Naruto©Hanya milik Kishimoto sensei tercintah! :*
"NEVER ENDING STORY"
Sebuah fanfict sederhana untuk pair tercinta yang pada akhirnya canon juga~
06-11-2014
Lovember SasuSaku 3 :') Salah satu hari bersejarah dalam hidupku, dan hidup kita.
Love you all S-Saver :D /peluk/
Dan saya ikut berbahagia atas seluruh pair yang dicanonkan oleh Masashi Kishimoto
.
Romance
HeadCanon, OOC, Miss Typo(s), EYD perlu perbaikan, and other abal-ness yang memerlukan kritik dan saran dari semua readers~
.
.
.
"Simpanlah luka dalam senyum ketegaran. Meski telah tiada, aku tak bisa menghentikan perasaan ini padanya... Bunga matahari pagi ini, untukmu seorang."
Tenten**
PAGI
Mentari pagi bersinar dari langit timur desa Konoha. Menyeruak masuk melalui horden jendela yang Sakura buka. Gadis musim semi itu tersenyum lembar, menyambut cahaya pagi yang terjatuh lembut di atas kulitnya.
Usai merapikan kamarnya, Sakura turun ke lantai dua. Menikmati sarapan bersama orang tuanya. Setahun belakangan, Kizashi dan Mebuki tidak pernah lagi kehilangan senyum puterinya ketika mereka sarapan. Sakura terlihat jauh lebih hidup dibanding tiga tahun yang lalu saat ia ditinggalkan oleh si bungsu Uchiha.
Baik Kizashi maupun Mebuki sendiri sudah tahu betul lika-liku kisah cinta puterinya. Tapi mereka diam saja. Menyemangatinya ketika berusaha mencapai sang pemuda, dan menghiburnya ketika terpuruk karenanya.
Terkadang sepasang orang tua itu tak sabar sendiri. Memikirkan kapan kiranya bungsu Uchiha itu akan melamar puterinya. Dan berhenti menggantung cinta anaknya yang telah terombang-ambing selama 3 tahun belakangan. Dan kini, Uchiha itu juga hilang entah kemana. Meninggalkan puteri mereka lagi untuk yang kedua kalinya.
Tapi bedanya, Sakura yang kali ini ditinggalkan lagi oleh sang pemuda terlihat baik-baik saja. Bahkan tetap ceria seakan tak terjadi apa-apa. Sehingga mereka bingung saat menyimpulkan bagaimana perasaan Sakura yang sebenarnya sekarang.
Apa ia kecewa?
Sedih?
Marah?
Atau menyesal telah mencintai si Uchiha?
Baik Kizashi ataupun Mebuki tidak pernah pernah tahu jawabannya.
"Jadi kapan Uchiha itu akan datang, Sakura?"
Pertanyaan tiba-tiba meluncur dari bibir sang kepala keluarga. Kizashi menghentikan gerakan sumpitnya hanya untuk mengamati puterinya yang kini juga menghentikan kegiatan makannya. Sementara Mebuki tak berkata apa-apa. Hanya diam dan mendengarkan.
Sakura menatap kedua mata Ayahnya dalam-dalam. Sebelum kemudian menarik nafas panjang dan tersenyum meyakinkan.
"Aku yakin Sasuke-kun akan kembali. Tou-san... Kaa-san... Tidak perlu khawatir lagi. Dia pasti kembali." Sahut Sakura tanpa keraguan.
Ia meletakkan sumpitnya, tanpa menandaskan nasi sarapan, ia pergi. Entah mengapa, nafsu makannya lenyap seketika. Dan saat ini juga ia ingin jalan-jalan keliling desa.
Sahutannya menutup obrolan-amat singkat mereka pagi itu.
...
Semilir angin berhembus pelan, meniup anak rambut merah muda Sakura yang segera ditarik ke belakang telinga oleh empunya. Derak dedaunan kering yang bergulung, menemani langkah sepi Sakura di jalan itu. Jalan yang Sakura lalui bukan jalan yang ramai. Sepanjang ini, ia hanya sendiri. Melewati jalan itu bersama sepi. Hanya sesekali terdengar gesekan halus dari ranting kering pepohonan.
Jalan setapak dengan tanah merah. Jalan ini adalah jalan menuju pemakaman khusus ninja di desa. Tempat Hokage di makamkan beserta jasad-jasad ninja yang gugur dalam misi atau peperangan. Terlebih perang shinobi keempat yang baru saja mereka lewati. Ada banyak ninja yang gugur dalam perang besar tersebut, dan semua air mata tertumpah di hari pemakaman massal.
-hari terakhir ia bertemu dengan Uchiha Sasuke.
Pemuda itu pergi setelah penguburan jasad Itachi, kakaknya sendiri.
Di tengah jalan, Sakura berhenti. Melirik pada seorang kunnoichi berambut coklat yang tampak berdiri di depan sebuah nisan. Tak ada satupun kunnoichi yang mempunyai rambut coklat bercepol dua selain Tenten. Gadis itu tampak berdiri memegang setangkai bunga matahari.
