa.
Namun, aku sadar. Mood-ku seperti ini bukan hanya karena insiden Daiki tadi. Aku tidak terlalu yakin, tapi mungkin mood jelek ini juga dipengaruhi oleh kenyataan bahwa seluruh adikku akan bersekolah di SMA yang sama denganku.
"Selamat, Daiki-kun. Kau berhasil membuat Nee-san marah di hari pertama kita sekolah."
Aku melirik kecil ke sumber suara kala salah satu adikku bersuara.
Tetsuya memandang salah satu saudaranya dengan tatapan datar khasnya. Anak itu kemudian berpaling, mungkin sedikit merasa kasihan melihat wajah Daiki kini dihiasi oleh sebuah lebam keunguan tepat di pipi kiri bagian atas. Daiki cemberut dengan tangan yang mengelus pelan lebamnya sambil sesekali meringis. Sementara itu, aku membuang kembali pandanganku ke jalan ketika rasa bersalah mulai menghantui. Apa aku terlalu kasar padanya?
"Aneki, kau sama sekali tidak lembut seperti Kaa-san," gerutunya sambil tetap mengelus wajah.
"Karena aku memang bukan Kaa-san," sahutku ketus tanpa sadar, kemudian terdiam menyadari sesuatu. Ugh, aku bersuara juga pada akhirnya. Padahal, aku sudah berniat tidak akan berbicara dengan Daiki hari ini.
Mungkin pada dasarnya, aku memang tak bisa benar-benar marah pada mereka.
"Ah, Nee-chin akhirnya bicara." Di sampingku, Atsushi tampak senang meskipun ekspresi malasnya tidak menghilang. Dia menyodorkan sebungkus permen padaku. "Ini untuk Nee-chin."
Aku tersenyum dan mengambilnya. "Terima kasih, Atsushi."
.
.
.
22 hours ago.
Aku terus berjalan dengan langkah besar-besar, mengabaikan panggilan Ryouta yang membuntutiku di belakang bersama Shintarou, pula mengabaikan tatapan bertanya-tanya milik Sayaka-san yang baru saja berpapasan denganku di lorong. Sejujurnya aku ingin lari, tapi jika kulakukan itu berarti aku melanggar peraturan rumah—jadi, aku tak akan melakukannya. Pikiranku hanya tertuju pada satu hal yang masih sulit untuk kuterima dan aku berniat untuk membuktikannya sekarang juga.
Ocehan Ryouta yang kutangkap seperti 'Nee-cchi, dengarkan aku!' atau 'Bagaimana ini Shintarou-cchi? Aku bisa kena gunting Seijuurou-cchi!' sama sekali tak mengurangi kecepatan langkahku. Setelah menaiki tangga dan mecapai lantai dua, langsung saja aku melesat menuju kamar Atsushi, membuka pintunya tanpa aba-aba.
Begitu kakiku menginjak lantai ruangan kamar bernuansa putih tersebut dan mataku telah mendapati empat orang dengan helaian rambut warna-warni, seolah-olah ada sesuatu yang menyihirku, tubuhku membeku. Pikiranku mendadak kosong dan kakiku seperti melekat kuat pada lantai.
Aku mengerjap beberapa kali, benar-benar berharap kalau Tuhan sedang mengerjaiku dengan cara membuat mataku salah melihat. Namun, pemandangan ini tidak berubah. Berapa kali pun aku mengerjap, mereka masih tetap seperti ituberdiri di sana sambil melotot melihat kehadiranku yang sepertinya tidak diduga, dan yang paling tak bisa kupercaya adalah tubuh mereka dibungkus seragam yang biasa aku gunakan untuk sekolah; kemeja biru, dasi hitam, blazer putih dan celana hitam—bagian celana inilah yang berbeda dengan seragamku, tentu saja.
Untaian kata yang tadi dilontarkan oleh Ryouta menelusup kembali ke dalam benakku tanpa izin. Kata-kata yang awalnya spontan aku teriaki karena terlalu kaget, lantas sempat kuanggap sebagai guyonan belaka—ternyata nyata.
Mereka benar-benar masuk Teikō.
Demi tumpukan majalah porno Daiki yang ingin sekali kubakar, aku sama sekali tidak melihat mereka mengikuti ujian masuk Teikō. Yang kulihat hanya Atsushi—ini jelas, karena sejak awal ia sudah mengatakan padaku bahwa ia memang ingin satu SMA denganku. Selain itu, aku juga menemani Atsushi saat hari ujian masuk, dan aku pula yang sibuk mengomel padanya tepat lima menit sebelum ujian dimulai karena ia tidak mau merelakan cemilan-cemilannya untuk dianggurkan barang sebentar saja.
Dan hari itu jelas-jelas aku tidak melihat lima makhluk lain dengan warna rambut alami yang mencolok.
