Apa kabar semua! Saya kembali! Pasti ada yang kangen sama saya! XD *dibakar* Oke, ini chapter 2 yang kalian tunggu-tunggu! (Reader : Nggak ada yang nunggu!)
Oh, iya. Saya ubah judul fict ini karena judul yang lama merasa nggak cocok.. =_= Tapi saya merasa judul yang sekarang juga sedikit aneh. Yang punya saran untuk judul fict yang bagus, bisa beri tahu saya lewat PM…


-.-.-.-.-.-.-.-.-

Kingdom Hearts
© Square Enix

Boys Revolution!
© KuroMaki RoXora

Warning :
AU, OOC, abal, genre kecampur-campur(?) dll

Don't like, don't read!
I already warn you. Flamer will be gone. Clear enough? Good.

Happy Reading~


~Namine Pov~

Aku melangkahkan kakiku dengan malas. Entah kenapa kepalaku terasa berat. Tidak, aku tidak sedang sakit. Akhir-akhir ini aku jadi lebih mudah lelah dan mengantuk. Kemarin aku ke dokter, tapi dokter Squall bilang aku tidak terserang penyakit apapun. Katanya aku hanya terlalu banyak berpikir. Padahal tidak. Setiap hari aku kan bermain games Tekken 6 di PSP-ku. Itupun hanya setengah jam dan tidak sampai malam. Berarti aku tidak kurang tidur kan?

Ditambah dengan pelajaran-pelajaran membosankan, rasa ngantukku kadang tidak bisa ditahan lagi. Tapi, untung saja Kairi menyiram air kewajahku sehingga aku tidak tertidur di kelas. Terima kasih atas bantuanmu Kairi. Walau aku harus pulang dalam keadan basah, tapi lebih baik begitu daripada tidur dikelas dan mendapat hukuman bukan?

Seperti biasa, pelajaran hari ini tetap saja membosankan. Walau ini sekolah khusus Wizard dan Hunter, tetap saja keseharian siswa-siswi disini tidak luput dari mata pelajaran seperti : kimia, matematika dan fisika.

Kadang aku ingin menghajar orang yang membuat ke-3 mata pelajaran itu. Sungguh aku malas mendengar ocehan para guru tentang 3 hal itu. Geez.. Tidak bisakah sehari saja aku bebas dari ke-3 ancaman hidupku itu? Yah walau malas, aku cukup ahli dalam 3 pelajaran itu. Walau Xion dan Kairi lebih unggul dariku.

"Jadi, jangan lupa. Selesaikan persamaan ini dulu.. lalu.. bla.. bla.. bla.." Miss Ariel, guru matematika, kembali mengeluarkan ocehannya. Aku melirik jam tangan anti air berwarna hitam milikku, pukul 14.30. Sebentar lagi pulang dan aku bisa menikmati libur akhir pekan!

Kriingg… Bel berbunyi. Aku menghela napas lega.

"Baik. Sekian pelajaran hari ini, jangan lupa kerjakan pr yang tadi saya katakan dan kumpul minggu depan. Sekarang kemasi barang-barang kalian, selamat siang"

"Selamat siang, miss" Anak-anak langsung berhamburan keluar kelas sehingga menyisakan aku dan seseorang, entah siapa.

Aku mengemasi barang-barangku. Sesampainya dirumah, aku ingin langsung merebahkan tubuhku ke atas kasur dan pergi ke pulau kapuk!


~Normal Pov~

"Namine?" Suara lembut bak sutera terdengar. Namine menoleh dan tampak seorang gadis cantik berambut obsidian pendek, menatapnya intens. Namine merasa agak sedikit risih ditatapi dengan tatapan seperti itu sebenarnya.

"Ya, kenapa Xion?" tanyanya. Namine sedikit heran, tumben Xion mau berbicara dengannya. Xion adalah sekretaris OSIS sekaligus primadona sekolah setelah Kairi. Kedua gadis itu adalah gadis manis dan cantik. Otak mereka encer, bentuk tubuh mereka proporsional. Bagi Namine, keberadaan mereka seperti malaikat. Tapi, dari kedua gadis itu yang paling dikagumi Namine adalah Xion.

Xion selalu sibuk mengerjakan tugas OSIS, dan menghindar dari fans fanatik-nya. Salah satu fans Xion sampai jatuh cinta segala adalah, Axel. Nah, sesibuk itulah Xion sampai dia dan Namine hampir tak pernah berbincang.

