By: Xylia Park
.
Bangtan Boys Pt.1
.
Nyonya Bangtan baru saja berbaring diatas tempat tidur saat seseorang dengan nomor tidak dikenal menelponnya.
"Yeoboseyo", Nyonya Bangtan menjawab teleponnya.
"Ya, dengan Nyonya Bang Tania? Ini dari kantor polisi. Anak anda, Jimin dan Taehyung sedang kami tahan disini"
"APA?!"
.
Bangtan Boys PT.1
CHAPTER 2
.
Tidak ada yang lebih membuat Nyonya Bangtan naik darah selain mendapat panggilan dari kantor polisi karena dua orang putranya yang baru saja melakukan pelanggaran.
Sepanjang jalan, dia merasa takut. Dia takut Jimin dan Taehyung melakukan hal yang lebih serius dari sebelumnya.
Bukan pertama kalinya Nyonya Bangtan mengunjungi kantor polisi itu. Dia bisa datang lebih dari dua kali dalam sebulan. Biasanya karena merusak fasilitas umum dan yang paling sering, berkelahi.
Jimin dan Taehyung tidak akan membiarkan Ibu mereka duduk tenang di rumah sebelum membuat Ibunya bertemu dengan Pak Han. Seorang petugas baik hati yang selalu menangani masalah kedua anak itu.
Saat memasuki tempat itu, Nyonya Bangtan berusaha menekan amarah-terutama rasa malu-nya. Yang benar saja. Seluruh penghuni kantor polisi itu sampai hafal dengan wajahnya karena dia rutin mengunjungi kantor mereka.
Tidak ingin berlama-lama menjadi pusat perhatian. Nyonya Bangtan mempercepat langkah begitu dia melihat wajah kedua anaknya dari jauh. Suara sepatunya menggema tidak sabaran di sepanjang lorong dan seolah ada kobaran api keluar dibalik punggungnya.
"Apa lagi yang mereka lakukan kali ini, Pak Han?", tanyanya pada polisi itu tanpa basa-basi.
"Oh, selamat malam. Silahkan duduk", kata Pak Han.
Polisi itu selalu menunjukkan sikap ramah walaupun kedua anaknya adalah biang masalah di wilayah mereka.
"Begini Nyonya, Jiminie dan Taehyungie baru saja melakukan pelanggaran lagi", kata polisi itu.
Lihat? Pak Han bahkan menyebut kedua anak nakal itu dengan panggilan sayang sangking seringnya mereka bertemu.
Nyonya Bangtan pura-pura bersikap tenang mendengarkan, namun kakinya tidak bisa berhenti bergerak cemas dibawah meja. Di ingin segera mendengar kenakalan apakah yang sudah dilakukan kedua anaknya kali ini.
"Kali ini cukup serius Nyonya", ucap Pak Han.
Mendengar itu, Nyonya Bangtan menelan ludahnya dan ototnya menegang penuh emosi.
Polisi itu menarik nafas sebelum dia melanjutkan ucapannya.
"Mereka dan teman-temannya sudah memblokade jalan terowongan dan menyerang mobil-mobil hingga membuat kemacetan besar disana".
Saat itulah ia tidak bisa lagi menahan ekspresinya. Nyonya Bangtan sangat-sangat terkejutmendengarnya. Dia menatapi satu per satu putranyamata membulat tidak percaya.
"Kalian...?"
Jelas tidak bisa dipercaya. Benar-benar kelewatan.
"Aku hanya mengemudi saja. Justru mereka yang menyerang mobil-mobil itu", Jimin membela dirinya.
"APA?!", suaranya menggema. Nyonya Bangtan semakin terkejut mendengarnya. Dia sama sekali tidak tahu jika Jimin bisa mengemudi mobil.
"Benar. Tapi kau tidak punya surat ijin mengemudi, nak", jawab polisi itu.
Petugas keamanan itu telihat sangat tenang dan sabar kepada mereka. Mungkin memang sudah sifatnya. Beruntung sekali bagi wanita yang bisa mendapatkan cintanya.
"A-aku hanya diam di dalam mobil, Bu", kata Taehyung.
"I-Iya, benar. Kami hanya diam di dalam mobil", sahut Jimin.
"Ibu, tolong jangan biarkan kami dipenjara"
"Ibu Aku mau pulaaaaang~", rengek mereka sambil menarik-narik lengannya.
"Diam!", geram Nyonya Bangtan.
Dia menjauhkan tangan kedua anak itu dari lenganya. Menatap mereka dengan tatapan tidak ramah. Baginya, kenakalan Jimin dan Taehyung kali ini tidak bisa ditoleransi.
"Aku akan menghukum kalian berdua setelah kita sampai dirumah!"
.
Mereka selalu berbuat nakal, namun selalu merengek saat mereka tertangkap petugas. Benar-benar menyebalkan. Syukurlah kedua anak itu bisa bebas dengan mudah karena mereka masih dibawah umur.
Terima kasih pada Pak Han yang baik hati dan mau bersabar menghadapi anak-anak pembelot ini.
Dengan langkah kesal, Nyonya Bangtan berjalan keluar dari kantor polisi itu diikuti oleh kedua putranya dibelakang.
Dia berbalik lalu memberi sorot tajam pada keduanya, membuat mereka menunduk seketika. Amarahnya sudah sampai di ubun-ubun. Seperti bom waktu, amarahnya siap meledak kapan saja.
"Apa yang kalian pikirkan sampai kalian melakukan hal sejauh itu?", tanya Nyonya Bangtan penuh tekanan. Memijit keningnya yang terasa berdenyut-denyut karena banyaknya masalah dalam hidupnya.
"Astaga. Memblokade jalan? Jimin?! Aku bahkan tidak tahu kau bisa mengemudi! Ini sangat keterlaluan!".
"Apa kalian tidak memikirkan aku?"
"Apa aku mendidik kalian untuk menjadi berandalan?"
"Kalian tidak ada bosannya membuatku masuk kedalam kantor ini! Tidak bisakah kalian biarkan aku istirahat dirumah?!"
"Tapi Ibu senang bisa bertemu Pak Han, kan?", ucap Taehyung dengan senyum jahil diwaktu yang tidak tepat.
"Ya, duda tampan. Aku mau jadi anaknya", tambah Jimin, lalu keduanya melakukan high five.
"Diam!", kata Nyonya Bangtan.
Kedua anaknya itu segera menurut dan menunduk. Entah karena menyesal atau karena takut melihat Ibunya yang sudah seperti banteng pemarah, yang jelas mereka akan mendapatkan hukuman yang berat setelah ini.
Nyonya Bangtan mencegat sebuah taksi yang kebetulan lewat."Ayo kita pulang", katanya.
Dia mendahului masuk kedalam taksi-kursi penumpang di samping supir. Dan taksi pun segera melaju saat Nyonya Bangtan menyebutkan alamat rumah mereka.
Saat ini Nyonya Bangtan sedang tidak bisa berpikir jernih. Dia bisa meledak kapan saja. Masalah hidupnya seperti benang kusut yang sulit diuraikan. Aish! Dia bisa gila hanya dalam semalam!
Tapi, membuat Jimin dan Taehyung diam seribu bahasa agaknya membuat Nyonya Bangtan merasa bersalah juga. Aneh rasanya kalau mereka tidak ribut. Dia tidak pernah ingin membuat putra-putranya merasa takut padanya. Dia adalah Ibu masa kini yang baik dan berjiwa muda.
Nyonya Bangtan berdehem pelan sebelum bicara, "Sudah makan malam?". Berusaha membuat suaranya terdengar tidak ramah.
