Hay apa kabar?
Saya senang karena masih ada yang ingat fic ini.
Mudah-mudahan kalo emang ngga ada halangan. Saya bakal update tiap hari. Ya kan ini Repost. Jadi saya udah punya bahan buat di update.
Tapi ngga janji juga 11 chapter bakal selesai dalam 11 hari.
Berhubung mau lebaran. Dan saya harus pulang kampung. Mungkin bakal sedikit mulur untuk chapter tengah sampai akhir.
Kenapa ngga update pas di sana?
Saya usahain ya. Tapi ngga janji. Suka lupa sama yang beginian kalo udah ngumpul sama keluarga. Hahaha
Terima kasih udah mau baca dan review. Saya sayang kalian.
OPERA
.
KYUMIN
HAEHYUK
Other Cast
.
Rated : T
.
GS/Typo(s)/Membosankan/Pasaran/Tidak sesuai EYD/OOC
.
Semua Cast milik diri mereka masing-masing, orang tua, dan Tuhan YME.
Saya hanya meminjam nama mereka saja.
.
Don't Like Don't Read
.
Don't Bash The Chara
.
^Happy Reading^
.
.
.
.
"Sedang apa kau disini Min?"
Itulah kalimat pertama yang Sungmin dapatkan. Wanita anggun itu langsung saja menghampiri putrinya. Melirik sekilas pada pria yang tak pernah ia temui sebelumnya.
"Kau teman anakku?" Lanjutnya. Kini pandangannya benar-benar tertuju pada Kyuhyun.
"Saya Cho Kyuhyun. teman kuliah Sungmin." Kyuhyun membungkuk hormat. Memperkenalkan dirinya sesopan mungkin.
"Ah! Kau teman Sungmin? mengapa aku tak mengenalmu?"
Kyuhyun tersenyum menanggapi ucapan Leeteuk. Menggaruk tengkuknya salah tingkah. "Mungkin anda sedang sibuk. Saya pernah sesekali mengunjungi rumah anda."
Leeteuk mengangguk paham. Istri Lee Kangin itu tak melarang Sungmin berteman dengan siapapun, selagi teman putrinya adalah anak baik dan sopan, itu tak masalah. Dan Kyuhyun sudah menunjukan nilai tambah di depan Leeteuk.
"Benar juga. Aku memang sangat sibuk mempersiapkan pernikahan Sungmin."
"Eomma~." Leeteuk mengangkat sebelah alisnya mendengar rengekan Sungmin. Tertawa kecil melihat putrinya yang sedikit kesal.
"Saya sudah tahu tentang rencana pernikahan Sungmin. saya ikut bahagia, bagaimanapun teman saya akan menikah sebentar lagi."
Demi Tuhan, Sungmin rasanya ingin sekali memukul mulut Kyuhyun. Apa pria itu sedang membuat lelucon. Atau Kyuhyun memang benar benar bahagia melihat Sungmin akan segera menikah dengan Donghae?.
"Sebaiknya kau panggil aku ahjumma saja. itu lebih baik Kyu."
Kyuhyun tak membantah. Ia mengangguk setuju. Kyuhyun melirik Sungmin dari sudut matanya. Ia tau jika Sungmin tak setuju dengan ucapannya barusan.
"Jadi kalian sedang apa?"
"Aku dan Kyuhyun baru saja dari toko buku, hanya saja buku yang kami cari tidak ada."
Leeteuk mengangguk mendengar jawaban Sungmin seraya melihat jam tangannya. "Eomma harus pulang sekarang. Apa kau ingin pulang bersama eomma?"
Sungmin menggeleng. "Tidak eomma. Aku dan Kyuhyun akan pergi toko buku lain"
"Aku akan mengantar Sungmin jika kami sudah mendapatkan buku itu."
Leeteuk tersenyum mendengar ucapan Kyuhyun. Setidaknya Sungmin tak sendiri. Dan Leeteuk tak perlu khawatir. "Baiklah, jangan pulang terlalu larut."
Sungmin mencium pipi Leeteuk. Memberinya sebuah pelukan sebelum mereka berpisah. "Aku tau. Eomma hati-hati dijalan."
