Disclaimer: Fate Zero milik Gen Urobuchi dan saya hanya meminjam karakternya saja ^^

GilArtur

Romance & Mystery

Semi-M

"Hei hei hei!"

Aku menengok sekilas kebelakang. Sial, itu Gilgamesh. Aku mengutuk diriku sendiri. Sudah kuduga, memilih melewati lapangan basket adalah pilihan yang salah. Seharusnya aku lewat kantin saja. Ah, bodohnya aku. Aku memacu kakiku untuk mempercepat gerak langkahku. Sebisa mungkin, aku harus menghindari lelaki itu.

"Hei, Artur. Tunggu dulu!" Pekik Gilgamesh frustasi. Ia bertumpu pada lututnya sedang napasnya tersengal-sengal. Aku mengerling sinis kearahnya dengan tubuh yang sengaja kuserongkan angkuh. Kulihat ia nampak kelelahan karena mengejarku. Tapi itu bukanlah urusanku. Aku tidak akan berbelas kasih padanya hanya karena dia lelah mengejarku. Malah, sebal rasanya langkahku disusul olehnya. Meskipun demikian, aku tetap harus berhenti melangkah. Bukan karena aku sudi menuruti maunya, tapi karena ia sudah berada di depan, menghalangiku terus berjalan.

"Cepat katakan apa maumu, Gil? Aku punya banyak urusan sekarang." Kataku sinis. Aku memutar bola mataku malas dan melipat kedua tangan di depan dada. Sial kenapa sih dia selalu menganggu segala aktivitas hidupku?

"Kau mau kemana?" Tanya lelaki itu singkat.

"Apa jika aku memberitahumu, kau akan berhenti mengangguku?" Tanyaku penuh curiga.

Ia terkekeh ringan, terdengar seksi memang. Dan itulah yang membuatku membencinya. "Siapa tahu kan?" Ck, dia selalu mengetahui cara untuk membuatku kesal.

"Kami akan menuju perpustakaan, a-apa Senior mau ikut?" Celetuk Maia tiba-tiba. Kontan aku menengok ke sisi temanku berdiri dan langsung memelototinya. Apa yang dipikirkannya? Dia bodoh atau apa sih? Mengajak Gilgamesh ikut ke perpustakaan? Oh, matilah aku.

"Aku tidak sedang bertanya padamu, bodoh." Seperti biasa, Gilgamesh kembali menunjukkan sisi angkuhnya. Walaupun begitu, ia tetap memasang raut tidak bersalahnya setelah melukai hati orang dengan kata-kata dinginnya itu. Alhasil urat sarafku mulai menyembul ke permukaan kulit.

"Hei, apa yang kau katakan barusan? Kau menyebut temanku bodoh? Apa kau tidak pernah mengaca seumur hidupmu?" Cibirku pedas. Kesal setengah mati karena ia selalu berkata-kata seenak sendiri pada orang-orang disekitarnya.

Lagi, ia mengeluarkan tawa renyahnya. "Hahaha, bukan jawaban seperti itu yang aku mau, sayang."

"Lalu apa yang kau harapkan dariku, hm? Kau ingin aku menjawab pertanyaanmu?" Aku melirik sekilas kearah Maia yang menundukkan kepalanya dalam-dalam akibat perkataan Gilgamesh yang menusuk hatinya. Dasar bodoh. "Bukankah Maia sudah lebih dulu menjawabnya?"

Gilgamesh memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia tak lekas menjawab pertanyaanku. Keadaan disekitarku mulai riuh dengan siulan-siulan menggoda yang ditujukan untuk kami. Dan Gilgamesh sibuk menanggapinya. Ia melempar seringaiannya pada teman setim basketnya dan mengedipkan sebelah mata pada mereka. Entah apa maksudnya itu.

