[ReMake] A Romantic Story About Serena by Shanty Agatha

.

Cast : Wu Yifan , Huang Zitao , and others.

.

Rated : M

.

Disclaimer : alur cerita ini akan sama persis dengan aslinya yaitu A Romantic Story About Serena by Shanty Agatha.

.

.

.

.

A/N : Kemarin ada yangsaranin untuk tokoh lain, namanya juga diganti,karena biar nyesuain sama main cast nya. Nah setelah aku baca ulang, iya, agak ga nyambung, jadinya aku putusin buat ganti nama pemainnya.

Pak Edwin : Tuan Yichen

Suster Ana : Suster Likun.

Dan, Makasih sarannya,peachzizi (:

Oh ya,

Kalian gaperlu takut salah kata atau apapun buat nge kritik atau kasih saran. Gue ga gigit kok serius. Gue malah seneng banget kalo ada yang kasih saran ataupun kritik, tapi sifatnya ngebangun bukan ngejatuhin.

.

.

.

.

.

Kenapa dia harus repot-repot menyuruhku menemuinya sendiri hanya untuk mengambil payung? Dia kan bisa menyuruh office boy untuk mengembalikannya, atau jika dia tak sempat, dia kan bisa menyuruh sekertarisnya untuk mengurus payung itu. Apalagi Zitao tahu bosnya itu sangat sibuk,

Gosip yang terdengar mengatakan adalah workaholic sejati yang menghabiskan waktu 20 jam sehari untuk bekerja.

Atau, kenapa tidak dia buang saja payung itu? Toh aku juga tak akan berani menagihnya, pikir Zitao sambil mengerutkan kening di dalam lift yang mengarah ke lantai 14, lantai khusus CEO mereka. Ini kali kedua dia ke ruangan ini, sungguh tak disangka, dua tahun bekerja disini dia hampir tak pernah bertatapan langsung dengan sang pemimpin tertinggi yang diagung-agungkan itu, tetapi sekarang, dua hari berturut-turut dia dipanggil menghadap Mr. Yifan.

Lift terbuka dan dia dihadapkan pada ruang tunggu yang nyaman dan mewah. Sekertaris yang sama, wanita setengah baya yang terlihat kaku dan efisien itu menatap Zitao dengan skeptis, sepertinya dia juga bertanya-tanya kenapa pegawai rendahan macam ini sampai dua kali dipanggil menghadap langsung ke sang CEO, padahal setahunya hanya berkomunikasi dengan anggota direksi, manajer dan kepala bagian unit perusahaannya, itupun lewat meeting resmi perusahaan dan melalui seleksi janji temu yang rumit.

"Mr. Yifan sudah ada di dalam, beliau sudah menunggu anda, saya sudah menginformasikan kedatangan anda lewat intercom dan beliau mempersilahkan anda langsung masuk", gumam sekertaris itu dingin.

.

.

.

Yifan baru saja menyelesaikan meeting penting dan dengan segera kembali ke ruangannya. Mengingat alasan yang membuat dia begitu terburu-buru kembali, membuatnya mengerutkan dahi, dia sudah menelpon atasan Zitao tadi pagi, menjelaskan alasan keterlambatan gadis itu. Dan atasan Zitao begitu kegirangan karena teleponnya, hingga seolah-olah tak peduli lagi kenapa Zitao sampai terlambat.

Yah mungkin setidaknya gadis itu akan berterimakasih padaku,...atau malah jengkel? Yifan tersenyum sinis, menilik sifat gadis itu, sepertinya Zitao akan tambah jengkel dengannya.

Setelah dengan serius mempelajari berkas-berkas yang diantarkan bagian personalia padanya, Yifan termenung.

Gadis itu tidak bohong, kedua orang tuanya memang telah meninggal, dan alamat tempat tinggalnya memang terdaftar sebagai rumah kost, bahkan gadis itu tidak mengisi nama saudara atau kerabat dekat yang bisa dihubungi,

'Saya tinggal sendirian', begitu ucapnya tadi. Apakah gadis itu benar-benar sebatang kara seperti ceritanya. Kalau dia tanpa keluarga dan hanya tinggal di kamar kost, untuk apa dia meminjam uang sebesar 40 juta ke perusahaan yang harus dilunasi dengan memotong gajinya selama bertahun-tahun?

