Senyuman manis terulas dibibir, mata menatap penuh kekaguman terhadap idola idaman. Jaejoong segera memajang bingkai foto tersebut di atas nakas samping tempat tidur—masih dengan mata yang terpancang pada benda tersebut. Mengagumi betapa sempurnanya sang idola.

Kapan aku bisa bertemu dengannya?

CEKLEK

Penghuni kamar ini, mungkin.

Jaejoong segera bangkit dari duduknya guna menyambut sang penghuni kamar yang akan menjadi teman sekamarnya mulai dari sekarang.

"Selamat dat-.. –tang-"

Kedua mata onyx bulat Jaejoong terbelalak lebar.

U-KNOW!

.

.

.

Disvelocity

Disclaimer: God, Their parents and Themselves (GGT)

Warning: AU! School Life, Amburegul, fail!Humor, Typos, beberapa kata non-baku, OOC and many more.

Don't Like Don't Read!

.

.

.

Sosok itu benar-benar mirip. Mata tajam dengan bentuk serupa mata rubah, postur tubuh tegap, bibir unik berbentuk hati serta rambut yang berwarna-.. Hitam? Setahu Jaejoong, terakhir rambut yang idolanya miliki adalah berwarna coklat gelap.

"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" suara baritone keluar dari mulut pemuda yang baru saja menutup pintu kamar asramanya. Jaejoong mengerjapkan matanya cepat. "Kau-.. Siapa?" pertanyaan konyol dengan lancangnya tersuarakan begitu saja.

Pemuda yang belum Jaejoong tahu namanya itu mengerutkan dahinya bingung. "Bisakah kau lebih sopan sedikit saat akan ingin berkenalan dengan teman sekamarmu ini?"

Jaejoong terkesiap. Dengan cepat ia segera beranjak menuruni anak tangga yang menghubungkan antara lantai bawah dan atas. "Maaf-.." Jaejoong membungkuk sesaat sebelum memperkenalkan dirinya dengan benar. "Aku Kim Jaejoong, murid baru kelas 2-6. Pindahan dari Osaka, Jepang. Kuharap kita dapat berteman dengan baik-"

"Aku Jung Yunho, satu kelas denganmu." Perkataannya datar sekali. Sedatar pantat teflon di dapur rumahnya. Jaejoong mengusap lehernya canggung. Sosok yang bernama Jung Yunho ini sangat mirip secara fisik dengan idolanya, U-Know.

"Kenapa diam saja? Awas, jangan menghalangi jalan. Aku mau mandi." Jaejoong refleks menyingkir dari sana. Dalam hati menggerutu karena ternyata roommate-nya itu sangat galak. Skeptis untuk membayangkan teman sekamarnya tersebut sebagai jelmaan sang idola.

Eugh-.. Tidak lagi-lagi.

.

.

.

.

.

"Kemarin kau mengatakan jika kau juga satu kelas denganku. Tapi kemarin aku tidak melihatmu-"

"Aku sedang sibuk."

Jaejoong ber-ah ria sembari tersenyum canggung. Apa jangan-jangan Jung Yunho ini disibukkan dengan kegiatannya sebagai artis? Tapi kenapa-.. Seorang artis ada di Asrama 2?

"Apa kau mau diam di situ sampai bel masuk berbunyi, Kim Jaejoong?" Yunho membuka pintu kamar asramanya. Jaejoong pun langsung berdiri saat menyadari jika sang roommate telah pergi meninggalkannya.

Pemuda androgini itu berjalan santai melintasi gedung demi gedung di lingkungan sekolah. Menenteng tas khusus yang memiliki sebuah logo di permukaan. Beberapa murid menyapanya, dibalas oleh Jaejoong dengan keramahan yang sama. Sulaman alis Jaejoong saling bertautan tatkala melihat seorang murid menghampirinya sambil tersenyum riang.

Ah, Jaejoong ingat-.. Itu Ketua Asrama 1! Kemarin ia dikejar-kejar oleh kelompok yang dipimpin oleh pemuda cantik tersebut. "Selamat pagi, Kim Jaejoong~.. Bagaimana dengan malam pertamamu?" Pertanyaan yang sungguh ambigu dan rancu.

