Strangers
.
.
Disc.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto-sensei
Strangers by caca27
.
.
.
Naruto menatap Sasuke dari ujung kaki sampai kepala. Dia bingung mau mengatakan apa pada pria yang sekarang sedang duduk di depannya ini.
Menma, Sasuke dan Naruto baru saja sarapan dengan Sasuke sebagai koki dadakan. Pria itu ternyata lumayan handal dalam hal memasak, paling tidak, masakannya tidak terlalu gosong atau terlalu asin.
"Jadi…," Naruto menarik napas panjang, lalu melanjutkan kata-katanya, mengutarakan kebingungannya, "kau… Sasuke ya?"
"Kurasa aku sudah mengatakannya sebanyak lima kali, Dobe," kata Sasuke yang mulai terganggu. Jujur dia tipe orang yang sangat benci ditanyakan hal yang sama lebih dari sekali. Dia tahu betul pria di depannya yang menggunakan sweater berwarna oranye ini masih agak bingung dengan keadaan mereka sekarang, apalagi ada orang asing sepertinya di rumahnya sendiri.
Tapi Sasuke juga tidak mau di cap orang yang mencurigakan. Dia ingin pulang tapi tidak tahu kapan waktu yang tepat. Dan dia baru ingat, Naruto masih harus meminum obatnya lagi. Dan dia tidak yakin Naruto tipe orang yang bisa mengurus dirinya sendiri saat sedang sakit.
Walau pun pria itu kini sudah lebih kuat dan sanggup duduk-duduk bersantai di ruang tengah, tetap saja, terkadang badannya oleng dan suka terhuyung secara tiba-tiba.
Sasuke beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah dapur, mengobrak-abrik kotak P3K yang ditemukannya tadi malam. Setelah menemukan yang dia cari, Sasuke segera kembali sambil memegang segelas air putih di tangan kanannya.
"Ini," sodornya pada Naruto yang menatapnya bingung. Tapi lalu pria itu mengerti dan mengambil obat beserta gelas berisi air putih dari tangan Sasuke.
"Terima Kasih," kata Naruto kecil. Dia masih sempat mengamati gerak-gerik Sasuke yang kembali duduk di depannya.
"Apa aku mengenalmu sebelumnya, Sasuke?" Tanya Naruto memastikan. Dia tidak yakin seorang pria seperti Sasuke dapat merawat dua orang sakit yang bukan siapa-siapanya alias orang asing.
"Tidak, kurasa kau tidak mengenalku. Dan aku juga tidak mengenalmu," kata Sasuke datar. Dia bergerak gelisah di tempat duduknya. Ditatap dengan intens oleh pria bertubuh tegap di depannya membuat nyalinya ciut, dan entah kenapa dia seperti merasa sedang bertamu ke rumah orang yang salah. Dia pun menggeleng ringan seraya berkata, "Oke Naruto, cukup curiganya. Bukan kemauanku juga bermalam di sini. Kalian sakit, dan aku punya beberapa alasan kenapa aku tidak bisa meninggalkan orang yang sakit."
Sasuke berhenti bicara. Mengingat kenangannya di masa lalu membuatnya terdiam untuk beberapa menit.
Tidak ada yang bicara, suasana semakin sunyi saat tiba-tiba Menma menyembulkan kepalanya keluar dari kamarnya.
"Pah," panggilnya pada Naruto.
"Ya?" Naruto memalingkan wajahnya dan menghadap ke belakangnya, tempat Menma berdiri.
"Panasku sepertinya sudah turun," kata anak itu dengan senyum di wajahnya.
"Oh ya? Coba ke sini, biar Papa cek," kata Naruto merenggangkan tangannya hendak memeluk Menma yang berjalan ke arahnya, tetapi ternyata Menma berbelok dan malah duduk di samping Sasuke.
Sasuke yang sedang yang terbangun dari trance nya pun mengernyitkan alisnya dan mengintip Menma yang duduk di sampingnya.
"Papa kan lagi sakit, mana bisa tau kalo Menma udah sembuh atau belom," kata Menma yang mulai cerewet.
"Lalu memangnya kenapa?" Tanya Naruto bodoh. Pertanyaan yang tidak perlu untuk dijawab. Dan Menma juga hanya megacuhkan pertanyaan ayahnya saat anak itu dengan entengnya berkata,
"Om Sasuke, coba ukur panasku!"
Naruto mengangkat alisnya. Anaknya bertingkah aneh. Menma tidak biasanya akrab dengan orang asing. Anak berumur tujuh tahun itu termasuk anak yang hanya bergaul dengan orang-orang yang dia kenal saja.
"Hmm, coba sini ku ukur," kata Sasuke sambil menempelkan keningnya pada si kecil yang diam menunggu diagnosa Sasuke.
