Title : The Visitor

Cast :

WINNER Member's

And others…

Genre : Tragedy, Drama, Supernatural, little Fantasy, little Romance

Rated : T

Author : Rin Kim CM. KL. UT

WARNING! YAOI!

.

Disclainmer : WINNER ɷ YG • The Visitor ɷ Rin Kim CM. KL. UT

.

Summary : [This is a WINNER FanFic] Lima anak adam yang memiliki takdir yang tidak biasa, mau tidak mau mereka harus menjalankan nya. Warning! OOC! Typo(s), GJ, Alur Kecepetan! dll!

.

WARNING! TYPO BEREDAR DI MANA-MANA! EYD TIDAK BERATURAN! ALUR KECEPETAN! RIN RIN MASIH PEMULA! HARAP DIMAKLUMI!

|chapter one;|

Hanya seorang anak yang memiliki kelebihan itu tidak selamanya menyenangkan. Tapi memang sih, itu tidak menyenangkan.

Jadi, itulah yang dialami Kang Seungyoon, selama ini.

Menjadi anak yang bapaknya entah-berantah-dimana, dan ibunya yang berada di Los Angales guna menempuh pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Jadi, Seungyoon sendirian berada di New York ini, tinggal di rumah berukuran sedang namun mewah yang berada di perumahan mewah tengah kota.

Sebenarnya, Seungyoon tidak ingin berada di negeri Paman Sam ini, dia ingin di Korea. Tapi, ibunya tidak memperbolehkannya. Awalnya pula, Seungyoon harus berada di Los Angales pula. Tapi, Seungyoon malas, dan dengan terpaksa ibunya memperbolehkan dia tinggal sendiri di kota menakutkan bernama New York ini.

Itu masalah keluarganya. Lalu apa yang dimaksud bahwa Kang Seungyoon, lelaki berbibir tebal, berwajah imut namun memiliki tubuh tegap dan suara manly ini memiliki 'kelebihan'?

Tidak, bukan apa-apa—

Seungyoon hanya bisa menghela nafas mendapatkan diri bahwa pemikiran aneh dan abstrak tadi berada di otaknya. Kaki tegapnya memilih berjalan di kerumunan orang yang—oh tidak, berjalan mundur.

Seungyoon menggeram frustasi. Dia masih belum bisa mengendalikan ini secara sempurna.

-0o0-

Taehyun menekuk tubuhnya erat, menajamkan pendengarannya, menutup mata indahnya, alisnya bergantung lucu.

Dia sedang mendengar pembicaraan paman dan entah-siapa yang berada dibawah beranda kamar Taehyun.

"Bunuh dia. Jangan sampai warisan si kakek tua Nam berada ditangan anak ingusan itu!"

Mati … ya …?

Itu sudah berjuta-juta kali dipikirkan oleh Taehyun. Mati.

Oh ya benar, Taehyun tidak diinginkan, bahkan oleh ayahnya sendiri. Ibu yang masih menganggapnya itu—mati karena paman-brengsek-nya.

Mati …

Mati …

Mati …

Mati … ya …?

Mati …?

Benar, semua yang berada disini harus mati—

Grek—grek—grek—grek—grek—grek—

Tanah langsung bergetar, dinding pun bergetar, kaca-kaca menimbulkan suara seakan siap pecah begitu saja—ah, suara teriakan dari pelayan-pelayannya terdengar, bahkan paman-brengsek-nya dan rekan-gendut-nya itu juga panik. Lucu sekali.

Taehyun menggelengkan kepalanya, dan getaran berangsur-angsur menghilang.

Jangan. Jangan gunakan sekarang dulu. Biarkan mereka menghirup udara lebih lama lagi. Kau harus mengontrol kekuatan mu, Nam Taehyun, batin Taehyun.

Dan smirk mengerikan muncul di bibir mungil Taehyun.

-0o0-

Seunghoon berjalan dengan santai di koridor kampusnya. Keadaan pagi di New York hari ini berjalan begitu biasa—padat, sibuk, ocehan bagi yang bekerja, gerutuan bagi pelajar. Lucu sekali, memang.

Tap—Tap—Tap—Tap—Tap—

Seunghoon mendengus, begitu mendengar langkah dari belakang. Pasti perempuan itu.

Gara-gara perempuan itu, Seunghoon jadi membenci apa yang namanya perempuan. Jangan salahkan dia, oke? Hanya melihat perempuan yang mengikutinya saja dia sudah beramsusi bahwa perempuan itu—sangat merepotkan.

Seunghoon membuang nafasnya kasar, langkahnya diperlebar dan dipercepat. Malas diikuti dan ingin cepat-cepat berada kelasnya, segera.

Matanya ditutup sebentar, lalu dibuka lagi.

Oh, dia sudah duduk manis ditempat kursinya, bahkan teman-teman sekelasnya tidak mempermasalahkan sesosok laki-laki sipit sudah duduk secara tiba-tiba.

Inilah keuntungan memiliki kelebihan yang Seunghoon suka. Walau harus memiliki resiko—tidak mempunyai teman.

Tapi toh, Seunghoon tidak memperdulikan orang-orang yang juga tidak menyukai dirinya. Untuk apa memikirkan hal itu? Membuang waktu saja.