"Errr-.. Lumayan. Semalaman ini aku habiskan di kamar. Tubuhku lelah karena dipaksa berlari selama dua jam setengah." Sedikit menyindir bolehlah. Ketua Asrama 1, Kim Heechul malah menanggapi ucapan sindiran Jaejoong dengan senyuman lebar. "Terima kasih kembali. Kalau begitu aku akan ke kelas dulu. Sampai jumpa-.."

Onegai… Sepertinya orang itu kehabisan obat.

Jaejoong mencibir dalam hati. Bisa-bisanya ia bertemu dengan orang seperti itu. Ada-ada saja.

"Kim Jaejoong!" Dengar. Sekarang siapa lagi yang memanggilnya?

Jaejoong pun menolehkan kepala, mendapati seorang guru sedang melambaikan tangan ke arahnya. "Kemari!"

Bergegas menghampiri guru tersebut sebelum bel berbunyi dan ia terlambat masuk kelas. "Ada yang bisa dibantu, sam?"

SRET

Sang guru menyerahkan sebuah berkas pada Jaejoong. "Kau isi, lalu nanti jam makan siang segera serahkan padaku. Keterangan yang kau butuhkan ada dibalik kertas ini-"

"Baik, sam."

Setelahnya ia pun berlalu dari sana. Masih dengan berkas ditangannya. Membaca dengan teliti tiap kata yang tertera di sana. "-.. Kegiatan Ekstrakurikuler Asrama 2? Ah-.. Jadi aku harus memilih, hm? Baiklah. Kurasa tidak buruk juga."

Memasukkan berkas tersebut ke dalam tas sebelum melenggang memasuki gedung kelas yang mulai sepi.

.

.

.

.

.

Suara hingar bingar kelas tanpa guru itu membuat kepala Jaejoong pening. Berdenyut ngilu menampakkan pertigaan jalan tak kasat mata dipelipis. Kelas yang isinya hanya anak lelaki memang selalu kacau balau jika guru berhalangan masuk ke kelas. Tapi ia tak menyangka jika di sekolah barunya akan sekacau ini. Seperti-…

Jaejoong yang tadi sedang enak-enakan merebahkan kepala di atas meja sejenak langsung digeret dan ditarik paksa oleh dua orang teman sekelasnya. Meninggalkan seonggok tas baru—yang bahkan masih wangi—berantakan di atas meja.

"Hei, hei-.. Ada apa ini?!" Panik, tentu saja.

BRUG

Pemuda androgini itu meringis kala punggungnya berbeturan dengan dinding kelas yang keras nan dingin. "Oi, kau yang kemarin melemparkan bola itu padaku 'kan?" tanya seorang murid laki-laki berjidat lebar menghampiri. "Kau membuatku harus dirawat seharian di klinik!"

Jaejoong mengerjapkan mata bulatnya beberapa kali. "Jadi-.. Kau yang kemarin?"

Anggukan kepala dari murid berjidat lebar menjadi jawaban pertanyaan Jaejoong. Sebuah seringaian menyebalkan terulas dibibir murid itu. "Aku Park Yoochun. Kau tidak tahu aku? Jangan bohong~"

Cih. Sombong sekali. Tapi benar sih. Ia tahu nama itu dari Changmin kemarin.

"Kau Park Yoochun, Ketua Asrama 2 'kan?" tanya Jaejoong mencoba meyakinkan jika murid di hadapannya itu benar-benar ketua asramanya. Modus. Jaejoong dalam hati berdoa semoga kesalahannya dapat termaafkan dengan dalih ia sudah memilih Asrama 2 sebagai sarangnya selama bersekolah di sini. Yoochun pasti senang. Setidaknya laki-laki yang jidatnya licin selicin papan gilasan itu akan meringankan hukumannya.

Meski ia tahu hal itu sedikit mustahil. Bagaimana pun, Jaejoong juga laki-laki. Tahu betapa sakitnya jika barang kebanggan tiap kaum Adam terkena pukulan benda. Rasanya itu loh. Kerenyes.

"Kau yang satu kamar dengan Yunho 'kan?" Yoochun menunjuk Jaejoong dengan jari telunjuknya. Hei, itu tidak sopan.

"HEEEEEEEEEE?"

Mata bulat Jaejoong mengerjap bingung. Kenapa ekspresi semua teman sekelasnya begitu? Terbeliak dengan rahang bawah yang jatuh ke bawah.

"Apa kau tidak apa-apa?"