"Tadi wajahmu terlihat sedikit pucat, kau sakit?" tanyanya. Terlihat dari matanya kalau dia cemas.

"Ng-nggak. Aku cuma mengantuk saja. Akhir-akhir ini aku jadi gampang capek dan mengantuk.. Tapi aku nggak sakit, kok!"

"Hmm.. Begitu. Aku punya obat pengusir rasa ngantuk dan kelelahan, lho. Tapi ada dirumah, nanti aku antarkan ke rumahmu"

"Oh iya, ayahmu kan dokter! Arigatou nee~ Tapi, nggak usah repot-repot, aku yang kerumahmu saja"

"Nggak apa. Aku nanti mau ke rumah Olette untuk pinjam novel, rumah kalian kan dekat jadi sekalian kuantar obat itu.."

"Hmm.. Baiklah! Terima kasih, Xion! Aku duluan!" kata Namine sambil berjalan ke luar kelas seraya melambaikan tangannya kearah Xion. Xion membalasnya dengan senyum dan melambaikan tangannya juga.

Kelas benar-benar sepi sekarang. Hanya ada Xion yang masih tersenyum ke arah Namine keluar tadi. Perlahan senyum manisnya memudar berganti dengan senyuman yang tak bisa diprediksikan.


.

"Tadaima~" seru Namine saat memasuki rumahnya.

"Okaeri" balas seorang pemuda yang sedang duduk disofa tanpa memalingkan pandangannya dari layar PSP.

"Ah, Rox. Sedang main apa? Mama sama Papa mana" Namine langsung duduk disebelah Roxas, saudara sepupunya yang sedang menginap dirumahnya. Walau sepupu, Roxas benar-benar mirip dengan Ven sampai membuat orang sulit membedakan mereka, kecuali Namine dan keluarga mereka tentunya.

"Persona 3. Mereka ditugaskan untuk pergi ke Land of Departure lusa, jadi sekarang mereka sedang membeli tiket pesawat. Kemarin kau lupa mematikan PSP-ku. Lihat, bateranya tinggal segini!" omel Roxas sambil menunjuk layar PSP. Baterianya tinggal.. setengah batang.

"Ma-maaf! Aku kan ketiduran! Tapi, berterima kasihlah padaku karena kemarin aku menaikkan level persona-mu sampai level 34!" kata Namine bangga sambil menepuk-nepuk dadanya.

"Untuk apa? Kau kan belum save!"

"Hah?" Namine mengambil PSP itu dan dia melihat info persona Orpheus yang merupakan milik Roxas.

"GYAA! Ke-kenapa jadi level 27?" jerit Namine, "Pa-padahal aku sudah susah payah naikin levelnya!"

"Berisik banget! Sana, aku mau main!" Roxas langsung merebut PSP itu dari tangan Namine.

"Cih! Aku mau online facebook saja!" Namine berjalan sambil menghentakkan kakinya dengan keras ke lantai dua.

"Roxas, kenapa kau selalu membuatnya kesal. Aku capek setiap hari rumah ini diisi teriakan kalian berdua, tahu" keluh Ventus yang baru masuk rumah.

"Sudahlah, Ven. Mereka kan masih anak-anak, wajar kalau sering bertengkar" jawab seorang wanita cantik dibelakang Ven, Fuu.

"Oh. Kau Fuu" kata Roxas singkat.

"Rox, sudah pernah kukatakan padamu kan? Soal memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan 'kakak'. Apa kau lupa?" tegur Ven. Dia kesal karena Roxas tak bersikap sopan pada orang yang lebih tua.

"Ooh, soal itu.." gumam Roxas, lalu jari-jarinya kembali memainkan PSP dengan gesit.

'Bo-bocah ini…!' batin Ven. Urat kemarahan sudah muncul di kepalanya. Fuu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka.

"Hey, aku mau ke kamar Namine dulu ya"

"HAAH!"

Baru saja Fuu mengatakan itu, terdengar teriakan dari kamar Namine. Langsung saja Roxas, Ven dan Fuu berlari menuju kamar Namine.

"Nam! Ada apa?" seru Ven saat ia mendobrak kamar Namine. Di kamar, Namine sedang duduk diatas kasur sambil terpaku pada layar laptop.