Seunghoon mendengus dalam hati menyadari baru saja dia memikirkan hal yang … absurd.

Entah alasan apa dia berada di New York ditambah dia kuliah disini.

Semua berawal ketika dia tidak sengaja menolong seseorang di Korea, dulu.

Dan orang itu menawarkan universitas yang berada di New York ini. Karena sedikit tertarik, Seunghoon memilih mengiyakan.

Tapi malah berakhir seperti ini; sedikit dikuncilkan karena dia sendirian orang Asia di kelas ini, perilaku nya yang aneh karena … 'kelebihannya'.

Menyebalkan memang, tapi mau bagaimana lagi.

-0o0-

Minho bersiul pelan, tangannya yang menggenggam seikat tali anjing menarik pelan, membuat anjing besar kesayangannya mengikuti sang master kemanapun dia pergi.

Pilihan sekarang, Minho akan pergi ketaman kota. Tidak apa-apalah menghirup udara segar sembari mencari inspirasi.

"Guk."

Minho tersenyum tipis menanggapi gonggongan anjingnya.

"Sebentar lagi kita sampai, kok." Ucap Minho, meraih buku tulisnya keluar dan menggoyang-goyangkannya di udara.

"Guk!"

Minho tertawa melihat kelakuan peliharaan nya itu, dielusnya gemas pucuk kepala berbulu milik anjing nya itu. Untuk beberapa saat Minho berdiri mencari tempat duduk, setelah mendapatkan kursi taman yang kosong tepat dibawah pohon yang teduh, Minho memilih duduk disana.

"Na… na… na… na…"

Lirihan terdengar dari mulut Minho, otak yang sering dibilang orang konyol itu tengah mencari nada baru untuk lagu yang tengah dia tulis.

Wuushh.

Angin berhembus kuat, membuat helain kertas kini terangkat dan membuat buku kecil yang berada dipangkuan Minho berganti halaman.

Minho berdecak, tangannya ingin membalikkan halaman untuk kembali menulis dihalaman sebenarnya, tapi—

Kenapa angin kembali berhembus dan halaman buku kecilnya kembali keasalnya dengan sendiri? Jika dilihat baik-baik dari ekor matanya, dia juga bisa melihat satu pasangan pria-wanita yang tadi tengah berjalan didepannya juga berjalan mundur…

Minho menundukkan kepalanya frustasi—dia kelepasan lagi.

-0o0-

Jinwoo menyesap tehnya dengan tenang, mendengarkan dengan baik curahan hati dari temannya ini.

"Jadi Jinwoo hyung, aku harus bagaimana?!"

Keluhnya frustasi.

Jinwoo menatapnya dengan tenang, "Dinginkan dulu kepala mu, Bobby-yah~ kau tidak bisa terus menunjukkan wajah frustasi itu kepada ku."

Orang yang dipanggil Bobby itu menghela nafas kasar, tangannya lalu mengambil cangkir teh yang memang sudah disediakan oleh Jinwoo.

"Aku bingung dengan hyung itu … huft …" hela nafas Bobby.

Jinwoo tersenyum, "Apa kau sudah menanyakan alasannya, Bobby-yah?"

Bobby mendongak, berpikir sebentar, lalu menggeleng pelan, "… belum … hyung …"

"Nah—" Jinwoo menggerakkan telunjuk nya memutar, "kau bisa menanyakan masalah itu baik-baik, dan tadaa kau tidak perlu salah paham lagi dengan B.I …"

Bobby terdiam sebentar, matanya menatap air teh yang berada didalam cangkir mahal milik Jinwoo itu.

"… mungkin … kau benar hyung … aku harus membicarakan nya baik-baik dengan nya …," mukanya menatap keatas, "tapi itu juga karena dia begitu dekat dengan perempuan-perempuan amerika sini." Gerutu Bobby kesal.

"Dia kan populer~ maklumi saja," Jinwoo menyesap sesaat tehnya, "dan lagi kudengar, baik laki-laki ataupun perempuan ditempatnya belajar itu sangat ingin melakukan sex dengan B.I~"

"Y—yak hyung! Itu—tidak mungkin."

"Itu fakta, aku sering mendengarnya ketika melewati koridor-koridor kampus ku—kau tahu sendiri B.I sangat terkenal dikalangan sekolah menengah atas maupun perkuliahan." Jawab Jinwoo tenang.

"Hiks—hyungie—"

Oh tidak, makhluk sipit bergigi kelinci itu menangis.

Jinwoo hanya bisa menghela nafas, "Tapi itukan keinginan mereka, dan kuyakin itu tidak akan pernah terjadi, toh—kau adalah kekasih dari seorang B.I itu sendiri~" hibur Jinwoo.

"B—benarkah …?" lirih Bobby.

"Ya." Balas Jinwoo tersenyum tipis.

Bobby mengangguk pelan. Diliriknya jam yang berada di tengah-tengah mereka, "Sudah jam segini, aku harus pergi hyung."

Jinwoo mengangguk, "Baiklah, hati-hati, Bobby-yah." Tangannya dilambaikan keatas.

