Hai, minna. Tadaima!
I am back! #lambai2tangan
Ada yang rindu Zie? #plak
Oke, mari kita lanjutkan.
Sebenarnya fict ini publish setiap 1 minggu sekali. Tapi karena Zie stuck di fict Trouble Maker jadinya fict topeng selesai beberapa hari lebih cepat. Untuk yang menunggu fict TM mohon sabar yah.
JAWAB PERTANYAAN
Satu, Ada yang bertanya, kenapa settingnya berganti terlalu cepat. Apalagi saat Naruto menghindari Tenten dan beralih ke taman belakang.
Good question.
Naruto memang kabur menyelinap gitu, terus larinya juga cepat. Tapi karena sibuk menahan amarahnya, ia jadi tidak sadar kalau dia lari ke taman belakang.
Gitu!
Terus, kalau tembok itu yah. Setting tempatnya sebenarnya sebelum taman, ada gedung yang gak kepake. Karena ada gedung baru tempat Naruto belajar. Taman belakang sama gedung lama itu ditinggalin. Terus gedung baru sama gedung baru itu jauh banget.
Maaf karena gak jelasin lebih detail di chapter 1. Hontou ni gomennasai.
Dua, terima kasih kritiknya yang soal pembatas '….' Akan zi perbaiki.
Tiga, Naruto itu berubah bukan karena udah malam. Naruto berubah kapanpun ia mau. Hanya saja, Naruto tidak bisa menahan cakranya jika kemarahannya meluap.
Semua yang review and kasih saran, makasih ya.
Aretabelya
Yui
Aki-chan
Dragon
LalaCukaCacuNaluCacu (zi yakin kamu masih bayi)
Kaname
Kyuuuu
Zukie1157
Aiko Michishige
Hanazawa kay
Kagaari
Mizu
SNlop
Zadita uchiha
Pororokkamj
Euishifujoshi
Kyuuuuuchan
Aichan14
bulanbiru
….
Topeng punya Zie06
Naruto punya Masashi Kishimoto
M, T+
SasufemNaru, Itakyuu slight SasuSaku, GaafemNaru
Romance, supernatural, fantasy, hurt, dll.
Semuanya hanyalah topeng. Tidak ada yang nyata di dunia ini. Karena semuanya hanyalah palsu. Aku pun sama. Kau pun sama. Mereka pun sama. Kita hanya pemain dalam drama dengan topeng yang menyembunyikan jadi diri kita sebenarnya.
Abal, gaje, gila, stress, aneh, ajaib, gender bender, yaoi, yuri (?), straight, dll.
Happy reading minna-san
…
…
Pagi yang indah dengan cepat menggantikan malam yang dingin. Matahari yang begitu hangat menyentuh kulit, memberikan semangat baru untuk memulai aktivitas di hari ini. Namun, keadaan di Konoha High School begitu berbeda dibandingkan hari sebelumnya.
Raut takut dan khawatir terlihat jelas di wajah para murid di sana. Mereka berbicara berkelompok, dengan suara yang sangat pelan, nyaris berbisik.
Tap! Tap!
Naruto yang baru saja datang di kelasnya segera mendudukan dirinya di bangku miliknya. Mata biru yang dihalangi lensa tebal melirik ke samping. Memeriksa jikalau sahabat bercepolnya sudah datang. Namun, matanya tidak menangkap adanya gadis manis di sana.
'mungkin telat bangun' pikirnya yang berinisiatif untuk membunuh waktu paginya itu dengan membaca buku fisikanya.
"Naruto" Namun, sebelum niatnya tersampaikan, Tenten sudah lebih dulu muncul. Dibelakangnya Matsuri tersenyum ramah kepadanya, membungkuk sedikit untuk memberi salam.
"Ohayou" sapa Naruto riang. Menampilkan senyum tipisnya yang memang sangat jarang ia tampilkan, kecuali kepada beberapa orang yang ia anggap penting.
"Kau sudah mendengarnya?" Tanya Tenten setelah mendudukkan dirinya di sebelah Naruto. Diikuti Matsuri yang duduk di bangku depan Naruto. Naruto menghela nafas berat. Jika Matsuri dan Tenten sudah mulai mengatakan kalimat ambigu seperti 'Kau sudah mendengarnya' atau 'kau tau tidak?' itu berarti satu hal.
GOSIP!
Mereka berdua pasti akan menceritakan semua gossip terhangat yang baru keluar dari panggangan lengkap dengan rincian, data dan tambahan bumbu. Bisa dikatakan, mereka berdua adalah ratu gossip di sekolah ini.
Naruto menaikkan alisnya, seperti yang biasa ia lakukan jika sedang malas bicara. Lagipula, ia terlalu malas mengurusi masalah orang lain yang tidak penting menurutnya.
"Coba kutebak. Kau tidak tau, kan?!"
Naruto mengangguk.
Matsuri mendesah pelan diikuti dengan Tenten yang menepuk jidatnya. "Cerita tentang Karin dan Tayuya, Naruto. Kau ini tinggal di gua ya?" Matsuri merenggut kesal.
"Bukan di gua Matsuri, tetapi di apartement" koreksi Naruto yang langsung diberi hadiah berupa pelototan yang berarti gue juga tau itu, bego dari Matsuri. Dan tentu saja Naruto menanggapinya acuh. Menurutnya, pelototan Matsuri itu tidak ada seram-seramnya. "Lalu, apa yang terjadi?"
"Tadi malam, mereka di serang"
Matsuri mengangguk semangat. "Lukanya cukup parah. Bahkan, saat ini mereka masih koma di rumah sakit. Apa menurutmu monster hutan kematian datang menyerang?" tanyanya, meminta pendapat kedua temannya.
