Saling membenci, saling mengejek, saling mengerjai. Tapi mereka tidak lupa untuk tetap saling memiliki.
-LOVELY HATE-
2/2 (SEQUEL)
GENDERSWITCH
T+
Like always, HUNHAN as main pair!
Sehun EXO is EXO-L's
Oh Sehun is Whirlwind's / Lu Han is Lufan's
Sehunnie is Luhan's / Luhannie is Sehun's
…
Warning! Typo(s) are detected! Be careful!
…
"Bagaimana ini, Hun?"
Luhan terus meremat ujung rok seragamnya hingga kusut. Kakinya yang beralaskan sandal kesayangannya tidak mau diam dan bergerak tidak nyaman. Sehun yang melihatnya seraya mengancingkan seragam di depan cermin hanya bisa memutar bola mata, menurutnya Luhan terlalu berlebihan. Lagipula kenapa kalau mereka ketahuan? Toh sejak awal mereka memang berpacaran, kan?
"Mau bagaimana lagi?" Sehun mendekati Luhan yang duduk di atas ranjang, menyisir surai kecoklatan itu dengan lembut. "Kita harus tetap bersekolah, kan?"
Luhan mengangguk. Ya, tidak mungkin Luhan melupakan sekolahnya hanya karena takut mengetahui tanggapan teman-temannya.
"Lagipula, apa yang kau takutkan? Mereka tidak akan membunuhmu setelah tahu hal ini.", ucap Sehun memunculkan decakan dari Luhan.
"Memang. Tapi beberapa dari mereka akan mencakarku! Selama ini mereka tenang karena menganggapku sebagai musuh yang kau benci. Tapi sekarang? Aku tidak yakin wajahku akan selamat setelah ini." Luhan mengelus wajahnya sendiri penuh mendramatisir. Sehun terdiam. Ia berada di pilihan sulit antara keinginan untuk menenangkan Luhan atau menertawai tingkah menggemaskannya. Tapi melihat sang kekasih yang muram, Sehun memilih opsi pertama.
"Jangan dipikirkan! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, hm?"
Sehun memberikan sentuhan menenangkan di bahu sempit Luhan. Ia lalu berjongkok di hadapan Luhan, menguraikan tangan Luhan yang masih bersarang di roknya dan menggenggamnya.
"Luhan?"
"Hmm?"
"Ah… lama sekali aku tidak memanggil namamu dengan benar.", ucap Sehun yang dibalas kekehan oleh Luhan.
"Aku juga… sudah lama tidak memanggilmu dengan sebutan Oppa."
"Tapi kenapa rasanya aneh sekali saat memanggil namamu dengan benar?"
"Oh! Aku juga! Dan jujur saja, kau tidak pantas ku panggil 'Oppa'!"
"Yaa aku juga risih mendengar gadis frontal memanggilku dengan panggilan lembut."
Luhan tertawa hingga matanya menyipit lucu. Sehun masih menggenggam tangan Luhan sembari memandangnya dengan tatapan kagum. Sudah lama ia tidak melihat Luhan tertawa lebar seperti ini, hari-hari mereka lebih sering dihabiskan dengan perdebatan konyol dibandingkan melakukan hal yang bisa membuat tertawa. Tapi Sehun menikmatinya, itulah yang membuatnya tidak bosan dengan Luhan yang selalu meledak-ledak itu.
Wajah Sehun mendekat hingga membuat Luhan menghentikan tawanya. Luhan mendadak gugup saat Sehun mendekati wajahnya lengkap dengan tatapan tajam milik Sehun. Selalu seperti ini!
Wajah mereka hanya terpaut beberapa senti, dengan Sehun yang mendongak dan Luhan yang menunduk. Sungguh Luhan malu minta ampun ketika Sehun mulai dalam mode romantisnya. Kalau boleh memilih, Luhan memilih ia berdebat dengan Sehun dibandingkan ia harus menahan malu seperti sekarang.
"Kalau boleh mengingatkan, aku masih ada disini."
Luhan otomatis mendorong bahu Sehun saat ia mengenal suara yang baru menginterupsinya. Sedangkan Sehun terjungkal hingga terduduk di lantai akibat dorongan Luhan. Sialan benar Nona Byun itu! Padahal Sehun ingin mendapat morning kiss-nya setelah berhari-hari ia mencium Luhan dalam keadaan tidur karena Luhan tidak akan bangun sebelum sang ibu di Beijing menelponnya. Kebiasaan yang aneh, jadi jangan heran jika Sehun lebih dulu datang ke sekolah dibandingkan Luhan, terlebih agar tidak ada yang curiga mengenai hubungan mereka sesungguhnya.
Baekhyun berdiri di tengah pintu, sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Seperti yang ia katakan semalam jika ia akan menginap di apartment Luhan, dengan atau tanpa izin si pemilik Apartment yaitu Sehun. Semata karena Baekhyun tidak ingin Luhan di apa-apakan oleh Sehun mengingat mereka tinggal berdua dalam satu atap tanpa ada yang mengawasi. memang keduanya berbeda kamar, tapi itu tidak menjamin jika Sehun tidak akan berbuat sesuatu pada Luhan. Untungnya Baekhyun sempat memasukkan seragamnya di tas untuk berjaga-jaga jika dirinya berujung menginap di Apartement yang sebelumnya ia ketahui sebagai Apartment Luhan pribadi.
Meskipun sudah terlambat bagi Baekhyun melakukan antisipasi. Tidak ada yang tahu yang terjadi selama ini, bukan?