"Lho? Kok pada disini semua?" tanya Namine polos saat melihat ke-3 orang itu sudah berada dikamarnya.

"Ta-tadi kau berteriak, makanya kami kesini" jawab Fuu.

"O-ooh.. soal itu…" Wajah Namine memerah. Ia langsung menatap kembali layar laptopnya. Roxas mengangkat sebelah alisnya. Ia mendekati Namine dan berniat melihat apa yang membuat Namine berteriak sampai segitunya.

Facebook

Wall

Marluxia Flower Boy : Ogawa Namine, aku menyukaimu. Maukah kau jadi pacarku?
Like . Comment
12 People like this

"…" Namine diam sambil memalingkan wajahnya yang memerah. VenFuu diam karena bingung apa yang terjadi. Sementara Roxas terdiam sata melihat post di dinding Facebook Namine. Wajahnya kelihatan kurang senang. Oh my, jiwa cousin complex-nya kambuh.

"Cih, sudah kubilang jangan dekati Namine lagi. Tetap saja keras kepala. Kau tolak saja dia, Nam"

"Me-memang mau kutolak. Lagipula, aku nggak suka cowok yang cinta bunga. Kesannya kayak.. banci?"

"Baiklah, kembali bermain PSP" kata Roxas sambil keluar kamar. Ven mengikutinya, sementara Fuu duduk di kasur sambil senyam-senyum melihat Namine yang dengan agak sedikit kesal menghapus post itu dari dindingnya.

Tok.. Tok..

Ven masuk ke kamar lagi lalu berkata, "Nam, ada temanmu datang"

"Ah, iya! Xion!" Namine langsung lari menuruni tangga. Lalu dengan cepat menuju keluar rumah.

"Xion! Maaf membuatmu menunggu!"

"Nggak apa, aku kan cuma mau mengantarkan ini" Xion menyerahkan sebuah kantong plastik berisi sebuah botol berukuran kecil.

Sementara itu seorang pemuda berambut silver, Riku melihat mereka.

"Huh? Apa yang dilakukan Sekretaris OSIS di depan rumah Namine?" gumamnya pelan.

"Makasih, Xion!" seru Namine sambil memeluk Xion. Mata Xion melebar. Lalu tersenyum lembut. Senyuman tulus dari hatinya. Lalu ia tersentak saat mengingat sesuatu. Suatu kejadian yang membuat hatinya panas. Senyumannya nyaris jatuh jika tidak ia tahan.

"Iya, tapi Namine… lepas dong, sesak nih..!"

"Hehe~ Maaf!" Namine langsung melepas pelukannya.

"Ah, aku lupa. Sudah dulu ya, aku mau ke rumah Olette"

"Ah, baiklah! Daah!" Namine melambaikan tangannya ke Xion yang mulai berjalan meninggalkan rumahnya. Xion balas melambaikan tangan, lalu melanjutkan langkahnya.

Dirasa sudah jauh dari rumah Namine, Xion menghentikan langkahnya. Kepalanya menunduk, kedua tangannya meremas rok renda putih yang ia kenakan, "Maaf ya, Namine.. Aku benar-benar tidak ingin menyerahkan Vanitas pada siapapun…"


~oOo~oOo~oOo~

"HATCHII!" Namine tiba-tiba bersin. Saat ini dia, Roxas, Ven dan Fuu sedang ada di ruang santai. Roxas masih tetap bertahan(?) dengan PSP-nya, Ven sedang menonton televisi dan Fuu sedang bermain piano walau tidak semahir Namine.

'Kok perasaanku nggak enak ya?' batin Namine. Lalu ia menggelengkan kepalanya dengan keras.

"Coba minum setengah, ah! Setengah lagi sebelum tidur saja!" Namine mengambil botol yang diberikan Xion tadi, lalu meminumnya setengah botol.

"Roxas, aku pergi jalan-jalan sebentar. Awasi Ven supaya dia tidak melakukan 'itu' pada Fuu" Roxas mengangguk dan menyeringai iblis pada Ven. Ven bergidik saat melihat tatapan mata Roxas dan merasakan atmosfer ruangan itu menggelap.

"Ngg… Lebih baik aku membuat teh saja.." Dengan agak takut ia berjalan pelan ke arah dapur.


.

"Hmm~ Sekarang sebaiknya kemana ya?" gumam Namine. Ia melipat tangannya dibelakang kepalanya. Ia menengadahkan wajahnya ke arah langit.

