Cintaku dimulai sekarang. Akankah cinta ini tetap bertahan hingga nanti?

Naruto Kishimoto Masashi

Fuyu no Minuet NatsumiHyuuga

.

.

.

.

.

.

Ponsel Samsung Galaxy SII putih itu berdering. Menandakan waktu pagi sudah tiba. Ponsel itu perlahan diraih oleh sebuah tangan putih besar. Tangan kirinya terus ia paksa untuk berusaha meraih ponsel itu. Akhirnya ponsel itu sudah berada tepat di depan hidungnya. Dan betapa terkejutnya ia bahwa baterai ponselnya kini tersisa 25 persen.

Masih dibayangi oleh rasa kantuk yang luar biasa, Sasuke menatap keluar jendelanya.

Salju turun perlahan, setitik demi setitik menambah tebal salju di jalanan depan apartemennya. Ia ingat sesuatu. Sebuah kertas bergambar seorang wanita berkulit putih dan pipi merahnya yang begitu cantik. Sekarang, foto itu berada di meja kecil pendek di samping tempat tidurnya. Dan harus ia akui, wajah Hinata yang sedang tersenyum itu benar-benar manis.

Walaupun tidak terlalu mengenal Hinata, tapi gadis itu sukses menanam perasaan hangat yang menggelitik di dalam dadanya. Ia juga tidak tahu bahwa Hinata memiliki perasaan lebih dari sekedar perasaan hangat pada Sasuke.

Dan sekarang, di saat ia masih terbaring di kasur putihnya di dalam kamar seluas 16 meter persegi. Ia masih berpikir tentang kejadian kemarin, bagaimana ia mengambil foto Hinata tanpa diketahui oleh orangnya sendiri.

Akhirnya, ia memutuskan untuk mandi selama 15 menit. Setelah itu, ia akan pergi ke apartemen Hinata yang tidak terlalu jauh dari apartemennya untuk mendapat sarapan gratis, mengingat Sasuke tidak ada uang untuk membeli keperluan. Sekitar 8 hari lagi ia akan mendapat bantuan dana dari kakak laki-lakinya, Uchiha Itachi; seorang penerus perusahaan keluarganya.

Sembari melilitkan handuk putih di pinggangnya, Sasuke kembali mengecek ponsel yang ia charge tadi.

2 MISSED CALLS

Menghela napas, Sasuke menelepon kembali nomor yang tertera di layar ponselnya. Setelah beberapa kali nada memanggil, terdengar suara seorang wanita. Suara kuat dan nyaring itu memenuhi telinga Sasuke si pecinta hening di pagi hari.

"Geez, Sasuke-kun! I've been called you for 2 times! Kok tidak kau angkat tadi?"

Mengendus tak suka, Sasuke hanya bisa pasrah menanggapi suara manja wanita di seberang saluran tersebut.

"Aku tadi sedang mandi."

"Oh, oke. Hehe… maaf ya, Sasu-koi? Aku kangen saja kok. Sudah lama tidak mendengar suaramu sih…"

"Whatever. Baiklah, aku harus kuliah. Mungkin aku akan meneleponmu malam nanti."

Sasuke bersiap pergi dan mengambil tas punggung biru tuanya. Dikepitnya ponsel tersebut di telinganya sementara ia bergegas memakai sepatu.

"Eeeeeeh? Chotto matte! Aku belum selesai bicara denganmu, Sasu-koi! Aku masih kang-"

"Oh ya, jangan meneleponku seharian ini sampai aku meneleponmu. Aku sibuk. Jaa."

Dari seberang, terdengar suara wanita itu yang mengoceh tidak jelas mencegah Sasuke memutuskan salurannya. Dan untuk Sasuke, suka atau tidak suka, ia harus menerima keputusan Sasuke untuk memutuskan saluran mereka. Toh, kalaupun dia tidak terima, dia bisa memasukkan nomor ini ke daftar black list di ponselnya.

"-ngan ditutup du-"

Sasuke memutuskan pembicaraan mereka cukup sampai di situ. Sasuke bukanlah pria seribu kata, Sasuke lebih suka menikmati ketenangan dan saling mengerti. Kalau memang tunangannya sendiri tidak bisa mengerti, maka dia bisa keluar dari kehidupan Sasuke sekarang juga.

…tunggu. Tunangan?

Ya, tunangan. Seseorang yang memiliki hubungan dengan lawan jenis ataupun sejenis –bagi yang peminat—yang berjanji mengikat hubungan mereka satu sama lain, selangkah proses sebelum jenjang pernikahan. Dan Sasuke merupakan salah satu dari orang-orang tersebut.

