Dislaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 2
Hinata berjalan menuju internet cafe didekat rumahnya. Mengetik sebuah cerita disana sangat nyaman, ditemani juga dengan secangkir kopi.
Hari itu, ada sosok yang membuatnya terkejut, karena tidak seperti biasanya lelaki itu ada disana.
"Hei!"
Hinata membuka mulutnya sedikit. Terkejut.
Sebenarnya bukanlah kali pertama ia melihat lelaki pirang itu disini. Dulu semasa sekolah, lelaki pirang itu, Naruto juga pernah berada disini. Tetapi itu sudah sangat lama.
"Tumben kesini." ucap Hinata berbasa-basi.
"Yup. Kita tidak lama berbincang di reuni." kata Naruto.
Hinata mengangguk. "Iya. Itu karena kau sibuk dengan teman-temanmu, dan aku dengan seseorang."
"Oh ya? Siapa?"
Hinata tersenyum tipis. "Kakaknya Sasuke."
Naruto tampak menyerngit. "Oh, dia. dia jarang loh untuk berbaur dengan orang lain."
Hinata mengangguk-angguk. Kemudian, Naruto tersenyum dan berkata, "Duduk disini saja, semeja denganku."
"Oke."
Rasa nyaman menyergap hati Hinata. Dia tidak henti-hentinya membuat lengkungan senyum dibibirnya. Sudah lama ia tidak begini.
"Itachi oniisan begitu mengesalkan saat aku ke rumahnya, dan selalu begitu." keluh Naruto. "Kata Sasuke, dia memang begitu. Hanya mau berteman dengan orang yang dianggapnya cocok dengannya. Kurasa aku tidak cocok dengannya deh."
"Dia banyak berbincang denganku," ucap Hinata.
"Kalau begitu, dia menyukaimu." kata Naruto membuat Hinata tersentak, dan buru-buru meralatnya. "Maksudku, sebagai teman, Hinata."
"Huh.. ya. Kau banyak omong hari ini. Tidak biasanya."
"Benarkah? Biasanya aku juga seperti ini kok."
"Kau tidak pernah bicara banyak denganku." kata Hinata. Aku mengagumimu diam-diam, Naruto.
Naruto menyerngit. "Begitu ya?"
"Iya."
"Dan kau tidak banyak bicara seperti biasa."
Hinata tertawa. "Kau benar. Tidak semua orang berubah."
"Tetapi kau tampak berbeda sejak kita terakhir bertemu."
"Masa sih?"
"I think so."
Kemudian, ponsel Hinata berdering keras di saku bajunya. Hinata begitu kaget karena tidak terbiasa menerima panggilan telepon.
Sebuah nomor asing muncul dilayarnya.
"Siapa?" tanya Naruto.
"Tak tahu..." keluh Hinata.
"Angkat saja, siapa tahu penting."
Hinata menurutinya. "Moshimoshi?"
"Ini Hinata, benar?"
"Iya." Entah kenapa jantung Hinata terasa berdebar-debar. Apa ini dari penerbit yang meneleponnya karena novel yang dibuatnya diterima?
"Ah. Ini aku, Itachi."
Mata Hinata membesar, "Kau?"
"Kau pasti sama sekali tidak menyangka jika aku akan menelepon. Benar?"
"Ya." lalu Hinata tertawa. Dia bahkan tidak sadar jika Naruto didepannya sudah menunjukkan ekspresi kesal, tak nyaman, sekaligus resah melihat Hinata yang tertawa seperti itu.
"Kau sedang apa?"
Pertanyaan itulah yang membuat Hinata tersadar. Kemudian menatap Naruto. "Aa, aku ada di internet cafe."
"Bersama seseorang?"
"Ya."
"Kalau begitu aku tidak ingin menganggumu. Tapi... kurasa kita bertemu." ucap Itachi.
"Oh. Baiklah."
"Temui aku di rumahku, ya? Datang saja."
"Kapan kau ingin aku datang?" tanya Hinata.
Disana Itachi tampak sedang menimang jawabannya. "Sore ini, bisa?"
"Kurasa bisa."
"Kutunggu."
"Hm."
Sesaat kemudian, telepon diputus.
Hinata memandang Naruto yang masih duduk dihadapannya, memaksakan senyuman. Dan Hinata sadar itu.
"Apa aku menelepon terlalu lama?"
"Lumayan."
"Maaf."
"Tak apa-apa." sahut Naruto.
"Kau masih sering berkumpul dengan teman-temanmu ya? Maksudku teman-teman dekatmu dulu." ujar Hinata dengan senyum dikulum.
"Cukup sering." sahut Naruto. "Mereka menyenangkan, seperti biasa."
Maksudmu Sakura, pikir Hinata.
"Tetapi aku sedikit jenuh dengan pertemanan itu."
"Oh ya?"
