Title : Okãsan
Author: Micky_Milky
Genre: Romance/ Drama
Rate : T (Mungkin akan bertambah)
Disclaimer: Shizu-chan punya saya, Durarara entah punya siapa (Kabur)
Pairing: ShiZaya
Length: Chaptered
Warning : Typo, Yaoi, Ooc, Oc, alur kecepatan. Dll
.
.
.
Chap 2
Enjoy reading
.
.
"Izaya Orihara, aku pindahan dari Shinjuku, senang berkenalan dengan kalian, dan mohon bantuannya."
Lagi, pemuda itu tersenyum, membuat beberapa wanita di kelas itu menjerit histeris dan beberapa pria yang bergumam.
"Kakkoi..." ini jeritan dari para wanita
"Kawai..." ini jeritan beberapa pria yang merasa dirinya seme.
"Cih... menyebalkan." Dan ini jeritan frustasi para pria yang merasa di kalahkan.
Mata merah itu kembali menatap satu persatu wajah-wajah dari kelas itu sampai matanya beradu pandang dengan seorang pria bermata sewarna matanya tertutup kacamata minus dengan syal putih melingkar di lehernya, perkataan pemuda itu hampir membuat Izaya terjungkal ke belakang dengan tak elit atau bahkan hampir terserang penyakit jantung dadakan berjamaah dengan para menghuni kelas.
"Okaasan...!"
.
.
.
Izaya mengeram frustasi saat sang sensei berkacama yang sedang mengajar didepannya sekarang menyuruhnya untuk duduk di bangku paling belakang bersebelahan dengan seorang gadis yang menanyai ini dan itu kepada Izaya, mulai makanan favorit hingga nomor ponselnya, untung saja Izaya dibekali kesabaran yang luar biasa, dia tak sama sekali menggubris wanita berambut panjang di sampingnya yang berbinar senang menatapnya penuh minat.
Masaomi dan Mikado saling pandang saat teman karibnya sedikit demi sedikit melirik murid baru di kelas mereka, tak menyangkah setelah insiden berdarah beberapa menit yang lalu yang hampir membuat Shinra-sensei hampir terkena serangan jantung mendadak tadi, pemuda tampan itu masih mencuri pandang pada pemuda yang duduk di baris belakang di pinggir sekali tepat dideretannya di belakang Mikado. Melihat itu Masaomi menendang kaki Tsukishima pelan membuat pemilik manik rubby itu menatapnya penuh tanda tanya. Beruntung sensei didepan sana sibuk menceritakan kisah cintanya bersama sang guru berhelm kucing yang selalu memakai pakaian ketat hitam, membuat para murid menguap kantuk tak menghiraukan pelajaran atau sesi curhat sang guru.
"Yakin, dia ibumu?"
Manatap bingung pada Masaomi, Tsukishima hanya menunduk, sesekali pemuda berambut pirang itu melirik Izaya yang sibuk mencoret-coret sesuatu di bukunya. Tak lama sampai mata Izaya menangkap pegerakan mata Masaomi dan tersenyum menyeringai. Mendapat tatapan balik dari Izaya buru-buru Masaomi mengalihkan pandangnnya kedepan berharap pemuda itu tak berfikir macam-macam padanya. Sungguh, seringai itu tak enak di pandang.
.
.
Langkah kaki Izaya berhenti, tubuhnya memutar melihat sosok Tsukishima yang berdiri tak jauh darinya menenteng pelastik berisi banyak makanan, pemuda yang lebih pendek dari Tsukishima itu menghela napas lelah melihat pemuda itu menunduk dalam tanpa menatapnya. Sungguh, sebenarnya apa maunya pemuda ini, memanggilnya 'Okaasan' di kelas lalu sekarang mengikutinya seperti anak anjing yang minta di pungut, sebenarnya apa maunya pemuda yang terlihat sering menunduk itu, kalau dia mau adu jontos Izaya akan ladeni, asal jangan membuatnya pusing dengan tingkah Tsukishima yang aneh itu.
"Apa maumu?"