"Bagian mana tubuhmu yang sakit?"

"Apa dia berbuat buruk padamu?"

"Bagaimana malam pertamamu dengan Yunho?"

Aaaaaaaaaarrrrght~

Jaejoong memberontak. Pipinya terlihat merona mendengar pertanyaan terakhir yang berasal dari entah-siapa-ia-tak-lihat. Sama persis dengan perkataan ambigu nan rancu yang dilayangkan Heechul tadi pagi.

"Apa yang kalian katakan itu, hah? Aku dan Yunho tidak melakukan apa-apa semalam!"

Hening.

"Ah~ Tidak mungkin-.." Mereka mengibas-ngibaskan tangan. Tidak percaya dengan jawaban tak memuaskan hasrat Jaejoong.

Salah seorang murid berwajah manis maju dan berdiri di samping Yoochun. Ia menopang dagunya di bahu sang Ketua Asrama 2. "Benarkah? Lalu itu apa?" Telunjuk pemuda manis itu mengacung, mengarah pada tengkuk Jaejoong.

Refleks, tangan sang pemuda androgini langsung terangkat menuju bagian tubuhnya yang ditunjuk tadi. Mengusap tengkuknya yang terasa dingin dan melihat hasil dari yang jemari lentik miliknya lakukan. Jaejoong mengerutkan dahinya kala mendapati noda hitam luntur di permukaan kulit ari jari tangannya.

"Hahahahahaha.." Suara tawa mengerikan terdengar dari sudut kelas. Jung Yunho tergelak sendiri di tempat duduknya. Memukul-mukul meja dengan telapak tangan seperti orang gila. Jaejoong menjinjitkan kakinya guna melihat sosok Yunho lebih jelas. Pemuda mirip idolanya itu sedang mengusap sudut matanya yang mengeluarkan setitik air mata.

Jaejoong melamun. Bukankah Jung Yunho itu orangnya dingin dan sedikit galak? Kenapa dia malah jadi seperti itu di kelas? Sungguh tak habis pikir.

"Yunho-.. Kenapa?"

"Ini, lihat saja sendiri-" Yoochun memberikan sebuah cermin kecil pada Jaejoong—yang diterima pemuda androgini itu dengan senang hati.

Dalam bayangan cermin, nampak sebuah garis hitam melintang di tengkuk lehernya. Untuk melihat lebih jelas, ia pun menyibakkan rambut bagian bawahnya yang menutupi tengkuk. Mata bulat Jaejoong semakin melebar bak biskuit hitam manis yang sudah diputar, dijilat, dicelup—ehem. Garis-garis abstrak telah menodai kesucian kulitnya yang mulus.

"Itu gambar apa?"

"Mungkin itu kelinci."

"Tidak, tidak. Itu ulat!"

"Bodoh. Itu rusa. Lihat, dia memiliki dua tanduk."

Bukannya apa-apa. Jaejoong merasa sedikit mulas saat para murid yang menghuni kelasnya menyerukan opininya masing-masing seputar gambar apa yang tercetak begitu manis di tengkuk Jaejoong. Ia pun mengamati gambar itu dengan seksama melalui cermin. "Ini-.. Badak?"

Hening (lagi).

"Ah~ Tidak mungkin-.." Jelas dengan ekspresi dan gerak-gerik masal yang sama.

SGREEEET

"Apa tadi kau bilang?" Yunho bangkit dari sanctuary-nya. Melangkah ke tempat di mana teman-temannya berkumpul mengepung Jaejoong. Matanya yang tajam serupa mata rubah itu berkilat. Membuat beberapa murid langsung menyingkir dari sana sesegera mungkin.

"Kim Jaejoong, aniya?"

Jaejoong tanpa sadar merapatkan punggungnya dengan dinding. Langsung memejamkan kedua matanya tatkala Yunho makin mendekat dan menjulurkan dua jemarinya ke kepala Jaejoong.

Oh.. Jaejoong merasa ngeri dengan pemuda itu sekarang.

CTIK

"Ittai-.." Jaejoong merintih kesakitan sambil memegang keningnya yang menjadi korban kekerasan Jung Yunho.