Apakah dia sakit? Memikirkan kemungkinan itu, Dada Yifan langsung merasa nyeri,

Tidak! Putusnya setelah termenung sejenak, gadis itu sehat, kalau tidak dia pasti tidak akan lolos seleksi test kesehatan yang sangat ketat untuk masuk ke perusahaan ini.

Kalau begitu, dia pasti gadis yang suka menghambur-hamburkan uang, Yifan menyimpulkan. Yeah, segalanya akan menjadi lebih mudah. Yifan rela memberikan uang sebanyak yang Zitao mau asal Zitao mau melayaninya.

Ia sangat kaya, dan memiliki gadis seperti Zitao yang benar-benar memacu hasratnya memang layak diberi sedikit pengorbanan.

Lamunannya terhenti ketika intercom berbunyi memberitahukan kedatangan Zitao.

Yifan menunggu penuh antisipasi, seperti seekor singa yang menanti mangsanya, Dia punya penawaran bagus, dan jika gadis itu seperti yang diduganya, Zitao pasti tak akan mampu menolaknya.

.

.

.

"Kata Tuan Yichen anda memanggil saya untuk mengambil payung saya yang tadi tertinggal", gumam Zitao sopan ketika Yifan mempersilahkannya duduk.

Yifan tidak menjawab hingga Zitao menatap Yifan bingung, lelaki itu sedang menatapnya dalam seolah sedang berkonsentrasi pada sesuatu tetapi pikirannya seolah tak ada di situ.

"Mr. Yifan?",

Lelaki itu mengerjap.

"Oh! Payung" gumamnya seolah baru teringat akan hal itu, "ada di meja sekertarisku, kau bisa memintanya padanya",

Lalu kenapa sang CEO ini, yang katanya sangat sibuk menyuruhku menghadapnya? Ziyao mengerutkan kening,

Ketika Mr. Yifan sepertinya tidak akan berkata apa-apa lagi, Zitao segera bangkit dari kursinya,

"Kalau begitu saya akan segera mengambilnya, terimakasih sudah merepotkan anda, permisi Mr. Yifan", gumamnya setengah berbalik,

"Tunggu Zitao",

Suara lelaki itu terdengar lembut, dan dengan enggan Zitao membalikkan tubuh,

Lelaki itu ternyata sudah bangkit dari kursinya, memutari meja dan berdiri berhadap-hadapan dengan Zitao,

"Aku meralat ucapanku tadi pagi",gumamnya misterius.

Zitao mengerutkan keningnya,

"Tentang...?"

"Tentang kau bukan tipeku dan aku tidak mungkin tertarik padamu, sebenarnya selama ini aku memperhatikanmu karena tak tahu kenapa, kau membuatku sangat bergairah",

Mulut Zitao ternganga dan dia tak mampu berkata-kata, pernyataan itu begitu mengagetkan bagaikan petir di siang bolong.

"Aku ingin kau menjadi kekasihku,ah,bukan kekasih,apa ya istilahnya di Beijing? Wanita simpanan?",

Yifan tampak sangat bersemangat dengan tawarannya sehingga tidak memperhatikan ekspresi shock Zitao.

"Kau hanya perlu melayaniku di ranjang, memuaskan aku", Suaranya menjadi rendah dan merayu, "Dan kau tak perlu kuatir akan rugi, kau tahu aku kekasih yang murah hati, aku akan membelikanmu apartemen mewah sehingga kau bisa pindah dari tempat kost kecilmu itu, dengan begitu aku bisa leluasa mengunjungimu setiap malam, dan aku akan menanggung biaya kehidupanmu, apapun yang kau inginkan akan kuberikan, mobil mewah, perhiasan mahal ,baju-baju rancangan disainer terkenal, perawatan di salon terkemuka, aku tahu kau menyukainya Zitao karena gaya hidupmu sepertinya sangat mahal sampai-sampai kau harus berhutang puluhan juta pada perusahaan. Bahkan mungkin kalau kau bisa menyenangkanku, hutangmu itu akan kulunasi. Bagaimana Zitao? Aku akan memenuhi semua permintaanmu dan kau hanya harus ada saat aku membutuhkanmu",

Ketika Mr. Yifan akhirnya mengakhiri pidatonya, Zitao sudah begitu pucat sampai tak bisa berkata-kata. Tawaran itu memang amat sangat menggoda, apabila ditawarkan pada pelacur atau wanita yang tidak punya harga diri! tapi lelaki itu menawarkan kepadanya?! Kepadanya! Berani-Beraninya lelaki itu! Berani-beraninya dia merendahkannya sampai seperti ini!.