"Hei Teme! Apa yang kau lakukan?!" teriak Naruto dengan tenggorokan yang kering, menciptakan suara serak yang aneh. Dia lalu terbatuk setelah berteriak cukup keras. Naruto rasa dia tidak hanya demam, tapi kemungkinan juga radang.
"Yap, sudah sembuh," Kata Sasuke pada Menma yang tersenyum lebar. Lalu Sasuke mengalihkan perhatiannya ke Naruto dan menjawab dengan enteng, "tentu saja mengukur suhu tubuhnya, Dobe."
"Ta-tapi tdak perlu seperti itu kan!" kata Naruto sambil menunjuk ke arah muka Sasuke.
Dasar tidak sopan, menunjuk muka orang seenaknya, dengus Sasuke dalam hati. Ya, Sasuke tahu sebenarnya bisa saja dia merasakan panas tubuh anak ini dengan menempelkan punggung tangannya di dahi anak itu, tapi tetap saja, dia jadi ingat bagaimana Itachi, kakaknya yang terpaut 7 tahun dengannya, mengukur panasnya dulu saat sedang sakit.
Lalu suatu ide lucu tercetus dalam kepalanya, "Kau juga mau kuukur, Dobe?" canda Sasuke. Dia tahu orang asing di depannya ini suka meledak-ledak, lagipula orang bodoh macam apa yang terkena sakit karena marawat orang sakit?
"Ti-tidak perlu! Sudah cepat pulang sana!" teriak Naruto lagi. Kali ini raut wajahnya masam.
"Aku juga tak mau berlama-lama disini. Aku ada urusan lain," kata Sasuke sambil menatap jam tangannya. Sasuke berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Hei!" teriak Naruto tiba-tiba.
"Apa?" Tanya Sasuke datar, dia mulai terganggu dengan Naruto yang selalu berteriak kepadanya.
"Kan pintu keluarnya ke sana!" tunjuk Naruto ke arah pintu keluar yang berseberangan dengan pintu kamar mandi.
"Masalah jika aku meminjam kamar mandimu sebentar?" tanya Sasuke dengan nada sarkastiknya yang khas.
Naruto terdiam di tempatnya. Tentu saja yang barusan sangat canggung. Sedangkan Sasuke sudah berjalan lagi ke kamar mandi yang hanya berjarak beberapa langkah di depannya.
Naruto menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Sungguh skenario macam apa yang sekarang terjadi. Pertama, anaknya sakit, lalu dia tertular sakit. Kemudian muncul orang asing yang ternyata merawatnya, dan ternyata anaknya pun bersikap bersahabat dengan orang asing yang tidak jelas asal usulnya itu. Dia menghela napas berat, lalu kemudian mengangkat kepalanya dengan cepat saat seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke yang entah sejak kapan sudah keluar dari kamar mandi.
"Oh, kau sudah selesai?" tanya Naruto yang masih kaget.
"Ya, tentu. Buat apa juga berlama-lama di kamar mandi?" Kata Sasuke membuat Naruto sedikit salah tingkah. "Baiklah, aku akan pulang," sambungnya sambil mengambil jasnya yang terlampir di kepala sofa berwarna krem yang semalam menjadi ranjang sementaranya.
"Akan kuantar," kata Naruto sambil bangkit dari duduknya. Mereka pun berjalan ke pintu keluar. Sasuke tidak berkata apa-apa lagi karena dia juga tidak tahu harus berkata apa. Dia hanyalah orang asing, bukan seseorang yang dikenal Naruto. Untuk apa dia terlalu ikut campur masalah Naruto, pikirnya pada diri sendiri.
"Terima kasih, Sasuke," kata Naruto sesaat sebelum Sasuke melangkahkan kakinya keluar dari apartemennya.
"Ya, jaga dirimu dan Menma, Dobe," kata Sasuke enteng. Entahlah, padahal Naruto adalah orang asing, tapi nalarnya untuk bersikap sopan pada Naruto hilang entah kemana. Dia malah lebih terbiasa memanggilnya dengan sebutan yang kurang pantas, 'Dobe'.
"Iya, Teme," sambung Naruto dengan nada mengejek, menunjukkan sifatnya yang tidak kalah kekanak-kanakannya dengan Sasuke.
Naruto menutup pintu apartemennya. Sasuke sudah pulang, sekarang hal yang harus dia kerjakan ada banyak. Sambil memegang kepalanya yang masih sedikit berputar, dia pun berjalan ke dapur. Mug berisi kopi milik Sasuke dia taruh di tempat cucian.
Sambil menenteng koran paginya dia kembali berjalan ke ruang tengah dan membuka korannya saat suara bel berbunyi. Seseorang membunyikan bel. Naruto segera menatap gagang pintu yang beberapa menit lalu digunakannya untuk menutu pintu. Ha, Sasuke pasti meninggalkan sesuatu, Pikirnya.