TAK!
"Ittai!"
"Mana ada monster hutan kematian datang ke sekolah, Matsuri. Kau pikir berapa jarak sekolah ini dengan hutan kematian?" Tenten, pelaku penjitakan mendengus pelan. Tidak percaya dengan pemikiran aneh sahabatnya itu yang notabene memiliki tingkat kepintaran jauh di atas mereka.
"Hei, berhenti menjitakku!" protes Matsuri tidak terima, mem-pout-kan bibirnya ke depan.
"Ka—"
Teng! Teng! Teng!
Ucapan Tenten pun terhenti dengan berbunyinya bel sekolah, menandakan bahwa jam pelajaran akan segera dimulai.
"Nanti kita lanjutkan" bisik Matsuri sebelum berlalu meninggalkan kelas D dengan riang, tidak lupa membalas sapaan beberapa pemuda yang menyapanya di pintu.
Sepeninggalan Matsuri, Tenten menatap Naruto yang sedikit berbeda pagi ini. Entah mengapa, aura yang dikeluarkan Naruto sedikit berbeda dibandingkan hari-hari sebelumnya. Err, bagaimana ya mengatakannya. Lebih sedikit bersahabat mungkin?
"Naruto, ada hal menyenangkan terjadi?" Tanya Tenten heran. Sedikit tidak terbiasa dengan aura Naruto yang tiba-tiba sedikit ringan, tidak berat dan sendu.
Naruto yang ditanyai membalas tatapan Tenten. Lalu tersenyum tipis. "Begitulah" jawabnya tenang.
…
…
Sedangkan, di tempat lain tepatnya di sebuah taman bunga mawar yang ditata mengelilingi sebuah bangunan kecil berukir bunga mawar menyerupai sangkar emas yang di dalamnya terdapat meja cukup besar dengan kursi mewah tetapi elegan yang mengelilingi meja tersebut. Di sana, duduklah seorang pemuda dengan rambut dikuncir ke atas yang tengah menguap lebar. Tidak peduli dengan seorang pria yang kira-kira berusia 25 tahun yang menatapnya intens.
"Bagaimana?" Tanya lelaki dengan tanda lahir menyerupai keriput dan rambut hitam panjang diikat menatap Shikamaru tenang.
"Untuk saat ini kita belum mendapatkan bukti kuat, Itachi-sama" balas Shikamaru menghela nafas. Diletakkannya beberapa lembar foto di atas meja.
"Apa yang menghalangimu?" Tanya Itachi tenang, mengambil salah satu foto yang menampilkan gambar seorang gadis berambut merah tergeletak tidak berdaya dengan pergelangan tangannya yang hancur.
"Entahlah"
Itachi menautkan alisnya. "Apa sebegitu sulitnya menemukan pelakunya?"
Shikamaru menggaruk kepalanya pelan dengan senyum yang dipaksakan. "Begitulah yang Mulia. Kiba bahkan dibuat bingung karenanya" jawabnya kesal. Sudah ribuan kasus ia pecahkan, bahkan hanya dengan melihat tempat lokasi kejadian dalam waktu tidak sampai satu jam. Namun, sekarang ia bahkan belum memecahkannya meskipun ia sudah mengerahkan kemampuan melacak clan Inuzuka.
Itachi hanya menggeleng pasrah. Ia tahu harga diri Shikamaru sedikit tercoreng gara-gara insiden kecil ini. "Berarti musuh kita kali ini cukup berbahaya. Tapi, jangan terlalu dipikirkan. Lagipula, setelah kedua gadis itu sadar, kita pasti mendapatkan titik terangnya" hibur Itachi sembari menjentikkan jarinya. Dalam sekejap mata, seorang maid sudah siap dengan teko berlapis emas di sampingnya. "Kopi" tawarnya dengan senyuman sejuta dollarnya.
…
…
Darah. Darah dimana-dimana. Sejauh mata memandang, hanya ada warna hitam dan genangan darah berbau besi.
Gelap. Terlalu gelap di sini. Ia menginginkan cahaya. Sedikit saja cahaya.
Ia takut. Sangat takut. Firasatnya buruk. Firasatnya sedari tadi menyuruhnya untuk berlari, menjauh sejauh kaki kecilnya membawa ia pergi dari tempat ini.
Bau amis semakin tercium dengan pekikan dan teriakan kesakitan yang semakin terdengar jelas di telinganya.
Tap!
Ia mengernyitkan dahinya bingung. Tubuhnya beringsut ke belakang sampai pundaknya menyentuh penghalang keras yang ia yakini adalah tembok. Sukses membuatnya merutuk, memaki tembok dan siapapun yang membuatnya dalam hati.
Menyerah akan semua perasaan kalut dan bingung yang semakin menggerogoti hatinya, mulutnya akhirnya terbuka. Ia perlu menanyakan semua pertanyaan yang bercokol di otaknya, meskipun ia tahu jika orang yang dihadapannya kemungkinan besar tidak akan menjawabnya atau yang lebih parah langsung membunuhnya.
Tetapi, bukankah itu lebih baik daripada mati penasaran, bukan?.
"….."
Ia tersentak kaget. Tiba-tiba, suaranya tercekat dalam tenggorokannya. Tidak bisa keluar meskipun ia berusaha sekuat tenaga. 'sial' rutuknya dalam hati ketika tubuhnya sama sekali tidak mematuhi perintahnya. Tadi suaranya, sekarang tubuhnya? sempurna.
Namun, sebuah tangan kasar menghentikan rutukannya. Bahunya bergetar hebat. Rasa takut menyeruak, menyelimuti hatinya. Tangan asing itu terasa begitu kasar, membuatnya merasa sakit meskipun tangan itu hanya menyentuh dagunya.