"Belum, Nyonya. Saya banyak penumpang sejak tadi sore", jawab si supir taksi sambil tertawa malu.
Nyonya Bangtan mengerutkan alisnya. Karena terdengar lucu, dia ikut tertawa.
"aku tidak bertanya padamu. Aku bertanya pada kedua putraku", kata Nyonya Bangtan sambil menoleh pada kursi belakang untuk melihat kedua putranya.
Namun betapa terkejutnya dia saat mendapati kursi itu kosong. Jimin dan Taehyung tidak ada disana.
"Oh, Astaga. JIMIN! TAEHYUNG!"
Yup. Rupanya Jimin dan Taehyung memang tidak akan pernah menyesali perbuatan mereka. Nyonya Bangtan yang malang...
.
Jimin dan Taehyung berlari kencang menyusuri jalan sambil tertawa. Mereka tidak ikut masuk kedalam taksi bersama ibu mereka. Tetapi justru berlari berlawanan arah. Mereka tidak ingin pulang karena mereka tahu, mereka akan mendapat hukuman.
Kedua anak itu berhenti saat dirasa sudah jauh berlari. Dengan nafas tersengal-sengal, keduanya kini berjalan dengan santai memasuki sebuah lapangan skateboard disamping sungai.
"Aku tidak mau membersihkan rumah selama seminggu", kata Jimin sambil menendang kerikil diujung sepatunya.
Taehyung hanya diam dan menerawang ke atas langit malam. "mana yang lebih berat. Membersihkan rumah selama satu minggu atau tidak bertemu dengan Jungkook selama satu hari?", tanyanya.
Jimin bersuara kecewa mendengarnya lalu menggaruk kepalanya.
"Kira-kira dia sedang apa ya, sekarang?", tanyanya kepada diri sendiri, Taehyung dan juga bintang-bintang dilangit.
Kedua kakak yang sedang merindukan adik mereka itu terlihat sangat kecewa karena tidak bisa pulang hari ini. Mereka berhenti dan duduk ditengah-tengah lapangan itu.
"Pasti dia sedang membuka hadiah dari penggemarnya", kata Taehyung mengira-ngira.
"Atau mungkin sedang makan malam", sahut Jimin lalu menyebutkan menu masakan ibu yang lezatnya tiada banding.
"Ah, makan malam. Aku jadi lapar", kata Taehyung sambil memegangi perutnya. Dia merogoh saku celananya dan hanya mendapat dua lembar uang yang mungkin hanya cukup untuk membeli dua cup mie instan.
"Chim. Kau punya uang tidak?", tanyanya pada Jimin. Siapa tahu saja Jimin bisa membeli makanan yang lebih enak untuk mereka berdua.
Jimin hanya mengibas-ngibaskan tangannya. "Lupakan saja. Aku tidak punya sepeser pun", katanya.
"Dasar miskin", Taehyung mendorong tubuh Jimin.
Mereka berdua diam ditempat itu untuk waktu yang cukup lama sampai akhirnya mereka sadar jika pelarian mereka hanya sia-sia.
Mereka lapar dan juga ingin bertemu dengan adik mereka. Namun harga diri mereka terlalu tinggi untuk menyerah begitu saja pada Ibu mereka.
"Sekarang apa?", tanya Jimin.
Taehyung mengedikkan bahunya tidak tahu. Dan begitulah akhir kisah dari dua anak nakal itu malam ini.
.
Bangtan Boys Pt.1
.
"Sudahlah Ibu. Nanti kalau mereka lapar, mereka pasti pulang", kata Hoseok sambil memijit-mijit lengan Ibunya.
Mencoba menenangkan ibunya yang sedang menangis. Karena kedua adiknya , Jimin dan Taehyung yang tidak kunjung pulang sejak semalam dan membuat sang Ibu khawatir.
"Kau pikir mereka peliharaan yang akan pulang jika waktunya makan? Mereka adik-adikmu!", Nyonya Bangtan mendorong Hoseok dengan kesal. Hoseok hanya tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya.
"Aku harap Taehyung tidak terlambat makan. Aku tidak ingin dia masuk rumah sakit lagi", kata Nyonya Bangtan.
Benar juga. Maag Taehyung bisa kambuh jika dia terlambat makan.
"Ya sudah, begini saja...", Hoseok mendekat lagi pada Ibunya.
"..serahkan saja semuanya padaku. Aku akan mencari mereka sampai dapat. Bagaimana?", tanya Hoseok dengan senyuman manisnya.
"YA! Hoseok-ah!", Namjoon meneriakinya. Dia mendelik tidak setuju pada Hoseok. "Pikir dulu sebelum bicara", lanjutnya.
"Tenang saja. Aku akan mencari mereka sampai dapat!"
"Ck! Kenapa tidak dari tadi kau bilang begitu", kata Seokjin. Si Sulung itu berdiri dari tempat duduknya.
"Lagi pula, Jimin dan Taehyung bukan anak kecil lagi. Ibu tidak perlu berlebihan. Lebih bagus lagi jika mereka tidak kembali untuk selamanya. Pembuat onar", tambahnya. Dia memakai tasnya dan bersiap untuk pergi.
"Seokjin!"
"Aku duluan. Sudah hampir terlambat. Buang-buang waktuku saja", katanya seraya berjalan meninggalkan meja makan.
"Aku juga", kata Jungkook seraya berdiri. Dia memeluk ibunya sebentar.
"Jangan khawatir Ibu. Hoseok akan membawa mereka pulang, yaa, walaupun aku lebih suka kalau mereka tidak ada", katanya sebelum dia menyusul Seokjin keluar dari rumah.
Hoseok hanya diam menatapi kedua saudaranya itu pergi. Seokjin selalu saja tidak bisa menjaga mulutnya dan Jungkook, Aish! Dia sama menyebalkannya.
"Ibu jangan khawatir. Biar aku urus semuanya, ya?", kata Hoseok dengan senyuman manis, mengakhiri masalah mereka pagi ini.
.
.
Namjoon berdiri dibawah tangga sekolah, menunggu Hoseok keluar dari kelasnya. Anak itu benar-benar tidak memikirkan tentang dirinya sendiri. Seenaknya saja dia menawarkan diri untuk mencari Jimin dan Taehyung yang lari dari rumah.
Demi ketenangan Ibunya, Hoseok selalu akan melakukan apapun meskipun harus melupakan rasa lelahnya.
Mungkin Hoseok bilang dia tidak lelah, tapi Namjoon tidak bisa dibodohi terlebih saat setiap kali dia menyentuh tubuh Hoseok yang panas. Namjoon yakin anak itu sedang sakit.
"YA!"
Namjoon terkejut saat seseorang melompat naik kepungungnya. Siapa lagi kalau bukan Hoseok?
"Aish! Turun!"
Namjoon menatap dengan malas pada Hoseok yang sedang mentertawainya. Anak itu bahkan masih bisa tertawa, padahal wajahnya sudah terlihat pucat.
"Kau baik-baik saja?", tanya Namjoon. Dan untuk yang kesekian kalinya Hoseok mengangguk dengan senyum kudanya. Untuk sekarang Namjoon akan berpura-pura mempercayainya. Dia mengangguk pada Hoseok.
"lalu, kemana kita akan mencari dua bocah nakal itu?"
.
.
Berbekal informasi yang diberikan oleh teman-teman Jimin dan Taehyung, Namjoon dan Hoseok sudah mengunjungi beberapa tempat.
Taman baca komik, tempat bermain game online dan juga billiard. Namun mereka berdua tidak ada disana.
