"Ne… Nakamura-san?"

"Kenapa Kayano-chan?"

Fuwa, Kanzaki, dan Okuda ikut mendengar.

"Kau pernah berpikir tidak?"

"Berpikir apa?"

Semua menunggu.

"Kenapa Nagisa-kun cantik sekali?"

"Hah?"

.

.

SANDI-SANDI MASALAH

~Kali Ini Gender Lagi~

Assassination Classroom © Matsui Yuusei

Fanfiction by Mashiro Io

Warning:

Cerita ini terinspirasi dari Manga Chapter 89 (Chapter 90 ke atas dianggap belum terjadi), kemungkinan menjadi AU, ada beberapa hints yang mungkin menjurus ke sho-ai, dan peluang OOC besar terjadi! Typho? Apalagi. Jika tidak suka, silahkan tutup page ini! Jika masih penasaran, silakan diRnR!

.

.

.

Isogai mengetukkan pensilnya beberapa kali. Matanya mengerjap sebelum akhirnya menyiratkan sesuatu. Nakamura Rio, si pirang yang mendapat nama sandi Gadis Inggris mendapat ide.

"Kalau belajar bersama bagaimana? Ya, tidak perlu di perpustakaan sekolah juga."

"Lalu di mana?"

"Jangan di rumahku saja. Aku tidak punya apa-apa."

Semua kembali berpikir.

"Aku pikir, kalau menampung semuanya, rumah siapapun tidak akan cukup."

Nagisa, genderless yang tadi siang sempat membuat sedikit kehebohan memberi pendapat.

"Kalau rumahmu, Nagisa-chan?"

"Jangan!"

"Kan sudah dibilang kalau satu rumah tidak cukup."

"Kenapa tidak dibagi saja?"

Si merah usil, Karma, akhirnya bersuara.

"Kalian terlalu banyak berpikir. Bagi saja jadi dua. Cewek kumpul di salah satu rumah yang cewek sedangkan yang cowok, di rumahku saja."

"Otakmu jalan juga."

Karma terkekeh ringan. Seperti biasa, omongannya terlalu pedas kalau tidak mau disebut terlalu jujur.

Memang sih, tumben si Takaoka Palsu alias Terasaka benar. Bahkan Isogai, sang ketua kelas yang semester lalu mendapat predikat nilai IPS tertinggi meskipun dia masih saja disebut sebagai anggota komite miskin, cukup lama berpikir.

"Hey, Nagisa-kun."

"Apa?"

"Kau mau ikut yang mana?"

Karma bertanya dengan satu telunjuknya menunjuk ke arah gerombolan Nakamura Rio.

"Karma-kun…"

"Hm?"

"Berhenti mempermainkanku!"

('3')

Setelah akhirnya mereka sepakat belajar bersama dan tiba di rumah tujuan, akhirnya mereka belajar. Gerombolan perempuan yang kata Nagisa tidak memiliki sense perempuan normal karena bisa-bisanya tidak menyukai laki-laki keren seperti Yuuji yang kaya dan keren, walau dia sendiri juga tak yakin akan menyukai laki-laki bertipe seperti itu seandainya pun dia terlahir sebagai perempuan yang diidam-idamkan ibunya, dengan cekatan membuka buku.

"Aku tidak mengerti yang ini."

Hinano, gadis yang rumornya akan menjadi perawan tua karena terlalu mengharapkan Karasuma-sensei, menunjuk salah satu halaman pada LKS Matematikanya.

"Ah, itu mudah kok. Pertama kau beginikan dulu."

Si gadis pirang mulai mengajari. Yah, bagaimanapun juga dia adalah cewek yang terpintar di kelas ini.

"Kalau yang ini?"

Kanzaki, Tuan Putri Gamers yang kemarin-kemarin jadi korban penculikan menanyakan salah satu soal Biologi. Hinano yang baru saja menyelesaikan soal Matematika, meski baru setengah langsung mendongak dan menjawab penuh semangat.

"Kamu benar-benar mengerti biologi ya."