"Kenapa kau diam saja? Kau tak perlu sok malu-malu atau sok suci, aku tahu wanita seperti apa kamu dibalik sikapmu yang sok menjunjung moralitas..."

PLAK!

Tamparan itu begitu keras sampai kepala Yifan terlempar ke belakang, suara tamparan itu menggema di ruangan yang luas itu,

"Berani-beraninya anda!" napas Zitao terengah-engah,

"Berani-beraninya anda menawarkan sesuatu yang begitu menjijikkan kepada saya! Anda pikir saya wanita macam apa? Anda benar-benar sesuai dengan apa yang saya pikirkan, lelaki tak bermoral, bejat, menjijikkan dan-", suara Zitao terhenti melihat ekspresi Yifan.

"Menjijikkan katamu?", jika tadi Yifan tak marah karena tamparan Zitao, sekarang dia benar-benar marah,"jika menurutmu aku menjijikkan...",

Lelaki itu mengepalkan kedua tangannya sampai buku-buku jarinya memutih, "Jika menurutmu aku menjijikkan..."

Entah bagaimana Zitao mengetahui kapan kendali diri lelaki itu lepas, dengan panik dan takut Zitao setengah berlari menuju pintu,

Tapi terlambat, Zitao bergerak secepat kilat menerjangnya, Zitao berhasil membuka pintu sedikit ketika dengan kasar Yifan mendorongnya kembali tertutup.

Lelaki itu menghimpitnya dipintu, desah napas mereka bersahutan, yang satu ketakutan, yang lain bergairah.

"Le-lepaskan saya! Atau saya akan berteriak dan menuntut anda atas pelecehan..."

Yifan tak peduli, lagipula ruangan itu kedap suara.

Dengan gerakan impulsif, dibaliknya tubuh Zitao , bibir Yifan mencari-cari bibir Zitao, tubuhnya makin menekan Zitao ke pintu,

Zitao menggelengkan kepala menghindar dengan membabi buta hingga bibir Zitao hanya menempel di rahangnya, dia mencoba meronta melepaskan diri tapi tubuh Yifan menghimpitnya ke pintu dan tangannya mencengkeram kedua tangan Zitao di kiri dan kanan kepalanya.

Mereka bergulat beberapa saat, tetapi Yifan tak mau menyerah dari perlawanan Zitao. Sampai kemudian ketika Zitao membuka mulut untuk berteriak, Yifan memagut bibir itu.

Ciuman itu dari awal sudah sangat sensual karena bibir mereka terbuka, Yifan melumat bibir Zitao seolah sudah tak ada lagi hari esok. Mulutnya sangat liar dan lapar mengecap, melumat dan menikmati bibir Zitao yang selembut madu.

Zitao terpana merasakan ciuman yang sangat intim ini, yang baru pertama kali dirasakannya. Dan hal itu memberi kesempatan Yifan untuk mencium semakin dalam, seluruh tubuhnya menempel ditubuh Zitao, makin mendorong Zitao ke pintu, setelah menjelajahi dan mencicipi seluruh rasa bibir Zitao, lidah Zitao mulai mencecap dan mencoba-coba mulai membelai masuk ke dalam bibir Zitao.

Zitao mengerang mencoba menolak, dia tidak pernah berciuman seperti itu! Tapi Zitao begitu lembut dan begitu lidahnya masuk ciumannya menjadi makin bergairah,lidahnya menjelajah masuk, menikmati seluruh rasa dan manisnya mulut Zitao, Yifan mengerang dalam ciumannya, oh ya Tuhan nikmat sekali! Erangnya dalam hati, dan gairahnya naik begitu cepat bagaikan roket, Gadis itu terasa begitu nikmat, begitu manis dan menggairahkan, sekujur tubuh Yifan menginginkan gadis itu, sangat menginginkannya! Tangannya merayap naik dan menyelinap di antara jari Zitao sehingga Jari-jari mereka saling bertautan, Yifan mencengkeramnya erat-erat seolah itu pegangannya untuk hidup.

Sejenak Zitao merasakan matanya gelap, semua ini begitu aneh dan mengejutkan, dan ciuman ini begitu asing dan tak terduga, rasa ciuman ini...Ya Tuhan , Sehun tidak pernah menciumnya dengan cara sekurang ajar ini, Sehun...Ya Tuhan!