"Kau takut?" Tanya orang asing itu pelan. Ibu jarinya semakin berani bergerak, mengusap kasar bibirnya.
Ia mengangguk. Tubuhnya semakin menggila. Ia semakin bergetar ketakutan. Pikirannya berterbangan tanpa arah. Ribuan pikiran negative bercokol di otaknya.
'Apakah aku selanjutnya?'
'Bisakah aku selamat?'
'seseorang, tolong aku!'
"Aaaaaaaa!" Naruto berteriak cukup keras. Peluh membasahi dahinya. Mata sejernih langit miliknya bergerak liar, mencoba mengenali dimana tempat ia berada sekarang. Setelah ia mengetahui bahwa ia berada di atap sekolahnya, barulah ia tenang.
"Mimpi itu lagi" gumamnya sembari memegang kepalanya yang berdenyut nyeri. Ribuan memori masa lalunya menyeruak bak recorder rusak, menayangkan ingatan buruknya terus menerus meskipun ia berusaha untuk mengindahkannya.
Sejenak, Naruto terdiam. Memejamkan matanya pelan dengan isakan yang mulai keluar dari sela bibir merah cherrynya. "Kaa-san, bersabarlah. Sebentar lagi, kita akan bersatu kembali" gumamnya pelan diikuti dengan semilir angin yang bertiup kencang. Membawa ucapannya itu ke atas langit sana.
…
…
"Sasuke-kun"
GREP!
"Kau baru darimana, Sasuke-kun?" Tanya Sakura, bergelayut manja di lengan Sasuke tanpa memperdulikan tatapan tajam Sasuke. Bisa dikatakan, ia sudah kebal dengan tatapan tajam Sasuke yang seharusnya mampu membuat siluman sekuat apapun mati dalam sekejap. (author mulai lebay dibagian ini). Namun, tentu saja tidak akan mempan jika berhadapan dengan gadis pencinta pink kita kali ini.
"Hn"
"Ne, Sasuke-kun. Kau itu dingin sekali" keluh gadis itu mengerucutkan bibir cherrynya ke depan. Imut sih, tapi tidak untuk Sasuke. Malah ia semakin muak dengan tingkah sok imut gadis Haruno itu.
"Berisik" bentak Sasuke menghentakkan lengannya kuat dan tanpa rasa bersalah sedikitpun ia melenggang pergi, meninggalkan Sakura yang menatapnya campur aduk.
"Kau tidak apa-apa, Sakura?" Sakura menoleh, menatap sesosok pemuda bermata lavender yang menatapnya khawatir.
"Hum, aku baik-baik saja Neji" jawab Sakura menyeka air matanya yang berhasil keluar dari iris emeraldnya.
"Kau ini selalu saja manja, Sakura."
"Mendokusei"
Kiba dan Shikamaru tiba-tiba muncul di depan mereka diikuti dengan Ino dan Sai yang bergandengan tangan di belakang mereka.
TAK!
"Ittai" ringis Kiba, menatap si pelaku penjitakan sengit.
"Ada apa Kiba-kun? Ada yang aneh dengan wajahku?" Tanya si pelaku penjitakan dengan wajah tanpa dosanya. Mata biru abu-abunya menatap mata coklat Kiba langsung, menciptakan percikan listrik kasat mata yang hanya terjadi di adegan anime saja. Sukses membuat keempat temannya bersweetdrop ria.
"Kenapa kau menjitakku, hah?!"
"Karena kau menghina Sakura, bodoh"
"Aku tidak menghinanya. Cuma mengatakan ia manja, pirang!"
"Mendokusei" /shika/
"Diam kau, rusa!" /Ino & Kiba/
"Aku ini siluman burung hantu, Kiba" /shika/
"Siapa yang bertanya!" /Kiba/
"Dasar bodoh!" /Ino/
"Diam kau Ino-pig" /Kiba/
"Siapa yang yang bilang pig, anjing!" /Ino/
Bla… bla… bla…
Dan berlanjutlah pertengkaran konyol yang dilakukan Shika-Ino-Kiba yang Author pun tidak tau dan tidak mau tau kapan berhentinya. Jadi, mari kita SKIP cerita ini dan berganti setting di kediaman keluarga Akasuna pada sore hari.
"Tadaima"
"Okaeri, Naruto-sama" ucap Iruka, pelayan pribadi Naruto sembari membungkukkan tubuhnya 90 derajat.
"Nii-sama?"
"Di perpustakaan Naruto-sama" jawab Iruka sopan seraya mengikuti langkah Naruto dari belakang menuju ruang perpustakaan yang berada di lantai satu mansion mereka itu.
Tap!
KRIET!
"Onii-sama"
Seorang pemuda bersurai merah yang saat ini tengah duduk nyaman di sofa merah maroon menoleh sebentar, sebelum kembali melanjutkan membaca buku tebal bercover coklat usang di tangannya.
"Kau sudah pulang, Naru?"
Naruto memutar bola matanya bosan. Dasar, sudah jelaskan jika aku sudah pulang, balas Naruto dalam hati. Sedikit kesal dengan basa basi sang kakak yang tidak berubah dari dulu. "Menurut Nii-sama?" Tanya Naruto balik, menyedekapkan kedua tangannya di dada.
Pemuda itu tersenyum tipis di balik bukunya. "Bersihkan dirimu dan kita makan malam, Naru" ucap —perintah—nya tegas tetapi terselip nada halus di sana.
Naruto mengangguk patuh, berbalik arah dan meninggalkan kakaknya itu yang menatap kepergiannya dengan tatapan sedih tanpa ia sadari.