Pintu kamar mandi Atsushi terbuka, kemudian figur gadis cantik dengan rambut panjang berwarna pink keluar, tersenyum lebar. Sama seperti keempat adikku yang lain, dia juga mengenakan seragam SMA Teikō. "Bajunya pas! Bagaimana dengan—" Momoi Satsuki terbelalak melihatku. "—Nee-chan?!"
.
.
"Jadi," Aku berdeham. "Kapan kalian ikut ujian masuk Teikō?" Suara datarku berhasil memecah kesunyian yang telah berlangsung hampir lima menit. Sekarang aku dan adik-adikku plus Satsuki sedang berkumpul di ruang keluarga. Sebenarnya aku tidak menyuruh mereka untuk berkumpul. Awalnya, setelah aku melihat Satsuki di dalam kamar Atsushi, aku langsung keluar dan pergi ke ruang keluarga tanpa berkata apa-apa—aku terlalu kaget. Lalu tak lama kemudian, adik-adikku muncul dan duduk di ruang keluarga mengikuti jejakku. Mereka sudah menggunakan pakaian santai, bukan lagi seragam Teikō.
"Aku, Shintarou dan Tetsuya mengikuti ujian hari ke-dua." Seijuurou yang bersuara. Ia sama sekali tak menoleh padaku—melirik pun tidak. Fokusnya tertuju pada layar televisi yang menayangkan berita terbaru mengenai insiden pengakuan politikus Jepang. "Sedangkan Ryouta, Daiki dan Satsuki mengikuti ujian susulan."
Oke. Jawaban Seijuurou sudah menjelaskan beberapa hal selain pertanyaanku barusan. Sekarang aku tahu kenapa Seijuurou, Shintarou dan Tetsuya pergi pagi-pagi sekali sehari setelah aku menemani Atsushi mengikuti ujian, juga alasan kenapa dua minggu setelah hari ujian, Satsuki datang ke rumah dan menyeret Daiki bersama Ryouta untuk pergi dengan dalih ingin mengajak mereka jalan-jalan.
Haha. Hebat sekali. Aku bisa tertipu oleh tujuh makhluk warna-warni yang usianya ada di bawahku.
"Nee-san tidak suka kita masuk SMA yang Teikō?"
Aku menatap horor pada Tetsuya yang duduk tepat di depanku. Itu perkataan yang rasanya wajar untuk dilontarkan, tapi apabila si pemilik kalimat adalah Tetsuya, entah kenapa itu membuat diriku terdengar begitu jahat.
"T-tentu saja aku tidak keberatan! Hanya saja—"
"Hanya saja?" Satsuki bertanya, mengintrupsi kalimatku. Dia duduk di samping Atsushi, dan Atsushi sendiri duduk tepat di sampingku. Kalau kami sudah berkumpul seperti ini, adik unguku itu memang selalu duduk tak jauh dariku.
"Hanya saja," aku memandangi wajah ketujuh adikku ini satu persatu dengan cepat. "Kenapa kalian tak mengatakan apa-apa padaku?"
—Hening, tak ada yang menyahut. Bahkan Atsushi berhenti mengunyah.
"Jawab aku," ujarku sekali lagi.
Perempatan urat mulai muncul di dahiku ketika tak kutemukan tanda-tanda kalau salah satu dari mereka akan menjawab. Seijuurou pun terlihat tidak peduli. Ugh, aku paling tidak suka jika pertanyaanku diabaikan.
"Kuulangi pertanyaanku—"
"Iseng."
Sebuah suara berat yang khas memotong ucapanku. Aku menoleh ke sumber suara, dan si pemilik suara kini sedang menutup mulutnya untuk menahan kuap. Setelahnya, ia menatapku.
"Hanya iseng. Mungkin bisa dibilang kami ingin menjahilimu, Aneki," jelas Daiki tanpa rasa bersalah.
.
.
"Shinabe-san tak perlu menjemput kami. Kami akan pulang naik kereta."
Shinabe-san mengangguk mendengar ucapan Seijuurou. Pria paruh baya yang telah kukenal sejak umurku lima tahun itu berpamitan padaku dan yang lain, setelah mengatakan sesuatu untuk menyemangatiku. Shinabe-san pasti sadar kalau di perjalanan tadi mood-ku sedang jelek. Sebagai seorang supir, ia memang terlalu peka.
Mengembuskan napas perlahan, aku membalikan tubuhku, mengamati bangunan megah SMA Teikō yang berdiri tepat di hadapanku. Pohon sakura yang bermekaran menghiasi setiap sudut bangunan, dan beberapa di antaranya berderet rapi di sepanjang gerbang. Embusan angin menerbangkan helaian bunga sakura yang berjatuhan. Aku menyadari kalau halaman depan sekolah tidak seramai tahun lalu, mungkin disebabkan belum dimulainya kegiatan promosi klub. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini promosi klub akan dilakukan usai Nyuugaku Shiki dan Perkenalan Kelas karena beberapa alasan.