Baekhyun berjalan santai ke arah pasangan yang masih dalam mode terkejut itu. Ia lalu meraih seragam miliknya di atas ranjang lalu kembali ke kamar mandi. Meninggalkan sepasang manusia yang masih membeku di tempat masing-masing.
Luhan berdehem kecil, membahasi tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Sehun yang menyadari Luhan salah tingkah, menyeringai dan berdiri untuk menahan Luhan dalam dekapannya.
"Kau tahu aku tidak suka menghentikan kegiatanku meskipun diganggu, kan?"
Luhan mengangguk dan matanya otomatis terpejam menerima sapuan lembut bibir Sehun di bibirnya. Awalnya Sehun hanya melumat lembut, namun mengingat kerinduan Sehun yang tidak bisa ditahan, lelaki itu lebih kuat menghisap bibir Luhan. Luhan cukup kewalahan saat Sehun mengajak lidahnya untuk bertemu, Sehun sungguh ahli berciuman dalam umurnya yang baru delapan belas tahun. Suara kecipak yang ditimbulkan membuat Sehun semakin enggan melepaskan Luhan meski hanya untuk menghirup oksigen. Tangan kanan Sehun memeluk pinggang Luhan sedangkan tangan kirinya menahan tengkuk Luhan agar ciuman mereka semakin dalam. Tangan Luhan-pun tak tinggal diam, ia menghampiri leher Sehun dan mengalungkan tangannya disana, sekaligus meremas rambut Sehun hingga berantakan.
Diam-diam Sehun menyeringai dalam ciumannya, Naughty Lu sudah mulai keluar menggantikan Luhan yang malu-malu. Sehun menyukainya, membuatnya semakin bersemangat untuk menikmati bibir Luhan beserta bagian tubuhnya yang terjangkau oleh tangannya. Luhan mendesah kecil dan melepaskan kalungan tangannya di leher Sehun. Paru-parunya membutuhkan udara dan cara satu-satunya menghentikan Sehun adalah dengan memukul dada lelaki itu.
"Sehunhh…"
Pukulan Luhan memang tidak berpengaruh di dada Sehun, tapi Sehun dengan terpaksa menghentikan ciumannya pada bibir Luhan. Nafasnya dan Luhan terdengar bersahut-sahutan dan ia menunduk untuk memandang wajah Luhan yang memerah. Bibir gadis itu basah oleh air liur entah milik siapa dan Sehun mengusapnya dengan ibu jari.
Luhan masih mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya karena ia tidak mungkin mampu menandingi Sehun yang pernah menjadi atlet renang. Luhan tidak memiliki paru-paru sekuat Sehun. Karena itu, disaat dada Luhan masih naik turun, Sehun justru kembali beraksi. Sasarannya kali ini adalah leher putih Luhan. Sehun berhenti diperpotongan leher Luhan, menghirup aroma buah bercampur mint kesukaan tunangannya itu. Tak hanya menghirup, Sehun melanjutkannya dengan menyesap leher Luhan dan melibatkan lidahnya untuk ikut bekerja. Reaksi Luhan masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Tubuhnya akan menegang dan jantungnya perpacu gila. Leher adalah salah satu titik sensitifnya membuat Luhan menahan desahan akibat rasa geli.
Ya, Luhan harus menahan desahannya sebelum Baekhyun mendengar suara nista itu.
Oh! Baekhyun! Luhan menjerit tertahan kala mengingat Baekhyun yang masih berada diluar. Kemungkinan besar gadis itu selesai berganti baju dan bisa-bisa langsung masuk ke kamar disaat Sehun masih asyik menyesap leher Luhan. Jangan sampai hal itu terjadi!
"Mmhh S-sehunnhh…"
Luhan kembali berusaha menghentikan kegiatan Sehun ditubuhnya. Luhan memang tidak kekurangan oksigen tapi ia pasti akan kekurangan waktu jika tetap membiarkan Sehun mengeksploitasi tubuhnya.
"Luhan kau sudah si- Ya Tuhan!"
BLAM!
Pintu kamar kembali tertutup dan Luhan kembali mendorong Sehun dengan seluruh tenaganya. Tuh kan! Luhan tidak tahu harus bagaimana setelah Baekhyun memergoki dirinya dan Sehun sedang bercumbu mesra disaat akan pergi ke sekolah.
"Yak! Lepaskan idiot!" Luhan mengumpat dan akhirnya berhasil menghentikan Sehun. Sehun berdecak namun sedetik kemudian tersenyum puas melihat hasil kerjanya. Luhan melihat arah pandang Sehun dan terkejut melihat keadaannya sendiri. Handuk kimononya sudah terbuka, entah kapan Sehun membuka simpulnya Luhan tidak sadar, rambut berantakan, dan terparah adalah jejak berwarna merah di sekitar leher Luhan yang putih bersih. Kini lehernya tidak lagi putih seluruhnya, melainkan terdapat beberapa kissmark yang akan terlihat jelas jika Luhan tidak menyembunyikannya.
"Cepat ganti pakaianmu! Sebelum Nona Byun semakin marah." Sehun terkekeh kecil sebelum meninggalkan Luhan sambil menggendong tas ranselnya. Untung ia tidak tergoda melihat Luhan yang setengah telanjang meski ia sempat meneguk ludah kasar. Jika tidak, mungkin Sehun tidak akan membiarkan Luhan berangkat sekolah dan tetap mengurungnya di dalam kamar melakukan sesuatu ditemani desahan merdu Luhan.
Ya Tuhan! Oh Sehun sangatlah mesum!
"Argghh! DASAR ALBINO IDIOT MESUM!"
Sehun terkekeh mendengar umpatan Luhan yang ditujukan kepadanya. Ia kemudian menghampiri Baekhyun yang duduk di sofa dan melemparkan tasnya disamping Baekhyun.