Izaya berkecak pinggang memandang pemuda berkacamata itu dengan kesal, hah... semakin di pandang, yang jadi objek semakin menunduk, kembali menghela napas pemuda bermarga 'Orihara' itu kembali berjalan menelusuri tangga untuk menghabiskan makan siangnya di atab, dia tak mau ambil pusing, sungguh, sebentar lagi jam istirahat hampir habis dan dia belum makan apapun dari pagi tadi.
"O-okaasan."
Berhenti berjalan, Izaya kembali berbalik badan sambil melihat Tsukishima yang kembali menunduk dalam, wajah pemuda itu menghilang di balik syal putih yang dipakainya.
"Jangan panggil aku, Okaasan. Aku buka ibumu."
Sergak Izaya kesal, pria itu semakin menunduk lalu mengulurkan pelastik berisi banyak makanan itu kedepan wajah Izaya, mendapat serangan mendadak, Izaya menatap bingung pada pemuda itu yang semakin menunduk, berusaha bersabar Izaya kembali menghela napas.
"Apa ini?"
"Okaasan, makan bersama?"
Mengerjab beberapa kali, manik ruby milik Izaya memicit mendengar perkataan pria berbadan maskulin di depannya, melangkah sekali Izaya mengambil plastik dari tangan pemuda itu lalu membukanya, mendapatkan banyak makanan dan minuman dingin. Setelah puas melihat isinya, Izaya mengembalikan plastik itu kepada sang pemilik lalu memperlihatkan plastik makanannya yang tak banyak isinya kepada pemuda yang masih menunduk malu-malu.
"Aku bawa bekal, kalau mau makan bersama boleh saja, ayo ikut aku...!"
Tsukishima mengangkat wajahnya, melihat senyum Izaya, senyum yang benar-benar mirip dengan mendiang ibunya di foto-foto. melihat itu Tsukishima tak kuasa untuk ikut tersenyum dan kembali mengekor di belakang Izaya. Membuka pintu atap sekolah, Izaya mencari tempat yang nyaman, tempat ini cukup sepi, tapi ada beberapa siswa dan siswi yang asik menyantap makanan mereka.
Kaki Izaya membanya ke tempat yang cukup sepi, merasakan semilir angin lalu duduk dengan santai di sana, wajahnya mendongak melihat Tsukishima yang menatapnya dengan malu-malu, menepuk-nepuk beton di sampingnya, Izaya tersenyum kembali sambil menatap pemuda itu.
"Sini, duduk di sampingku, nah... ayo makan bekalmu."
Tsukishima menurut, sedikit menjaga jarak, pemuda bersurai pirang itu membuka bekalnya dan mengambil beberapa makanan yang dia beli dari kantin. Melahap berlahan sambil menikmati sejukkan angin musim semi. Mata semerah ruby itu bersinar cerah saat melihat wajah Izaya yang diam sambil menikmati makanannya, sungguh, dia ingin menangis melihat itu, bagaimana bayangan seorang perempuan cantik berwajah nyaris serupa dengan pemuda di sampingnya atau bahkan benar-benar bagai pinang di belah dua, menutup matanya, helaian surai hitam yang sebenarnya hanya sependek tengkuk itu terlihat sepanjang pinggang di mata Tsukishima dan senyum lembut pemuda itu. benar-benar mirip dengan ibunya. hanya saja pemuda ini adalah laki-laki dan pikiran Tsukishima masih waras untuk tahu jika Izaya memang bukan ibunya. Tapi mulutnya benar-benar ingin memanggil 'Okaasan' pada pemuda itu.
"Uhuk... uhuk..."
Lamunan Tsukishima berhenti saat mendengar Izaya terbatuk-batuk sambil memukul dadanya, melihat itu Tsukishima segera mencari-cari air di dalam plastik makanannya, membuka sekaleng mocca dan memberikannya kepada Izaya, dengan cepat Izaya meneguk minuman itu lalu bernafas sengal.
"Okaasan, kau tak apa-apa?"
Tsukishima berwajah Khawatir membuat Izaya tersenyum lalu mengelap beberapa tetes minuman itu yang lolos dari tegukannya.
"Tak apa-apa, terimakasih minumannya, dan jangan panggil aku Okaasan lagi."
"Aku tak bisa berhenti memanggilmu, Okaasan, bukan hanya rupa, tapi namapun sama, kau benar-benar mirip ibuku."