Aku menengok ke kanan dan ke kiri, mengetahui bahwa adik-adikku tengah membicarakan sesuatu yang tidak ingin aku tahu. Huh, sulit dipercaya. Mulai hari ini sepertinya aku akan lebih sering melihat wajah mereka.
Lalu aku teringat sesuatu. Aku belum mendengar Shintarou berbicara hari ini. Yah, pada dasarnya dia memang tidak banyak omong, sih.
"Shintarou, bagaimana dengan cancer hari ini?"
Shintarou terlihat kaget karena aku bertanya. Ia menaikan kacamatanya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya membawa sebuah speaker kecil—lucky item, eh? "Peringkat dua, nodayo."
"Nee-chan!"
Lengkingan khas memanggilku dan aku sadar kejadian kemarin akan terulang—belum sempat aku menengok pada si empu-nya suara, dia telah terlebih dulu menabrakku, nyaris membuatku terjungkal kalau saja Atsushi tidak menahanku dengan cepat. Adikku itu bertanya keadaanku dan aku hanya mengangguk sebagai balasan. Aku merintih, merasakan pelukan yang sangat menyesakkan, meskipun tidak semengerikan pelukan Ryouta. Hanya dengan mendengar suaranya saja aku tahu siapa dia.
"Satsuki?"
Gadis berambut gulali itu tersenyum manis ketika mulutku mengucapkan namanya. Dia menjauh dariku, memberiku kebebasan untuk bernapas. "Ohayou, minna!"
Dan balasan selamat pagi pun berkumandang dari mulut keenam adikku.
"Hari ini kau tampak senang sekali, Satsuki-san," ujar Tetsuya yang diangguki Ryouta.
Satsuki menatap Tetsuya dengan binar kebahagiaan yang terpancar jelas dari matanya. "Tentu saja! Hari ini kita akan bersekolah di sekolah yang sama, sama seperti dulu!" Kemudian ia memeluk Tetsuya erat. Aku meringis, tahu kalau pelukan itu membuat Tetsuya nyaris mati. "Senaaaaang sekali!"
"Se-sesak, Satsuki-san."
"Oi oi, Satsuki! Kau bisa membuat Tetsu mati!" Daiki mendekati Satsuki dan Tetsuya.
"Satsuki-cchi, lebih baik kau lepaskan Tetsuya-cchi!" tambah Ryouta panik melihat wajah Tetsuya yang hampir seputih kapas.
Sementara itu, aku hanya bisa menghela napas melihat mereka. Perasaanku campur aduk. Aku senang, kok, mereka masuk Teikō. Serius, aku tidak bohong—aku senang sekali. Hanya saja ada suatu perasaan janggal yang membuatku seakan-akan tidak senang mereka ada di sini. Mungkin, perasaan ini muncul karena aku takut mereka melakukan hal bodoh dan berlebihan seperti saat kami masih kecil.
"Hei," ucapku, berhasil menarik perhatian mereka. "Aku duluan, ya."
Lantas aku terlebih dulu memasuki sekolah, meninggalkan mereka yang memandangiku di belakang, juga mengabaikan panggilan Ryouta.
.
.
"Nee-cchi!"
Akashi Ryouta berteriak, memanggil sang Kakak yang telah mendahuluinya memasuki sekolah. Awalnya Ryouta pikir gadis itu hanya akan memasuki kawasan sekolah dan berdiam diri di halaman, tapi rupanya ia memasuki gedung utama. Pemuda itu cemberut, agak kesal karena dihiraukan kakak perempuan yang paling ia sayangi.
"Aku akan menyusulnya," ujar Satsuki tiba-tiba, melepaskan Tetsuya yang langsung terbatuk-batuk setelahnya. "Kalian—"
"Biarkan saja."
"Eh?"
Enam kepala bak permen itu menoleh pada Seijuurou serempak.
"Biarkan saja," Seijuurou mengulangi kata-katanya. Tenang, namun perintahnya terdengar jelas. Matanya memandang lurus ke depan. "Biarkan dia sendiri. Dia tidak ingin kita mengikutinya."
.
.
Aku berhenti, lalu berbalik dan menyapukan pandanganku ke setiap penjuru koridor gedung utama.
Tidak ada satu pun manusia dengan warna aneh berada di sekitarku.
Mereka tidak mengikutiku, ya?
Embusan napas lega meluncur otomatis dari bibirku. Syukurlah. Aku memang tidak ingin mereka mengikutiku.
Aku kembali melanjutkan perjalananku menuju papan pengumuman. Tak sampai satu menit, aku sudah sampai dan sesuai dugaan, tempat itu sudah dikerumuni oleh para siswa. Baik siswa-siswi baru ataupun teman seangkatan dan senpai-senpaiku. Ada tiga papan pengumuman di sana; papan pertama adalah papan peringkat nilai ujian siswa-siswi baru dan sisanya adalah papan pembagian kelas siswa kelas dua dan tiga.
