Rii: Nyaha, Hellow Minna chapter 2 is update now… Buat chapter 2 aku pilih special karena It's My Favorite COUPLE, kalian pasti taukan siapa mereka *ambil gitar Akaba* MUSIC ON

Jreeng jreeng

Pintu otomatis terbuka dan yang keluar itu…

??: Fu.. ternyata kau seritme ya.

Rii: Lho kok Akachi yang keluar…?

Akaba: Nggak usah pedulikan aku… BIOLA SET *Yuki (adik Rii) bersiap main biola* Clasic music on..

Rii: Ah.. sudahlah… READERS Let's Begin *ambil mike, nyanyi, dan jadi konser dadakan* =.="


Love Puzzle

Chapter 2: Pervert Devil

Pair: HiruMamo

Rated: T s/d PG-13

(jika sudah adegannya silahkan klik BACK hokey *Author ndiri juga 14 thn tapi nekad buatnya* XP)

Genre: Romance

Warning: OOC, Typo, EYD, and etc

*-*

I see her face was white as snow

Her lips was red as rose that blow in may

I took her photo in the frame

And when I sleep I call her name

Then I want her to be mine in that night

'couse I'm pervert devil

kekekekeke

*-*

~Saikyouday Universitas~

xxday xxxmonth 2010

17:53

Mamori berlari dengan suasana hati yang sangat-sangat muram atau kesal tepatnya. Di tengah derasnya hujan Mamori terus berlari tanpa memikirkan kondisi tubuhnya yang basah kuyub itu sampai-sampai angin saja bisa menembus ke dalam paru-paru.

'Dasar Hiruma-kun, padahal tadi dia bilang nggak akan ada latihan,' guman Mamori. 'Tapi kenapa aku dipanggil untuk rapat dadakan turnamen musim gugur' lanjutnya.

Akhirnya Mamori pun sampai di club house american football Saikyodai. Dibukanya pintu itu perlahan-lahan. Mamori memasuki club house tersebut, tapi dia menemukan satu orang pun di dalamnya.

"Sudah kuduga, dia hanya membohongiku," ucap Mamori jengkel.

Walau pun begitu mamori tetap berkeliling ruang klub. Setelah berkeliling, Mamori mendengar suara dengkuran halus berasal dari ruang loker. Tanpa memikirkan keadaan tubuhnya Mamori berjalan menuju ruang loker. Kemudian ia melirik ke kanan-kiri, ditemukannya seseorang berambut blone spike, dengan teling lancip, setan itu tertidur sebegitu pulasnya di sofa.

'Ternyata ia tidak berbohong' guman Mamori kaget sembari mendekatkan dirinya menuju Hiruma.

Mamori menatap wajah setan yang tertidur itu. Wajah setan itu begitu manis nan imut pada saat ia tertidur seperti sekarang tapi menyeramkan saat terbangun kelak. Mamori pun menyentuh helai rambut Hiruma.

"…hn," Hiruma membuka matanya. Dilihatnya sesosok bidadari di depan matanya, "Bidadari..?" bisiknya, tapi begitu sadar benar ternyata hanyalah Mamori.

Hiruma pun bangun, mencoba duduk. Gerakan Hiruma tadi membuat Mamori yang sedang asyik memegangi helai rambutnya tersentak. "..Manajer sialan," panggilnya sembari melihat kearahnya . "Kau—"

"Hiruma-kun, seharusnya jika kau sedang tak enak badan kau tak perlu memaksakan diri" potong Mamori berdiri dari duduknya. "Lagi pula kau sendiri yang bil—"

Hiruma meletakkan jarinya tepat di bibir Mamori. "Shut the fu**ing up, fu**ing manajer". "Kau… cepatlah ganti bajumu" perintah Hiruma stelah menayadari bra hitam yang mencetak jelas di kemeja putih basah Mamori.