"Jaejoongie-.." Yunho memanggil namanya dengan suara yang agak berbeda dari sebelumnya. Jaejoong mendelik sadis. Oke, roommate-nya itu belum tahu siapa Jaejoong sebenarnya. Ia-…

"Sore ini akan kutraktir bulgogi. Dan aku tidak menerima penolakan. Oke?" ujar Yunho seraya berlalu begitu saja dari sana. Menyisakan tatapan kosong dari tiap murid penghuni kelas 2-6.

Sumbu kompor di kepala Jaejoong padam tersiram air dingin yang diguyurkan Yunho padanya. Pelipisnya berkedut. Kepalanya kembali pening. Perutnya mual tiba-tiba. "Aku butuh toilet-.."

"Ah, Suie-.. Tolong antarkan Jaejoong ke toilet." Yoochun membuka suara.

Pemuda manis bernama Kim Junsu yang tadi berdiri di samping sang Ketua Asrama 2 itu pun mengangguk meski masih merasa blank akan keadaan yang mendadak terjadi. Fenomenal sekali.

.

.

.

.

.

"Jadi kau memilih ekstrakurikuler Bulu Tangkis?"

Jaejoong mengalihkan perhatiannya yang semula tertuju pada bungkusan berisi daging berbumbu pedas di tangannya. Duduk berdua di bangku panjang pinggir lapangan, menghabiskan waktu sore bersama teman baru sambil menikmati traktiran pertamanya. "Iya. Kalau kau bagaimana, Yunho-ya?"

Yunho memainkan sumpitnya mengaduk irisan daging. "Sama. Dua bulan lagi akan diadakan School Tournament Open di Seoul. Jadi aku harus berlatih keras mulai dari sekarang. Tapi masalahnya-.."

Jaejoong menatap roommate-nya lama. Yunho sedikit banyak memiliki garis wajah yang sama dengan U-Know, idolanya. Hanya saja bentuk muka Yunho lebih tegas dan maskulin.

"Tapi kenapa?" tanya Jaejoong. Yunho menghela nafasnya pelan. "Kelas 3 sudah dinonaktifkan dalam setiap kegiatan sekolah di luar mata pelajaran wajib. Mereka difokuskan pada Ujian Negara. Dan ya-.. Pasangan mainku sekarang sudah duduk di kelas 3. Jadi dia tidak bisa bertanding lagi."

"Kau pemain ganda?" Jaejoong tak jadi menyuapkan daging ke mulutnya. Ada hal lebih menarik yang perlu ia ketahui.

"Hn. Aku dan Jihoo-sam sedang mencari pasangan yang tepat untukku. Tapi dari semuanya-.. Entah mengapa aku tidak merasa cocok-"

"Kecocokan memang diperlukan dalam permaian ganda. Salah-salah bisa miss-communication. Kenapa kau tidak mencoba bermain single saja?" Pemuda androgini itu mengulum senyum. Yunho berdecak. "Aku terbiasa bermain ganda. Rumit jika harus beradaptasi dengan teknik yang belum tentu bisa kukuasai dengan baik," komentarnya.

Jaejoong mengangguk-anggukan kepala. "Benar sih. Tapi-.."

"Sudahlah. Ayo kita pulang. Aku mau mandi," Yunho langsung beranjak dari duduknya untuk kemudian meninggalkan Jaejoong di sana. Pemuda androgini itu hanya dapat memandang punggung tegap sang roommate. Hingga ia menyadari bahwa Yunho benar-benar meninggalkannya di pinggir lapangan.

Bergegas meraih tas sekolahnya yang tergeletak dan berlari menyusuri jalan menuju Asrama 2. Tak lupa membuang bungkusan bulgogi traktiran yang sudah kosong tak bersisa di tempat sampah.

Ingat, Joongie, pelajaran sejak kelas Playgroup; buanglah sampah pada tempatnya.

.

.

.

.

.

TBC

Gaje? Iya. Pendek? Sangat xD Tolong jangan jitak Vans sebelum Vans suruh. Kkk~ #kicked

Ehem. Vans emang terinspirasi dari dorama Hana-Kimi, dorama kesayangan Vans sepanjang masa. Hha.. Jadi latar yang Vans ambil adalah dari Hana-Kimi versi Jepang. Bukan Hana-Kimi versi Koreanya ya. Karena Vans berpikir itu terlalu mewah untuk ukuran anak sekolahan. Lagian yang aslinya lebih adem ayem keliatannya :3

So.. How about this chappie?

Sok mangga di ripiu~ :D