"Apa yang kau tinggalk—," Kata-kata Naruto terhenti di situ. Saat dengan senyuman lebar khas wanita tua, Ibu Kosuki muncul di depan pintunya. Di sampingnya, terletak bag kertas yang dari dalamnya menyembul daun peterseli, dan beberapa buah-buahan.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Ibu Kosuki dengan nada yang terdengar sangat senang.
"Ah, ehm, sudah, tentu saja. Silakan masuk," Naruto mempersilakan Ibu kosuki masuk dengan menggeser sedikit tubuhnya agar wanita tua itu dapat masuk.
"Hm, bau kopi," kata Ibu Kosuki yang dengan cepat sudah mencapai dapur. "Apa kau minum dua gelas kopi hari ini, Naruto?" tanya Ibu Kosuki yang melihat sebuah mug di dalam kotak cucian di dapur.
"Tidak, tadi ada orang lain di sini," kata Naruto jujur. Dia menghempaskan badannya ke sofa empuk yang tadi didudukinya. Sambil memejamkan matanya untuk beberapa saat, dia menyamankan duduknya di sofa. Sofa ini lumayan nyaman, pikirnya dalam hati. Tapi saat dia membuka matanya, Ibu Kosuki sudah ada dihadapannya.
"Apakah orang lain ini memiliki rambut berwarna hitam dan wajah yang super keren?" tanya Ibu Kosuki. Wajahnya terlihat lucu dan kata-katanya seperti ibu-ibu yang suka brondong dalam acara drama di TV.
"Bagaimana Anda bisa tahu?" tanya Naruto sedikit mengangkat alisnya.
"Tentu saja! Sasuke-kun kan? Ah, Ada ya orang keren seperti dia...," kata Ibu Kosuki sambil berandai-andai. "Sialnya aku lewat lift dari belakang gedung. Jika saja aku datang dari depan, pasti aku bisa berpapasan dengannya!"
"Tunggu sebentar, kau mengenalnya?" tanya Naruto mulai bingung. Sepertinya dia mulai bisa menebak skenarionya pulang tadi malam.
"Tadi malam dia yang mengantarmu pulang, Naruto!" kata Ibu Kosuki berapi-api. Semangatnya seperti anak muda yang sedang bergosip.
"Err.. kalau itu kurang lebih aku tahu. Tapi detilnya?" tanya Naruto.
"Entahlah, pokoknya dia menggendongmu sampai ke ranjangmu. Baiknya dia! Coba kau wanita, pasti sudah kujodohkan dengannya," kata Ibu Kosuki enteng sambil meletakkan segelas teh hangat di meja tengah.
"Ini, minum tehnya, biar perutmu hangat. Jangan minum kopi lain kali kalau lagi sakit," nasihatnya.
Naruto mangut-mangut di tempatnya. Sambil mengesap teh hangat yang baru diberikan Ibu Kosuki padahal gelas kopinya masih setengah terisi. Lalu Naruto pun tersadar akan sesuatu, dia penasaran akan cerita versi Ibu Kosuki tentang kejadian semalam. Dia bukannya tidak sopan, tapi dia memang perlu untuk curiga pada orang asing yang asal menginap.
"Jadi, bagaimana cerita lengkapnya? Aku curiga dia mencuri sesuatu dari sini, dia terlihat mencurigakan, dan lagipula, orang macam apa yang akan menginap di rumah orang asing yang sedang sakit?" ocehnya sambil mengesap lagi teh hangatnya. Saat ini perutnya sudah mulai hangat. Dia mengusap perutnya yang tadi pagi sudah diisinya dengan sarapan sederhana ala orang asing.
"Tadinya aku memang menyuruhnya menginap, Naruto. Dengar dulu," kata wanita tua itu saat Naruto menunjukkan wajah protesnya. "Bukannya aku membiarkan orang asing masuk tanpa perizinan darimu, tapi tadi malam cucuku dilarikan ke rumah sakit, Kau tahu kan dia sangat ceroboh? Maka dari itu aku memintanya untuk menjaga dan merawatmu barang satu malam."
"Apa? Serius? Mana ada orang yang mau merawat orang asing tanpa imbalan," kata Naruto sambil melihat ke arah lain dan melipat kedua lengannya di depan dada.
"Memang. Begitu juga dia. Yah, sepertinya itulah hal yang dia pikirkan. Dia jelas-jelas menolak tawaranku untuk bermalam, tapi kemudian handphonenya tertinggal dan dia kembali ke apartemenmu saat sudah memasuki lift. Aku melihatnya sendiri. Lalu karena aku harus buru-buru aku memintanya untuk menaruh kuncimu ke lubang kotak surat agar kau bisa mengambilnya di pagi hari, sama seperti biasa," jelas Ibu Kosuki panjang lebar. Saat ini dia telah duduk di sofa yang bersebrangan dengan Naruto. "Kukira dia akan pulang, tapi melihat responmu yang seperti ini sepertinya anak muda itu tinggal di sini semalam, eh?"
