Naruto © Masash Kishimoto

Apartemen Naruto sunyi seketika setelah kepergian ketiga temannya. Kini tinggal suara detak jam dan beberapa remah makanan di lantai yang menemani Naruto. Mungkin esok pagi barulah dia akan bersihkan—setidaknya tadi Kiba membantu membuang sampah makanan dan minuman mereka yang memenuhi lantai apartemen Naruto.

Sekilas mata birunya melirik jam dinding yang sengaja dia gantung di atas televisi 21 incinya, sudah jam satu malam, dan ketiga temannya baru pergi sekitar 15 menit yang lalu. Permainan mereka tetap berlanjut tanpa Sasuke—sekalipun dia harus berusaha mati-matian untuk tetap terlihat biasa tanpa si pemuda pendiam itu. Well, mereka semua mendapat giliran di truth or dare tadi, dan satu hal yang setidaknya membuat dia cukup terkejut dan senang adalah Kiba yang memilih truth dan terjebak dengan pertanyaan 'siapa kekasihmu' darinya.

Jawabannya sudah Naruto duga dari sejak SMA dulu—Shikamaru.

Dan memang Shikamaru sudah menjalin hubungan menginjak tahun yang ke dua dengan Kiba. Jujur Naruto merasa iri. Bukan, bukannya dia menyukai Kiba atau Shikamaru, tapi karena jauh di lubuk hatinya dia juga ingin seperti Shikamaru dan Kiba.

Kedua kakinya yang berbalut celana pendek hitam menggantung di sandaran tangan sofa. Dia sangat malas bahkan untuk berpindah ke kamarnya. Sejak Sasuke pergi dan menemui Sakura pikirannya tidak bisa fokus sepenuhnya, hatinya terasa sakit entah karena apa. Sejujurnya dia mungkin tahu, tapi dia yang memang sengaja mengindari dan bersikap tidak mau tahu—lagi.

Lima menit berikutnya terdengar dengkuran halus dari Naruto yang tertidur dengan kaki menjuntai dan tangan yang menutupi wajah kecokelatan yang terlihat basah—oleh air mata.

"Sasukeh—"


"Otanjobi omedeto, Naru-chan!"

Mata biru jerih Naruto mengerjap beberapa kali membiasakan retinanya dengan cahaya yang tadi sempat menghilang di ruang tengah rumahnya. Sejurus kemudian mata itu membola melihat kedua orang tuanya berdiri di depan sebuah meja yang berisi kue ulang tahun yang terlihat lezat di mata Naruto. Terharu, si kepala pirang itu berlari dan menghambur ke pelukan ibunya.

"Kau sudah 16 tahun sekarang, Naruto."

Minato memeluk anak dan istrinya penuh kasih sayang, memang keluarga yang sempurna.

"Belajar lebih giat ya, ini adalah tahun terakhirmu di SMA kan? Tahun depan kau akan jadi mahasiswa."

Ibunya menghapus air mata bahagia yang tidak pernah absen di tiap perayaan kejutan kecil-kecilan ulang tahun Naruto. "Kaasan jangan sedih begitu, aku kan sudah besar sekarang jadi bisa menjaga diri."

"Tentu saja, kau kan laki-laki, Naruto."

Naruto tersenyum lembut sebagai jawaban untuk ayahnya. "Ah, ayo buat permintaan dan tiup lilinnya!" Kushina memegang bahu Naruto kemudian mengarahkannya pada kue yang didominasi warna biru dan kuning itu, di atasnya ada lilin angka 16 yang menyala. Kelopak kecoklatan itu tertutup dan merapalkan harapannya dalam hati.

Jadikan aku orang yang lebih baik lagi dan pertemukan aku dengan Sasuke.

Permohonan sederhana yang hampir sama setiap tahunnya.


Naruto mengerang pelan, lehernya masih terasa sedikit pegal—efek tertidur di sofa sampai pukul delapan pagi. Sekarang hari Senin, tadi pagi Iruka membawakan teori leadership, waktu itu dia tidak duduk di jendela seperti sebelumnya. Namun Naruto punya kebiasaan melamun untuk menghilangkan rasa kantuk, aneh memang. Tapi setidaknya ada empat puluh banding enam puluh persen kemungkinan dia akan ditegur ketimbang dengan terang-ternangan terantuk meja—seratus persen ditegur bahkan dikeluarkan.

