Assassination Classroom belongs to Matsui Yuusei

Including characters, except OCs

Warning : College Life, OOCness, typo, gaje, nama kecil, dll

Read and Review

.

.

.

.

Enjoy Reading

Wow. Hebat sekali.

Karma tidak tahu dosa apa yang telah diperbuatnya di kehidupan sebelumnya, sehingga pada kehidupan saat ini ia memiliki keluarga nan absurd seperti.

Well, bukannya benci atau bagaimana, Karma sangat menyayangi mereka semua sungguh, tapi dia merasa hanya dirinya yang paling normal diantara semua keluarganya. Oh dan juga kepala keluarga Akabane, ayahnya.

Tapi, demi Kami-sama, bisakah sekali saja mereka bertingkah normal dihadapan gadis yang dibawanya ke rumah ini? Setelah tidak bertemu sekian tahun, dan baru bertemu secara tidak sengaja tadi sore pula, kesan aneh keluarganya sudah ditunjukkan ke Manami. Bagaimana gadis itu bisa suka ke Karma kalau sepupunya yang paling kecil saja sudah bertingkah ajaib seperti itu.

Pikiran Karma yang terakhir itu membuat rona merah tipis muncul di kulit pucatnya. Sepertinya hujan telah membuat konslet kerja otaknya.

"-ma-kun. Karma-kun", panggil Manami yang langsung menghentikan lamunan Karma.

Tuh kan, baru sampai rumah, malah melamun dia. Karma benar-benar ingin tidur sehabis ini. Keinginan muluk ia tahu, malah yang ada dia yang tepar karena acara ini.

"Karma".

Segera yang bersangkutan menoleh, mendapati ibunya telah membukakan pintu pagar selagi tersenyum kecil dan memandangnya penuh makna.

Karma mendengus. Benar-benar malam yang panjang.

.

.

.

Duduk di kursi meja makan yang berada ditengah keluarga laki-laki yang pernah kau suka itu tidak mudah. Apalagi kalau ini adalah saat pertama kalinya kemari kau sudah meminjam kamar mandi dan juga gaun, mengingat saat ini ada acara di rumah orang yang pernah kau suka, dari sang pemilik gaun, yaitu ibunya. Selain itu, kau harus menghindari supaya perasaan suka itu tidak datang lagi.

Terlebih lagi keluarga sang laki-laki terlihat sudah merestui hubungan mereka yang terlihat lebih dari sekedar teman.

Itu semua yang dirasakan Manami sekarang. Menjalin hubungan dengan Karma melebihi batas pertemanan saja belum pernah.

Bukan berarti dia tidak mau atau apa. Dia sangat mau, sungguh. Tapi yah, dia tidak ingin menghancurkan pertemanan mereka yang sudah terbentuk sedari SMP.

Tanpa disadari, pikirannya langsung melayang saat dirinya pertama kali masuk ke kediaman Akabane.

"Maaf menganggu", ucap Manami sambil melepas sepatu dan kaos kakinya yang cukup basah.

Pemandangan orang dengan rambut merah yang menoleh ke arahnya adalah yang pertama kali Manami lihat saat melewati ruang keluarga rumah Karma. Keluarga Karma mayoritas benar-benar memiliki rambut merah yang sangat menyala.

"Wuih ternyata benar. Karma pulang bawa pacar. Manis juga ternyata".

"Shuush. Jangan bicara keras-keras. Kamu tidak mau tahu apa yang Karma bisa perbuat kalau dia tahu pacarnya sampai diganggu orang lain".

"Eh tapi serius deh. Aku tidak keberatan kok kalau keponakanku punya anak yang semanis ibunya. Aaaa~ tidak sabar deh".

Ibunya? Maksudnya dirinya sendiri? Hei, dia sedang tidak hamil. Tanpa disadarinya, muncul gambaran kalau dirinya hamil anak Karma. Muka Manami benar-benar memerah sekali.

Sementara keluarga Karma yang lain sibuk kasak-kusuk, membahas bagaimana kelak anak Karma-Manami, ibu Karma datang dan langsung menggenggam tangan Manami dan berkata ke keluarganya, "Sudahlah kalian, biarkan gadis ini mandi serta berganti baju dulu. Ia sudah kelihatan menggigil sekali".