"Lalu, kenapa kau bisa mempercayai orang seperti itu?" tanya Naruto lagi, masih penasaran dengan pikiran wanita tua di depannya yang sepertinya tidak berpikiran secara logis.
"Yah, karena dia tampan, dan baik hati mungkin?" katanya Ibu Kosuki sambil mengedipkan matanya. Lalu dengan tangannya yang hangat, beliau menjulurkannya dan mengecek suhu tubuh Naruto.
"Hmm, panasmu sudah mendingan, sedikit istirahat juga mungkin sudah pulih lagi. Apa kau sudah minum obat?" tanya Ibu Kosui mengalihkan pembicaraannya.
"Ya, sudah," katanya datar. Mengingat bahwa Sasuke yang tadi menyediakan obatnya membuat dirinya merasa bersalah. Orang baik, huh? Dia lalu beranjak dari duduknya menuju kamarnya untuk kembali beristirahat saat Ibu Kosuki berkata,
"Katanya dia bekerja di gedung yang sama denganmu, kalau kau bertemu dengan dia berikan salamku padanya ya?," kata Ibu Kosuki sambil tersenyum lebar. Naruto hanya memutar bola matanya mendengar ibu-ibu yang sedang keganjenan itu.
.
.
.
Sasuke melihat ke arah lampu merah yang menyala beberapa detik lalu. Lima puluh sembilan detik lagi sebelum lampu hijau terlihat.
Bzzt.
Telepon genggamnya bergetar di saku jasnya. Dia segera mengambilnya dan melihat nama kontak yang tertera di layarnya.
Haruno Sakura.
"Ya, Halo?"
"Sasuke, ini gawat," Sasuke mengernyitkan alisnya. Saat seorang Sakura berkata gawat berarti ada dua kemungkinan, pertama, Ibunya datang ke rumah gadis itu, atau kedua, Ibunya minta gadis itu untuk bertemu.
Sasuke menggelengkan kepalanya, mencoba untuk menghilangkan kedua pilihan konyol yang tercipta di kepalanya.
"Ya, ada apa?" jawabnya akhirnya. Dia berusaha terdengar setenang mungkin, walau hatinya saat ini tahu apa yang akan dia dengar selanjutnya akan membuatnya tidak tenang dalam perjalanannya pulang.
"Kakak dan Ibumu akan segera sampai di apartemenku, Aku sedang di luar bersama Sasori, tapi aku baru bisa sampai sekitar dua puluh menit lagi. Bagaimana ini?" tanya Sakura sedikit panik. Entahlah, dia memang selalu terdengar panik bagi Sasuke.
Sakura Haruno. Seorang gadis muda berambut pirang berwarna merah muda. Gadis itu pertama kali bertemu dengan Sasuke saat Ibunya memutuskan untuk menjodohkannya dengan anak temannya. Sakura bukanlah seseorang yang cantik, tapi gadis itu memiliki paras yang manis. Gadis periang, yang sangat berbeda dengannya.
Yang ibunya tahu tentang dirinya dan Sakura adalah mereka pacaran. Dalam arti lain memiliki hubungan khusus. Tapi sebenarnya tidak. Gadis itu sebenarnya saat ini sedang berpacaran dengan seorang pria bernama Sasori atau apalah itu. Satu hal yang dia suka mengenai gadis itu, Sakura tidak tergila-gila padanya. Sasuke dapat berbicara dengannya seperti biasa, layaknya teman yang sudah lama saling mengenal, atau lebih tepatnya, saudara perempuan.
Tapi situasinya saat ini sangat gawat. Dia harus segera bergerak ke apartemen Sakura.
Apartermen Sakura tidak terlalu jauh dari tempatnya sekarang berada. Tapi bajunya bau sekali. Dia belum sempat mandi tadi pagi, karena merasa tidak enak dengan Naruto. Tadi saja pria itu sudah mencurigainya secara berlebihan, apalagi kalau dia tinggal lebih lama? Dan niat awalnya dia mau pulang ke rumahnya.
Sasuke menggelengkan kepalanya untuk kedua kalinya. Mengusir pemikiran soal baju baunya. Yang penting sekarang dia harus sudah stand by di apartemen Sakura dalam sepuluh menit.
"Baiklah, aku akan sampai di sana dalam waktu sepuluh menit," kata Sasuke seraya memutus sambungan telepon.
"Shit," gumamnya sebelum mobil sedan berwarna hitam itu melaju dengan kecepatan tinggi di jalanan yang lenggang.
.
.
.
Sasuke dengan cepat menekan tombol lift yang berada di gedung apartemen Sakura. Lift berukuran sedang itu bergoyang-goyang mengkhawatirkan saat Sasuke tidak bisa diam berdiri di tempatnya karena panik. Pria itu pun menatap ke atas, tempat sederetan angka lantai saat lift itu berbunyi ding.
