"Kau bahkan tak bisa memberikannya keturunan." Jiyeon membalikan badannya, menatap wajah Kania yang kini pucat pasi dengan mata yang sudah mengantongi air mata kembali.

"Maaf, sepertinya suamimu membutuhkan rahimku, daripada rahimmu."

Jiyeon berbalik kembali menuju pintu kamar, membantingnya sesaat ia hilang di balik pintu.

Kania hanya terdiam dan mulai menangis kembali dalam diam.

.

.

.

.

KimTammy17

.

.

.

.

Memory of Hurt

.

.

.

.

Cast:

Park Chanyeol

Lee Hongbin

Park Jiyeon

OOC (as Kania)

.

.

.

.

Genre:

Romance

Hurt

Family

Angst

.

.

.

.

Chanyeol luar biasa bahagia, istrinya Jiyeon, benar-benar istri yang ia impikan selama ini. Betapa bodohnya ia menikahi Kania. Gadis Indonesia yang terdampar di Korea dengan alasan pertukaran pelajar katanya, hah, betapa percaya Chanyeol saat itu.

Dielusnya perut Jiyeon perlahan, merasakan kerasnya perut yang tengah mengandung anaknya saat ini. Umur kandungan Jiyeon sudah menginjak 9 bulan. Untuk menghindari adanya hal-hal yang mengancam buah hatinya lahir kedunia, Chanyeol sudah memasukkan Jiyeon ke rumah sakit. Jika sewaktu-waktu perutnya kontraksi, setidaknya Jiyeon sudah ada di tempat yang aman.

Chanyeol memandang Jiyeon dalam dengan penuh kebahagiaan, namun di sisi hatinya ada yang mengganjal. Rasa hampa dan sakit masih hinggap di hati kecilnya.

Mengapa?

Bukankah ia sudah bahagia saat ini?

Memiliki istri cantik, mengerti apa yang ia harapkan, dan yang terpenting, istrinya yang satu ini tengah mengandung anaknya.

Pandangan Chanyeol beralih pada saku jasnya yang tiba-tiba bergetar, masih dengan senyuman, Chanyeol meraih ponsel yang bergetar. Pandangannya tiba-tiba menjadi jengah setelah melihat layar ponselnya yang mencantumkan nama Kania di sana.

Merusak momentnya bersama Jiyeon.

Dengan kesal Chanyeol menyentuh tombol reject dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Jiyeon yang memandang Chanyeol dalam diam segera melempar pandangan bertanya.

Chanyeol hanya mengerdikkan bahu lalu tersenyum lembut kembali pada Jiyeon. Mengelus rambut Jiyeon pelan dengan penuh perasaan. Jiyeon tahu siapa yang menelpon tersebut dan Jiyeon tak menyukainya.

Saku jas Chanyeol bergetar kembali. Dengan penuh emosi Chanyeol meraih ponsel dalam jasnya dan segera menyentuh layar ponselnya, menaruh ponsel tersebut di telinganya dengan enggan.

"SUDAH AKU KATAKAN JANGAN MENELPONKU!"

"Selamat siang."

Suara berat lelaki di sebrang sana membuat Chanyeol mengernyit, dijauhkannya ponsel tersebut dari telinganya dan melihat layar ponselnya yang menampilkan nomor tak dikenal.

"Siapa?" tanya Chanyeol penuh tanya. Terdengar suara di sebrang sana yang ricuh dan beberapa teriakan kecil yang makin membuat Chanyeol mengernyit dalam. Ada apa di sana?

"Selamat siang, Tuan. Maaf sebelumnya, saya menghubungi anda dari nomor speed dial dari ponsel salah satu korban kecelakaan. Apakah anda saudaranya?"

Chanyeol mematung, kakinya menjadi beku seketika saat mendengar penuturan lelaki di sebrang sana.

Kecelakaan?

Pemilik ponsel?

Astaga! Kania!