Dari kejauhan, Sakura mampu melihat kurva senyum sendu yang menghias wajah cantiknya. Sakura tahu makam siapa gerangan yang rajin Tenten kunjungi setiap minggu. Tak ada makam lain yang dihadiahi bunga matahari selain makam milik Hyuuga Neji.
Pemuda dari klan Hyuuga yang tangguh itu gugur dalam perang shinobi keempat. Meninggalkan banyak luka mendalam pada keluarga dan sahabatnya. Terlebih untuk Tenten yang menyimpan hati pada sang Hyuuga sejak mereka bertemu di akademi.
Mungkin perasaan Tenten tak sefenomenal kisah Sakura dan Sasuke. Tapi Sakura tahu bagaimana sakitnya ditinggalkan oleh pemuda yang dengan sepenuh hati kita cintai. Sakura sudah pernah mengalaminya, saat ia ditinggalkan oleh Sasuke dulu keluar desa. Tapi Sakura jauh lebih beruntung. Karena Sasuke pergi untuk kembali. Ia tak bisa bayangkan bagaimana jika posisinya dengan Tenten ditukar.
Sebagaimana Tenten yang pasti sangat tersakiti karena kehilangan orang yang dicintai, dan orang itu tak akan pernah kembali, selamanya.
Sakura juga tak bisa bayangkan ia akan kehilangan Sasuke selamanya. Karena itu, Tenten adalah kunnoichi paling tegar yang pernah Sakura kenal. Dibanding dengan yang Sakura alami, apa yang tengah Tenten rasakan pasti sangat berat. Dan gadis itu mampu melewatinya dengan sedikit air mata. Tenten mungkin menangis di hari pemakamannya. Tapi di hari-hari selanjutnya, ia sudah kembali tersenyum. Menyimpan kegetiran dalam senyum ketegaran.
Sakura yakin, Hyuuga Neji di atas sana pasti tersenyum melihat Tenten yang tegar menerima kepergiannya.
Kini, Neji dapat pergi dan tidur dengan tenang. Sementara Tenten melepas dengan ketegaran, sembari menyimpan cintanya yang akan terus terkenang.
-Ah, betapa Sakura seharusnya mensyukuri takdirnya. Ia tidak kehilangan Sasuke untuk selamanya, karena pemuda itu pergi hanya untuk sementara.
Dengan meyakini bahwa ia akan kembali, Sakura dengan sabar akan terus menanti.
Ini sudah bukan penantiannya yang pertama, bukan? Jadi Sakura sudah terbiasa menunggu. Karena pada akhirnya apa yang ia tunggu akan kembali.
Dan untuk Tenten, mungkin cintanya pada Hyuuga Neji tak akan pernah pupus. Tapi Sakura harap gadis itu akan menemukan sosok lain yang mampu menggantikan Neji di sampingnya.
Mereka mungkin memang tak ditakdirkan untuk bersama di dunia ini.
Semilir angin meniup agak kencang, meloloskan beberapa anak rambut Sakura dari kaitan belakang telinga. Hingga menutup sebagian penglihatannya.
-samar-samar, barusan ia melihat setitik air mata jatuh dari netra Tenten yang tertutup. Tenten memegang erat-erat bunga matahari dalam genggamannya. Sebelum meletakkannya diatas nisan bertuliskan Hyuuga Neji.
Pemuda yang telah menyimpan hatinya. Ia tak akan pernah melupakannya. Dan gadis itu berbisik halus, dengan maksud hanya ia dan jasad yang tertidur di bawah sana yang dapat mendengar bisikannya.
"Bunga matahari pagi ini untukmu... aku mencintaimu."
Setangkai bunga matahari segar tergeletak diatas gundukan tanah bernisan Neji. Dan sekali lagi, angin berhembus; agak kencang dan terasa hangat menggelitik pipi Tenten. Seakan menyahut bisikan halus gadis itu.
Neji pasti mendengarnya dari atas sana.
_TSUDZUKU_
A/N: Chapter ini full of Sakura ya LOL XD wakakaka entahlah, chapter dua ini kubuat untuk menyingkap sedikit kira-kira gimana perasaan Sakura waktu nunggu Sasuke pergi untuk kedua kalinya. Jadi kembalinya si 'Most Wanted Uchiha Sasuke' harus ditunda dulu hingga chapter depan hhehe :p dan maaf lama, tugas sekolah numpuk. Ulangan tiap hari, belum lagi peer yang ampir bikin aku mati berdiri /hemeh/keluar lagi lebaynya/abaikan/.
Dan sedikit ada bumbu Neji-Ten setelah perang disini yaw soalnya aku suka banget ama mereka tapi sayang nggak Canon ternyata. :')
Yap, chapter ini ditunggu reviewnya~ dan chapter depan akan masuk pada tahap kedatangan Sasu :D
Review Please?