.
.
.
.
"Dari mana kau tau Kyuhyun tak dirumah?"
Donghae mengedikan bahunya. Ia menyesap teh hangat buatan Eunhyuk. Pandangan matanya tak pernah lepas dari sosok perempuan yang tengah bergulat dengan beberapa peralatan masak di dapur.
"Sungmin yang memberitahuku." Jawab Donghae.
"Eh? Sungmin?" Eunhyuk membalikan tubuhnya. Mengernyit bingung pada Donghae.
"Aku menghubungi Sungmin, dan dia bilang sedang di toko buku bersama Kyuhyun"
Eunhyuk mengangguk paham, tak begitu heran karena Sungmin adalah teman kuliah Kyuhyun. Eunhyuk melepas apron merahnya. Berjalan menuju meja makan membawa sepiring nasi goreng buatannya.
"Maaf, hanya ada ini. Aku belum sempat berbelanja."
"Tak masalah." Donghae mengambil sendoknya. Mengaduk kecil nasi gorengnya agar mendingin. "Apapun itu asal kau yang membuatnya tak akan menjadi masalah." Pria itu mulai menyuap nasi berbumbu itu. mengacungkan jempol kirinya pada Eunhyuk.
"Ya setidaknya aku senang karena kau tidak memilih-milih soal makanan."
Donghae tertawa, Ia tau jika Eunhyuk sedang mengeluh tentang Kyuhyun. Eunhyuk sering bercerita jika Kyuhyun sangat pemilih terhadap makanan. Pria itu selalu menolak sayuran.
Sesekali pria itu menyuapkan nasi gorengnya pada Eunhyuk. Tanpa sadar kedua sudut bibirnya terangkat. Tak ada yang lebih menyenangkan jika makan malam di temani orang yang kau cintai.
"Kau sudah memberi tahu Kyuhyun?"
"Apa?"
"Hubungan kita?"
Perempuan itu menggeleng pelan. Menuang air putih pada gelas Donghae yang tersisa setengah. "Aku tak akan melakukannya."
"Kenapa?"
Eunhyuk menaruh piring kosong milik Donghae. Merapikan meja makan sebelum mereka berpindah ke ruang tengah. Menikmati acara televisi yang tak begitu menarik bagi mereka.
Eunhyuk menyandarkan kepalanya di bahu Donghae. memejamkan matanya sebentar saat Donghae mengecup pucuk kepalanya. "Aku tak ingin Kyuhyun tau. Hubungan kita adalah salah."
Donghae menatap Eunhyuk tak mengerti. "Jadi mencintaiku adalah salah."
"Aku mencintai orang yang sudah memiliki calon istri."
"Bahkan hubungan kita sudah terjalin lama sebelum aku dan Sungmin bertunangan."
"Lima bulan itu singkat Hae."
Donghae menegakan posisi duduknya menghadap Eunhyuk. "Terasa singkat karena kita saling mencintai. Dulu kau sendiri yang memintaku agar hubungan kita tak di ketahui siapapun termasuk Kyuhyun, adikmu sendiri" Donghae menghela nafasnya pelan. "Jika tak seperti itu, aku rasa hubungan kita tak serumit ini. aku tak perlu menyetujui pertunanganku dengan Sungmin."
"Kau bilang bertunangan dengan Sungmin adalah permintaan terakhir kakekmu sebelum beliau meninggal bukan? aku tak ingin kau menjadi cucu yang durhaka." Eunhyuk menarik nafasnya. Menggenggam tangan Donghae dengan lembut. "Aku merasa tak pantas untukmu. Aku tak ingin kau di cemooh karena memiliki kesasih yang hanya orang biasa sepertiku"
Donghae melepas genggaman Eunhyuk. Menangkup wajah Eunhyuk, memaksa perempuan itu untuk menatapnya lebih dalam. "Kau berfikir kau tak pantas untukku? Bukankah semua manusia memiliki derajat yang sama dimata Tuhan?"
