Title: SECRET
Chapter : Chapter 2
Thanks buat yang udah koment ^_^ koment kalian menyemangati author :v lebay ah ane :D oke lanjut. .!
Maaf kalau ada typo atau kesalahan penulisan kalimat ^_^ Saya hanya manusia biasa :v
Happy Reading dan tolong tinggalkan jejak kalian :D
SECRET
Genre : Romance,Action
Boys x Boys
Cast : Infinite
R&R
Happy reading,readers ^_^
xXx
.
.
"chogi. . "
Seru Sungyeol perlahan pada pria yang berjalan didepan nya. sudah sejak didepan gerbang sekolah ia melihat pria dengan rambut hitam itu berjalan, namun ia belum berani untuk mendekatinya secara langsung. Ketika mereka sudah mendekati kelas baru ia berani memanggil pria dengan mata tajam itu. pria bernama Myung Soo itu memalingkan wajah nya kearah Sungyeol.
"wae? " tanyanya datar. Masih dengan nada dingin seperti kemarin.
"ano. .terimakasih sudah menolongku kemarin malam. "
Myung Soo menganggukkan kepala nya dan berlalu kedalam kelas. Sungyeol menghela nafas nya. sikap dingin yang benar2 menusuk. Bahkan rasanya lebih terasa menyakitkan dibanding sikap siswa lain namun ia merasa lega sudah menyampaikan apa yang ingin ia katakan.
Ia melangkah masuk kedalam ruangan dengan malas. Namun bulu kuduk nya merinding ketika melihat atmosfer yang sangat tak mengenak kan sesaat setelah ia memasuki ruangannya.
"apa yang kau inginkan? " suara Myung Soo memecah keheningan. Didepannya Woo Hyun sedang berdiri dengan sikap pongah nya. tangannya terlipat didepan dada seolah ia meremehkan pria bersikap dingin didepan nya.
"simple saja. aku hanya ingin kursi ku kembali. .bagaimana? " tanyanya.
Myung Soo hanya membisu namun dengan santai ia menggeser tubuh Woo Hyun yang menghalangi nya.
"jangan meremehkan ku tuan es batu. " ucap Woo Hyun sambil menahan tubuh Myung Soo yang hendak melewatinya.
"menyingkirlah. " ucap Myung Soo pelan. Semua siswa melihat takjub padanya. Bukan hanya pada Kang San bahkan pada Woo Hyun sang pemimpin gang kedua pun ia sama sekali tak merasakan kegentaran.
Woo Hyun tertawa kecil. Ia sedikit takjub melihat keberanian seorang siswa baru seperti Myung Soo padanya.
"oke. Adu panco lah dengan ku. Jika kau kalah, kau harus pindah dari bangku ini. " ucap Woo Hyun.
Sungyeol yang melihat hal itu segera mendekati kedua pria itu. ia mengkhawatirkan kondisi Myung Soo jika terus melawan ketua gang seperti Woo Hyun.
"andwe. Emh. Mungkin memang sebaiknya kau pindah Myung Soo. Biar Woo Hyun semeja dengan ku. " ucap Sungyeol menengahi dengan kepala menunduk takut. Ia takut melihat Woo Hyun yang tersenyum penuh nafsu padanya, namun lebih takut melihat sorot mata dingin Myung Soo.
"kau dengar sendiri kan. . " kata Woo Hyun dengan penuh kemenangan.
"baiklah. Kalau itu yang kau minta. " balas myung Soo pelan. Ia melangkahkan kakinya menuju kursi disebelah Sunggyu. Sunggyu hanya merungut kesal melihat hal itu.
Sungyeol menatap penuh rasa sesal pada myung Soo. Sementara Woo Hyun terus mengoceh disebelah nya, tanpa sedikitpun ia mengerti. Dikepalanya hanya ada wajah dingin Myung Soo yang memandang malas keluar jendela. Sebuah perasaan aneh menyusup masuk secara perlahan. Sebuah rasa kagum yang cukup kuat. Sungyeol memukul kepala nya sendiri. Ia yakin ia sudah mulai gila sekarang.
.
.
"Myung Soo. . "
Myung Soo menghentikan kakinya. Ia melihat Sungyeol berdiri dibelakang nya sambil meremas ujung kemeja nya.
"wae? " tanyanya singkat. Sungyeol memberanikan dirinya mendekati pria dingin itu.
"ano. .masalah tadi. Maaf menyudutkan mu. " ucapnya perlahan. Myung Soo hanya mengangguk kecil kemudian membalikkan langkah nya hendak berlalu.
"tunggu sebentar. . "
Langkah Myung Soo terhenti lagi. Saat itu Sungyeol mendekat padanya, tangannya dengan cepat menyusupkan sebungkus sandwich ketangan Myung Soo.
"aku. .aku melihat kau tak makan siang. .jadi aku membelikan mu ini. Mian kalau kau tak suka. Sekali lagi terimakasih. " ucapnya terburu2. Setelah mengucapkan kalimat itu ia segera mengambil langkah seribu meninggalkan Myung Soo yang membeku dibelakang nya. matanya yang tajam memandangi sandwich itu. tangan kiri nya meraih ponsel didalam saku nya yang bergetar.