Tsukishima menunduk dalam kembali, memainkan seragamnya lalu mengangkat wajahnya memandang wajah Izaya dalam. Mendapatkan pandangan memohon dari Tsukishima Izaya akhirnya bernapas pasrah.
"Oke... kau boleh panggil aku Okaasan, tapi tidak saat di tempat umum, di kelas, dan tempat ramai. Itu memalukan, dan kau bukan anakku, aku bukan ibumu."
"A-aku mengerti, Okaasan."
"Haaa~ sebenarnya kemana perginya ibumu?"
Tsukishima kembali menunduk, melihat beton yang didudukinya, Izaya yang sibuk meneguk minuman kaleng itu melirik Tsukishima dari ekor matanya, mengamati tingkah pemuda itu yang asik memikirkan sesuatu.
"Ah... kita belum berkenalan. Siapa namamu?"
Izaya berbalik badan kekiri dan sekarang duduk berhadapan dengan Tsukishima, pemuda itu semakin menunduk dalam, membuat Izaya senyap tak tahu harus berbuat apa kecuali memandang pemuda didepannya dengan bingung dan aneh.
"Tsukishima Heiwajima."
Seakan bisikan, suara itu masuk ke indra pendengaran Izaya membuat pemuda itu mengerjam mata sekali lalu terkekeh kecil, kali ini kembali tubuhnya menghadap kedepan, melihat Anri yang sibuk saling menunduk saat bersama Mikado tak jauh dari kedua pemuda itu beristirahat.
"Hooo... Heiwajima-san."
"Ano, Tsukishima saja."
"Ok, Tsuki-chan."
"Eh?"
Izaya tersenyum lepas kala mendapat panggilan untuk pemuda didepannya, Tsukishima tak bersuara hanya diam menunduk sambil terus menatap makan siangnya, sedangkan Izaya sudah selesai dengan makanannya.
"Nah, ayo ke kelas, sudah hampir masuk, eh? Kau tak memakan makan siangmu?"
"A-aku tidak lapar, Okaasan."
"Baiklah, bantu aku bereskan semuanya, kita kembali ke kelas."
"Bi-biar aku saja, akan aku bereskan sendiri, Okaasan."
"Baiklah."
Tsukishima buru-buru mengambil sampah-sampah miliknya dan Izaya, memasukkannya kedalam plastik, dia berdiri lalu memberikan satu bungkus plastik yang masih banyak makanannya kepada Izaya. Melihat itu Izaya mengambilnya lalu tersenyum.
"Untukku?"
Tsukishima mengangguk sekali, kembali menyembunyikan wajah tampannya di balik syal putih yang sering digunakannya, melihat itu Izaya terkekeh geli mengelus puncak kepala pemuda yang lebih tinggi darinya itu, membuat Izaya berjinjit sambil tersenyum manis.
"Wah... kau anak yang baik. Terimakasih. Aku ambil ya, lumayan. Ayo pergi!"
mendengar perintah Izaya, Tsukishima mengikuti langkah pemuda berambut hitam itu.
.
.
Jam pelajaran sudah selesai dua menit yang lalu, Izaya sibuk membereskan buku-bukunya sedangkan Tsukishima terlihat masih duduk di bangkunya sambil melirik Izaya sesekali, Mikado dan Masaomi berjalan sambil menepuk bahu Tsukishima terlibat pembicaraan sesaat sampai kedua pemuda itu berjalan meninggalkan Tsukishima sambil melambai riang keluar dari kelas, sekarang hanya tinggal Tsukishima dan Izaya yang masih sibuk memasukkan bukunya.
Bunyi derit kursi terdengar di kelas itu, dan bunyi sol sepatu yang bergesekan langsung dengan ubin membuat Izaya melongo ketika melihat langkah kaki itu semakin mendekat dan berhenti tepat didepannya. Dilihatnya Tsukishima yang menunduk dengan malu-malu memegang tali tas selempangnya dengan gugup lalu rona merah kentara terlihat di pipi pemuda tinggi itu.
"Belum pulang?"
"Me-menunggu, Okaasan."