Mereka benar-benar parah. Disetiap tempat yang Namjoon dan Hoseok kunjungi penuh dengan orang-orang yang tidak punya masa depan cerah. Namjoon tidak percaya, Jimin dan Taehyung berteman dengan orang-orang seperti itu sedangkan mereka mempunyai saudara-saudara yang jauh lebih berkualitas.
Mereka bisa saja menelepon ponsel mereka dan menyuruh mereka untuk pulang sendiri. Namun sejak kemarin Jimin dan Taehyung tidak menjawab satu pun panggilan mereka.
Namjoon hampir menyerah(lebih kearah malas dan merasa tidak diuntungkan dalam pencarian ini) kalau saja Hoseok tidak memohon dengan aegyo andalannya.
Namun karena hari yang semakin gelap, Namjoon dan Hoseok memutuskan untuk kembali kerumah. Namjoon melirik pada namja berambut hitam itu dan tiba-tiba teringat sesuatu.
"bukankah kau seharusnya mengikuti les tambahan disekolah?"
Hoseok mengangguk. "Iya. Aku ijin tidak ikut hari ini", katanya.
Namjoon mengangguk. Lagi-lagi terpaku menatap wajah pucat Hoseok. "Kau baik-baik saja?", pertanyaan itu keluar bigitu saja dari mulutnya.
Hoseok tertawa. "YA. Kenapa kau selalu menanyakan hal yang sama padaku, eoh?", tanyanya sambil mendorong Namjoon hingga kakinya hampir masuk kedalam selokan.
Hoseok tertawa. Namun tiba-tiba berhenti seolah dia baru saja mendapatkan pencerahan. Dia menepuk keningnya.
"Ah! Kenapa tidak terpikirkan sejak tadi! Buang-buang waktu saja!", serunya.
"Apa?"
Hoseok menarik jaket Namjoon dan menatapnya dengan sumringah, "Kita harus segra pulang. Aku punya ide!", setelah itu dia berlari mendahului Namjoon.
"YA! Tunggu!"
.
"APA?!"
Jungkook sampai tersedak susunya saat Hoseok meminta sesuatu yang sangat sangat tidak menyenangkan padanya.
Hoseok ingin Jungkook menelpon Jimin dan Taehyung untuk menyuruh mereka untuk segera pulang. Bukannya tidak mau membantu. Hanya saja, kenapa Jungkook selalu saja dikaitkan dengan dumb and dumber itu?!
"Kenapa aku?", tanyanya lagi. Terdengar sangat keberatan.
"Karena mereka hanya akan melakukan apa yang kau katakan", jawab Hoseok penuh semangat. Matanya berbinar dan senyumnya lebar seperti kuda.
Jungkook mengeluh. Dia tidak ingin berkata-kata manis, membohongi, apalagi memberi kedua anak nakal itu harapan apapun.
Jungkook tidak ingin berpura-pura mengharapakan kepulangan mereka karena sejujurnya sejak kemarin Jungkook melewati hari-hari tenang tanpa ada Jimin dan Taehyung disekelilingnya. Tanpa mereka, Jungkook tidak perlu mendengarkan mereka ribut memperebukan dirinya.
"Hah! Aku tidak mau!"
Jungkook berjalan melewati Kakak kudanya itu namun dengan pantang menyerah, Hoseok bergelayut pada kaki Jungkook.
"Ayolah...". Dia berlutut dan menyentuk slipper kelinci Jungkook. Memohon kepada adik bungsunya sendiri.
"Jangan begini, Hyung! Ya ampun! Dimana harga dirimu? Aku ini adikmu!", Jungkook berusaha menjauhkan Hoseok dari kakinya.
Ini tidak lucu. Jungkook adalah adiknya, tidak sepantasnya Hoseok memohon sampai memeluk kaki Jungkook seperti itu.
"Aku mohon~ Kasihan ibu. Ibu sangat khawatir pada Jimin dan Taehyung.".
Jungkook mendesah. "Aish! Kenapa kau melakukan ini padaku?", kata Jungkook keberatan, namun dia meraih ponselnya didalam saku celananya. Dia lemah jika nama 'Ibu' mereka dibawa-bawa. Jungkook akan melakukan apapun jika itu untuk ibunya tersayang.
Melihat hal itu, Hoseok langsung bangkit dari posisinya. "Kau bersedia?", dia bertanya dengan wajah berbinar.
Jungkook mendengus tidak suka. Jungkook benar-benar merasa dirugikan. Semua ini adalah salah dumb and dumber itu.
"Terima kasih~"
"Ewwh!", Jungkook mengusap pipinya yang saru saja dikecup oleh kakaknya itu.
"Kau berhutang padaku", katanya pada Hoseok sebelum dia menelepon dua saudaranya yang nakal.
.
Sementara itu disebuah stasiun penyimpanan gerbong tua. Ada dua orang anak laki-laki nakal yang sedang duduk di atas gerbong kereta. Salah satu dari mereka mendongak menatapi langit malam. Sedangkan yang lainnya yang bernama Jimin, sedang menatapi saudaranya itu.
Wajah Taehyung pucat dan berkeringat. Dari ekspresinya, jelas sekali jika Taehyung sedang menahan sakit.
Saat sekolah dasar Taehyung pernah harus dirawat selama berhari-hari di rumah sakit karena penyakit maagnya yang terlambat ketahuan. Jimin agak khawatir padanya. Takut-takut jika maag Taehyung kambuh.
"YA. Kau baik-baik saja?".
"Aku baik-baik saja!", kata Taehyung galak.
Anak itu memang tidak suka jika ada yang mengkhawatirkannya. Tapi saat ini Jimin benar-benar khawatir padanya.
"Apa perutmu sakit? YA. Sebaiknya kita pulang. Kita mengalah saja. Kau belum makan sejak siang", Jimin menyentuh pundak Taehyung namun dengan cepat ditepis.
"Chim!"
Jimin mengalah dan menjauhkan tangannya. Dia hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada Taehyung. Lagi pula, kalau seandainya terjadi apa-apa pada Taehyung, Jimin lah yang akan kena marah.
"YA! YA! YA!", Taehyung tiba-tiba berseru tidak percaya sambil menatap layar ponselnya. Tentu Jimin terkejut dan penasaran.
"Jungkook meneleponku!".
Mendengar itu Jimin langsung mendekat-menempel-pada Taehyung hanya untuk melihat nama dan gambar kontak Jungkook pada layar ponsel Taehyung.
"Cepat jawab! Cepat!", katanya dengan menggebu-gebu. Walaupun tidak bertemu sehari, tapi rasanya sudah lama dia tidak mendengar suara halus Jungkook. Kkk~ dasar kakak-kakak gila.
"Yeoboseyo~", Taehyung menjawab telepon dan Jimin ikut menempelkan telinganya pada ponsel Taehyung.
"Hyung, kau dimana? Cepatlah pulang, kami semua khawatir"
Jimin dan Taehyung saling pandang dan tertawa kegirangan tanpa suara. "Apa kau juga khawatir?", tanya Taehyung lalu melakukan high five dengan Jimin.
"Yaaaa, mungkin"
Jimin dan Taehyung bergerak-gerak gemas kegirangan walaupun mereka tahu Jungkook tidak tulus mengatakannya.
"Pulang atau aku akan marah padamu"
Kedua anak itu terlalu kegirangan sampai-sampai Jimin hampir terjatuh dari atas gerbong kereta.
"Baiklah. Aku akan pulang sekarang juga. Sampai jumpa, Kookie kelinciku~", ucap Taehyung. Dia bahkan masih sempat mencium ponselnya sendiri.
Mereka berdua melonjak-lonjak kegirangan ditempat duduk mereka, seolah-olah baru saja menang undian.