Bobby yang berada di ambang pintu tersenyum, menunjukkan gigi kelincinya dan juga matanya menyipit garis, "Ya hyung, kau juga hati-hati~!"

BLAM.

Pintu rumahnya ditutup. Jinwoo menarik nafasnya dan membuangnya perlahan. Tetap saja. Tetap saja suara dentingan jam berada ditelinganya keras walau dia sedang berbicara dengan orang lain sekalipun, ini menjengkelkan.

Tik.

Tak.

Tik.

Tak.

Tik.

Tak.

Tik.

Tak.

Ti—

Jinwoo membuka matanya. Lalu menatap sekeliling, karena ditelinganya tidak menangkap suara-suara sekecil apapun.

Oh—kau kelepasan juga, Jinwoo-ya.

-0o0-

Bibir tebal Seungyoon berdecak kesal melihat kantin kampusnya yang cukup penuh. Bagaimana dia akan makan? Ini menyebalkan.

Kakinya melangkah kearah counter makanan, lebih baik dia makan ditaman daripada disini.

"Dua sandwich—satu orange juice." Pinta Seungyoon.

Sang penjual mengangguk, mengambil tiga buah pesanan Seungyoon.

"Terima kasih," Seungyoon tersenyum, lalu berbalik pergi, "nah, sekarang aku harus ketaman belakang—sial, ini semakin ramai." Gerutu Seungyoon, melihat kerumunan manusia dengan berbagai tatanan dan warna rambut—bahkan kulit.

Oh tidak, telinganya juga semakin menangkap banyak suara—

Ini menjengkelkan—

Maka dari itu, Seungyoon tidak menyukai tempat ramai—

Itu membuat telinganya seperti dijatuhkan bom—

Dia ingin menghentikan ini semua—

Menghentikan—

Hentikan—

Siiiiinnnggg.

Nafas Seungyoon memburu, pikirannya seakan kacau. Tidak menyadari bahwa pergerakan disekitarnya juga berhenti.

Menenangkan dirinya sesaat, lalu menghela nafas, dengan tenang dia berjalan meninggalkan kantin menuju taman belakang kampus yang sepi—

— Tidak terlalu sepi juga sih, tapi tidak seramai ini kan yang penting?

Setelah Seungyoon meninggalkan kantin, tepat saat itu juga waktu berjalan. Orang-orang seakan tidak memperdulikan sosok berwajah Asia yang harusnya ada diantara mereka, sudah tidak ada.

Seungyoon tidak menyadari, bahwa ada sosok yang melihat kejadian itu mematung ditempat, bahkan sosok itu tidak ikut berhenti ketika semua orang-orang barat disini berhenti.

"Itu … tidak mungkin …"

-0o0-

'SELURUH PENGHUNI RUMAH MENINGGAL TERTIMBUN RERUNTUHAN, SEDANGKAN PEWARIS TUNGGAL KELUARGA NAM MENGHILANG ENTAH DIMANA.'

Taehyun membaca kalimat itu sekilas ketika melewati kawasan pertokoan. Dengan tatapan dinginnya, dia melanjutkan langkahnya, menyelurusi kota New York yang begitu kejam.

Beruntung dia tidak diperkenalkan ke publik. Hanya diberitahu jika ada pewaris tunggal keluarga Nam. Tidak dengan wajah nya—begitupula dengan ciri-ciri, dan sebagainya itu. Jadi, ketika dia berada diluar, tidak ada yang mengenalinya—

Sepertinya dia harus mengganti marganya untuk bersembunyi.

Taehyun menyeringai dibalik rambut terbelah dua itu. Mengingat sederet kalimat yang berada dibawah kalimat tadi.

'Ini aneh, padahal tidak terjadi gempa, tapi mengapa rumah kokoh itu bisa runtuh?, ungkap—'

Bodoh, itu karena 'kelebihan' nya.

-0o0-

Seunghoon mendengus, sedikit kesal dengan waktu pelajaran yang ditambahkan oleh sang dosen, tapi yang pasti dia masih bisa berada di kantin untuk mengambil makanan. Untuk tempat duduknya—itu bisa dipikirkan nanti.

Dengan malas, tangannya mengangkat tas yang tidak cukup berat, kaki nya ingin segera berada di kawasan makanan itu untuk mengisi salah satu bagian tubuhnya yang memerlukan isi itu.

Seunghoon menutup matanya, untuk memperlambat waktu yang ia rasakan cukup cepat itu. Hitung-hitung untuk mengurangi orang-orang yang berada di kantin itu ketika dia datang dari waktu yang sebenarnya.

Menyenangkan bukan mempermainkan waktu?

Tap—Tap—Tap—Tap—Tap—

Sialan sudah untuk perempuan yang mengikutinya sekarang. Seunghoon yakin itu adalah perempuan sialan yang selalu mengikutinya itu.

Dengan kesal Seunghoon menjalankan waktu seperti biasa dan memberhentikan langkahnya. Seketika pula langkah perempuan itu tidak terdengar.

See, dia mengikuti Seunghoon.

Jika bisa, Seunghoon ingin membunuh perempuan itu sekarang. Tapi Seunghoon bukan lelaki pengecut yang hanya bisa menyerang perempuan begitu saja. Bibir nya bergetar, menggeram. Menahan kelebihan lain yang mungkin bisa meruntuhkan gedung bagian geofisika ini.

