Chapter 2
Waktu satu minggu tidak terasa berjalan sangat cepat. Hari ini dijadwalkan akan ada ujian teori yang berlangsung selama satu hari. Ujian teori di akademia kemiliteran Cora tidak berbeda jauh dengan ujian di sekolah pada umumnya. Holy Alliance sejak dulu memang sengaja memberikan materi pelajaran ilmu pengetahuan selain pendidikan kemiliteran. Hal ini bertujuan selain berjuang untuk kejayaan Cora, mereka juga bisa berbaur dengan masyarakat Cora.
Dipagi hari Markas Cora belumlah terlalu ramai. Biasanya keadaan baru ramai setidaknya pada jam delapan pagi. Namun, karena adanya ujian teori beberapa prajurit pemula beberapa memilih datang lebih awal untuk setidaknya mengulang pelajaran yang semalam dihafal.
Seorang laki-laki bermata sipit nampak berjalan melewati pintu markas. Disana dia mencari papan informasi yang katanya memuat informasi tentang ruang kelas yang akan dimasukinya. Lama mencari akhirnya dia menemukan papan informasi tersebut.
"Kira-kira namaku ada dikelas mana ya?" dengan teliti dia mencari namanya didaftar peserta ujian. "Eh, buset! Kok bisa nyasar di kelas Warrior, ya?"
"Son, kau masuk kelas mana?" tanya Park yang datang dari belakang bersama Yusuke.
"Park? Namaku ada di kelas Warrior 5 nih." Jawab Son.
"Oh, berarti kita bertiga samaan dong. Aku dan Yusuke juga di kelas Warrior 5."
"Kok kalian tahu duluan? Emang kapan dikasih tahu?" Son heran karena setahunya papan informasi ini dipasang pada waktu dinihari.
"Selain memasang dipapan informasi mereka juga mempostingnya lewat internet." Jawab Park sambil mengeluarkan ponsel dan mengaktifkannya. Son juga ikut mengeluarkan ponselnya dan mengakses situs kemiliteran Cora.
"Iya juga, ya? Kok bisa-bisanya aku gak tahu?"
"Hmm, cukup tahu aja saya. Kau punya Hape jarang dipake, ya? Masa' info kaya gini aja kagak tahu?" ejek Park. Yang dicela Cuma bisa menahan kesal saja. Gak salah juga sih soalnya Son sekarang sudah sebatang kara jadi hape yang dimilikinya lebih banyak dipakai buat main game ketimbang mencari informasi di internet apalagi untuk menghubungi orang lain. Teman aja gak punya gimana mau telpon-telponan.
"Udahlah. Aku mau cuci muka dulu." Son pergi ke kamar mandi tanpa mendapat persetujuan dari kedua temannya. Park dan Yusuke hanya bisa memandangi sosoknya dari belakang.
Setelah cuci muka Son bergegas menuju kelas Warrior 5 untuk ikut ujian. Agak bingung juga Son mencari kelas tersebut karena selama menimba ilmu di Akademi Kemiliteran dia hampir tidak pernah mengunjungi kelas Divisi lain. Alhasil diapun hampir tersesat. Untung saja tidak lama kemudian dia menemukan tempatnya. Sesaat Son agak ragu untuk masuk kedalam. Dia sedikit membayangkan akan tatapan orang-orang yang melihatnya masuk. Tapi biar bagaimanapun demi impiannya menjadi prajurit dia pun mantap melangkahkan kaki.
GREKK!
Terdengar suara pintu kayu digeser secara perlahan. Son berjalan masuk dengan perasaan agak gugup. Seperti dugannya tatapan mereka terlihat tidak senang. Banyak yang melihat Son seperti sesuatu yang menjijikkan. Beberapa ada yang bebisik-bisik, ada juga yang sengaja menyemprot-nyemprot sejenis desinfektan dikursinya yang mungkin dengan maksud agar Son tidak menyebarkan penyakit di dekatnya. Son agak sedih melihatnya tapi dia berusaha tegar.
Tak lama pintu masuk kembali terbuka dan kali ini yang masuk adalah Park. Tatapan mereka juga tidak senang melihat dia masuk hanya saja tatapannya berbeda dengan Son. Jika tadi mereka melihat Son dengan tatapan jijik, kali ini berganti menjadi cengo. Bagaimana tidak? Park dengan tengilnya berjalan masuk sambil memakai kacamata hitam dan bergaya layaknya boyband dengan rambut jambul.
"Selamat pagi, Alliansi. Apakah kalian menantiku dengan harap-harap cemas? Santai sekarang Park akan menemani kalian dari pagi hingga sore! Yeah!" ujarnya sok kepedean. Perkataannya barusan sukses membuat peserta lain menjadi Shock dengan mulut menganga. Seolah-olah mereka baru lihat orang alay yang datang dari kampung yang terpencil yang baru aja masuk kota. Son saja membuang muka seolah pura-pura tidak kenal. Park duduk tepat disamping kiri Son sesuai absennya.
Belum habis keterkujatan mereka, dari pintu masuk datang lagi seorang peserta. Kali ini Yusuke yang masuk. Lagi-lagi pandangan peserta lain juga tidak senang dan… sedikit merinding lebih tepatnya. Seperti ada aura lain yang menyelimuti dirinya. Dia berjalan masuk kedalam tapi baru lima langkah jalan tiba-tiba dia berhenti. Dia lihat seluruh ruangan kelas dan matanya terkunci di salah satu sudut ruangan yang kosong. Dia lalu tersenyum dan berkata "Ikut juga rupanya? Hahaha!"
Setelah itu dia berjalan menuju kursinya yang berada di belakang Son yang kebingungan. Salah satu diantara mereka berbisik "Hei, tadi maksud perkataannya apa, ya?". Temannya membalas dengan nada ketakutan "Emang ga tau? Dia itu kan katanya bisa lihat makhluk halus!"
Menurut jadwal ujiannya akan dimulai pada pukul sembilan pagi. Itu berarti masih ada waktu sekitar 30 menit bagi peserta untuk bersiap-siap. Lalu datang seorang wanita memakai armor spiritualist yang anggun lengkap dengan jubahnya. Jika dilihat kemungkinan dia anggota prajurit elit Alliansi. Ditangan kanannya dia menggendong kertas-kertas ujian yang akan dibagikan.
"Selamat pagi, prajurit!" sapanya tegas namun berwibawa.
"Selamat pagi, Chamtalion!" jawab semuannya serempak.