"Kita harus pulang sekarang juga!", ucap Taehyung sambil memakai ranselnya. Dia terlalu bersemangat sampai nekat nemelompat turun dari atas gerbong yang tinggi itu.
Namun tidak seperti dirinya, Jimin justru mematung di tempat.
"Ada apa? Ayo! Jungkook sudah meminta kita pulang"
Jimin diam. Dia memikirkan sesuatu dikepalanya. Hyung, kau dimana? Cepatlah pulang, kami semua khawatir.
Jimin menghela nafasnya lalu menggeleng. "Jungkook hanya memintamu untuk pulang. Bukan aku", katanya sambil menunduk. Lalu dia melepas kembali tas ranselnya dan kembali duduk ditempatnya.
"Ah? Benar juga. Jungkook kan hanya menyukaiku. Baiklah. Aku duluan, bye~", kata Taehyung seraya melambaikan tangan dan berjalan menjauhi Jimin.
Jimin menghela nafasnya. Dia kecewa ternyata Jungkook lebih menyukai Taehyung dari pada dia.
"Dasar tidak setia kawan!", dengusnya.
Dia menatap sekeliling. Sepi~ Hanya ada dia sendirian disana. Mungkin juga beberapa hantu penghuni gerbong mati itu. Aih! Jimin jadi merinding memikirkannya.
Jimin meraih ponselnya saat benda itu bergetar disaku celananya. Awalnya dia mengir itu Taehyung yang menelponnya hanya untuk mmanas-manasi. Namun matanya membulat saat melihat gambar Jungkook lah yang ada disana. Jungkook meneleponnya juga! Tangan Jimin sampai gemetaran. Dengan hati-hati dia menggeser tombol hijau dilayarnya.
"y-yeoboseyo"
"Hyung..."
Rasanya seperti ada berjuta kelopak bunga bertebaran disekelilingnya. Hati Jimin menghangat mendengar suara halus nan merdu milik adiknya, Jungkook.
"Hyung. Cepatlah pulang. Kami semua khawatir padamu".
Apa yang bisa Jimin lakukan selain diam mendengarkan dan tersenyum seperti orang bodoh? Suara Jungkook terlalu merdu untuk diinterupsi. Dia mendengarkan suara Jungkook yang halus dengan seksama bahkan dengan mama terpejam.
"Hyung..?"
"Hyung kau masih disana?"
"Hyung, kau tidak pingsan , kan?"
"Jimin Hyung?"
"YA! Dummy!"
"Pulanglah. Kami menunggu kalian berdua! Sudah ya."
Telepon diputus dan Jimin masih diam mematung ditempatnya. Senyum bodoh masih mengiasi wajahnya. Wajahnya memerah karena terlalu senang. Dia hampir meledak. Bolehkah dia meledak?
"AAAAAA! TAE-TAE. TUNGGU AKUUUUUUU~~!", teriaknya. Lalu dia melompat turun dari gerbong itu dan berlari menyusul saudaranya yang belum jauh pergi.
.
.
"Ibu, kami berangkat!"
Jimin dan Taehyung menghentikan langkah mereka saat bertemu dengan Hoseok dan Namjoon didepan rumah mereka. Mereka nampak rapi dengan ransel dan matel hangat yang bagus.
"Ah, akhirnya kalian datang. Ibu sudah menunggu kalian. Kalian akan mati!", kata Hoseok. Dia berisyarat seolah-olah sedang memotong lehernya. Lalu dia tertawa jahat yang dibuat-buat lalu berjalan melewati mereka.
"Kalian mau kemana?", tanya Jimin.
Bukannya langsung menjawab, mereka malah saling menatap. "Belajar bersama", Namjoon yang menjawab. Setelah itu dia mendorong Hoseok pergi bersamanya.
"Belajar bersama pukul sepuluh malam?"
Jimin menatap Taehyung yang bertanya. "Entahlah", jawabnya asal. Walaupun dia sendiri juga sedikit tidak percaya kedua kakaknya akan belajar bersama.
"Sudahlah, ayo masuk", ajak Jimin. Namun Taehyung memeganginya dan menatapnya dengan tatapan khawatir.
"Apakah kita benar-benar akan...", Taehyung tidak melanjutkan kalimatnya, namun dia juga berisyarat memotong lehernya sendiri. Dia pasti tahu arti 'mati' bukanlah mati sungguhan. Tapi Taehyung nampak cemas.
Jimin mengibaskan tangannya. "Kau seperti tidak tahu Hoseok saja. Sudahlah, ayo masuk", jawab Jimin. Dia berjalan memimpin Taehyung masuk kedalam rumah.
Hoseok hanya menggoda mereka saja. Sejak kecil memang begitu. Tapi Jimin yakin, kakaknya itu pasti sudah melakukan sesuatu untuk mentelamatkan mereka.
Jimin jadi ingat saat pertama dirinya dan Taehyung ditangkap petugas keaman. Ibu mereka marah besar dan hampir akan memukul kaki mereka dengan rotan jika saja Hoseok tidak menangis saat mengetahuinya dan menawarkan diri untuk menggantikan mereka.
Jimin sangat berterima kasih. Sangat sangat berterima kasih. Hanya saja dia tidak pernah mengatakan rasa terima kasihnya pada Hoseok. Itulah kenapa dia tidak pernah marah jika kakaknya itu mengejek, menggoda atau menjahilinya. Walaupun menyebalkan, Jimin tahu Hoseok menyayangi mereka.
"Tidak ada siapapun"
"Ssssttt!"
Mereka berjalan mengendap-endap saat sudah benar-benar berada didalam rumah. Memeriksa situasi dan kondisi didalam. Namun tidak ada siapapun yang menunggu mereka, baik di ruang tengah maupun ruang makan. Suasana rumah itu sudah sepi. Tentu saja. Rumah hanya ramai saat makan saja, kan?
Taehyung menyempatkan diri untuk mengambil sepotong kue coklat di kulkas sebelum mereka naik kekamar mereka.
Saat mereka sampai dilantai atas, mereka tidak langsung masuk kekamar mereka. Namun mereka malah mengintip kedalam kamar Jungkook dan mengintip si bungau yang sudah tertidur pulas.
"Kelinci yang manis"
Jimin melirik pada Taehyung yang bersuara. "Bukan kelinci, tapi bunny!", ralatnya dengan suara pelan.
"Apa bedanya?"
Jimin mengefikka bahu. Mereka kembali menatapi Jungkook yang bergerak dalam tidurnya. Adiknya itu mengigau lucu dan membuat keduanya terkekeh geli.
"Bocah manis", gumam Jimin sebelum dia dan Taehyung menutup pintu kamar itu.
Mereka berdua tersenyum seraya berjalan kearah kamar mereka. Masih terbayang-bayang wajah manis Jungkook bahkan hingga mereka naik keatas temapt tidur dan bersiap untuk tidur.
Mungkin malam ini mereka bisa tidur nyenyak. Tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada keduanya esok hari.
.
.
"Jimin. Taehyung"
Jimin dan Taehyung menunduk. Dihadapan mereka sudah ada Ibu dan saudara-saudara mereka(sebenarnya hanya Seokjin, Hoseok dan Namjoon yang sesekali tertidur ditempatnya) yang siap untuk 'mengeksekusi' mereka.
Kenapa juga hari ini tepat dimana sekolah mereka libur. Mereka jadi tidak bisa melarikan diri dan terpaksa harus menerima resiko atas kenakalan mereka.
"Jelaskan pada Ibu. Kemana kalian pergi pada malam itu?!"
Mereka berdua hanya diam. Jujur saja, Jimin tidak suka memperpanjang masalah ini. Dan lagi, Ibu mereka selalu marah-marah pada mereka. Hanya mereka saja. Ibunya tidak pernah terlihat memarahi saudara yang lainnya.