'Tch, kenapa sih manajer sialan itu hujan-hujanan? Melihatnya membuatku ingin melakukan sesuatu yang pasti bad sanse padanya, sentuhan tangannya yang dingin membuatku tersadar dari mimpi burukku itu[1]' guman Hiruma sembari mengingat-ingat bra hitam Mamori, dan sedikit-demi sedikit dia pergi ke khayalnya.


-Khayalan Hiruma-

"Youichi..!," panggil Mamori di saat aku (Hiruma) tertidur.

Perlahan-lahan aku membuka mataku tuk menatap wajahnya, nafasnya yang hangat menerpa wajahku yang dingin ini. Telapak tangannya mengusap-usap pipiku, membangunkanku dapi tidur pulasku. Kulihat senyum simpul yang sederhana diwajahnya, pipinya sedikit merona.

Dia menjauh dariku, membuatku agar bisa duduk diranjang empuk. Tunggu… kenapa saya ada di ranjang? Itu tidak penting, yang terpenting sekarang kenapa si manajer sialan itu ti…tidak tidak me.. kemeja bahkan kaos juga tidak dan tak lagi bu..busana dalamnya?!

"Met pagi, Youichi" ucapnya mengecup di pinggir bibirku.

Dengan reflek aku menjauh dari Mamori, "Apa yang kau lakukan, manajer sialan?!"

"Justru ada apa denganmu, Youichi? Bukankah kita sudah sering melakukan ini?," balas Mamori senyum sok innocently sembari mulai menindih tubuhku.

"Sedang apa kau—" ucapanku terputus ketika manajer sialan itu menyubal bibirku dengan bibirnya.

Aku berusaha menahan agar dia tidak membuatku makin gila tapi tak berhasil, manajer sialan itu menggigit bibirku. Secara otomatis aku membuka mulutku membiarkan lidahnya beradu dengan lidahku. Darah yang berasal dari bibirku terasa bagaikan wine yang telah kuminum. Aku pun menutup mata.

Setelah sekiranya 3 menit kita berciuman{What the--?), kita pun saling berpisah bibir merelakan ciuman itu lepas. Manajer sialan meletakkan kedua tangannya di pinggangku. Lalu ia memutar badannya agar aku berada diatasnya.

"Bukannya kau ingin aku sepenuhnya menjadi dirimu?" kata-katanya terdengar manja ditelingaku.

"Tadi malam juga kau mengeluh tak puas, makanya sekarang kau bisa fu** aku semaumu pagi ini, Youichi" ucapnya dan…….


Hiruma mengacak-acak rambutnya khayalannya sangatlah melebihi kenyataan. Pikirannya tentang bra Mamori sangat membuatnya Hiruma mencoba melupakannya.

"Oi, Manajer sialan kenapa kau lama sekali sih" teriak Hiruma.

"A-aku belum menemukan seragamnya" ucap Mamori.

Hiruma bangun dari duduknya berjalan menuju loker miliknya. Diambilnya work's t-shirt club amefuto Saikyoudai milik Hiruma. Dibawanya baju tersebut menuju ruangan dimana Mamori berada.

Dia melihat kesekitar untuk menemukan sosok Mamori. Ditemukannya Mamori sedang mengotak atik lokernya.

"Oi manajer sialan" panggil Hiruma dan Mamori berbalik kearahnya.

"Kyaaa..!" teriak Mamori, melihat Hiruma tengah berdiri dihadapannya.

Hiruma menatap balik Mamori, heran mengapa Mamori berteriak. Setelah dia sadar ternyata Mamori tidak-tidak mengenakan apa-apa. Spontan Hiruma melempar bajunya kearah Mamori lalu membalikan badannya.

"Kau bisa mengenakan itu" ucap Hiruma mencoba nadanya terdengar tegar.

Mamori masih tidak percaya apa yang baru saja terjadi. Serta ia merasa bingung apa yang harus dikatakannya setelah Hiruma yang melihat dirinya tanpa busana melihat bagian terahasia milik dirinya.