Izaya bukan orang bodoh, dia tahu pemuda itu menunggunya, mengunci tasnya, pemuda itu menatap Tsukishima dalam, entah kenapa dia merasa Tsukishima terlalu perhatian padanya.
"Pulang saja duluan, aku tak butuh di tunggu, dan jangan panggil aku Okaasan lagi."
Izaya menyandang tasnya, lalu melenggang keluar diikuti Tsukishima yang mengekor di belakangnya. Koridor sekolah sudah sepi, membuat bunyi langkah kaki mereka berdua bergemah di setiap lorong yang mereka lewati.
"A-ano, Okaasan pulang sendiri?"
"Jangan panggil aku Okaasan."
"Ta-tapi disini hanya kita berdua."
"Tapi ini di sekolah, tempat umum."
Tak berhenti berjalan, Izaya malah mengabaikan kehadiran Tsukishima, lelah hati dan pikiran dengan teman sekelasnya itu. selama ini tak ada orang yang ingin sedekat ini dengannya, bahkan adik kembarnyapun tak pernah perduli padanya, dan lihat saja sekarang, dia malah dipindahkan oleh sang ayah ke Ikebukuro, entah apa maksud ayah melemparnya ke kota ini, tapi dia tak perduli, selama dia hidup santai tanpa banyak tekanan dia siap dikirim kemana saja dengan ayahnya.
"A-aku tak bisa, Okaasan ya Okaasan."
"Panggil aku Izaya."
"Ti-tidak mau."
Langkah kaki Izaya terhenti, dia melirik Tsukishima yang berhenti selangkah di belakangnya. Tak lama langkah mereka kembali terdengar, menuruni tangga, Izaya masih bisa melihat beberapa siswa di lantai satu.
"O-okaasan, a-aku antar pulang."
Menghela napas kesal, Izaya tak menghiraukan perkataan Tsukishima, dia sibuk berjalan tanpa perduli jika pemuda tinggi didepannya terus membuntutinya.
Mereka keluar dari gedung sekolah, seruan Tsukishima membuat Izaya berhenti berjalan.
"Otousan."
Melirik kearah mobil sport hitam metalik di depannya, Izaya bisa melihat seorang pria dewasa yang nyaris serupa dengan teman sekelasnya itu, pria itu sibuk dengan ponselnya sesekali menghembuskan asap rokok dari bibir dan hidungnya, mengerjab sekali Izaya tak percaya jika pria dewasa itu di panggil 'Otousan' oleh pria didepannya, mereka bahkan lebih pantas disebut adik-kakak.
"Ayahmu?"
Tsukishima mengangguk, membuat Izaya kembali meneliti pria dewasa itu, pria itu tampan, berkarisma dan menawan. Dengan stelan kemeja hitam yang melekat di tubuh tinggi dan sempurnanya dan bawahan di balut celana dasar hitam, membuat pria itu sangat keren, bahkan Izaya bisa melihat beberapa siswi yang melewati pria dewasa itu memandang kagum padanya dan terkesan tebar pesona.
"Okaasan..."
Izaya bangun dari alam khayalnya, menatap Tsukishima yang meliriknya malu-malu, jika di lihat sekilas mereka memang sangat mirip, hanya saja Tsukishima memiliki manik merah sedangkan pria dewasa itu memiliki manik coklat madu yang lembut. Tunggu...! Otousan? Oh... kelihatnnya Izaya tahu arti alaram bahaya saat ini. Dia belum mengerti apa yang terjadi, tapi jika Tsukishima menjadi seorang Fans Boy nya dan memanggilnya Okaasan kemana-mana bisa gawat jika pria dewasa itu mendengar Tsukishima memanggilnya Okaasan didepan ayahnya.
"A-aku pulang dulu, jaa... sana kau ditunggu oleh ayahmu."
Izaya berlari menjauh dari Tsukishima membuat Shizuo melirik sang putra yang memanggil seseorang yang sekilas melewatinya. Manik madu itu meloto tak percaya saat pemuda itu melewatinya.
"Izaya...?"
Gumamnya, sang pemilik nama terlihat tak perduli malah berlari kencang dan berbelok saat di tikungan membuat manik madu Shizuo tak bisa melihat pria itu lagi. Shizuo bergemih tak percaya bahkan dia meyakini jika tadi yang dia lihat hanya ilusi. Ya... itu pasti ilusi, itulah yang ada dipikiran Shizuo.
