"Ayo cepat, Tony! Miss Isolde sudah menunggu kita daritadi!" pekiknya.
Aku hanya bisa menghela nafas berat dan berlari ke arah gadis itu. Huh, menyebalkan. Tidak di rumah, tidak di sekolah, selalu saja ada seorang perempuan yang meneriakiku.
.
.
Disclaimer: NIS, GUST
A/N: berusaha mengikuti alur asli MK1, kata asing ada yang tidak di italic karena akan sering dipakai, Tony x Renee.
.
Into My Heart
Chapter 2: Flay Gunnar
by Fei Mei
.
.
Tak terasa sekarang aku akan masuk kelas dua. Yep, setahun telah berhasil kulalui dengan cepat dan baik di Sekolah Alkemi Al-Revis ini.
Di workshop-ku, Max –kakak Renee- dan temannya sudah lulus, berarti penghuni workshop itu hanya tinggal aku dan Renee saja. Berarti (lagi) kami harus segera mencari minimal 2 orang agar workshop kami bisa resmi lagi.
Harusnya sih, begitu. Tetapi beberapa hari lalu, Miss Isolde, wali kelasku, menjadikan aku dan Renee murid kesayangannya. Jadilah workshop kami tetap resmi walau isinya hanya kami berdua. Di surat keterangan workshop tertulis bahwa Miss Isolde yang akan bertanggung jawab, jadi ya, begitulah.
Kemarin beliau meminta kami menemuinya di ruangannya pagi ini. Tetapi aku kesiangan lagi. Renee sampai harus ke gedung asrama laki-laki dan mengetuk ppintu keras-keras demi membangunkanku. Astaga, serasa di rumah saja, serasa ada ibuku yang membangunkanku dengan cara yang menyebalkan.
Renee berlari sepanjang koridor, aku hanya melangkah cepat dengan kakiku yang panjang itu. Sepanjang koridor yang kami lalui terasa sepi sekali. Wajar sih. Hari ini adalah hari seremoni pertama bagi murid kelas satu yang baru. Kelas dua dan kelas tiga masih libur, jadi mungkin mereka masih di asrama masing-masing. Guru-guru pun kebanyakan ada di aula bersama kepala sekolah. Ada beberapa guru yang paling malas menghadiri seremoni, salah satunya adalah Miss Isolde. Dan kini aku dengan Renee sudah berhasil sampai di depan pintu ruangan wali kelas kami itu.
"Kalian terlambat," kata Miss Isolde dingin seperti biasa, melihat rak bukunya dan memunggungi kami berdua.
"Maaf, Miss Isolde, Tony kesiangan," ujar Renee meminta maaf.
"Aku ingin Kalian melakukan sesuatu untukku," kata Isolde langsung ke pokok pembicaraan.
"Apa itu? Kami akan membantu sebisa kami," kata Renee tersenyum.
Dasar Renee bodoh. Miss Isolde tidak mengatakan kata 'tolong' sama sekali, ia tidak minta dibantu, tetapi ia sedang menyuruh kita!
"Di antara sekian murid kelas satu yang ikut seremoni hari ini, ada seorang anak laki-laki berambut perak bernama Vayne Aurelius," kata Miss Isolde, masih tetap membelakangi kami. "Buat dia menjadi anggota workshop kalian."
Apa? 'Buat'? Oh tidak, berarti bukan mengajak atau menawari, melainkan memaksa anak itu?
"Aurelius? Sepertinya aku pernah dengar..." gumam Renee.
"Itu saja yang ingin kukatakan. Kalian boleh keluar," kata Miss Isolde.
Kami menurut. Aku dan Renee keluar dari ruangan wanita berambut hitam panjang itu, lalu pergi ke gedung kelas.
Seluruh murid kelas satu sudah berhamburan keluar kelas saat aku dan Renee tiba di koridor kelas satu. Yah, masih ada beberapa murid kelas satu yang masih di kelas sih, sebenarnya, tapi jumlahnya minim. Aku mencari-cari anak laki-laki berambut perak yang dimaksud Miss Isolde. Hasilnya nihil, kami tidak menemukannya. Jadi kuputuskan untuk mencarinya di koridor yang lain.