Ibu Karma adalah seorang pebisnis yang berumur 48 tahun, sewaktu berjalan Karma memberitahukan hal itu, memiliki warna rambut merah agak gelap yang sekarang telah digulung ke atas, serta memiliki mata berwarna kuning keemasan seperti anaknya.

Merasa diperhatikan oleh anaknya, atensi ibu Karma beralih ke belakangnya, "Ah ya, Karma. Kamu mandi dulu ya lalu pakai baju yang sudah Ibu siapkan di atas tempat tidurmu".

Karma mengangguk patuh, mengedipkan sebelah matanya ke Manami yang langsung menimbulkan jeritan tak karuan dari keluarga Karma yang sedari tadi memperhatikan mereka, baru menaiki tangga menuju kamarnya.

Ibu Karma, atau Nyonya Akabane yang masih tersenyum geli melihat kelakuan anaknya langsung membawa gadis beriris ungu itu ke kamar mandi yang terletak di ruang tengah, "Nah, Manami-chan mandi dan taruh baju yang basah dalam pengering, Tante akan membawakan baju untuk kau kenakan ya?".

Manami mengangguk, "Iya, Tante. T-Terima kasih sekali".

Manami lalu membuka bajunya dan melakukan apa yang sudah disuruh oleh Nyonya Akabane. Setelah itu, iapun bergegas mandi. Setelah mengerikan badannya dengan handuk kering, yang telah terletak di luar kamar mandi, iapun mengikuti Nyonya Akabane ke salah satu kamar tamu yang sudah terisi, terbukti dengan banyak tas berisi baju bergeletak di sisi ranjang.

"Ah, maafkan kamar yang berantakan ini ya. Saudari Tante memang suka heboh sendiri kalau ada pesta. Apalagi ini anaknya yang akan menikah dua bulan lagi". Manami hanya tersenyum maklum.

"Nah Manami-chan, ganti handuk itu dengan gaun ini ya. Nanti rambutmu Tante keringkan".

Gaun bergaya koktail yang terbuka dibagian punggung berwarna merah dengan aksen hitam hanya mampu menutupi kaki jenjang Manami yang putih sebatas 15 centi diatas lututnya. Nyonya Akabane melihat Manami yang terlihat tidak nyaman memakai gaun yang dipilihkannya tersenyum puas.

"Aaa~ Manami-chan cantik sekali. Karma memang tidak salah memilih calon istri", Nyonya Akabane mulai tersenyum menggoda Manami selagi mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut.

Manami hanya bisa tertawa gugup menanggapinya. "Kami tidak berpacaran kok Tante. Hanya berteman biasa".

"Hee~ masa? Tante kasih tau salah satu dari rahasia memalukan Karma ya. Nama lengkap Manami-chan itu Okuda Manami kan?", Manami mengangguk membenarkan, "Sewaktu SMA, saat Tante sedang di rumah, Tante sering masuk ke kamar Karma sambil membawa cemilan, tapi kali itu dia malah tertidur saat sedang mengerjakan PRnya. Ternyata dibukunya tertulis namamu dipojok bawah. Saat tidur juga Tante lihat dia sedang tersenyum. Mungkin memimpikan kamu. Aa~ enaknya masa muda", Nyonya Akabane tertawa kecil sambil mengingat masa lalu.

Manami menanggapinya dengan tertawa sambil menahan rona merahnya keluar.

'Oh dear, mungkinkah Karma..?'

Manami berusaha untuk menepis pemikiran itu jauh-jauh sembari menanggapi 'perbincangan' kecil dengan ibunya Karma.

"Nah, sudah selesai". Rambut Manami yang biasa dibiarkan lurus kini sudah disulap menjadi keriting gantung yang menutupi punggungnya yang tidak tertutupi gaun. Mereka lalu keluar bersama dan ikut duduk di meja makan seperti yang lain.

Kini, dirinya masih berbincang dengan Nyonya Akabane mengenai keluarga Karma dari pihak ayahnya.

Tak lama kemudian, Karma turun dari kamarnya yang berada di lantai atas dan langsung duduk di kursi yang bersampingan dengan Manami dalam balutan tuxedo, rambut merah yang disisir rapi, membuat ketampanan Karma kian bertambah hingga membuat Manami salah tingkah.

Ibunya Karma yang melihat itu, berbisik pelan di telinga kirinya, "Sudah melakukan apa saja dengan Karma, hm?".

Kini Manami tahu sikap usil Karma berasal darimana.