…
…
Bunyi piring dan garpu perak yang sesekali beradu menjadi music bagi Naruto saat ini. Ruangan makan yang sangat luas dengan sedikit furniture mewah —meja makan panjang, dua kursi empuk di dua ujungnya serta lampu gantung mewah berwarna merah sendu— di dalamnya.
Sesekali Naruto melirik dalam diam pemuda bersurai merah dengan mata segelap malam yang tengah mengiris potongan daging steak dengan tenang. Begitu tenang sehingga sama sekali tidak terusik dengan tatapan Naruto.
"Iruka" panggil Naruto, masih dengan tangannya yang mengiris potongan daging steak menjadi kecil-kecil. Memotongnya semakin kecil tanpa berniat untuk memakannya.
"Ya, Naruto-sama"
"Apa kau sudah menyiapkan gaunku?" Tanya Naruto to the point.
"Sudah nona."
"Bagus" puji Naruto yang kemudian beralih menatap kakaknya yang kini tengah menatapnya.
"Naruto, ada yang ingin Nii katakan, sekarang!"
….
….
Di tempat lain, jauh dari mansion Akasuna tetapi masih bersetting ruang makan, terlihatlah 7 orang berpakaian bangsawan tengah menyantap hidangan makan malam yang luar biasa banyaknya. Saking banyaknya, dibutuhkan lebih dari 20 orang untuk menghabiskannya.
Apakah mereka terlalu lapar sehingga makanan yang disediakan melebihi kapasitas perut orang dewasa normal?
Tentu saja tidak. Malam ini adalah malam penjamuan keluarga Haruno, keluarga kerajaan sebelah yang terkenal dengan julukan negeri Sakura, negeri kecil yang indah tetapi sangat makmur.
Raja Fugaku, selaku tuan rumah sekaligus raja dari kerajaan uchiha duduk di meja paling ujung. Disebelah kanannya duduk Uchiha Mikoto, sang permaisuri. Diikuti Mebuki Haruno, ibunda dari Haruno Sakura. Diujung meja, berhadapan dengan Fugaku, duduklah Kizashi Haruno, ayahanda sekaligus raja kerajaan Haruno.
Di sebelah Kizashi, secara berurutan duduk Haruno Sakura, Uchiha Sasuke dan terakhir Uchiha Itachi. Sejak 30 menit yang lalu, mereka makan dengan tenang. Tidak ada obrolan apapun. Hanya music lembut yang dimainkan grup music kerajaan yang mengisi keheningan.
Meskipun begitu, tentu saja lirikan ataupun bahasa tubuh lain mengambil alih fungsi bibir kali ini. Terlebih lagi Sakura yang sejak pertama kali jamuan makan malam ini dimulai sudah melirik teman makan disebelahnya, dengan harapan besar pemuda itu membalas lirikannya. Meskipun hal itu membuatnya ribuan kali harus menelan pil kekecewaan karena pemuda tersebut sama sekali tidak menanggapinya.
Padahal, ia sudah berdandan berjam-jam, membeli parfum dari negeri seberang laut, serta menyiapkan gaun terbaik jauh-jauh hari hanya untuk tampil sempurna malam ini. Tapi, apa yang ia dapatkan? Hanya sakit hati.
"Hah" tanpa sadar, Sakura mendesah pelan. Rasa daging Grogia* yang terkenal akan kelembutan dan kenikmatan dagingnya bahkan terasa hambar di lidahnya kali ini.
"Apa makanannya tidak cocok untukmu, Sakura?"
"Eh" Sakura memekik pelan. Terkejut dengan pertanyaan permaisuri Mikoto yang terlalu tiba-tiba. Sontak, acara makan itu terhenti dengan semua tatapan mata tertuju padanya, kecuali Sasuke yang masih asik mengiris dagingnya.
"Maafkan hamba yang mulia. Tentu saja makanan ini enak" jawab Sakura sopan dengan senyum terpaksanya. Hal itu tidak luput dari penglihatan Mikoto. Sebagai seorang ratu yang selalu dikelilingi banyak penjilat setiap hari, ia sudah bisa mengetahui jika Sakura sedang memperlihatkan sebuah senyum palsu padanya.
"Tidak apa-apa sayang dan jangan mengatakan yang mulia. Mulai sekarang panggil saya dengan sebutan Okaa-sama." Balas Mikoto dengan senyuman lembut menghiasi wajahnya. Membuatnya terlihat muda dibandingkan umur sebenarnya. Mata hitam khas Uchihanya beralih ke sebelah Sakura. "Bagaimana menurutmu, Sasuke?" Tanya Mikoto lagi meminta pendapat sang anak bungsu.
"Hn" balas Sasuke ambigu, sembari mengelap bibirnya dengan tissue.
Mikoto kembali mengulum senyum lembut. "Nah, sudah diputuskan. Tahun depan setelah kalian lulus kita akan melangsungkan pernikahan antara Haruno Sakura dan Uchiha Sasuke." Putus Mikoto akhirnya, tersenyum begitu bahagia. Diangkatnya tinggi-tinggi gelas wine dengan tangan kanannya, diikuti oleh semua orang termasuk Sasuke dan Sakura tanpa terkecuali.
"Semoga hubungan mereka langgeng sampai maut menjemput mereka" ucap Mikoto lagi, meneguk cairan itu sampai tandas. Perasaan bahagia dan hangat menyelimuti ruangan tersebut. Terutama bagi Mikoto dan Fugaku yang memang sejak dulu mendambakan seorang cucu yang kemungkinan besar tidak bisa dikabulkan oleh anak sulungnya, Itachi.
….
….