"jangan khawatir. .mangsa sudah berada dalam genggaman ku. . "
Ucap nya perlahan sambil mencampakkan sandwich yang ia pegang kedalam tempat sampah.
"tenang saja. .aku akan membuat nya mati dengan menyakitkan. . "
Myung Soo menutup pembicaraan nya. matanya masih bisa melihat bayangan Sungyeol yang berlari dikejauhan.
"Lee Sungyeol. . " desisnya.
.
.
xXx
.
.
"bawa dia. . "
Sungyeol kembali meronta dalam cengkraman dua pria yang membawa nya. didepannya pria yang tak asing lagi yaitu Kang San berjalan lamban menuju ke gudang.
"ah. Aku sungguh penasaran bagaimana cara mu dapat keluar dari sini. Dan juga bajingan kecil yang menolong mu itu. " ucapnya sambil memeriksa gembok yang rusak.
"hei. Kenapa kalian diam? " tanyanya ketika menyadari tak ada sahutan sama sekali dari arah belakang. Kang San memalingkan mukanya dan sontak terkejut. Disana dua orang cecunguk nya tergeletak dilantai dengan masing2 memegang pergelangan tangan.
"wae? apa yang terjadi pada kalian? " tanya Kang San tak mengerti.
Sementara di koridor yang sepi Myung Soo terus menarik tangan Sungyeol menjauh.
"chogi. .chogiyo. . " seru Sungyeol berusaha melepaskan tangan nya. namun Myung Soo tak menggubris dan terus menarik nya.
"lepaskan aku! " seru Sungyeol sedikit menghentak. Myung Soo menghentikan langkah nya. ia melepaskan tangan Sungyeol yang berada dalam genggaman nya. sesaat kemudian ia berbalik dan hendak melangkahkan kakinya pergi.
"tunggu. .tunggu kata ku. . " ucap Sungyeol dengan sisa keberanian nya.
Myung Soo melirik kearah nya.
"ano. .siapa kau sebenarnya? Mengapa kau selalu menolongku? "
Myung Soo mendekat secara perlahan. Tatapan nya yang menusuk membuat Sungyeol perlahan memundurkan badan nya.
"apa. .apa yang. . " lirih Sungyeol ketika tubuh nya menyentuh tembok dan tubuh Myung Soo sedemikian dekat dengan nya. bahkan ia bisa merasakan hembusan tipis nafas Myung Soo diwajah nya.
"aku hanya membalas sandwich mu. . " ucapnya datar.
"m-mwo. .? " tanya Sungyeol tak mengerti. Myung Soo hanya diam dan membalikkan tubuhnya meninggalkan Sungyeol yang masih membeku ditempatnya. Ia merasakan degup jantungnya berdentum tak beraturan. Wajah Myung Soo yang sedemikian dekat nya tadi menciptakan sensasi aneh dalam dirinya.
"arghhhh! Pabbo pabbo! " serunya memukul kepala nya sendiri.
"apakah aku sudah gila? "
.
.
xXx
.
.
Sungyeol berdecak kesal. Ia baru saja menerima telpon dari pak Joo jika mobil yang digunakan untuk menjemputnya mogok ditengah jalan. Sungyeol pun memakluminya dan memutuskan untuk menunggu bus seperti siswa yang lain. hanya saja, ia dengan bodoh nya tak mengetahui dimana letak halte bus. Ia hendak bertanya pada siswa yang lewat hanya saja ia tak punya keberanian untuk itu.
"hei hei hei. .lihat ini. .ada seorang pria manis jalan sendirian. "
Sungyeol menghela nafas nya. siapa lagi yang memiliki suara bernada mesum seperti itu jika bukan Woo Hyun. Tepat dugaan nya, didepannya berhenti sebuah mobil sport berwarna hitam pekat dengan wajah Woo Hyun disana. Kelebihan Woo Hyun selain ketua gang adalah, dia anak seorang pengusaha garmen yang sangat sukses. Hingga mobil seperti itu bukanlah hal yang mahal baginya.
"hai sayang. Mengapa kau disini? Mau kuantar? " tanya nya.
Sungyeol menggeleng dengan cepat. Ia lebih baik berjalan seharian daripada harus semobil dengan pria penuh trik mesum itu.
"terimakasih. .tapi aku bisa pulang sendiri. . "
"aku memaksa. . " ujar Woo Hyun sambil membuka pintu mobil nya.
"masuklah. " ujar nya lagi. Sungyeol bergerak mundur.
"jangan merepotkan diri mu Woo. .aku akan menunggu bus. "
Woo Hyun tertawa kecil.
"disini tidak ada halte bis. Halte bis berada dijalur belakang sekolah. Kau harus memutar lagi untuk kesana. " ucapnya. Sungyeol menepuk kepalanya. Ia merasa sangat bodoh sekarang.
"palli. .aku akan mengantar mu sampai kerumah. Tenang saja. .aku tidak akan melecehkan mu untuk hari ini. .palli. "
Sungyeol menggigit bibirnya kebingungan. Ia ingin mempercayai pria tampan itu namun tetap saja hatinya menolak. Jika harus kembali ke halte bis ia harus memutar dan kemungkinan bus sekolah sudah berangkat sejak tadi.