"Terima kasih. Sebelumnya perkenalkan namaku Mellisa Dubrova. Hari ini saya yang menjadi pengawas ujian di kelas Warrior 5. Hari ini adalah hari dimana kalian menjalani ujian untuk persiapan kenaikkan menuju Expert. Ujian hari adalah ujian teori tapi meski hanya teori aku peringatkan…."
Belum habis Chamtalion Mellisa berpidato, tiba-tiba Park muncul disampingnya. " Wah, aku tidak menyangka kalau anda yang jadi pengawasnya disini. Jujur saja sebenarnya saya sudah lama menaruh perasaan kepada anda. So, setelah ujian ini maukah Chamtalion makan bersama dengan saya? Saya tahu banget dimana restoran enak untuk makan kita berdua." Entah kesambet setan apa, Park coba mengajak Chamtalion Melissa untuk 'Dinner bareng'.
"Buset! Tuh orang sejak kapan ada disitu? Pake acara 'nembak' lagi." Penasaran, Son coba menengok ke belakang. Tapi Park tidak ada dikursinya pertanda kalau yang didepan sana adalah Park yang asli.
"Tak usahlah Chamtalion mendengar kicauan si Park. Omongannya barusan tidak lebih hanyalah gombalan belaka. Anda itu lebih tepat bersanding dengan saya. Jika saya lihat anda itu mempunyai aura putih. Sedikit informasi kalau saya ini punya aura merah. Merah melambangkan keberanian dan putih melambangkan kesucian. Dan ketika kedua warna ini bersatu akan menghasilkan warna pink. Warna yang melambangkan cinta. Jadi Chamtalion aku menyatakan perasaanku lewat sebatang cokelat ini." Yusuke rupanya tidak mau kalah dengan Park. Tidak tanggung-tanggung Yusuke menyatakan cintanya dengan cokelat batangan seukuran 3 KG(?).
"Lha? Tuh orang juga ikutan nembak. Perasaan tadi masih ada disamping? Pada punya ilmu apaan sih?" Ucap Son Heran.
Semua orang melihat adegan menyatakan cinta dengan pandangan beragam. Ada yang jijik karena dinilai terlalu lebai, ada yang geleng-geleng kepala karena merasa kedua orang itu udah gak punya urat takut soalnya gak tau siapa wanita yang ditembaknya itu, ada juga yang so sweet.
"Hei, kalian berdua? Ngapain pada diri disini. Pake rapet-rapetan lagi, emangnya ini lagi nunggu tendangan sudut apa? Sana kembali ke tempat masing-masing!" kata seorang pria tinggi kekar dengan suara berat lagi judes.
"Wow-wow, anda siapa? Jangan mentang-mentang anda lebih kekar dari saya anda bisa seenaknya mendapatkan Chamtalion Mellisa. Gak segampang itu, bos!" tukas Yusuke tanpa tahu siapa orang yang diajak bicaranya itu.
"Heh, kalian ini dikasih tahu bukannya…."
"Heh, gak usah belagu deh. Mending kau pergi aja sono. Ngepel kek, bersih-bersih kek. Gangguin orang aja" Park ikut-ikutan ngebentak dia. Tapi tanpa sengaja matanya melihat Name Tag pria tersebut. Tampangnya yang tadi belagu langsung berubah jadi galau. "Sialan! Dia itu Sada. Bisa celaka 12, nih!" gumam Park.
"Hei, kau kenapa? Kok kaya' was-was gitu?" tanya Yusuke yang merasa ada yang salah dengan temannya. Park tidak menjawab tapi dia mengarahkan pandangannya ke Name Tagnya. Bisa dilihat kalau di Name Tagnya tertulis tulisan 'Sada' yang gede banget. "Waduh, orang yang salah, nih".
"Udah tau sekarang siapa gue? Mau kenalan, gak?" Park dan Yusuke hanya diam tanpa bicara."Lu belom jadi prajurit aja udah gaya-gayaan gimana lu pada kalo udah jadi tentara? Yang ada bukannya ngejayain Holy Alliance malah ngancurin bangsa. NGERTI, GAK!?" Kata Anclaime Sada dengan tatapan kesal dan marah.
"Oh Jadi bangsa kita ini pernah ancur ya, pak? Itu gimana ceritanya?" bisa-bisanya Yusuke berkata dengan polos. Sontak Sada pun kesal dan memukul Yusuke tepat dipelipisnya hingga membuat Yusuke jatuh dan berdarah.
"Eh, biasa aja dong sama orang. Jangan maen pukul aja. Dikata lagi tanding tinju apa?" Park membela Yusuke. Sementara peserta ujian yang lain nampak ketakutan melihat situasi yang terjadi.
"Bilangin sama teman lu ini. Jadi orang tuh jangan sok jangan kebanyakan gaya. Harus tahu adat dan sopan santun. Tahu gak kita lagi dimana, hah?" ucap Sada sambil sambil menunjuk muka Park.
"Ya tahulah. Ini 'kan di kelas. Pake nanya lagi. Lu blo'on, ya?" Jawab Park sekenanya yang entah pura-pura bego atau emang bego beneran gak baca situasi. Untuk yang kedua kalinya Sada melayangkan tinjunya yang kali ini menghantam pipi Park.
"Lu lama-lama ngeselin juga, ya? Mau gue pukul lagi, lu?" ancam Sada yang semakin marah. "Wah, pelanggaran. Muka saya jadi gak ganteng lagi, nih. Kalo mau mukul bilang-bilang dulu, kek. Mbok ya kalo marah ditahan dulu amarahnya nanti dilampiasin kalo ujian dah kelar. Pukulan ente barusan bikin saya sakit gigi tahu. Saya lebih milih sakit hati daripada sakit gigi. Kenapa? Kalau sakit hati kita masih bisa cuek tapi kalau sakit gigi boro-boro kita cuek. Yang ada malah sakitnya menjadi-jadi kalau kita cuek."
Mendengar penjelasan barusan Sada siap-siap ambil ancing-ancang buat mukul sekali lagi. Tapi untung saja Chamtalion Melissa buru-buru menahannya. "Sada, sudah cukup! Kita mau ujian. Ini udah lewat 1 jam dari jadwal seharusnya."
Pelan-pelan amarah Sada mulai mereda dan dia berjalan menuju kursi pengawas. Tapi dia berhenti karena merasa ada yang ngata-ngatain. Dan pandangannya tertuju pada Son. "Heh, ngapain lu ketawa-ketawa sendiri!?"
