Title : Mine
Author: Micky_Milky
Genre: Romance/ Drama
Rate : T (Mungkin akan bertambah)
Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi
Pairing: Akashi x Furihata
Length: Chaptered
Warning : Typo, Yaoi, Ooc, Oc, alur kecepatan. Dll
.
.
.
Chap 2
Enjoy reading
.
.
Furihata menendang kerikil dibawahnya dengan brutal, kesal karena kedua teman karibnya meninggalkannya entah kemana tadi setelah latihan bersama team, sejujurnya dia sempat mencurigai kedua teman karibnya itu raib karena masalah wanita. Ya... mungkin saja mereka sudah mendapat jadwal kencan dan meninggalkan Furihata sendiri, sungguh tragis, dia ingin menangis lalu mengatakan 'Hidoii-sshuu." Seperti yang sering dieluhkan Kise Ryouta saat Kuroko tak mengindahkannya tapi percuma saja, toh dia memang sedang sendiri dan dia cukup tahu diri untuk tak menganggu Fukuda dan Kawahara saat ini.
Kerikil kecil itu bergulir dan menabrak sepatu seseorang, menegakan kepalanya, Furihata melihat Akashi yang menatapnya sambil tersenyum lembut, terkejut akan kondisi itu, Furihata mundur tiga langkah sedikit antisipasi jika ada gunting yang mungkin akan terbang kearahnya karena krikil yang ditendangnnya menabrak kaki calon pemilik perusahaan Akashi itu.
"A-akashi-san?"
Akashi berjalan mendekat, senyum lembut terulas dengan cerah di bibirnya, membuat Furihata memastikan jika yang dilihatnya adalah ilusi. Berjalan berlahan pemuda itu berhenti saat melihat Furihata melangkah mundur.
"Aku tak akan menggigit, Kouki."
Menyadari jika pergerakannya dibaca Akashi, Furihata diam di tempat, kali ini kapten team Rakuzan itu melirik manik seperti kacang pinus itu, melihat ada ketakutan dan kewaspadaan di sana. Akashi kali ini hanya mengulas senyum samar, geli ternyata Kouki-nya sangat ketakutan padanya.
"Ke-kenapa Akashi-san ada di Tokyo? Apa ada urusan dengan Kuroko?"
Akashi menggeleng, lalu kembali berjalan, kali ini tak ada langkah mundur dari Furihata, tepat selangkah jarak mereka Akashi diam dan sibuk mengamati struktur wajah si pemuda penakut di depannya. Pemuda itu tersenyum lagi, dan sungguh itu membuat Furihata hampir tak percaya bisa melihat senyum itu tak memudar dari beberapa menit mereka bertemu.
"Aku sengajah kemari, menjemputmu dan ingin berjalan-jalan sesaat denganmu."
Bingung, Furihata sibuk mencernah perkataan Akashi, pemuda itu tak melihat empat rekan team basket Rakuzan yang lain, dan dipastikan Akashi hanya sendiri. Mendapat respon yang lambat Akashi menangkap telapak tangan Furihata lalu menyeret pria itu untuk berjalan menelusuri jalan-jalan Tokyo yang ramai.
"E-etto, apa, Akashi-san ingin jalan kaki?"
Ya, setelah pertandingan beberapa bulan yang lalu, Furihata mulai mendengar desas-desus tentang seberapa kayanya pemuda yang masih menyeretnya sepanjang kota Tokyo, membuatnya sedikit tidak enak karena harus membuat Akashi jalan kaki.
"Iya, karena dengan begini akan terasa sedikit berbeda."
Seulas senyum merekah di wajah tampan pemuda bersurai merah itu, Furihata dapat melihat senyuma itu, membuatnya ikut terhipnotis untuk tersenyum juga.
.
.