Dengan kesal Seunghoon melanjutkan langkahnya, kakinya sedikit dihentakkan dengan keras kelantai gedung ini. Menyebabkan getaran disetiap langkah Seunghoon.

Perempuan itu terdiam, "… he ishuman, didn't it …?"

.

Sampai di kantin dimana berada ditengah-tengah gedung-gedung jurusan. Tapi bukannya lega, Seunghoon menatap datar kantin yang sudah penuh itu.

"Aku telat, ck." Decak Seunghoon, tangan sebelahnya mengacak rambutnya kesal.

Ssiiiinnggg.

Seunghoon mengangkat sebelas alisnya bingung. Telinga tajam Seunghoon tidak mendengar satupun suara—tidak, ada satu helaan nafas yang seperti… frustasi.

Mata sipit nya melihat sekeliling kantin yang orang-orang disana membeku—bahkan benda-benda yang terbang juga diam ditempat.

Ini sebenarnya pemandangan biasa bagi Seunghoon. Tapi Seunghoon yakin, ini bukan perbuatannya. Ini perbuatan—seseorang yang sama seperti dirinya.

Tapi apa benar? Seunghoon kira hanya dia sendiri yang memiliki kelebihan ini.

Ada orang yang … bahunya bergerak. Ya, Seunghoon bisa melihat itu. Rambutnya hitam, wajah nya—wajah asia, sama seperti Seunghoon. Apa—itu orang nya?

Seunghoon melihat orang itu berjalan keluar dari kantin sambil menggenggam dua sandwich dan satu gelas orange juice. Dan saat orang itu keluar, waktu kembali berjalan.

Seunghoon masih membeku ditempat. Seakan ketika waktu berhenti, dia bisa bergerak, dan ketika waktu berjalan, dia tidak bisa bergerak.

"Itu … tidak mungkin …"

Bibir kaku Seunghoon mengeluarkan kalimat tidak percaya itu.

-0o0-

Minho memainkan pensilnya dengan malas, dia ingin menulis lagu tapi—tidak ada pencerahan yang bisa membuat dia menulis lagu seperti biasa.

"… apa aku harus jalan-jalan lagi …?" Minho menggeleng, "tidak, aku sedang malas keluar~"

Minho menyesal karena tidak bisa menikmati hari libur kuliahnya yang memakan waktu seminggu ini. sudah lima hari berlalu—tapi dia sekarang mulai bosan dengan keadaannya.

Minho menghela nafas frustasi, lebih baik dia jalan-jalan disekitar apertement nya saja, lalu kembali lagi. Dia benar-benar akan mati oleh rasa kebosanan diapertement nya ini—melawan rasa malasnya itu penuh perjuangan.

Klek.

Dibukanya pintu apertement, lalu keluar—anjing besarnya tadi sudah dititipkan ke penitipan hewan dimana dia akan menitipkannya disaat dia sibuk atau sedang ingin sendiri.

Ketika melewati kawasan pertokoan, Minho mendengar berita tentang—bangsawan Korea yang menetap di Amerika ini mati karena runtuhnya rumah mereka. Lucu sekali.

Minho terkekeh lalu kembali berjalan, merasa bahwa berita yang tadi didengar itu menggelikan—

'Runtuhnya rumah itu sangat aneh, tidak ada gempa dari pihak berwenang ketahui, bahkan pewaris tunggal mereka hilang entah dimana, apakah ini penculikan—'

Dari sini, Minho berpikir bahwa—

Pewaris mereka sama seperti dirinya juga. Eh kenapa bisa dia perpikir seperti it—

BRUK.

Minho meringis, mengetahui ada yang menabraknya cukup keras dibahu kanannya.

"I'm sorry—"

"Kau orang Korea?" tanya Minho, melihat sekilas wajah pemuda yang menabraknya cukup berwajah Asia.

"Y—yes…"

"Kau tersesat?" tanya Minho lagi, melihat penampilan pemuda itu sebagai perantau.

"Ti—tidak, aku tidak tersesat." Jawab pemuda itu tergagap.

"Ikut aku." Tanpa pikir panjang, Minho menarik paksa pemuda itu mengikutinya, mungkin karena sesame orang Asia. Sedangkan pemuda itu hanya bisa menggerutu pasrah.

.

Minho sedikit meringis mengetahui ada luka sobek dilengan putih pemuda yang ia tarik tadi.

"Hei, apa ini tidak sakit?" tanya Minho, tangannya mengambil kotak pertolongan pertama miliknya.

Pemuda itu menggeleng pelan, "Tidak terlalu."

Minho mendengus, setelah menemukan kotak yang ia cari, dibukanya kotak itu dan menaruh sedikit alcohol di kapas yang sudah ia jadikan bulatan berukuran sedang.

"Kau … akan meng-apa-kan ku …?" tanya pemuda itu takut-takut.

"Aku akan mengobatimu, bodoh!" Minho mencibir, lalu menarik tangan pemuda itu dan memberinya alcohol terlebih dahulu, "ngomong-ngomong, siapa namamu? Aku sudah memberi tahu nama ku kan—Song Minho."

