Title : Perfect Partner

Author: Micky-Milky
Genre:Romance/ Drama/ Family

Rate : T

Disclaimer : Punya Kishimoto Sensei

Length: Chaptered

Warning : Typo, Yaoi, Ooc, alur kecepatan. Dll

.

.

Chap 2

.

.

"Otoutou mencium teman prianya di depan kelas, dikarenakan insiden yang tak terduga, dan pria yang beruntung atau bisa di bilang merugi itu bernama, Namikaze Naruto, adik laki-laki Deidara, calon pacarku."

Celoteh Itachi panjang lebar, membuat pria yang mempunyai bekas luka disamping hidung mancungnya itu mendapat satu tonjokkan gratis dari sang adik.

"Nanni? Namikaze lagi?"

.

.

Fugaku melirik Kakashi yang meletakkan secangkir kopi panas untuknya, sedangkan Kakashi sendiri mendudukan diri tepat didepannya hanya terbatas jarak meja untuk mereka.

"Kudengar kali ini Sasuke membuat ulah."

"Ya, dan kau pasti tahu apa ulah putra bungsumu itu."

Fugaku menghela napas, menaikkan paha kirinya ke paha kanan, Fugaku menatap pria bermasker itu tajam begitu pula dengan Kakashi.

"Sebenarnya siapa Deidara itu? Itachi sangat menggilainya."

Kakashi berdiri dari duduknya, membawa dua kerta berisi CV Mahasiswa dan Siswa dari University Konoha dan KHS. Kakashi meletakan kedua CV itu didepan Fugaku dan dengan segera Fugaku membaca bari demi baru apa yang di cetak CV itu sendiri. Matanya melotot saat melihat nama keluarga kedua siswa dan Mahasiswa berambut Pirang yang terlihat dari foto mereka.

"Namikaze Minato?"

"Ya, Namikaze Minato, mereka berdua putra dari pemilik perusahaan Namikaze, Minato, temanmu saat sekolah dulu, Nii-sama."

Kakashi kembali duduk di bangkunya, dia mengingat jelas siapa Namikaze Minato, pria yang menjadi teman akrab dari Nii-sama nya dulu saat masih bersekolah.

"Minato yang adiknya juga kau taksir itu."

"Berhenti mengalihkan pembicaraan, Iruka tak ada kaitannya."

"Tapi dia kan juga Namikaze."

"Nii-sama!"
Fugaku terkekeh geli saat melihat rona merah kentara di pipi Kakashi, kali ini Fugaku yang menyodorkan amplop putih didepan Kakashi, melihat itu Kakashi menatap sang kakak dengan bingung.

"Ini surat darimu bukan? Kemarin Itachi memberikannya kepadaku katanya kau ingin bicara."

Membuang napas lelah, Kakashi melipat kedua tangannya didepan dada, Kedua Uchiha itu saling memandang sampai akhirnya Kakashi kembali menghela napas berat.

"Aku sudah lelah dengan kelakuan putra sulungmu. Secara akademik dia sangat jenius, aku tak terkejut dengan hal itu, itu karena dia seorang Uchiha, tapi secara moral dia drastis turun tajam, merosot sampai keakar, itu karena Deidara."

"Aku sudah menjelaskan pada Itachi, tapi dia bersikeras untuk menyukai pemuda itu, sulit sekali menyuruhnya untuk tak berbuat hal aneh."

"Anakmu benar-benar penjahat asusila, dia meremas pantat pemuda itu, menciumnya di kelas dan bahkan memeluknya sepanjang koridor kampus, dan itu di lihat para dosen."

Fugaku menghela napas, sudah berapa kali hari ini dia merasa hidupnya sungguh bertambah beban.

"Sasuke?"

"Oh... anak itu. hanya kecelakaan, salah satu temannya tak sengajah mendorong Naruto, membuat mereka berciuman di kelas dan di tonton semua murid."

"Setidaknya itu bukan keinginannya."

"Jangan salah, mungkin saja nanti ini bisa berakhir seperti Itachi dan Deidara."

"Kau mengatakan jika Sasuke mungkin akan sepertimu dan Itachi yang menggilai Namikaze."

"Mungkin, beruntungnya kau tak ikut menggilai Minato-san, dan berakhir menikahi Mikoto-nee-sama."

"Aku mencintai Mikoto,"

"Ya... ya... aku tahu. Tapi mungkin tidak dengan anak-anakmu, dan bersiaplah menerima menantu dari keluarga Namikaze."

.

.

