Hallo minna~

Ruuki kembali lagi menulis, agak telat soalnya sempet ga enak badan, gomen hehe... makasih yang udah koment dan kasih semangat, oh ya Ruuki mau ganti judul nih, makasih sarannya Durara-san. Sekali arigatou untuk semuanya ^^

Chapter sebelumnya:

"Ekhm.. permisi tuan, meja ini sudah kupesan untuk aku dan temanku, jadi bisa kau tinggalkan tempat ini?" Kataku dengan sangat lembut takut nanti dia akan tersinggung, namun dia tidak mengubrisnya

"Tuan?" Panggil ku sekali lagi, dan ya berhasil, dia melihat kearahku, namun ternyata laki-laki itu adalah...

"Kau?" Kataku bersamaan dengannya.

Naruto © Masashi Kishimoto

Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto,
saya hanya pinjem cast aja.

Rated K+/T

Genre : Romance, Drama, Family

Pair : NaruHina

Warning : Typos, EYD yang kurang rapih, dan mungkin ga jelas hihi~
don't forget RnR.

Enjoy~

-Do not be afraid to love, simply because it never hurt. True love does not come just like that, but through the process of sad and laugh together-

Chapter 2 : restlessness

"Bagaimana kau bisa ada disini?" Kataku heran.

"Kau mengenalku?" Katanya.

"Ya?" Kataku.

"Kau mengenalku nona?" Katanya sekali lagi padaku.

"Oh, itu... bukannya tadi pagi kita tertabrak di bandara, ingat?" Kataku padanya. Dia lupa? Aneh cepat sekali orang ini lupa.

"Oh ya aku ingat" Katanya.

Kami terdiam sejenak. Hingga aku lupa dengan tujuan awal, baka Hinata!

"Ekhm... Jadi? Kenapa kau bisa duduk di sini? Aku telah memesan tempat duduk ini terlebih dahulu" Kataku.

"Memesan? Apakau designer yang membuat baju pernikahan Karin?" Tanya nya padaku, bagaimana dia tau? Apa dia calonnya Karin? Hmm... Mungkin.

"Ah kau benar aku designer nya, aku ingin memberikan design padanya, tapi kurasa Karin tidak bisa datang, dan apakah kau suaminya? Kalo begitu kebetulan aku tidak bisa lama, jadi ini aku berikan padamu" Kataku sambil memberikan disignku padanya.

"Oh ya baiklah, dan satu lagi aku bukan calonnya tapi aku adiknya, kalo begitu kita sama aku juga tidak bisa lama, dan terimakasih untuk designnya, aku pergi" Katanya langsung pergi begitu saja.

"Ya?" Aku sungguh kaget, sungguh dia sangat dingin sekali, ada apa dengannya? Aisshhh... apa yang aku pikirkan, apa peduliku dengannya, ingat Hinata laki-laki itu semuanya tidak baik! Aku pun pergi dari sini, ketika aku ingin keluar dari tempat ini, tiba-tiba ada yang memanggilku.

"Hinata"

Deg..

Suara itu... Ketika aku menengoknya ternyata dia mantan ku, Inuzuka Kiba bersama dengan 'istrinya' Shion...

Astaga kenapa aku harus bertemu dengannya lagi? Tidak aku tidak ingin terlihat seperti orang yang dikasihani aku harus kuat.

"Ya?" Kataku terlihat biasa saja padahal demi apapun aku sungguh ingin langsung pergi dari tempat ini.

"Kenapa kau tidak datang ke pernikahanku?" katanya, apa katanya tadi datang? Setelah apa yang dia lakukan padaku dia masih berani mengatakannya? Sungguh aku benar-benar kesal.

"Aku sibuk dan kebetulan aku ada di paris saat itu, jadi aku tidak mememiliki waktu sama sekali" Kataku.

"Oh kalo begitu tidak apa, maaf aku harus segera pergi, Shion sedang sakit jadi aku tidak bisa lama-lama" Katanya.

"Silahkan, aku juga tidak bisa lama, sampai jumpa" Kataku, aku pun langung pergi dari tempat itu. Kumohon jangan jatuhkan lagi air matamu lagi Hinata... aku terus berjalan tampa tau aku harus kemana, hingga tak sadar aku sampai di depan rumah teman ku, Ino

Krek

"Hinata?" katanya, namun aku hanya diam saja, aku bingung harus menjawab apa. Hingga dia mendekatiku dan memenggang pundak ku.

"Astaga Hinata kapan kau pulang?! Aku merindukan mu!" Katanya mememeluk ku.

"Aku juga sama, aku juga merindukanmu" Kataku

"Tapi hinata, kau kenapa? Kau tidak terlihat baik apakah ada sesuatu? Ayo masuk, kita cerita didalam saja" kata Ino dan aku mengikutinya ke dalam.

Cukup lama aku terdiam karena Ino juga sedang sibuk menyiapkan minum untuk ku dan ketika Ino kembali . akhirnya aku memutuskan menceritakan nya pada Ino, karna Ino adalah orang paling kupercaya selain Sakura yang sekarang berada di Paris.

"Aku bertemu dengannya Ino" Kataku.

"Kiba-kun?" Kata Ino.

"Ya kau benar dan juga aku bertemu dengan 'istrinya'" Kataku, Ino hanya diam dan meminum tehnya.

"Apa yang dia katakan?" Katanya.