Zitao mengerahkan segenap kekuatan dan seluruh kendali dirinya untuk melepaskan bibirnya dari pagutan Yifan, Mulut Yifan yang lapar masih mencari-cari, masih memagutnya sekali lagi, Zitao mendorongnya kuat kuat hingga bibir mereka terlepas.

Suasana Ruangan itu begitu hening, hanya desah napas memburu bersahutan, Zitao bahkan tak tahu itu napas siapa. Yifan masih mencengkeram kedua tangannya di sisi kepalanya, Bibirnya begitu dekat dengan bibir Zitao, hingga napasnya yang panas menyatu dengan napas Zitao. Mata Yifan tampak berkabut, tapi ketika menatap mata Zitao sinarnya begitu tajam,

"Kau menikmatinya kan? Aku merasakan dari bibirmu yang melembut ketika lidahku melumatmu, kau bisa berbohong dengan kata-kata, tapi tubuhmu tak bisa berbohong...",

Dengan tiba-tiba Yifan mendorong Yifan hingga mundur beberapa langkah, ditatapnya Yifan dengan mata marah menyala-nyala,

"Dasar bajingan! kau bermimpi kalau aku menginginkanmu, kau tak akan pernah bisa menyentuh tubuhku lagi! kau begitu menjijikkan!"

Suara Zitao semakin serak karena menahan tangis...jangan...jangan! Kau tak boleh menangis Zitao! Nanti dia akan semakin merendahkanmu! Desisnya dalam hati.

Yifan memandang Zitao dengan pandangan tajam merendahkan,

"Saat ini kau boleh menghina dan menolakku, tapi aku yakin, nanti kau akan datang padaku, merangkak dan memohon agar aku mau menerimamu."

"Lebih baik aku mati!"

Zitao setengah berteriak ketika buru-buru melangkah keluar dan membanting pintu di belakangnya.

Sang sekertaris memandangnya sambil mengerutkan kening, dan Zitao yakin saat itu penampilannya patut dipertanyakan, rambutnya kusut masai dan mukanya merah padam dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.

Tapi Zitao tak peduli lagi, yang dia inginkan hanya menjauh secepatnya dari tempat terkutuk itu! Dengan langkah berderap, Zitao memasuki lift meninggalkan ruangan itu.

.

.

.

Yifan mengusap mulutnya yang terasa panas, dia merasa sedikit bodoh, karena bertindak begitu impulsif di kantor, di mana banyak orang bisa menyebarkan gosip.

Yifan menarik napas dalam-dalam dan berusaha menghilangkan getaran di tubuhnya. Ciuman tadi terasa begitu nikmat, sudah lama sekali Yifan tidak merasakan ciuman yang begitu membakar gairahnya sampai ke tulang sunsum.

Hanya sebuah ciuman dan dia terbakar, Yifan mengernyit, tidak begitu menyukai kenyataan itu. Selama ini dia dikenal sebagai kekasih yang sangat ahli di ranjang, selalu mampu mengendalikan pasangannya dan tidak pernah lepas kendali.

Dan sekarang, dia lepas kendali, semudah itu. Titik.

Masih mengernyit Yifan menghempaskan tubuhnya ke kursi.

Tapi jika gadis itu seperti yang kupikirkan, kenapa dia semarah itu? Seharusnya gadis itu bahagia bukan kepalang atas tawaran yang dia berikan. Apakah dia salah? Dan apakah dia telah menyinggung gadis itu?

Tidak! Dengan cepat Yifan menyingkirkan keragu-raguannya. Semua gadis sama saja, Yifan tidak pernah salah, Beri gadis-gadis itu kemewahan dan dia akan takluk padamu.

Mungkin tawarannya masih kurang bagi Zitao, Yifan mungkin harus menambahkan akomodasi penuh jalan-jalan keliling eropa misalnya.

Atau mungkin, Zitao hanya mencoba jual mahal. Wajah Yifan menggelap mengingat kata hinaan Zitao barusan, Menjijikkan katanya?

.

.

.

Suasana hati Zitao benar-benar buruk hari itu. Kemarahan, rasa terhina, kebencian bahkan kesedihan karena dia begitu tidak berdaya campur aduk dalam hatinya. Zitao merasa tubuhnya begitu kotor akibat pelecehan yang dilakukan Mr. Yifan tadi siang, dan dia masih menahan tangis ketika memasuki ruang perawatan intensif di Rumah Sakit itu, yang sudah sangat familiar dengannya

Apapun yang ada dipikirannya tadi langsung buyar begitu melihat Suster Likun menyongsongnya dengan wajah pucat pasi.