"Ayolah, lupakan soal perpustakaan dan temanmu itu. Bagaimana jika kau mampir dulu untuk menonton sesi latihanku sore ini?" Aku tertohok, ia mengangkat kepalanya hingga congkak saat menatapku. Seseorang sepertinya harus memberinya sedikit pelajaran tentang tata krama. Dan setelah ia berbuat demikian, ia masih punya muka untuk mengajakku menontonnya? Takkan sudi aku!

"Bagaimana jika aku menolak tawaranmu itu?" Tantangku dengan kepala yang sedikit kumiringkan kekanan. Bertingkah sama angkuhnya agar ia merasa kesal. Alih-alih membuatnya kesal, lelaki itu malah menyeringai. Ada sesuatu yang tidak beres pastinya.

"Sayangnya aku tidak sedang meminta pendapatmu." Dengan gerakan secepat kilat. Ia langsung menyambar tanganku untuk ia cengkram. Ia menarikku. Menyeret tubuhku untuk mengikutinya pergi dari tempatku berpijak.

"Apa-apaan kau ini? Lepaskan!" Aku meronta-ronta. Namun sebesar apapun perjuanganku. Aku tetap tak mampu melepaskan diri dari cengkraman tangan Gilgamesh. Tenagaku tak cukup kuat untuk melawan tenaga seorang atlit basket sepertinya.

"Hahaha, tidak perlu berontak seperti itu. Aku hanya ingin kau menyemangatiku sore ini." Ujar Gilgamesh santai tanpa melonggarkan cengkraman tangannya. Sadar usahaku takkan berhasil, aku akhirnya memilih mengumpat dengan sumpah serapah.

"Lepaskan atau aku akan berteriak minta tolong. Aku bersumpah akan melakukannya Gil kalau kau tidak mau melepaskanku!" Ancamku dengan nada ketus. Mendengar itu, Gilgamesh semakin menguatkan cengkraman tangannya hingga aku yakin pergelangan tanganku sudah memerah sekarang. Kemudian ia berkata,

"Hahaha, silahkan saja. Toh tidak akan ada orang yang menolongmu. Kukira kau cukup pintar untuk sekedar mengingat kalau aku adalah pemilik sekolah ini."

Skakmat. Gilgamesh berhasil membungkam mulutku. Bukannya aku lupa dia adalah anak dari pemilik sekolah ini. Aku hanya menolak mengingatnya. Menolak memperlakukan pria itu dengan istimewa. Bagiku ia sama seperti yang lainnya, mau dia anak dari pemilik sekolah atau mau dia anak penguasa bumi, aku takkan menganggap lelaki itu istimewa. Selama dia masih seorang manusia.

Namun ia benar, kalaupun aku berteriak minta tolong pun, takkan ada orang yang mau membantuku. Tentu saja itu karena ia dipandang istimewa oleh orang lain. Lagipula, siapa yang berani melawan Gilgamesh di sekolah ini? Bahkan guru-guru pun sungkan.

Hahh, hal ini membuatku frustasi.

"Selamat datang, Miss Arturia." Sahut Sasaki Koujiro menyambut kedatanganku ke dalam lapangan yang di setiap sisinya terdapat pagar besi itu. Lapangan ini hampir menyerupai sangkar. Hingga siapapun yang masuk ke dalamnya takkan bisa pergi keluar tanpa seizin penghuni di dalamnya. Dan itu menyebalkan. Aku langsung melempar tatapan dingin pada pria berambut ekor kuda itu.

"Wow, aku tidak bermaksud mencari masalah denganmu, nona muda." Laki-laki itu malah menggodaku. Aku yang sudah naik pitam hampir saja menghajar pria itu kalau saja tubuhku tidak dipaksa mengikuti langkah Gilgamesh. Laki-laki berambut emas itu hanya terkekeh ringan menanggapi temannya yang berulah itu.

"Abaikan saja dia, dia hanya syirik karena aku berhasil membawamu kemari."

"Kalian berdua sama-sama menyebalkan." Aku menyerah. Sepertinya aku sudah benar-benar diseret ke dalam neraka.