Tanpa pikir panjang, aku menerobos papan untuk kelas dua. Entah kenapa tidak terdengar satupun gumaman protes karena kelakuanku ini. Begitu sampai di depan, aku langsung menyusuri isi papan tersebut, mencari-cari namaku.
"Ah, kelas 2-2," gumamku pelan.
Aku pun meninggalkan papan kelas dua dan beralih ke papan kelas satu. Well, aku ingin tahu berapa peringkat ujian adik-adikku. Tanpa basa-basi, langsung saja kucari nama-nama dengan marga Akashi.
1. Akashi Seijuurou
.
2. Akashi Shintarou
.
42. Momoi Satsuki
.
74. Akashi Atsushi
.
77. Akashi Tetsuya
.
143. Akashi Ryouta
.
239. Akashi Daiki
Sudah kuduga Seijuurou akan bertengger di peringkat satu dan Shintarou di peringkat dua. Peringkat Satsuki, Atsushi, Tetsuya dan Ryouta juga lumayan bagus. Aku tidak akan mengatakan apa pun pada mereka mengenai peringkat jika bertemu nanti.
Kecuali—
Demi Tuhan, Daiki. Aku tahu di antara kami bertujuh kau itu yang paling bodoh. Tapi kenapa bisa-bisanya peringkat nilaimu berada di urutan kedua dari akhir? Sempat terpikir olehku untuk mengomelinya, tetapi rencana itu langsung kubatalkan karena mengomelinya hanya buang-buang waktu. Ujung-ujungnya dia pasti akan menjawab 'yang penting aku bukan yang terakhir, 'kan?'
Keluar dari jejalan manusia, aku menarik napas dalam-dalam—
"Kita sekelas lagi, Aka-chan!"
Sebuah suara ceria yang jelas-jelas ditunjukan untukku terdengar. Aku menoleh, dan seorang gadis berambut cokelat sebahu berdiri di sampingku, tersenyum manis. Tubuhnya ramping dengan tinggi yang sama denganku.
"Kidesa!" ujarku sumringah.
Gadis yang berjalan beriringan denganku menuju aula adalah Izumi Kidesa. Sahabatku sejak SMP dan satu-satunya orang selain keluargaku yang kupercaya sepenuh hati. Kepribadiannya hampir mirip dengan Satsuki, tapi jelas berbeda. Ia adalah orang yang baik, ceria dan agak jahil. Kidesa juga populer di sekolah. Buktinya, sekarang dia berpacaran dengan kakak kelas kami yang merupakan Kapten Klub Baseball. Kidesa sendiri mengikuti Klub Kesenian.
Semenjak sebuah insiden menimpaku ketika SD, seisi rumah melarangku untuk pulang sendirian, entah itu naik bus ataupun kereta. Boleh sih, aku pulang naik bus atau kereta. Hanya saja, harus ada seseorang yang menemaniku, dan orang itu harus orang yang telah dipercaya oleh Seijuurou dan yang lain.
Nah, sejak bertemu Kidesa, yang tinggal di distrik Akasaka—yang notabenya searah dengan Azabu, aku diperbolehkan pulang naik kereta. Dengan syarat: aku harus pulang bersama Kidesa. Jika Kidesa tak ada, Shinabe-san akan menjemputku.
Yah, begitulah.
Karena Kidesa sering main ke rumahku, dia dan adik-adikku sudah saling mengenal dengan baik. Atsushi—yang terkenal cukup pelit—bahkan tidak keberatan membagi sedikit makanannya untuk Kidesa. Jadi, mungkin itulah alasan kenapa Seijuurou dan yang lain percaya padanya.
"Nee, nee, Aka-chan." Aka-chan. Berasal dari Akashi. Sejujurnya, aku akan lebih senang kalau Kidesa memanggil nama kecilku. Tapi, Kidesa menolak dengan alasan 'ia sudah nyaman memanggilku seperti itu'. "Jadi, adik-adikmu masuk SMA mana?"
"Adik-adikku masuk Teikō,"
Kidesa memiringkan kepalanya. "'Adik-adik'? Itu berarti lebih dari satu. Kau mengatakan Atsushi-kun akan masuk Teikō. Selain Atsushi-kun, siapa lagi?"
"Semuanya," jawabku datar.
"Semuanya?"
"Ya, semuanya."
"Semuanya?!" Kidesa mundur selangkah, kentara sekali kalau aku telah membuatnya terkejut. Tapi kemudian, ia tersenyum senang. "Ini keren!"
"Keren apanya?!" Aku melotot. "Aku malah merasakan sesuatu yang mengganjal saat tahu mereka akan bersekolah di sini."
"Memang apa salahnya satu sekolah dengan adik sendiri?"
"Kalau hanya satu atau dua, aku tidak akan mempermasalahkannya. Tapi masalahnya, semua adikku sekarang bersekolah di Teikō—dan adik-adikku itu ada tujuh, jika Satsuki masuk hitungan! Ini pasti merepotkan!"