'Sudah nggak usah dipirin, yang penting aku pakai dulu saja bajunya nanti keburu masuk angin lagi,' ucap Mamori dalam hati sembari melihat work's t-shirt milik Hiruma kemudian memakainya.

"Sudah belum manajer sialan?" tanya Hiruma sepertinya dia sudah bosan berpaling badan.

"Tu-tunggu sebentar," balas Mamori.

Hiruma tahu sepertinya Mamori sedang kesusahan menggunakannya. Jadi, Hiruma memalingkan badannya menatap Mamori yang tengah kesusahan mencari kancing kerahnya padahal kepalanya sudah masuk kedalam.

Hiruma membuang nafas tak lega, lalu ia berjalan mendekati Mamori. Hiruma bertekuk didepan Mamori. "Singkirkan tanganmu, manajer sialan" perintah Hiruma.

"Apa yang mau kau lakukan Hiruma-kun?"

"Sudah singkirkan saja tanganmu"

"Ba-baik, tapi jangan teriak-teriak begitu"

Mamori menyingkirkan tangannya dari baju itu. Tangan Hiruma merangkak naik kearah kancing kerah, membuka kancing baju itu, kemudian menari bajunya kebawah mencoba mengeluarkan kepala Mamori.

"Puah"Mamori merasa lega tetapi beberapa menit kemudian terasa sangat panas diantara mereka.

Wajah mereka dekat sekali, bahkan mereka dapat merasakan hangatnya hemburan nafas masing-masing. Mamori dapat merasakan panasnya wajahnya, ia juga merasakan pipinya sangat-sangat merah.

"Apa yang kau lakukan manajer sialan?" tanya Hiruma yang sudah menjauh darinya.

"Tidak ada kok" balas Mamori bangun dari kebekuannya.

Pada akhirnya Mereka berjalan menuju ruang utama club house tuk berdiskusi strateggi. Mamori yang dari awalnya merasa tak enak pada Hiruma, ia menjadi turut pada segala yang diperintahkan Hiruma.

**************SPEND WAKTU RAPAT STRATEGI*************

Hari sudah menjelang malam tapi rapat strategi yang mereka lakukan belum selesei juga ditambah lagi kesunyian terus mengiringi mereka. Kesunyian itu kemudian dipecahkan oleh Mamori.

"Hiruma-kun, ini sudah malam apa sebaiknya kau tidak pulang saja? Keadaan badanmu juga seang tidak stabil, bukan?" tanya Mamori dengan wajah khawatir.

Jari-jari Hiruma yang sedang menari-nari di keyboard berhenti seketika. "Kenapa kau khawatir aku akan terjatuh?" Hiruma balik nanya ke Mamori.

"Ya secara, aku sudah mengenalmu sejak kita SMA dan yang ku tahu kau itu orang tipe pekerja keras yang tak mempedulikan kesehatan badan sendiri tapi nggak mau membuat orang lain khawatir.." Mamori menjelaskan panjang lebar.

"Walau pun aku hanya seorang menejer bagimu, aku dapat mengerti kok saat kau sedang dalam kesulit, saat kau sedih, saat kau senang, aku dapat memahaminya. Maka dari itu…" lanjut Mamori.

"Apa?" tanya Hiruma dingin.

"Maka dari itu.. k-kau tak perlu menyembunyikan semua itu dan terus-menerus bekerja keras, itu hanya membuatku semakin khawatir kepadamu, Hiruma-kun." Mamori hampir saja meneteskan air mata.

"Tch, jangan menangis manajer sialan" perintah Hiruma. "Menangis tak akan menyelasaikan masalah," lanjutnya.

"Kalau begitu apa yang harus kulakukan agar bebanmu meringan?" Mamori bertanya sembari mengelap air mata yang jatuh membasahi pipinya.