Disaat kebingungan seperti itu dari arah samping terdengar deru motor yang mendekat. Sebuah Ducati keluaran terbaru menepi dengan mulus didepan Sungyeol dan mobil Woo Hyun.
Pengandaranya yang seorang pria itu membuka helm nya. Myung Soo.
"Myung Soo. .apa yang kau lakukan disini? " tanya Sungyeol. Myung Soo hanya diam namun manarik tangan Sungyeol mendekat pada nya. ia memakaikan helm nya pada Sungyeol dengan cepat.
"apa yang. . "
"hei myeongsimbogham! Apa yang kau lakukan pada pacar ku? " tanya Woo Hyun dengan setengah berteriak. Namun seperti tak menganggap Woo Hyun ada Myung Soo terus saja membenarkan letak helm nya pada Sungyeol.
"naiklah. Aku akan mengantar mu. " ucap Myung Soo. Sungyeol seperti kerbau yang dicambuk tanpa sadar langsung naik keatas motor besar itu.
"heiii! Hyya! Kim Soomyeong! Atau siapapun nama jelek mu! Kembalikan kekasih ku! Hya! "
Teriakan demi teriakan Woo Hyun melepas lesatan motor Myung Soo yang melaju dengan kecepatan diatas rata2.
"aish! Jinja! Arghh! Pria kurang ajar. Dia mencuri buruan ku didepan ku sendiri. Aish! "
Teriak Woo Hyun depresi sambil memukul2 dashboard mobilnya.
"Woo Hyun-ah. . "
Woo Hyun memalingkan wajah nya dan melihat Sunggyu berdiri disana. Entah sejak kapan.
"aku ketinggalan bis. .dan. . "
"naiklah. " ucap Woo Hyun sebelum Sunggyu sempat menyelesaikan kalimat nya. Sunggyu bersorak girang. Ia segera memasuki mobil sport itu dengan riang.
Woo Hyun mulai menggerakkan mobilnya.
"aku tidak memberi mu tumpangan secara gratis. . " ucapnya sambil tetap melihat jalur mobil.
"maksud mu? " tanya Sunggyu hati2.
Woo Hyun menurunkan resleting celana nya.
"lakukan seperti biasa. . "
Sunggyu menelan saliva nya yang terasa berat. ia mulai menundukkan kepalanya kebawah.
"bagus. .kau melakukan nya semakin baik. "
.
.
xXx
"errr. .terimakasih Myung Soo..tapi bagaimana kau bisa tau dimana rumah ku? "
Myung Soo hanya mengangkat bahunya.
"mungkin karena aku tinggal disebelah mu. " ucapnya datar. Sungyeol melihat kearah rumah besar no 252 disebelah nya.
"kau serius? Jadi kau yang sudah membeli rumah tuan Han? Wuahh. .daebak. .aku bahkan tak sadar sama sekali. . " ujar Sungyeol takjub.
Myung Soo hanya bergumam sebagai balasan nya. ia menerima helm dari Sungyeol dan hendak memajukan motor nya. namun ia berbalik sebentar dan menatap Sungyeol. Sungyeol hanya menunduk gugup melihat mata tajam itu.
"jangan memasang music terlalu keras saat larut malam. Itu sangat mengganggu. " ucapnya pelan sebelum kemudian bergerak memasuki pekarangan rumah disebelah.
Sungyeol hanya termangu mendengar nya. ya. Kala stress melanda biasanya ia memasang music dengan volume yang cukup keras. Namun hal itu biasanya hanya terdengar dari kamar yang berada tepat diseberang kamarnya karena kamar itu berhadapan.
Sungyeol berlari kedepan gerbang rumah 252 yang tertutup secara otomatis. Ia masih melihat Myung Soo menuruni motornya.
"baiklah tetangga. . " serunya. Myung Soo hanya melambaikan tangannya dan masuk kedalam rumah. Sungyeol berlalu dengan riang kedalam rumah nya. hari ini adalah untuk pertama kalinya ia bisa tersenyum dengan bebas karena seseorang.
.
.
xXx
"hei tetangga! "
Myung Soo mengalihkan pandangan nya pada suara yang terdengar cukup keras diseberang jendela kamar nya. disana ia melihat Sungyeol sedang berdiri didepan jendela kamar nya. sesuai dugaan Sungyeol bahwa kamar mereka berhadapan dengan jarak yang tak terlalu jauh.
Myung Soo mendekat ke jendela dan menaikkan kepalanya dengan isyarat bertanya.
"apa yang sedang kau lakukan? " seru Sungyeol. Myung Soo menatap datar dan membuka bajunya. Sungyeol menelan ludah nya. baru kali ia melihat tubuh orang lain terbuka begitu meskipun itu sesama jenis nya.
"mengapa kau membuka bajumu? Apa kau mau pamer badan seksi mu padaku? "
Sesaat kemudian Sungyeol menepuk kepalanya. Kalimat barusan sudah jelas sangat bodoh. :D
Tanpa Sungyeol sadari Myung Soo menyunggingkan senyum tipis nya. ia kemudian menunjukkan handuk yang ada ditangan nya. menyatakan bahwa ia hendak mandi.
"arasseo. .aku mengerti. Hei Myung Soo! "
Myung Soo memandang lagi pada Sungyeol.