"Otousan..."
Kali ini Heiwajima senior terlihat menatap putra tunggalnya yang baru saja sampai didepannya, dia terlihat habis berlari, membuat Shizuo menatap sang putra aneh.
"Ada apa?"
"Ano... apa Otousan melihat temanku?"
"Teman yang mana?"
Tsukishima menegakan tubuhnya, membuatnya berhadapan langsung dengan sang ayah. Oh... bisa didengar beberapa wanita menjerit histeris saat melihat kedua pria itu saling bertatap.
"Lu-lupakan. Otousan tak akan tahu."
Shizuo mematahkan rokoknya menjadi dua, lalu menginjaknya, pria dewasa itu mengenakan kacamata hitamnya yang sedari tadi disimpannya di saku celana, berjalan memutar untuk membuka pintu mobil tepat di tempat kemudi, Shizuo melirik Tsukishima yang masih diam mematung di samping mobilnya.
"Ayo pulang, Tousan sengaja menjemputmu pulang agar kita bisa langsung kemakam ibumu."
Mendengar itu Tsukishima mengangkat wajahnya melihat Shizuo yang sudah masuk kedalam mobilnya, mengikuti sang ayah, pria tampan pemalu itu membuka pintu lain dan masuk kedalam mobil sport hitam itu.
Di dalam mobil Shizuo sibuk menyetir sambil sesekali menghisab rokok yang tersemat di jari kanannya, sedangkan Tsukishima sibuk melirik beberapa orang yang lalu lalang melewati jalan padat Ikebukuro.
"Ada apa? Apa ada yang kau pikirkan? Kulihat kau sangat pendiam setelah pulang dari sekolah? Kau tak suka kita berziara kemakam ibumu hari ini? Atau kau tak suka Tousan menjemputmu?"
Tsukishima menggeleng cepat, wajahnya semakin menunduk, sebenarnya dia memang sedang berfikir, berfikir tentang Izaya Orihara, teman sekelasnya, dia hanya sedikit berfikir apa ayahnya melihat temannya tadi? Kalau memang terlihat, apa sang ayah mengenali wajah Izaya? Banyak sekali pertanyaan yang berputar di kepala Tsukishima, hanya saja dia tak tahu harus memulai dari mana. Sang ayah sama sekali tak menanyakan apapun tentang Izaya, apa ayahnya tak melihat Izaya? Hah... otaknya serasa akan pecah. Diliriknya sang ayah yang masih asik menyetir dan menghisab rokoknya sesekali.
"Aku tak apa-apa, semua baik-baik saja."
Ya, Cuma itu yang bisa dia katakan. Tsukishima benar-benar sangat penasaran dengan Izaya Orihara, siapa dia? Kenapa dia bisa sangat mirip dengan sang ibu walau dia tahu Izaya adalah laki-laki? Kenapa Izaya lari saat melihat wajah ayahnya? Dan bukan hanya wajah, tapi nama, mereka benar-benar mirip.
"Syukurlah, aku tak ingin kau sakit, ibumu di sana pasti akan membenciku jika tahu anak kesayangannya sakit dan aku tak tahu."
Tak menjawab, tsukishima hanya diam sambil menunduk dalam, benar-benar membuat Shizuo mendesah pasrah, sebenarnya kenapa anaknya sangat berbeda dengan dia dan Izaya. Mengabaikan semua yang terjadi, mobil itu berbelok dan masuk kedalam kawasan pemakaman umum.
.
.
Shizuo menatap nisan didepannya dengan senduh, tak menyangkah sudah tujuh belas tahun dia ditinggalkan oleh perempuan yang sangat dicintainya, dilihatnya sang anak yang sedang berjongkok sambil berdoa didepan makam sang ibu. tangan besar Shizuo mengelus surai pirang yang sama dengannya itu lembut, tersenyum memandang batu nisan bertuliskan 'Izaya Heiwajima' wajahnya senduh di balik manik coklat madu itu terdapat kabut kesedihan di sana. Tsukishima mendongak melihat sang ayah yang masih mengelus surainya dan menatap nisan ibunya dengan lembut.