Setelah memasukkan ponsel tipis itu ke dalam sakunya, pria bersurai hitam ini sudah siap pergi ke apartemen lupa memakai syal dan jaket, Sasuke keluar dari pintu apartemennya. Oh, tak lupa mengunci pintu. Hal yang wajib bukan?

.

.

.

.

.

.

Gugup

Senang

Bingung

Tiga perasaan manusiawi yang pasti dimiliki setiap insan di dunia. Termasuk Hinata.

Hinata duduk termangu di sofa ruang tamunya yang lumayan besar. Ia telah menyelesaikan beberapa tugas dari mata kuliah Bahasa Inggris. Kurenai-sensei lah dosennya. Dan Kurenai-sensei salah satu dosen favorit dari urutan 2 terbawah. Walaupun Kurenai-sensei baik dan pelajarannya mudah dimengerti, namun tugas rumah yang diberikan jumlahnya tidak bisa dibilnag sedikit. Dan kini, Hinata harus melanjutkan kembali tugasnya yang tertunda sejak jam 11 malam. Dan harus ia akui, ia telah menyelesaikan tugasnya dengan sangat professional.

Dan sekarang, Hinata harus siap menyambut kedatangan pujaan hatinya. Senang bercampur gugup, gugup bercampur bingung.

Ia melihat jam tangannya. Sebentar lagi Sasuke-san datang.

Hinata bangkit menuju ke kamar dan berdiri di depan cermin. Dipandanginya tubuh dari ujung rambut sampai ujung kaki. Wajah bulat halus dan manis, dua bola mata ungu bening yang indah ia tatapi dalam-dalam. Mungkinkah Sasuke akan memujinya lagi hari ini?

Menyadari bunyi jarum detik yang tak hentinya bersuara, Hinata segera tersadar dari lamunannya dan segera mempersiapkan dirinya untuk membuat beberapa sandwich dan cokelat panas. Mengingat perkataan Sasuke akan ketidaksukaannya terhadap rasa manis, Hinata mengingatkan dirinya untuk mengurangi gula di mug Sasuke.

"Ehm! Ganbarimasu!"

Hanya dalam waktu 10 menit, semua sudah tersedia. Sandwich keju dan dua gelas cokelat panas. Dengan bangga, ia menata sendiri hiasan di ruang tamu agar lebih indah. Dengan bahagianya, ia berlari menuju pintu depan. Terdengar bunyi bel.

Dan di depan pintunya, kini sang samurai favoritnya sudah datang. Bahkan kado dari santa pun tidak se-membahagiakan ini. There is no better day than this day, pikirnya.

"Hinata-san, ohayou."

"O-ohayou, Sasuke-san! O-omachishitemashita! Silahkan masuk. Kau pasti kedinginan di luar."

"Ojama shimasu."

Layaknya tuan rumah yang baik, Hinata mengajak Sasuke yang sudah kedinginan langsung menuju ruang tamu yang sudah disediakannya sandwich dan cokelat panas.

"Oh? Sandwich, hm? Maaf aku merepotkanmu."

"Ah, t-tidak masalah. Silahkan duduk dan nikmati sandwich-nya, Sasuke-san."

Sasuke mengulurkan tangannya dan meraih sandwich keju betapa terkejutnya ia saat makanan ala barat itu memasuki liang mulutnya, menyentuh alat sensor perasa di dalam mulut. Sandwich ini enak!

"B… B-bagaimana rasanya?"

"Hn. Lumayan. Mungkin akan lebih baik jika kau menaruh tomat lebih banyak."

Walau hanya lumayan, tapi satu kata pujian saja sudah bisa membuat hati Hinata berloncat-loncat kegirangan. Bahkan kini pipinya merona indah.

"Oh ya Hinata-san, cokelat panas ini pas rasanya."

Dan seperti dugaannya, there is no better day than this day. Dengan cokelat panas yang sukses, Hinata berhasil mengawali harinya dengan berbagai kebahagiaan.

.

.

.

.

.

.

.

Dewi Fortuna nampaknya selalu memihak Hinata hari ini. Dari pagi hingga sekarang, tak henti-hentinya keberuntungan berdatagan silih berganti. Mulai dari samurai-sama yang menghabiskan waktu sarapan berdua dengannya, berangkat bersama ke universitas, Sir Thomas yang mengizinkan masuk ke kelasnya, nilai sempurna dari Kurenai-sensei, tapi dan sekarang…

Di studio tempat Hinata bekerja paruh waktu sebagai model majalah, dia kembali bertemu dengan Sasuke. Dan betapa terkejutnya ia saat mengetahui bahwa Sasuke merupakan juru foto pemotretan majalah mereka kali ini!