Hinano tersenyum. Katanya, mempelajari biologi sama saja seperti mengenal kehidupan binatang. Ya, namanya juga pecinta binatang.

"Oh iya, katanya waktu itu Hinano-chan sempat membatalkan rencana pembunuhannya Okajima-kun ya?"

"Oh, yang mana ya?"

"Sebelum liburan musim panas."

"Ooh. Ha ha ha."

Hinano tertawa dengan manisnya. Ia akhirnya ingat dengan rencana pembunuhan mesum yang dibuat Okajima. Ya, rencana yang benar-benar mesum sampai ia lupa bagaimana akhirnya ia jingkrak-jingkrak di atas tumpukan majalah mesum bersama Koro-sensei. Ah, bukan salahnya rencana itu gagal. Salahkan Koro-sensei yang berhasil menangkap kumbang rusa albino.

"Eh, jadi gara-gara itu nama sandimu Kumbang Rusa Berjuntai?"

"Entah kenapa aku yakin yang memberi nama itu Si Akhir dari Kemesuman."

"Aku malah berpikir yang memberi nama itu Nagisa-kun."

Kayano yang tadinya diam mendengarkan ikut berbicara.

"Kalau Okajima-kun sih mungkin akan memberimu nama yang berhubungan dengan bokong, dada, paha…"

Maaf Kayano-chan, memangnya ayam goreng? Ah, jangan lupa kalau dia masih sensitif dengan topik penamaan ini.

"Benar juga. Ah, ayo lanjut belajar dulu! Aku ingin baca novel baru pemberian Koro-sensei."

"Ne… Nakamura-san?"

Nakamura yang baru saja menghentikan obrolan sedikit penting itu menoleh.

"Kenapa Kayano-chan?"

Fuwa, Kanzaki, dan Okuda ikut mendengar.

"Kau pernah berpikir tidak?"

"Berpikir apa?"

Semua menunggu.

"Aku baru sadar, kenapa Nagisa-kun cantik sekali?"

"Hah?"

Sedetik…dua detik berlalu.

"Oh, kamu cemburu Kayano-chan?"

"Bukan, bukan begitu. Maksudku,…"

"Maksudmu, dia laki-laki kan. Tidak wajar untuk seorang laki-laki memiliki paras yang manis begitu. Apalagi kalau rambutnya Nagisa digerai. Oke, lupakan. Aku bisa mimisan."

Nakamura menutup hidungnya.

"Kupikir spesies seperti itu wajar kok, semacam Hideyoshi –"

"…"

"dan aku yakin kau sudah ingin mengganti seragam Nagisa dengan seragam maid serta memberinya bandana kotak-kotak berpita, Nakamura-san."

"Aku tidak sebejat Karma!"

"Ya, kau lebih bejat."

"Fuwa!"

Serius, kalau masalah membully Nagisa, serahkan saja pada duo KarmaRio. Mereka tidak bisa dikalahkan kalau ada tantangan untuk membuat Nagisa menjadi perempuan cantik sejagat. Dimulai dari mengganti celana sekolah Nagisa menjadi rok yang panjangnya hanya 25 cm di atas lutut, rompi biru Nagisa menjadi bolero biru senada, sepatu Nagisa menjadi sepatu boot berpita, juga kunciran rambutnya menjadi bermacam-macam model rambut berpita-pita. Wah, sungguh loli sekali. Ya, rencana yang sangat bagus kalau saja itu bukan hanya sebuah rencana.

"Tapi, ada benarnya juga sih. Aku juga baru sadar itu setelah berenang di kolam itu."

Kanzaki menyela. Semua kembali membayangkan saat-saat Nagisa mengagetkan mereka karena bertelanjang dada dan hanya memakai celana renang. Ya, memangnya sejak kapan laki-laki perlu swim-suit?

"Ne, ne, apa jangan-jangan Nagisa-kun itu sebenarnya adalah perempuan yang dikutuk jadi laki-laki saat dia dilahirkan."

Si penggila manga kembali bersuara.