Pintu lift terbuka, dan di hadapannya terhampar karpet abu-abu tua yang menuju ke satu-satunya pintu apatemen di lantai itu. Apartemen Sakura. Suasananya yang sepi membuat Sasuke mengeluarkan napasnya yang dia tahan sejak pintu lift terbuka. Dengan langkah tegap, dia pun berjalan ke pintu apartemen dan memasukkan serangkaian kode, juga menggesek kartunya.
Ya, kartu apartemen Sakura. Dia memiliki satu jika kejadian emergency seperti hari ini terjadi. Sakura sendiri tidak terlalu memikirkannya, karena dia tahu betapa Sasuke orang yang sangat malas berkunjung ke rumah orang lain. Pria itu lebih suka menikmati harinya di rumahnya sendiri, membaca buku, atau menganalisa laporan kantornya di meja dapur sambil menikmati secangkir kopi hitam.
Jadi, bisa dibilang Sasuke itu aman. Ya, orang yang terlalu malas melakukan hal-hal yang merepotkannya.
Dia membuka pintu apartemen itu dengan perlahan. Melongokkan kepalanya ke dalam untuk mengecek keadaan di dalam. Hm, benar-benar perempuan yang satu ini, pikir Sasuke.
Dia tidak tahu gadis jenis apa Sakura, dimana tempat produksinya, ataupun kapan tanggal expirednya, yang pasti gadis itu adalah salah satu perempuan teraneh di hidup Sasuke selama dia menjalani hidupnya dua puluh delapan tahun ini.
Gadis itu memang sangat rapih, tapi peralatan rumahnya sangat sedikit. Meja kayu berwarna coklat muda menghiasi tengah ruangan yang terbilang luas itu. Lalu di sekeliling ruangan tidak ada lukisan sama sekali. Hanya satu jam dinding berbentuk bulat yang sering dia lihat dijual dipinggir jalan. Lantai kayunya di lap bersih, dan dindingnya yang berwarna putih pucat membuat ruangan ini semakin kosong. Ya, hanya itu isi ruangan tengah dari apartemen seorang Haruno Sakura. Sebuah meja, jam bulat, dan ya, hanya itu.
Gadis itu terlalu simple. Memang benar Sakura memiliki hobi shopping, tapi gadis itu langsung menjual barang yang dia rasa tidak perlu di toko onlinenya. Gadis yang tidak terlalu ribet dan bertele-tele, tapi hal itulah kekurangan Sakura di mata Sasuke. Gadis itu memang layaknya gadis biasa, tapi kecintaannya akan seni dan barang-barang indah sangat berkala. Hanya sebentar, dan setelah bosan, gadis itu langsung menjualnya, jenis gadis yang tidak mau rugi.
Sasuke sendiri tipe orang yang suka mengamati, entah coretan abstrak dari lukisan di dinding, sampai detik jarum jam yang terus berputar. Menurutnya hal itu indah, seperti sebuah harmoni. Dan Sakura tidak mengenal hal semacam itu.
Setelah melepas sepatunya, dia pun melangkahkan kakinya ke tengah ruangan. Duduk di lantai kayu yang memantulkan bayangannya sendiri. Dia memusatkan berat badannya ke depan dan menjatuhkan kepalanya di atas meja kayu.
"haaa," desahnya. Dia lelah, ingin pulang dan tidur. Tadi malam dia memang sudah tidur, tapi hanya sebentar karena pukul dua tadi malam Naruto kembali merancau dan ternyata panasnya naik. Dia merawat Naruto semalaman dan tetap duduk di samping pria itu sampai punggungnya yang sakit tadi malam kembali nyeri.
Ding dung.
Suara bel apartemen Sakura berbunyi nyaring. Sasuke segera melangkahkan kakinya ke pintu depan dan saat membuka pintunya, benar saja, Ibunya dan Kakaknya lah yang berdiri di depan pintu.
Terlihat sebuah bingkisan, dan sebuah kresek berwarna putih dibawa oleh Itachi. Ibunya tersenyum manis sebelum menerobos masuk ke dalam apartemen Sakura. Sedangkan Itachi tersenyum mengejek saat melihatnya sebelum akhirnya mengikuti Ibu mereka masuk ke dalam apartemen.
Ibu Sasuke, Mikoto melangkahkan kakinya ke ruangan tengah yang sangat simple itu. Dia sedikit tersenyum melihat kerapihan calon menantunya itu. Apartemen Sakura selalu terlihat rapih, dan itu membuat Mikoto senang—tidak dihitung properti ruangan yang sepertinya terlalu sedikit, Mikoto tidak mempermasalahkannya.
"Jadi, Sasuke, kemana Sakura-chan?" tanya Mikoto sambil sekarag melangkah ke dapur. Beliau berkeliling ruangan sempit itu sambil membuka-buka laci-laci dan juga lemari es yang isinya penuh dengan yogurt dan buah-buahan.