Malam ini, Naruto sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Matanya itu seakan-akan memiliki keinginan sendiri untuk tetap terjaga. Mengerang kesal karena rasa kantuk yang tidak kunjung datang, Naruto akhirnya bangkit dari tidurnya. Disambarnya jaket orange kesayangannya dan membuka jendela balkonnya lebar-lebar. Ia membutuhkan udara segar.
Mengendap pelan layaknya seorang pencuri, Naruto melangkah keluar dari kamarnya menuju balkon. Setelah merasa yakin jika cakranya sudah menghilang sempurna, ia akhirnya turun dari balkonnya yang berada di lantai dua.
Mengapa harus mengendap?
Jawabannya karena Ia masih terlalu malas berhadapan dengan kakaknya yang selalu mengekangnya. Bahkan, ia tadi dimarahi habis-habisan karena secara tidak sengaja membuat dua gadis lemah mengalami patah di sekujur tubuhnya dan masih mengalami koma di rumah sakit. Naruto mendengus geli. Ia tidak pernah tau gadis lemah bisa mengancam bahkan membuatnya terluka. Well, meskipun ia membalasnya berkali-kali lipat sih.
Naruto yang kini sedang dilanda rasa bosan yang begitu kuat dengan cepat melangkahkan kakinya ke utara dan setelah menempuh jarak 10 km, ia sudah bisa melihat sebuah danau besar yang memancarkan cahaya bulan yang bersinar di atas sana. Danau tersebut berada ditengah hutan yang memang tidak ada yang memasukinya. Rumor hantu dan monster kuatlah yang menjadikan hutan tersebut sangat enggan untuk dijelajahi.
Tanpa sadar, Naruto tersenyum senang. Mata birunya berbinar takjub, menatap air jernih yang berkilau bak berlian. Dengan cepat, ia melangkahkan kakinya ke danau tersebut. Sesampainya di sana, ia langsung menanggalkan semua pakaiannya. Tidak dihiraukannya tiupan angin jahil yang membelai tubuh telanjangnya. Toh, ia adalah siluman dengan cakra angina, jadi tidak akan sejarah siluman cakra angin jatuh sakit karena masuk angin, bukan?.
BYUR!
Naruto tertawa pelan tatkala rasa dingin bak es menyentuh kulitnya. Ia bahkan sudah berenang ke sana kemari dengan riang. Tampaknya ia begitu menikmati waktu sendirinya yang memang jarang ia dapatkan dan juga rasa dingin air yang menyentuh kulitnya terasa begitu menyegarkan.
Tanpa Naruto ketahui, seorang pemuda dengan surai raven memandangnya dengan tatapan takjub.
….
….
Tidak jauh dari sana, terlihatlah sesosok siluet. Pohon yang menjulang tinggi dan tumbuh saling berdempetan membuat tubuhnya tersamarkan dengan sempurna. Sosok itu tengah duduk santai, bersandar di dahan pohon yang menghadap ke danau.
Mata hitam kelamnya sejak 10 menit yang lalu sudah memandangi danau itu, tepatnya saat dimana Naruto tengah melumuri tubuhnya dengan cairan bunga Cairon*. Sontak, bau harum bunga yang manis —perpaduan wangi strawberry, jeruk mandarin dan jasmine— menguar, memenuhi seluruh sudut hutan itu dengan wangi menggodanya.
Tidak tahan dengan godaan nikmat di depan matanya, sosok itu kemudian berdiri. Posisinya yang lebih tinggi mengingat ia masih ada di dahan pohon, membuatnya bisa melihat tubuh telanjang Naruto dengan cukup jelas.
Kulit tan yang lembut tanpa bercak merah apapun, bibirnya yang begitu menggodanya sedari tadi dan mata birunya yang terlihat begitu indah di bawah sinar , jangan lupa tubuh tannya yang langsing dengan tattoo rumit di perut bagian pusat terlihat begitu seksi di matanya.
Sempurna.
Sosok itu tersenyum misterius. Beruntung sekali ia hari ini. Setelah mengurung diri sekaligus mengutuk beberapa orang yang membuat moodnya berada ditingkat terendah, dan berakhir dengan kaburnya ia ke hutan untuk melampiaskan amarahnya. Dan Tara! Siapa yang menyangka ia akan mendapatkan jackpot seorang malaikat cantik yang jatuh dari langit.
"Akan kudapatkan kau, Hime" gumamnya pelan sebelum tubuhnya menghilang dalam pusaran api kecil.
….
….
Back to Naru!
"Hah, segarnya" desah Naruto puas. Mandi di bawah sinar rembulan ditemani ikan lucu penghuni danau serta berlulur dengan bunga Cairon, 7 dari bunga terwangi di dunia bawah membuat moodnya meningkat drastis. Ia sungguh tidak menyangka jika danau yang ia temukan secara tidak sengaja 7 tahun yang lalu bisa berguna saat ini.
"Wah, wah, wah. Kukira siapa, ternyata malaikat jatuh"
Tubuh Naruto menegang seketika. Matanya terbelalak kaget dengan kedatangan siluman selain dirinya. 'bagaimana bisa' pikir Naruto kaget. Sejak ia datang di hutan ini, ia sama sekali tidak merasakan tekanan cakra siapapun.
"Siapa kau?" Naruto mendesis waspada. Matanya berkilat tajam kearah sesosok siluman yang kini menyeringai. Tudung yang menutupi sebagian wajahnya dan hanya menyisakan bagian hidung mancung dan bibirnya tidak luput dari pengamatan Naruto.
"Malaikat yang galak ternyata. Tapi aku suka" seringai di wajahnya semakin melebar, seakan-akan membelah wajahnya menjadi dua. "Katakan! siapa namamu, manis?" lanjutnya yang ternyata seorang penggombal.