"Wah, benar juga. Kau bisa semakin populer." Kidesa kembali melangkah maju, menarik tanganku. "Dengar, Aka-chan. Adik-adikmu itu punya wajah di atas rata-rata—apalagi salah satunya adalah model. Jadi, aku yakin mereka akan sangat populer di sekolah, dan membuatmu yang sudah populer semakin populer."
"Aku tidak peduli soal itu," dengusku.
"Oh iya, tadi kau mengatakan soal perasaan yang mengganjal." Kidesa menjentikan jarinya. "Apa kau takut mereka selalu mengikutimu ke mana-mana dan membuatmu tidak bebas, seperti saat kau SD?"
Aku memalingkan wajah. Ucapan Kidesa menembak tepat ke sasaran. "Mungkin."
.
.
Mendengar pidato bertele-tele dari Kepala Sekolah bukanlah hal yang kusukai—dan aku yakin murid lain pun sependapat denganku. Buktinya, beberapa teman laki-lakiku mulai terlihat teler, sesekali menguap lebar, tak peduli dengan pandangan ilfeel murid lain yang ditunjukan pada mereka.
Terkadang aku berpikir, alangkah baiknya pidato Kepala Sekolah disertai dengan suatu pertunjukan yang bisa membuat para murid tidak mengantuk—aku akan sangat menghargai jika Kepala Sekolah melakukan koprol di sela-sela kegiatannya membaca pidato. Namun sayangnya, itu hanya pemikiran bodoh. Berbeda dengan Wakil Kepala Sekolah yang mempunyai jiwa muda meski usianya sudah hampir mencapai kepala enam, Kepala Sekolah kami sangatlah kolot dan kaku.
Setiap huruf, setiap kata, setiap kalimat Kepala Sekolah bagaikan dengungan lebah di telingaku.
Sampai pada akhirnya Kepala Sekolah mengatakan;
"Saatnya pidato dari perwakilan siswa baru, Akashi Seijuurou."
Aku melotot mendengar nama tersebut. Kidesa yang duduk di sebelahku menepuk pundakku iseng sambil tersenyum-senyum tidak jelas. Oh, aku tahu. Tidak seharusnya aku sekaget ini. Seijuurou itu pintar—tidak, dia luar biasa jenius—dan dia adalah murid dengan nilai tertinggi saat ujian masuk angkatannya. Tak heran kalau dia menjadi perwakilan siswa baru.
"Akashi?" Salah satu teman laki-lakiku, Yamamoto, yang kebetulan duduk di samping Kidesa melongok padaku. Alisnya saling bertaut. "Marganya sama sepertimu?"
Aku memutar bola mata, tetapi belum sempat aku mendelik pada Yamamoto, suara antusias Kidesa menyahuti.
"Tentu saja! Mereka memang adik-kakak, wajar sama bermarga sama!"
"APA?!" Yamamoto hampir berteriak, dan aku tahu suara itu bukan hanya milik Yamamoto. Tapi suara milik teman-temanku yang lain, yang duduk di sekitarku dan Kidesa.
"Oh, tutup mulut, Kidesa!" desisku, menggerakan tangan untuk mencubit Kidesa, namun gagal karena gadis itu sudah bergerak cepat dengan memiringkan pahanya jauh dariku.
Salah satu teman perempuanku bertanya. "Akashi-chan, benarkah itu?"
"Akashi, kau tidak pernah bilang kau punya adik setampan itu!"
"Tadi namanya Akashi Seijuurou, 'kan?"
"Akashi-san—"
"Tutup mulut kalian, atau tongkat ini melayang."
Sebuah suara tajam yang familiar menyela, berhasil membuat rentetan pertanyaan yang ditunjukan padaku lenyap seketika seolah-olah ditelan sesuatu. Sontak saja, kami melihat ke belakang dengan gerakan patah-patah dan dramatis.
Tepat di belakang kursiku, Araki Masako-sensei berdiri. Aura hitam imajiner mengelilingi tubuhnya. Matanya menyalang tajam, wajahnya dihiasi urat-urat kemarahan dan tangannya menggenggam sebuah stik baseball yang siap mendarat di kepala kami kapan saja. Dia adalah guru matematika sekaligus wali kelasku saat kelas satu, yang terkenal amat sangat killer.
"B-baik, Sensei."
Dan seketika, suasana di sekelilingku hening. Hanya suara langkah kaki Araki-Sensei yang menjauh dan pidato dengan suara bariton Seijuurou yang terdengar.
Aku menghela napas lega.
Sesudah upacara, sepertinya aku harus mengucapkan terima kasih pada Araki-sensei.
.
.
"Akashi-san, apa benar murid kelas satu yang mempunyai rambut berwarna merah tadi adalah adikmu?"
"Ya."