Saat ini dia ada di kantin yang berada di dekat lapangan basket menunggu Kiba yang masih memesan makanan—ada ramen mengepul yang siap disantap di hadapannya. Kantin siang itu cukup ramai, namun mudah bagi Naruto untuk menemukan Sasuke yang lagi-lagi bersama dengan Sakura. Sekilas mata mereka bertemu dan keduanya langsung membuang tatapan ke arah lain. Tapi sebaik apapun Naruto mencoba menjauhkan pandangan dari Sasuke dan fokus pada hal lain—seperti ponselnya yang bergetar meminta charging—matanya tetap mengarah pada Sakura yang dengan naturalnya melingkari lengan kokoh Sasuke. Tidak memaksa, berlebihan, atau apapun yang bisa menjadi cela antara dua manusia paling sempurna di Konoha University itu.

Kalau bukan Kiba yang meletakkan satu mangkuk ramen mengepul di seberangnya, mungkin dia masih sibuk memandangi pasangan itu—dan berakhir tertangkap basah seperti sebelumnya. "Hei—berhentilah menatap ke pasangan biru pinky itu." Kiba meniup ke arah sumpitnya yang penuh dengan ramen, dia akhirnya tahu masalah apa yang dihadapi Naruto dan Sasuke selama ini. Well, tidak sepenuhnya tahu karena belum ada konfirmasi langsung dari Naruto atau Sasuke.

Setidaknya dia semakin yakin kalau hipotesa terakhirnya tempo hari mengenai Naruto yang cemburu pada Sakura adalah benar. Sejak insiden truth or dare kemarin Kiba yakin kalau Sasuke atau Naruto itu sama seperti dirinya. Dia seorang homoseksual, dan dia tahu ciuman macam apa yang Sasuke berikan pada Naruto waktu itu—ciuman penuh nafsu. Tapi yang membuat Kiba bingung adalah mengapa Sasuke bersama Sakura?

Sesaat Kiba berdecak dan Naruto mendengus pelan, "Aku tidak memperhatikan mereka, kebetulan saja mataku mengarah kesana." Kilahnya kemudian mulai menyantap ramen yang mulai mendingin di hadapannya.

"Eh ngomong-ngomong kenapa kau malah pesan ramen juga?"

Kiba yang berniat menyeruput kuah berminyak itu langsung dari mangkuknya meringis karena bibirnya hampir melepuh "Aku bingung mau pesan apa." Naruto mengangguk sambil mengunyah dan tak peduli pada kebodohan yang diperbuat tetangganya itu, ah setidaknya ramen mampu memperbaiki mood-nya. Namun hanya sekejap karena Sasuke sekarang menggeser kursi di samping mejanya dan Kiba, tiba-tiba saja dia merasa kekenyangan sampai sulit bernapas. Tentu saja masih sulit baginya melupakan kejadian malam itu—tapi sepertinya tidak bagi Sasuke.

"Eh? Kau mau kemana? Ramenmu belum habis, Naruto!" Kiba setengah berteriak melihat Naruto tiba-tiba bangkit dan meraih tasnya.

"Naruto."

Tapi langkah Naruto terhenti mendengar suara rendah itu memanggilnya, tanpa menoleh pun dia tahu siapa. Jeda beberapa detik yang serasa mencekik tenggorokan Naruto, "Habiskan makananmu—"

Alis Naruto bertaut, tangannya terasa berkeringat dan dingin. Dia tidak menoleh dan terus maju "Tidak, aku sudah kenyang, Sasuke."

Tanpa berputar ataupun mengucapkan sepatah kata dia meninggalkan sahabat dan segala memoar yang telah dia jaga bertahun lamanya. Dalam hati Naruto punya janji pada diri sendiri—jika sepuluh tahun tak cukup, maka dia akan menunggu sampai kapan pun itu.

Sakura tersenyum kecut.


"Hari ini ada siswa pindahan dari Oto, karena sudah mendekati ujian akhir aku harap kalian semua bisa bekerjasama dan membantu teman baru kalian ini—silahkan masuk!"