Furihata tak tahu harus berbuat apa saat ini, Akashi menyeretnya terus dan mendamparkannya di dalam butik khusus baju laki-laki, dan pria merah itu sudah menghilang di balik kamar ganti. Menghilangkan bosannya Furihata berjalan menelusuri deratan baju yang di pajang dan melirik beberapa harga dari baju-baju itu, berusaha percaya jika angka nol yang dihitungnya benar, Furihata meyakini jika satu baju di butik ini cukup untuk uang jajannya setengah tahun.
"Kouki, apa ini pas untukku?"
Terlonjak kaget, Furihata melirik Akashi yang mengenakan kemeja merah hati yang sangat pas terbentuk di tubuh atletisnya, Furihata sempat tak percaya jika Akashi adalah anggota terpendek di Kiseki no Sedai setelah Kuroko.
"I-itu cocok sekali Akashi-san."
Kembali, Akashi tersenyum puas, dia melirik penjaga butik yang sedari tadi tak berkedip menatapnya, dan penjaga kasir yang cengar-cengir dengan teman sebelahnya menggosipkan betapa tampannya pemuda itu, bahkan beberapa pengunjung wanita yang menemani kakasih mereka melupakan jika ada seseorang yang hampir meledak di sebelah mereka karena asik menatap pemuda yang masih duduk di bangku kelas dua SMA itu.
"Jika kau kata cocok, aku ambil."
"Eh?"
Kembali, Akashi menghilang dari balik kamar pas, ketika menatap kesekelilingnya Furihata terkejut saat mendapat tatapan iri dari berbagai penjuru untuknya. Entah kenapa, dia juga tak tahu. Akashi keluar dari ruang ganti, membawa baju yang dipilihnya ke kasir. Tak mendapatkan Kouki-nya di pandangan mata, pemuda itu menelusuri sudut butik, dan saat melihat pemuda itu sibuk melirik-lirik beberapa baju, Akashi tersenyum senang, menyuruh sang kasir untuk menunda pembayaran dan menghampiri pemuda itu.
"Pilih mana yang kau mau."
Akashi muncul dari balik tubuh Furihata, mendengar suara pemuda itu, Furihata terlonjak kaget, tubuhnya gemetar saat tahu jika jaraknya dan Akashi taklah jauh.
"Ti-tidak usah, aku tak punya uang."
"Aku bayar."
Bungkam, Furihata diam, sungguh Akashi ingin membayarnya? Dia tahu kemeja yang di pakai Akashi tadi mungkin sudah sangat mahal, dan pria itu ingin membayarinya juga? Dia ingin tak percaya, menggeleng pelan, Furihata tersenyum kikuk.
"Tidak perlu, aku tak tertarik saat ini..."
Akashi kini menatap Furihata tajam, tak suka apa yang dia katakan di tolak, dia benar-benar tak menyukai itu, mengetahui perubahan air muka pemuda didepannya, Furihata menggigit bibirnya sedikit gugup, sungguh, dia takut nanti di lempar Akashi melewati jendela kaca di belakangnya.
"...sungguh, aku tak tertarik apapun saat ini, ano... bagaimana jika Akashi-san menemaniku ke toko buku, itu kalau Akashi-san mau, aku tak memaksa."
"Akan aku ikuti kemana kau pergi hari ini, aku benar-benar ingin bersenang-senang denganmu."
Setelah berkata, Akashi berjalan kembali menuju kasir, membayar barang yang dibelinya, lalu menghampiri Furihata yang menunggu di pintu keluar. Kali ini Akashi tak menyeretnya, bahkan dia berjalan beriringan di samping Furihata, membuat suasana canggung tercipta. Akashi sibuk diam sambil menatap kedepan, sedangkan Furihata memikirkan bahan pembicaraan.
"Se-sebenarnya sedang apa Akashi-san kemari?"
"Hari ini tak ada pekerjaan di perusahaan, klub basket juga sedang diliburkan karena pelatih tiba-tiba sakit..." Jawab Akashi tanpa menoleh pada Furihata
"Ja-jadi?"
