Baru beberapa jam saja berada di sekolah sudah membuatku merasa muak. Disini aku tidak perlu berpura-pura menjadi orang yang baik seperti yang mereka lakukan, aku melakukan seperti biasa saja. Hasilnya tak ada seorang pun yang berbicara pada ku sampai detik ini. Itu bukan masalah buat ku. Toh mereka tidak penting dan tidak berpengaruh terhadap kelangsungan hidupku. Tak tahu apa yang harus ku lakukan di jam makan siang ini aku hanya duduk saja melihat keluar jendela. Sebenarnya aku lapar, tapi aku tidak tahu di mana kantinnya. Aku malas untuk mencari kantinnya, bisa-bisa aku tidak bisa kembali ke kelas ini. Sekolah ini luar biasa luasnya, mungkin butuh beberapa waktu untuk bisa mengingat seluruh ruangnya. Aku heran kenapa tidak ada denah tata letak ruang sekolah ini.
"hmm maaf. Apa yang sedang kamu lakukan ? mau pergi ke kantin..." aku melihat seorang gadis menghampiriku, wajahnya lumayan, rambutnya coklat tua bergelombang di ikatnya menjadi satu dengan poni rapi menghiasi dahinya.
"pergi !" jawab ku dingin memotong pembicaraannya. Ia tampak terkejut tapi siapa peduli. Lagi pula salahnya telah mengganggu ku. Ia masih berdiri terpaku di hadapan ku.
"astaga ! apa kamu tuli ?" tanya ku ketus, matanya membelalak dan sedikit berair. Ah dasar wanita lemah. Ini yang membuatku sedikit tidak menyukai wanita. Mereka hanya merepotkan ku saja.
Plakk !
Aku tidak tahu apa yang terjadi tiba-tiba saja pipi ku terasa panas.
"astaga apa yang wanita gila ini lakukan !" aku beteriak keras padanya. Sepertinya ia ketakutan dan langsung pergi meninggalkan ku. Ah baguslah, satu masalah sudah pergi. Aku berharap tidak bertemu dengan nya lagi.
.
.
.
Hari ini berjalan biasa saja. Bahkan aku tidak perlu memperhatikan ketika berada di kelas, semua itu sudah ku pelajari ketika aku berumur 8 tahun. Aku heran kenapa mereka semua tampak kesulitan seperti itu ? sudah jelas itu semua sangat mudah. Ah ! kalau mereka bisa melampaui diriku, aku tidak akan berdiri tegak seperti ini kan ?
Seusai sekolah aku langsung saja menuju asrma. Jalanan terasa ramai oleh siswa-siswi sekolah ini. Nampaknya mereka berjalan ke arah yang berbeda dengan ku. Ah siapa yang peduli dengan hal tersebut ? aku memilih jalan ku saja. Jalanan ini tidak membosankan, pohon pohon berjejer rapih sepanjang jalan, daun-daun nya berwarna oranye kemerahan, aku tidak tahu jenis pohon apa itu tapi aku menyukainya, rerumputan pun di potong rapih dengan banyak bunga lili putih bermekaran disana sini. Ah mungkin tempat ini tidak terlalu buruk. Aku heran kenapa anak-anak dari bangsawan tidak ada yang berminat ke sekolah ini. Mungkin karena sekolah ini berisikan orang-orang dari golongan rakyat biasa.
Aku terus berjalan dan akhirnya tibalah di gedung persegi bertuliskan "asrama putra" tak jauh dari situ ada sebuah gedung lagi yang begitu mirip, mungkin itu adalah asram putri. Kedua gedung ini di selangi sebuah taman kecil. Gedung asrama nampak begitu mengkilap, mungkin karena sebagian besar dari bangunan itu terbuat dari kaca sehingga ketika terkena pantulan yang sesuatu bersinar begitu menyilaukan, tapi designya begitu modern. Aku memandang gedung itu, ah 6 lantai rupanya.
Sepertinya tak ada yang berminat untuk pergi ke asrama setelah sekolah usai, mungkin mereka semua sedang bermain-main. Ah sudah lah lupakan. Sebaiknya aku segera pergi ke dalam karena aku sudah mulai lapar. Sebastian mengatakan padaku bahwa ia meninggalkan banyak makanan di kamarku, terbayang sudah cake dengan cream putih lembut yang manis, ah mengingatnya saja sudah membuat perutku semakin perih. Aku masuk ke dalam gedung tersebut dan tak jauh dari pintu masuk aku menemukan tangga menuju lantai atas. Astaga benar-benar tidak ada lift, apa yang terjadi jika kamarku berada di lantai 6 ? tunggu dulu ! aku berada di kamar mana ? tadi pagi aku di bantu sebastian untuk mencari satu persatu daftar nama di setiap kelasnya. Dan apakah kali ini aku harus melakukan hal yang sama ? itu tidak mungkin ! ada ratusan kamar di asrama ini. Sial ! sebastian memang menyebalkan ! dia pasti tidak mengatakan nomor kamar ku karena aku tidak menanyakannya padanya.
Aku memandang sekeliling dan melihat papan pengumuman di bawah tangga. Aku menghampirinya mungkin saja akan ada informasi yang berguna. Aku melihat-lihat kertas yang tertempel. Sebagian besar adalah club-club sekolah yang sedang promosi untuk menarik siswa baru untuk bergabung. Ah ! ini dia akhirnya aku menemukannya daftar siswa baru dengan kamarnya. Aku mencari-cari namaku.