"gomawo. . " ucap Sungyeol tulus.
Myung Soo menganggukkan kepala nya dan menutup tirai jendela nya.
Sementara Sungyeol masih berusaha menguasai detak jantungnya yang tak beraturan.
"pabbo. .pabbo! ah jinjaa! " teriaknya frustasi.
.
.
xXx
Myung Soo memutuskan pembicaraan di ponsel nya ketika ia mendengar bell rumah nya berdering. Ia yang masih mengenakan handuk dibagian pusar kebawah itu meraba bagian bawah sofa. Disana ia menarik sebuah pistol otomatis dengan cepat.
"siapa? " tanya nya ketika melihat dari kamera pengintai dan tak menemukan siapapun diluar.
"anyeong. .Myung Soo. . "
Myung Soo menghela nafas nya ketika melihat wajah Sungyeol tiba2 muncul didepan kamera nya. ia membuka pintunya dan menemukan pria itu berdiri disana seperti orang bodoh.
"apa mau mu? " tanya Myung Soo tanpa memperdulikan tatapan kagum Sungyeol pada dirinya. Pistol yang ia pegang ia sembunyikan dibalik tubuhnya.
"eh. Ah. Aku hanya ingin mengantarkan ini. " ucap Sungyeol gugup sambil mengangsurkan kotak makanan yang cukup besar.
"apa itu? "
"emh. Isinya hanya Kimchi. Ibu ku terlalu banyak membuat nya, jadi aku memutuskan untuk membaginya dengan mu. Ada beberapa kue juga didalam nya. "
Myung Soo memperhatikan wajah Sungyeol yang merah padam tanpa berani melihat kearah nya. ia melihat kondisinya sendiri dan tersenyum kecil.
"masuklah. .kau bisa meletakkan nya disitu. "
Ujar Myung Soo sambil menunjukkan meja besar yang berada ditengah ruangan.
Sungyeol mengangguk dan melangkah perlahan kedalam. Sementara Myung Soo mengikuti nya dari arah belakang.
"wahh. .rumah ini punya desain interior yang sangat bagus. . " ucap Sungyeol mengagumi tata letak ruang didalamnya. Myung Soo tersenyum dingin. ia mengarahkan pistol yang ia pegang tepat kearah kepala Sungyeol yang membelakanginya.
"ya. .apalagi jika dengan tambahan warna merah disana. " ucap Myung Soo datar.
"wah. .kau benar2 mengerti soal warna. " ucap Sungyeol takjub sambil berbalik. Ia meihat Myung Soo sudah bergerak menuju kelantai dua.
"buat diri mu nyaman. .aku harus memakai pakaian ku. .atau aku akan membuat seseorang berkhayal yang bukan2 malam ini. "
Telinga Sungyeol lantas terasa panas mendengarnya.
"ahh. .ani ani. .aku sebaiknya segera pulang. .semoga kau menyukai makanan nya. maaf mengganggu mu. . "
"tidak. Kau tidak mengganggu. .kau boleh kemari kapan pun kau mau. " balas Myung Soo masih dengan nada datar nya. Sungyeol tersenyum kecil sebelum melangkah menuju keluar dengan setengah berlari.
Myung Soo mengikuti gerakan nya dengan intensif.
"begitu rupanya. .permainan sudah dimulai. " desisnya.
"ini akan menjadi semakin menarik. . "
.
.
xXx
"pak Jae! Pallii. .aku akan terlambat. "
Seru Sungyeol sambil merapikan seragam nya. dibelakang nya berlari2 Gong Soo sambil mengacung2kan roti isi dan segelas susu ditangan nya.
"tuan muda..makan dulu sarapan mu. "
"aku sudah nyaris terlambat eomma! Mian mian. .hyaaa. .pak Jae. Dimana mobilnya. . " seru Sungyeol panik. Pria tua yang dipanggil Pak Jae itu datang dengan tergopoh2.
"maaf tuan. .tadi teman tuan datang dan katanya ia akan pergi dengan tuan kesekolah bersama. Jadi ia meminta ku untuk tak mengantar tuan hari ini. "
"nugu nugu? Aku tak pernah meminta teman ku untuk menjemputku. . " tanyanya bingung.
"mengapa kau lama sekali. "
Sungyeol membeliak kan matanya yang bulat ketika melihat Myung Soo sudah bersiap didepan gerbang rumah nya dengan Ducati nya.
"Myung Soo. . " seru nya. saat itu Gong Soo memasukkan roti isi kedalam mulut Sungyeol.
"uhuk! Hyaaaa eomma. .aku nyaris tersedak dan mati. . "
"jangan berteriak anak muda. Sekarang minum susu mu atau aku akan memukul kepala mu 10 x. "
"wahhh daebak. Aku tak pernah tau ibu ku sekejam ini. "
"aku bisa lebih kejam jika kau tak mengunyah roti isi mu sekarang dasar anak nakal. Pak Jae. Bantu aku membuka mulutnya. "
Dikejauhan tanpa mereka sadari Myung Soo memadangi situasi bahagia itu dengan tatapan kosong. Tangan nya mengepal keras.