Naruto mendecih pelan. "Memangnya siapa kau sampai aku harus memberikan namaku padamu, heh?" cibir Naruto sinis lengkap dengan tatapan tajam andalannya. Berharap dengan tatapan tajamnya yang memang begitu menyeramkan —menurut pengakuan beberapa korbannya—, sosok penghancur moodnya itu lari ketakutan.
"Berhenti menatapku seperti itu. Nanti kau jatuh cinta" ucap sosok itu dengan penuh percaya diri, sukses membuat Naruto cengo di tempat. Keinginan untuk membunuh sosok itu saat ini juga semakin besar. Terlebih lagi dengan adanya fakta bahwa mereka hanya berdua di hutan yang sepi ini. Jadi, tidak masalahkan ia membunuhnya?
Senyuman malaikat kematiannya mulai melebar, diiringi dengan aura hitam pekat yang secara perlahan menguar dalam tubuhnya. Tubuhnya bersinar diiringi dengan pupil matanya yang mengecil berwarna orange. Kukunya mulai memanjang dan muncul 9 ekor berwarna orange lembut di belakang tubuhnya. telinga rubah menyembul seiring dengan tekanan cakranya yang meningkat. "Ne, apa kau tau?"
Sosok itu terdiam, tetapi hanya dengan melihat gerakan tubuhnya Naruto tau jika sosok itu tersentak kaget. mungkin karena takut dengan perubahannya yang tiba-tiba atau kaget dengan aura hitam pekat yang keluar dari tubuhnya. Naruto tidak peduli yang mana. Lagipula, sosok itu hanya akan menjadi mayat beberapa saat lagi.
"Sejak lahir aku sangat membenci pengganggu. Dan kau sudah berani menggangguku. Lagipula…" Naruto merenggangkan otot jarinya sampai berbunyi 'krek' lalu melirik sosok itu dengan tatapan penuh arti. "Kau sudah mengetahui rahasia terbesarku. jadi—"
"Kau akan membunuhku?" potong sosok itu dengan nada meremehkan dan Naruto tidak suka itu. Baru pertama kalinya ada siluman yang bersikap santai dalam menghadapinya. Bahkan, kakaknya saja yang notabene sudah mengetahui hal ini sejak kecil baru bisa menghentikan rasa takutnya setelah melihatnya berubah wujud sebanyak 4 kali. Tapi, pemuda itu—
"Jika kau berfikir aku akan takut dengan perubahanmu itu, kau salah nona. Justru sebaliknya. Lagipula…" pemuda itu sengaja menggantung ucapannya. Ia malah sibuk memperhatikan penampilan baru Naruto yang terlihat semakin cantik dengan bulu rubahnya yang orange menyala. "Apa kau yakin menyerangku dengan penampilan seperti itu?" lanjutnya dengan seringai mesumnya, seraya menunjuk Naruto.
Wajah Naruto memerah menahan amarah. "Tentu saja ak—"
Tunggu dulu!
Naruto tiba-tiba saja menghentikan ucapannya yang sudah berada di ujung lidahnya. Entah mengapa kali ini ia tidak merasa yakin dengan ucapannya. Apalagi dengan senyuman mesum sosok di depannya itu membuat ia merasa semakin tidak yakin. 'ada yang salah' pikir Naruto, memaksa otaknya untuk berfikir cepat. Kerutan di dahinya semakin bertambah dengan otaknya yang terlalu ia paksakan.
WUSSSS!
Angin dingin musim gugur berhembus, menampar kulit tannya seakan-akan memberitahukan Naruto jawabannya yang sukses membuat wajahnya memucat pasi.
Astaga!
Naruto memekik histeris dalam hati seraya memndurkan tubuhnya ke dalam danau yang lebih dalam. Dengan cepat ia menceburkan tubuhnya sampai pundaknya saja yang muncul di permukaan air. "Kau!" Naruto menatap nyalang sosok itu yang malah membalasnya dengan seringai jahil.
"Sudah sadar, Hime?" Tanya sosok itu yang dengan santainya mencomot pakaian Naruto asal yang memang berada di samping pemuda itu sejak tadi. "Membutuhkannya, Hime?" Tanya sosok itu tenang, tidak terpengaruh dengan intensitas kebencian yang dilayangkan Naruto kepadanya.
"Jangan. Sentuh. Pakaianku. Dengan. Tangan. Kotormu. Itu. Brengsek!" desis naruto menekankan seluruh katanya, tidak suka barangnya disentuh siapapun, terutama oleh sosok siluman mesum yang sudah ia anggap musuh tersebut.
"Well" sosok itu menggantung ucapannya sejenak, sembari tangan kirinya menenteng baju dalam Naruto yang sukses membuat si empu pakaian terpekik kaget dengan rona merah yang menjalari wajahnya sembari mengumpat sosok itu 'mesum'. Namun, sosok itu malah menyeringai senang. Tampaknya ia begitu menikmati perannya sebagai orang mesum di fict author satu ini. "Seharusnya nona berterimakasih padaku. Coba bayangkan bagaimana malunya nona jika nona menyerangku dalam keadaan seperti itu"
"Cih" Naruto mendecih pelan, memalinkan wajahnya ke samping. Seumur hidupnya ia tidak akan rela mengucapkan terimakasih. Ia hanya akan mengucapkan kata itu ketika ia benar-benar membutuhkan pertolongan.