"E,ehem. Dia... masih dalam perjalanan. Paling sebentar lagi akan sampai. Ada hal yang perlu dilakukan katanya," jelas Sasuke pada Ibunya yang menatapnya dengan tatapan menyelidik.
"Lalu kenapa kau bisa ada di sini?" kata Ibunya yang bertanya-tanya kenapa anaknya menggunakan baju kantor di rumah Sakura. Mikoto curiga anaknya menginap di rumah Sakura, apalagi dengan penampakan bajunya yang kusut, seperti dibawa tidur.
"Aku.. menginap di rumah teman. Lalu Sakura memintaku datang untuk menyambut kalian, karena dia akan datang terlambat," jelasnya lagi. Aneh, kenapa seharian ini Sasuke sangat aktif berbicara? Sasuke sendiri takjub dengan dirinya sendiri.
"Hmm," gumam ibunya yang sekarang berjalan ke meja di tengah ruangan dan mengambil duduk di samping kakaknya yang sudah duduk terlebih dahulu di meja berukuran sedang itu.
Ibunya mengambil kresek yang dia bawa, Itachi juga membuka bingkisan yang dibawanya. Dari dalam kresek itu terlihat beberapa buah jeruk yang terlihat manis.
"Ada sedikit kelebihan jeruk di rumah, dari kebun kakek," kata Ibunya menjelaskan. Beliau lalu menaruh dan mengatur jeruk-jeruk itu di atas sebuah wadah yang sudah dia bawa dari dapur tadi.
"Dan ini...," Mikoto mengambil bingkisan yang di bawa Itachi. Beliau membukanya lebar dan menampilkan beberapa helai baju.
"Ini baju untuk Sakura-chan. Kemarin Sakura menemani Ibu belanja, tapi karena dia ada keperluan dengan kantornya, dia langsung pergi setelah belanja dan melupakan baju-bajunya di mobil ibu," katanya sambil tersenyum mengingat kejadian yang dia bicarakan.
Sasuke hanya mangut-mangut di tempatnya. Setelah itu menaruh plastik-plastik berisi pakaian Sakura di depan pintu kamarnya.
"Kau terlihat berantakan," kata Kakaknya tiba-tiba. Dia memerhatikan pakaian Sasuke yang kusut dan tidak rapih.
Mikoto juga sekarang menatap anak bungsunya aneh. Tentu saja dia merasa aneh. Pasalnya, anak bungsunya ini sangat berbeda dengan anak pertamanya yang selalu berdandan casual, tapi terkadang bisa berantakan, anak bungsunya ini biasanya tidak pernah menampilkan sisi berantakannya pada siapapun. Yang terparah, saat Sasuke sakit, sampai-sampai dia tidak bisa mengurus dirinya sendiri.
"Apa kau sakit?" tanya Mikoto sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Sasuke. Sasuke dengan halus menepis tangan ibunya.
"Tidak, aku tidak sakit, kok, Bu. Tadi malam aku harus begadang untuk merawat temanku yang sakit," kata Sasuke menjelaskan. Dia terdiam beberapa saat. Apakah Naruto termasuk temannya? Well, secara tidak langsung, mungkin. Lagipula dia tidak mungkin berkata bahwa dia menginap di rumah orang tak dikenal kan?
"Oh ya?" Apa dia baik-baik saja?" tanya Mikoto dengan raut wajah khawatir. Di sampingnya Itachi hanya memutar bola matanya bosan.
"Tentu saja. Dia sudah mendingan," Sasuke beranjak dari duduknya dan berjalan ke dapur, dan membuka lemari es Sakura.
"Apa yang terjadi?" tanya Mikoto lagi. Wanita ini memang selalu penasaran akan hal-hal yang sebenarnya bukan urusannya.
"Yah, dia sakit," kata Sasuke sambil mengambil sebuah botol berisi yogurt dingin. Setelah itu dia menutup lemari es dan berjalan kembali ke ruang tengah, dimana ibunya terlihat sedang mengikuti gerak-geriknya. Sedangkan kakaknya duduk di pojok ruangan sambil membuka handphonenya.
"Apa?" tanya Sasuke saat Ibunya masih menatapnya meminta penjelasan lebih.
"Neji?" tanya Ibunya penasaran. Mikoto memang lumayan dekat dengan Ibu Neji. Mereka teman waktu di Sekolah Menengah Atas, jadi, bisa dibilang mereka teman lama. Dan karena hal itu, Neji adalah salah satu teman terdekat Sasuke.
"Bukan," kata Sasuke datar.
"Oh, ayolah Sasuke... Ibumu sangat penasaran," gumam ibunya memohon sambil menatap Sasuke.
Sasuke mengangkat alisnya sedikit dan memutuskan untuk menjelaskan pada ibunya ketimbang wanita tua itu memelas tidak elit di depannya.