"Lihat, Izaya. Dia sudah besar, aku menjaganya dengan baik bukan? Kau harus berterimakasih padaku."
Ujar si pria bersurai pirang itu, walau memakai kacamata hitam Tsukishima bisa melihat mata Shizuo yang merah menandakan pria itu menahan tangisnya.
"O-tousan."
Tsukishima menyentuh telapak tangan besar sang ayah, membuat Shizuo berjengit sesaat lalu melihat Tsukishima sambil tersenyum.
"Berterimakasihlah padanya, karena dia kau bisa di lahirkan di dunia."
Manik ruby itu kembali melirik nisan didepannya lalu menatap tulisan di batu itu. bunga mawar putih kesukaan sang ibu juga terlihat di makam sang ibu, bunga yang dibeli sang ayah tadi saat menuju ke pemakaman.
"Arigatou Okaasan, Hontoni Arigatou, sudah melahirkanku kedunia. Aku menyayangimu."
Tsukishima tersenyum lembut memandang nisan itu, dia percaya sang ibu selalu bersamanya dan ayahnya. Memikirkan sang ibu, Tsukishima buru-buru melihat sang ayah yang masih diam bediri memandang makam ibunya.
"Ano... Tousan, bo-boleh aku bertanya?"
"Ada apa?"
"Apa nama keluarga, Okaasan?"
Shizuo melirik sang putra bingung, tumben anaknya menanyakan nama keluarga ibunya. Ya, tak banyak yang Shizuo tahu tentang Izaya, dia berkenalan dengan keluarga Izaya pun tak lama, dan akhirnya mereka menikah. Izaya tak tinggal dengan keluarganya, karena kedua orang tuanya berada di desa, di Ikebukuro Izaya memiliki sebuah apartemen yang cukup besar, entah apa pekerjaan kedua orang tua Izaya sampai memiliki Apartemen itu, padahal mereka berdua tinggal di desa.
Shizuo pernah beberapa kali bertemu dengan mereka, kedua orang tua Izaya sangatlah baik dan ramah, dia tak menyangkah bahwa Izaya yang sangat energik itu memiliki orang tua sebaik itu. tapi setelah Izaya meninggal tak ada kabar lagi dari kedua orang tua itu.
"Tousan..."
"Ah, maaf... Tousan melamun, kau menanyakan nama keluarga ibumu?"
"I-iya."
"Sebenarnya ada apa?"
Shizuo menatap Tsukishima yang masih melihat nisan ibunya dalam diam, dia tak berbicara membuat Shizuo semakin penasaran.
"Tsukishima-kun?"
"Ano... aku hanya ingin tahu."
"Baiklah. Ibumu memiliki nama keluarga Orihara."
Seakan dunia terbelah dua, Tsukishima diam mendengar perkataan sang ayah, tubuhnya menegang, Shizuo mengambil sekotak rokok dari sakunya dan mengeluarkan sebatang, lalu menghidupkan pematik api mahal miliknya dan menyulutnya ke rokok. Menghirup rokok itu dalam lalu membuang asapnya sembarang, manik madu itu kembali melihat Tsukishima yang semakin diam didepan makam ibunya, tak bergerak dan terlihat begetar hebat.
"Tsukishima-kun?"
"Tousan tak berbohong?"
"Maksudmu nama keluarga ibumu?"
Tsukishima mengangguk, kembali Shizuo menghirup rokoknya dalam lalu membuang asapnya melalui hidung dan mulut secara bersamaan.
"I-itu, apa Tousan tak salah menyebut."
"Tidak, nama ibumu sebelum menjadi Heiwajima adalah Orihara, Izaya Orihara."
.
.
TBC
AN
Bagaimana? suka? Kalau gak saya minta maaf. Main tebak-tebakan yuk...^^ hayo tebak, Izaya itu sebenarnya siapa?, oh ya. Kalau chap ini masih kurang banyak diusahain chp depan bisa lebih dari ini. Dan terimakasih banyak yang sudah repyu. Maaf gak bisa balas satu-satu, tapi saya benar-benar senang menerima repyunya^^ Yooossss Repyu lagi please...
.
.
^Micky-Milky^