"Dih, siapa yang ketawa-ketawa. Wong daritadi Cuma diem, doang."
Sada yang kembali memanas segera berjalan menghampiri Son. Tapi lagi-lagi Chamtalion Mellisa menahannya. "Udah, Sada! Tidak perlu kau ladeni dia. Inget hari ini kita ujian."
"Hei, kamu! Cepat maju kedepan." Chamtalion Mellisa menyuruh Son untuk maju. Son pun berjalan tanpa tahu apa-apa. Setelah berada didepan, Chamtalion Mellisa meminta Yusuke untuk berdiri.
"Kamu tahu kenapa aku menyuruh kamu untuk maju?" Ucap Chamtalion Mellisa sambil melipat tangannya didada. Son hanya menggelengkan kepala tanda tidak tahu tapi dia merasa pasti ada sesuatu yang buruk bakal terjadi.
"Kamu bersama kedua temanmu ini aku keluarkan hari ini juga!"
"Ma.. maksudnya apa?" Son terbata-bata mengucapkannya.
"Ya. Kalian bertiga didiskualifikasi. Tidak boleh mengikuti ujian ini!"
"Ke..kenapa begitu?" tanya Park heran.
"Karena kalian telah membuat keributan disini dan membuat ujian jadi tertunda satu jam akibat ulah kalian. Silahkan mengulang lagi tahun depan dan itupun kalau Race Manager setuju. Ruangan ini dilengkapi CCTV jadi rekaman keributan kalian akan kuberikan padanya. Jadi kalau kalian merasa masih bisa diterima jadi prajurit mending ngimpi aja, deh!"
DENG!
Son merasa otot-otot kakinya lemas hingga membuatnya bertekuk lutut. Ia merasa sudah hilang harapan menjadi prajurit. Tidak ada lagi harapan yang bisa diharapkan karena seperti yang wanita tadi ucapkan kalau ruangan ini ada CCTVnya jadi kalau Race Manager tahu kalau dirinya termasuk salah satu pelaku keributan dia pasti akan diusir dari Alliansi. Tanpa sada air mata menetes dari matanya yang sipit.
"Udahlah kau nangis tidak akan mengubah keadaan. Mending buru-buru deh pergi kita udah gak punya waktu, nih!" Chamtalion Mellisa masih saja menyindir tanpa tahu perasaan ketiga prajuritnya. Tapi melihat mereka belum beranjak pergi membuatnya kesal dan berkata "Heh, pada denger gak? Kalau kubilang pergi ya pergi!"
"Lho, tadi katanya mau dikeluarin, kan? Udah daritadi kita siap-siap tapi gak dikeluarin-keluarin juga." Kata Park tanpa beban.
"Maksudnya apa 'ya? Saya gak paham?" Chamtalion Mellisa bingung.
"Kan katanya tadi 'saya keluarkan'. Tuh artinya mau digendong keluar 'kan? Saya udah gak sabar lho mau digendong situ." Jelas Yusuke sambil nyengir. Son yang ikut dengar perlahan mulai tersenyum geli. Setidaknya mereka masih bisa bercanda meski situasi sedang tidak memihak.
Tapi penjelasan Yusuke barusan sudah cukup membuat Chamtalion Mellisa hilang kesabaran. Aura panas berkumpul diatas kepalanya bersiap untuk meledak.
"CEPAT KELUAR!"
Setengah mati Son, Park, dan Yusuke tunggang langgang berlari. Membangunkan macan dari tidurnya jelas bukan sesuatu yang bagus dan untungnya mereka sudah merasakannya barusan. Mungkin suatu saat mereka akan berpikir dulu sebelum mencoba. Mereka bertiga pun keluar dari kelas dengan perasaan terengah-engah.
Namun seperti ada sesuatu yang lupa, Yusuke kembali masuk dalam kelas. "NGAPAIN KAMU MASUK LAGI!?"
"Maaf, cokelat saya ketinggalan." Yusuke mengambil cokelat miliknya yang ukurannya hampir menyerupai Launcher Accretia. Setelah mengambil cokelatnya ia melihat kearah Chamtalion Mellisa. Atau mungkin lebih tepatnya arah belakang Mellisa. Sambil tersenyum dia berkata "Ikut juga, ya? Selamat berjuang, deh." Setelah itu dia berlalu pergi. Chamtalion Mellisa menengok ke belakang. Tapi disana dia tidak melihat seorangpun berdiri membelakanginya. "Tuh orang ngomong ama siapa, sih?"
.
.
.
Diluar kelas mereka mengobrol sambil berjalan santai. "Son, maaf ya gara-gara kita berdua kamu juga ikut dikeluarin." Park yang pertama membuka obrolan. Dia merasa sangat bersalah atas kejadian tadi.
"Udahlah namanya juga lagi apes. Mau gimana lagi? Kalau aku jadi kalian mungkin aku juga bersikap sama. Tapi laki-laki tadi siapa sih? Kok sifatnya judes amat? Terus apa wanita tadi itu pacarnya?" tanya Son penasaran.
"Sada Ahebban. Dia seorang Black Knight yang tangguh. Kekuatannya tidak main-main. Bahkan katanya dia sanggup bertempur sendirian melawan kumpulan Accretia yang berjumlah ratusan. Akupun sebenarnya ogah jadi Knight karena malas dilatih si gila perang itu. Tapi mau gimana lagi aku kurang berbakat kalau jadi Champion." Jawab Park.
"Wanita tadi bukan pacarnya. Aku hanya tau namanya saja tapi kemungkinan dia memang pasukan elit dibawah dewan. Seperti yang tadi kau lihat aku dan Park bahkan terpesona oleh kecantikkannya. Lebih tepatnya dulu. Tapi begitu dengar omelannya rasa suka ini perlahan mulai memudar." Yusuke menambahkan penjelasan Park."
"Ngomong-ngomong kita mau ngapain, nih? Kita sudah didiskualifikasi dari ujian. Setidaknya kita haru menunggu setahun lagi kalau mau ikut. Itupun kalau Race Manager merestui." Kata Son dengan nada lesu. Kedua temannya hanya diam sambil berpikir.
"Kalau kalian mau berusaha maka tidak ada yang tidak mungkin."
"Eh?" mereka bertiga kaget ada suara yang menanggapi keluhan mereka. Pemilik suara itu adalah seorang perempuan berambut blonded bermata hitam. "Ma… Maksudnya gimana, ya?" tanya Son yang merasa muncul setitik harapan didalam kegelapan.