Mata Naruto hampir lepas dari tempatnya melihat orang yang sudah pergi selama hampir enam tahun itu kembali. "Lumayan juga—" Kiba di sampingnya berujar ambigu, tapi Naruto tahu dan setuju. Sasuke semakin tampan dan dewasa. Sedangkan dirinya sama sekali tidak berubah, akhirnya dia merasa malu bahkan untuk menyapa pemuda yang baru saja memperkenalkan diri itu. Sialnya Sasuke malah duduk di kursi kosong tepat di belakangnya, dia bisa mendengar dengan jelas bisik-bisik kaum hawa di kelasnya dan suara kaki kursi yang bergesekan dengan lantai dingin kelas itu—Sasuke duduk di belakangnya sekarang.

Naruto menelan ludah sebelum berbalik dan menyapa sahabat lamanya "Teme—"

"Perhatikan Ibiki sensei, Naruto."

Seperti ada yang menghantam telinga dan dada Naruto secara bersamaan. Sejak kapan Sasuke memanggilnya dengan 'Naruto' saat dia dengan terang-terangan memanggil Sasuke dengan panggilan kasar—Teme—itu.

Satu hal yang dia tahu, Sasuke sudah berubah—dia bahkan tidak melihat ke arah Naruto saat berbicara. Berapa kalipun Naruto mencoba berpikiran positif seperti dia masih canggung karena enam tahun tidak bertemu, tapi tetap saja Naruto merasa ada banyak hal yang berubah dari Sasuke.

Kepala Naruto tiba-tiba pusing, sangat tidak wajar bagi remaja lelaki sepertinya untuk merasa sedih hanya karena hal sepele menurut beberapa orang seumurannya—dilupakan oleh sahabat kecilmu yang beranjak dewasa. Well, Naruto memang tidak seperti orang kebanyakan. Tapisedikit banyak dia bersyukur Kiba tidak memperhatikannya tadi. Bisa gawat kalau temannya yang muda penasaran itu tahu—masa lalu mereka.

Ah, masa lalu.


Buku berjudul Leadership in Organization terbuka lebar di hadapan Naruto, mata birunya terpaku pada deretan kata yang menyusun beberapa kalimat—biasanya sukses mebuat Naruto mengantuk. Sebelah tangannya yang bertumpu pada siku menahan sisi kanan kepalanya yang agak miring, sekilas dia terlihat begitu serius membaca buku di sudut meja panjang perpustakan yang cukup lengang.

Matanya memang mengarah ke sana, namun pikirannya tidak sama sekali. Tangan yang satunya terkepal tidak erat namun berkeringat di dalam ruangan bersuhu 20 derajat celcius itu—membuat sudut atas halaman buku yang terbuka sedikit basah karena dia sentuh. Hanya satu fokus pikirannya saat ini, Sasuke, Sasuke Uchiha.

"Hooh—aku tidak tahu kau tipe orang yang suka membaca buku di perpustakaan."

Naruto berdecak sebal saat Kiba menggeser kursi di hadapannya. "Mau menceritakan sesuatu? Aku pendengar yang baik kalau kau lupa." Si rambut cokelat tersenyum lebar saat melihat sahabatnya menghela napas terlalu kuat. Jujur dia lelah setelah mengelilingi hampir seluruh gedung fakultas ekonomi hanya untuk mencari tempat pelarian yang bagus, dan akhirnya 20 menit kemudian dia baru terpikir ke perpustakaan—setelah sebelumnya dengan asal memasuki sebuah kelas kosong.

"Aku tidak merasa harus menceritakan apapun."

Bola mata Kiba berputar, "Oh ayolah! Kau tahu maksudkuuu." Suara agak merengek dari Kiba terdengar menjijikkan di telinga Naruto, namun dia memilih diam dan tidak mengacuhkan Kiba yang menatapnya intens dari tadi. "Sasuke, masa lalu kalian, dan—"

Alis pirang Naruto terangkat sebelah "Dan?" Sekilas dia melihat Kiba melirik ke segala arah sebelum menjawab, "Perasaanmu padanya?" Naruto cuma mendengus.

"Hei!" Protes Kiba.

"Apa?"

Sekuat tenaga Kiba menahan diri agar tidak membenturkan kepala pirang itu ke rak buku setinggi dua meter di belakangnya. "Aku tahu kau menyukai Sasuke!" Setengah berteriak dia menyampaikan hipotesanya. Naruto hampir melempar buku tebal itu tepat ke wajah yang tersenyum paksa di hadapannya. "Err—gomen, aku kelepasan."