"Sudah selesai mengerjai temanku?", tanya Baekhyun tanpa repot-repot menolehkan kepala dan nada suaranya terdengar jengkel. Sehun juga tidak perlu repot menjawab pertanyaan Baekhyun karena itu hanyalah sebuah sindiran dari seseorang yang memergoki dua orang lain tengah bercumbu. Well, Baekhyun memang sangat kesal pada lelaki berkulit albino itu. Bagaimana tidak? Umur Sehun baru delapan belas tahun dan dia sudah berani menciptakan suatu 'tanda' di leher Luhan. Hal itu Sehun lakukan saat ada orang lain, lalu bagaimana jika hanya berdua dengan Luhan? Baekhyun curiga Sehun pernah melakukan hal yang tidak-tidak pada teman dekatnya itu.
"Apa?", tanya Sehun risih yang terus dipandangi oleh Baekhyun penuh intimidasi.
Sehun meminum susu kotaknya dengan santai sambil menunggu Luhan keluar dari kamar setelah selesai berganti baju, merias diri, dan mungkin sedang sibuk menutupi kissmark hasil karya Sehun dengan sesuatu.
Mengingatnya membuat Sehun tersenyum sendiri. Mengejek, menggoda dan mengerjai Luhan memang sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Sehun. Harinya tidak akan berwarna tanpa teriakan dan balasan dari rusa kesayanganya itu. Namun diantara kebiasaannya itu, menggoda Luhan adalah hal yang paling Sehun sukai.
"Ayo berangkat!"
Luhan muncul dari kamar dan sudah bersiap dengan seragam, tas, dan kaus kaki. Oh! Ada yang berbeda karena Luhan melilitkan syal di lehernya. Sehun segera memberikan Luhan setangkup roti gandum lengkap dengan susu kotak yang kemasannya sudah dibuka.
"Minumlah pelan-pelan! Jangan sampai susunya jatuh di atas susumu!", ujar Sehun yang terdengar ambigu ditelinga Luhan dan Baekhyun. Luhan hanya bereaksi dengan memutar bola mata, sedangkan Baekhyun? Ia tersedak ludahnya sendiri.
"Musim panas dan kau memakai syal? Kau tidak gila kan?", komentar Baekhyun melihat penampilan Luhan. Tanpa bertanya apapun, Baekhyun sudah tahu alasan kenapa Luhan seperti ingin menutupi lehernya sebab Baekhyun sempat menangkap basah Sehun yang menyembunyikan wajahnya di leher Luhan. Tentu saja untuk menutupi bekas merah dari Sehun.
"Salahkan lelaki Albino kekurangan pigmen kulit itu!"
"Kenapa jadi menyalahkanku?", sahut Sehun tidak terima.
"Kan dirimu yang melakukan sesuatu pada leherku!"
"Itu karena kau terus memakai handuk! Memang berniat menggodaku, ya?"
"Enak saja! Aku berniat mengganti baju tapi kau malah menahanku! Yang salah itu gairah sialanmu!"
"Tapi kau menikmatinya, kan? Sampai mendesah keenakan!"
"Yak! Oh Sehun idiot!"
"Daripada kau rusa China jelek berdada rata!"
"Rata-rata begini kau sering menyentuhnya juga, kan?!"
"YA TUHAN! HENTIKAN!", teriak Baekhyun hingga nyaris meruntuhkan gedung apartment. Tidak, terlalu berlebihan. Yang jelas teriakan Baekhyun berhasil mendiamkan dua mulut yang sedang berdebat itu. Sehun dan Luhan saling bertatapan bingung. Teriakan Baekhyun membuat ide-ide untuk mendebat lawan menjadi hilang tertiup angin.
"DEMI TUHAN UMUR KALIAN MASIH DELAPAN BELAS TAHUN! DELAPAN BELAS! HARUS YA MENDEBATKAN SOAL GAIRAH, MENDESAH, DADA, DAN SEJENISNYA?! DEMI MAKHLUK DI MUKA BUMI, KALIAN BENAR-BENAR MESUM!"
Baekhyun terengah-engah setelah menumpahkan emosinya kepada sepasang manusia yang –memang benar- masih siswa Menengah Atas yang berusia delapan belas tahun itu. Baekhyun memang sering mendengar Sehun dan Luhan berdebat kusir di kelas mengenai topik yang tidak penting, tetapi ini kali pertama Baekhyun mendengar perdebatan tentang sesuatu yang menjurus ke hal dewasa. Well, Baekhyun tahu mereka sudah bertunangan dan akan menikah selepas sekolah (nyatanya Baekhyun masih belum percaya), tapi arghhh! Entahlah! Baekhyun tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana. Ia terlanjur marah karena Luhan tidak menceritakan hubungannya dengan Sehun dari awal, dan ia juga kesal pada Sehun melihat perlakuan lelaki itu pada Luhan.
"O-oh, mianhae Baek! Aku-"
"Sudahlah, aku berangkat bersama sopirku saja! Kalian berangkatlah bersama, dan tidak boleh menyembunyikan hubungan kalian lagi. Arasseo?!"
Luhan mengangguk takut-takut. Ia hanya memandang Baekhyun saat gadis itu sibuk dengan ponselnya sebentar, lalu menggendong tasnya keluar. "Aku berangkat dulu, bye!"
"O-oke! Sampai bertemu di kelas, Baek.", ucap Luhan sembari mengantar kepergian Baekhyun yang sudah memakai sepatunya.