"Kalian bisa naik pangkat dan mengambil job pertama kalian tanpa harus ikut ujian." Jawabnya sambil dibarengi senyum. "Tapi kalian harus bekerja padaku dulu kalau mau."
"Ntar dulu. Kita udah dikeluarin. Bagaimana mungkin kita bisa naik pangkat tanpa lulus ujian." Sanggah Yusuke.
"Apa kalian tahu kalau pengawas tadi sebenarnya tidak membawa daftar absen peserta ujian? Dari situ kita bisa memanipulasi ujian."
"Ntar kita dapet nilainya darimana? Lulus kan harus pakai nilai." Kata Park.
"Tenang saja. Ujian ini selesai pukul 3 sore dan hasil ujiannya diumumkan pukul 5 sore. Aku bisa menghack sistem komputer markas dan menulis nilai kalian dengan nilai sedikit diatas minimal. Lalu soal rekaman CCTVnya itu juga bisa dimanipulasikan."
"Apa anda yakin bisa?" Son masih merasa sangsi dengan ucapan perempuan itu apalagi tidak mengenal siapa dia.
"Terserah kalian mau percaya atau tidak. Tapi yang pasti kalian harus bekerja dulu kalau mau."
Son dan kedua temannya berunding untuk membuat keputusan. Setelah berlangsung sekitar lima menit merekapun sudah sepakat.
"Baik. Kita setuju. Sekarang kami harus kerja apa?" kata Son.
"Keputusan yang bagus. Kerjanya tidak sulit. Kalian pergilah ke gudang bawah tanah. Ambil treasure box disana. Ciri-cirinya kotak itu berwarna emas dan ukurannya seperti kotak sepatu. Setelah itu silahkan temui aku di Istana Numerus. Agar tidak tersesat ini aku berikan petanya." Wanita itu memberikan sepucuk peta kepada Son.
"Cuma itu? Kukira harus pergi berburu monster?" ujar Son mulai bersemangat. Setelah itu mereka pergi ke gudang bawah tanah.
Namanya gudang bawah tanah tentunya sangat gelap karena bukan tempat yang sering dilewati orang. Hampir tidak ada lampu yang menerangi lorong sehingga suasananya pun terbilang sangat horor. Disini Yusuke memimpin didepan sembari memegang peta dan senter. Son dan Park jelas tidak berani hingga tidak heran kalau mereka berdua takut kalau-kalau ada sosok lain yang lewat. Tapi hal itu tidak berlaku buat Yusuke. Dia terlihat santai-santai saja memandu perjalanan. Perlu diketahui juga untuk menuju gudang mereka harus melewati penjara bawah tanah yang sekarang sudah tidak terpakai hingga memunculkan suasana mistis. Konon dulunya tempat ini adalah bekas penyiksaan para Turncoat.
Mereka mulai melewati penjara bawah tanah. "Oh, Decem tempat sungguh sangat angker." Kata Son ketakutan. "Eh, ngomong-ngomong si Yusuke kok kaya gak ada takutnya sama sekali, ya?"
"Dia mah udah biasa sama yang begituan. Kau inget 'kan waktu dikelas dia tersenyum ke sudut kelas dan berkata "ikut juga, ya?" tadi pagi?" jawab Park.
"Inget emang kenapa?"
"Itu artinya dia ngeliat makhluk halus"
DUENG!
Son cengo mendengar penjelasan Park barusan. 'jadi dikelas warrior tadi hantunya?' batin Son dan itu sukses membuatnya jadi parno. Sementara Yusuke masih berjalan. Sesekali dia menengok ke dalam penjara.
"Wah, rame amat disini?" kata Yusuke sambil senyum.
"Pa..Park tadi tuh maksudnya rame apaan, ya?" tanya Son ketakutan.
"Tahu sendirilah." Jawab Park.
Mereka bertiga berbelok kekanan. Yusuke melihat peta dan mengetahui kalau jaraknya kurang lebih 1 kilo lagi. Setelah itu akhirnya mereka sampai digudang bawah tanah. Yusuke membuka pintu gudang yang terbuat dari besi. Didalamnya ruangan terlihat cukup luas dengan barang-barang bekas yang tertata rapi.
"Untung aja rapi jadi lebih gampang buat nyarinya." Yusuke mulai mencari letak kotak yang dimaksud. "Kita jangan berpencar. Penghuni disini kebanyakan ganas-ganas. Jadi lebih baik kita tetap bersama." Jelas Yusuke.
"Siapa juga yang mau mencar? Gila lu tempatnya anker begini. Rawan penampakkan ini 'mah!" maki Son yang dari tadi tidak bisa tenang. Beruntung mereka bisa menemukkan kotaknya dengan cepat. Setelah ketemu mereka pun kembali dengan Scroll ke markas. Sampai dimarkas mereka pergi ke portal dan mengakses ke Istana Numerus. Kemudian mereka mencari wanita tadi dan menemuinya tepat dekat pintu keluar.
Yusuke menyerahkan kotak itu kepadanya. Wanita itu tampak puas dengan hasil kerja mereka bertiga. Sebagai imbalannya ia memberi mereka dokumen yang kelak akan digunakan untuk ujian praktek pengambilan job. Untuk ujian tertulis katanya tinggal menunggu waktunya dan hasilnya akan dikirim via email.
"Akhirnya impianku menjadi prajurit bisa terwujud, nih." Kata Son girang.
"Benar. Untung saja anda mau membantu. Terima kas…"
Ketika Yusuke mau mengucapkan terima kasih, tiba-tiba sosoknya lenyap tak berbekas. Padahal belum tiga menit mereka bicara.
"Lho kok gak ada? Padahal tadi dia masih disampingku, lho?" kata Park heran.
"Jangan-jangan dia hantu lagi."
"Tidak. Dari wujud dan auranya dia jelas seorang Corite. Hangatnya juga ada. Kemungkinan terbesar dia itu prajurit elit yang tidak terdaftar." Kata Yusuke.
"Emangnya ada prajurit yang tidak terdaftar?" tanya Son.