"hei. .sampai kapan kau mau diam disini? Kita akan terlambat. "
Tepukan Sungyeol pada pundak nya membuat Myung Soo tersadar dari lamunan nya. ia melihat Sungyeol sudah bersiap dibelakang kemudi nya dan Gong Soo serta Pak Jae melihat mereka disana.
"aku berangkat. . " ucap Sungyeol yang disambut lambaian tangan Gong Soo.
"tolong jangan mengebut tuan Myung Soo. . "
Myung Soo hanya mengangguk tipis dan mulai menjalan kan sepeda motor nya menjauh.
.
.
"chakkaman! " teriak Sungyeol membuat myung Soo melakukan rem mendadak dan nyaris membuat mereka terjungkal. Myung Soo membuka helm nya dan memasang wajah kesal nya.
"apa yang kau. . "
Ucapan nya terhenti ketika jari Sungyeol menutup bibirnya.
"bukankah itu Sunggyu. .? " tanya Sungyeol melihat kearah seberang jalan. Myung Soo mengikuti pandangan nya dan melihat seorang pria sedang ditarik dengan paksa oleh 4 orang pria bertampang seram. Sementara Sunggyu terlihat pasrah ditarik dengan wajah nya yang lebam.
"sepertinya ia dalam bahaya. .kita harus menolong nya. . " ucap Sungyeol. Myung Soo hanya menggelengkan kepalanya perlahan.
"kau tidak dekat dengan nya. untuk apa kau perduli. "
"kedekatan bukanlah ukuran seseorang untuk menolong orang lain. ayo kita bantu dia. "
"lakukan sendiri. . " ucap Myung Soo datar.
Sungyeol melihat tak percaya dengan apa yang baru didengar nya.
"arasseo. Aku pikir kau berbeda. Aku pikir kau adalah superman yang menolong orang yang teraniaya seperti ku. Nyatanya tidak. Mungkin kau menolong ku hanya karena kau kasian melihat ku. Oke. Kau bisa pergi lebih dulu. aku akan menolong nya sendiri. "
Setelah berkata demikian Sungyeol melompat turun dari motor dan bergerak kearah 4 pria itu membawa Sunggyu. Ia masih bisa menggeram kesal ketika melihat Myung Soo benar2 meninggalkan nya.
"dasar es batu. Tak berperasaan. Eottokkhae. .bagaimana cara ku menolong nya? bisa aku juga menjadi korban. " meski gugup dan takut namun Sungyeol membulatkan tekad nya dan melangkah menuju arah Sunggyu dibawa.
.
.
Plakkk!
Sebuah tamparan dengan mantap mendarat pada pipi mulus Sunggyu. Pria kurus dengan mata sipit itu terhuyung kesamping hingga terjatuh ketanah.
"ughh! "
Sebuah injakan pada perut nya membuat nafas nya sesak dan perutnya terasa akan meledak.
"sudah berapa kali kami katakan pada mu bangsat kecil. Saat kami kembali kau harus sudah mampu membayar hutang2 mu! "
"itu hutang ayah ku! Kau harusnya meminta padanya, bukan pada ku! " hentak Sunggyu dengan berani. Pria pertama yang memiliki bekas luka dipipi kanan nya menarik rambut Sunggyu dengan keras.
"cuih! Ayah mu sudah melarikan diri! Dan sebagai anak nya kau harus membayar nya. "
Sunggyu tak membalas dan hanya berusaha melepaskan tangan pria besar itu dari rambutnya.
"habisi segera. " ujar pria dengan topi koboi dari arah belakang. Dari penampilan nya sudah bisa ditebak ia adalah pimpinan dari 3 orang lainnya.
Pria kedua mengangguk. Ia mengeluarkan pisau dari balik jaket hitam nya membuat Sunggyu terbeliak ngeri.
"kumohon, aku akan berusaha lebih keras lagi. Aku akan membayar hutang itu tapi jangan bunuh aku. " isaknya ketakutan.
Pria pertama hanya menyeringai sadis.
"aku tak percaya lagi dengan mulut kecil mu yang busuk. Kami sudah memberimu waktu selama 6 bulan dan kau masih ingkar. Bunuh dia. "
Pria kedua mengangguk. Ia menghunus pisau nya.
"le-lepaskan dia! "
Keempat pria itu menoleh kearah belakang, tak terkecuali Sunggyu yang familiar dengan suara itu. disana ia melihat Sungyeol sedang berdiri dengan gemetar sambil memegang sebatang kayu.
"Sungyeol. . " desisnya tak percaya.
"lepaskan dia. .atau aku. Aku akan menelpon polisi. . " seru Sungyeol masih dengan suaranya yang terdengar gemetar. Keempat pria yang melihat hal itu tertawa terbahak bahak.
"kau. Kesini. " panggil pria bertopi koboi. Sungyeol menggelengkan kepalanya.
"lepaskan dia. .atau aku. . "
"atau apa!? " bentak pria kedua yang memegang pisau. Sungyeol sampai tersurut mundur mendengar bentakan itu.
"atau aku akan mematahkan leher kalian dan membuat kalian tak bisa bergerak lagi. . "
Sebuah suara datar menyahuti dari arah belakang. Sungyeol berbalik dan nyaris bersorak senang melihat Myung Soo berdiri disana dengan sikap dingin nya.