"Dia murid kelas satu dengan nilai ujian masuk tertinggi di angkatannya, ya?"
"Ya."
"Acchan, kenapa kau tidak pernah cerita padaku kalau kau punya adik setampan dia? Kenalkan aku dengan Seijuurou-kun!"
"Ya—maksudku, tidak. Kau sendiri saja ajak dia kenalan."
Lalu kepalaku berdenyut-denyut nyeri, pusing mulai menyerang akibat terlalu banyaknya pertanyaan yang ditodongkan padaku. Dan banyaknya orang yang mengelilingi mejaku—kebanyakan perempuan—sama sekali tidak membantu. Meringis, aku menahan dorongan untuk mencekik Kidesa—si pembuat masalah—yang sekarang tengah cekikikan di depanku. Tetapi, tanpa Kidesa mengatakan Seijuurou adalah adikku, aku tahu cepat atau lambat semua orang tetap akan tahu.
"Akashi, kau punya berapa adik?"
Setelah banyaknya pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan untukku, inilah satu-satunya pertanyaan yang membuatku sempat terdiam. Aku menengadah, pertanyaan itu berasal dari mulut Tsuchida yang berdiri di samping Koganei. Ragu-ragu, aku membuka mulutku.
"... Enam," jawabku skeptis.
"ENAM?!"
Teriakan kompak teman-temanku berhasil membuat telingaku berdenging. Aku tidak menyangka mereka akan berteriak sekencang itu.
"Kau serius?"
"Kau tidak bercanda, Akashi?"
"Perempuan? Laki-laki? Campuran?"
Sadar kalau aku sedang menormalkan pendengaranku, Kidesa mengambil alih menjawab. "Aka-chan tidak pernah berbohong. Dia serius," jelasnya. "Dan semua adiknya laki-laki."
Kali ini, 'oh' kompaklah yang terdengar.
"Jadi, adik-adikmu yang lain bersekolah di mana?"
Rupanya, sesi tanya jawab belum selesai. Kali ini, Mika yang bertanya, berhasil menarik perhatian semua orang, terutama perempuan. Mungkin karena mereka tahu kalau adik-adikku itu semuanya laki-laki.
Aku tidak tahu sudah berapa kali aku menghela dan mengembuskan napas hari ini. "Semuanya masuk Teikō."
1
.
2
.
3
"KAU SERIUS?!"
Aku tidak tahu seberapa kencang teriakan mereka, tapi yang jelas, mereka berhasil membuat siswa-siswi yang berada di luar kelas mengintip masuk ke kelas kami, tampak bertanya-tanya. Dan untungnya, aku sudah bersiap-siap menutup telingaku sehingga aku tak merasakan dengingan menyakitkan seperti tadi.
Aku melepaskan tanganku dari telinga, dan langsung menyesal setelahnya. Berbagai pertanyaan kembali merecokiku.
"Tunggu, apa adik-adikmu punya warna rambut seperti pelangi?"
"Iya."
"Eh, enam? Aku cuma lihat lima. Apa yang keenam tidak masuk?"
Pasti Tetsuya tidak terlihat oleh mereka. "Semuanya masuk. Mungkin kau tidak melihat yang satu lagi."
"Jadi, Akashi Ryouta si model itu adalah adikmu juga, Acchan?!"
"Ya."
Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang dihasi jeritan centil perempuan sudah bagaikan pidato Kepala Sekolah yang terdengar seperti dengungan lebah. Aku bahkan menjawab mereka tanpa berpikir lagi. Kepalaku benar-benar sudah sakit seolah-olah akan meledak.
Di sekolah, yang tahu aku memiliki enam orang adik hanya Kidesa serta Imayoshi-san, Mayuzumi-san dan anggota klub Kyudo lainnya. Jadi, aku sudah menduga kalau teman-temanku yang lain akan bertanya-tanya mengenai mereka. Apalagi adik-adikku punya penampilan mencolok, sehingga orang-orang akan cepat menyadari keberadaan mereka—yah, Tetsuya merupakan pengecualian.
Tapi Demi Tuhan! Demi kaos kaki bau Daiki! Demi lucky item Shintarou! Demi apa pun itu, AKU TIDAK MENYANGKA AKAN SEHEBOH INI JADINYA!
Melihat kekusutan di wajahku, Kidesa kembali berbicara. Wajahnya sedikit diwarnai rasa bersalah. "Ano, sepertinya—"
"Sebaiknya kalian duduk, Alex-sensei sudah berada di tangga menuju kelas ini."
Sebuah suara datar berucap, memutus kalimat Kidesa. Baik Kidesa maupun diriku, secara kompak kami berpaling ke sumber suara. Nijimura Shuuzou berdiri di samping meja guru, menatap gerombolan manusia di sekitar mejaku. Tatapannya datar seperti suaranya, tapi aku jamin tidak ada satupun dari kami yang merasa tersinggung akan hal itu.