Hari ini Deidara merasa hidupnya di surga, sedari pagi tak menerima pelukan maut atau ciuman mesra dari sang Uchiha sulung sungguh membuatnya merasa arti hidup sesungguhnya. Semenjak dia menetapkan hati untuk masuk ke Universitas Konoha dan masuk dalam Fakultas Seni, hidup Deidara bagai menari di tangan setan Itachi, pemuda itu menguntilinya kemanapun, bahkan memeluknya saat mereka bertemu dan mengucapkan banyak kata gombal saat Itachi memaksa duduk sebangku saat di kantin. Bahkan Deidara harus relah menyerahkan Konan wanita taksirannya pada Pain, karena Itachi yang jelas-jelas memagarinya denga label tak terlihat di jidatnya bertuliskan ' MINE' jelas pada setiap orang yang berminat pada Deidara.

Deidara bukanlah orang yang menyukai laki-laki, dia masih suka perempuan cantik dan manis, hanya sayang si pangeran University Konoha itu terlalu sadis memberikannya jarak tak kasat mata pada semua perempuan di kampusnya. Entah apa yang dilihat pemuda itu padanya sampai menggilainya begitu besar, tapi bukannya merasa senang, Deidara malah merasa muak diikuti bahkan di perlakukan seenaknya oleh Itachi.

Tersenyum cerah, Deidara menghampiri Sasori yang baru saja keluar dari kelasnya, kedua pemuda satu jurusan itu saling bercakap ria sesekali bersenda gurau menelusuri lorong kampus.

"Kudengar Itachi di scors karenamu?"

"Eh? Kenapa karena aku? Itu karena dia sendiri, kan dia yang salah."

"Maksudku karena dia menganggumu, benar?" pemuda baby face itu menatap Deidara datar, menunggu jawaban atas pertanyaannya.

"Uumm, tapi itu murni kesalahnnya, dia meremas pantatku. Senpai."

Sasori terkikih gelih, dia kenal Itachi, mereka berteman akrab, bahkan dia lebih mengenal Itachi ketimbang Deidara, Pemuda itu walaupun bengal dan usil tapi tak pernah terlibat kontak fisik secara dekat, bahkan dengan lawan jenis atau sesamanya, Sasori contohnya, dia bahkan sering menginap di rumah Itachi yang besar itu saat masih SMA, tapi mereka tak pernah lebih dari sekedar bicara dan saling bertukar pikiran, menyentuh dan di sentuh bukanlah ciri-ciri Itachi dan juga adiknya Sasuke, tapi lain hal dengan Deidara, bahkan tanpa disuruhpun Itachi dengan berani menyentuh pemuda itu bahkan dengan sentuhan yang paling ekstrim.

"Aku pernah mendengar dari mulutnya sendiri kalau dia menyukaimu."

"Jangan bercanda, Senpai."

"Kurasa dia memang benar-benar menyukaimu, Dei."

Deidara membuang muka kesal, kenapa orang yang di anggapnya sebagai seorang 'Senpai' itu malah mendukung si Uchiha.

"Senpai membenciku, Ne? Kenapa malah mendukung, Itachi."

"Aku tahu Itachi, dia tak akan menyentuh seseorang bahkan sampai menyentuh pantatnya kalau memang orang itu tak spesial di matanya."

"Berhenti membicarakan hal itu."
.

.

KHS (Jam makan siang)

Naruto memukul meja Sasuke dengan kesal membuat si pemilik meja menatap tak berminat pada si pirang yang menatapnya tajam, napasnya memburu, matanya berkabut penuh dendam dan uap berhenbus dari hidungnya dengan beringas, satu kesimpulan bahwa pemuda Namikaze itu sedang marah besar.

"Seharusnya kau di scors sama seperti kakakmu itu Teme."

Sasuke yang asik membaca pelajaran bahasa Jepangnya menutup buku dengan tebal hampir lima ratus halaman itu santai lalu meletakkannya di atas meja, gaya itu sontak membuat hampir seluruh siswa di kelas itu meraung penuh histeris sangking tergila-gilanya dengan si pangeran.

"Dobe, bisa kau tutup mulutmu itu, kau tahu kau terlalu berisik."

Kembali ber-uap, kali ini bahkan sampai ke ubun-ubun, Naruto meledak dan hampir melempar kursi kearah pemuda bungsu Uchiha yang masih memasang wajah datarnya, beruntung Kiba menarik kursi dari jangkaunnya dan Lee yang menenangkan amarahnya.

"Baka-dobe."

Dua kata itu sukses membuat Naruto berubah menjadi banteng mengamuk, membuat Lee kali ini kesusahan menahan tubuh sang kawan yang meronta ingin dilepaskan.

"Teme... akan kubalas kau."

"Balas dengan apa? Meninjuku? Mencaciku? Atau dengan kebodohanmu."

Sungguh, kali ini petir seolah menyambar di kepala Naruto, mengingatkan kita betapa perkataan terakhir Sasuke sukses membuatnya ingin menghacurkan kelas yang sekarang sedang ramai di teriaki para FG nya Sasuke.