Karma, yang tak disangka, juga mendengar langsung mengecup pipi kanan Manami seraya memandangi ibunya. "Yang pasti, sudah lebih dari ini dong mam", ucapnya sambil menyeringai.

Tolong ingatkan Manami untuk tetap sadarkan diri selama acara berlangsung.

Tak jauh dari situ, hawa membunuh yang ditunjukkan kepada dirinya mulai menguar yang berasal dari gadis berambut merah berumur 5 tahun karena kejadian tadi membuat Manami bergidik. Dirinyapun akan berbuat demikian apabila berusia muda serta memiliki kakak sepupu yang tampan macam Karma.

Hari ini dia sudah berfikir kalau lelaki bermata merkuri itu tampan berapa kali sih?!

Berusaha tenang, Manami mulai bernapas dengan mulai menarik napasnya dalam-dalam. Lalu terdengar suara gelas koktail dipukul. Saatnya memulai acara.

.

.

.

"Terima kasih Tuhan, akhirnya selesai juga", gumam Karma setelah berada di bawah selimut.

Mereka telah berganti baju dan sedang bersiap untuk tidur. Manami yang disuruh untuk tidur dan memakai baju yang sudah kekecilan punya Karma oleh Nyonya Akabane yang tadi menyeringai senang dan bergumam sepanjang jalan, 'aa~ such a cute lovey bird'.

"Karma-kun maafkan aku ya. Aku baru pertama kali ke rumahmu dan langsung menginvasi tempat tidurmu", kata Manami dibawah selimut juga.

Saat ini Manami sedang tiduran di ranjang Karma, dan Karma tidur di bawahnya dengan kasur kecil yang telah tersimpan lama di lemarinya.

"Hm, tidak apa-apa kok Okuda-san. Kapan lagi ada perempuan cantik yang menyerangmu saat kau sedang tertidur?", ucapannya langsung dihadiahi bantal gratis kekepalanya dari atas. Tentu saja Karma dengan mudah bisa menghindar.

"Aku tidak pernah menyerang siapapun saat tidur, Karma-kkuuuunnn", jerit Manami sambil terus memukul bantalnya ke Karma.

"Ouch *buk*, auw *buk*, iya ampun Okuda-san *buk*, pukulnya jangan ke mukaku", jerit Karma sambil menutupi arah datangnya pukulan bantal dari Manami. Manamipun berhenti. Keduanya saling berpandangan 10 detik, lalu tertawa.

"Apa-apaan itu? Memangnya kau anak kecil?".

Manami masih terkikik geli.

"Ya sudah, ayo kita tidur Okuda-san. Besok pagi akan kuantar kau pulang".

"Mm-hm. Oyasuminasai, Karma-kun".

"Oyasumi".

Karma lebih dulu pergi ke dunia mimpi, meninggalkan Manami yang masih mencerna apa yang sudah ia lakukan tadi selama masih di rumah Karma. Mendengus geli, gadis yang sudah mengurai rambutnya untuk tidur segera berbalik arah dan melihat pemuda bersurai merah yang telah terlelap di bawahnya.

Entah dorongan apa, tangannya mengulur untuk mengelus surai merah Karma yang tidak disangka begitu lembut. Lalu menariknya lagi dan mulai tertidur.

Karma yang belum sepenuhnya tidur, membuka matanya, dan mengamati bagaimana Manami tidur. Lalu atensi merkurinya beralih ke tangan yang sebelumnya mengelus rambutnya. Karma menarik tangan sang gadis, dan semalaman mereka tidur dengan menggenggam tangan satu sama lain.

.

.

.

TBC

Author's babbling :

Hola. Apakah ada yang menunggu fic ini? maapkeun lama banget ngerjainnya.

Karakternya OOC? Sudah biasa. Alurnya makin lama makin berantakan? Sudah biasa *nahansupayanggaknangis

Ahahahhaahahahhaha. Aku tahu ini gaje banget ceritanya. Cheesy pisan lah.

And yes, I am sucked at making description.

Sorry buat yang sudah nunggu, ataupun kalau ceritanya makin unidentified gini sorry banget yaa.

Susah banget ternyata kuliah dijurusan yang berbanding terbalik dengan nulis fanfic kek gini *curcol *maapkeun

Bilang kesan kalian atau apapun yang kurang ya

Review?

Jaa