"Nona Byun!", panggil Sehun sebelum Baekhyun benar-benar keluar dari balik pintu. "Sekedar informasi saja, umurku sudah sembilan belas tahun. Jadi aku sudah mendapat izin untuk melakukan sesuatu ber-rated 19+ pada kekasihku."
Dan Baekhyun sangat setuju dengan panggilan idiot yang disematkan pada Sehun. Oh Idiot Sehun.
…
Ada yang berbeda dari satu pasangan musuh bebuyutan yang sangat berisi. Keduanya tampak berjalan berdua tanpa ada suara berisik mengganggu telinga sebagai hasil dari perdebatan konyol keduanya. Malah mereka menjadi pendiam dan seolah berjalan dengan langkah beriringan. Memang terlihat biasa jika itu hanya siswa-siswi yang berjalan bersama menuju kelas, namun sangatlah aneh jika siswa-siswi itu adalah pasangan musuh yang selalu berperang membela ego masing-masing.
Mereka tidak tahu saja, jika Sehun dan Luhan juga berperang menggunakan lidah mereka. Atau yang sering disebut Frence Kiss. Ups!
Setibanya di kelas, Luhan langsung menghampiri Baekhyun yang telah datang lebih dulu dan terlihat menikmati musik dari headphone-nya. Sementara Sehun tertinggal di belakang, dan niatnya untuk menduduki kursi terhenti. Ada sebuah tangan yang menahannya dan Sehun menoleh ke arah pemilik tangan sekurus ranting itu berada. Irene tersenyum sebelum duduk di kursi kosong di depan Sehun. Sehun yang cukup penasaran, hanya diam saja dan mengikuti Irene untuk duduk di kursinya.
"Sehun, kau ingat janjimu, kan?"
Sehun mengernyit heran. Ia merasa tidak pernah membuat janji pada Irene sebelumnya. "Janji? Janji apa?"
"Janji untuk datang bersamaku ke prom night besok malam."
"Kapan aku berjanji seperti itu?", pikir Sehun dalam hati. Ia mencoba mengingat-ingat dan tidak ada satupun yang ia ingat tentang janji itu.
"Acaranya pukul tujuh, ku harap kau tidak terlambat, oke?"
Irene lalu beranjak lengkap dengan senyum merekah yang membuat Luhan nyaris muntah. Ya, diam-diam gadis bermata rusa itu melirik dan menguping interaksi Sehun dan Irene setelah tidak berhasil mengganggu Baekhyun.
Rupanya Baekhyun masih kesal dengan dua orang berbeda gender itu apalagi keduanya belum ada tanda-tanda untuk mengumumkan hubungan mereka. Jujur saja, Baekhyun gemas bukan main. Luhan dan Sehun sudah bertunangan dan setelah lulus nanti langsung menikah. Seharusnya mereka berdua belajar untuk berdua tanpa pertengkaran, bukan hanya melotot hingga mata nyaris keluar gara-gara menyimpan kecemburuan yang besar. Seperti Luhan sekarang yang terlihat di sudut mata Baekhyun. Baekhyun memutar bola mata malas.
Luhan melengos. Ada yang tidak terima dari diri Luhan saat Sehun membalas senyuman saingan Luhan dalam bidang akademik itu. Walau setipis tebal kertas, Luhan tetap tidak rela Sehun berbagi senyuman langkanya apalagi pada Irene yang jelas-jelas menyukai Sehun sejak tingkat pertama sekolah.
"Senang sekali ya, datang ke prom night bersama pujaan hati?" Luhan bermaksud menyindir, namun entah kenapa suaranya justru terdengar seperti sedang cemburu. Sehun bisa merasakan itu, jadi ia hanya melipat tangan di depan dada dan menyandar santai.
"Tentu saja! Siapa yang tidak ingin berangkat bersama dengan gadis secantik dan se-sexy Irene?", balas Sehun lugas. Sikap santai Sehun berbanding terbalik dengan gejolak emosi Luhan yang ingin mencakar albino itu hingga tidak tampan lagi. Oh, tidak! Luhan tidak mungkin merusak wajah calon mempelainya satu bulan nanti gara-gara tangan premannya.
"Sudah kuduga yang kau ingat hanyalah soal 'sexy'.", ujar Luhan dan menekan kata 'sexy' di akhir kalimatnya.
"Kenapa? Iri karena milikmu sangat datar?"
Luhan membulatkan kedua bola matanya hingga batas maksimal. Tanpa sadar kedua tungkainya berjalan mendekati Sehun dan menunduk tepat dihadapan lelaki itu dengan tangan bertumpu di meja.
"Oh, kau mau aku membongkar kemesumanmu pada milikku yang sangat datar ini, hm?"
Sehun tertawa dalam hati. Sungguh Luhan dalam mode cemburu adalah Luhan yang super menggemaskan. Ditambah dengan ancaman yang sama sekali tidak menakutkan bagi Sehun.
"Silahkan." Sehun memajukan kepalanya hingga jarak dirinya dan Luhan hanya beberapa sentimeter. "Berarti kau juga sudah siap dengan terbongkarnya rahasia kita, hm?"
BUGH!
"ARGHH!"
"Oh, syukurlah bukumu tidak apa-apa!" Luhan mengelus buku Sehun yang sebelumnya ada di atas meja seolah buku itu akan terluka. Padahal yang mengerang kesakitan adalah Sehun lengkap dengan tanda merah di dahinya.
"Kau bilang akan membongkar semuanya?", tanya Sehun seraya mengelus dahinya.
"Ya, memang. Tapi tidak sekarang, Idiot!"