Langit…

Sky…

Sora…

"Nee-chan! Di dekat tebing itu, ada bunga yang bagus! Kuambil buat nee-chan, ya!" kata seorang anak berambut brunette spike dan berusia sekitar 8 tahun, sambil berlari ke arah sebuah tebing yang cukup curam.

"Hati-hati, Sora!" Dibelakangnya muncul seorang gadis berambut pirang, berkulit pucat dan bermata sapphire yang berlari mengejar bocah brunette itu.

'I-itu aku…?' batin Namine terkejut. Ia merasa seperti melihat pantulan dirinya dicermin saat melihat gadis tadi.

"Nee-chan tenang saja! Aku nggak akan ja-" Tiba-tiba bocah itu terpeleset.

"SORA!" Gadis pirang itu mencoba menggapai tangan bocah itu.

Terlambat. Bocah itu jatuh ke tebing itu. Dengan posisi kepala yang jatuh lebih dulu.

DEGH!

"He-hentikan…" Namine memegang kepalanya yang terasa sakit. Dia tidak mau mengingat kejadian saat ia sedang berkemah di hutan bersama adik dan keluarganya. Keringat dingin membasahi wajahnya. Tubuhnya gemetar karena takut. Napasnya tidak beraturan.

"Oi! Kau tidak apa-apa?" Seseorang menepuk bahunya.

Namine menoleh ke arah sumber suara. Seorang pemuda dengan model rambut yang sama dengan bocah brunette tadi, "So-Sora…?" Penglihatan Namine masih rabun, sehingga ia mengira pemuda dihadapannya ini adalah adiknya.

"Hah?"

Namine menutup mata dengan kedua tangannya. Lalu melepasnya, sehingga matanya sudah terfokus. Ia melihat pemuda tadi dan ternyata itu adalah..

"Vanitas..?"

"Kau kenapa?"

Namine terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa. Apa dia harus menceritakan masa lalunya? Namine tidak mau seorang pun tahu soal ini, kecuali keluarganya. Dia juga benci jika ada orang lain yang ikut campur masalahnya.

"Tidak apa. Ehe.. Cuma ngantuk, kurang tidur kemarin soalnya"

"Kau yakin?" Namine mengangguk.

"Ooh.. Hey, kau mau ikut kami main?" tawar Vanitas sambil mengarahkan jempolnya ke arah lapangan sepak bola dibelakangnya. Namine melihat di lapangan itu ada Aqua dan beberapa temannya yang laki-laki.

"Kenapa enggak? Soal sepak bola, aku kan jagonya!" seru Namine sambil berlari ke arah lapangan.

"Dia itu.. Kalau soal sepak bola, pasti matanya langsung melek. Tomboi-nya udah keterlaluan kayaknya…" Ya ampun. Vanitas bener-bener nganggep Namine kurang tidur barusan… ==

Permainan bola itu dibagi menjadi 2 regu. Regu 1 : Tidus, Vanitas, Squall, Saix dan Hayner. Regu 2 : Namine, Riku, Axel, Pence dan Terra.

"Ayo! Terra!" seru Aqua menyemangati kekasihnya dari pinggir lapangan.

"Woi, Aqua! Kenapa nggak mendukungku?" seru Namine.

"Kau kan bukan pacarku!" seru Aqua. "Tapi aku temanmu!" balas Namine.

Permainan sempat berhenti karena terjadi perdebatan antara Namine dan Aqua. Lalu permainan kembali berlanjut saat Terra melerai mereka.

Tidus terus menggiring bola, lalu hendak mengopernya ke arah Vanitas. Tapi keburu diambil Namine.

"Hahaha! Aku akan mencetak gol!" Namine berlari ke arah gawang dijaga Hayner dan hendak menendangnya. Vanitas berlari di belakang Namine. Dia berjaga-jaga jika bola nanti kena tiang gawang dan memantul ke belakang, ia akan langsung menggiringnya ke arah gawang regu 2. Strategi bagus, Vanitas!

"HYAA! SLIDING SHOOT!" Namine menendangnya dengan kekuatan penuh. Bola dengan kecepatan tinggi melesat ke arah gawang.

SYUUTT… TANG!