Benar juga, sesampainya aku di daerah koridor workshop, aku menemukan seorang anak laki-laki berambut perak dengan seorang gadis berambut merah muda panjang di sebelah kanannya dan seekor kucing hitam di sebelah kirinya. Langsung saja aku berlari menghampiri orang yang kuduga pasti bernama Vayne Aurelius.
"Hei, kau!" sahutku sambil berlari, dengan Renee di belakangku. "Namamu Vayne Aurelius, kan?"
"Uh, ya, itu namaku," jawab anak laki-laki itu gugup.
"Bagus, kalau begitu sekarang kau akan bergabung dengan worskhop-ku!" kataku.
"Tidak semudah itu!" seru sebuah suara.
Suara itu adalah suara orang yang paling membuat aku kesal. Sungguh, aku tidak mengerti kenapa bisa ada tipikal orang seperti dia. Menyebalkan, sok tahu, sok hebat –walau memang tubuhnya jauh lebih berbentuk daripada aku-, sok pahlawan, dan lain sebagainya.
"Aku sudah mem-booking mereka berdua!" seru orang itu sesampainya ia dihadapanku.
"Tidak! Aku yang sampai disini duluan!" seruku.
Pemuda itu seumuran denganku. Ia memiliki rambut merah, pakaian seragam sekolah yang sepertinya sengaja ia buat compang-camping, tubuhnya yang kekar, dan membawa pedang super besar di punggungnya.
Namanya Flay Gunnar.
Karena sama-sama tidak mau mengalah, lagi-lagi aku dan dia berkelahi. Dan ya, aku kalah, seperti biasa.
Dengan kesal aku kembali ke workshop dengan Renee. Aku mengumpat Flay dalam hati dan memikirkan bagaimana cara melaporkan pada Miss Isolde bahwa aku gagal membuat Vayne Aurelius menjadi anggota workshop kami.
Aku duduk di kursi dan mengambil obat, berusaha mengobati sikuku yang terluka setelah berkelahi dengan Flay.
"Huh, kenapa kau tidak pernah membantuku, sih?!" omelku pada Renee.
"Karena kau selalu menantang dia berkelahi di saat yang salah," katanya, membuatku menaikkan sebelah alisku. "Saat yang salah, soalnya aku baru saja selesai merawat kuku-kuku milikku ini."
Renee memamerkan kesepuluh kuku jari tangannya padaku. Ya, ia memang selalu seperti itu. Dasar perempuan...
"Biar aku saja," kata Renee mengambil botol obat dari tanganku, ketika ia melihat aku kesulitan mengobati sikuku sendiri.
Ini juga selalu terjadi. Setiap kaliselesai berkelahi dengan Flay, aku pasti dapat luka dan memar. Dan Renee adalah orang yang selalu merawat luka-lukaku. Aku tidak pernah menyuruhnya, tapi dia inisiatif sendiri untuk merawatku.
Omong-omong tentang Flay, perkelahianku dengannya sudah berlangsung sejak tahun pertama kami. Awalnya kami hanya berselisih pendapat biasa saja. Tapi lama-kelamaan entah kenapa kami jadi selalu berselisih, tidak pernah setuju satu sama lain. Ujung-ujungnya kami malah berkelahi –dan aku selalu kalah. Begitulah, mungkin sejak awal kami memag tidak ditakdirkan untuk menjadi akrab.
"Kau tahu kalau kau tidak sekuat dia, kenapa masih juga menantangnya, sih?" tanya Renee, kali ini ia sedang mengobati keningku.
"Habisnya ... aku terpaksa," jawabku, berusaha mencari kosakata yang lain. "Kita kan, harus menjadikan si Aurelius itu menjadi anggtoa workshop kita –itu perintah Miss Isolde. Kau masih ingat kan, apa yang terjadi saat terakhir kali kita gagal menjalankan perintah dia?"