"hmm ciel...ah ketemu !ciel phantomhive ! kamar...404 di lantai 4" ah leganya aku menemukan kamarku. Tapi tunggu dulu sepertinya ada yang lain yang terlewatkan.
"teman kamar : Soma" soma ? kenapa aku tiba-tiba berfikir ini adalah soma yang sama ? dan apa ini ? satu kamar ada dua orang ? astaga ! baiklah aku akan segera menuju kamar ku saja. Aku berharap ini bukan soma yang itu. Karna jujur saja itu pasti sangat brisik.
Dengan lemas nya aku terus berjalan menuju lantai empat. Aku kelaparan, aku bahkan tidak makan apapun hari ini, hanya minum secangkir teh yang tak berarti tadi pagi. Dengan sedikit tenaga yang aku miliki akhirnya sampailah aku di depan pintu kamar 404. Aku mencari sesuatu sepertinya ada lagi yang kurang. Aku memutar knop pintu tetapi tidak terbuka. Apa yang salah ? astaga pintu ini terkunci ! aku tidak memiliki kuncinya, aku harus bagaimana sekarang ? ini sudah pukul tujuh malam, dan aku belum makan apapun sejak pagi. Aku hanya meminum teh saja sebelum berangkat ke sekolah pagi ini. Kepala ku sudah terasa pusing. Dan penglihatan ku terasa berkunang-kunang.
"cieelll ? cieell ? kamu tidak apa-apa ?" aku mendengar suara seseorang yang sepertinya sangat familiar. Belum sempat aku melihat wajahnya aku sudah tak sadarkan diri.
.
.
.
(prince soma POV)
Kenapa harus ada upacara lagi sih ? tadi pagi sudah upacara, sekarang upacara lagi. Hanya akan makan malam saja pakai acara merepotkan seperti ini. Dan karena upacara sialan ini aku harus kembali ke kamar untuk mengambil plakat ku. Merepotkan sekali. Di saat-saat seperti ini aku sangat merindukan mu agni ! tapi tahun ini pasti akan menyenangkan karena ada ciel ah robin ! siapapun itu, mereka berdua cukup menyenangkan ! aku melanjutkan perjalanan ku sambil bersiul-siul menghilangkan rasa bosanku. Tak lama kemudian tiabalah aku di gedung asrama. Ah alangkan mudah nya jika gedung ini memiliki lift. Atau mungkin lebih berguna jika aku bisa teleportasi. Aku tidak perlu bersusah payah seperti ini, hanya beberapa detik sudah sampai kemanapun yang aku inginkan.
"aku akan menanti muuu.. aku slalu ada untukmuuu...la..la..laa" aku bernyanyi lirih. Setelah sampai di lantai empat aku sedikit terkejut dengan kehadiran seseorang di depan kamarku. Orang itu seperti nya sedang kesakitan. Aku berjalan semakin mendekat.
"cieelll ? cieell ? kamu tidak apa-apa ?" ini ciel, apa yang ia lakuan disini ? dan ada apa dengan nya ? badannya lemas sekali dan sedingin es, namun banyak sekali keringat yang keluar. Aku menggoyang-goyang kan badannya, tapi ia tidak beraksi sedikit pun. Aku segera membuka pintu kamar ku dan ku coba memapah ciel untuk ku baringkan di atas kasur.
"ciel ? tolonglah sadar !" aku mengguncang-guncangkan tubuhnya sekali lagi namu tak ada reaksi. Apa kah aku harus memanggilkan dokter sekolah ? ah seharusnya itu yang ku lakukan dari tadi. Aku mencari sebuah selimut tebal dan ku selimuti tubuh ciel. Badannya sedikit gemetaran. Apakah asma nya kambuh ? astaga.
Aku melupakan upacaranya, aku langsung saja bergegas pergi ke klinik sekolah, untung saja ada dokter yang masih berjaga dan tidak mengikuti upacara.
"dokter, tolong saya. Teman saya sedang sakit. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Saat ku temukan ia sudah tak sadarkan diri."aku mencoba menjelaskan setenang mungkin. Tanpa fikir panjang dokter segera mengambil kotak yang mungkin berisikan perlengkapannya.
"baiklah, tunjukkan dimana dia berada. Jangan khawatir dia akan baik-baik saja" aku mengangguk paham, aku pun memimpin jalan. di luar hari sudah mulai gelap. Bulan sabit muncul di atas sana di temani taburan bintang yang berkelap-kelip. Ah seandainya waktunya tepat mungkin aku akan bersantai di taman sambil melihat bintang.
"disini kamar nya dok" aku membukakan pintu dan dokter pun masuk. Aku sedikit terkejut dan senang juga karena melihat ciel sudah duduk di pinggiran kasur melihat kami masuk.
"soma-san ?" nama itu ! hanya dia yang memanggilku begitu, tak ada yang lain. Akhirnya ! sahabatku yang sudah sangat lama tak ku temui.
"robin ? benar robin ?" ia hanya tersenyum sebagai jawabannya. Ah benar-benar dia. Ekspresi di wajahnya itu tetap sama dengan yang terakhir kali ku ingat. sahabat lamaku yang paling ku rindukan akhirnya sudah terbangun lagi setelah tidur panjangnya. -TBC