"Myung Soo. . " seru nya. Myung Soo hanya melirik sekilas sebelum bergerak maju kedepan seolah menjadi tameng bagi Sungyeol.
"siapa kau? " tanya pria kedua. Myung Soo menyeringai.
"apa kau perlu tau? "
"kurang ajar! Habisi dia. " perintah pria bertopi koboi.
Bagai angin.
Sungyeol bahkan tak percaya bahwa yang dihadapan nya adalah hal nyata. Ia seolah bermimpi ketika melihat pria kedua ambruk dengan tangan patah saat Myung Soo menggerakkan tubuhnya dengan gerakan cepat dan sulit diduga.
Menit kemudian ia hanya bisa melihat keempat pria terkapar dengan tangan masing2 patah dan kaki mereka yang bernasib sama.
"dia pingsan. . "
"ap-apa? " tanya Sungyeol yang terbangun dari kekaguman nya.
Myung Soo menunjuk pada Sunggyu yang berada dalam bopongan nya.
"dia pingsan. "
"oh eh . ya ya. Kita harus membawa nya kerumah sakit segera. "
.
.
"dimana aku? "
Tanya Sunggyu ketika kesadaran nya kembali pulih. Saat itu seorang wanita berpakaian perawat sedang berdiri mengatur botol infus nya.
"syukurlah anda sudah sadar. Anda berada dirumah sakit saat ini. "
"apa? Tidak. Aku tak bisa berada disini. Aku harus pergi. " ujar Sunggyu memaksa badan nya untuk bangun. Suster itu menahan nya dengan segera.
"kondisi anda belum pulih. Anda harus berbaring untuk beberapa saat lagi tuan. "
"tapi suster. Saya tak punya biaya untuk semua ini. Saya harus pergi. "
Seru Sunggyu sambil terus berusaha melepaskan diri dari suster itu.
"jangan khawatir Gyu. .aku sudah membayar semuanya. . "
Saat itu Sungyeol masuk kedalam dengan mangkuk ditangan nya.
Ia menganggukkan kepalanya pada suster dan wanita itu seolah mengerti dan melangkah pergi.
"aku tak butuh belas kasih mu. " ketus Sunggyu. Sungyeol hanya tersenyum iba melihat nya.
"aku juga tak berniat mengasihani mu. Aku melakukan nya karena sudah seharusnya aku melakukan itu. "
Sunggyu hanya bisa membisu mendengar jawaban diplomatis yang dilontarkan Sungyeol padanya. Ia akui, sejak dulu ia kagum dengan sikap sabar dan ketegaran Sungyeol dalam menghadapi bullian teman2 dikelasnya. Ia ingin sekali menyapa pria tinggi itu sejak dulu. hanya saja emosi nya ketika melihat Woo Hyun lebih mengejar Sungyeol membuat nya membenci secara perlahan pada pria itu.
"aku akan membayarnya nanti. Anggap aku berhutang pada mu. " lirih nya. Sungyeol tersenyum kecil. Ia mengaduk mangkuk yang berisi bubur itu dengan sendok ditangan nya.
"arraseo. .kau boleh membayarnya dengan memakan bubur ini sampai habis. "
Sunggyu membeliak kesal.
"aku akan membayar nya dengan. . "
Kalimatnya terhenti ketika Sungyeol memasukkan sesendok bubur kedalam mulutnya.
"ugh. .apa kau gila? "
"kau sudah pingsan selama 5 jam, dan kau sudah melewatkan jam makan siang mu. Sekarang kau harus menghabiskan bubur ini. . " ujar Sungyeol bersemangat sambil menyendokkan lagi buburnya dan mengangsurkan nya pada Sunggyu. Sunggyu melotot garang dan mengalihkan mulutnya.
"sudah cukup. .kau tak perlu berpura2 baik pada ku. Kau bisa pergi. "
Sungyeol menurunkan sendoknya. Ia melihat kedalam bubur yang ia aduk2.
"aku mengerti mengapa kau membenciku sedemikian rupa. .meskipun terkadang aku ingin membela diriku dari sikap benci mu, namun aku tak bisa. Karena pada akhirnya aku menyadari, aku merupakan salah satu penyebab kebencian mu. Mianhae Gyu. .aku selalu membuat mu tersakiti dengan kehadiran ku. Mian. .karena tak pernah bisa membuat Woo Hyun menjauh dariku. .kau berhak marah karena itu. dan aku akan menerima kemarahan mu dengan tulus. Sampai kau bisa memuaskan amarah mu, akan menerima semuanya. Yang perlu kau tau adalah, aku selalu mengagumi mu, sikap mu yang ceria, kau yang selalu ramah pada siapapun membuat ku ingin sekali berbicara pada mu, tapi bodoh nya, aku malah membuat mu sakit hati. .mianhae Gyu. .jeongmal mianhae. .setelah ini aku akan berusaha lebih keras menjauhi Woo Hyun, aku juga tak akan berbicara pada mu lagi. Tapi sekali ini saja. kau harus menghabiskan buburnya. Oke. Aku tak ingin kondisi mu semakin memburuk. Aku. . "
"tak bisakah kau berhenti berbicara. .? "
Sungyeol menghentikan kalimat nya dan memandang pada Sunggyu yang sudah menghadap pada nya.