Kemudian Naruto hanya diam dan menutup buku tebal itu. Dalam hati Kiba berdoa agar Naruto tidak melemparkan buku itu padanya—gara-gara ucapannya tadi mereka ditegur penjaga perpustakaan dan sedikit orang yang ada di sana pasti mendengar lengkingan Kiba tadi. "Kau pantang menyerah ya, Kiba?"

"Kau juga, Naruto." Kiba tersenyum prihatin melihat raut wajah Naruto berubah drastis. Walau tersenyum, dia tahu sahabatnya itu bersedih.


"Hei anak baru itu katanya tinggal di dekat rumahmu?"

Kiba berujar seperti wanita tua penggosip saat Naruto hendak menuju ke kantin, dia tidak sempat sarapan tadi pagi—ibunya tadi pagi-pagi sekali berangkat ke Amegakure karena ada urusan. Dia tidak perlu bertanya dari mana Kiba tahu. "Memang, dia itu—" Alis kanan Kiba terangkat mendengar ucapan menggantung Naruto, "Dia apa? Dia kekasihmu?" Kiba berkelit kemudian tergelak tidak lucu saat buku tipis Naruto hampir mengenai pelipisnya.

"Dia sahabatku—sahabat lamaku."

Suasana sunyi lima detik kemudian, Kiba terlihat berpikir.

"Sahabat lama? Sahabat ya sahabat!"

Naruto yang terdiam agak lama mendengus kemudian berjalan ke arah pintu kelas mereka yang terbuka lebar, dia merasa harus mencari seseorag sekarang—sepertinya perkataan Kiba membuatnya sadar. "Hei! Kau mau kemana?" Kiba bangkit dan hampir meraih bahu berlapis blazer hitam Naruto yang tiba-tiba berbalik "Sejak kecil kami adalah sahabat sampai dia pindah ke Oto dan masuk SMP di sana—"

"Tapi dia terlihat—kau tahu maksudku."

"Hahah! Dia memang seperti itu, mencoba terlihat cool di hadapan semua orang." Kiba tersenyum melihat Naruto tertawa dan tidak bertanya lagi saat kepala pirang itu menghilang entah kemana.

Kiba benar, tidak ada sahabat lama, sahabat adalah sahabat dan akan selamanya begitu. Setidaknya itulah yang dipikirkan Naruto saat dia berlari menyusuri koridor sekolah mereka yang agak ramai, sesekali dia menabrak orang yang juga berjalan di sana kemudian berucap maaf tanpa menoleh atau berhenti. Perkataan Kiba setidaknya mampu mengobati sedikit perasaan sedih yang entah muncul dari mana saat Sasuke bersikap dingin padanya.

Kalau memang Sasuke masih sahabatnya yang dulu, pasti sekarang dia ada di tempat paling sunyi di sekolah ini sambil menikmati bekal buatan ibunya—menunggu Naruto dan menghabiskan makanan mereka bersama. Napasnya terengah, saat ini dia ada di halaman belakang sekolah yang sampai dua tahun lalu masih dijadikan lapangan basket terbuka sebelum gedung olahraga dibangun khusus untuk klub basket. Kedua tangannya bertumpu di atas lutut, pandangannya berputar mencari. Tempat pertama yang ada di pikirannya adalah halaman belakang sekolah yang sepi karena jarang didatangi klub basket mereka lagi.

Sebulir keringat mengalir di pelipis kecoklatan itu, matanya terpejam saat pusing menghampirinya. Naruto berpikir keras, di mana tempat sepi selain halaman belakang sekolah, setidaknya dulu mereka sering menghabiskan waktu di tempat seperti ini. Dengan kasar dia melonggarkan dasi yang memang tidak dipasang rapi dan membuka kancing blazernya, merasa itu mampu membuatnya bernapas lebih lega. Kemudian dia berputar dan berlari membuat blazernya berkibar melawan angin.

Dia merasa bodoh melupakan atap sekolah yang kadang menjadi tempat pelariannya saat malas mengikuti pelajaran sejarah, dan di sana sangat sepi.


Saat pintu atap dibanting dengan tidak pelan Sasuke mengerang dan mengutuk siapapun yang melakukannya. Kemudian dia berbalik dan matanya sedikit membola melihat Naruto berdiri terengah dengan penampilan yang berantakan—dasi yang hampir terlepas dan blazer yang terbuka berkibar karena angin di atas atap ini.