"Di mana?! Ada di mana sekarang?!" kilat emosi terlihat di mata Chanyeol, lelaki itu tak sadar sudah mondar-mandir menanti jawaban dari sebrang sana, membuat Jiyeon kembali memandangnya heran.

"Sayang .. ada apa?"

"Halo! Halo! Halo!" Chanyeol menjerit monolog dengan ponselnya. Sambungan percakapannya terpurus secara sepihak.

"CHANYEOL!" Jiyeon yang merasa tak dihiraukan menjerit frustasi. Membuat Chanyeol yang diserang panik membekukan gerakannya. Pandangannya memandang Jiyeon yang kini menahan nafasnya akibat emosi mengerubungi mereka berdua.

"Ada apa..?" kini suara Jiyeon melemah.

Chanyeol menjadi kosong saat ini. Mengapa ia mengkhawatirkan Kania? Mengapa ia menjadi panik seperti ini? Bukankah ini yang ia inginkan selama ini, menjauh dari istri yang ia dapatkan dari kebodohannya tanpa harus menjatuhkan surat penceraian.

Tapi hatinya tak bisa dibohongi. Hatinya benar-benar merasa diremas hingga membuat matanya menghangat. Chanyeol menahan tangisnya.

Chanyeol menjadi diam, Jiyeon yang merasa tak dijawab oleh Chanyeol kini menjadi emosi kembali.

"CHAN-akhh!"

Jiyeon memegang perutnya saat kontraksi tiba-tiba menegang. Chanyeol yang melihat Jiyeon kesakitan sambil memegang perutnya segera mendekat. Kontraksi! Jiyeon akan melahirkan sebentar lagi.

"Tahan sayang.. tahan..." Chanyeol menenangkan istrinya panik dengan tangan yang terus-menerus menekan tombol darurat. Astaga, mengapa dokter ini lama sekali! Istrinya! Akan melahirkan!

"Sayang ... ayo tarik nafas... hembuskan... tarik lagi... hembuskan..." Chanyeol mengintrupsi, membuat Jiyeon mau tak mau mengikuti apa saja perkataan Chanyeol.

Tak butuh waktu lama hingga tim dokter datang, membawa ranjang Jiyeon menuju kamar operasi dan disusul Chanyeol yang masih menyemangati Jiyeon. Melupakan istrinya, Kania, yang tengah meregah nyawa.

.

.

.

.

Hongbin terduduk di kursi ruang rawat Kania. Hongbin, lelaki itu adalah saksi mata dari semua kejadian kecelakaan yang beberapa jam berlalu. Korban yang ia selamatkan sedang terbaring lemah dengan selang infus dan kabel-kabel pendeteksi detak jantung melilit tubuh ringkih Kania. Tidak hanya itu saja, hampir dari separuh wajah Kania terbalut perban.

Dokter yang menangani Kania mengatakan bahwa serpihan kaca dari salah satu mobil mengenai wajah Kania. Bahkan ada beberapa serpihan kaca tersebut mengenai kornea Kania.

Sejenak lelaki itu tertegun, memandang betapa rapuh dan lemahnya gadis di hadapannya ini.

Kecelakaan itu, tabrakan antara mobil yang terlihat oleng tiba-tiba melewati batas jalan dan menghantam mobil yang melaju cepat dari arah lawan. Kecelakaan tak dapat terhindar hingga salah satu mobil terseret jauh menuju bahu jalan.

Kania yang sedang berjalan di bahu jalan hanya dapat membeku melihat mobil yang terhempas mendekat ke arahnya. Untung saja tuhan masih mengirimkan dewi fortunanya untuk Kania. Mobil itu tertahan oleh tiang listrik namun serpihan kaca yang terlempar mengenai Kania.

Hongbin terbayang kembali ketika Kania yang menjerit kesakitan di hadapannya. Hongbin memang bertempat tinggal di sekitar situ dan Hongbin memang tahu akan Kania. Mereka tak saling mengenal, terkadang hanya bertemu sapa antar tetangga, tidak lebih dari itu.