"Tidak mau menjawab?! Baiklah, Ibu terpaksa unyuj memukul kalian dengan rotan!"
"Eh? I-Ibu. Kenapa Ibu bicara seperti itu?", Hoseok menengahi mereka. Dia memijit-mijit lengan Ibunya dan merayu Ibunya agar meringankan hukuman kedua adiknya itu. "Jangan begitu Ibu. Kita harus dengarkan penjelasan mereka dulu".
"Hoseok! Berhenti melindungi mereka! Kali ini Ibu benar-benar marah!", ucap Ibunya.
"Ibu memang selalu memarahi kami! Kalau Ibu tidak suka anak nakal, lalu kenapa tidak Ibu usir saja kami berdua?!"
Semua orang diruangan itu terkejut mendengar Jimin yang meledak marah. Bahkan Namjoon sampai terbangun dari tidurnya.
"YA. Ada apa denganmu?", Taehyung menarik-narik bajunya.
Semua orang nampak tidak percaya dengan kemarahan Jimin. Jimin sendiri juga sama. Dia tidak mengerti mengapa dia bisa sampai lepas kendali.
Memang itulah yang selalu Jimin pikirkan setiap kali Ibunya marah pada mereka berdua, tapi dia tidak pernah berusaha untuk mengatakannya. Jimin tidak sengaja mengucapkan itu hari ini.
Ledakannya barusan nampaknya mengejutkan semua orang. Tidak ada yang bicara. Semua orang menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Membuat perasaan bersalah itu terasa berat, merambat hingga kedalam hati dan ingatannya.
"Maaf", kata Jimin sebelum dia mengambil langkah pergi menuju kamarnya.
.
"C-Chim! Tunggu aku", ucap Taehyung. Dia menatap bergantian pada Jimin dan Ibynya.
"Maafkan aku Ibu", Taehyung membungkuk pada ibunya sebelum menyusul Jimin.
Hoseok terus memandangi Ibunya yang terlihat sangat terkejut. Untuk saat ini yang perlu dikhawatirkan adalah perasaan Ibunya.
Dia takut Ibunya merasa terluka karena ucapan Jimin. Tentu saja Hoseok tahu kalau Jimin tidak sengaja mengucapkannya. Tidak ada yang tidak menyayangi Ibu mereka disini. Mereka akan selalu ingat bagaimana perjuangan ibu mereka, merawat ketujuh anak yang nakal seorang diri.
"Ibu.. Aku akan bicara pada mereka. Ibu tenang saja", ucap Hoseok seraya berdiri. Namun sang Ibu menahan tangannya dan menyuruhya untuk duduk kembali.
"Hoseok. Sudahlah, lupakan saja", kata Ibunya sebelum wanita itu berdiri dan meninggalkan mereka di ruangan itu.
"Aish! Kenapa jadi begini?", gumamnya.
Awalnya rencana mereka adalah mendengar permintaan maaf dari Jimin dan Taehyung saja. Hoseok sudah berhasil meyakinkan Ibunya untuk tidak menghukum kedua anak itu. Jika saja Jimin dan Taehyung merengek minta maaf, maka semuanya pasti akan berjalan dengan mulus
Hoseok melirik pada Seokjin yang sedang berusaha menjauhkan Namjoon yang tertidur di bahunya. Seokjin pasti tidak akan peduli dengan masalah ini.
"Apa yang harus aku lakukan?", gumamnya lagi sambil memijit kepalanya yang terasa pening.
.
Putra-putranya memang penuh dengan misteri. Siapa sangka Jimin bisa meledak marah seperti itu?
Memang Nyonya Bangtan sering menghukum dua anak itu. Tapi semata-mata hanya karena dia ingin putranya tidak mengulangi kenakalan mereka. Dia marah, karena dia peduli. Ibu mana yang tidak memarahi atau menghukum anaknya ketika berbuat nakal? Tidak ada.
Namun ucapan Jimin tadi cukup menusuk hatinya. Nyonya Bangtan tidak pernah berniat mengusir dua anak itu sebesar apapun kenakalan yang mereka lakukan, karena dia sangat menyayangi putra-putranya.
Dia menghapus setitik air yang meluncur dipipinya dan berkata, "Aku baik-baik saja".
.
"Kau harus minta maaf pada Ibu"
Jimin tidak meresponnya. Anak itu hanya tidur di kasurnya dan menutupi matanya dengan lengan.
Wajar jika Jimin meledak hari ini. Taehyung juga sebenarnya ingin mengatakan hal yang sama. Hanya saja dia tidak seberani Jimin.
"Chim! Ayolah!", dia menarik tangan Jimin, memaksanya bangkit dari posisinya agar Jimin merespon ucapannya.
Jimin duduk dengan kepala menunduk. Dia benar-benar nampak menyesal.
"Aku tidak sengaja. Kau...Kau tahu aku kan? Aku tidak mungkin tega mengatakan itu pada Ibu"
"Tidak sengaja. Tidak sengaja dan membuat suasana rumah menjadi tidak nyaman", ucap Taehyung frustasi seraya duduk ditempat tidurnya.
Mereka berdua mengehela nafas dan terdiam memikirkan apa yang telah terjadi. Tapi kemudian, Jimin tiba-tiba berdiri dan memakai jaketnya.
"Kau mau kemana?", tanya Taehyung.
Jimin tidak menjawab, namun anak itu malah melangkah keluar kamar mereka.
"YA! Jimin!".
Taehyung mengikuti Jimin dan berusaha mencegah anak itu pergi. Taehyung tahu, Jimin pasti ingin pergi ke penyimpanan gerbong tua untuk menyendiri.
"YA. Kau bukan mau lari dari masalah kan?", tanya Taehyung saat dia berhasil menahan saudaranya itu.
"Kita memang nakal. Tapi kita sudah berjanji tidak akan lari dari Ibu", lanjutnya.
Dia memandangi Jimin yang mengunci rapat mulutnya. Jimin terus menatap kebawah kakinya. Taehyung tahu, Jimin sangat menyesal.
"Lebih baik jika aku pergi"
Taehyung menggeleng kuat. "Tidak boleh. Kau tidak boleh pergi!"
"Sudahlah, Tae!"
Jimin mendorong Taehyung menjauh dengan kuat. Membuat Taehyung mundur dan menabrak dinding dengan keras hingga menimbulkan suara benturan.
Taehyung tidak marah. Walaupun Jimin telah menyakitinya, Taehyung tidak akan mempermasalahkannya. Tidak ada kata 'maaf' diantara mereka. Mereka adalah sahabat sejati.
"Baiklah. Kalau begitu aku ikut denganmu", ucap Taehyung.
Bertepatan dengan itu, terdengar suara pintu terbuka dan keduanya menoleh pada Jungkook yang baru saja keluar dari kamarnya. Nampak sekali dia baru sja bangun tidur, karena rambut anak manis itu nampak acak-acakan.
"Kalian mau kemana lagi?", tanyanya sambil mengucek mata mengantuknya.
Taehyung terpesona, begitu pula Jimin. Saudara seumurannya itu tidak berkedip menatap Jungkook walaupun raut wajahnya masih suram.
"Aku menyuruh kalian pulang bukan untuk kabur lagi", katanya lalu menguap lucu. "Jangan kemana-mana lagi!", katanya sebelum dia kembali kedalam kekamarnya.
Taehyung tersadar dari kegiatan mengagumi Jungkook dan beralih pada Jimin yang masih diam menatapi pintu kamar Jungkook yang tertutup.