Naruto melangkah pelan sambil meraup udara sebanyak yang dia bisa, dari halaman belakang dia harus berlari dan menaiki tangga menuju lantai empat untuk sampai di tempat ini. "Hei, Sasuke, masih ingat denganku?" Dia mencoba tersenyum walau bibirnya memucat karena kelelahan berlari.

"Ada apa, Naruto?" To the point seperti biasa membuat Naruto meringis pelan."Hei! Apakah itu sambutan yang kau berikan pada sahabat mu ini?" Naruto tersenyum lima jari berusaha membangkitkan suasana hangat yang dulu selalu mengelilingi mereka berdua.

Sasuke cuma mendengus dan kembali ke posisi awalnya—bertumpu dengan siku pada permukaan dinding pembatas setinggi dada yang mengelilingi seluruh area atap itu. Naruto tidak menyerah, "Sudah hampir enam tahun kau pergi, artinya sudah waktunya kita membuka—"

"Apa?"

Sasuke memotong ucapan penuh semangat Naruto, "Huh? Apanya yang apa? Teme! Kau tidak lupa suratnya kan?" Naruto masih mencoba tertawa walau terdengar hambar. "Sepuluh tahun, kau ingat?"

"Aku tidak punya waktu untuk mengingat hal kekanakan seperti itu, Naruto."

Mulut Naruto membuka kemudian menutup lagi, dia tidak tahu harus membalas apa. Doa yang selalu dia rapalkan—bahkan di ulang tahunya yang ke enam belas kemarin—untuk bertemu Sasuke akhirnya terwujud, dia tidak merasakan ada yang salah kalau dia rindu dengan sahabatnya. Naruto bukan tipe orang yang mudah mengabaikan masalah perasaan, sekali lagi, dia tidak seperti kebanyakan lelaki seumurunnya. Saat mereka sibuk dengan belajar dan mengincar gadis idaman sebelum tamat sekolah, Naruto justru sibuk belajar dan memperbanyak teman ditambah menunggu sahabatnya kembali.

Dia sudah cukup dewasa untuk mengetahui alasan mengapa dia tidak pernah merasa tertarik pada gadis-gadis di sekolahnya, sekarang adalah tahun-tahun terakhirnya menyandang gelar siswa, sebentar lagi dia akan membawa nama dan beban berat sebagai seorang mahasiswa. Setidaknya, Naruto juga ingin punya kenangan manis saat SMA untuk diceritakan di masa depan, dan dia ingin kenangan itu dia bangun bersama Sasuke.

"Sepuluh tahun, apa itu tidak cukup?"

Keputusasaan terdengar jelas dari suara Naruto, katakan dia lemah sebab merasa sedih hanya karena janji masa kecilnya diingkari oleh sahabatnya—yang juga lelaki. Dia sudah di sini dan tak ada gunanya dia mundur, dari awal dia sudah sadar kalau dia itu berbeda dan jauh di lubuk hatinya dia berharap Sasuke juga. "Sasuke, aku—"

"Kalau kau mau, buka saja tanpaku. Lagipula sepertinya sudah rusak, sudah kukatakan aku tidak punya waktu mengurusi hal bodoh seperti itu."

Setiap kali Sasuke memotong pembicaraannya, kata-katanya itu selalu menyayat hati Naruto. Walau dia tahu hanya dia yang berharap di sini, Naruto tidak akan pernah menyerah—pantang baginya untuk melakukan hal seperti itu. "Jangan seenaknya memotong perkataanku, Teme!" Sasuke sedikit tersentak saat Naruto tiba-tiba membentaknya—untuk pertama kali.

"Kau memang tidak berubah ya, dari dulu tidak pernah menghargai perasaan orang lain. Aku tahu hal seperti itu memang menjijikkan untukmu, tapi—" Naruto mengambil napas banyak-banyak, sejujurnya dia tidak yakin harus mengatakan hal seperti ini di hadapan Sasuke tapi sekali lagi, dia sudah terlanjur di sini—fakta bahwa Sasuke tidak mengunjunginya langsung padahal kemarin adalah ulang tahunnya membuatnya semakin tertohok, setidaknya si Uchiha itu sudah ada di Konoha sejak dua hari yang lalu dan itu cukup untuk beristirahat.