"Begitukah? Kalau begitu aku minta maaf karena sudah bertingkah menyebalkan." Gilgamesh menuntunku duduk disalah satu stand yang tersedia, gestur wajahnya melunak. Ia nyaris tersenyum padaku. Sungguh, tubuhku terpaku pada saat itu juga.

Maksudku, ya selama aku mengenalnya. Pria itu urung tersenyum kepada siapapun. Setidaknya dihadapanku. Laki-laki itu lebih sering menyeringai. Dan senyumnya itu sungguh,

Mempesona.

Bicara apa aku ini? Sadarlah kau Arturia. Apa yang baru saja kau pikirkan tadi? Gilgamesh, mempesona? Sepertinya akal sehatku mulai terganggu. Aku memalingkan pandanganku dari Gilgamesh. Melempar pandangan pada sekelompok siswa siswi yang sedang berduyun-duyun pulang di samping lapangan. Lelaki itu sepertinya tidak mempermasalahkannya, karena sejurus kemudian Gilgamesh pergi meninggalkanku untuk menghampiri teman-temannya, mereka memulai kembali sesi latihannya.

Aku menghembuskan napas legaku. Setidaknya aku tidak lagi berdekatan dengan iblis berambut emas itu. Jujur saja, berada didekat lelaki itu sungguh membuatku merasa terancam.

'

'

'

Ciit..Ciit..Citt.

Suara sepatu berdecit kembali berdengung di telingaku. Burung-burung berterbangan kesana kemari, dan lembayung menghiasi langit senja. Sesekali aku menyematkan helaian rambutku yang terjuntai jatuh kebawah. Semilir angin sore sering sekali berhembus di waktu seperti ini. Membuatku kerepotan merapihkan helai rambut pirangku. Sekolah sudah terlampau sepi. Mayoritas murid SMA Uruk sudah meninggalkan sekolah. Hanya tersisa aku dan anak-anak basket.

Hari sudah semakin gelap. Namun aku masih setia duduk disalah di pinggir lapangan basket. Itu karena aku sudah menjadi tawanan anak-anak basket. Percuma saja kalau aku berusaha kabur darisini. Mereka selalu menahanku dan berdalih aku harus menonton permainan mereka hingga usai. Walau Gilgamesh memintaku menyemangatinya, mataku sama sekali tidak tertarik pada permainan yang pemain-pemain basket itu ciptakan. Mataku sibuk menekuni tulisan yang tercantum di dalam sebuah buku.

Barulah ketika kudengar sebuah langkah seseorang mendekat kearahku. Aku mengangkat kepalaku. Menatap nyalang seorang pria berambut emas yang tengah menunjukkan seringaian khas miliknya.

"Bagaimana permainanku hari ini? Cukup menarik untuk kau tonton, bukan?"

Aku menutup bukuku, "Aku sama sekali tidak tertarik dengan permainanmu, dan bisa kah kau melepasku sekarang? Aku ingin pulang." Setelah berkemas, memberesi buku-bukuku yang berceceran. Aku berniat beranjak dari tempatku, bermaksud meninggalkan tempat ini. Namun Gilgamesh dengan cepat menarik tanganku agar kembali duduk seperti semula.

"Ada apalagi sih? Kau masih belum puas menyiksaku, hah?!" Ucapku ketus.

"Temani aku sebentar disini." Pintanya kalem sambil menenggak air mineral. Aku hendak melayangkan protesku, namun pria itu lebih dulu menyela ucapanku dengan berkata. "Aku ingin berada sedikit lebih lama denganmu disini."

Aku menghela napas dengan kasar, "Ayolah, Gil. Kau sudah membuang waktu berhargaku. Seharusnya aku belajar dengan temanku sejak tadi. Bahkan seharusnya aku juga sudah berada di rumah sekarang. Kau sudah banyak menyita waktu berhargaku. Dan kau masih meminta waktuku untuk menemanimu?"