"Aku mencintaimu apa adanya seorang Cho Eunhyuk. Kau tau? Aku tak pernah segila ini mencintai seseorang." Eunhyuk bisa melihat rahang Donghae yang mengeras. "Kau benar. Kakek hanya memintaku dan Sungmin bertunangan. Bukan menikah."
Eunhyuk ingin menanggapi ucapan Donghae, namun bibir pria itu sudah lebih dulu membungkam mulutnya. Melumatnya sedikit kasar membuat Eunhyuk sedikit terdorong ke belakang.
.
.
.
.
.
"Tidurlah. Jika sudah sampai, aku akan membangungkanmu."
Sungmin tak menjawab. Makin mengeratkan pelukannnya di lengan Kyuhyun. Ia sudah mengenakan jaket milik Kyuhyun. Namun malam ini terasa lebih dingin dari hari biasanya.
Hari sudah hampir mendekati tengah malam. Tak banyak penumpang dalam bus yang mereka tumpaki. Hanya beberapa saja, itupun tak lebih dari sepuluh orang.
Kyuhyun dan Sungmin memilih duduk dibangku belakang. Perjalanan menuju halte dekat rumah Sungmin bisa dibilang memakan waktu lama. Dan menyuruh Sungmin untuk tidur sepertinya tak buruk.
"Bagaimana jika nanti aku tak mau bangun?"
Kyuhyun mengeratkan genggamannya ditangan Sungmin. mengusap punggung tangan itu dengan ibu jarinya. "Aku akan menggendongmu. Jadi tidurlah."
Sungmin hanya diam. Menikmati sentuhan jari Kyuhyun di tangannya.
"Kyu."
"Hm?"
"Aku lelah."
"Aku tau. Tidurlah."
"Jika aku tertidur, kau tidak boleh membangunkanku."
"Aku akan menggendongmu."
"Appa dan eomma sepertinya akan menikahkanku dengan Donghae secepatnya" Kyuhyun mengernyit bingung. Apa Sungmin sudah terlelap dan mengigau?. Wajahnya menunduk menatap wajah manis Sungmin. mata rubah itu masih terbuka memandang kosong kedepan.
"Aku lelah harus berpura-pura menyetujui perjodohanku. Aku tak mencintainya, kau tau bukan?"
Kyuhyun belum ingin menjawab. Masih menatap Sungmin tak mengerti sampai akhirnya manik mata mereka bertemu.
"Hanya kau yang bisa menggagalkan semuanya Kyu."
"Aku?" Kyuhyun bertanya lirih.
"Kita menikah. Kau bisa membawaku pergi."
Mata Kyuhyun membulat tak percaya. Menikah? Pergi? Awalnya Kyuhyun ingin memarahi Sungmin. Menikah bukanlah lelucon. Namun tatapan Kyuhyun melembut saat melihat titik air di sudut mata Sungmin.
"Itu tak lucu Ming. Bahkan jika aku melakukannya, dengan cara apa aku menghidupimu nanti?"
"Kau bisa bekerja." Jawab Sungmin cepat.
Kyuhyun melepas tautan tangan mereka. mengusap sayang pipi berisi Sungmin. Ia meraih sebelah tangan Sungmin. Mengecup punggung tangan Sungmin cukup lama.
"Kita bahkan belum menyelesaikan kuliah kita. Jika hanya mengandalkan ijasah SMA penghasilanku tak akan cukup Min."
"Jadi aku harus mengulur sampai kita menyelesaikan kuliah?"
"..."
Sungmin melepas genggaman tangan Kyuhyun. kembali menatap kosong kedepan. "Aku lelah Kyu. jika kau tak berniat hidup bersamaku, untuk apa kau menyatakan cinta padaku. Kau bahkan tau aku sudah bertunangan dengan Donghae."
"Aku mencintaimu."
"Lalu apa susahnya menikahiku? Membawaku pergi jauh dari sini?"
Kyuhyun menghela nafas. Tangannya terulur merengkuh tubuh Sungmin membiarkan gadis itu terisak kecil di bahunya. "Aku akan menikahimu. Tapi tolong bersabarlah. Masih ada cara yang lebih baik selain membawamu pergi Ming."
"Aku hanya lelah Kyu."