"—kau tahu itu adalah hal yang penting untukku, jadi jangan pernah mencoba menghancurkan sesuatu yang kuanggap berharga sekalipun itu ada hubungannya dengan dirimu." Kali ini suara Naruto sedikit mengecil, dia tersenyum miring saat Sasuke dengan tidak pedulinya beranjak dari pembatas pagar itu. "Kau membuat semuanya terdengar semakin menjijikkan, jangan katakan kalau kau menyukaiku karena itu akan semakin menjijikan."

Pertahanan Naruto akhirnya runtuh, sebelum Sasuke benar-benar mencapai pintu dia masih sempat meraih blazer yang melapisi punggung itu. Terlalu tiba-tiba sampai Sasuke tidak bisa menghindari pukulan telak di pipi putihnya—dia terdorong dan hampir terjatuh.

Sasuke yang masih terkejut sulit mengendalikan dirinya, dia sama sekali tidak menyangka Naruto berani memukulnya. Mereka memang sering bertengkar dan beradu tinju saat masih kanak-kanak, tapi itu hanya sebatas bercanda dan akan berakhir dengan senyuman. Tapi kali ini Naruto menatapnya dengan mata yang berkaca dan napas yang memburu—pertama kali dalam hidupnya Sasuke melihat Naruto meneteskan air mata dan pertama kali pula dalam hidupnya dia menyesal pernah membuat orang lain terluka, namun hanya sekejap mata hitam itu kembali menampakkan kekosongan.

Naruto meraih bagian depan kerah kemeja Sasuke yang terkancing rapi, menariknya kuat sampai hidung mereka hampir bersentuhan. "Memangnya kenapa kalau aku menyukaimu?! Memangnya kenapa kalau aku ini homo, penyuka sesama jenis atau apaun itu?!" Naruto terengah-engah di hadapan wajah Sasuke. Mata birunya berair dan wajah itu kini penuh dengan air mata. Hatinya seolah teriris melihat tatapan Sasuke yang kosong seolah tak peduli. Tak pernah dia sangka ini adalah hadiah ulang tahun yang dia dapat dari sahabatnya setelah enam tahun tidak bertemu.

Dia tidak tahu kalau menyatakan perasaan sendiri akan sesakit ini—pengalaman pertama yang buruk bagi Naruto.

"Aku memang menyukaimu, Brengsek!" Dengan kasar dia mendorong Sasuke kemudian berlari dan membanting pintu atap itu—menyisakan Sasuke yang masih mematung di tengah kekosongan.


"Well—itu memang pengalaman yang menyedihkan." Kiba meringis melihat wajah Naruto yang semakin kusut. Dia tidak tahu ada kejadian yang buruk terjadi waktu itu, sedikit banyak dia berharap hubungan Sasuke dan Naruto akan membaik setelah hari itu. Tapi setelah diingat baik-baik, memang tidak ada yang berubah, Kiba membuang napas kuat-kuat.

"Tapi waktu itu dia menciummu bernafsu sekali."

Naruto mendengus kasar, "Mungkin dia cuma penasaran bagaimana rasanya mencium sesama lelaki dengan penuh nafsu." Kiba hampir tertawa mendengar perkataan Naruto—sayang mereka sedang tidak di momen yang tepat untuk terbahak, lagipula mereka sedang di perpustakaan.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?"

Kedua bahu Naruto terangkat—menjawab dalam diam.

"Oh iya Naruto, bicara soal ulang tahun—" Kiba merogoh saku jeansnya dan menyodorkan kupon ramen yang terlipat dari sana. "Otanjobi omedeto! Maaf aku cuma bisa memberi ini."

Naruto tersenyum penuh haru, ucapan dan kado pertama—selain dari orangtuanya—yang dia dapat di ulang tahunnya yang ke 18. "Terima kasih Kiba, kau memberikan yang terbaik." Kalau saja tak ada meja yang membatasi mereka, mungkin Naruto akan memeluk sahabatnya itu—tapi tidak dia lakukan mengingat dia masih punya harga diri dan tak mau memunculkan hipotesa yang aneh di otak kecil Kiba.

Sesuatu yang bergetar di sakunya mengalihkan perhatian Kiba, "Sebentar ya, Shikamaru menelepon." Naruto cuma mengangguk melihat Kiba beranjak ke sisi perpustakaan yang lebih sepi tak mau mengganggu orang lain dan ditegur tentunya.

