XD makasih buat Ran Megumi yang ngereview-nya ngegas (?) banget. Haha, padahal ke inti ceritanya aja belum nyampe. Selamat membaca ya :)
"Ayah harus dinas selama setengah tahun kali ini."
Bohong.
"Bagaimana dengan Ibu?" tanya Sasuke dengan nada menusuk, seolah semua ini adalah salah Fugaku.
Mungkin Sasuke tidak salah.
"Ibu kalian akan baik-baik saja. Kita punya dokter terbaik di kota sebagai dokter keluarga."
Bohong.
"Ayah, Ibu memerlukan suaminya di sisinya." ujar Itachi tenang. Ia sama sekali tidak membiarkan perasaannya terlihat oleh siapapun. Tidak pernah.
"Andai aku bisa, aku akan mendampinginya." mata Fugaku tidak pernah menatap bulat-bulat ketiga anaknya dan justru menyibukkan diri mengepak berkas-berkas perusahaan. "Sayang sekali."
Aku tidak menangis.
Bahkan tidak bersuara.
Air mataku sudah habis tiga tahun lalu, saat di mana aku merasa bahwa keluarga yang berkumpul di saat anggotanya berulang tahun sangatlah berarti. Keadaan yang tidak memungkinkan mendorongku berpikir realistis dan berhenti berharap. Ayah tidak bisa diharapkan. Bukan, aku yang salah sudah berharap pada Ayah. Nasibku akan lebih beruntung apabila aku berharap pada Itachi dan Sasuke. Mereka tidak akan mengecewakanku.
Tidak seperti Ayah.
"Yang benar saja!" seru Sasuke kehilangan kesabaran. "Di saat seperti ini, kau harusnya ada untuk membantunya melewati masa sulit!"
"Aku sibuk, Sasuke."
Aku tidak tercengang.
Aku pikir, buat apa?
Apa gunanya?
Orang ini lebih mencintai pekerjaannya dibanding keluarganya sendiri. Bahkan ketika istrinya terjangkit penyakit otak yang tidak pernah tahu diidapnya dan mempengaruhi kemampuan kognitif hingga mempersulitnya berkomunikasi, work comes first.
"Tenten-chan," bisik Itachi di balik lantangnya teriakan Sasuke kepada Ayah. "Masuklah ke kamarmu."
Kenapa? Aku pikir pada awalnya. Kenapa Itachi menyuruhku pergi ke kamarku? Aku tidak bingung menyaksikan luapan emosi Sasuke yang meledak-ledak. Tidak sama sekali. Karena apa yang diucapkan Sasuke adalah hal-hal yang sama seperti yang ada di benakku. Kenapa Ayah begitu ketagihan akan pekerjaannya? Mengapa kami harus melihat Ibu menderita sendirian?
Kenapa Ayah menghindar?
"Tenten-chan." panggilnya lagi. Di latar belakang, teriakan Sasuke dan Ayah mulai saling menyahut. Tatapan Itachi datar, tapi sekelumit emosi itu tidak kulewatkan.
Aku tersenyum.
Sungguh-sungguh tersenyum. Senyuman yang terlatih. Begitu terlatih hingga aku sendiri tidak tahu bedanya dengan senyuman asli. Sasuke dan Ayah menghentikan adu mulut mereka untuk beberapa saat, senyumanku mengejutkan mereka.
Karena setelah semua hal yang terjadi, aku masih bersikap seperti anak baik. Itachi memohon padakuć¼aku tidak boleh mengecewakannya.
"Baik, Itachi-nii."
Karena setelah semua ini selesai, Ayah tetap akan berangkat ke belahan dunia manapun yang menjadi tujuannya apapun yang terjadi, dan dua orang yang paling kucintai saat ini akan menyusulku dan mencoba menghiburku. Tanpa tahu menahu, bahwa keberadaan mereka di sisiku saja sudahlah cukup.
Tapi tahukah mereka?