Luhan mendengus kemudian kembali ke kursinya. Baekhyun masih pura-pura menutup telinga, meski sempat mendengar perdebatan konyol Sehun dan Luhan –lagi-. Semenjak Baekhyun mengetahui hubungan sebenarnya antara Luhan dan Sehun, ia menjadi semakin penasaran apakah keduanya memang saling mencintai.
Jika iya, kenapa julukan musuh bebuyutan itu lebih pantas di sandang dibandingkan pasangan kekasih? Tapi jika tidak, tidak mungkin Baekhyun salah dengar jika mereka berdua telah bertunangan dan akan menikah. Camkan, me-ni-kah! Di usia semuda itu dan dengan sifat keduanya yang sangatlah meledak-ledak.
Baekhyun mendengar suara rusuh di sebelahnya, siapa lagi kalau bukan Luhan? Gadis itu sepertinya dalam mode marah, dan jika sudah seperti itu maka Sehun pura-pura tidak menghiraukannya lagi.
"Ingat janji-mu, Nona Lu!" Baekhyun mengingatkan di sebelahnya. Luhan memutar bola mata malas dan mencubit pipi Baekhyun tanpa rasa bersalah.
"Yak!"
"Arasseo! Tapi tidak sekarang, Baek! Aku sedang malas bercerita bersama lelaki tukang tebar pesona sepertinya!" Luhan melirik Sehun, dan mungkin karena suaranya yang terlalu keras hingga membuat Sehun mendelik dengan panggilan baru yang –pasti- untuknya.
"Lalu kapan?"
"Besok!" Luhan mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk V-pose. "Besok malam. Di prom night! Aku janji!"
"Jadi kau datang, kan?"
"Heum. Demi kau!"
…
Acara prom night benar-benar menjadi ajang yang ditunggu bagi siapapun. Tidak terkecuali gerombolan para siswi yang berjalan bersama sambil membicarakan prom night yang diselenggarakan nanti malam. Tidak hanya itu, sekolah membiarkan siswanya pulang lebih awal untuk menyiapkan diri dan berpenampilan sebaik mungkin untuk menghadiri prom night nanti. Diantara siswa-siswi lain yang buru-buru pulang, hal yang berbeda justru dilakukan Baaekhyun. Gadis mungil pemilik suara emas itu susah payah menarik seonggok tubuh manusia yang masih utuh lengkap dengan nyawanya. Bedanya Baekhyun sangat bersemangat sementara manusia lainnya hanya memutar bola matanya malas.
"Ayolah Baek! Pelan-pelan saja, kenapa? Masih ada waktu empat jam untuk menyiapkan diri.", ucap Luhan, si manusia yang ditarik-tarik oleh Baekhyun seperti karung beras yang terlalu berat untuk di gendong.
"Itu waktu yang sebentar, bodoh! Aku harus melakukan make over maksimal penampilanmu untuk malam ini!", sahut Baekhyun ketus.
"Aku? Lalu bagaimana denganmu?"
Gantian Baekhyun yang memutar bola matanya malas. "Aku? Tentu saja aku akan berdandan sendiri! Sedangkan kau? Memakai lipstick saja tidak pernah!"
Baekhyun mengomel membuat Luhan mengerucutkan bibir merah alaminya lucu. Tapi Baekhyun ada benarnya, Luhan memang tidak seperti gadis normal seperti pada umumnya yang berdandan setiap hari demi menjaga imej feminimnya. Luhan memiliki style sendiri, yang menurut Baekhyun membuat Luhan terlihat seperti seorang lelaki, bedanya hanya rambut panjang sebahunya yang tetap berkilau meski Baekhyun yakin tidak pernah di sentuh oleh pegawai salon.
Pada akhirnya Luhan menurut saja. Mengikuti setiap langkah Baekhyun untuk menaiki bis, memasuki mall, mencari pakaian yang cocok, sepatu, aksesoris, dan berakhirlah keduanya di dalam salon.
Luhan memijit pelan kakinya yang pegal sebab terlalu lama berjalan mengikuti keinginan Baekhyun termasuk mencoba memakai beberapa gaun yang menurut Baekhyun cocok untuk Luhan dan dirinya sendiri. Sekarang Luhan sedang menunggu Baekhyun berbicara dengan salah satu pegawai salon dan beberapa kali menunjuk dirinya. Luhan tidak menghiraukan tentang apalagi yang akan Baekhyun lakukan pada tubuhnya, ia sudah lelah untuk waktu dua jam yang telah mereka habiskan untuk membeli pakaian pilihan Baekhyun. Sembari menunggu, Luhan mengecek ponselnya dan menemukan beberapa notifikasi disana.
Sender : Oh Idiot
Dimana kau?
Luhan mendecak, ia lupa memberitahu Sehun soal Baekhyun yang mengajaknya pergi mempersiapkan diri untuk prom night nanti malam. Sejak pulang malam waktu itu, Sehun memang meminta Luhan untuk memberitahu Sehun kemanapun ia akan pergi. Salahkan Baekhyun yang terlalu bersemangat hingga membuat Luhan lupa membuka ponselnya sekedar mengirim pesan pada Sehun.
To : Oh Idiot
Diculik Baekhyun.
Sent!
Baekhyun kembali dan Luhan memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Ia berdiri untuk menyapa wanita berambut cokelat terang dan bermake-up menor di sebelah Baekhyun. Luhan menduga Baekhyun sering ke salon ini dan wanita itu adalah salah satu kenalan Baekhyun.
"Eonni, bisakah kau mengubah penampilan temanku menjadi lebih hmm sedikit feminim?" Wanita itu melirik Luhan dari atas ke bawah. Berfikir sebentar dan mengangguk.