"Jaga bicaramu, Teme."

"Hooo... tak bisa menjawab."

"Jangan meremehkanku, Sasuke."

"Jadi dengan apa kau akan membalasku? Berusaha menciumku lagi, lalu menyalahkanku atas kesalahanmu sendiri."

Meremas jemarinya erat, Naruto menatap Shikamaru yang menguap, menyalahkan pemuda malas itu akibat insiden berdarah kemarin.

"Kau."

Kungkungan Lee pada Naruto melonggar saat pemuda itu terlihat tak mengamuk lagi, kali ini meninggalkan kelas, Naruto mendumel sambil menendang pintu kayu kelasnya, semua penghuni kelas berharap pintu itu tak apa-apa dan tak ada lagi fasilitas sekolah yang menjadi korban amukan si pirang, sedangkan Sasuke mendengus senang, merasa menang kelak atas si pirang berisik itu.

.

.

Deidara hampir saja melompati pagar gedung kampusnya kalau tidak ada jemari Sasori yang menahannya, tak kurang dari lima meter dia bisa melihat Itachi berdiri dengan santainya di depan mobil Sport Lamborghini Veneno terbarunya yang membuat seluruh Mahasiswi menatap kagum, bukan hanya kepada mobil tapi pria yang di depannyapun tak kalah menarik dari si mobil.

"Kau di jemput."

"Aku akan lewat belakang."
"Maksudmu melewati pagar kawat besi di belakang dan anjing penjaga?"

Deidara muram saat tahu jika Universitas ini keamanannya cukup mengerikan, dengan lesu Deidara berjalan lunglai melewati Sasori yang diam memandang Deidara menuju Ferrari-nya. Mengabaikan Itachi yang berlambai riang di depan sana.

"Dei... hoiii... Dei...!"

Pemuda itu terus melambai dengan semangat, lalu berlari mendekati Ferrari merah itu. melihat si pemuda Uchiha itu berhenti didepannya, Namikaze sulung itu mendengus lalu berkecak pinggang melihat Itachi yang cengar-cengir sambil memasang wajah sok rupawan padanya.

"Kau di Scors, kenapa di sini?"

"Ini Universitas Uchiha, aku berhak kemari kapanpun aku mau, aku kan hanya di Scors, jadi tak boleh belajar saja, mengunjungi kekasih tak masuk dalam hukuman Scors."

"Aku bukan kekasihmu."

"Iya aku tahu, kau kan calon kekasihku."

Kembali cengar-cengir Itachi memeluk si Namikaze sulung itu dengan berutal membuat beberapa mahasiswa yang melewati pakiran itu menatap mereka dengan bingung. Sungguh... sebenarnya bukan kejadian langkah jika Itachi memeluk pemuda cantik itu, mereka sudah sering melihatnya tapi berita pen-scors-an si sulung Uchiha jadi tren topic tersendiri di kampus membuat mereka bertanya-tanya kenapa si tampan itu bisa berkeliaran di halaman kampus.

"Lepas, Baka... aku mau pulang."

"Aku antar ya, nanti mobilmu kusuruh seseorang untuk mengantarnya ke rumahmu."

"Tak perlu, minggir sana."
dengan kesal Deidara menginjak kaki Itachi, bukannya kena malah Deidara menapak kakinya ke halaman parkir dengan keras membuat denyut nyerih di telapak kakinya yang terbungkus sepatu kulit mahal itu.

"Jangan menolak."

"Aku tak akan pernah sudi di antar manusia sepertimu. Mesum..."

"Ah... hidoiii... kau tahu, perkataanmu membuat kokoro ini hancur, Ittai ne, Dei-chan."

"Jangan panggil aku dengan nama menjijikan itu."

Deidara beruap, lelah dengan kelakukan si sulung, matanya melirik sekitar Universitas mendaptkan banyak pasang mata yang mengamatinya dengan banyak tanda tanya.

"Kita sedang dilihat, Lepaskan pelukanmu, Itachi."

"Tidak, mereka hanya iri. nah mau tidak mau kau harus pulang denganku."

Dan berakhir dengan Itachi yang menyeret Deidara menuju mobilnya, meninggalkan Sasori yang tersenyum lembut menatap kegilaan Itachi.

.

.

Kakashi berdehem sekali saat melihat Iruka sibuk diruangannya menyalin beberapa nilai dari Siswa untuk ujian hari ini dan tak menyadari kehadirannya.

"Iruka-san."

Melihat kehadiran Kakashi, Iruka buru-buru berdiri lalu menunduk hormat pada atasannya, KHS memang menyediakan ruang privat untuk para guru yang dilengkapi AC dan beberapa perlengkapan lainnya. Kakashi tersenyum lembut saat pria itu menuduk dalam sambil mengucapkan kata-kata hormat padanya.