"mian. . "
"pabbo. . "
Mata Sungyeol membulat tak percaya ketika Sunggyu dengan cepat memeluk nya dengan erat.
"Gyu. . "
"jangan berbicara. .aku tak tahan mendengar kecerewetan mu. . " ujar Sunggyu. Air mata perlahan tanpa ia sadari meleleh dengan lamban.
Sungyeol tersenyum kecil. Hatinya terasa hangat. Ia membalas pelukan Sunggyu dengan menepuk bahunya.
.
.
"mengapa orang2 itu memperlakukan mu seperti ini? "
Tanya Sungyeol sambil mengangsurkan sendok nya. Sunggyu membuka mulutnya dan menerima sodoran itu. matanya yang lebam menampakkan raut wajah sendu. Ia kembali teringat kejadian tadi pagi dan hal itu kembali membuatnya merasa tertekan.
"mian. .kau tak perlu mengatakan nya jika kau tak mau. . "
"ayah ku berhutang sangat banyak pada seorang rentenir. Ia melarikan diri 8 bulan lalu. Aku dan ibu ku harus bekerja mati2an untuk membayar bunga dan hutang pokok yang sangat banyak hingga ibu ku. . " suara Sunggyu tercekat ditenggorokan. Ia tak sanggup meneruskan kalimat nya.
"ibu ku terserang penyakit liver karena bekerja terlalu keras dan ia harus terbaring dirumah sakit sejak sebulan lalu. .dokter mengatakan bahwa ia harus melakukan operasi, namun kami tak memiliki uang sedikitpun. " ucap Sunggyu lirih. Air matanya menetes perlahan mengingat setiap detail derita yang ia dan ibunya harus hadapi.
Sungyeol menggigit bibirnya. ia tak pernah tau masalah yang dialami oleh Sunggyu seberat itu. Sungyeol menepuk pundak Sunggyu dan mengusapnya perlahan.
"mianhae Sungyeol. .tak seharusnya aku melakukan hal itu pada mu. Aku sangat menyesal, harusnya kau tak menolong ku sekarang. . "
Sungyeol menggelengkan kepalanya. Ia mengusap air mata yang ikut megalir di sudut matanya.
"jangan berkata begitu. .aku bahkan sudah melupakan nya. .kajja, kau harus menghabiskan bubur nya. .kita akan menemui ibu mu dan membawanya ke RS segera. . "
"maksud mu? " tanya Sunggyu tak mengerti.
Sungyeol tersenyum sudah tersusun sebuah rencana yang hendak ia lakukan.
"kajja. .kita juga harus menemui seseorang. .seseorang yang sangat mengerikan. "
Sunggyu hanya bisa menatap dengan pandangan tak mengerti pada Sungyeol yang masih dengan ceria kembali menyendokkan bubur kemulutnya.
.
.
xXx
tepat ketika Sungyeol dan Sunggyu melangkah keluar ruangan seorang pria paruh baya menabrak Sunggyu hingga nyaris terjatuh.
"ah. Maafkan saya. Saya tak sengaja. " ucap pria itu terburu2. Sungyeol mengangguk sementara Sunggyu termangu melihat pria itu.
"Paman Shin. . " seru Sunggyu. Ia mengenali pria yang merupakan tetangga nya itu.
"ahh. .Sunggyu. .kebetulan bertemu disini. Aigo. Apa yang terjadi pada mu? " tanyanya ketika mengenali Sunggyu. Sungyeol yang berdiri disamping Sunggyu segera membungkukkan badannya.
"aku tak apa2. Apa yang paman lakukan disini? "
"astaga, aku nyaris terlupa. Tadi siang ibu mu collapse, beruntung nyonya Park berkunjung dan melihat nya, segera ia menelpon ambulance dan membawa nya kesini. Dia ada diruangan 201"
"apa. .apa yang terjadi pada ibu ku paman? "
"dokter mengatakan bahwa penyakitnya semakin parah. Ia harus segera melakukan operasi. "
Sunggyu nyaris terjatuh karena kakinya yang lemas mendengar hal itu. Sungyeol menahan nya dengan sigap.
"eomma. . " lirih nya pilu. Sungyeol mengangkat nya berdiri.
"kita harus segera melihat ibu mu Gyu. . "
Sunggyu mengangguk. Ia dengan tergesa2 mengikuti langkah pak Shin menuju ruang 201.
.
.
"ibu anda harus segera melakukan operasi. Tidak ada jalan lain, kondisinya semakin memburuk dan kami takut ia tak mempunyai banyak waktu. "
Sunggyu nyaris pingsan mendengar diagnosa dokter barusan. Ia mendekati ranjang dan melihat ibunya sedang berbaring dengan lemah disana. Wajahnya pucat pasi dan tanpa cahaya sedikitpun.
"eomma. . " desis Sunggyu. Nyonya Kim membuka matanya. Bibirnya tersenyum tulus ketika melihat anak nya berdiri disebelahnya.
"Gyu. . " ucapnya lemah. Sunggyu tak bisa menahan air matanya. Ia memeluk ibunya yang lemah dengan erat.