"Dia bertanya kenapa aku tidak datang ke pernikahannya, namun ku balas dengan sibuk dan banyak urusan, namun kenapa pada saat aku melihatnya dengan wanita itu perasaan ku masih sakit? Padahal aku sudah berjanji pada diriku ku sendiri untuk melupakan nya, aku pergi dari jepang untuk melupakannya, tapi kenapa perasaan ku ini tidak dapat me-" Kataku teputus.

Ino menarikku dan memeluk ku, tangisku pun pecah aku tidak kuat lagi.

"Hei, dengar bila ada Sakura disini kujamin dia akan marah pada mu karna kau terlihat cengeng dan aku yakin juga Sakura akan datang kerumah Kiba dan menghajar Kiba karna membuatmu menangis, jadi berhenti menangis karna laki-laki itu. Masih banyak laki-laki yang lebih baik dari padanya, yang bisa membuat mu bahagia, jadi lupakan laki-laki itu dengan perlahan, jangan teralu memaksa perasaan mu sendiri, mengerti?" katanya. Tidak salah aku datang ke sini, kau yang terbaik Ino.

"Terima kasih Ino" Kataku.

"Ya sama-sama, kapan kau pulang dari Paris? Kau benar-benar membuat semua orang panik ketika kau pergi aku dan Sakura mencari kemana-mana hingga akhirnya Neji memberi tau kau sudah pergi ke Paris" Kata Ino dengan wajah kesalnya.

"Hehe kalo itu maafkan aku, aku sungguh terburu-buru" Kataku

"Tapi berilah kami kabar dulu, dan kau tau Sakura juga sudah menikah dengan pangeran es nya itu" Kata Ino.

"Kau iri?" Kataku, kalo ku ingat-ingat Ino dan Sakura sering lah berduel namun walaupun begitu mereka menggunakan dengan cara yang sehat (?)

"Heh? Untuk apa aku iri hinata, bahkan 3 hari lagi aku menikah?" Katanya.

"Oh begitu" kataku santai.

Tunggu katanya menikah?

"APA? Dengan siapa?" Kataku kaget.

"Dengan sai, kenapa kau iri?" Kata nya.

"Waahhh selammatt Ino, aku tidak iri Ino" Kataku.

"Kalau begitu carilah pendamping mu" Katanya.

Aku terdiam sebentar, pendaping ya?

"Tidak untuk sekarang Ino, aku tidak ingin merasakan nya lagi, aku ingin seperti ini dulu saja, kurasa sudah cukup aku tersakiti sekali" Balasku.

"Aku yakin akan ada orang yang bisa membuat mu jatuh cinta lagi, entah kapan tapi aku yakin pasti ada" Kata Ino.

"Aku tidak berharap" Kataku.

"Baiklah kurasa sudah cukup malam, aku pulang dulu Ino, mainlah kerumahku Ino" Lanjutku beranjak dari sana, entalah aku tidak suka topik ini, jadi kupikir aku pergi saja.

"Bagimana tadi kau sudah bertemu dengannya? Lalu apa menurutmu bagaimana? Cantik? Atau-"

"Cukup! Bagiku semua wanita itu sama saja, aku sudah tidak peduli lagi yang namanya wanita! Dan menurutku dia sama saja dengan wanita itu! Oh ya itu designnya, aku mau kekamarku" Akupun beranjak dari sana. Baru beberapa langkah kaa-san berbicara.

"Kalau begitu apakah Kaa-san dan Nee-chan mu ini sama dengan wanita itu? Apa kau pikir kami akan melakukan hal apa yang dilakukannya untukmu?" Kata Kaa-san santai tapi aku tau sekarang Kaa-san memandangku dengan tatapan tidak bersahabat, walaupun aku tidak menengok nya.

"Kaa-san lelah melihatmu terus saja dihantui masa lalu mu itu, jadi Kaa-san akan menjodohkan mu, tenang saja kau bisa menolaknya tapi Kaa-san akan lebih senang kau menerimanya, besok temui kami di pusat tokyo" Kata Kaa-san dan meninggal kan ku.

"Naruto aku bukan ingin membuatmu marah, tapi dengan kau ber sikap seperti ini apakah kau pikir hanya kau saja yang tersakiti? Tidak Naruto, kami semua juga, nakamamu dan keluarga mu, mungkin memang benar Shion meninggal kan mu dan kembali ke cinta pertamanya tapi apakah kau pernah bertanya selama ini Shion bahagia dengan mu? Bahkan kalo dilihat lagi kau lah terlihat lebih bahagia Naruto. Kau memang baik, tampan, mapan, tapi apa dengan semua itu Shion bahagia? Belum tentu. Kau harus tau Naruto, wanita itu ingin memiliki pilihannya sendiri sama seperti Shion. Mukin kau bukan pilihannya, kurasa itu saja yang bisa ku sampaikan dan aku tidak membela pihak manapun" Karin pun sekarang pergi, haah... aku butuh istirahat sekarang.

Aku masuk kamarku dan langsung duduk di pinggir tempat tidurku. Aku kembali teringat kata-kata Karin, mungkin semua yang tadi Karin katakan tidak sepunuhnya salah, aku bukan tidak ingin melupakan nya, hanya teralu sulit saja melupakan nya. Apa yang harus ku lakukan?

"ahhh... kurasa aku sebentar lagi akan menjadi gila" Kataku frustasi, aku pun langsung merebahkan diriku ke kasur dan taklama aku tertidur.

TBC