Pemuda itu berpikir sebentar, "Min—Taehyun, itu nama ku."

"Min Taehyun?" alis Minho terangkat sebelah, "baiklah Taehyun-ssi, sepertinya kau tidak mempunyai tempat tinggal, dengan senang hati aku memperbolehkan mu tinggal di apertement ku~"

Pemuda yang mengaku bernama Min itu menggeleng, "Tidak—aku bisa menginap di penginapan murah—"

"Kau kira warga New York akan berbaik hati segampang itu?" Minho mencibir, "New York adalah kota ganas, tidak ada yang baik di kota ini, well—ku akui memang ada yang baik di kota ini, tapi itu sangatlah sedikit, tapi—hey, jangan menganggapku sama dengan orang New York asli itu! Begini-begini aku tetap warga Korea Selatan!" pekik Minho.

Taehyun memutar bola matanya malas, "Oke, aku terima."

Minho mengambil perban dari dalam kotaknya itu, "Lalu—memangnya ada apa kau berada dikota ini, Taehyun-ssi?" tanya Minho, sedikit penasaran dengan asal-usul pemuda dihadapannya itu.

"Aku kabur—bisa dibilang seperti itu mungkin, aku malas mengingatnya lagi." Jawab Taehyun asal.

Minho mengangguk-angguk mengerti, mungkin saja dipaksakan bertunangan dengan gadis Amerika ini tapi Taehyun tidak setuju dan memilih kabur, itulah pemikiran laki-laki berkulit agak coklat itu.

"Baiklah, ini sudah selesai, lebih baik kau istirahat dulu, Taehyun-ssi."

"… mati …"

Minho sedikit mengeryit mendengar suara 'mati', ingat, pendengaran telinganya sangat tajam, kan?

"Taehyun-ssi, apa kau habis mengatakan sesuatu?" tanya Minho, memastikan pendengarannya tidak salah.

Taehyun tersentak dari lamunannya, "Tidak, bukan apa-apa. Maaf mengganggu mu, Minho-ssi." Ucap Taehyun.

Minho mengindikkan bahu dan memilih menuju dapur, mencari cemilan di siang hari ini. Tidak memperdulikan telinganya yang terus mendengar—

"… mati … mereka sudah mati … mati … mati … mati … mereka pantas—mati … mati …"

-0o0-

Jinwoo mengunci pintu rumahnya, dirinya menghela nafas sejenak, sebelum tangannya menarik headset keatas kepalanya guna mendengarkan lagu selama perjalanan menuju kampus.

Bagaimanapun juga, walau dia mendengarkan musik, yang ada hanyalah musik bercampur suara-suara yang berasal dari dia berada.

Menjengkelkan memang, tapi itu lebih baik daripada tidak mendengarkan suatu yang menarik.

Hei, apa kalian tahu bahwa Jinwoo pernah mendengar suara orang mendesah ketika dia berjalan di area sepi?

Dan itu membuat Jinwoo tidak ingin melepas headsetnya selama dia tidak berada rumah—kecuali ketika dia mendengarkan penjelasan dari dosen tercinta.

Sesampainya dia di kampus, ekor matanya menangkap sesuatu yang cukup mengagetkan—

Semua pergerakan disekitarnya berhenti.

Badan Jinwoo berputar-putar didepan pintu kampus itu, menatap orang-orang yang berhenti—lebih tepatnya membeku seperti patung.

Ada apa ini …?

"… apa … didunia ini … ada orang yang seperti … diriku … juga …?" tanya Jinwoo pada dirinya sendiri, terbata-bata.

Badannya lemas, namun dengan paksa dia melangkah masuk kedalam kampusnya. Tidak ingin dilihat aneh ketika waktu kembali berjalan.

Yang pasti, Jinwoo memikirkan kesimpulan yang baru saja dia tangkap—

Ada orang yang sama seperti dirinya, mempunyai … kelebihan.

-0o0-

Seungyoon memakan sandwich nya dengan lambat. Pikirannya sedikit kalut. Jika dilihat baik-baik, tatapan matanya kosong—seakan tidak ada jiwa disana.

Jika dia telat, dia bisa mengulang waktu dan Seungyoon tidak akan telat di pelajaran selanjutnya.

Matanya tertutup dengan mulut yang bergerak mengunyak sandwich yang baru saja masuk kembali, mengingat bagaimana masa lalu nya dulu dan dijauhi oleh orang-orang karena—

Kelebihan nya.

Memang ada yang salah dengan kelebihannya ini?

Oh, apa ini bisa di sebut kutukan?

Inginnya Seungyoon ingin menyebut hal yang ada didalamnya ini adalah 'kutukan', namun itu malah akan membuat dia semakin tertekan, maka dari itu Seungyoon menyebut ini adalah—kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia-manusia lain.

"… hei …"

Seungyoon mengeryit mendengar bahasa Korea ditelinganya. Tentu saja bingung, karena sekarang kan dia sudah berada di Amerika dan terbiasa mendengar bahasa inggris disini—walau jika Seungyoon sendiri, dia akan berbicara bahasa tanah kelahirannya itu.