Kyuhyun mengusap punggung Sungmin. menenangkan perempuannya. "Kau pikir aku tak lelah? Aku mencintai kekasih orang yang sudah banyak membantuku dan keluargaku. Donghae hyung adalah orang yang sangat aku hormati Ming. Dan aku merebutmu darinya."
Sungmin terdiam. Pelukannya mengerat pada tubuh Kyuhyun. Tangan Kyuhyun terus mengusap punggung Sungmin. saat dirasa perempuan itu lebih tenang. Kyuhyun melepas pelukannya. menatap lekat wajah Sungmin dan berakhir di bibir plum itu, mengecupnya perlahan.
Kyuhyun menjauhkan bibirnya. Menatap wajah Sungmin yang memerah, mengusap bibir pink itu dengan jarinya. "Bersabarlah. Aku akan melakukan hal yang terbaik." Kyuhyun menghapus garis bening di pipi Sungmin, merapikan poni perempuan itu yang sedikit berantakan. "Jika tak ada lagi yang harus ku lakukan, aku akan menikahimu dan membawamu pergi. Percayalah"
.
.
.
.
.
"Kau baru pulang?"
Kyuhyun mengangguk tanpa menoleh pada Eunhyuk. Ekor matanya melirik jam yang tergantung di dinding dapur. Pukul 11 malam. Ia bersandar di tepi meja makan. Melihat kakak perempuannya yang tengah mengambil apel di lemari pendingin. "Ambilkan satu untukku."
Setelah membuang botol kosongnya. Kyuhyun mengambil toples snack diatas meja. Berjalan menuju ruang tengah di ikuti Eunhyuk.
Mereka duduk berdampingan. Kyuhyun menyamankan kepalanya di bahu Eunhyuk. Menikmati cemilannya seraya bermain ponsel.
"Kau pergi dengan Sungmin?"
Kyuhyun mengangguk. "Kami pergi mencari buku dan makan malam."
Eunhyuk mengangguk. "Bagaimana?"
"Apa?"
Eunhyuk mengambil remot televisi. Mencari-cari tayangan yang menurutnya lebih menarik dari serial drama.
"Beasiswamu. Kau tak akan menolaknnya bukan?"
Kyuhyun mengedikan bahunya. "Entahlah."
"Kau jangan membuang kesempatanmu begitu saja Kyu. Karena kesempatan tak akan datang dua kali"
Helaan nafas terdengar dari Kyuhyun. Jujur saja, dapat melanjutkan kuliah ke tingkat S2 adalah impiannya. Apalagi ini adalah beasiswa, Kyuhyun tak harus memikirkan biaya pendidikan. Bahkan Kyuhyun memiliki tabungan lebih untuk keperluan hidupnya nanti. Selebihnya Kyuhyun akan bekerja paruh waktu.
"Bagaimana jika setelah lulus nanti aku bekerja saja. tak usah melanjutkan S2 ku?"
"Kau yakin? Bukankah dulu kau selalu mengatakan jika kau sangat mengimpikan menjadi mahasiswa Oxford?"
Lagi, Kyuhyun menghela nafasnya. Ia belum bisa memutuskan semuanya sekarang. "Akan aku pikirkan lagi."
Eunhyuk mengangguk. Tak ada perbincangan lagi diantara mereka. Kyuhyun sibuk memainkan ponselnya, sementara pandangan Eunhyuk kembali fokus pada layar televisi.
"Bagaimana pekerjaan noona?" Kyuhyun kembali membuka suaranya.
"Baik. Tumben sekali menanyakan pekerjaan noona."
Kyuhyun mendengus. Mengerucutkan bibirnya membuat Eunhyuk tergelak. Adiknya itu tak pantas memasang wajah seperti itu. sedari kecil pria berambut coklat terang itu tak pantas bersikap imut. Namun Kyuhyun memiliki wajah tampan. Sangat!.
"Noona terlalu sibuk bekerja. Sampai lupa mencari calon suami. Ingat, noona sudah tidak lagi muda."
Eunhyuk berdecih. "Aku terlalu sibuk bekerja?"