"Jangan bilang kau sedang membayangkan kalau Nagisa adalah pemeran utama pada manga My Boyfriend is A Vampire. Tolong Fuwa-san, imajinasimu berlebihan."

"Uuuh, aku kan hanya menebak. Habis, memang benar kan?"

"Nagisa-kun bukan vampir. Lagipula, dia masih punya ibu kan?"

"Kan yang bisa mengutuk bukan cuma Ibu saja. Koro-sensei saja bisa jadi mahluk gurita kuning mesum berlendir, tolol pengecut lagi."

Tolong Fuwa-san, saat ini Koro-sensei sedang bersin dan demam mendadak gara-gara perkataanmu.

"Ah, atau Nagisa-kun adalah salah satu hasil rekayasa genetika. Orang tuanya ingin anaknya itu cantik, tapi juga ingin punya anak yang bisa meneruskan keturunan Shiota. Jadi, mereka mencampurkan gen cantik dari Ibu Nagisa ke dalam bayi laki-lakinya. Jadilah, Nagisa-kun, si otoko yang loli sekali."

"Okuda-san, itu terlalu cepat. Rekayasa genetika belum dilakukan saat kita lahir."

"Belum dipublikasikan, lebih tepatnya."

"Menurutku, Nagisa-kun sebenarnya ingin jadi perempuan."

"Kanzaki-san, kupikir sikap Nagisa-kun sudah sangat membuktikan kalau dia tidak mau jadi perempuan."

"Ah, aku tahu! Mungkin sebenarnya Nagisa-kun itu perempuan."

"Itu lebih tidak mungkin lagi!"

"Memangnya kalian pernah lihat?"

"Benar juga ya?"

"Menurutku, Nagisa-kun salah masuk pintu pemilihan gender saat ia bereinkarnasi. Aku yakin malaikat penjaga yang menyuruh Nagisa-kun untuk lahir berwajah seram, jadi Nagisa-kun saat itu ketakutan dan asal masuk pintu tanpa melihat kalau sebenarnya itu pintu untuk laki-laki, bukan perempuan."

"…"

"…"

"…"

"Kayano-chan!"

Yak, si imut berambut hijau ini rupanya salah satu korban film barat yang berisikan teori-teori reinkarnasi yang bahkan tidak ada yang tahu sejak kapan dia mulai menontonnya.

"Tapi, benar kan?"

Tampaknya kalimat ini akan menjadi trend quote sebentar lagi.

"Lupakan! Kita terlalu banyak membahas Nagisa-kun hari ini."

"Ya, lupakan topik gender Nagisa-kun!"

"Lupakan Nagisa-kun!"

"Ayo belajar!"

"…"

"…"

"…"

Sepuluh menit kemudian.

"Sepertinya,…"

Nakamura bersuara.

"SUSAH."

Ya, topik gender Nagisa-kun memang susah sekali diakhiri.

('0')

Di sebuah rumah sederhana, enam orang menatap satu orang yang tengah menutup hidungnya.

"Nagisa-kun, hentikan bersinmu sebelum kami menyuruhmu keluar dari rumah ini!"

"Hai…haitchi.."

Fin

Next Chap = Obrolan Para Lelaki

Pojok Curhatan Io:

Saya senang. Sungguh. Fiksi pertama saya mendapat apresiasi yang luar biasa. TuT

Di otak saya, masih ada beberapa imajinasi yang ingin saya tuangkan ke dalam genre ini. Saya tidak tahu apakah chapter ini sudah lucu atau tidak. Tolong, saya hanya mengetik apa yang ada di otak saya. Setelah saya baca ulang, "Kok tidak lucu yah?".

Sekali lagi, saya bukan seorang humoris tetapi tertarik untuk membuat fiksi seperti ini. Hahaha, semoga teman-teman bisa menikmati. Terima kasih yang sudah membaca sampai di sini.

Ah, dan juga koreksi saya jika saya salah! Review boleh, PM juga boleh. Terima kasih kepada orang-orang yang telah menginspirasi!

Salam,

Mashiro Io