"Dia teman yang kutemui di kantor, Bu," kata Sasuke. Dia berusaha mengirit setiap katanya, membuat Ibunya tidak bisa menebak siapa gerangan orang yang Sasuke maksud.
"Lalu?" Ibunya bertanya padanya lagi.
"Yah, dia punya seorang anak yang sakit, tapi karena sibuk mengurus anaknya, dia pun akhirnya juga sakit," Sasuke memutar bola matanya. Dia menatap ke ibunya yang masih menatapnya penasaran.
"Apa dia wanita?" tanya Ibunya menyelidik. Dia menatap Sasuke dengan sedikit memincingkan matanya. Sedangkan Itachi yang ada di pojok ruangan mulai tertarik dengan pembicaraan Ibu dan adiknya, dan dia mulai mendekat untuk mendengarkan.
"Bukan, bukan. Dia seorang pria," kata Sasuke memutar bola matanya lagi. Entah sudah yang keberapa kali dia memutar bola matanya seperti ini. Dia ragu matanya akan tetap pada tempatnya saat dia membuka mata besok.
"Oh...," terdengar gumaman ibunya yang terdengar kecewa. Hei, kecewa? Mikoto selalu ingin salah satu dari anaknya memiliki kehidupan layaknya di drama-drama korea, sebuah cinta segitiga lebih seru.
"Kok 'oh', Bu?" tanya Itachi yang dari tadi hanya mendengar. Dia penasaran apa yang ada di pikiran ibunya sampai Ibunya kecewa.
"Ibu kira Sasuke mungkin punya kisah 'cinta' yang seru. Kau tahu, seperti yang di drama-drama yang suka ibu tonton setiap sore?" tanya Ibunya pada Itachi dengan girang.
Sasuke memijit pangkal hidungnya. Pikiran gila macam apa yang sebenarnya ibunya pikirkan.
"Ahaha, tentu saja tidak, Bu," kata Itachi yang hanya tertawa renyah. Ibunya memang terkadang berpikiran yang tidak wajar. Tapi tetap saja, dia ibu terbaik baginya.
Ding.
Seseorang membuka pintu apartemen. Ketiga orang yang berada di ruang tengah itu dengan bersamaan menolehkan kepala mereka ke sumber suara.
Gadis dengan warna rambut merah muda menyembulkan kepalanya ke dalam ruangan.
"Halo?"
"Hey, Sakura," sapa Mikoto dengan wajah ceria. Wanita itu bangkit dari duduknya dan berjalan ke Sakura untuk memeluknya. Sapaan hangat yang selalu wanita ini lakukan pada setiap anggota keluarganya, dan tentu saja, untuk Sakura yang sebentar lagi mungkin akan menjadi anggota keluarganya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Mikoto sambil mengikuti gadis itu. Sakura melepaskan tasnya yang bertengger di pundaknya dan menaruhnya di samping meja.
"Aku, baik, haha. Kantor sedikit sibuk belakangan ini," katanya sambil menampilkan senyum kecut.
"Hmm," gumam Mikoto mengerti. Dia lalu duduk kembali di tempatnya semula. Sakura yang melihat di atas meja hanya ada beberapa mug berisi teh dan kopi pun mengernyitkan alisnya.
"Uh, oh. Sudah hampir jam makan siang, ada yang mau ayam bakar?" Sakura mengambil kresek yang sempat dibawanya masuk dan membanyanya ke dapur. Aku akan menyiapkan makanannya.
"Ah, syukurlah, Ibu sangat lapar," kata Mikoto sambil terkikik kecil, menyadari tingkah kenakan-kanakannya. Itachi dan Sasuke mengikutinya dengan gelak tawa.
Siang itu mereka makan bersama di atas meja makan yang biasanya sepi. Sakura menyiapkan ayam bakar yang dibelinya di atas meja dan mereka menikmati hari mereka dengan mengobrol, khas obrolan yang hanya diobrolkan dengan orang tua.
.
.
.
"Hei," sapa seseorang dari sebelah kirinya.
Naruto menolehkan kepalanya ke samping dan mendapati Kiba tersenyum lebar.
"Apa yang terjadi? Kudengar Menma sakit, apa dia sudah mendingan?" tanya Kiba sambil mengambil duduk bersebrangan dengannya.
"Dia sudah baikan," jawab Naruto singkat.
Jam istirahat makan siang sudah berjalan sekitar sepuluh menit. Dia mengambil tempat duduk di pojok kafetaria dan belum menyentuh makanannya barang secuilpun.
"Lalu?" tanya Kiba sambil meletakkan makanannya di atas meja. Dia mulai mengocok kotak susunya, kebiasaaannya sebelum makan.
"Yah, begitu saja," kata Naruto enggan menjawab lebih.
Namun sebersit sosok yang terlihat familiar berjalan ke arah kafetaria. Sasuke. Naruto menatap pria itu dari jauh. Selama beberapa saat waktu seperti berjalan lambat karena rambut pantat ayam itu terlihat berkibas lebih lambat dari waktu yang seharusnya, layaknya film dengan adegan diperlambat, membuat Naruto mengerjapkan matanya.