"Jangan memotongku!"
Furihata bungkam dan menunduk, Akashi tak suka perkataannya dipotong begitu saja, tahu jika kata-katanya membuat Furihata takut, telapak tangan milik pemuda bersurai merah itu mendarat di kepala Furihata dan mengelusnya lembut.
"Gomen, aku membuatmu takut."
Furihata kali ini mengangkat wajahnya dan mendapat senyum terulas di wajah Akashi.
"A-ah... tak apa-apa."
"Karena ada waktu luang, aku kemari untuk melihatmu."
"Eh? Melihatku?"
"Ya, apa Tetsuya mengatakan sesuatu setelah kedatanganku ke Seirin seminggu yang lalu?"
Furihata berfikir keras, mengingat perkataan teman imutnya itu, seingatnya Kuroko tak mengatakan apapun padanya, tunggu... Kuroko pernah mengatakan untuk berhati-hati dengan Akashi? Tapi berhati-hati soal apa?
"Ano... aku tak mengingat apa yang dikatakan Kuroko, mengingat dia hanya sering berbicara dengan Kagami."
"Jadi begitu."
.
.
Memasuki toko buku langganan Furihata, Akashi melangkahkan kakinya kearah buku-buku tentang bisnis, sedangkan Furihata berjalan menelusuri rak-rak berisi manga kesukaannya. Melihat dengan binar senang, pemuda itu berusaha menggapai manga kesukaannya yang berada di rak teratas nomor tiga, membuat tubuh pendeknya tak dapat menjangkau manga tersebut. Akashi menutup bukunya lalu mengembalikan buku itu di tempat semula, melihat si orang terkasih merasa kesusahan, Akashi berjalan mendekat lalu melihat Furihata yang sangat kesusahan.
"Perlu dibantu, Kouki?"
"Aku tak bisa menggapainya."
Wajah itu tertunduk sedih, hah... jika begini mana bisa dia melakukan Dunk seperti Kagami di lapangan, mungkin dia akan belajar menembak dari Midorima saja, untuk menutupi kekurangan tingginya. Bertindak sebagai super hero Akashi berusaha menggapai manga kesukaan Furihata, namun apa daya, dia juga tak sampai, dan Akashi merutuk dalam hati, kenapa tubuhnya tak setinggi Murasakibara saja, hah... dia memiliki semuanya kecuali tinggi badan, dan mungkin harga mutlak itulah yang akan mengantarnya sedikit menyadari jika di memang tak sesempurna apa yang dia harapkan.
Tangan berkulit tan terjulur untuk mengambil manga yang ingin dia gapai, menatap si lengan dengan kesal karena sukses membuatnya merasa direndahkan di hadapan pemuda yang dia cintai dan ingin membuat pemuda itu kagum padanya dari segi apapun, matanya beralih melihat sosok wanita berambut pink tersenyum cerah kepadanya dan seorang pemuda berkulit dim yang menatapnya tak berminat dan menyerahkan manga itu ke Furihata.
"Akashi-kun, Furihata-kun..."
"Ah... arigatou, Aomine-san. Oh... Momoi-san? Sedang apa di sini."
"Aku sedang menemani Dai-chan membeli majalah sport mingguan."
Furihata melirik Aomine yang terlihat adu tatap dengan Akashi, membuat Momoi dan Furihata saling pandang tak mengerti dengan apa yang terjadi antara mereka berdua.
"Apa aku melakukan sesuatu sampai kau menatapku seperti itu, Akashi?"
"Kurasa kau tahu arti tatapanku, Daiki."
Momoi dan Furihata meneguk ludah saat mendapat perang dingin itu berkibar di depan mereka, kenapa atmosfir di sekitar mereka berubah?
"Aku hanya sedang membantu Chihuahua ini, itu saja."
"Apa ada yang kau inginkan lagi?"