"Ada. Yang pertama prajurit divisi Intelijen. Pertama kali nama mereka masih terdaftar tapi apabila sudah tergabung didivisi Intelijen nama mereka akan dihapus dari catatan kependudukan sipil. Mungkin alasannya demi keamanan. Yang kedua seperti yang kubilang tadi prajurit elit yang tidak terdaftar. Mereka ini dari awal masuk militer sampai mereka jadi elit, nama mereka tidak ada dalam catatan militer. Mereka ada, mereka berbaur tapi tidak ada seorangpun yang mengenalinya. Bahkan kita tidak tahu siapa nama wanita tadi. Kalau kau berpikir mereka itu hantu, itu tidak salah. Sekitar 20 tahun yang saat bangsa kita menang Chip War ada cerita kalau beberapa orang mengaku melihat sosok archon yang seharusnya sudah mati. Archon yang tewas 60 tahun dari sekarang tiba-tiba muncul berjalan mengiringi pawai kemenangan. Tapi cerita itu ditutup rapat-rapat hingga hanya orang-orang tertentu saja yang tahu." Jelas Yusuke yang entah dapat info darimana Son merasa tidak perlu dicari tahu.
"Ah, sebaiknya kita ganti topik saja. Setelah ini kita mau gimana? Peluang lulus anggaplah sudah pasti. Lalu soal dokumen ini mau di gimanakan?" Park buru-buru mengganti pembicaraan karena cerita tadi sukses membuatnya merinding.
"Pengumuman lulus kira-kira jam 5 sore. Setelah itu mereka yang lulus biasanya akan mengambil ujian praktek untuk pergantian job. Kemungkinan itu terjadi besok jadi ada baiknya kita mengikuti ujian praktek besok agar tidak dicurigai." Kata Yusuke.
Sambil menunggu hasil ujian keluar, mereka bertiga memilih untuk jalan-jalan keliling markas. Siang menjelang sore ini keadaan memang ramai. Biasanya kebanyakan dari mereka beristirahat setelah seharian pergi hunting. Ada juga yang mempersiapkan perbekalan dan kembali berangkat.
"Kalau dipikir-pikir waktu itu berjalan sangat cepat, ya?" kata Park.
"Benar. Rasanya baru kemarin aku masuk akademi tapi tak lama lagi aku akan ganti job. Masih ingat rasanya waktu pertama kali hunting. Bikin kangen aja. Hahahha." Tambah Yusuke.
"Oh, iya ngomong-ngomong kenapa kalian berdua memilih untuk jadi prajurit? Kalau tidak salah orang tua kalian bukan tentara 'kan?" tanya Son penasaran.
"Hmm, kalau aku sebenarnya tidak punya alasan istimewa. Hanya saja aku waktu coba iseng daftar eh taunya malah keterima. Yaudah mau tidak mau dijalanin aja. Lagipula didaerahku belum ada satu orangpun yang berprofesi sebagai prajurit. Maklum aja namanya juga orang susah." Jawab Park.
"Dulu waktu kecil aku suka main perang-perangan dengan temanku. Aku selalu jadi tokoh jagoan yang menumpas segala kejahatan. Hahahaha ya jadinya hal itu terbawa sampai sekarang. Tapi sayang teman-temanku tidak memilih jalan yang sama denganku. Mereka lebih memilih melanjutkan sekolah umum dan membangun karir sebagai pengusaha." Kali ini giliran Yusuke yang ngasih tahu.
Mendengar penjelasan kedua temannya membuat Son berpikir kalau masih kecil mereka terbilang cukup bahagia. Penjelasa mereka membuat dirinya iri. 'Kenapa aku harus terlahir dari keluarga bangsawan?' batinnya.
"Kalau kau sendiri pasti karena tuntutan orang tuamu 'kan?" perkataan Yusuke barusan sukses membuat Son sadar dair lamunannya.
"Ah..eh…itu sebenarnya demi melanjutkan regenerasi klanku tentu saja aku harus jadi prajurit. Hahaha"
"Jadi prajurit…dengan terpaksa, maksudmu?"
DEG!
Entah ada apa ucapan Yusuke barusan membuat dirinya bingung. "Terpaksa?"
"Aku tahu sebenarnya kau tidak mau jadi prajurit 'kan? Dari garis matamu saja aku sudah bisa menebaknya." Tambah Yusuke. Son menundukkan kepalanya tanpa melihat Yusuke. Benar apa yang dikatakannya. Semua tidak lebih hanya keterpaksaan saja. Lalu ia menjelaskan semuanya kepada kedua temannya . soal dia ingin jadi pembalap sampai ke suatu hal dimana ia bertengkar dengan ayahnya. Semua tanpa satupun yang terlewat termasuk soal penyakitnya.
Saat Son dan Yusuke sedang curhat, Park melihat sesuatu dan berkata "Hei, lihat disana ada dua bocah lagi berantem."
Son dan Yusuke memalingkan pandangan dan melihat kearah yang ditunjuk Park. Disana terlihat dua orang bocah laki-laki sedang adu mulut. Dilihat dari mukanya mereka kurang lebih berusia 12 tahun.
"Yang sebelah kiri itu kayanya dia Etnis Bisk. Dikeningnya tidak ada tanda berkat Decem. Logat bicaranya juga beda." Kata Yusuke.
"Kok fisiknya tinggi bener, ya? Dia beneran Cora, tuh?" Son baru pertama kali ini melihat ada orang yang jauh lebih tinggi dari ayahnya. Tak heran kalau dia tidak percaya.
"Kalau tidak salah dulu banget ada klan yang terkenal akan tinggi badannya. Aku lupa nama klannya apa tapi fisik mereka paling tinggi adalah 199 cm. tapi orang ini tingginya bahkan sekitar 205 cm. kontras banget dengan lawannya yang kutaksir sekitar 175 cm." ujar Yusuke.
Dilihat dari permasalahannya sepertinya alasan mereka berantem karena si pendek bermata hitam marah karena teman perempuannya dikasari sampai nangis. Si jangkung tidak terima dengan alasan si cewek menurutnya terlalu cengeng. Akhirnya mereka pun berantem. Si jangkung yang unggul dari segi fisik menendang kepala si pendek dengan Flying Kick. Tendangannya sukses mengenai kepalanya. Tapi pertandingan belum berakhir karena setelah bangkit si pendek melayangkan pukulan ke wajah lawannya. Sayangnya hal itu tidak berhasil, si jangkung memblok pukulan lawan dengan tangannya. Kalau dilihat-lihat si jangkung sangat ahli beladiri. Tapi si pendek tidak menyerah. Ia pukul perut lawannya yang mana pertahanannya terbuka. Lalu dia menendang kaki si jangkung dengan tendangan sapuan sehingga si jangkung jatuh tersungkur. Tanpa buang waktu si pendek memukul habis muka lawannya hingga berkali-kali. Pertandingan selesai dengan si pendek yang keluar sebagai pemenangnya.