Renee mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaanku. Ya, aku dan Renee di mata orang lain memang mungkin adalah murid favorit Miss Isolde. Tapi mereka tidak tahu, bahwa beliau hobi sekali menyuruh kami ini-itu. Tidak menjadikan kami pembantu sih, tetapi tetap saja ia beberapa kali memberikan kami perintah. Misalnya saja meringkas buku pelajaran kelas satu, mensortir buku di rak kamarnya, dan sebagainya. Tetapi semua perintah itu sebenarnya cukup menguntungkan kami sih. Misalkan kami disuruh meringkas karena ia ingin membuat soal teori akhir semester, aku dan Renee secara tidak langsung jadi tahu bagian mana saja yang mungkin akan keluar di ujian semester –karena kamilah yang meringkasnya.
Tetapi di perintah Miss Isolde yang terakhir, tidak berjalan dengan mulus. Perintah waktu itu adalah mencari buku-buku yang ada di Geung Sekolah Lama. Iya, semua orang tahu kalau masih ada beberapa buku di reruntuhan gedung itu, walau nyaris tak berbentuk lagi. Miss Isolde yang senang membaca menyuruh kami mengumpulkan buku-buku disana.
Sebenarnya itu tugas mudah sih. Sekalipun ada banyak monster, tapi monster-monster disana adalah tipikal monster yang sudah biasa aku dan Renee kalahkan. Jadi, apa yang membuat kami gagal? Jawabannya adalah Flay. Baru saja aku dan Renee melewati pagar Gedung Sekolah Lama, saat hendak masuk ke dalamnya, Flay menghadang kami. Ia bilang bahwa kakak-kakak kelasnya sedang mencari buku-buku bekas disana. Aduh, bisa pas begitu. Kelanjutannya bisa ditebak: aku dan Flay berkelahi dan aku kalah, kemudian para kakak kelas Flay keluar sambil membawa buku-buku bekas dari dalam, aku dan Renee kembali ke akademi dengan tangan kosong plus luka di sekujur tubuhku. Kami melaporkan semuanya pada Miss Isolde, dan ia ... erm ... langung memotong nilai ulangan terakhir kami. Dan setelah saat itu, aku jadi makin kesal pada Flay.
"Lain kali aku pasti menang!" kataku memberi semangat pada diri sendiri.
"Hhh ... kau selalu mengatakan itu setiap kali usai berkelahi dengan Flay," kata Renee. "Dan selanjutnya kau masih kalah juga."
"Diamlah!" kataku setengah membentak. Kupikir ia pasti tahu kalau aku tidak berniat membentaknya, tetapi karena wajahku yang seram dan suaraku yang serak ini, ucapan yang keluar dari mulutku selalu terkesan membentak. Renee sudah terbiasa, jelas saja, sejak aku bergabung dengan workshop yang sama dengannya, kami selalu bersama kemana-mana –entah kenapa bisa begitu.
.
.
"Kau tidak berniat mencari anggota workshop lain?" tanyaku suatu siang, setelah kelas kami usai.
"Tidak," jawab Renee singkat, masih asyik mengecat kuku tangannya.
"Yah, siapa tahu kau butuh anak gadis lain yang sama-sama senang merawat kuku untuk mengobrol," ujarku.
"Mmm, tidak," kata Renee lagi.
"Memangnya kau tidak bosan kalau kemana-mana hanya denganku?" tanyaku.
Oke, pertanyaanku ini sebenarnya ... agak mengarah pada maksud lain. Satu sisi, kupikir ia harusnya bosan kalau selama setahun ia selalu jalan denganku saja, tidak ada teman perempuan sama sekali. Padahal kalau ia membuka diri terhadap siswi-siswi lain, kupikir ia akan cepat berbaur. Sisi lain, aku khawatir kalau ternata ada yang ia sukai atau ada siswa yang suka Renee. Jangan salah paham, kekhawatiranku ini maksudnya adalah, takutnya orang yang menyukai Renee mengira perempuan itu berpacaran dengaku, atau Renee jadi tidak punya kesempatan untuk mendekati laki-laki yang ia suka.
"Tidak, kok," ujar Renee lagi, lalu ia mengalihkan pandangannya padaku dan tersenyum, "Kau seorang saja sudah cukup."
DEG.
Ap-apa? Ng, aku kenapa? Mendengar perkataan terakhir Renee, aku tidak bisa memasang ekspresi apa-apa. Aku tidak bisa membalas perkataannya. Dan ... aku merasa ... wajahku memanas...
Ada apa ini ... ?
.
.
~TBC~
.
.