Akashi menatap tajam kearah Furihata, mendapat gelengan, Akashi menarik Furihata berjalan ke kasir dan membayar manga itu, serta memborong semua vol manga kesukaan milik Furihata, cukup terkejut saat Akashi membayar semuanya dan memerintahkan penjaga kasir untuk meletakkan vol berikutnya di rak bawah saja.
.
.
Furihata memeriksa dua email masuk dari ponselnya melihat nama Akashi sebagai pengirim, setelah kemarin puas berjalan-jalan, memborong semua manga kesukaannya sampai ditraktir Akashi makan di restoran mewah, Akashi berkata ingin bertukar email dan Furihata menyanggupinya. Senyum terkembang saat Furihata menatap layar ponsel itu, membuat Teppei yang duduk di sampingnya tersenyum juga melihat si junior terlihat senang.
"Email dari kekasihmu, Furihata-kun?"
"Eh? Kekasih?"
"Kau terlihat bahagia menerima email itu."
Furihata gelagap, dia memandang gelisah ke segala arah mencoba mencari jawaban atas pertanyaan Teppei, Fukuda menepuk-nepuk pundak Furihata senang, lalu tersenyum cerah.
"Hoiii... sungguh kau sudah punya kekasih, Furi?"
Gemetar, Furihata kembali melirik Teppei yang tersenyum lembut bak seorang ayah. Dia tak tahu harus menjawab apa, jujur? Sudah pasti endingnya dia ditanyai ini dan itu, lalu berbohong, oh... itu bukan dirinya, lagipula jika berbohong dia akan mengatakan apa pada mereka?
"Furihata-kun."
Kuroko yang baru saja keluar dari lapangan dengan keringat mengucur deras menghampiri Furihata yang sedari tadi duduk di bench, menerobos tubuh Fukuda dan duduk di tengah-tengah mereka, sungguh... Furihata merasa Kuroko sangat aneh.
"Kuroko?"
"Aku hanya ingin bicara."
Fukuda tak ambil pusing dengan sikap Kuroko, dia menyusul Teppei masuk kelapangan bergabung dengan yang lain untuk latihan, meninggalkan Kuroko dan Furihata yang masih beristirahat.
"Apa Akashi-kun?"
"Eh?"
"Apa email dari Akashi-kun?"
Furihata mengangguk, Kuroko bernapas pasrah, melihat sang teman non ekspresi itu berkelakuan aneh Furihata merasa ini akhir dari dunianya.
"Apa kau tahu jika Akashi-kun suka Furihata-kun."
"Apppaaaa?"
Seluruh penghuni lapangan diam sesaat termasuk Riko yang hampir saja melempar Furihata menggunakan tiang ring, beruntung Hyuuga dan Teppei menenangkannya, Kagami cengok saat mendengar teriakan Furihata yang hampir membuat seluruh penghuni Seirin mengusir mereka karena teriakan Furihata sungguh diluar dugaan.
"Furihata-kun, bisa kecilkan suaramu."
Kuroko menggunakan bahasa Isyarat dagu menunjuk Riko yang beruap, melihatnya Furihata menunduk beberapa kali sambil mengucapkan 'Gomenasai' seperti Sakurai, dengan sangat kikuk. Melihat teman-temannya kembali berlatih, kali ini mata sekecil biji pinus itu menatap Kuroko tajam.
"Ma-mana mungkin Akashi-san menyukaiku?"
"Mungkin saja jika itu Akashi-kun, lagi pula kulihat Furihata-kun dan Akashi-kun saling bertukar email, apa kalian sudah resmi menjadi kekasih?"
Furihata benar-benar shock, apa Kuroko sudah mulai gila, jangankan menjadi kekasihnya Akashi, menatap pemuda itu saja Furihata hampir pingsan berdiri, dan lagi, dia tak pernah berfikir untuk menyukai Akashi.
"Tapi, aku dan Akashi sama-sama laki-laki."