"Sugoi! Meski pendek dia bisa menang! Luar biasa!" puji Yusuke.
"Ternyata fisik itu bukan segalanya, ya. Diatas langit memang masih ada langit lagi." Kata Park dengan nada puitis.
"Eh, tapi kayanya dia terluka parah, deh. Kayanya tendangan si jangkung tadi cukup membuatnya kesakitan." Son melihat orang itu memegang mata kanannya. Rupanya mata kanannya terganjal lensa kontak. Dia pun melepas lensanya dan terlihat mata kanannya ternyata berwaran biru emerald sedang mata kirinya berwarna coklat gelap.
"Hah, jadi dia itu pengidap heterochromia?" kata Park.
"Baru kali ini aku melihat ada orang yang warna irisnya beda sebelah" sambung Son.
"Yah, soalnya kejadian seperti itu sangat langka dan perbandingannya satu banding seratus ribu. Mungkin dia itu memiliki darah bangsawan yang kuat." Ucap Yusuke berpendapat.
"Eh, udah mau jam 5, nih. Kira-kira hasil ujiannya sudah muncul belum, ya?" kata Son sambil mengeluarkan hapenya. Kedua temannya juga ikut-ikutan buka hape. Setelah membuka situs resmi, hasil ujian ternyata sudah diposting. Mereka pun mencari nama masing-masing sambil berharap kalau wanita tadi menepati janjinya.
"Yes, namaku ada!" teriak Son.
"Wanita tadi benar-benar menepati janjinya. Dengan ini kita bisa mengambil ujian praktek besok." Kata Park.
"Yah tapi berhubung hari sudah mau gelap kita berpisah dulu saja. Besok kita kerja sama nyelesain misi praktek." Kata Yusuke sambil berjalan pulang. Mereka pun berpisah sebelum malam datang.
Keesokkan Harinya
Pagi ini Son dan kedua temannya sedang berkumpul di terminal Ether. Alasan mereka ada disini karena kemari ketika Park sedang keluar malam dia bertemu dengan wanita yang membantunya lulus ujian. Wanita itu memberitahu kalau mereka lebih baik segera mengerjakan ujian praktek tanpa mendengarkan pidato Race Manager. Tidak ada alasan jelas yang diberikannya.
"Belom juga lulus udah disuruh ke Ether aja. Emangnya udah kuat apa?" keluh Son yang merasa misi ke Ether dinilai terlalu mengada-ngada.
"Udah ga usah protes. Masih untung misi kita sama. Cuma bunuh Hobo Mite dan Hobo Sword doang." Ucap Yusuke.
"Bersyukur aja. Itung-itung dia dah mau bantu kita. Benar kata Yusuke berhubung misi kita sama, kalau kita kerja sama semua akan jadi lebih muda.
Tak lama pesawat transport pun datang. Mereka bertiga segera masuk tanpa membuang waktu. 10 menit kemudian pesawat bermerek XTM S1000RR lepas landas menuju Ether. Butuh waktu sekitar 3 jam bagi pesawat untuk mendarat di Ether. Dan berhubung hari ini cuaca sedang bagus pesawat pun mendarat tanpa kesulitan. Setelah sampai mereka pun segera turun.
"Brrr… gila cuaca bagus aja masih sedingin ini gimana kalau lagi badai." Kata Son yang gemetaran akibat suhu dingin Ether.
"Nih, pakai ini dulu sebelum keluar terminal." Kata Yusuke sambil memberikan satu tube krim.
"Apaan, nih?"
"Krim penghangat. Oleskan di bagian yang tidak tertutup armor. Krim itu membantu tubuh untuk menetralkan suhu sehingga suhu seekstrim apapun tidak akan merusak kulit." Terang Yusuke menjelaskan krim sakti miliknya. Son pun mengoles krim itu ke badannya. Setelah itu mereka bersiap-siap mengeluarkan perbekalan. Son mengeluarkan Intense Black Stick Bead, Park tampak sedang mengelap Intense Beam Saber dan perisainya dan terakhir Yusuke mengisi Strong Gatling Gunnya dengan amunisi Machine gun. Setelah dirasa siap, mereka pun berangkat berburu yang mana Park bertindak sebagai ketua Party.
.
.
.
"Hosh… Hosh… berapa..lagi?" ucap Park sambil terengah-engah.
"Sepuluh…lagi. Ya tinggal sepuluh lagi."
Sudah dua jam mereka berburu Hobo Mite dan Hobo Sword. Berhubung ini pengalaman pertama di Ether, mereka cukup kewalahan karena monster disinin lebih kuat daripada di markas.
"Park, Yusuke aku ada ide. Kalian berdua tarik semua monster itu kesini dan aku akan membereskan semuanya." Usul Son. Meski terluka ia berusaha untuk tetap fit.
Park dan Yusuke segera menjalankan ide Son. Mereka menarik semua Hobo sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan. Setelah semua berhasil dipancing, Park dan Yusuke segera berlari ke arah Son.
Son yang selesai berkonsentrasi memerintahkan kedua temannya untuk menyingkir "Park, Yusuke awas!"
"DARK FLAMES!"
Son merapalkan mantra sambil menancapkan tongkatnya di tanah. Seketika muncul kumpulan api biru yang membakar hobo-hobo tersebut.
"Masih belum! FALLEN COMET!"
Son mengangkat tongkat dan memutarnya hingga tercipta segel sihir. Dari segel itu keluar bola-bola komet berwarna hitam menyala dan meledakkan kumpulan hobo yang tidak berdaya hingga tak bersisa. Misi selesai!
"Wui hebat! Apa itu kemampuan spesial klanmu?" kagum Yusuke.
"Begitulah! Klanku mewarisi ilmu sihir bintang yang tidak ditemui di klan manapun." Jelas Son.
Mereka pun beristirahat di atas salju Ether. Berhubung pesawat transport ke markas belum datang mereka memutuskan untuk jalan-jalan keliling Ether.
"Menurut informasi prajurit senior, katanya tanah Lures itu tempat mencari uang. Konon banyak Elemental berharga mahal yang dijatuhkan Calliana." Kata Park.
"Tapi kita bukan tandingan Calliana. Kita masih belum kuat melawan monster itu." Sanggah Yusuke.
"Siapa juga yang mau hunting Calliana? Kita kan Cuma jalan-jalan."