"eomma. .mianhae. .mian tak bisa membantu mu melewati semua ini. .maaf sudah menjadi anak yang tak berguna untuk mu. "
Nyonya Kim mengusap surai anaknya dengan penuh kasih.
"jangan berkata seperti itu. .eomma sangat bahagia bisa memiliki mu. Seharusnya eomma yang meminta maaf sudah membuat mu menderita dengan kondisi eomma. Harusnya saat ini kau bisa menikmati masa remaja mu seperti yang lain, namun eomma malah membuat mu menjadi seperti ini. Mianhae. .Gyu. . "
"andwe. eomma jangan berkata seperti itu. .aku tak pernah merasa menyesal selama ini. Aku janji, eomma akan sembuh. Aku akan lakukan apapun asal eomma bisa sembuh. Jadi eomma tenang saja. aku akan bekerja lebih giat lagi, aku akan mengumpulkan uang yang banyak untuk biaya operasi eomma agar eomma bisa sembuh. Aku janji. "
Sungyeol yang sejak tadi berdiri didepan pintu hanya bisa mengusap air matanya. Hatinya ikut teriris melihat pemandangan itu. dengan perlahan ia mendekat kearah anak dan ibu itu. ia membungkuk sesaat ketika ibu Sunggyu melihat kearah nya.
"nugu. .? " tanya Nyonya Kim lemah.
"saya Sungyeol. saya teman sekolah Sunggyu. "
Nyonya Kim tersenyum lega. Ia mengusap rambut Sunggyu yang masih menangis disampingnya.
"kau teman pertama yang ia bawa pada ku. .ia selalu mengatakan ia memiliki banyak teman tapi tak memiliki waktu dengan mereka. .anak bodoh ini terlalu sibuk merawat ku. .setelah bibi meninggal nanti. .tolong jaga ia Sungyeol. . "
"eomma.. " seru Sunggyu. Kata2 barusan adalah hal yang paling ia takuti.
"bibi tak perlu berkata begitu. Bibi akan sembuh. Kita akan melakukan operasi dengan segera. Saya akan menanggung semua biayanya."
Nyonya Kim dan Sunggyu serentak memandang pada nya. seolah tak percaya.
"Sungyeol. . " desis Sunggyu tak percaya.
"jangan menolak. Atau aku akan marah pada mu. "
Sunggyu bergerak cepat menuju pria tinggi itu. memeluknya dengan erat. Air mata berhamburan di bahu Sungyeol.
"gomawo. .jeongmal gomawo. . " lirih Sunggyu berkali kali.
Sungyeol hanya tersenyum senang. Ia membalas pelukan Sunggyu dengan eratnya.
"jangan menangis terlalu keras. .kau sudah membuat seragam ku basah karena ingus mu. "
Ucap Sungyeol dengan nada bergurau. Sunggyu tak perduli, ia hanya ingin memeluk Sungyeol sekarang.
.
.
xXx
.
.
Pintu terbuka dan wajah Sungyeol serta Sunggyu terlihat disana.
"apa yang kau inginkan? " tanya Myung Soo pada dua pria itu. Sunggyu hanya menunduk diam sementara Sungyeol berdecak kesal.
"apakah kau memang sedingin itu pada tamu yang berkunjung kerumah mu? "
"tidak juga. kadang aku menyuruh mereka masuk dan membuat mereka menyesali kehadiran mereka. "
Sungyeol dan Sunggyu serentak menelan ludah mereka yang terasa pahit.
"arasseo. . kami kesini hanya untuk mengucapkan terimakasih pada mu. "
Sunggyu mengangkat kepalanya. Dan menatap wajah datar itu.
"ne. .terimakasih untuk tadi pagi. . "
Myung Soo mengangguk tanpa sepatah kata pun.
"itu saja? "
Sungyeol benar2 ingin memukul pria itu sekarang.
"ya. Hanya itu. ayo Gyu, jangan kita ganggu dia. Atau kita akan membeku seperti dia. " ujar Sungyeol kesal sambil menarik Sunggyu menuju rumah nya.
Setelah kedua pria itu menjauh Myung Soo menutup pintu rumahnya dengan hati2. Ia mengalihkan pandangannya pada seorang pria yang sedang terikat diruang tengah.
"maaf. .tapi kita memiliki sedikit gangguan. Mari kita lanjutkan. . "
Ucap Myung Soo perlahan pada pria yang terikat. Pria berusia sekitar 30 tahun itu mengerang parau. Mulutnya yang terikat kain membuat teriakan nya sulit untuk keluar.
Myung Soo menyeringai kecil.
"sepertinya kau sudah bosan bermain. Baiklah, mari kita akhiri semua ini. "
Pria terikat itu membeliak takut. Saat itu dengan cepat Myung Soo menarik pistol yang terselip dibalik pinggang nya.
Phsiuuu!
Suara setipis angin yang berasal dari peluru yang ditembakkan dengan menggunakan peredam suara itu melesat tepat dikepala pria yang terikat.
Brukk!
Pria itu terjatuh kebelakang. Tubuhnya tak bergerak sama sekali.
Myung Soo menghembus pistolnya dengan tenang. Matanya menatap pada pintu bagian atas.
"game over. . "
.
.
TBC-