"Jangan terlalu formal, Iruka-san, aku hanya sedang mengecek saja. Oh ya... ngomong-ngomong kau tak makan siang?"

Iruka menegakkan kepalanya, melihat Kakashi yang masih diam mematung, matanya menyipit dan Iruka tahu Kakashi sedang tersenyum walau tak bisa terlihat karena setengah dari wajahnya tertutup masker.

"Sa-saya belum selesai menyalin dan mengoreksi hasil ujian hari ini, Kakashi-sama."

Kakashi berjalan memasuki ruangan itu, melihat beberapa tumpukan kertas dan banyaknya buku pegangan guru milik Iruka yang berserak di atas meja kerjanya.

"Jangan memaksakan diri, nanti Iruka-san sakit."

Kalimat itu tulus keluar dari hati dan bibir Kakashi, dia hanya tak menyukai melihat orang terkasihnya sakit, jika Iruka sakit sudah pasti dia tak bisa melihat pria itu berkeliaran di sekolah.

"Sa-saya tak apa-apa."

"Bagimana kalau makan siang bersamaku, aku yang traktir."

Mendengar ucapan itu, Iruka hanya terdiam memandang lelaki didepannya yang tersenyum senang bak seorang malaikat yang sedang melancarkan aksi modusnya, berharap bisa dapat suapan gratis nanti dari Iruka, ya... mungkin sih.

"A-ah... tak perlu, Kakashi-sama, aku bisa makan sendiri."

"Tak baik menolak ajakan orang, aku tunggu di kantin, Iruka-san.'

Dan Kakashi meninggalkan Iruka dengan kegalauan tingak dewa.

.

.

Minato tersenyum hangat kearah pria dewasa didepannya, tak menyangkah setelah tak bertemu berpuluh tahun lamanya sekarang dia ditelpon si pria itu untuk bertemu dengan alasan ingin reuni.

"Tumben senpai mengajakku bertemu, ada apa, Fugaku-senpai, kukira akan mengajak anggota club yang lain untuk bergabung. Oh ya, bagaimana kabar, senpai?"

"Kita bukan sedang reuni team bola kaki saat SMA dulu, aku ingin bertemu selain ingin melihat keadaanmu, juga ingin menanyakan tentang Namikaze Deidara."

Mendengar nama putra pertamanya di sebut, Minato hanya menatap sang senpai saat dia masih SMA itu bingung.

"Senpai tahu putraku?'

"Putramu berkuliah di Universitas Konoha milikku. Jadi benar dia putramu?"

Menggaruk tengkuknya yang tak gatal, Minato mengangguk mengiyakan perkataan sang senpai.

"Hahaha... gomen, aku lupa jika tempat itu milik Uchiha."

Fugaku mendengus, pria didepannya tak berubah, tetap ceria dan sedikit periang, Fugaku menyesap kopi yang tadi dipesannya, melihat Minato yang diam memandangnya.

"Putra pertamaku adalah teman putramu."

Menepuk tangan sekali Minato berbinar cerah menatap Fugaku senang sambil terus tertawa bangga.

"Bukannya bagus, dengan begitu mereka mungkin bisa berteman baik, membentuk club sepak bola seperti saat kita sekolah, lalu berkumpul dan ter..."

"Bukan itu yang terjadi saat ini, Minato. Aku tak keberatan jika itu terjadi, yang terjadi adalah puraku menggilai anakmu, bahkan dia menyukai Deidara dan berlaku tak pantas kepada putramu."

"Maksud senpai."

"Hah... Itachi mencintai Deidara, dan sangat sulit menangani perasaannya, sebenarnya aku tak keberatan, hanya saja prilaku Itachi semakin menjadi."

"Hah... Senpai bercanda? Mana mungkin Deidara menyukai laki-laki, ano senpai, apa tak apa-apa membiarkan itu terjadi? Bukannya itu melanggar aturan hidup manusia? Dan it..."

"Cukup Minato...! aku minta maaf sebelumnya, akan sangat susah memisahkan mereka, Itachi benar-benar tergila-gila pada anakmu, aku hanya minta tolong temukan aku dengan Deidara."

"Ta-tapi, untuk apa Senpai?"

"Memberitahu dia untuk mengubah Itachi menjadi lebih beradap seperti Uchiha lainnya, selain itu aku juga ingin bertemu dengan Naruto."

"Naruto? Senpai mengenal kedua purtaku."

"Ya, aku juga harus bicara dengan Naruto, berbicara dengan kedua putramu."

.

.

TBC

A/N

Sudah updet, suka? Maaf banyak typo dan tak menarik... terimakasih atas repyu teman-teman di chap kemarin saya senang membacanya^^...

Repyu lagi.

.

.

^Micky-milky^