Hiruma diam sejenak. Otaknya berpikir sangat keras serta kencang mencari ide bagus apa yang dapat ia gunakan kepada Mamori. Dan ide itu pun muncul dalam benaknya.

"Kau hanya perlu berada disampingku sepanjang hari sepanjang waktu, itu sudah cukup mengurangi bebanku" jawab Hiruma memberitahukan Mamori apa yang sangat ia butuhkan.

"Sungguh? Tapi bagaimana jika malam hari? Aku tidak bisa berada disampingmu.." keluh Mamori membuat Hiruma yang mendengarnya terkaget-kaget.

"Apa yang kau katakan, manajer Sialan?" tanya Hiruma yang kaget mendengar perkataan Mamori. "Sepertinya kau sudah eror, lebih baik bikin kopi dulu," lanjut Hiruma (baca memerintah).

"Umm.. baiklah," Jawab Mamori sembari berdiri dari duduknya.

Mamori pun mulai berjalan menuju dapur mini yang disediakan dengan sengaja oleh Hiruma. Sesampainya di dapur, Mamori mengambil sebuah cangkir. Tiba-tiba saja kepala Mamori terasa pusing akibat ngantuk dan dengan tidak sengaja cangkir yang pegangnya terjatuh.

PRANG

Akibatnya, Hiruma yang sedang serius berpikir menjadi tersentak dan tak bisa konsentrasi gara-gara suara cangkir pecah, dan secara reflek ia berdiri.

"Kyaa…." Teriak Mamori pelan.

Hiruma yang baru saja berdiri, langsung berlari menuju dapur tempat dimana Mamori berada.

"Apa yang terjadi, manajer sialan?" tanya Hiruma sesampainya di dapur.

Dilihatnya jari Mamori berdarah dan terdapat cangkir pecah didekatnya. Dengan sontak Hiruma berjalan mendekati Mamori, kemudian memegang tangan Mamori yang jarinya berdarah.

'Cih, sepertinya keadaan manajer sialan memang sedang buruk,' batin Hiruma.

Sesaat Hiruma menyadari sesuatu, pada saat Hiruma memegangi tangan Mamori rasanya tangannya begitu panas. Hiruma menagngkat wajahnya untuk menatap wajah Mamori. Wajah Mamori sedikit lebih pucat dari biasanya, dan yang paling terlihat berbeda adalah terdapat warna merah dipipinya. Nafasnya pun terasa panas di wajah Hiruma.

'Apa dia demam?'

Hiruma menatap kembali jari Mamori yang berdarah. Dijilatnya jari tersebut. Setelah darahnya berhenti mengalih Hiruma kemudian berdiri dan mulai berjalan keluar dari dapur.

"Ayo pulang manajer sialan, kali ini aku akan jalan ke rumahmu," ucap Hiruma.

Mamori yang tercenga-cengo sedari tadi langsung berdiri, menundukan wajahnya untuk menyembunyikan warna merah merona yang disesabkan oleh darahnya telah naik dari leher kemudian menetap di pipinya.

"Ba..baik," ucap Mamori berleri kecil ketempat Hiruma bersada.

Dan pada akhirnya hari itu pula menjadi kejadian yang sangat menyenangkan buat Mamori yang telah datang ke ruang club.

~Fin~


Rii: Yaaaay! Finally, aku bisa update juga. Sumimasen readers, jika kalian telah menunggu lama sekali, 'couse di hari libur UAN & UAS aku dapat banyak oleh-oleh dari sekolah dan rasanya pait banget sampe-sampe buat nonton aja susah apalagi main bareng kompie…?!

Hiru: Author sialan, jangan curtah aja!!! *nembak Rii* [drrrrrrttttt-drrrrrrt]

Rii: Hiii *loncat-loncat*

Hiru: Bilang aja keasikan maen game "Eyeshield 21" di PSP.!

Rii: Nggak kok…..! huft sudahlah biarkan setan gila itu, yang penting Review please and sorry for OOC in Hiruma.