Hongbin yang memang berdiri tak jauh dari Kania segera menolong Kania yang tengah menjerit kesakitan. Menenangkan Kania barang sebentar sembari mencari ponsel Kania dan menghubungi normor dari speed dial yang tak pernah diketahuinya bahwa itu adalah suami dari Kania. Mengatakan bahwa Kania menjadi salah satu korban kecelakaan namun sambungan yang belum diangkat itu terputus secara sepihak. Dengan inisiatif Hongbin segera menelpon nomor speed dial tersebut dengan ponselnya, namun hanya mendapat dampratan dari sosok di sebrang sana.

Sempat Hongbin tertegun, ada masalah antara gadis yang tengah mengerang kesakitan di hadapannya kini. Banyak orang sudah sudah mengerubunginya, hingga Hongbin mengambil keputusan sepihak. Ia memutuskan sambungan telepon itu dan segera membawa Kania menuju rumah sakit.

Dan kini ia tengah terduduk dengan pakaian yang masih terdapat bercak darah. Darah Kania.

Matanya menelusuri tubuh ringkih Kania. Gadis itu, gadis yang diam-diam ia perhatikan. Semenjak tahun lalu ia pindah untuk ujian praktek kuliahnya, sosok pertama kali yang ia lihat adalah Kania. Berjalan dengan tatapan sedih dan berbelok memasuki rumah mungilnya.

Hati Hongbin sedikit membuncah hangat dengan melihat Kania dari jarak jauh, ia merasakan itu. Rasa kepemilkan dari seorang lelaki. Namun Hongbin segera menepis hal itu jauh-jauh. Ia kemari untuk ujian prakteknya di pinggiran kota. Mencari lahan kosong uji praktek sebagai mahasiswa pertanian.

Bibirnya tersenyum simpul, menampilkan dekiknya. Menampilkan wajah kokoh namun damai ketika ia tersenyum. Perlahan Hongbin beranjak dari duduknya menuju nakas putih samping ranjang Kania. Terdapat rak kecil yang berisikian baju Kania yang masih terlihat bercak darah mengering dan tas berwarna peach. Hongbin meraih tas itu dan membuka isinya kembali. Ia sudah membuka tas itu saat kecelakaan. Mencari ponsel Kania untuk menghubungi kerabatnya atau siapapun, yang Hongbin ketahui gadis ini tinggal sendiri.

Kembali Hongbin menampilkan senyum dengan dekiknya saat melihat sebuah dompet kecil berwarna kuning muda, dibukanya perlahan dan terlihat sebuah foto Kania dengan sosok lelaki dengan senyum lebarnya. Berdiri sejajar di depan air mancur. Hongbin tahu di mana foto itu diambil, namun pikirannya teralihkan oleh sosok lelaki itu. Siapa dia? Apakah kakaknya?

Hongbin mengerdikkan bahunya dan segera mencari tanda pengenal dari dompet kuning tersebut. Dahinya mengernyit dalam saat menemukan tanda pengenal dengan bahasa yang sama sekali tak ia mengerti.

Itu KTP Indonesia milik Kania.

Berkali-kali Hongbin mencoba membaca KTP tersebut hingga ia menemukan sebuah kata yang terlihat familiar,

"Nama.." gumam Hongbin pelan. Ah, Nama mungkin saja ini bahasa yang ia tak ketahui yang berarti 'Name' dari bahasa Inggris.

Kania Prameswari.

Apakah itu namanya?

Hongbin mencari kembali kartu-kartu dalam dompet tersebut, raut wajahnya menjadi senang saat melihat sebuah tanda pengenal Korea.

Dibacanya dengan teliti kartu tersebut. Benar, namanya Kania dan tertulis ia lahir di Indonesia.

Astaga, gadis ini dari Indonesia. Pantas saja wajahnya tidak seperti gadis lokal pada umumnya. Dipandangnya tubuh Kania, wajahnya tetutup perban hingga ia tak bisa membandingkan foto Kania yang ada di kartu tanda pengenal tersebut dengan wajah aslinya.