"… tenang, aku juga orang Korea …"

Dengan terpaksa ditengah kekalutan otaknya, Seungyoon menemukan lelaki berwajah Asia berada didepannya.

"Ada apa?" tanya Seungyoon datar.

Orang itu tersenyum canggung, "Kau … apa kau memiliki kelebihan?"

Ada nada aneh ketika orang itu mengatakan 'kelebihan', sehingga mau tak mau Seungyoon bingung dan curiga dengan pemuda dihadapannya itu.

Tapi jika dilihat, sepertinya orang didepannya ini lebih tua dari Seungyoon …

"Kelebihan apa maksud mu—"

"Berhubungan dengan waktu maupun dengan bumi, atau sebagai nya—apa aku salah …?" potong orang itu bertanya. Sepertinya tidak ingin berbasa-basi.

Seungyoon menatap lamat manik sipit pemuda itu. Menuntut, bisa dilihat dengan jelas oleh Seungyoon.

"Memang ada apa kau ingin mengetahui hal itu, orang asing?" tanya Seungyoon dingin. Tangannya mengambil orange juice yang berada disebelah nya itu.

Orang itu menghela nafas, lalu memilih duduk nyaman didepan Seungyoon.

"Namaku Lee Seunghoon, semester keempat, bagian geofisika. Sebenarnya, aku sama seperti diri mu." Ujar nya mengenalkan diri, menunjukkan senyum yang membuat matanya sedikit menyipit.

Seungyoon menaikkan sebelah alisnya bingung, namun dia memilih mengenalkan diri, "Kang Seungyoon, semester kedua, bagian mekanik mesin. Apa maksudmu 'sama-seperti-diri-mu' itu?" tanya Seungyoon curiga.

"Mempermainkan waktu—membuat bumi bergetar atau apapun—teleportasi—seperti itu. Bagaimana dengan dirimu Seungyoon-ssi, sejujurnya aku kaget melihat waktu dihentikan oleh dirimu ketika di kantin tadi." Jawab Seunghoon, memakan hot dog yang dia beli sebelum menghampiri Seungyoon tadi.

Seungyoon terdiam, memikirkan kalimat-kalimat yang dikeluarkan oleh senior nya tadi.

"Kukira—hanya aku yang mendapatkan hal ini." desis Seungyoon, sekira cukup lama terdiam.

Seunghoon mendengus, "Aku pun berpikir begitu. Kau tahu, ini sangat menyiksa ketika hanya sendiri mendapat kan ini—dan kuyakin pula kau berpikir seperti itu. Tapi, sekarang aku mengetahui hal jikalau aku tidak sendirian mendapatkan kekuatan ini." ungkap Seunghoon.

"Tapi kau perlu tahu—jika aku tidak bisa mengendalikan ini dengan sempurna." Desis Seungyoon, menatap tangannya yang saat dulu pernah—lupakan, itu hanyalah masa lalu.

"Aku juga dulu seperti itu," Seunghoon tersenyum masam, "asalkan kau melatih nya dengan benar, sedikit demi sedikit kau akan menguasai kekuatan yang ada didalam dirimu itu." Ucap Seunghoon bangga.

Kini giliran Seungyoon yang tersenyum masam, "Terima kasih atas masukan nya, Seunghoon-ssi. Tapi sudah saatnya kita berpisah, aku ada kelas. Semoga kita bertemu lagi."

Dan Seungyoon meninggalkan Seunghoon dengan keadaan bahu mulai ringan.

Seunghoon melihat kepergian Seungyoon dengan berbinar, "Akhirnya aku menemukan teman!" pekiknya senang.

-0o0-

Nam Taehyun yang kini mengganti marga nya menjadi Min Taehyun—untuk sementara, tengah berada di apertement asing yang ditempati orang Asia, sama seperti dirinya.

Matanya menatap liar sekeliling ruangan. Menunggu pemilik apertement ini kembali keruangan tempat dia berada seakan sangat lama.

Siapa namanya tadi—Song Minho? Mungkin Taehyun akan mengingat nama itu dengan baik untuk sementara.

Sepertinya dia adalah pemuda rantauan yang memilih kuliah di tanah Amerika ini.

Sejujurnya Taehyun sudah berada di Amerika selama tujuh bulan. Tapi selama enam bulan itu pula Taehyun terus berada di dalam rumahnya. Dikurung mungkin lebih tepatnya. Tepat dua hari setelah hari kelulusan sekolah menengah atas nya itu.

Menyebalkan memang, tapi mau bagaimana lagi. Lagipula semua orang yang Taehyun benci sudah mati—

Benar, sudah mati. Oleh perbuatan nya sendiri. Pagi itu Taehyun memberi waktu mereka bernafas selama tiga jam—dan akhirnya dia bisa melihat dunia luar dengan menikmati matinya orang-orang itu.

Dan Taehyun juga sudah sepenuhnya mengendalikan kekuatan yang berada dari dulu di tubuhnya ini. Memakai kekuatan nya sangatlah menyenangkan. Seakan memainkan robot plastic yang menghancurkan apapun yang ada didepan nya dengan bantuan dorongan dari sang pemilik—oke ini pengadaian yang aneh.