"Apa aku salah? Noona bekerja pagi sampai sore. Kadang membawa pekerjaan kerumah. Apa itu namanya bukan sibuk bekerja."
"Aku bekerja untuk kita." Eunhyuk memukul kepala Kyuhyun. Menarik rambut Kyuhyun yang dirasa terlalu panjang. "Potonglah rambutmu. Ini sudah sangat panjang."
Kyuhyun menepis tangan Eunhyuk. "Jangan mengalihkan pembicaraan."
Eunhyuk mencebik. "Aku ingin melihatmu sukses terlebih dulu. baru memikirkan pendampingku kelak. Aku percaya Tuhan telah menyiapkan pasangan untuk noona."
"Kau harus ingat kata appa. Kita harus menjadi orang sukses. Terutama kau, karena kau adalah seorang pria." Lanjut Eunhyuk.
Kyuhyun terdiam. Mengingat apa yang diucapkan ayahnya sebelum beliau benar-benar pergi meninggalkan mereka. "Aku ingat. Dan noona juga harus ingat pesan eomma. Carilah calon suami yang baik, dan benar-benar mencintaimu." Kyuhyun tersenyum. "Noona tau, aku berharap noona mendapat suami seperti Donghae hyung. Dia sangat baik. Bahkan ia menolak uang ganti biaya rumah sakit saat kecelakaan eomma dan appa dulu."
Eunhyuk tak menjawab. Pikirannya mendadak kosong. "Sepertinya bukan hanya aku. Appa dan eomma pasti mengidolakan menantu seperti Donghae hyung."
.
.
.
.
.
"Harusnya kau tak usah repot-repot seperti ini, aku bisa berangkat sendiri."
Donghae tersenyum manis. Membenarkan letak kaca mata hitam yang ia pakai. Pria bermarga Lee itu pagi ini terlihat begitu tampan dengan kemeja biru gelap yang membalut tubuhnya. Tatanan rambut yang memperlihatkan dahinya membuat Sungmin terpesona. Tak bohong, Donghae memang tampan.
"Aku tak merasa kau repotkan Min."
"Tapi kau bisa terlambat berangkat kerja oppa."
"Tak masalah. Eunhyuk akan menghandle semuanya nanti."
Sungmin tersenyum tipis. "Kau lebih muda dari Eunhyuk eonni. Harusnya kau memanggilnya noona."
Donghae terkekeh. menoleh pada Sungmin lalu kembali fokus pada laju mobilnya. "Kita lahir di tahun yang sama."
Sungmin mendengus. Membuat Donghae makin terkekeh. Perempuan itu kembali menatap luar. Tak berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya, jalanan tetap padat walau cuaca terlihat mendung, mungkin hari akan turun hujan. Sungmin mendesah lirih. Ia benci hujan.
"Bagaimana kuliahmu?"
Sungmin menoleh pada Donghae. "Sejauh ini semua baik-baik saja."
"Buat orang tuamu bangga dengan hasil yang memuaskan. Kau mengerti?"
Sungmin tersenyum lembut. Mendadak ia merasa hatinya menghangat. Sungmin adalah anak tunggal, jadi pantas jika ia mendambakan kasih sayang seorang kakak. Bersama Donghae ia bisa merasakan bagaimana rasanya mendapat perhatian sebagai adik.
Donghae ikut tersenyum. Tangannya terangkat mengacak poni Sungmin. "Kau seperti adikku saja." Ucapnya gemas.
Donghae merutuki kebodohannya saat mendapati raut wajah Sungmin yang berubah. Pria itu merasa ada yang salah pada ucapannya, tak seharusnya ia berkata seperti itu.
"Kau kenapa?" Tanya Donghae basa-basi.
"Huh." Sungmin membuang mukanya. "Tak apa." Ia tersenyum. Memeluk kedua lengannya dan mengusapnya kecil.
Aku berharap kau memang benar-benar menganggapku sebagai adik. Selebihnya kita tinggal menjelaskannya pada orang tua kita masing-masing.
.
.
.
.
.