"Akashi-kun tak pernah bermasalah dengan hal itu."
"Tapi Kuroko, aku tak pernah menyukai Akashi-san, dia itu laki-laki, aku laki-laki, mana boleh begitu."
"Sudah kukatakan, bagi Akashi-kun tak ada masalah jika kalian sama-sama laki-laki."
Furihata menatap Kuroko terkejut, apa maksud perkataan Kuroko? Pemuda berambut biru langit lembut itu seperti mendukung jika dia benar-benar menjadi kekasih Akashi.
"A-aku tak mungkin menyukai Akashi-san, aku masih normal Kuroko, dan ada gadis yang ku suka."
Sedikit reaksi terlihat di wajah datar Kuroko walau tak lama, ada nyawa yang dalam bahaya yang harus di tolong, bahkan mungkin bukan Cuma satu tapi banyak, oh... Furihata, andai dia tahu Kuroko hanya bermaksud menyelamatkan banyak umat manusia dari cengkraman singa yang mungkin akan mengamuk mendengar perkataan pemuda didepannya itu.
"Sebenarnya aku tak ingin mencampurinya kalau ini tak menyangkut Akashi-kun yang mungkin akan mengamuk, karena kau tahu bagaimana jika Akashi-kun mengamuk, bahkan Aomine-kun dan Kagami-kun pun tak bisa mengendalikannya."
Furihata meneguk ludah seakan meneguk beribu jarum di kerongkongannya, nyaris tak bernapas saat dia teringat bagaimana Akashi bisa menumbangkan semua pemain Seirin di lapangan saat bertanding beberapa minggu yang lalu walau kemenangan berada di pihak Seirin dan bagaimana dia merasa di letakan didepan singa ganas saat Riko menyuruhnya untuk menjaga Akashi di pertandingan, itu hanya sebagian kecil saja saat emosi Akashi naik, bagaimana jika Akashi benar-benar mengamuk, habislah dirinya tanpa sisa.
"Furihata-kun?"
Furihata terjaga dari lamunannya menatap Kuroko yang memasang wajah datar, pemuda manis itu berdiri tanpa memandang Furihata.
"... aku kembali kelapangan."
Dan Kuroko meninggalkan Furihata dalam keadaan tak bernyawa.
.
.
"Kurokocchi...!"
Kuroko berhenti berjalan melihat seorang pemuda pirang melambai dengan semangat kearahnya, sungguh model yang sangat digandrungi remaja perempuan itu membuat Kuroko malu dan ingin bersembunyi dari tempat itu segera, mata sebiru langit cerahnya bergulir menatap Kasamatsu yang melipat kedua tangannya didepan dada, cemberut, pemuda berwajah manis itu membuang muka kesal. Sedikit aneh, Furihata memandang Kasamatsu dan Kise tak percaya, kenapa kedua pemain Kaijo itu bisa berada di depan gerbang Seirin?
"Kurokocchi... aku rindu, Kurokocchi."
Kise berlari kearah Kuroko menerjangnya dengan satu pelukan maut, Furihata yang kebetulan sedari tadi berjalan di samping Kuroko hanya diam melihat pemandangan di depannya, Kasamatsu berjalan dengan kesal, menarik kerah seragam juniornya itu dengan tak beradap menjauhi Kuroko karena terlalu malu melihat dirinya dan Kise yang di lirik-lirik banyak pejalan kaki.
"Gomenasai, Kuroko, dia memang selalu begitu."
"Aku tahu."
Kuroko membalas dengan ekspresi datar, Kise berontak dari cengkraman Kasamatsu lalu kembali memeluk Kuroko brutal.
"Ada apa apa Kise-kun kemari?"
Melepas pelukannya Kise tersenyum cerah, dia baru ingat jika memang ada sesuatu yang harus dia lalukan mengenai kedatangannya ke Seirin, Kasamatsu hanya melihat Furihata yang menunduk takut.