"Sampai kapan kau melihat apertement ku dengan tatapan menusuk itu, Taehyun-ssi. Aku saja yang melihat sekilas juga ikut bergidik."

Ucapan Minho menginstupsi kegiatan Taehyun. Taehyun sendiri langsung melihat Minho dengan tatapan biasanya.

"Maaf jika itu mengganggu," Taehyun mengucapkannya dengan datar, "aku hanya melihat apa saja yang ada di apertement ini—maaf, tapi tempat ini cukup berantakan untuk orang seperti ku—sekali lagi maaf jika menyinggung, Minho-ssi." Lanjut Taehyun.

Minho tertawa mendengar ucapan Taehyun, "Kuakui tempat ini tidak serapih orang-orang inginkan, tapi entah kenapa aku terlalu malas untuk membereskan tempat ini sampai benar-benar bersih." Ungkap Minho.

Taehyun mendengus mendengar itu, "Mungkin aku bisa membayar karena aku menginap disini dengan membereskan tempat ini dan—memasakkan makanan …? Aku cukup bagus dalam hal memasak." Tawar Taehyun, sedikit ragu ketika mengucapkan tawaran terakhir karena sudah lama dirinya tidak memasak.

Minho mengangguk, "Boleh saja, kita akan bergilir untuk memasak—oh ya, lusa adalah hari terakhir ku liburan dari kuliah ku, dan seterusnya aku akan menjalankan kuliah sesuai jadwal—bisa jadi kau akan sendiri disini untuk beberapa jam dalam sehari, atau mungkin satu hari penuh karena mungkin saja aku akan menginap disana. Oh ya, Taehyun-ssi, apakah kau kuliah?" Minho mengahiri penjelasannya dengan pertanyaan.

Taehyun tersentak, "Ti—tidak … sejak lulus tingkat akhir, aku tidak mengikuti kuliah. Walau keluarga ku mampu tapi tetap saja aku tidak diperbolehkan untuk kuliah."

Minho mengusap dagunya bertanda mengerti, "Baiklah, aku mengerti. Maafkan aku jika menyinggung perasaan mu dengan pertanyaan ku tadi, Taehyun-ssi." Ucap Minho sopan.

"Tidak masalah—suatu saat nanti kau akan mengerti, Minho-ssi." Balas Taehyun, sudut bibirnya terangkat tipis.

Ya benar, suatu saat nanti Taehyun harus memberi tahu hal yang benar-benar terjadi, bukan kebohongan yang baru saja dia ucapkan lewat mulut yang sudah sering mengucapkan kata 'mati' ini.

-0o0-

Lee Seunghoon, dengan ini mengatakan dengan bangga, telah menemukan teman yang sama seperti dirinya. Bahkan ini adalah teman pertamanya disini—

Seunghoon sungguh senang.

Singkat nya itulah perasaan Seunghoon saat ini.

Sejak bertemua pemuda bernama Kang Seungyoon itu, mood Seunghoon berubah drastis. Bahkan tidak memperdulikan perempuan yang sering mengikutinya itu. Toh dan lagipula orang-orang tidak akan peduli Seunghoon dalam keadaan mood apapun. Sakit atau sehat. Orang-orang tidak akan peduli.

Dan ini pertama kali nya Seunghoon terlihat seperti orang bodoh di kota New York ini.

Well, sekali lagi tidak ada yang memperdulikan ini.

Kini waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 PM, di musim panas ini tentu saja waktu sekarang masih terlihat siang menuju sore. Jadi Seunghoon pulang ke apertement nya—karena dia adalah mahasiswa rantauan, tidak mungkin dia akan menempati sebuah rumah walau berukuran kecil sekalipun.

Sebelum waktu malam datang, lebih baik membeli bahan makanan malam dulu saja, batin Seunghoon, mata sipit nya melirik jam tangan hitamnya.

Kaki jejangnya melangkah ke super market yang searah dengan jalan pulangnya.

Ketika berada di rak bagian sayuran, mata sipit Seunghoon menangkap sosok lelaki berwajah Asia yang sedang seperti—menasehati seseorang pula. Cukup kaget juga banyak orang Asia yang tinggal di pulau—sangat—besar ini yang merangkap menjadi satu benua bernama Amerika.

Tidak mau lama-lama, akhirnya hanya membeli minuman dingin, cemilan, sayuran, daging, dan bumbu-bumbu lainnya. Berpikir sebentar apakah ada yang kurang atau tidak, setelah dipastikan tidak ada yang tertinggal, Seunghoon mengangguk pasti dan berjalan kearah kasir.

Memakan daging untuk malam hari tidak buruk juga, bukan?

Keluar dari super market, tidak sengaja melihat Seungyoon yang berjalan kearah dimana dia akan menuju kesana juga.

"Seungyoon-ssi!" panggil Seunghoon, berjalan cepat kearah Seungyoon.

Seungyoon yang merasa namanya dipanggil dengan bahasa tanah kelahirannya, berhenti berjalan, dan melirik siapa yang memanggilnya itu.

"Oh, Seunghoon-ssi." Balas Seungyoon datar.