Gilgamesh tidak bersuara. Ia tidak membalas perkataanku. Lelaki itu memilih menundukkan kepalanya dalam-dalam seraya tertawa. Jujur, itu membuatku takut. Tawanya sungguh berbeda dari biasanya. Tawanya palsu. Nada tawa lelaki itu seperti menyiratkan kepedihan dan kesengsaraan. Karena itu, aku jadi menelan ludahku sendiri.

"Kau tidak mengerti, Artur."

"Apa yang aku tidak mengerti?" Balasku cepat.

Gilgamesh terkekeh. Ia menyandarkan tubuhnya ke pagar besi untuk menyamankan posisinya lalu menatap langit senja. Tatapannya kosong. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Tapi kali ini aku merasa sedikit khawatir padanya. Lagi-lagi ini tidak biasa dialami olehku. Seharusnya aku tetap bersikap tak acuh padanya.

Uh, ingatlah kesombongannya Artur. Jangan sampai hatimu luluh hanya karena ia tampak menyedihkan saat ini.

"Tsk, sejujurnya aku membencimu Artur. Aku benar-benar tidak menyukai kepribadianmu yang sangat berambisi menjadi orang sukses." Ungkap Gilgamesh tanpa dosa. Sudah kuduga pria ini tak patut untuk kukasihani. Karena pada dasarnya, makhluk ini memang kurang ajar.

"Hah, lalu apa kau pikir aku akan mempedulikan ocehanmu itu? Aku tidak akan mengubah sifatku dan aku tetap akan mengejar cita-citaku." Tegasku setelah menghela napas.

Gilgamesh menarik sudut bibirnya. Ia menumpukan lengannya di lutut kaki. Terlihat jantan saat ia berpose seperti itu. Jangan lupa, kesan angkuh yang tidak pernah luput darinya. Jujur saja, aku tidak habis pikir. Kenapa laki-laki ini terus bertingkah menyebalkan dan menunjukkan gestur sombong ke semua orang? Apa karena ia menyadari bahwa ia sangat berkuasa di sekolah ini?

Menyebalkan. Label 'anak dari pemilik sekolah', tampan, dan seksi itu membuat ia dipandang bak seorang dewa. Ia seenaknya berbuat semena-mena pada orang lain. Aku sangat membencinya, sangat membencinya.

"Berjanjilah padaku kalau kau takkan mengingat apa yang akan kukatakan saat ini jika aku memberitahu sesuatu kepadamu." Celetuk Gilgamesh tiba-tiba.

"Hah? Aku tidak mengerti maksudmu. Kalau kau memang keberatan. Lebih baik tidak usah memberitahuku." Ucapku enteng. Lawan bicaraku langsung menyikut perutku. Tampak kesal sekali karena perkataan seriusnya tidak ditanggapi serius olehku.

"Tsk, aku tidak sedang bercanda, bodoh."

"Terserah kau saja." Kataku mencibir. Ia tertawa. Ringan dan seksi. Lalu dengan satu gerakan. Ia meraih daguku untuk ia tarik untuk ia tolehkan kepalaku kearah dirinya.

"Kau begitu cantik, dan menyebalkan. Kau tahu? Aku juga membencimu. Sama seperti dirimu. Kau begitu lugu, payah, dan bodoh."

Tersinggung aku langsung menepis tangan kekar pemuda itu. "Apa katamu?!" Tanyaku sengit membentak pemuda itu. Dadaku terasa panas sekali. Kali ini ia sudah sangat kelewatan. Ia benar-benar sedang menguji kesabaranku. Dan ya! Kesabaranku sudah habis sekarang.

"Hahaha, selama kau masih berpendirian teguh dengan apa yang kau jadikan tujuan hidupmu. Maka aku akan terus memanggilmu orang yang bodoh." Sindirnya sekali lagi.

"K-kau..." Menggeram tertahan. Kesal setengah mati aku dengan pemuda dihadapanku ini. Dan jika ia memanggilku dengan sebutan payah maka itu benar. Hanya karena tatapan Gilgamesh yang tajam. Aku tak mampu berbuat apapun. Tak mampu menggerakan kakiku untuk melarikan diri. Tak mampu menggerakan tanganku untuk menamparnya. Aku hanya dapat memoloti dirinya dan membiarkan emosi ini terus terpendam.