Sejurus kemudian, berangsur-angsur para siswa-siswi di sekitarku pergi dan duduk di bangku masing-masing. Sebelum pergi, Mika berkata padaku kalau ia ingin dikenalkan pada Ryouta dan aku hanya mengangguk menanggapinya. Sementara Kidesa hanya perlu memutar kursinya menghadap papan tulis, lalu duduk.
Nijimura Shuuzou. Tahun ini, dia memegang posisi sebagai kapten tim basket. Dia termasuk ke dalam jajaran cowok populer di sekolah. Kalau kata Kidesa, hal yang membuat pemuda itu populer adalah wajah tampan, kharisma dan status terpandang keluarganya di Jepang.
Aku tak peduli sih, hanya saja dia telah menyelamatkanku.
Di dalam hati, aku mengucapkan beribu terima kasih pada pemuda itu.
"Tak kusangka akan jadi seheboh ini," gumamku, menempelkan jidat ke meja.
"Tentu saja heboh! Kan kau sendiri yang pernah bilang padaku, punya enam adik di zaman modern seperti sekarang ini adalah hal aneh." Dari depan, Kidesa membalas. "Apalagi adik-adikmu punya tampang di atas rata-rata."
.
.
Benar saja apa kata Nijimura. Tak sampai lima menit, seorang wanita bule bertubuh super seksi memasuki kelas kami dengan wajah bersinar, dan beberapa murid laki-laki tampak sangat bahagia.
Orang itu adalah Alexandra Gracia, guru bahasa inggris dan wali kelas 2-2 untuk tahun ini—dengan kata lain, wali kelasku.
Well, setelah mendapat wali kelas super galak (Araki-sensei), tahun ini aku mendapat wali kelas yang agak nyeleneh. Alex-sensei punya kepribadiaan easy-going yang berbanding terbalik dengan Araki-sensei. Selain itu, ia juga punya kebiasaan mengerikan; cium sana cium sini tanpa kenal gender. Tapi, cara mengajar Alex-sensei sangat mudah diserap otak. Jadi, aku tidak meragukan kemampuannya sebagai guru.
"Sekarang, kita tentukan perwakilan kelas!" Alex-sensei menuliskan sesuatu di papan tulis. "Siapa yang ingin mencalonkan diri untuk Perwakilan Kelas Laki-laki?"
Hening.
Wanita itu cemberut. "Tidak ada?" tanyanya. "Kalau begitu, ada yang mau memberi saran?"
"Nijimura!"
"Ha?!" Nijimura tersentak, terlihat kaget ketika Yamamoto meneriakan namanya, berhasil menarik perhatian seisi kelas. "Tidak, terima kasih."
Di depan kelas, Alex-sensei tersenyum. Matanya berkilat jahil. "Ayolah, Shuuzou~"
"Tidak, Sensei. Kau bisa mencalonkan yang lain," ujarnya tenang lagi sopan.
Tanpa diduga, Alex-sensei melangkahkan kakinya ke arah meja Nijimura. Kilatan jahil di mata guru itu semakin tampak jelas, dan sepertinya Nijimura menyadari hal tersebut.
Aku punya firasat buruk tentang ini.
"Shuuzou, kau mau, 'kan, jadi Perwakilan Kelas?" Sekarang, tahu-tahu Alex-sensei sudah duduk di atas meja Nijimura, berhasil membuat pemuda itu melotot kaget. Dari sini, aku tidak bisa melihat wajah Alex-sensei karena dia duduk membelakangiku. Namun, melihat wajah menganga siswa-siswa di sekitar Nijimura, aku bisa menebaknya—pasti sekarang Alex-sensei mau menggoda Nijimura.
Nijimura mengalihkan pandangannya dan secara kebetulan matanya berserobok denganku, sampai akhirnya dia memandang keluar jendela. "Tidak, Sensei. Aku sudah cukup sibuk dengan kegiatan lain."
"Tapi, Sensei rasa kau cocok jadi Perwakilan Kelas."
Aku membelalak dan teman-temanku yang lain terdengar menahan napas ketika tangan Alex-sensei mengeluarkan suara yang errr... seduktif seraya menyentuh dagu Nijimura. Oh, tidak. Kebiasaan buruk wanita itu akan keluar!
Tepat ketika wajah Alex-sensei mendekati wajah Nijimura, pemuda itu langsung berdiri dan menjauh dari sang Guru. Wajahnya memerah akibat campuran rasa malu dan ketakutan. Mendadak, aku kasihan padanya. Aku yakin Nijimura bukan orang yang mesum sehingga hal tadi serasa mimpi buruk buatnya.
"Baiklah. Aku akan jadi Perwakilan Kelas." Nijimura mengatakan semua itu dengan suara yang tak bisa kudefinisikan. Yang jelas, ia agak tersengal.
Dan, Alex-sensei tersenyum puas. "Kalau begitu, silahkan ke depan kelas."