"Kau Furihata Kouki bukan?"
Mengangguk sekali Furihata menjawab pertanyaan Kasamatsu dengan begetar, ada apa ini? Tumben sekali kapten team Kaijou itu mencarinya.
"Nah, benarkan apa yang ku beritahu padamu? Anak ini yang namanya Furihata."
"Aku lupa, Senpai, kukira Furihata itu pelatih mereka."
"Kaunya saja yang bodoh."
Kise mendapat jitakan sayang dari Kasamatsu di kepalanya, membuat itu Kuroko memandang sangar kearah Kise, sungguh, pemuda mungil itu dalam mood yang tidak baik saat ini.
"Kenapa Kise-kun mencari Furihata-kun?"
"Dia hanya penasaran. Seminggu yang lalu kapten Rakuzan datang dan mencarinya, setelah bercakap sebentar Kise selalu bertanya pada semua team tentang anggota Seirin yang bernama Furihata Kouki."
Kise menggaruk kepala kuningnya yang tak gatal, melirik Furihata sambil tersenyum-senyum canggung. Matanya beralih ke pemuda biru di samping Furihata yang menunggu jawaban sebenarnya dari pemuda itu.
"Etto, Akashicchii menanyakan email Furihata-kun padaku, katanya karena Kurokocchii tak mau memberi email Furihata, makanya aku disuruh menanyakannya pada Kurokocchii. Karena baru kali ini aku melihat Akashicchii menanyakan alamat email seseorang dari team Seirin selain Kurokocchii aku jadi penasaran, kukira Furihata itu perempuan, ternyata laki-laki."
"Jadi, Akashi-san menanyakan alamat emailku?"
"Iya, kurasa Akashicchii menyukai Furihata-kun."
Satu tendangan sukses mendarat di punggung Kise dari sang Senior, membuat Furihata memandang kasihan pada pemuda itu, sedangkan Kuroko tetap diam.
"Jangan bicara sembarangan."
"Hidoi... senpai, itukan hanya perasaanku, soalnya jarang sekali Akashicchii tersenyum saat menceritakan seseorang padaku, makanya aku merasa jika Akashicchii sedang jatuh cinta."
Menghela napas berat, Kasamatsu menepuk pundak Furihata lembut dan tersenyum, Furihata tak menyangka jika pemuda galak itu bisa juga bersikap baik padanya.
"Kuharap kau tak memikirkan perkataan Kise."
"Kenapa aku yang salah, Aominecchii juga berfikir jika Akashicchii menyukai Furihata-kun."
"Kise...!"
Kise bersembunyi di balik tubuh mungil Kuroko saat Kasamatsu sudah mengambil ancang-ancang untuk menendangnya lagi. Kuroko menatap dalam diam tubuh Furihata yang begetar, dia sudah berfikir jika pemuda itu memang benar-benar naas, kenapa harus pemuda biasa seperti Furihata yang mendapat cobaan seberat ini.
"Furihata-kun, jika benar ternyata Akashi-kun menyukai Furihata-kun, apa yang akan Furihata-kun lakukan?"
Kepala Furihata tertoleh kearah Kuroko, memasang wajah berfikir, Kise dan Kasamatsu yang berada di sana hanya diam mencoba menunggu jawaban dari pemuda bermanik biji pinus itu.
"A-apa yang kau ka..."
"Jawab saja, jika memang Akashi-kun menyukaimu, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tak bisa."
"Jika Akashi-kun memaksa?"
"Ku-kurasa itu mustahil."
"Tidak mustahil bagi Akashi-kun. Mulai dari sekarang, belajarlah menyukai Akashi-kun, walau dia belum mengatakannya aku yakin dia akan mengatakannya padamu sebentar lagi."
Kise dan Kasamatsu memandang Kuroko tak percaya, tak tahu jika pemuda mungil itu bisa bicara seperti itu, apa dia tak tahu jika perkataanya membuat Furihata tak bernyawa di tempat.