Benar dugaan, Vanitas! Bola terkena tiang dan karena kecepatan lajunya sangat tinggi bisa memantul ke arah berlawanan. Tapi, arah pantulannya tidak sesuai dengan yang diharapkan regu Vanitas.

Bola memang memantul ke belakang, tapi tidak mengarah ke tanah. Tapi.. KE MUKA NAMINE!

BUAGH

Tubuh Namine terhuyung dan nyaris terjatuh jika Vanitas tidak sigap menangkap tubuhnya. Vanitas memeluk Namine. Kepala Namine tertunduk.

"Ughh… Dia berat juga rupanya. Oi, Namine! Kau-…" Ucapan Vanitas terhenti saat ia merasakan ada cairan yang menetes di tangan kanannya. Namine menangis? Setahu Vanitas, Namine adalah cewek yang kuat dan nggak cengeng. Vanitas menarik tangan kanannya untuk melihat cairan itu.

Merah.

"HYAA! NAMINE MIMISAN!" seru Aqua ketakutan. Aqua langsung mengambil kotak P3K yang entah kapan ada disamping. Aqua memang takut darah, tapi kalau yang terluka adalah temannya, itu lain ceritanya.

"Whoa! Calon perawat yang baik.." kata Tidus sweatdrop, "Tapi kalau dia begitu, dia bisa mengobati calon suaminya kalau suaminya terluka…" Tidus langsung memasang senyum jahil sambil melirik Terra.

"Berisik kau, !" Terra mencak-mencak nggak jelas ke Tidus. Mukanya memerah karena malu, "Setidaknya itu lebih baik daripada kau yang diputusin sama Selphie karena sama sekali nggak sms dan nelepon dia. Lalu dengan entengnya menjawab 'aku nggak punya pulsa'!"

"Kenapa menyalahkanku? Salahkan ibuku yang nggak mau beliin aku pulsa!"

"Jangan manja, woi! Kota kita kan sudah mengijinkan anak umur 15 tahun keatas untuk kerja sambilan!"

Perdebatan Terra dan Tidus sama sekali nggak nyambung. Dari perawat, nggak punya pulsa sama kerja sambilan apa hubungannya coba? (Tidus+Terra : yang bikin dialognya tuh siapa? *nyekek Author*)


~oOo~oOo~oOo~

Setelah Namine sadar, ternyata hari sudah sore menjelang malam. Teman-temannya juga sudah jenuh menunggunya sampai bangun. Kalian tanya, kenapa mereka tidak mengangkat Namine ke rumahnya? Karena tubuh Namine sangat berat. Kurus-kurus begitu, Namine banyak makan. Author saja bingung, kenapa dia nggak gembul-gembul.

"Maaf ya. Aku sudah merepotkan kalian…" kata Namine saat dia sudah ada didepan rumahnya.

Yang lain sudah pulang, yang ikut mengantar Namine sampai ke rumahnya hanya Aqua, Riku dan Vanitas. Vanitas membiarkan tangan kanan Namine merangkul pundaknya supaya tidak jatuh.

"Nggak apa, Nam. Kami mana mungkin tega meninggalkanmu sendiri disana" jawab Aqua sambil tersenyum.

"Kalau tubuhmu nggak berat sudah kami bawa ke kamarmu. Kau memang sangat merepotkan…" kata Vanitas datar.

"…." Namine menarik tangan kanannya yang merangkul Vanitas. Lalu berjalan terhuyung-huyung masuk ke rumahnya.

"O-oi-…" Suara Vanitas terputus.

"Makasih ya Aqua, Riku sudah mau mengantarku.." kata Namine sambil tersenyum ke arah dua orang itu lalu kembali berjalan memasuki rumahnya.

"Nam, tidak berterima kasih pada Vanitas?" tanya Riku heran. (Riku : akhirnya gue bisa ngomong juga!)

Langkah Namine terhenti sesaat. Lalu berbalik dan menatap Vanitas dingin, "Nggak perlu"

BLAM.. Suara pintu terutup.

"Vanitas, kau sadar tidak kata-katamu itu keterlaluan?" kata Aqua kesal.

"…" Vanitas hanya terdiam.

"Sudah. Kita pulang saja, mungkin besok perasaan Namine sudah membaik" kata Riku sambil menghela napas.

"Semoga saja.." Mereka bertiga berjalan ke rumah masing-masing.


.