"Dengan memilki banyak teman dekat, kau cenderung sulit berteman dengan yang lain." ucap Naruto. "Kira-kira seperti begitu."
"Tidak juga. Kau bisa dengan mudah memilki teman dekat," kata Hinata. "Kau sosok yang menyenangkan."
"Begitu menurutmu?"
"Hm."
"Kau sendiri... kurasa..."
"Anti sosial, sebut saja begitu." kata Hinata. "Aku tidak menginginkan itu, sungguh."
Naruto menarik napas.
"Aku ingin memiliki banyak teman dekat, tetapi itu lumayan sulit karena aku cenderung tertutup. Aku tahu sifatku."
"Hinata,"
"Ya? Kenapa?"
"Kau adalah temanku." kata Naruto. "Kau tahu itu."
"Iya."
"Omong-omong, kita belum memesan apapun sama sekali." ucap Naruto, kemudian tergelak. "Ayo pesan sesuatu."
-X-
Tenten dan Ino menarik napas panjang.
"Dari dulu Sakura tidak pernah berubah. Selalu keras kepala."
"Iya. Lama-lama aku capek menghadapi sikapnya yang seperti itu." ujar Tenten.
"Heran, mengapa Naruto bisa tahan dengannya." keluh Ino.
"Kurasa tidak juga." kata Tenten. "Kalau yang kulihat, Naruto bersikap netral pada kita semua. Agrumen tentang Naruto menyukai Sakura kurasa salah. Mana ada yang suka pada seseorang tapi cuek begitu saja?"
Tiba-tiba Sasuke yang berada didekat mereka berkata, "Tenten benar."
"Nah, teman terdekatnya saja bilang begitu."
"Dan kini, Naruto sedang mencoba untuk mendekati seseorang." ucap Sasuke. "Seseorang yang dulu diacuhkannya, namun menarik hatinya sekarang."
"Itulah alasannya dia tidak berkumpul dengan kita hari ini?" tanya Ino. "Hebat."
"Siapa orang itu?" tanya Tenten penasaran.
"Kalian bisa jaga rahasia, kan?"
Tenten dan Ino mengangguk.
"Jangan beritahukan Sakura soal ini, ya?"
Lagi-lagi, mereka mengangguk.
"Orang itu adalah Hinata."
"HAH?"
Sasuke menghela napas. Sudah ia duga akan seperti ini.
"Hinata? Hinata yang itu?"
"Yang pernah ribut dengan Sakura karena Sakura tak menyelesaikan apa yang dipinta Hinata?"
"Orang yang Sakura kesal karena sikapnya yang pendiam itu?"
"Orang yang Sakura tidak bisa ngerti jalan pikirannya?"
"Yang dianggap Sakura sebagai sosok sok tenang saat lomba antar kelas?"
"Stop! Benar, Hinata yang itu."
"HAH?"
Sasuke menarik napasnya lagi. "Awas kalau kalian sampaikan pada Sakura."
"Tidak bisa dipercaya," sahut Tenten lemas.
"Kenapa? Kau menyukai Naruto juga?"
"Bukan begitu." sahut Tenten.
Ino menarik napas, menjentikkan jarinya. "Dulu, Sakura pernah mempergok Hinata beberapa kali."
"Dia memandang kearah bangku kalian berdua. Kau dan Naruto." lanjut Tenten.
"Dia mengira Hinata menyukai Naruto, menggosipkannya demikian." kata Ino.
"Entah itu benar atau tidak." sahut Tenten.
"Kalau benar, yang mungkin akan terjadi adalah, mereka berdua bisa jadian." ucap Ino, menarik kesimpulan.
"Kalian, gosip mulu." kata Sasuke lirih. "Tetapi tidak akan semudah itu."
"Kenapa?" tanya Ino dan Tenten kompak.
Sasuke tersenyum lebar. "Kalau itu, belum bisa kuberitahu sekarang. Nanti saja, belum pasti."
Sasuke berharap cemas kepada kakaknya. Jika ini tidak menyangkut Sakura, mungkin ia bisa saja melepas tindakan Naruto.
Sakura begitu sulit dikendalikan. Entah apa yang terjadi nanti jika rencana Naruto berhasil.
"Kalian jangan bicarakan pada siapapun, ya..." cetus Sasuke lagi. "Bisa bahaya nanti."
"Oke."
-X-
Huft!
Sudah cukup lama aku memikirkan lanjutan fanfict ini karena ide awalnya muncul begitu saja, tanpa lanjutannya, tanpa akhir.
Tetapi aku bersungguh-sungguh untuk menyelesaikannya kok... jadi jangan khawatir kalau cerita ini gak selesai. Karena karakter tokoh-tokohnya kubuat terinspirasi dari teman-temanku(kecuali Itachi sih) aku jadi bersemangat untuk menyelesaikannya.
Sampai jumpa berikutnya! Terima kasih telah membaca