Naruto kembali teringat ucapan Kiba mengenai ciuman bernafsu dari Sasuke, tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh bibir merah muda yang agak kering itu. Dia tersenyum miris, mungkin memang benar Sasuke hanya menganggapnya sebagai mainan saja, padahal itu adalah ciuman keduanya—yang pertama juga direnggut oleh Sasuke.

Tapi, akhir-akhir ini Sasuke malah mengajaknya berbicara, Naruto tidak tahu harus bersyukur atau tidak. Selama Sakura masih ada di sampingnya, rasa sakit Naruto tidak akan berkurang bahkan bertambah. Hal itulah yang membuatnya tidak bisa merespon terlalu banyak dan cenderung menghindar dari Sasuke.

"Tadi Shikamaru, katanya dia menitip ucapan selamat ulang tahun untukmu. Dia mencoba menghubungimu tapi ponselmu mati." Kiba berdiri di samping kursi yang tadi sempat di dudukinya setelah menerima telepon dari kekasihnya. Naruto mengangguk, "Aku kehabisan baterai, nanti akan kuhubungi dia dan ucapkan terima kasih."

Pemuda berambut cokelat itu tersenyum, "Baiklah, sekarang lebih baik kita masuk kelas saja."

"Ah! Aku sampai lupa kita masih ada kelas."

Kiba cuma mendengus geli melihat Naruto buru-buru memasukkan buku leadership-nya ke dalam tas dan menyusul dirinya yang lebih dulu melangkah. Setidaknya sahabatnya itu terlihat lebih baik setelah menceritakan semua masalahnya.

Mereka kemudian menghilang di balik pintu kaca perpustakaan yang berderit pelan tanpa sadar sepasang mata kehijauan tersembunyi di balik rak setinggi dua meter itu.

"Ternyata kau punya kebiasaan menguping ya, Sakura."

Mata hijau itu terbelalak kaget mendengar suara rendah tepat di belakangnya. "Sa-Sasuke-kun?" Lehernya sakit karena berbalik terlalu tiba-tiba, di depannya ada Sasuke yang menatap tajam. Sesaat dia merasa gentar, namun dia beranikan dirinya. "Sasuke-kun, kau jahat sekali."

Sasuke mendengus mendengar ucapan kekasihnya. "Setidaknya kau bisa menolakku kalau memang kau menyukai Naruto." Sakura sudah mengumpulkan keberaniannya dan menatap tepat ke mata hitam Sasuke. Sasuke membuang muka, "Bagaimana mungkin aku menolak keinginan ayahku."

Sakura menggigit bibirya pelan, "Perasaan itu tidak bisa dipaksakan, Sakuke-kun. Aku kira kau itu lelaki pemberani dan berani memperjuangkan perasaanmu. Ternyata kau hanya seorang pengecut."

Merasa terhina Sasuke menatap tajam Sakura, "Tahu apa kau soal perasaanku? Memangnya aku pernah bilang kalau aku menyukai Naruto?"

"Tapi buktinya kau menciu—"

"Apa ciuman berarti cinta? Aku hanya penasaran seperti apa rasa bibirnya setelah delapan tahun tidak kucicipi—"

Suara ponsel yang berbenturan dengan lantai mengalihkan perhatian sepasang kekasih yang beradu mulut itu.

Adalah Naruto yang menjatuhkan ponsel hitam yang dia lupakan di kursi yang didudukinya tadi. Tanpa berbalik dan menunjukkan wajahnya yang ketahuan mendengar percakapan Sasuke dan Sakura tentang dirinya, dia berjalan terlalu cepat meninggalkan mereka namun masih sempat mendengar Sasuke mengumpat disusul derap langkah yang mengejarnya.

Naruto kemudian berlari.

To be continued

Maafkan sayaaaaa T.T sepertinya fic ini harus dikeluarkan dari prompt Shrine -_- soalnya di-update lewat dari tangga 17. Makanya sekaliann sy jadikan 3-4 chapter. Setelah mid kemarin sy langsung lanjutkan, maafkan keterlambatannya ya T,T

Terima kasih kpd kalian yg bersedia membaca dan mereview fic ini, maafkan sy yg sangaat jarang membalas reviews dr kalian. Tp serius, reviews dr kalian adalah penyemangat tersendiri buat sy ^^

Makasih jg yg bela2in kirim PM hihih ^^

Best regards,

Kitsune Haru Hachi