Taehyung terkekeh dalam hati. Taehyung tahu, Jimin lemah pada setiap permintaan Jungkook(Taehyung juga sama). Taehyung semakin terkekeh saat Jimin akhirnya mengalah. Dia melepas jaketnya dan berjalan kembali kedalam kamar mereka. Jimin akan melakukan apapun untuk Jungkook.
.
Suasana semakin terasa tidak nyaman ketika mereka semua berkumpul. Jimin terlihat lebih, bahkan sangat diam. Walaupun dia dan Taehyung masih merebutkan perhatian Jungkook secara sembunyi-sembunyi dan tanpa keributan.
Jimin nampak sesekali menyingkirkan tangan Taehyung yang mulai berani merangkul adik manis mereka tanpa berkata apa-apa.
Nyonya Bangtan sudah memutuskan untuk tidak mengungkit ataupun mempermasalahkan kejadian tadi siang. Baginya ledakan Jimin bukanlah masalah besar. Dia tidak marah pada anaknya. Tidak sama sekali. Namun nampak sekali jika Jimin merasa canggung. Dia sama sekali tidak mengangkat wajahnya untuk menatap sang Ibu.
Nyonya Bangtan menghela nafas sebelum dia berkata dengan suara kecil pada orang disampingnya.
"Berhenti mengawasi kami, Hoseok", katanya. Lalu menyumpit sayuran kedalam mulutnya.
Hoseok tertawa. "Aku ketahuan", katanya.
Nyonya Bangtan ikut tertawa kecil.
Hoseok terusir dari kursinya disamping Yoongi karena Namjoon merebutnya dan dia berakhir duduk disamping Ibunya.
"Kau khawatir pada siapa?", tanya Nyonya Bangtan-masih dalam mode berbisik.
"Dua-duanya", jawab Hoseok santai.
Tidak heran, karena memang seperti itulah Hoseok. Jika disuruh memilih satu orang yang paling penting diantara mereka semua, maka dia akan memilih mereka semua atau tidak memilih sama sekali. Semua orang dirumah itu adalah prioritasnya.
"Jangan khawatir, karena aku tidak marah sama sekali padanya", kata Nyonya Bangtan dan Hoseok memekik senang mendengarnya.
"Ibu, kau memang yang terbaik", kata Hoseok. Dia menyumpit sepotong daging jatahnya dan meletakkannya keatas mangkuk nasi Nyonya Bangtan lalu melakukan hal yang sama pada Jimin dan Taehyung sebagai hadiah karena dia sedang senang.
.
Bangtan Boys Pt.1
.
Hari-hari berikutnya, suasana sedikit kembali ceria dimeja makan. Walaupun Jimin masih nampak tidak nyaman berada satu ruangan dengan Ibunya. Taehyung rupanya sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menjahili Jungkook.
"Ibu! Taehyung tidak mau berhenti mengusap kepalaku!", Jungkook berteriak mengadu kepada Ibunya.
Taehyung langsung berhenti mengusap kepala Jungkook saat Ibunya datang dengan panci sup panasnya. Tentu saja dia takut Ibunya itu marah dan menyiram tangan jahilnya dengan sup panas.
Ibunya menggeleng menatap Taehyung dan Jungjook bergantian. Dan Taehyung semakin gugup saar Ibunya berjalan mendekati mereka.
"Tidak perlu berteriak. Kenapa tidak kau balas saja langsung?". Kata Ibunya.
Ibunya itu mengusap kepala Taehyung beberapa kali lalu mengecup pucuk kepalanya.
"Seperti itu", katanya pada Jungkook.
"Aku yakin Taehyung pasti sangat senang. Iya kan, Tae?", tanya Ibunya pada Taehyung. Membuat Taehyung cukup terkejut. Dia pikir Ibunya masih marah padanya.
Taehyung mengangguk dengan canggung. Namun Ibunya memberinya sebuah senyuman hangat dan mengusap kepalanya sekali lagi yang membuat Taehyung ikut terseyum.
Taehyung melirik ke arah Jimin yang nampak semakin murung melihat Ibu hanya menciumnya saja. Ada sedikit rasa bersalah. Namun apa daya, dia tidak meminta Ibunya melakukan itu.
"Huh! Ibu tidak sayang padaku lagi!", rajuk Jungkook.
"Cih. Memangnya ada yang menyayangimu di sini?", timpal Seokjin tidak suka.
"Ada! Aku!/Ada! Aku!"
Taehyung menatap senang kearah Jimin yang bicara bersamaan dengannya untuk membela Jungkook. Dia senang Jimin akhirnya bersuara.
.
"Kau baik-baik saja?"
Taehyung terus mengawasi Jimin yang sedang bersandar dibangkunya dan memejamkan mata. Taehyung malas sekali untuk sekolah. Walaupun pada dasarnya dia memang pemalas.
Sebenarnya mereka bisa saja tidak pergi kesekolah. Mereka bisa bolos untuk tidur diatap sekolah, main game, atau pergi ke penyimpanan gerbong tua.
Namun sejak kemarin, Jimin selalu ingin hadir dikelas. Mungkin karena dia masih merasa bersalah pada Ibunya dan ingin menebusnya dengan tanpa membolos sekolah.
"Chim?"
Tidak ada jawaban.
"Chim, kau baik-baik saja?"
Masih tidak menjawab. Apa mungkin dia benar-benar tidur?
"Chim?", Taehyung menepuk lengan Jimin dengan hatu-hati.
"Hm?"
"Sialan!"
Jimin tertawa dengan mata terpejam. Walaupun kesal, tapi Taehyung senang. Taehyung selalu senang mendapatkan senyuman dari Chim-Chimnya yang sedang dalam mode suram.
Namun Taehyung masih merasa jika Chim-Chimnya tidak baik-baik saja. Jimin selalu pandai menutupi perasaannya. Itulah alasan mengapa Taehyung selalu menghujani Jimin dengan pertanyaan yang sama sampai dia berhasil mendapatkan jawaban langsung dari mulut Jimin.
"Kau baik-baik saja?"
"Jika kau terus menanyakan itu, aku akan menciumu", jawab Jimin masih dengan mata terpejam.
Taehyung menarik telinga Jimin karena sudah bicara sembarangan. "Tidak kreatif. Cari ancaman yang lebih berkelas", katanya.
"Apa yang kau lihat, huh?!", Taehyung berkata kesal pada seorang siswa yang terus-terusan menatap kearah mereka berdua.
Murid itu hanya diam dan memakai tatapannya sebagai isyarat agar Taehyung melihat sesuatu didepan kelas.
"Tuan Taehyung, apa yang kau lakukan disini?"
Taehyung diam mendapati wali kelas Jimin sudah berdiri di podiumnya.
"Silahkan kembali ke kelasmu sendiri. Kelasku akan segera dimulai"
"Mulai sekarang aku adalah murid kelas ini. Silahkan dimulai kelasnya, Ssaem", kata Taehyung. Dia melipat tangannya dan bersandar dikursi yang dia duduki lalu ikut memejamkan matanya seperti yang dilakukan Jimin. Lalu dia kembali membuka matanya dan menatap siswa yang tadi menatapinya.
"Ah! Nanti aku pinjam catatanmu ya, manis~", dia memberikan kedipan sebelah mata sebelum dia kembali terpejam.
.
Taehyung terus menerus merangkul pundaknya. Membuat mereka menempel seperti kembar dempet yang tak terpisahkan.
Alien yang satu itu seolah tidak akan pernah menyerah untuk menghibur dirinya. Dia memang saudara sekaligus sahabat sejatinya. Namun meskipun begitu, Jimin tetap saja tidak bisa melupakan rasa penyesalan didalam hatinya. Dia sungguh menyesal dan ingin kembali seperti sebelumnya.