"-ruto... Naruto!" panggil Kiba yang sekarang mengibaskan telapak tanganya tepat di depan wajah Naruto. Naruto menepis tangan itu dan menatap makanannya kembali. Dia teringat suatu permintaan dari anaknya, Mema.
"Pah! Kalo ketemu Om Sasuke lagi bilang Menma mau diceritain lagi!"
Permintaan simple yang menjadi hal terumit saat dirinya bahkan tidak tahu cara menyapa Sasuke, orang yang sebenarnya asing jika mereka tidak mengenal nama. Mereka bukan teman satu divisi, bukan pula teman masa kuliah, dan yang pasti bukan juga teman ngobrol. Apa Aku biarkan saja permintaan Menma ini? Tidak usah dihiraukan, eh? Yosh! Tidak perlu dipikirkan, Naruto!
"-Naruto!" panggil Kiba lagi dengan keras. Naruto langsung menatap Kiba dan lalu sadar ada seseorang yang lain di sebelahnya. Sasuke?! "Orang ini tadi memanggilmu. Kenapa kau malah bengong sih dari tadi?"
"E-eh.. itu...," Naruto melihat ke Sasuke yang menatapnya khawatir.
"Kau masih sakit, Naruto?" tanya Sasuke.
Tu-tunggu dulu. Kenapa Sasuke malah kesini?! Haaa.. atur nafasmu, Naruto! Ini kesempatanmu membahagiakan Menma! Jangan jadi pengecut saat kesempatan emas seperti ini disodorkan padamu!
"Sasuke, Menma mau kau ceritakan lagi," katanya dengan sikap sok tenang padahal jantungnya berdetak 3x lebih cepat dari biasanya. Kenapa dia jadi deg-deg-an seperti ini?
"Haaah?" Wajah Sasuke berubah sengak. "Apa katamu? Aku diminta mengurus orang sakit lagi, hah?" Sekarang aura disekitar mereka tiba-tiba menjadi gelap, dan sepersekian detik itu pula Sasuke mencondongkan tubuhnya ke depan Naruto dan berbisik di telinga Naruto, "Aku tidak mau."
"HOSH! HOSH!"
Bajunya basah oleh keringat. Dia merebahkan diri setelah meminum obat sorenya. Tapi dia tidak menyangka akan bermimpi buruk seperti tadi.
Apa-apan tadi? Sepertinya jauh di lubuk hatinya dia merasa bersalah telah curiga pada orang yang mengurusnya dan Menma semalaman.
Naruto mengatur napasnya yang putus-putus. Tapi sebuah suara membuatnya mengalihkan pandangannya, krieeek. Menma membuka Pintu kamarnya dengan perlahan, menimbulkan bunyi aneh.
"Pah, aku boleh tidur disini malam ini?" tanya Menma sambil memeluk gulingnya. Anak itu sudah tidak demam lagi dan besok akan masuk sekolah. Saat akhirnya bisa berada di rumah ayahnya ini malah terbaring sakit dan menghabiskan waktu di tempat tidur untuk istirahat. Menma pasti kesepian, pikirnya.
Naruto tersenyum lembut dan menepuk area kosong di sisinya, "Ayo sini."
Menma tersenyum balik dan segera naik ke ranjang ayahnya yang cukup besar. Dia menyamankan posisinya dan berbaring menghadap ayahnya.
"Pah," panggil Menma.
"Ya, Menma?" Naruto mulai merebahkan dirinya dan bergerak untuk mematikan lampu meja di samping ranjangnya.
"Kalo Papa ketemu Om Sasuke lagi, bilangin Menma mau diceritain lagi ya?" Layaknya petir ditengah malam. Naruto menghentikan kegiatannya untuk mematikan lampu meja dan berbalik ke Menma.
"Tadi Menma bilang apa?"
"Ih Papa nggak dengerin Menma ngomong. Kalo Papa ketemu Om Sasuke lagi, bilangin Menma mau diceritain lagi."
TBC?
A/N: Halo semua! balik lagi dengan author bejad yang ga jelas ini. Akhirnya gue memutuskan untuk update ini cerita malam minggu ini, karena apa? Well, gue takut lupa apdet besok senin karena minggu depan will be a living hell. hahaha. Terima kasih sebelumnya untuk yang sudah mem-favorite dan mem-follow, juga yang sudah memberikan reviewnya terhadap cerita ini. Gue masih punya beberapa kekurangan dalam penulisan, lalu keterbatasan kosa kata juga menjadi hambatan. Tapi semoga ini bisa membuat anda-anda tersenyum, di malam minggu ini. Jomblo angkat tangan! hahaha. Maaf yang belum bisa dibales reviewnya. dan terakhir, terima kasih sudah membaca! :D