"Kemana saja kau nak ?! aku mencoba menghubungimu sejak dua jam tadi, tapi kau tak bisa dihubungi!"

Wajah Zitao langsung berubah seputih kapas, secepat kilat dia berlari menelusuri lorong menuju kamar tempat Sehun dirawat.

Suster Likun tergopoh-gopoh berlari mengikuti di belakangnya.

Zitao terpaku di depan ruangan Sehun dengan napas terengah-engah, dokter dan perawat masih ada di ruangan itu, sedang berusaha menstabilkan kondisi Sehun,

Suster Likun tiba dibelakang Zitao dan menyentuh pundaknya lembut, mencoba menenangkannya,

"Dia sudah tidak apa-apa Zitao, kondisinya sudah stabil. Tadi dia mengalami serangan lagi tapi dokter sudah menanganinya dengan cepat, kenapa kau tadi tidak bisa dihubungi? Aku mencoba menghubungimu saat Sehun dalam kondisi paling kritis, saat itu kau pasti ingin bersamanya",

Air mata mengalir di pipi Zitao. Tadi baterainya habis dan karena sibuk dengan pikirannya, dia tak sempat mengisinya. Astaga, betapa bodohnya dia. Sehun kelihatan stabil dan baik-baik saja dan Zitao mulai lengah, melupakan bahwa serangan bisa terjadi setiap saat. Ya Tuhan, seandainya tadi Sehun...

Zitao memejamkan mata rapat-rapat, air matanya mengalir semakin deras, dia tak berani membayangkan semua itu.

Suster Likun memeluknya dengan penuh keibuan sementara Zitao menumpahkan air matanya.

Ketika dokter datang, tatapan hati-hatinya malah membuat hati Zitao makin cemas,

"Bagaimana kondisinya dokter?", suara Zitao gemetar, ketakutan.

Dokter itu menarik napas panjang.

"Sehun pria yang kuat, sungguh suatu keajaiban dia mampu bertahan sampai sekarang, tetapi kecelakaan itu telah merusak organ dalamnya. Kami berusaha memperbaikinya dengan obat-obatan dan penanganan medis terbaik, tapi hal itu berakibat pada ginjalnya, kami harus mengoperasi ginjalnya Zitao".

"Mengoperasi ginjalnya?" Zitao mengulang pernyataan dokter itu dengan histeris, "Mengoperasi ginjalnya?! Ya Tuhan!".

Tubuh Zitao menjadi lunglai, untung suster Likun menyangganya, air mata mengalir semakin deras dipipinya,

"Apakah... Apakah tidak ada cara lain ?"

Dokter itu menarik napas prihatin.

"Sehun dalam kondisi yang tidak lazim, dia dalam keadaan koma, dan apapun tindakan medis yang kami lakukan padanya memiliki resiko tinggi, Tapi akan lebih beresiko lagi jika kita tidak melakukan operasi itu, operasi itu harus dilakukan sesegera mungkin, Zitao"

Zitao menarik napas dalam dalam, dan menatap dokter itu dengan penuh tekad.

"Baik dokter, lakukan operasi itu, apapun agar Sehun selamat", suaranya mulai gemetar, "Berapa biaya yang harus saya siapkan untuk melakukan operasi tersebut dok?"

Seluruh tubuh Zitao menegang, tangannya terkepal seolah olah menanti hukuman.

Dokter itu menatapnya sedih, rasa kasihan tampak jelas di matanya ketika menjawab,

"Untuk prosedur operasi ginjal dan perawatan atas kemungkinan terjadi komplikasi lainnya, kau setidaknya harus memiliki Tiga ratus Juta, Zitao"

.

.

.

Hujan turun lagi dengan derasnya, bahkan payung itupun tak bisa melindungi dirinya dari percikan air hujan. Tapi Zitao tak peduli.

Dimana Dia!?

Zitao menatap sekeliling parkiran itu dengan panik, hari sudah gelap dan hampir tidak ada orang di parkiran itu, apalagi hujan turun dengan begitu derasnya sehingga tak akan ada orang yang begitu bodohnya berada diluar ruangan.