"YA. Lihat itu". Taehyung tiba-tiba berhenti berjalan dan membuat leher Jimin tercekik oleh lengannya. Taehyung mengisyaratkan untuk melihat sesuatu diluar gerbang sekolahnya.
"Ibu"
Jimin terkejut melihat Ibunya sedang berdiri celingukan mencari sesuatu atau mungkin seseorang diluar sana.
"Sedang apa Ibu disini? Mencari Hoseok?"
Jimin mengedikkan bahu menjawab pertanyaan Taehyung.
Tak sengaja wanita itu melihat mereka berdua. Dengan senyuman yang selalu cantik, Ibunya melambaikan tangan kearah mereka.
"Jimin! Taehyung!"
Darahnya berdesir mendengar namanya dipanggil lagi oleh Ibunya.
"Ternyata mencari kita", gumam Taehyung sebelum dia membalas lambaian tangan Ibunya.
Jimin sedikit merasa berta hati saat Taehyung menyeretnya mendekat. Antara canggung dan bingung. Ya, canggung lebih dominan. Sepertinya Ibunya dan Taehyung sudah tidak ada masalah. Tapi dirinya? Aish..
"Ibu. Sedang apa disini?", Tanya Taehyung semangat. Sedangkan Jimin dia hanya bisa mendengarkan dan menjauhi tatapn Ibunya.
"Ibu mau belanja bulanan. Kalian mau ikut?"
Jimin dan Taehyung saling menatap. Kenapa tiba-tiba mereka diajak? Jimin menggeleng nyaris tidak terlihat. Tapi Taehyung seakan mengerti situasi mood Jimin, mengambil alih keputusan.
"Ibu. Bukannya kami tidak mau. Tapi kami sedang ada urusan", jawab Taehyung.
"Kalian yakin?", tanya Ibunya.
"Yakin. Urusan kami sangaaaat penting"
"Bermain game di rental?", tanya Ibunya lagi dan Taehyung tertawa dan menggaruk kepalanya kikuk.
"Ya sudah. Kalau begitu Ibu belanja berdua dengan Jungkook saja", kata Ibunya sambil berbalik membuka pintu penumpang taksi.
Saat pintu terbuka. Yang nampak adalah Jungkook yang sedang asyik bermain ponselnya. Mata Jimin dan Taehyung membulat seketika.
"E-eh! Kenapa tidak bilang kalau ada kelinci manisku", kata Taehyung.
Dia melepaskan rangkulannya pada Jimin. "Kami Ikut!", katanya sambil mendorong Jimin memasuki taksi dan menutup pintunya. Kemudian dia berlari untuk masuk melalui sisi lainnya dan membuat Jungkook duduk di antara mereka berdua.
"Baiklah kalau begitu. Ayo kita berangkaaat~"
.
.
Walaupun dia tertarik untuk ikut karena Jungkook, namun Jimin tetap menjaga jarak agar tidak berjalan didekat Ibunya.
Sebenarnya Jimin hanya perlu meminta maaf kepada Ibunya agar hubungan mereka membaik. Namun hal itu tidak mudah baginya. Ada perasaan khawatir untuknya mengucapkan kata maaf.
Jimin takut Ibunya tidak akan memaafkan mulut lancangnya.
Ibunya berjalan mengambil keranjang belanja diikuti Jungkook yang langsung memanjat masuk dan duduk didalam keranjang dorong itu. Membuat Jimin tersenyum geli. Tingkah adiknya itu sangat lucu dan menggemaskan.
"Taehyung, kau bawa troley ini", kata Nyonya Bangtan seraya menyerahkan keranjang dorong dengan Jungkook didalamnya pada Taehyung.
"Kenapa dia? Ayolah, Ibu saja yang bawa~", Jungkook merengek.
"Sudahlah...", kata Ibunya. Dia mengeluarkan selembar kertas dari saku tasnya dan menyerahkannya pada Taehyung.
"Ini catatan belanjanya. Tandai yang sudah masuk kedalam keranjang, Oke? Ibu dan Jimin akan berjalan kearah sana".
Taehyung memeking senang. "Yeah! Berduaan dengan Kelinci manis!", dia mengejek Jimin sebentar sebelum membawa Jungkook yang protes pergi menjauhi mereka.
"B-bunny-", Jimin agak tidak rela membiarkan Jungkook berduaan dengan Taehyung. Walaupun mereka sahabat sejati, tapi dalam hal mencari perhatian Jungkook mereka adalah rival.
"Sudahlah. Ayo kita kesana", ajak Ibunya. Tangannya digenggam dengan lembut oleh Ibunya. Membuat Jimin merasa sedikit lega namun masih canggung.
.
Jungkook duduk malas didalam keranjang dorong. Sedangkan Taehyung terlihat sangat bersemangat mendorong kereta belanja bahkan sampai menyenandungkan lagy-lagu bertemakan cinta.
Jungkook kesal mendengarnya. Jungkook tahu lagu-lagu itu ditujukan Taehyung kepadanya.
Taehyung menghentikan kereta dorong dan berjalan didepan Jungkook untuk mengambil bahan-bahan dapur lalu meletakkannya kepangkuan Jungkook.
Tak jarang Taehyung menyenandungkan ucapannya sendiri sambil menatap Jungkook penuh perasaan. Jungkook tahu, kakaknya itu sedang berusaha merayunya.
"Berhenti bernyanyi. Suaramu jelek!"
Taehyung terkekeh. Dia kembali mendorong kereta belanja itu menuju tempat sayuran.
"Apa lagi yang harus dibeli, kelinci manisku?", tanya Taehyung lalu terkikik geli. Sedangkan Jungkook yang mendengarnya mendengus kesal.
"Detergen, pelembut pakaian, susu, sereal", jawab Jungkook dengan malas.
"Detergent ya...yang ini, kan?"
"Hm.."
Jujur saja Jungkook ingin segera pulang. Jungkook tidak ingin berlama-lama dengan alien pengganggu itu. Mendengarkan senandung cintanya tidak membuat Jungkook berbunga-bunga namun malah membuat telinganya sakit.
"Jungkook-ah"
"Apa?!", Jungkook menoleh dan terkejut mendapati wajah Taehyung berjarak sangat dekat dengan wajahnya, hingga pipinya menyentuh hidung mancung kakaknya.
"YA! Apa-apaan kau ini?!". Jungkook memukul kepala Taehyung. Tidak peduli jika Taehyung adalah kakaknya. Lagi pula, meski dipukul seperti itu, Taehyung tetap hanya tersenyum menanggapinya. Mungkin didalam otaknya ada syaraf yang terputus.
Kadang Jungkook heran pada Taehyung dan juga Jimin. Mereka seolah tidak peduli jika Jungkook bersikap kurang ajar bahkan tidak menghormati mereka sebagai kakak. Walaupun Jungkook mengacuhkan dan sering marah pada mereka. Mereka akan tetap memberikan senyuman mereka. Dasar bodoh.
"Apa yang kau pikirkan?", Jungkook tersadar saat merasakan jari lentik Taehyung menyibak rambut yang menutupi matanya. "Kenapa kau menatapiku seperti itu, hm?", lanjutnya.
Jika dilihat-lihat wajah Taehyung lumayan tampan. Tapi Jungkook tidak akan memberinya harapan dengan terpesona pada ketampanannya.
"Kapan penderitaan ini akan berakhir?", ucapnya penuh tekanan.
Taehyung tertawa geli mendengar ucapannya. Dia mengusap kepala Jungkook. "kenapa? Kau tidak suka berbelanja bersamaku, hm?".