"E-eh? S-Sasuke-san, apa yang kau lakukan di s-sini?" salah besar jika Hinata tidak bahagia. Justru ia merasa sangat bahagia. Biasanya, tempat kerjanya tidak terlalu ramai. Tapi kini, sejak Sasuke datang, semua model See It! perempuan tampak sangat antusias melihat kedatangan juru foto berwajah oriental yang sangat tampan.

Mulai dari Yamanaka Ino, si model cantik blasteran prancis dan jepang. Rambut pirang platinum dan bola mata baby blue yang sangat menawan mungkin bisa menarik perhatian Sasuke.

Lalu ada juga Shion, model cantik bermulut pedas dengan tatanan rambut seperti Hinata. Postur tubuhnya yang proporsional serta bibir seksinya juga bisa saja menarik perhatian Sasuke kan?

Serta model-model lainnya yang tidak kalah cantik mungkin akan menjadi penghambat geraknya roda Dewi Fortuna Hinata kali ini. Ya kan?

"Hinata-san. Aku menjadi juru foto di sini mulai hari ini. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik."

Hinata benar-benar terkejut! Holy shit! Ini bukan mimpi kan? 'mulai hari ini'? berarti… berarti dia bisa bertemu Sasuke setiap hari jumat? Yes! Yes! YEEEES! Rupanya roda Dewi Fortuna tidak berhenti bergerak sampai di sini saja!

"A-aa, sou ka."

"Ets, ets! Hinata honey, don't use yer language 'ere, I couldn't catch what ye were sayin'. Sudah kubilang sebelumnya, kan? Un?" Deidara, pemimpin pemotretan See It! yang tiba-tiba muncul dengan logat prancis inggris yang lucu didengar. Deidara memang orang yang eksotis. Setengah rambut pirangnya diikat ke atas dan ia juga menutupi sebelah matanya dengan penutup mata hitam bergambar awan merah. Entah apa maksudnya.

"M-maaf, bos. Aku lupa…"

"Yah, no worries, honey. You're the role model after all. Santai saja, oke?"

Hinata terdiam. Role model katanya? Aku? R-role… model?

Berbagai erangan kecewa para model memenuhi ruangan. Mulai dari Ino yang mengoceh bahasa prancis, Shion yang membentak-bentak Deidara, dan beberapa model lain yang hanya bisa menatap iri Hinata.

Memang bukan rasa yang enak apabila dirimu dijadikan sasaran rasa iri dan kesal. Namun, Hinata terlalu bahagia saat ini, tidak memperdulikan apapun di sekelilingnya. Sasuke menjadi juru foto pribadinya kali ini! Kami-sama, hontou ni arigatou…

Ditambah dengan agensi majalah See It! ingin menampilkan edisi musim dingin yang menampilkan sisi manis dari seorang wanita di tengah dinginnya salju, mereka memutuskan Hinata yang manis untuk menjadi model utama kali ini.

Hinata tidak tahu, bahwa ada satu orang juga yang sedang berbahagia di ruangan ini. Orang yang sudah mengabadikan wajahnya di sebuah lembaran kertas. Ya, Sasuke. Sang pujaan hati Hinata ini juga merasa senang. Dia lebih suka memotret Hinata yang manis itu ketimbang memotret model-model bermake-up tebal. Sesuatu yang natural membuat kecantikan seseorang menguar. Juga, Hinata adalah wanita yang sudah memiliki tempat khusus secara tidak sadar di dalam sanubarinya.

"Baiklah, bisa kita mulai, Hinata-san?"

"Ehm!" sambut Hinata dengan antusias.

.

.

.

.

.

.

.

Musim semi sudah tiba. Hinata dan Sasuke bersiap untuk pulang ke jepang. Mereka sengaja mengambil cuti kuliah untuk menghadiri acara tahun baru di kampong halaman masing-masing. Sejak mereka bekerja sama di pemotretan, perasaan Hinata menjadi lebih dalam dari biasanya. Ia lebih menyukai Sasuke lebih dari sebelumnya. Ah, tidak tepat rasanya jika disebut 'suka'. Rasa Hinata sudah mencapai 'cinta'. Begitu juga dengan Sasuke.

Seiring waktu berjalan, Sasuke semakin mengenal kepribadian Hinata yang baik dan lembut. Sangat berbeda dengan tunangannya yang memaksa dan manja berlebihan. Sasuke ingat sekali bagaimana ciuman pertamanya dengan Hinata. Serta malam yang mereka lalui bersama

.

.

.

.

"SASUKE-KUN! JANGAN! K-KUMOHON!"

Sasuke tetap mendekati Hinata dengan seringai nakal di wajahnya. Tangannya mendekati perut Hinata dan kembali menaruh jemarinya di situ

"K-KYAA! AHAHAHA! J-JANGAN! STO- AHAHAHA!"