Entah mengapa aku merasa aku tak pantas melakukan sesuatu yang kasar pada pemuda ini. Walau ia mengata-ngataiku. Aku sama sekali tidak mampu berbuat apapun. Bukan hanya karena tatapan tajamnya saja yang mengunci semua pergerakanku. Tapi aku merasa bahwa ada sesuatu dibalik perkataannya. Itu menahanku untuk melakukan hal yang kasar padanya.

"Jadi, apa setelah kau mendengar ceritaku. Kau akan mengubah jalan pikiranmu itu?"

...

...

...


Lelaki itu terdiam. Walau sekujur tubuhnya terbalut luka. Ia tetap tidak melawan. Bahkan ia sama sekali tidak ada niat untuk melawannya. Ia terus membiarkan cambukan dan pukulan pedas menghantam tubuhnya. Sesekali ia terkekeh. Melihat betapa sengit wajah orang yang tengah mengirimkannya siksaan fisik. Lucu melihat orang itu murka hanya karena permasalahan yang sepele.

Kenapa?

Karena ia senantiasa menolak perintah pria itu. Lelaki itu membencinya. Sangat. Orang yang akan ia benci sampai ke alam kubur. Ia bersumpah akan membalasnya suatu saat nanti. Bukan hanya karena apa yang ia alami saat ini. Tapi ia berniat balas dendam karena pria itu telah menyakiti orang yang teramat ia sayangi. Ya ia akan membalasnya. Tidak dengan siksaan fisik. Melainkan ia akan menunjukkan pada pria itu. Bahwa ia punya jalan hidupnya sendiri.

Ia memiliki pendirian yang sangat teguh untuk itu. Ia telah bersumpah pada ibunya sendiri.


Basah

Ya basah. Tubuhku bagaikan terbungkus oleh air. Napasku terhenti hingga tercekat. Rasanya dadaku sesak sekali karena kekurangan napas. Aku tak kunjung bisa membuka mataku. Semuanya gelap. Aku tidak bisa melihat apa-apa sekarang. Tidak ada yang bisa kurasakan ataupun kuingat. Aku hanya bisa merasakan tubuhku yang tenggelam di dalam genangan air tanpa bisa bernapas sedikitpun.

Aku takut. Sangat takut.

Sebenarnya aku sedang berada dimana?

Segenap tenaga sudah berusaha kukerahkan agar dapat menggerakan satu saja anggota tubuhku. Namun tetap nihil hasilnya. Jantungku berdegup lebih cepat. Perasaan dan hatiku digerayangi rasa takut yang luar biasa. Sungguh aku takut, kematian seolah-olah sudah berada dihadapanku. Sebenarnya apa yang sedang kualami?

Tuhan, tolong aku.

"ARTURIAA..!" Seorang laki-laki berteriak menyebut namaku setelah ia mendobrak pintu.

Jantungku seolah ingin melompat keluar karena kaget. Seiring dengan itu, rasa takutku semakin menjadi-jadi. Suasana disekitarku berubah menjadi tegang. Itu karena aku tidak tahu apa yang sedang kualami.

Detik selanjutnya aku harus menyerukan ucapan syukurku. Karena tak lama kemudian, tubuhku terangkat oleh sepasang tangan kokoh. Tubuhku ditarik hingga terseret ke ubin lantai. Dengan itu, nyawaku terselamatkan.

Aku menghirup napas sebanyak-banyaknya. Paru-paruku terasa nyeri sekali. Tubuhku bagaikan terisi penuh dengan air. Selepas tubuhku dari bathup, aku terbatuk hebat. Kubuka kelopak mataku hingga nampak cahaya kuning yang berasal dari lampu kamar mandi. Nyatanya aku sedang mandi. Tapi apa-apaan yang barusan itu?

Terlebih...