"Apa maumu?" Tanya Naruto straight to the point. Ia sudah malas berbasa-basi. Lagipula, ia sudah meninggalkan kamarnya berjam-jam yang lalu. Bisa saja Iruka memasuki kamarnya dan mengamuk dan yang paling mengerikannya adalah ceramah panjang dan membosankan dari kakaknya yang memang sangat overprotektif terhadapnya. Mungkin saja kakaknya juga akan membakar semua persediaan ramennya selama sebulan sebagai hukuman
Argh, membayangkannya saja sudah membuat Naruto frustasi, terutama di kata terakhir. Ia tidak bisa hidup tanpa ramen. Ramen adalah udara baginya. Tanpa ramen ia hanyalah tubuh yang tidak memiliki nyawa.
Oke, back to the story.
"Mauku?" sosok itu malah balik bertanya. Tangan kanannya yang bebas ia letakkan di dagunya, berpose berfikir. Setelah lama terdiam, sosok itu kembali menatap sosok naked Naruto —kepala sampai pundak dan gundukan dadanya yang sedikit terlihat— sebelum senyuman tipis tercetak di bibirnya. Sukses, membuat Naruto merinding disko.
'Jangan-jangan…'
….
….
Pagi yang dingin. Jam dinding di kamarnya baru saja menunjukkan pukul 4 pagi. Dua jam sebelum ia dibangunkan pelayan pribadinya. Itu berarti ia masih memiliki waktu cukup untuk menutup matanya yang terjaga semalaman. Berlatih —mengamuk— di salah satu tempat latihan rahasianya selama berjam-jam non stop membuat tubuhnya terasa begitu pegal.
Namun, setelah beberapa puluh menit mencoba, tetap saja ia tidak bisa. Matanya seakan-akan punya pikiran sendiri, meskipun tubuhnya sudah berteriak kelelahan. Pikirannya melayang ke sebuah danau yang ia kunjungi tadi malam.
Sebuah senyum tulus yang tidak pernah ia perlihatkan kesemua orang bahkan keluarganya sekalipun terpatri di bibirnya. Entah kenapa, hatinya terasa menghangat ketika memikirkan pertemuan tidak sengajanya dengan gadis rubah berekor Sembilan yang galak tapi manis.
Ekspresi marahnya terlihat begitu imut —meskipun semua makhluk di dunia ini melihatnya sebagai ekspresi seorang malaikat pencabut nyawa—.
Wajah merahnya yang mirip makanan favoritenya.
Suara seksinya yang mampu membuat libidonya bergejolak.
Kulit tannya yang begitu menggoda untuk ditandai.
Mata birunya yang begitu menghangatkan, selalu menggodanya untuk selalu menatapnya.
Bibir mungilnya yang memerah tampak nikmat untuk dilumat.
Dan dadanya ya—
"Huaaaaa, apa yang kupikirkan?" pekik Sasuke OOC dalam hati. wajah putihnya terlihat merona merah. Untung tidak ada siapapun yang melihatnya. Bisa dibayangkan seperti apa gemparnya dunia bawah ini jika seorang Uchiha Sasuke, seorang pangeran dengan julukan poker face prince memerah layaknya gadis yang jatuh cinta untuk pertama kalinya. Oh, harga dirinya bisa hancur berkeping-keping.
Tok! Tok!
"Sasuke, kau sudah bangun?"
Sasuke mendecih pelan, tidak rela jika khayalannya akan malaikat rubahnya diganggu. "Hn" gumam Sasuke pelan.
KRIET!
Sesosok pemuda yang mirip dengannya tetapi lebih dewasa dengan rambut panjang diikat muncul dibalik pintu mahoni. Itachi tersenyum tipis ketika melihat adiknya masih berbaring di tempat tidurnya.
"Apa aku mengganggumu, Sasuke?" Tanya Itachi ngawur.
Sasuke yang ditanya hanya mendelikkan mata hitamnya kesal. Ya iyalah. Mana ada orang yang ganggu waktu tidur dikatakan tidak mengganggu. Dasar aneh. Mungkin itulah yang akan dikatakan Sasuke jika sang author memberikannya peran sedikit OOC di fict ini. Hm, setidaknya belum. #dichidori.
"Apa maumu Itachi?" Tanya Sasuke jengkel setengah mati. Bagaimana tidak jengkel jika ia harus menghentikan acara menghayalkan kekasih ehem calon kekasih hatinya hanya untuk mendapatkan pertanyaan ngawur sang kakak. Ia bahkan tidak memasukkan suffix 'sama' dalam menyebut nama kakaknya tersebut.
"Aku hanya ingin menanyakan pendapatmu saja, otouto"
"Hn"
"Apa menurutmu aku dan Kyuubi serasi?" Tanya Itachi pelan sembari matanya mengamati raut wajah Sasuke yang masih saja datar.
Sedangkan, dilain pihak, Sasuke sedang dilanda kebingungan. Bukankah sejak pertemuan pertamanya dengan anak sulung tetua Uzumaki-Namikaze itu Itachilah yang paling optimis tentang hubungan terlarangnya itu. Buktinya saja ia bahkan sudah melamar Kyuubi dan sebentar lagi akan menikah.
"Hn?"
Itachi menghela nafas berat. Ia tahu adiknya bingung dengan pertanyaannya itu meskipun dibalas dengan gumaman tidak jelas.
"Kau tau. Aku hanya merasa bersalah padamu. Karenaku kaulah yang akhirnya ditunangkan dengan Haruno itu. Aku… minta maaf" mata Itachi menyendu, menundukkan wajahnya menghadap lantai marmer. Tangannya terkepal erat, berusaha meredam rasa bersalah yang semakin menggerogoti hatinya. Ia tidak percaya ibunya akan secepat itu menikahkan Sasuke yang notabene masih sangat muda.