Kecuali dirinya sendiri tentunya

Ya Tuhan ... Dimana Dia?!

Zitao menatap mobil mercedes mewah yang masih terparkir di tempat parkir direksi yang tak kalah mewah dengan atap yang luas dan posisi yang lebih tinggi sehingga terlindung dari derasnya hujan.

Lelaki itu pasti belum pulang, mobilnya masih terparkir dan semua orang bilang bahwa bos yang satu itu baru pulang setelah lewat jam 8 malam, dan lebih malam lagi pada hari Jumat karena besoknya akhir pekan.

Sekarang hari jumat.

Dan Zitao menunggu dengan cemas, bagaimana jika lelaki itu sebenarnya sudah pulang? Jika bukan hari ini, akal sehatnya akan kembali dan dia akan kehilangan keberanian.

Berbagai pikiran buruk berkelebat hingga Zitao tidak memperhatikan derasnya hujan yang mulai membasahi tempat-tempat yang tidak terlindung oleh payung kecilnya,

Lalu pintu lobby itu terbuka, dan sosok yang ditunggu-tunggu Zitao melangkah keluar.

.

.

.

Seorang satpam membawa payung hitam besar dan memayunginya ketika Yifan melangkah menyeberangi jalan kecil yang membelah taman menuju parkiran direksi,

Hujan deras membuatnya tidak menyadari kehadiran Ziyak. Tetapi ketika jarak mereka semakin dekat, Yifan menyadari bahwa Zitaolah yang berdiri dengan payung mungil ditengah hujan menunggunya, dan mulutnya menegang,

"Wah, ada apa gerangan sampai anda menyempatkan diri menunggu saya disini?",

Sebenarnya Yifan sangat geram, tetapi dia menahan diri karena kehadiran satpam yang memayunginya.

"Ssaa-sa-saya ingin bicara dengan anda"

Yifan mengernyit menyadari suara Zitao yang gemetar dan wajahnya yang pucat pasi, apakah gadis itu kedinginan ? berapa lama gadis itu menunggunya di luar sini?

TIba-tiba dorongan posesif membuatnya ingin meraih gadis itu, memeluknya dan menyalurkan kehangatan tubuhnya.

Yifan melangkah ke bawah atap tempat parkir direksi yang menaunginya dari hujan, lalu mengisyaratkan satpam itu untuk meninggalkan mereka.

Setelah Satpam itu jauh, Yifanmenatap Zitao dengan gusar,

"Demi Tuhan! tidak bisakah kau kemari berlindung di bawah atap ini? Payung itu tak berguna, kau hampir basah kuyup!",

Sejenak Zitao ragu, tapi Yifan benar, tubuhnya mulai basah kuyup karena hujan deras itu disertai tiupan angin kencang.

Dengan hati-hati, dia melangkah ke bawah atap yang sama dengan Yifan..

Lelaki itu menatapnya tajam, sama sekali tidak menyembunyikan kejengkelannya.

"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku ada undangan makan malam, waktuku tak banyak", gumamnya sombong.

Zitao menatap Yifan penuh tekad meski gemetaran,

"Sa-saya menawarkan diri kepada anda, anda boleh memiliki saya semau anda".

Yifan menyipitkan mata, menahan gumpalan kekecewaan yang menyeruak di hatinya karena semudah dan secepat itu gadis ini menyerahkan diri kepadanya.

"Kau pikir aku masih berminat padamu?", gumamnya mengejek

Wajah Zitao pucat pasi, kata-kata Yifan bagaikan menamparnya keras. tapi dia bertahan, Demi Sehun, tekadnya dalam hati

"Anda boleh memiliki saya sepenuhnya, saya hanya meminta pembayaran di muka, setelah itu saya tak akan meminta apa-apa lagi",

"Memangnya kau terlibat hutang judi atau apa?!",

Yifan membentak keras, gusar karena sikap penuh tekad Zitao, dan gusar atas godaan dalam dirinya yang tak tertahankan untuk langsung menerima tawaran gadis itu. Tapi ketika melihat Zitao hampir terlonjak kaget karena bentakannya, spontan Yifan melembut,

"Oke, Berapa?"

Zitao mengerjapkan matanya mendengar pertanyaan tiba-tiba itu

Yifan mendesah tak sabar,

"Cepat katakan berapa kau menjual dirimu, lalu aku akan menawar sebelum mencapai kesepakatan", dengan sengaja dia melirik jam tangannya seolah tak tertarik, "aku tak punya banyak waktu untukmu"

Zitao menelan ludah,

"Ti..Tiga ratus...juta.."