Sungmin melambaikan tangannya pada Kyuhyun. Sudah lebih dari tiga puluh menit ia menunggu di kantin. Beruntung karena ia bertemu Hongbin. Adik kelasnya itu dengan senang hati menemaninya makan dan mengobrol.
"Noona maaf, Yongji mengirimku pesan. Dia sudah menungguku di perpustakaan."
"Benarkah? Kita belum lama mengobrol."
Hongbin tersenyum. "Aku akan menemui noona besok." Ia berdiri, memakai tas ranselnya lalu meneguk kembali minumannya yang masih tersisa.
"Ya! Kau mau pergi." Ucap Kyuhyun. Pria itu baru saja sampai di meja tempat Sungmin dan Hongbin berada.
"Yongji sudah menungguku hyung."
"Aku bahkan baru datang."
Hongbin menepuk pundak Kyuhyun. Menampakan senyum lebarnya. "Besok aku traktir hyung minum bir. Sekarang aku harus menemui Yongji." Hongbin berlari meninggalkan Kyuhyun dan Sungmin. Menghiraukan teriakan Sungmin yang tak setuju dengan rencana pria bermarga Lee itu.
"Maaf membuatmu lama menunggu?"
"Tak masalah. Hongbin menemaniku jadi aku tak merasa bosan."
Kyuhyun tersenyum. Hongbin sangat dekat dengan Sungmin. Tak heran jika pria itu bisa membuat Sungmin tak merasa bosan. Hongbin adalah adik kelas yang menyenangkan.
"Untuk apa Ibu Kim memanggilmu?"
"Tidak. Hanya urusan kecil tentang tugas akhir ku." Jawab Kyuhyun. "Kau mau memesan sesuatu?"
"Tidak aku sudah kenyang. Kau saja"
Kyuhyun beranjak untuk memesan makanan. Ini sudah melewati jam makan siang. Belum ada satupun yang mengisi perutnya selain roti isi yang di buatkan Eunhyuk tadi pagi. Ia sangat sibuk mengurus sesuatu dengan beberapa Dosen.
"Tadi pagi Donghae hyung mengantarmu ya?"
"Dia menjemputku."
"Dia sangat baik." Kyuhyun menyuap bimbimbabnya. Meneguk air setelah mulutnya tak lagi dipenuhi nasi campur itu.
"Dia memang baik. Aku sangat nyaman dengannya."
Kyuhyun tersenyum. Ia tak tau bagaimana hubungannya bersama Sungmin nanti. Jika memang mereka tak akan bersama, setidaknya Sungmin mendapat orang yang tepat seperti Donghae.
Kyuhyun mengambil ponselnya yang bergetar. Menggerakan jemarinya membalas pesan masuk dari Eunhyuk. perempuan itu memberi kabar akan pulang terlambat malam ini.
"Aku ke toilet sebentar."
Sungmin mengangguk. Ia mengambil sendok Kyuhyun. Menyuap bimbimbab milik Kyuhyun kedalam mulutnya.
Ponsel Kyuhyun kembali bergetar. Satu pesan dari Eunhyuk. Sungmin yang memang sudah terbiasa membuka pesan di ponsel Kyuhyun tak perlu berfikir dua kali untuk membaca pesan Eunhyuk. Kyuhyun tak akan memarahinya.
'Jadi kau sudah menyetujui aplikasi beasiswa itu. noona ikut senang mendengarnya'.
Sungmin mengernyit bingung. Aplikasi beasiswa? Untuk apa? Untuk siapa? Bukankah sebentar lagi mereka akan lulus?
Mau melanjutkan S2 ya?
Sungmin tersenyum, kekasihnya itu memiliki otak yang pintar, jadi pilihan Kyuhyun melanjutkan kuliahnya adalah hal yang tepat.
Penasaran dengan percakapan Kyuhyun dan Eunhyuk sebelumnya. Sungmin membaca pesan yang Kyuhyun tulis. Ia terdiam, membaca perlahan tiap kata yang Kyuhyun tulis untuk Eunhyuk.
'Aku akan pulang cepat. Aku juga sudah menyetujui aplikasi beasiswa dari Oxford University. Dosen Kim banyak membantuku'.
.
.
.
.
.
T.B.C