"Gilgameshhh! Gilgameshh! Gilgamesh! Gil..." Aku melingkarkan tanganku di leher lelaki yang mengangkat tubuhku itu dengan sangat erat. Seakan-akan aku tidak rela berada jauh darinya. Aku mengkhawatirkan lelaki itu. Lebih dari apapun. Bahkan lebih dari diriku sendiri yang beberapa waktu lalu sempat terancam nyawanya.

"Aku ada disini, sayang. Aku ada disini." Gilgamesh menyahut untuk menenangkanku. Setelah dirasa situasinya sudah pas, Gilgamesh kembali bersuara,

"Kau kenapa, sayang? Tolong jawab aku! Kau membuatku khawatir setengah mati." Gilgamesh berusaha mendorong tubuhku. Mengatur jarak diantara kami agar ia dapat melihatku. Tapi enggan kulakukan. Aku malah mempererat pelukanku. Menghimpitkan tubuh polosku dengan Gilgamesh.

"Kau terluka, gil... Kau terluka." Dalam hitungan detik, tangisku pun akhirnya pecah di dalam dekapan pria itu. Air mata merembas keluar membasahi kaos yang dikenakan Gilgamesh.

Gilgamesh terdiam untuk beberapa jenak. Ia hanya bisa meremas bahuku yang bergetar. Setelahnya ia berbisik, "Apa yang terjadi sayang..."

"Aku mengingat semuanya gil... Aku mengingat kejadian itu. Sekolah, kau, dan orang itu... orang yang melukaimu." Aku menjawab dengan suara yang bergetar.

Kali ini Gilgamesh benar-benar terdiam, tidak membalas perkataanku lagi. Ia hanya menaruh satu tangannya di belakang kepalaku untuk ia elus. Ia kemudian meletakkan kepalanya di leher jenjangku. Ia sepertinya tahu apa yang kumaksudkan. Kuharap begitu.

"A-aku benci orang itu, Gil.. aku sangat membencinya." Kataku membuat pernyataan.

"Ssh, jangan mengingatnya lagi, sayang. Itu sudah lama sekali."

Tanganku bergerak, menelesuri tubuh Gilgamesh hingga sampai di perut pria itu. Berhenti disana untuk meraba-raba bagian itu. Memastikan tidak ada keanehan disana. Bukan tanpa sebab aku melakukan hal itu. Itu karena ingatanku yang kembali terputar.

Ingatan itu merekam setiap kejadian mengerikan yang lelaki itu alami. Awalnya aku tidak pernah menyangka. Gilgamesh, yang notabane adalah siswa paling nakal sekaligus anak dari pemilik sekolah. Ternyata memiliki kehidupan yang amat pahit untuk ia jalani.

Itu terbongkar sejak laki-laki itu berkata 'aku tidak mengetahui apa-apa tentangnya.' Sejak saat itu, dan mulai saat ini. Hatiku bersumpah akan selalu menyanyanginya. Walaupun akal sehatku masih berusaha menyangkalnya.

Persetan dengan ingatanku yang menyebutkan bahwa aku adalah seorang Heroic Spirit. Nyatanya aku sekarang hidup di dunia ini. Aku harus berjuang untuk kehidupanku yang sekarang.

"Gilgamesh..." Panggilku parau. Pria itu hanya berdehem singkat untuk mengisyaratkan bahwa aku telah mendapat perhatian penuh darinya.

"Tolong aku untuk mengingat semuanya."

Gilgamesh tercenggang sebentar. Mulutnya diam. Namun rengkuhannya, secara perlahan ia eratkan. Ia membenamkan kepalanya pada puncak kepalaku. Ia menciuminya. Seakan menegaskan bahwa ia akan melakukannya sesuai perintahku.

"Aku mencintaimu, Artur."

"A-aku juga Gil... Sangat..."


TBC


haha sepertinya di dalam fic ini tidak akan ada konflik yang begitu rumit. suka? jangan lupa review ya! Reviewmu adalah semangatku ^^