Seunghoon tersenyum dua jari, "Kebetulan aku akan ke daerah sana juga. Mau pulang bersama? Ngomong-ngomong, rumah mu dimana? Atau kau tinggal di apertement?" ungkapan dan pertanyaan-pertanyaan langsung Seunghoon keluarkan dalam satu tarikan nafas.

"Seunghoon-ssi, kau bisa menanyakan satu-satu," Seungyoon menghela nafas, "di perumahan Golden Cick, aku sudah tinggal disini selama hampir setengah hidup ku, dan tentunya orang tua ku tidak akan membiarkanku tinggal di apertement terus menerus, Seunghoon-ssi." Jawab Seungyoon.

"Heh, hebat, perumahan itu termasuk jajaran untuk orang kaya, aku tidak menyangka kau akan tinggal disana," Seunghoon sedikit mendengus, "tapi untungnya, gedung apertement yang kutinggali dekat dengan rumah mu! Kapan-kapan kau bisa main kerumah ku—atau aku yang kerumah mu, bagaimana?" tawar Seunghoon semangat.

Seungyoon tampak berpikir sebentar, "Baiklah," Seungyoon mengangguk, "kau bisa kerumah ku, atau jika jadwal ku kosong aku bisa ke apertement mu, Seunghoon-ssi."

"Kau malas berjalan tidak, Seungyoon-ssi?" tanya Seunghoon, setelah cukup lama mereka terdiam dalam perjalanan.

Seungyoon yang mendengar pertanyaan aneh Seunghoon hanya mengeryit, "Apa maksud mu? Jika itu jalan untuk kita pulang selain menaiki kendaraan, mau tidak mau harus dijalani."

"Ayo, kuantarkan kau pulang dengan kekuatan ku! Aku sungguh capai hari ini."

Tawar Seunghoon, tangan nya diangkat membuat tas plastic berisi belanjaannya tadi terlihat.

Seungyoon kembali berpikir, "Jika itu tidak merepotkan mu, tidak masalah, Seunghoon-ssi."

Seunghoon tersenyum lebar, "Kalau begitu sebutkan alamat mu dan akan kuantarkan, Seungyoon-ssi!"

SPLASH.

Dan entah kenapa, dua sosok Asia itu hilang ditengah kerumunan.

-0o0-

Jinwoo mendesah berat, menasehati teman nya ini sama saja mengajari orang gila untuk menjadi normal—oke, itu aneh.

"Kim Hanbin, tapi aku sarankan kau untuk menjauh dari lingkungan Amerika, kau membuat kekasihmu semakin salah paham." Ucap Jinwoo, memanggil nama asli dari pria didepannya ini.

Hanbin bergidik mendengar ucapan datar dari orang yang sudah dianggap hyung nya itu, memanggil nama aslinya berarti Jinwoo dalam mode serius. Berbeda ketika memanggil dirinya 'B.I'—yang entah kenapa Jinwoo sangat senang memanggil Hanbin dengan nama lain itu.

"Aku sudah berusaha menghindar hyung, tapi mereka yang terus mengejar ku." Keluh Hanbin. Sudah dua puluh lima menit terbuang karena Jinwoo menasehati dirinya karena telah membuat Jiwon menangis—demi tuhan dia tidak tahu sama sekali akan hal itu sampai Jinwoo memberi tahunya dua puluh enam menit yang lalu.

"Kalau begitu kau tidak usah sekolah saja." Ujar Jinwoo datar.

"Hyung! Aku pergi dari tanah Korea menuju New York ini hanya untuk menuntut ilmu, ck." Decak Hanbin kesal.

"Sedikit beruntung kau membawa Bobby kesini, jikalau kau biarkan Bobby masih sekolah di Korea, bisa dipastikan dia akan meminta mu putus secepatnya—"

"Hyung, wajahmu memang inconnent, tapi sungguh kau sangat kejam." Potong Hanbin datar, sedikit menyerah dengan ocehan Jinwoo.

Jinwoo yang disindir hanya tersenyum dua jari, "Pikirkan kata-kata ku tadi, B.I-yah, aku yakin sebenarnya kau tidak seperti itu tapi jika kau membuat Bobby kesayangan kita menangis, tak akan kupikirkan lagi untuk membuat mu mati—"

"Hyung!"

Jinwoo tertawa mendengar reaksi Hanbin. Jika ingin tahu, Hanbin dan kekasihnya Jiwon atau sering dipanggil Bobby itu mengetahui kelebihan milik Jinwoo. Yang berhubungan dengan waktu—bumi—dan menggerakkan air—termasuk darah.

|tbc;|

Okesip ini aneh lagi /.\

Rin akan jelaskan sedikit, member WINNER memiliki dua kekuatan yang masing-masing sama, yang berhubungan dengan waktu dan bumi itu. Tapi mereka memiliki satu kekuatan lagi yang berbeda-beda. Untuk Team B… seperti nya hanya cameo, maafkan Rin /.\

Mungkin nanti di chapter-chapter depan—tapi masih lama—Rin akan masukkan Big Bang xD

Mungkin ya ._.

FanFic WINNER abal-abal milik Rin, adakah peminat nya? /celingak-celinguk bareng Mino dan Seunghoon/

Mind to Review? /smile with Taehyun/