"Tentu bisa, Baekki! Temanmu sudah cantik alami, aku hanya perlu memoles wajahnya sedikit."
Memoles sedikit? Kau fikir wajahku tembok?, Luhan bergumam dalam hati.
Luhan menurut saat wanita itu menarik tangannya ke salah satu kursi berhadapan dengan kaca dan alat-alat rias yang tidak Luhan ketahui namanya apa. Ia tidak pernah memakai benda-benda itu, kecuali saat Mama-nya memaksa mendandani Luhan ketika hari natal dan berujung pada Luhan yang mengambek. Itu kejadian beberapa tahun lalu, tentunya Luhan tidak akan –dan tidak bisa- mengambek sekarang.
Wanita itu memulai aksinya, mengawali dengan memberikan cairan pembersih untuk menghilangkan debu di wajah Luhan lalu membubuhkan foundation. Baekhyun duduk disebelah Luhan, juga di dandani oleh pegawai lain sembari memainkan ponsel.
"Oh sial! Apa yang kau katakan pada Sehun, hah?!"
Luhan melirik Baekhyun. "Mengatakan kalau aku diculik olehmu", jawab Luhan singkat. Baekhyun lalu menunjukkan layar ponselnya di hadapan Luhan dan segera di baca oleh gadis itu.
Sender : Oh Sehun
Kau bawa kemana tunanganku? Kuingatkan jika pukul tujuh Luhan harus tiba di apartment-ku untuk berangkat!
Luhan memutar bola matanya malas. Menurutnya Sehun terlalu berlebihan, dan bukankah lelaki itu akan berangkat bersama Irene? Luhan tidak masalah jika harus berangkat sendiri, karena Baekhyun tentu berangkat bersama kekasihnya, Park Chanyeol yang merupakan ketua tim musik di sekolah. Toh kedatangannya hanya untuk membongkar hubungannya dengan Sehun sesuai dengan keinginan Baekhyun.
Tunggu! Soal Irene, Luhan jadi ingat saat bertemu secara kebetulan dengan Irene di toko pakaian tadi.
"Oh, kau datang ke prom night ternyata?", tanya Irene dengan nada yang terdengar aneh di telinga Luhan.
"Hm, tentu saja! Tidak ada larangan bagi gadis yang tidak berpasangan untuk pergi, kan?", jawab Luhan cuek. Untung saja Baekhyun masih mencoba pakaiannya di ruang ganti, jika tidak, mungkin Baekhyun dengan mulut cerewetnya akan membongkar hubungan Sehun dan Luhan di depan gadis yang tidak lelah menunjukkan ketertarikan pada Sehun itu. Bisa runyam urusannya jika Irene tahu, karena ia pasti tidak akan percaya begitu saja.
"Memang tidak! Tapi semua yang datang akan berpasangan. Sedangkan kau?" Irene tertawa merendahkan. Sebuah tawa yang selalu ia keluarkan untuk Luhan yang ia anggap saingannya. Saingannya di kejuaraan sekolah, ataupun saingan di depan Sehun. Karena Irene tidak suka dengan kedekatan Sehun dan Luhan kendati kedekatan itu sebagai bentuk permusuhan. Bagi Irene, interaksi Sehun dan Luhan selalu membuatnya tersaingi karena Luhan bisa mendengar ucapan Sehun lebih banyak dibandingkan dirinya.
"Aku yakin tidak akan sendiri. Masih ada Sehun yang bisa ku ajak berdebat."
"Yak!"Luhan mengerjap polos seolah tidak tahu jika ucapannya sangat mengganggu telinga Irene. "Jangan pernah mengganggu Sehun karena Sehun adalah milikku malam ini!"
"Oh ya?" Luhan menantang, meski dalam hati ia tertawa puas melihat ekspresi masam Irene. "Memang Sehun mau menjadi-milikmu-malam-ini?"
"KAU-"
"Nona, ini gaun yang anda minta. Silahkan membayarnya di kasir.", ucap seorang pelayan sukses menghentikan niat Irene untuk menjambak rambut Luhan. Ia segera pergi ke kasir lalu pergi tanpa menengok ke Luhan lagi.
"Ada apa?" Baekhyun datang tepat saat Irene menghilang di balik pintu keluar. Luhan menggeleng dan Baekhyun mengendikkan bahu tidak perduli.
"Sehun menelepon."
Luhan tersadar saat Baekhyun memberikan ponselnya untuk Luhan. Disana tertera nama Oh Sehun dan Luhan segera mengangkatnya.
"Hallo?"
"Rusa jelek! Di mana ponselmu? Aku meneleponmu ratusan kali tapi tidak ada jawaban."
"Di tas. Aku tidak bisa mengambilnya sekarang."
Terdengar helaan nafas di seberang. "Kau dimana?"
"Bukankah aku sudah bilang kalau Baekhyun menculikku?"
Luhan menurut ketika si perias memintanya menutup mata.
"Nona Byun itu! Jangan lupa untuk pulang sebelum pukul tujuh dan kita berangkat bersama!"
"Bukannya kau berangkat dengan Irene?"
"Menurutmu aku mau?"
"Dasar berengsek!"
"Aku tidak sebodoh itu untuk membuat tunanganku terus cemburu."
"Aku mual."
"Apa? Jangan bilang kalau kau hamil!"
Si perias di samping Luhan terkikik tidak jelas, mungkin ia mendengar ucapan Sehun di seberang. Sialan! Jangan sampai perias itu mengira jika Luhan sudah melakukan hal tidak-tidak sebelum waktunya. Padahal Luhan dan Sehun belum melakukan hal apapun kecuai tidur di ranjang yang sama dengan tangan Sehun yang bergeriliya.