Ketegangan di kelas berangsur pulih saat Nijimura telah berada di depan kelas. Mata pemuda itu menatap tajam Yamamoto seperti hendak membuat perhitungan, sedangkan Yamamoto hanya cengengesan. Alex-sensei masih berdiam diri di meja Nijimura. Kupikir, Nijimura sangat bersyukur karena guru itu tak mendekatinya.
Alex-sensei mengedarkan pandangannya ke seisi kelas.
"Perwakilan Perempuan?"
Hening.
"Tidak ada juga?" Aku mendengar kekecewaan pada suara Alex-sensei. "Ada yang mau memberi saran?"
Mendadak, bahuku kembali tegang. Mengingat kebiasaan buruk Alex-sensei yang tidak kenal gender, aku yakin hal yang dialami Nijimura bisa saja menimpa kami, para kaum hawa.
"Saran pun tidak ada?" Alex-sensei meninggalkan meja Nijimura. "Kalau begitu Sensei pilih, ya."
Aku dapat mengetahui kalau cewek-cewek di kelasku semuanya ketakutan, berbeda dengan para cowok yang meski tegang, sebagian dari mereka pasti ingin sekali melihat salah satu dari kami dicium Sensei. Demi Tuhan, lebih baik Araki-sensei menjadi wali kelasku selama tiga tahun daripada setahun diwali kelasi Alex-sensei!
"Bagaimana kalau kau—"
Aku membeku. Duniaku serasa berhenti begitu sebuah tangan mampir di pundakku.
"—Akashi-chan?"
Dan secepat durasi duniaku yang sempat berhenti, aku terperanjat, refleks menjauh dari Alex-sensei yang kini menatapku sambil tersenyum manis. Tubuhku kini menempel pada jendela dan gigilan menghampiri tubuhku. Semua orang di kelas, termasuk Nijimura dan Kidesa, menatapku dan Alex-sensei.
"A-aku ..." Aku tergagap. Aku tidak mau jadi Perwakilan Kelas. Mengurusi enam adik saja sudah repot, apalagi mengurusi setengah isi kelas? Tidak, aku tidak mau—
"Kau mau, 'kan?"
—kalau aku ingin ciuman pertamaku selamat, maka aku harus setuju.
"Baiklah." Aku ingin menangis saat mengucapkannya. "Aku mau."
Mendengarnya, Alex-sensei tersenyum lebar dan wajahnya kembali disinari keceriaan, tidak ada lagi godaan di sana. Ia menepuk kedua tangannya kemudian menarik tanganku. Aku sempat tersentak kaget, namun langsung merasa lega ketika sadar ia menarikku ke depan kelas—bukan mau melakukan yang tidak-tidak padaku.
Di depan kelas, aku berdiri di samping kanan Nijimura. Warna sudah kembali ke wajahnya yang tadinya pucat. Aku tidak dekat dengan Nijimura dan saat kelas satu, kami tidak sekelas, jadi aku tak begitu tahu bagaimana karakternya. Aku tidak mungkin menilai pemuda itu dalam sekali lihat—dan aku akan mengabaikan wajah ketakutannya tadi, karena siapapun yang berada di posisi Nijimura, pasti akan bereaksi sama.
Yah, kuharap ia orang yang baik.
"Mohon kerja samanya, Akashi-san." Ia tersenyum, suaranya lembut dan tegas secara bersamaan.
Aku membalas senyumnya. "Ya, mohon kerja samanya juga, Nijimura-kun."
.
—[ one : Teikō high ], To Be Continued
.
Well, ternyata chapter Teikō sangat kepanjangan jadi Zia bagi dua._.v wkwkwkwkwk.
Yah, maaf karena chapter ini masih berupa perkenalan dan GoM+Tetsu cuma keluar sedikit. Tapi, dia chapter selanjutnya GoM bakalan keluar rada banyak. Flashback masa kecil juga bakalan Zia masukin ke chap selanjutnya~
Di sini reader akan lebih sering dipanggil Akashi, Akashi-san atau panggilan lain yang berhubungan dengan Akashi. Ini karena Zia menghindari terlalu banyak menggunakan kata '(name)' yang sejujurnya agak mengganggu. Tapi, '(name)' pasti bakalan ada, sih. Karena nanti beberapa karakter manggil reader dengan nama kecil.
Zia selalu menerima review kalian :3
.
.
Balasan review untuk yang nggak log-in,
Akiyama Seira: Maaf ga bisa update kilat~ tapi ini udah update :'3
Gemini Yokina-chan: terima kasih^^
Azucchi: :"( maaf ga bisa update kilat.
.
.
Next Chapter [ one : Teikō high, part b ]
"Yare-yare, rupanya pembuat keributan ini berhubungan denganmu."
"Sudah kubilang, Mayu-senpai itu mirip salah satu adikku."
"Omong-omong, Shin-chan sekelas denganku."
"Tidak. Aku senang. Aku sangat senang!"
.