Sasuke bangkit dari tidurnya, tanpa menanggapi ataupun melihat sosok Itachi yang begitu rapuh di depannya. Sedikit merenggangkan tubuhnya, ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Meraih kenop pintu berlapis emas itu dan melirik Itachi sekejap kemudian masuk tanpa mengucapkan apapun.
BLAM!
…
…
1 minggu kemudian.
Keadaan sekolah hari ini sangat ribut. Semua murid tampak begitu sibuk dengan tumpukan buku yang menggunung di meja mereka. Wajah pucat pasi yang kekurangan asupan gizi, aura suram yang mengelilingi mereka serta pakaian yang kusut menjadi pemandangan biasa pagi ini.
Tap!
Bruk!
Naruto yang baru saja menduduki bangkunya pagi ini dikejutkan dengan kehadiran sahabatnya Tenten yang memang memiliki ciri-ciri yang sama dengan pendiskripsian author di atas tengah duduk di bangkunya tanpa sedikitpun menoleh ataupun mengucapkan ucapan 'Ohayou' yang selalu ia ucapkan selama ini. Tampaknya ia terlalu sibuk dengan kegiatannya sehingga sama sekali tidak menyadari keberadaannya.
Sontak, keringat berbentuk biji salak menggantung di dahi Naruto. Sedikit merasa aneh sekaligus kasihan melihat raut wajah sahabatnya itu yang begitu serius. Selama ini, Tenten memang dikenal sebagai sosok yang enerjik dan anti belajar. "Tenten?"
Tenten yang sedari terpaku dengan buku tebal kusam menoleh ke samping dan terkejut ketika mata coklatnya menangkap Naruto yang menatapnya dengan pandangan khawatir.
"Na-naru, sejak kapan kau datang" pekik Tenten tanpa sadar, melepaskan buku tebalnya dengan bunyi 'BAM' pelan.
Naruto menaikkan alisnya. "Sejak tadi. Kau kenapa? Apa kau sakit?"
Tenten menghela nafas berat. "Jangan katakan kau lupa lagi, Naruto! Hari ini kita ujian tertulis lho"
Naruto kembali menaikkan alisnya. Apa hubungannya sakit dengan ujian?, pikir Naruto yang memang otaknya sedang error #digampared. "Lalu?" beo Naruto.
Tenten melebarkan matanya sampai batas maksimal. "Lalu?" Tenten membeo kesal. Berdiri dengan berkacak pinggang. "Naruto, kita ini sudah kelas dua. Semester ini adalah semester penentu kelulusan kita tahun depan. Jika poin kita jatuh lagi, bisa mati kita. Dan apa kau tahu. Semua murid di sekolah ini bahkan begadang satu bulan hanya untuk mempersiapkan diri mereka untuk ujian hari ini. Apalagi kita yang kelas terendah. Kita seharusnya begadang selama satu tahun, Naruto! Dan…." Tenten terus saja mengoceh tanpa henti. Rasa frustasinya akan pelajaran yang tidak kunjung ia melekat di otaknya dan rasa kesalnya akan sifat tidak peduli Naruto membuatnya tidak sadar menjadi bahan tontonan murid lain yang menatap mereka dengan tatapan tertarik.
Sudah menjadi rahasia umum di kelas ini jika Tenten yang sifatnya tomboy dan suka sekali mengantarkan murid lain yang jahil kepadanya ke rumah sakit dengan selamat sentosa akan berubah 180 derajat jika berhadapan dengan Naruto, gadis cupu yang selalu cuek bahkan saat pelajaran berlangsung.
"…Kau mengerti sekarang, Naruto?" Tenten mengehentikan ceramah panjangnya yang kurang lebih berdurai 20 menit dengan nada yang ditinggikan beberapa oktaf sembari menunjuk Naruto tepat di depan wajahnya.
"Hai, sensei" balas Naruto pura-pura mengerti meskipun ia sama sekali tidak menyimak sama sekali apapun yang diucapkan Tenten tadi. Namun, hal itu cukup membuat senyum puas tercetak di bibir Tenten. Ternyata menceramahi —curhat— Naruto membuat perasaan lega.
"Ne, Tenten" panggil Naruto pelan.
"Ya"
"Bisakah kau duduk. Iruka sensei sudah masuk lho" bisik Naruto menyeringai senang yang sukses membuat air muka Tenten berubah menjadi pucat bak mayat.
'Mampus gue!"
…..
…..
RnR please
…..
…..
Penjelasan tanda *
Grogia : daging terlezat di dunia bawah. Kalau kalian pernah menonton sword art online ketika Kirito memanah hewan mirip kelinci. Yah, bisa dibilang seperti itulah bentuk hewan dan rasanya.
Cairon : bunga yang bentuknya mirip bunga sepatu tapi memiliki kantung untuk menyimpan cairan. Biasanya bunga ini diburu untuk dijadikan parfum. Itu juga yang dijadikan Sakura sebagai parfum pas jamuan makan malam tadi.
Chapter dua cukup ini aja ya. Untuk chapter selanjutnya ada ItaKyuu *yay* dan ujian fisik. Jadi, mohon reviewnya.
Oh, ya! Aku pengen minta saran. Apa pas ujian besok identitas Naruto terungkap apa tidak ya?
Lalu, di ujian fisiknya Zi sedikit bingung. Karena ada 2 jalan cerita, jadi Zi pengen minta pendapat kalian.
Untuk ujian fisiknya mau battle one by one atau berkelompok?
Kalau berkelompok Zi mau kasih pasangan kayak gini:
Naruto-Sasuke
Sakura-Sasori
Naruko(Naruto)-Shikamaru
Kiba-Hinata
Tenten-Neji
Sai-Ino
Dan pasangan lain belum ditentukan.
Mohon pendapatnya. Minta pendapatnya juga untuk chapter yang ini.