"Dasar idiot!"
Luhan mengumpat, itu artinya ia tidak memiliki ucapan pedas untuk membalas Sehun.
"Baiklah, aku harus menyiapkan diri juga."
"Kau tidak perlu menyiapkan diri. Cukup seperti biasa saja!"
"Kenapa? Apa kau takut aku terlalu tampan?"
Si perias meminta Luhan membuka mata lalu mengoleskan blush-on di pipi Luhan. Luhan meneukan ada yang berbeda dari mata rusanya. Ada eyeliner tipis yang terlihat dan bulu matanya terlihat lebih tebal oleh bantuan mascara.
"Cih! Idiot! Aku tutup telfonnya!"
Luhan tidak perlu menunggu jawaban dari Sehun karena ia langsung memberikan ponsel Baekhyun kepada pemiliknya.
"Bisa tidak, kalian berdua tidak bertengkar meski dalam telpon sekalipun?" Baekhyun menerima ponselnya dan kembali membuka akun SNS-nya.
Luhan langsung menggeleng. "Tidak bisa. Kami akan tetap bertengkar dimanapun, kapanpun, dan dengan topik bodoh apapun." Jawaban Luhan membuat Baekhyun menggeleng tidak habis fikir.
"Tapi kalian masih berhubungan? Aku tidak bisa percaya!"
"Itu karena walaupun kami saling membenci, saling mengejek, dan saling mengerjai. Tapi kami tidak lupa untuk tetap saling memiliki."
Baekhyun sukses tertegun. Ini pertama kalinya Baekhyun mendengar kalimat semanis itu dari bibir Luhan, tentang Sehun pula.
"Kata-kataku bagus bukan? Aku mengambilnya di internet tadi. Kkkkkk!"
"Yak!"
"Maaf Nona. Bisakah anda diam sebentar? Make up anda akan segera selesai."
…
"Pukul enam lewat empat puluh menit. Kurasa aku tidak terlambat.", ucap Luhan tiba-tiba masuk ke dalam kamar membuat Sehun yang masih memasang dasi di kerahnya langsung membalikkan tubuh tegapnya. Tepat saat itu, Sehun terpaku dan tidak perduli dengan simpul dasinya yang belum selesai.
"Bagaimana? Memuaskan, kan?", tanya Baekhyun yang langsung terkekeh melihat reaksi Sehun yang tidak jauh dari ekspektasinya.
"Yah, ini berkat Baekhyun. Aku samasekali tidak-"
"Nona Byun!"
"Ya?"
"Kau bisa pergi sekarang."
Baekhyun mendecak dan meletakkan tas Luhan di atas ranjang. "Baiklah. Silahkan nikmati kecantikan tunanganmu, aku memang akan pergi karena Chanyeol Oppa sudah menungguku. Bye!"
Baekhyun beranjak pergi, meninggalkan Sehun dan Luhan yang tidak berniat membuka suara sedikitpun. Sehun hanya memandang Luhan dan penampilannya, sedangkan Luhan sibuk mengontrol detak jantungnya yang menggila akibat tatapan Sehun yang begitu menjurus.
Satu menit Sehun habiskan untuk memandang paras bak dewi yang berdiri didepan matanya. Memang bukan pertama kali Sehun menemukan gadis dengan kecantikan di atas rata-rata, namun ini pertama kali Sehun menemukan gadis yang bisa membuatnya membeku kagum dan bergairah dalam waktu bersamaan. Luhan dengan wajah polosnya adalah favorit Sehun, tetapi ditambah dengan make-up yang mengeluarkan sisi berbeda dari seorang Xi Luhan semakin membuat Sehun terpana.
"Sehun, aku aneh, ya?", tanya Luhan takut-takut. Awalnya ia mengira Sehun akan tertawa melihat penampilannya yang berbeda, tetapi melihat Sehun terdiam malah membuat Luhan takut penampilannya sangatlah buruk, dan tidak pantas bersandingan dengan Sehun yang terlihat sangat tampan dengan kemeja biru lautnya.
Luhan saling menautkan jemarinya. Menunggu reaksi Sehun membuatnya gugup minta ampun. Sehun tidak juga mengalihkan pandangannya dari tubuh Luhan yang dibalut dress selutut berwarna merah muda, memperlihatkan belahan dada Luhan yang kontras dengan ejekan Sehun selama ini. Rambut sebahunya dbuat bergelombang dan disisir rapi ke samping kanan, di sisi kiri tersemat pita biru dilengkapi kristal-kristal kecil yang berkilauan. Yang menarik adalah parasnya, dimana lipstick merah muda menghiasi bibir tipisnya lalu mata rusanya yang dipercantik dengan sentuhan eyeliner dan eyeshadow berwarna senada. Penampilannya membuat Luhan begitu manis dan membuat Sehun tidak tahan untuk melangkahkan akki mendekati Luhan.
"Sepertinya sangat aneh. Kalau begini aku tidak mau datang- hmmpppt!"
Sehun memotong ucapan Luhan dengan ciumannya. Ciuman memabukkan yang selama ini Sehun persembahkan satu-satunya untuk gadis cerewet bernama Luhan itu. Tangan Sehun menangkup pipi Luhan untuk memperdalam ciumannya. Aroma cherry di bibir Luhan membuat Sehun semakin bersemangat untuk menyesap bibir penuh candu itu.
Luhan ikut membalas ciuman Sehun dengan keahlian yang sama. Tangannya sudah berada di tengkuk Sehun dan memberantakan rambut hitam kelam lelaki itu.