Mereka sampai di tanah Lures. Tapi Park melihat ada sekelompok Accretia yang sepertinya sedang mencegat seseorang.
"Ada apaan, tuh? Kok ramai, ya?" kata Park sambil menunjuk ke arah kumpulan Accretia.
"Kita lihat, yuk." Ajak Son.
"Hati-hati jangan sampai ketahuan. Yusuke, kalau tidak salah kau punya beberapa Talk Jade 'kan? Aku pinjam 'ya buat nguping obrolan mereka." Yusuke mengeluarkan 3 buah Talk Jade untuk Park dan Son.
"Eh, kayanya mereka lagi nyegat prajurit Cora, deh. Apa kita harus tolongin, ya?" kata Son.
"Ga tau kenapa aku tidak merasakan kalau orang itu adalah bangsa kita. Aku merasa kalau dia itu orang asing." Kata Yusuke.
"Kita lihat dulu aja. Kalo emang dia kenapa-kenapa nanti kita coba tolong dia. Sekarang kita ngendap-ngendap aja sambil lihat sikon." Usul Park. Mereka bertiga perlahan mulai mendekat ke tempat mereka. Kebetulan disitu ada tebing es yang cukup besar dan cocok untuk memata-matai.
Tanah Lures
"Berhenti, Cora! Sedang apa kau berada disini! Ini adalah wilayah kami. Tidak kuijinkan siapapun berada ditempat ini. Terlebih itu kau, Cora!" satu unit Accretia Warrior menodongkan Spadona ke wajah pria yang disangka Cora itu.
"Begitu? Jadi ini wilayah kalian, ya? Kalau begitu aku minta maaf sudah masuk wilayah kalian tanpa izin." Pria itu menundukkan badannya tanda meminta maaf. Setelah itu dia melanjutkan perjalanannya tapi Accretia Warrior itu seolah tidak terima.
"Heh, kau pikir minta maaf saja sudah cukup?" Accretia yang kemungkinan berjob Punisher menjentikkan jarinya. Tak lama beberapa unit lain mengepung pria itu tanpa memberikan jalan lewat. Melihat situasi tersebut, pria itu bukannya takut justru malah tersenyum.
"Mau ribut? Silahkan. Aku Santorini memberikan kalian hak untuk duel melawanku. Ayo kalian boleh serang aku dari mana saja." Tantangnya.
"Cih dasar Cora Sombong. Akan kujadikan kau persembahan untuk kekaisaran. THRUST!" Sang Punisher langsung menyerang Santorini dengan skill Thrust. Tapi Santorini menghindarinya dengan melompati Punisher dan mendarat dibelakangnya. Kemudian dia menarik sebuah pedang emas bermata tunggal yang tersimpan dipinggangnya.
"Illusion Stab!" Santorini menusuk sang Punisher tepat dilehernya dan unit itu langsung meledak.
"COHORT GIUSEPPE! SIALAN BERANINYA KAU MEMBUNUH KETUA KAMI. TERIMA INI TARGET FIX!" tidak terima atas kematian ketuanya, seorang Unit Striker menembakkan Launchernya ke arah Santorini. Namun roket tersebut meleset dari target. Dan dengan keceptan tinggi Santorini sudah berdiri di depan Striker.
"Ho, jadi tadi itu ketua kalian, ya? Kuberitahu satu hal, jadi tentara itu jangan sombong. Baru segitu saja sudah meledak apalagi jika aku bersungguh-sungguh? Apa pantas unit seperti itu jadi pemimpin!?"
Belum sempat membalas perkataan, Santorini menusukkan pedangnya ke kepala Striker. Sang Striker pun bernasib sama dengan ketuanya. Hancur tak berbekas.
Melihat sudah 2 unit yang tumbang, Accretia yang lain pun menjadi marah. Mereka secara beramai-ramai menyerang Santorini. Tapi Santorini benar-benar lincah. Semua serangan berhasil dihindarinya hingga membuat mereka kesal. Mungkin ini pertama kalinya mereka mendapati lawan yang sangat sudah untuk dibunuh.
"MAGNETIC WEB!" Akhirnya salah satu unit berhasil mengikat Santorini dengan jaring magnetik milik Punisher. Striker yang lain tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Ia langsung memasang siege mode dan bersiap melakukan penghabisan.
"DOOM BLAST!"
NGUING! DOOM! DOOM! DOOM!
Tapi sesuatu yang tak disangka-sangka malah terjadi. Santorini justru menangkis roket-roket itu dengan pedangnya. Pedang emas yang tipis itu ternyata sangat kuat hingga sanggup menghancurkan roket Doom Blast. Santorini pun melakukan serangan balik dengan melempar pedangnya ke arah si penembak. Pedang itu pun sukses menancap diperut lawan hingga membuatnya mati.
"A..apa? ti.. tidak mungkin! Tidak mungkin dia bisa menghancurkan Doom dengan satu ayunan pedang!?"
"Kombinasi serangan kalian cukup lumayan untuk ukuran amatiran. Tapi itu masih belum cukup untuk mengalahkanku." Selesai berkata Santorini mengeluarkan pedang lainnya dari inventory miliknya. Pedangnya sama-sama bermata tunggal namun kali ini pedang tersebut berwarna biru berlian dengan berhiaskan sebuah core dipangkal bilah pedang. Melihatnya saja cukup membuat siapa saja jadi merinding.
"Ah, sebelunmya kukenalkan dulu pedangku ini. Pedang ini bernama Mithril Katana of Deathblow. Kalau dibangsa kalian tingkatannya sama dengan senjata tipe C. Nah, bersiaplah kalian untuk mati." Santorini mengaktifkan buff elemen api lewat tangan kirinya. Lalu buff elemen api itu ia usapkan ke pedangnya. Aura api membuat pedang itu seperti terbakar. Siap untuk membakar musuh yang menghalanginya.
Melihat lawannya begitu kuat membuat pasukan Accretia menjadi cemas. Perlahan mereka melangkah mundur untuk kabur.
"Mau kabur? Sayangnya kalian tidak bisa!" Kecepatan Santorini memang menakjubkan. Dengan cepat ia sudah berada ditengah-tengah pasukan Accretia.
"ASSASSINATE!"
SRING! SRING! SRING! DUARR! DUARR!
Serangan kilat dari segala arah sukses menghancurkan sisa pasukan Accertia. Sejenak tanah Lures berubah menjadi lautan api. Siang ini pukul 13.00 Tanah Lures menjadi saksi bisu pembataian Accretia oleh pria misterius bernama Santorini. Ia pun pergi setelah melakukan aksi genosida.