Pintu yang terbuka tanpa permisi membuat Hongbin yang tengah memegang kartu tersebut tak sadar memasukkannya ke saku celananya. Dokter yang menangani Kania datang diekori oleh beberapa suster.

"Apakah anda walinya?"

Hongbin mengangguk kikuk, suster yang datang bersama dokter tersebut sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

"Saya butuh data dari sang pasien.." sang dokter langsung saja melemparkan pertanyaan personal tentang Kania. Hongbin gelagapan menjawabnya namun ingatan tentang kartu tanda pengenal Kania yang sempat ia baca membuatnya sedikit bisa menjawab pertanyaan tersebut.

.

.

.

.

Chanyeol berdiri di balik kaca besar tempat bayinya tertidur. Bayi lelaki yang kuat sedang tertidur di sana, buah cintanya dengan Jiyeon. Tuhan! Betapa baiknya ia hingga membuat Chanyeol tak bisa mengkiaskan betapa bahagianya ia saat ini.

Tubuh bayi itu sangat ringkih dengan mata yang masih terpejam. Tangannya menggenggam kuat. Yah, bayi lelaki yang kuat, sekuat ayahnya. Batin Chanyeol senang.

"Permisi.." pandangannya teralihkan, mendapati seorang suster yang tersenyum ramah padanya, "Apakah anda ingin memberinya susu?"

Bukan main, Chanyeol mengangguk cepat dan segera mengekori suster tersebut yang memasuki ruangan bayi Chanyeol berada.

Diangkatnya tubuh bayi tersebut oleh suster ramah itu, Chanyeol terdiam membeku. Ia tak tahu harus seperti apa cara menggendong yang benar. Suster itu tertawa kecil, ditaruhnya bayi kecil itu di lengan kirinya, membuat tangan kanannya terbebas. Meraih lengan Chanyeol dan membentuknya siap untuk menggendong bayi.

Pertama Chanyeol terlihat kaku saat bayi itu sudah di lengannya.

"Ringan sekali.." gumam Chanyeol tanpa sadar membuat suster itu tertawa kecil.

"Bayi anda memiliki bobot yang seimbang, bayi anda sangat kuat." Chanyeol tersenyum kembali, memperhatikan bayinya yang terpejam dengan mulut kecilnya terbuka, ia menginginkan susu.

Dengan ramah sang suster memberikan botol kecil berisikan susu hangat, Chanyeol kembali menjadi bingung, tangannya kaku menggendong bayi kecilnya dan sekarang harus meraih botol itu.

Diambilnya lengan Chanyeol perlahan dan memberikan botol susu. Ah betapa mudahnya memegang bayi sembari memberikan sebotol susu. Bayinya dengan semangat menyedot susu itu, bahkan Chanyeol sempat terkikik pelan memperhatikan bayinya yang beringas menyusu.

Namun detik berikutnya senyuman itu hilang, entah kenapa pikirannya kembali pada Kania. Kecelakaanya katanya? Sebuah senyum jahat terlihat di wajah Chanyeol.

Hah, istrinya yang mandul itu ternyata memiliki siasat yang bodoh rupanya. Memberikan berita bahwa ia kecelakaan. Ck, Chanyeol tidak sebodoh itu untuk ditipu.

Pandangannya kembali lagi pada bayinya, memandang penuh cinta dan kebagian penuh kepadanya.

.

.

.

.

Chanyeol sedang terduduk di kantin rumah sakit dengan kopi hitam mengepul di depannya. Pandangannya mengedar kesegala penjuru kemudian terhenti pada sosok lelaki yang tengah memunggunginya tengah asik bercakap dengan ponsel di telinganya.

"Aku sedang di rumah sakit sekarang." Samar-samar Chanyeol mendengar percakapan sosok di hadapannya.

"Tidak aku baik-baik saja. Ada gadis menjadi korban kecelakaan, aku sedang mengurusnya sekarang."