Jungkook berdecak kesal. "Menurutmu?". Dia mengalihkan perhatiannya pada warna-warni botol pelembut pakaian yang tertata rapi dilorong itu.
"Kau tahu, kau terlihat lebih lebih lebiiiih manis saat kau sedang kesal. Rasanya aku ingin mencium bibir itu"
Matanya memicing tidak suka pada Taehyung. Mulutnya hendak memarahi kakaknya, namun sudah lebih dulu dikecup oleh kakaknya itu.
"Hmmm, manis sekali~"
Jungkook mematung. Apa baru saja kakaknya itu mencium bibirnya? Ciuman pertamanya diambil oleh kakaknya sendiri? Apa itu adalah hal yang benar?
"YA. APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Jungkook mengerang kesal. Dia menyingkirkan barang-barang belanjaan yang ada di pangkuannya dan mencoba untuk turun dari troli, namun dia agak kesulitan karena roda keranjang itu bergelincir saat Jungkook bergerak. Jungkook tidak ingin jatuh konyol didepan Taehyung.
Taehyung mengulurkan tangannya untuk membantu. Walaupun kesal, Jungkook mau tak mau menerimanya dan melompat turun. Dia menatap kesal pada Taehyung lalu dengan keras menendang tulang kering Taehyung dengan sol sepatu sekolahnya. Setelah itu dia pergi meninggalkan Taehyung yang melompat-lonpat kesakitan.
.
Taehyung terkekeh ditempatnya. Matanya terus mengawasi Jungkook yang semakin menjauh walaupun kakinya masih berdenyut sakit.
"Hitungan ketiga. Jika dia menoleh padaku, berarti dia menyukainya"
"satu..."
"dua..."
"tiga!"
Taehyung sedikit malu pada dirinya sendiri. Jungkook tidak menoleh lagi padanya. "Menyebalkan", gumamnya.
"Aih! Sakit sekali", Taehyung berlutut menggosok tulang keringnya yang terasa seperti akan patah.
"AKU AKAN MEMBUNUHMU, TAEHYUNG-AH!"
Taehyung terkejut. Tapi dia tertawa mendengar suara merdu Jungkook diujung lorong sana.
Setidaknya dia sudah berhasil mencuri satu ciuman dibibir manis adiknya itu.
"Maafkan aku, Jimin-ah", kekehnya.
.
Jimin dan Ibunya berjalan dalam diam. Tidak juga. Sebenarnya Jimin lah yang diam. Ibunya sudah berbasa-basi padanya. Namun perasaan bersalah yang Jimin rasakan membuatnya tidak tahu bagaimana dia harus mengimbangi obrolan Ibunya.
Yang dia lakukan hanya mengangguk, menggeleng. Kadang mengedikkan bahu. Kadang hanya bekata 'ya' atau 'tidak'. Jimin tidak bisa bebas bicara seperti sebelumnya.
"Kau baik-baik saja?"
Jimin mengangguk sebagai jawaban. Dia heran. Kenapa dia selalu mendapatkan pertanyaan yang sama? 'Kau baik-baik saja?'. Mendengarnya berulang kali membuatnya menjadi justru tidak baik-baik saja.
"Kenapa kau sangat diam? Kau masih marah pada Ibu?"
Jimin menggeleng. Dia menurunkan pandangannya. Mungkin Ibunya mengerti apa yang dia rasakan, karena Ibunya malah tertawa sambil mengacak rambut coklatnya.
"Kau tentu mengerti, Ibu memarahi kalian karena Ibu ingin kalian tahu bahwa yang kalian lakukan adalah salah"
Jimin menatap kemana saja asal tidak pada mata Ibunya. Jimin tahu itu. Ibunya marah karena mereka memang bersalah. Hanya saja lidah Jimin terlalu sombong untuk mengucapkan kata 'maaf'. Itu saja.
"Jimin-ah".
Wanita itu menangkup wajah Jimin. Jimin mau tidak mau harus mengangkat wajahnya untuk menatap kepada Ibunya.
Wanita itu tersenyum penuh sayang padanya hingga membuat matanya memanas.
"Hentikan rasa bersalahmu itu. Ibu tidak apa-apa" ucap Ibunya.
Entah itu benar atau tidak. Tapi Jimin sendiri masih sulit untuk melupakan kesalahnya sendiri.
"Kau tahu. Hoseok dan Seokjin adalah orang yang paling sering memarahi Ibu", tambah Ibunya.
Jimin terus memandangi Ibunya. Mendengarkan bagaimana Ibunya itu meyakinkan dirinya bahwa semua baik-baik saja.
Bagaimana Ibunya bercerita tentang Hoseok yang memarahi Ibunya jika Ibunya terlalu keras menghukum saudaranya yang lain. Bagaimana Seokjin berteriak protes karena Ibunya terlalu memanjakan adik-adiknya.
Mereka berjalan melintasi setiap lorong swalayan itu. Ibunya terus menceritakan sesuatu untuk membuat Jimin merasa lebih baik.
"Dengar, Jimin. Ibu tidak suka dirimu yang diam. Maafkan Ibu, jika Ibu membuatmu tidak enak hati".
Jimin membulatkan natanya. "T-tidak Ibu. Aku yang seharusnya minta maaf", kata Jimin. Lega karena pada akhirnya dia berhasil mengucapkan permintaan maaf dan air matanya juga jatuh.
"Hiks... Maafkan aku Ibu", ucapnya sambil mengusap air matanya dengan punggung tangannya.
Ibunya tertawa gemas lalu mencium pucuk kepalanya. Jimin merasa hangat didalam hatinya. Dia lega. Semuanya ternyata baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Ibunya itu mengulurkan jari kelingkingnya. "Berjanjilah pada Ibu untuk selalu berterus terang tentang apapun yang ada didalam hatimu. Marah, senang ataupun sedih. Janji?", katanya.
"Ibu sahabatmu juga, kan?", tambah Ibunya.
"I-ibu.. Memangnya aku ini anak kecil?", Jimin tertawa , Ibunya bertingkah seperti anak kecil karena ingin melakukan pink promise.
"Sudahlah!", tangannya diraih dan dia dipaksa untuk menautkan jari kelingking mereka.
"Berjanjilah untuk selalu terbuka pada Ibu. Janji?"
"Ya, baiklah. Aku janji"
"Sekarang kau cari Taehyung dan Jungkook. Ibu mau ambil uang tunai dulu"
Jimin mengangguk. Hatinya terasa ringan. Beban yang dia rasakan sudah hilang.
Dia berjalan cepat karena ingin segera memberi tahu Taehyung jika Ibu sudah memaafkannya. Dia terlalu senang sampai tidak sengaja menabrak tumpukan tissue hingga berjatuhan. Namun dia melewatinya begitu saja tanpa bertanggung jawab terlebih dahulu.
Dia mempercepat langkah menyusul kedua saudaranya yang ternyata sedang berhenti diujung lorong perlengkapan laundry. Namun langkahnya perlahan-lahan berhenti saat dia melihat pemandangan menusuk hatinya.
Taehyung menciun Jungkook tepat didepan matanya.
Rasanya seperti sesuatu menusuk tepat di dadanya. Lebih sakit dari pada tertancap duri sungguhan saat melihat Taehyung, sahabat sejatinya, telah mencuri start darinya.
.
TBC
Banyak yang tanya, Kenapa nggak ada yang suka sama Yoongi?
Aku nggak bisa kasih jawaban, karena jawaban akan diulas di chapter-chapter selanjutnya. Jadi, ikutin terus Bangtan Boys Pt.1.
Terima kasih sudah mampir ^^ Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.
Baca juga fanfiction saya yang baru 'Chim-chim'.
Terima Kasih
:*