Sasuke kambali menggelitiki Hinata. Dia sangat senang menghabiskan waktu bersama wanita berambut biru ini. Sekarang, mereka sedang berada di apartemen Sasuke. Hinata memutuskan untuk makan malam di apartemennya karena Sasuke sendiri yang memanggilnya.

"Ngh… y-yamete kudasai… o-onegai, Sasuke-kun,"

Entah kenapa tiba-tiba Sasuke merasa senang melihat Hinata yang terkulai lemas di sofa coklat miliknya. Wajah Hinata sudah merah, tatapan matanya menjadi tidak focus, dan bibir merah muda itu terbuka setengah, mengeluarkan nafas-nafas dan erangan yang sedikit erotis saat ia menggelitiki Hinata.

Hinata yang menyadari Sasuke yang tengah melamun, mendekatkan wajahnya ke wajah Sasuke dan melambai-lambaikan tangannya di depan Sasuke.

"S-Sasuke-kun? K-kau tidak apa-apa?"

Semu merah Hinata kian menyempurnakan kecantikannya. Juga menyempurnakan hasrat tersembunyi Sasuke selama ini. Dan layaknya orang yang tersihir, Sasuke tidak berpikir apapun saat ia memajukan wajahnya ke depan.

Dan Hinata terlalu terkejut untuk bereaksi.

Bibir Sasuke kini menempel erat di bibir Hinata.

Percikan di hati masing-masing tidak dapat dihindari. Hinata sangat kaget dengan perlakuan Sasuke yang tiba-tiba seperti ini. Ciuman itu juga ciuman pertama Hinata. Dan ia merasa beruntung, mendapatkan ciuman pertamanya dengan orang yang ia cintai.

Semakin lama, bibir Sasuke semakin memagut bibir Hinata. Dua insan ini semakin terbuai di dalam nafsu. Hasrat bercinta yang semakin kuat, membuat Sasuke mengangkat tubuh yang jauh lebih mungil itu menuju ke kamarnya.

Mungkin ia akan menyesalli hal ini di pagi hari, mungkin Hinata juga. Tapi apa yang terjadi sekarang, bukan cuma didasari oleh nafsu belaka, mereka bertindak atas nama cinta.

"Sasuke-kun, a-aku…"

Hinata menghentikan kegiatan mereka sebentar dan menatap dalam mata hitam lelaki di depan wajahnya. "A-aku…"

"Hinata, aku mencintaimu."

Hinata tidak perlu mengatakan apa-apa lagi, cukup tersenyum lembut dan memeluk Sasuke, pria berambut hitam ini mengerti jawaban Hinata. Dan ia akan meneruskan apa yang telah dimulainya di ruang tamu tadi.

Kini, mereka resmi sebagai sepasang kekasih.

.

.

.

.

.

.

"Sasuke-kun, kau sudah siap?"

"Hn."

Dan mereka menuju keluar dari apartemen, sembari membawa koper dan backpack, mereka bersiap menuju jepang dan merayakan tahun baru. Dan Sasuke sudah mempersiapkan kejutan untuk Hinata sesampai mereka di jepang.

Dan kali ini, mereka akan bersama memulai hubungan di musim semi. Tapi, musim semi pasti ada badai, bukan?

Kali ini, Hinata dan Sasuke tidak menyadari badai yang akan datang menghamapiri mereka, bersiap menghancurkan bunga cinta diantara dua sejoli…

.

.

.

.

.

.

.

14 halaman, euy! 154! Biasanya Natsu ga pernah buat fic sepanjang ini. Tapi entah kenapa, lagi semangat kali ini. Ehehehehehe… maaf ya kalau kelamaan update-nya. Natsu ga bisa update cepat-cepat soalnya lagi mid semester nih.

Banyak yang tanya, ini bakal dibuat chapter 2? Tentu. Ini chapter berikutnya :D

Ada juga yang nanya, Hinata & Sasuke seumur? Seumur, tapi Sasuke lebih tua 5 bulan.

Untuk masalah Deidara, penulisannya Natsu tulis sesuai british slang seperti Hagrid di HarPot. Reader tahu kan? Pasti tahu laah :D

Di fic ini cuma terfokus sama Hinata dan Sasuke dan tunangan Sasuke. Soalnya chap depan bakalan nampilin tunangan Sasuke. Segitu aja deh bocorannya.

Hayo, ada yang bisa nebak ga siapa tunangan Sasuke? Yang bisa nebak, boleh request :P

Terserah request apa, mau sequel, boleh. Mau SasuHina oneshot boleh. Asal jangan SasuSaku atau NaruHina :D

Yoshaaa! Karena ini sudah ekstra 14 halaman, mohon review dari saudara-saudara sekalian yaa :D maaf kalau fic ini kurang berkesan atau ga sempurna.

REVIEW!