Jantung Chanyeol berdenyut pelan mendengar kata kecelakaan. Ia teringat kembali pada suara lelaki yang menghubunginya akan pemilik ponsel yang mengalami kecelakaan.

"Kau bawa saja ke dosen, kita sudah selesai bukan? Sepertinya kalian akan pulang tanpaku." Lelaki yang tengah menelpon itu sedikit tertawa, "Aku akan menjaga gadis itu barang sebentar."

Chanyeol terdiam. Bukan, itu bukan Kanianya. Sudah terlihat bukan, lelaki itu mengatakan gadis, sedangkan Kania, sudah dipastikan ia tak gadis lagi.

Sedetik kemudian Chanyeol tersenyum kecut, mengerutuki dirinya yang bisa-bisa saja mengkhawatirkan Kania yang begitu ia benci saat ini.

.

.

.

.

Hongbin memasuki ruangan itu. Kania masih belum sadar dari kemarin, dokter rmangatakan ia akan sadar secepat mungkin namun hingga saat ini, gadis itu bahkan masih di posisi yang sama.

Terlentang tidak berdaya.

Hongbin terduduk di sebelah ranjang Kania, menggenggam tangan hangat Kania, berhati-hati agar tidak mengenai selang infus yang menusuk kejam.

"Hei.." sapa Hongbin, sejenak kata-katanya tercekat, jantungnya berdegup kencang begitu saja, "Hahaha.. aku tidak tahu harus mengatakan apa. Tapi aku mohon, cepatlah sadar." Kalimat itu penuh dengan emosi dan tanpa sadar Hongbin mempererat genggaman tangannya. Menatap kepala Kania yang masih terbalut perban.

.

.

.

.

Chanyeol memeluk pinggang Jiyeon posesif, sesekali ia tersenyum memandang Jiyeon yang masih asik menciumi pipi anaknya dengan gemas. Mereka sedang berjalan menelusuri lorong setelah memastikan bahwa tak ada administrasi yang tertinggal.

Tubuh Chanyeol terdorong saat seorang lelaki tiba-tiba muncul dari arah lorong lain. Lelaki yang sedang menerima telpon itu segera membungkuk meminta maaf dan meninggalkan Chanyeol kembali.

"Aku kira ia orang Korea, ternyata dia dari Indonesia."

Chanyeol yang hendak menyemprot lelaki tak tahu sopan santun itu seketika membeku, perkataan sosok lelaki yang menabraknya barusan membuat tubuhnya terdiam. Lelaki itu sedang asik bercakap dalam telepon hingga menghilang di balik lorong.

Entahlah, akhir-akhir ini tubuhnya begitu peka hanya dengan mendengar Kania, Indonesia, ataupun kecelakaan.

Jemari lembut Jiyeon meraih bahu Chanyeol, "Sudahlah Chanyeol, ayo pulang, aku ingin makan mangga." Rengek jiyeon yang berusaha menahan Chanyeol dari emosinya.

Dengan hembusana nafas panjang, Chanyeol terpejam sebentar, menghapus rasa galau yang menyerangnya dan segera membuka matanya kembali. Tersenyum lebar memandang Jiyeon, istrinya dan anaknya.

"Ayo!" ajaknya dengan antusias.

.

.

.

.

TBC?

Note: Hei! Wazzap?! Author update lagi nih, sebenarnya mau tanggal 18 besok diupdate berhubung author harus pulang kampung dan naasnya di rumah gak ada koneksi internet dan kuota, -sumpah ngenes- akhirnya author update sekarang aja daripada PHPin para pembaca sekalian wkwkwkwk, terima kasih kepada seluruh review yang kalian berikan (o'O'o)

Oh ya, kalau review jangan sungkan, author gak bakalan marah kok ('-' ) malah berasa semangat buat update jadi semakin banyak review, author semakin terdorong buat update #eaaa

Review, please?

A Good Reader Will Be Leave Their Sign.