"Apa?", Yifan membelalakkan mata tak percaya.

"Tiga ratus juta", kali ini Zitao berhasil terdengar mantap.

Yifan mengernyit jijik,

"Kau bercanda?! Kau pikir kau pantas dihargai semahal itu?!",

"I..itu pembayaran lunas sepenuhnya, setelah itu anda memiliki saya dan saya tak akan meminta apapun lagi"

"Kau pikir aku bodoh atau apa?", desis Yifan, "Bagaimana aku bisa tahu kau tak akan mangkir dari perjanjian ini? Bagaimanapun melakukan pembayaran di muka itu beresiko"

"Kalau begitu anda bisa membuat surat perjanjian yang sah secara hukum untuk mengatur perjanjian ini",

Zitao mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan gugup, mulai merasa tidak nyaman dengan situasi ini, mereka mengobrolkan penjualan harga dirinya seolah olah mengobrolkan penjualan barang.

Yifan terdiam, tampak menimang-nimang usulan Zitao, lalu wajahnya mengeras.

"Tidak, ini konyol, aku sudah tak tertarik, lagipula...", ia memandang Zitao dengan tatapan menghina, "Baru tadi siang kau menolakku mentah-mentah dan aku berkata kau pasti akan merangkak memintaku menerimamu, sekarang kau hampir bisa disebut merangkak padaku dalam waktu kurang dari 24 jam",

Yifan hendak membalikkan badan meninggalkan Zitao,

"Lupakan saja, gadis yang terlalu murahan memadamkan gairahku"

Zitao langsung panik melihat Yifan membalikkan tubuh mengarah ke mobilnya, Tidak! Oh Tidak ! Laki-laki itu tak boleh menolaknya! Dialah satu-satunya harapan Zitao untuk menyelamatkan nyawa Sehun!

Dengan setengah histeris, Zitao melakukan tindakan yang pasti akan ditentang akal sehatnya jika dia dalam keadaan tak terdesak,

Ditariknya lengan Yifan, dan ketika lelaki itu menoleh dengan marah, Zitao berjinjit, merangkul kepala Yifan dan mencium bibirnya!

Tubuh Yifan kaku dengan rasa terkejut dan luar biasa, gadis itu dengan bibir yang lembut mencoba menciumnya dengan membabi-buta, jelas-jelas sangat tidak berpengalaman dan tanpa teknik ciuman yang memadai, tapi tetap saja gairah Yifan langsung meledak tak terkendali.

Dengan kasar dirangkulnya pinggang Zitao, setengah mengangkatnya agar merapat ke tubuhnya dan diciumnya bibir gadis itu habis-habisan.

Ciuman Yifan sangat ganas dan penuh gairah, dan gadis itu meskipun bersusah payah, berusaha mengimbanginya. Tubuh Yifan menegang dan terasa nyeri, begitu menginginkan Zitao. Dengan erangan yang parau, dia memperdalam ciumannya.

Entah berapa lama mereka berciuman di tempat parkir dengan diiringi derasnya hujan. Yifan benar-benar hanyut dalam kenikmatan dan dia menyadari kalau dia tak akan bisa menolak gadis ini.

Yifan baru melepaskan ciumannya ketika menyadari napas Zitao yang mulai megap-megap.

Mereka berdiri dengan rapat dan Yifan masih memeluk pinggang Zitao, setengah mengangkat Zitao, tangan gadis itu berpegangan pada pundaknya seolah-olah takut terjatuh.

Yifan menatap Zitao tajam, bibir gadis itu agak bengkak karena tekanan ciumannya yang panas dan habis-habisan, bibirnya pasti juga seperti itu karena rasa panas di bibirnya belum juga hilang,

Well cium saja aku dan aku akan terbakar, geram Yifan dalam hati,

Dengan kaku diturunkannya pinggang Zitao, lalu dilepaskan pegangannya,

"Baik, aku akan membayarmu, besok pagi kau akan mendapatkan uang itu beserta surat perjanjian yang harus kau tandatangani",

Yifann menatap Zitao geram, lalu membalikkan tubuhnya menuju mobilnya, "Masuk ke mobil! malam ini aku akan mencoba barang yang sudah kubeli".

TBC