.
.
.
Son, Park, dan Yusuke terlihat tidak percaya dengan sesuatu yang terjadi didepan mereka. Bagaimana mungkin bangsa Accretia yang dikenal tidak berperikemanusiaan bisa begitu mudahnya dibantai oleh satu orang saja? Tapi bukan itu saja yang membuat mereka terperangah. Sosok pria misterius bisa dipastikan bukan bangsa Cora.
"Bukan! Tidak salah lagi kalau dia bukan Cora. Armor dan senjata itu tidak pernah ada yang punya barang satu orang pun. Bahkan jurus-jurus mematikannya tadi benar-benar diluar akal sehat. Bagaimana mungkin skill warrior bisa dikombinasikan dengan force? Jelas-jelas kalau dia itu pasti alien." Gumam Park sambil dilanda ketakutan.
"Kayanya mending kita pulang aja, deh. Keburu nanti dia lihat kita." Usul Yusuke tidak kalah panik. Tapi saat mereka mau membalikkan badan, tanpa disangka Santorini berjalan di jalur persembunyian mereka. Sudah bisa ditebak pasti Santorini melihat mereka bertiga.
Son, Park, Yusuke, mereka bertiga begitu kaget melihat sosok malaikat maut berada didepan mereka. Tapi Santorini seperti tidak melihat apa-apa. Hal itu terbukti ketika dia lewat begitu saja. Namun setelah berjalan melewati mereka, Santorini nampak berhenti. Dipegangnya pedang dipinggangnya. Lalu ia menarik keluar pedang birunya itu dengan diiringi suara pedang yang bergesekkan dengan sarung pedang. Son dan dua temannya yang mendengar suara tersebut panik bukan main. Wajh mereka memucat seolah kematian sebentar lagi akan menghampiri mereka.
Tapi ketika pedang tersebut baru keluar setengahnya, Santorini mengurungkan niatnya. Dia masukkan lagi pedang itu kedalam sarungnya. Setelah itu dia melanjutkan perjalanannya entah kemana. Son. Cs hanya bisa terduduk lemas atas kejadian tadi. Entah ungkapan apa yang pantas diucapkan untuk keadaan ini. Mereka terdiam beberapa lama.
"Oi!" Son memulai obrolan tanpa melihat kedua temannya.
"Kenapa?" kata Park.
"Tadi itu ngeri banget. Aku yakin tadinya dia mau bunuh kita."
"Tapi kayanya dia gak tertarik, deh. Buktinya dia lewat gitu aja." Ujar Park sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari inventorynya. Lalu dia menyalakan api dan mulai menghisap sebatang rokok. "Yah, kayanya hari ini kita beruntung."
Sementara Yusuke menghampiri tempat pembantaian tadi. Tak lama dia kembali sambil membawa sesuatu. Son yang penasaran bertanya "Yusuke, apa yang kau bawa itu."
"Aku lihat orang itu tidak mengambil pedang yang dilemparnya ke salah satu Accretia. Jadi karena iseng aku kesana dan menemukan pedang ini." Jelas Yusuke. Park mengeluarkan Scanner untuk mengidentifikasi pedang tersebut. Di alat tersebut muncul tulisan yang berisi nama senjata tersebut. SigMetal Katana of Fatal.
"Namanya katana tapi berbeda dengan dengan Katana yang selama ini kukenal. Bentuknya juga lebih panjang. Cukup cocok untuk digunakan dengan perisai ditambah bobotnya juga cukup ringan." Ujar Park sambil memasukkan pedang tersebut ke inventorynya. "Kebetulan aku punya kenalan seorang Specialist. Mungkin dia tahu tentang pedang ini." Tambahnya.
"Setelah ini kita mau bagaimana?" tanya Yusuke.
"Secepatnya kita harus pulang. Kita harus cari tahu tentang pedang tadi. Belum lagi aku penasaran dengan pria tadi. Kalau tidak salah tadi dia menyebutkan namanya Santorini." Ucapan Park tadi disetujui kedua kawannya. Kini mereka berjalan pulang ke Terminal Cora. Tentunya mereka berhati-hati kalau-kalau mereka bertemu pria tadi lagi.
Dunia memang penuh misteri. Planet Novus belum semuanya tereksplorasi. Masih banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Mungkin saja selain ketiga bangsa yang menghuni planet ini, ditempat yang tidak terjamah masih ada bangsa lain yang belum menampakkan diri. Apapun itu semuanya masih sangat gelap
To Be Continued
Sebelumnya saya mohon maaf karena mengingkari janji. Semula chapter ini dibuat sebagai chapter terakhir. Tapi kalau dibuat pasti jadinya bakalan sangat panjang. Maka setelah melewati diskusi panjang chapter kedua ini dibuat masih bersambung. Untuk kedepannya akan diusahakan chapter ketiga adalah chapter terakhir.
Mengenai pertanyaan pakde mie rebus, kenapa dari sekian banyak karakter malah yang dipilih adalah Son Lee Hon? Padahal karakter ini sangat jarang dimunculkan? Alasan saya yang pertama adalah karena semula ini Cuma iseng aja. Bagi saya membuat background lore tidak selalu harus dari karakter pendamping. Mungkin karakter yang Cuma disebutkan namanya aja bukan tidak mungkin suatu hari bakal punya strorynya sendiri. Dan yang kedua karena Son dan kedua temannya adalah karakter yang pertama kali berkontak dengan bangsa keempat. Makanya story ini dibuat.
Lalu pertanyaan dari ShapaN, apakah ini merupakan penjabaran dari karakter dari fanfic lain? Jawabannya adalah iya. Karakter Son Lee Hon muncul di Fanfic Under Attack : The Dranish (Fanfic ini sudah mendapat izin dari senior mie rebus soal kesamaan semesta, jadi fanfic Under Attack masih satu semesta dengan fanfic Lake kecuali Under Attack : The Crissis yang beda semesta). Debut penuhnya ada di Chapter 15 sedang debut awalnya di Chapter 8. Jadi wajar anda merasa masih kurang baca.
Yah, itulah sedikit penjelasan dari Author. Saya sendiri merasa fanfic ini masih kurang bagus. Jadi yang udah bela-belain baca saya ucapkan banyak-banyak terima kasih.
Regards,
Slask Wizarski & Lechzna Szczecin