"Nam! Kau kenapa?" seru seorang wanita berambut pirang saat melihat hidung Namine disumpel kapas. Maklum lah tadi dia kan mimisan. Wanita tadi adalah Ogawa Rin, ibu Namine.

"Tadi wajahku kena bola, jadi mimisan. Gara-gara tendanganku terlalu cepat, bola itu kena tiang dan memantul lalu mengenai wajahku" jelas Namine tanpa diminta.

"Senjata makan tuan. Kau harus tahu kalau tendanganmu itu mematikan, Nam" kata Roxas sambil bergidik ngeri. Ia mengingat saat masih kelas 6 SD, Namine menendang bola dengan agak keras dan mengenai 'anu'-nya. 'Ngilu-nya bukan main!' batin Roxas merinding, takut kejadian itu terulang.

"Ya sudah, mandi lalu makan sana. Ada spageti rasa daging kesukaanmu, aku yang buat lho" kata Fuu. Ternyata dia belum pulang. Lalu Fuu dan Ven berjalan keluar.

"Aku pulang dulu ya Nam, Rox. Tante, aku pulang dulu" pamit Fuu dengan sopan ke Namine, Roxas dan Rin.

"Ya. Hati-hati dijalan" balas Rin sambil tersenyum.

Roxas dan Namine mengangguk. Namine berjalan ke arah kamar mandi.


.

Setelah selesai mandi, Namine meminum botol yang tadi diberi Xion di balkon kamarnya. Setelah habis, ia melempar botol itu kebawah.

"MEOWW!" Sepertinya botol itu mengenai seekor kucing. Namine mengabaikannya, lalu masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhya. Tidak lama kemudian, Namine langsung tertidur pulas.


To Be Continued


Kok, chapter yang ini keliatan panjang banget dan nggak menarik ya? Si Terra mana OOC banget lagi. Yahh.. No more Terra yang cool deh.. TT_TT By the way, saatnya talk show! Acara talk show ini adalah tidak lain, pembalasan review para reader! Dimulai dari Riku!

Riku : Oke deh. Review pertama datang dari Roxas Sora Namine Kairi. Yap. Fict ini pairingnya lebih mengarah ke VaniNami. Kasian sebenarnya sama Roxas. Dia pundung begitu di pojokan. Ini udah update.

Roxas : No more RokuNami… No more RokuNami… *nangis sambil ngoek-ngorek lantai*

Ventus : *sweatdrop* Abaikan, kita lanjutkan. Yang kedua dari Yami no Sora. Kenapa nggak login? Aku suka kalau kamu login, ada namaku soalnya, Ventus Hikari. Yah, kejadian kocaknya diambil author dari kehidupan sehari-hari sebenarnya. Makasih sudah review, ini sudah update ^^

Vanitas : Gue bersyukur Kuro bikin nih Fict. Ada peluang buat gue untuk mendapatkan Namine..

Namine : No way! Gue maunya sama Roxas.

Vanitas : Tak ada lagi kesempatan untuknya *menyeringai* Woi, bangun Rox! Giliran lu sekarang!

Roxas : Yang ketiga dari Rokuna Aldebaran. Fict ini menarik? Anda tahu, rancangan pertama fict ini harusnya RokuNami! Karena suatu sebab diganti VaniNami! *nangis lagi* Fict ini sudah diedit ulang, tapi Kuro saat itu mengedit ulang dalam keadaan mengantuk dan mata setengah tertutup. Jadi maklumi saja ya, ini sudah update..

Kuro : Salahkan adikku yang mainnya kelamaan. Jujur saja ya, review favorit-ku itu dari Rokuna Aldebaran. Karena dia memberi kritik yang benar-benar membangun semangat menulisku! ^^

Aqua : Yang terakhir dari LunarMetacore. Anda suka? Makasih~ Vanitas sebenarnya memang doyan es krim, tapi sukanya rasa coklat yang nggak manis. Waktu jilat sisa coklat di pipi Namine, dia nahan rasa mual di perutnya. Soalnya nanti image dia bisa rusak. Ini sudah lanjut~ ^^

Kuro : Terima kasih yang udah ngeriview. Terutama Rokuna-san. Saya berterima kasih banget. Yang chapter pertama sudah diedit lagi dan di replace. Penutup, sang tokoh utama!

Namine : Semoga chapter ke-2 ini memuaskan rasa penasaran kalian. Kita jumpa lagi di cahpter 3!

Mind to review? ^^