"A-aku mungkin akan mengatakan kepada Akashi-san jika ada perempuan yang ku su..."
"Kumohon jangan-shuu... kau akan membunuh semua orang Furihata-kun, Akashicchii tak akan segan-segan melakukan apapun, tapi jika Akashicchii tak menyukaimu mungkin kau akan selamat, tapi jika dia benar-benar menyukaimu, Akashicchii akan benar-benar murka."
Wajah Kise berubah horror, berteman dengan Akashi dari mereka SMP membuat Kise hapal betul sikap dan sifat mantan kaptennya itu, apa yang dia inginkan harus terpenuhi, jika tidak dia akan melakukan apapun.
"... apapun itu, kau tidak bisa menolaknya begitu saja-shuu, nasibmu ada ditanganmu sendiri. Jika Akashicchii tahu kau punya orang yang kau suka, habis sudah umurmu."
"Ja-jadi aku harus melakukan apa? Lagi pula belum tentu Akashi-san menyukaiku."
"Aku tak menyangka, Akashi gay."
Kasamatsu manatap Furihata dari ujung kaki sampai ujung kepala, dia tak menyangka anak jaman sekarang benar-benar berubah, dia bukan membenci pasangan Gay, dia tahu Kuroko dan Kise punya hubungan khusus lebih dari teman, hanya saja untuk kapten team Rakuzan satu itu, tak pernah terpikir jika dia Gay, dan yang lebih parah jika pemuda biasa-biasa inilah yang disukai si monster dari Rakuzan itu.
"Dari SMP Akashicchii tak pernah punya orang yang dia suka-shuu, dia hanya terlihat akrab dengan Midorimacchii, walau begitu aku tak yakin dia punya hubungan dengan Midorimacchii mengingat Midorimacchii bukan tipe Akashicchii.'
Beberapa Siswi Seirin dari kelas tiga yang baru keluar dari gedung sekolah menatap Kise dengan binar penuh pesona, Kuroko bisa melihat jika anak-anak kelas tiga yang mendapat pelajaran tambahan baru saja pulang, melihat tatapan penuh minat dari banyak perempuan, Kise mulai tebar pesona sambil melambai riang ke semua siswi. Kise mendapat tendangan Bebas dari Kasamatsu dan tatapan mematikan dari Kuroko.
"Ittai senpai."
"Jangan tebar pesona dengan siswi dari sekolah lain."
"Aku hanya bersikap ramah-shuu, lagian kenapa Senpai menendangku, aku curiga, Senpai itu lebih cocok jadi atlit pemain bola kaki ketimbang pemain basket."
"Urusee."
"A-ano, jadi aku harus melakukan apa saat ini?"
"Begini saja, Furihata-kun, jika ternyata apa yang kami pikirkan benar Akashi-kun menyukaimu, terima saja."
"Tapi, Kuroko."
"Jika kau menolak Akashicchii kau akan mati muda Furihata-kun."
"Kurasa Akashi tak buruk."
Furihata menatap Kuroko, Kasamatsu dan Kise dengan tampang tak percaya, tak menyangkah jika mereka sungguh-sungguh ingin menumbalkannya pada Akashi.
"Furihata-kun hanya belum menyukai Akashi-kun saja, soal perempuan yang Furihata-kun suka, lupakan saja."
"Kuroko... hidoi... kau jahat sekali."
"Aku akan lebih jahat jika membiarkan Furihata-kun menolak Akashi-kun, karena itu sama saja aku menyerahkan nyawa Furihata-kun dengan Cuma-Cuma padanya."
"Sabar Furihata."
.
.
TBC
A/N
Maaf aneh... makasih yang sudah repyu di chp sebelumnya, saya senang dengan repyu teman-teman, oh ya... Repyu lagi...
Repyu Please...^^
^Micky-Milky^