Sehun semakin berbuat lebih. Ia sungguh tidak ingin membiarkan ciuman itu berakhir dengan cepat. Tangannya beralih menuju pinggang Luhan, merasakan kehalusan kulit Luhan disana, ternyata Luhan memakai gaun yang backless dan itu semakin membuat Sehun melakukan niatannya. Niatan untuk menahan Luhan di Apartment dan tidak menghadiri prom night. Tidak masalah jika acara itu hanya satu kali seumur hidup, tapi melihat Luhan dengan penampilan sempurnanya adalah satu hal yang lebih penting dibandingkan acara prom night.
Peringatan paru-parunya yang kekurangan oksigen membuat Luhan berusaha mendorong bahu Sehun dengan kuat. Selalu seperti ini, Sehun tidak akan mudah melepaskan Luhan dan hanya memiringkan kepalanya agar Luhan bisa menghirup oksigen dalam jumlah sedikit. Dorongan Luhan semakin kuat dan Sehun terpaksa melepaskannya. Keduanya terengah-engah dan menatap penampilan dihadapannya masing-masing. Luhan yang mendapat kondisi paling berantakan, dimana pitanya lepas dan rambutnya sudah tidak rapi lagi.
Luhan mendengus. Lipsticknya tertinggal di bibir Sehun dan itu membuktikan jika kondisinya sudah tidak bagus untuk datang ke acara prom night.
"Kau merusak penampilanku!", seru Luhan dan berlari menghampiri cermin besar di sudut kamar. Dan benar, penampilannya sangat kacau.
"Kau bilang tidak akan datang, kan?", sahut Sehun enteng lalu melingkarkan tangannya di pinggang Luhan dari belakang. Wajahnya ikut terpantul di cermin dan ia bisa melihat Luhan yang masih tetap cantik dengan kondisi kacaunya. Dan tanpa Luhan sadari, penampilan berantakannya dan bibir berkilau oleh saliva berhasil membangunkan sisi Sehun yang lain. "Bagaimana kalau melakukan sesuatu yang baru denganku?"
"Apa?"
Sehun menyeringai. Seringaian bodoh yang bisa Luhan artikan maksudnya.
"Jangan bodoh, Sehun! Ingat perjanjian kita!"
Sehun mencoba mengingat. "Maksudmu aku tidak boleh menyentuhmu sebelum menikah, begitu?"
"Kau sudah ingat?"
"Ya. Tapi," Sehun memutar tubuh Luhan hingga berhadapan dengannya. Sebuah seringai kembali hadir di wajah tampannya. "Tidak masalah jika satu bulan lebih cepat dari pernikahan kita!"
"Apa?!"
"Jangan pura-pura bodoh, Nona Lu! Kau lebih pintar dariku, kan?"
Luhan menghalangi kegiatan Sehun yang ingin melepas kaitan dress-nya. Otaknya berfikir keras mencari cara agar Sehun tidak melakukan hal bodoh dalam pikirannya.
"S-sehun, umurku baru delapan belas-"
"Kau tetap calon istriku!"
"Baekhyun ingin kita mengatakan hubungan-"
"Besok! Besok, disekolah. Kita akan mengatakannya!"
"Tapi Irene-"
"Masa bodoh dengan Irene! Aku tidak berniat berangkat atau datang bersamanya!" Sehun berhasil meluruhkan dress Luhan. "Jadi, sekarang, jangan fikirkan apapun dan menikmati saja!"
…
EPILOG
"Sehun, kapan kau akan menjemputku?"
"Kau hhhh… bisa berangkathh sendiri kanhh sssshhh…"
"Se-sehunah, kau baik?"
"Yya… k-kurasa aku tidak bisa datang shhh! Luhhh!"
"Sehun! Kau kenapa?! Lalu bagaimana denganku?"
"Irene-ah! Tunggu sebentar Luhh! Irene, dengarkan baik-baik! Sshh… Sebaiknya kau tidak perlu berharap lagi. karena aku… shhh sudahh sudah memiliki tunangan yang sshh sangat kucintai!"
"Sehun, apa yang kau-"
"Luhan! Aku sudah bertunangan dengan Luhanhh!"
"APA?! K-kau bercanda, kan?!"
"A-aku tutup Irene-ah!"
KLIK!
Telpon terputus. Irene memandang ponselnya tanpa berkedip. Ia terdiam seperti orang bodoh memikirkan perkataan Sehun yang sangat mengejutkan. Sehun. Bertunangan. Seseorang yang Sehun cintai. Luhan.
"APA!"
Irene berteriak histeris begitu otak cerdasnya mampu memahami ucapan Sehun. Oh! Doakan saja semoga saja tidak berniat bunuh diri karena patah hati.
…
END
…
Ciyee yang pengen tahu reaksi temen-temennya HunHan dan Irene pas tahu HunHan udah tunangan ternyata nggak ada ciyee. Salahin aja Sehun, kan dia yang bikin Luhan gak dateng ke acara itu. Bhaaaks!
Yeah, Finally! Ini ff pertamaku yg agak nyerempet sama yg 'sesuatu'. Gara-gara ada salah satu reviewer yg ngasih pendapat untuk dikasih adegan NC-nya HunHan. Dan ini hasilnya! Jujur author gak pernah dan belum berani nulis yg explicit NC, meskipun author 96lines dan banyak author lain seumuran yg udah nulis NC. Jadinya Cuma nyerempet aja, nggak terlalu dijelasin karena ratednya T(+).
Last, makasih buat yg udah support ff ini dan ternyata banyak yg minta sequel. Author jadi terhuraaa, dan tetep sabar nunggu buat ff A CHANCE yaa thankseu!
