This Fic I Dedicated For My Readers. All of You
The Hunters
Nurama Nurmala©2012
Adventure, Fantasy
Warning : OOC, Typo(s), AU
Inspirational Thing : One Piece, Hunter x Hunter
The Hunters in 2nd Episode is Totally Reserved
Chapter sebelumnya…
"Kau… serius?" Bakama seolah mendapatkan terapi kejut ketika mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Zack.
"Ya, ia bahkan bisa mendengar teriakan hewan dan suara angin."
"Bukan itu yang kutanyakan," Bakama sungguh bingung dengan apa yang dikatakan Zack. Sudah sepuluh tahun mereka tak bertemu, namun apa yang sedang dikatakan Zack?
"Sudah dari sebulan yang lalu aku merasakan bahwa ajalku semakin dekat," Zack memandang api di tengah gua dengan pandangan sendu. "Pasti ada tujuan kenapa aku sampai mendarat di pulau ini, dan ada alasan kenapa aku sampai bertemu kedua bocah itu."
"AKU MOHON!"
Bakama dan Ken tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Zack… menundukan kepala dan mensejajarkannya dengan tanah untuk bersimpuh di depan mereka; memohon.
"KUMOHON! LINDUNGI MIN, DENGAN SELURUH NYAWA KALIAN!"
"Zack…."
Entah apa yang dilihat Zack dari Min sampai ia mau memohon seperti itu kepada dua makhluk yang sudah tak berdaya. Entah apa yang dirasakan Zack, dan entah rahasia apa yang diketahui Zack. Hei, Zack… dapatkah kau beritahu kami?
"Gawat!" tiba-tiba U-Know muncul dari lorong gua dengan… darah berceceran dari tubuhnya yang sudah babak belur. "Min dibawa oleh gerombolan orang yang ingin menghancurkan Momoko!"
"Apa?"
The Hunters
2nd Episode
"Lepaskan aku!" Min meronta sekuat tenaga, namun tenaganya tak seberapa jika dibandingkan tiga orang dewasa yang tengah mencekalnya.
Matanya basah; nanar karena dipaksa melihat eksekusi massal di hadapannya. Tanpa belas kasihan, mereka mulai membunuhi penduduk desa Momoko tanpa ampun. Itu semua agar Zack keluar dari tempat persembunyiannya, sekaligus melimpahkan beban kesalahan pada kejiwaan lelaki berambut perak tersebut.
"KALIAN TIDAK PUNYA HATI!" teriak Min sekuat tenaga ketika melihat bayi dipisahkan dari ibunya dan ditusuk sampai mati oleh tombak tajam milik salah satu anak buah Mondas yang ganas.
Mendengar teriakan Min, tiba-tiba tawa mereka meledak.
"Aku tak percaya kalian satu profesi dengan Zack…" lirih Min. Shaggy yang mendengar bisikan dari suara parau itu tiba-tiba diam; menatap Min dalam.
"Jadi benar… Zack ada di sini?" Pak Tua Shaggy mulai berjalan mendekati Min. "Dari dulu aku penasaran, bagaimana bisa pulau ini dilindungi kekuatan yang besar? Kau tahu jawabannya, Anak Kecil?" Min bergidik ketika Pak Tua itu mendekatinya. Bukan bergidik karena takut dibunuh, melainkan… ngeri karena memandang makhluk-makhluk aneh yang punya aura seperti Ken dan Bakama berdiri di belakang Shaggy.
"Untuk sekarang, kemampuanmu sangat berbahaya Min. Kalau ada orang yang tahu kau bisa berkomunikasi dengan Monster, keberadaanmu akan terancam. Tunggulah sampai kau memiliki Guard sendiri."
Itu adalah pesan Zack setelah Min menuturkan tentang munculnya Ken dan Bakama. Ia sudah paham, terlebih yang berada di depannya kini adalah seorang Grogocontrol lain dengan hawa membunuh yang besar, ia tak boleh bertatapan mata dengan monster-monster itu, jika sampai bertatapan, maka monster itu akan sadar bahwa Min melihatnya. Tunggu dulu, kenapa monster itu bisa keluar di siang hari?
Min pun menggelengkan kepalanya, lalu memandang Pak Tua Shaggy dengan tatapan menantang. "Aku tidak tahu!"
Pak Tua Shaggy tercengang, lalu tertawa keras sekali. "Huahahaha… setidaknya kita tahu bahwa anak ini pernah bertemu dengan Zack," ia melirik Min dengan tatapan mengintimidasi. "Kalau anak ini dibunuh, Zack pasti muncul!"
DEG!
Kurang ajar! Min merutuk dalam hati. Menyesali tindakannya.
Menyesal? Menyesal karena telah berpisah dengan Zack dan mengikuti U-Know untuk memastikan keadaan desa Momoko? Tidak.
Ia menyesal mengapa tidak segera patuh ketika U-Know menyuruhnya berlatih beladiri, melatih kekuatannya, melatih kecepatannya. Semua itu terbentur dengan alasan tidak penting dan tidak butuh. Min yang baik, Min yang polos, Min yang selalu dilindungi U-Know.
Ingatannya kembali berlayar… kedetik-detik ketika mereka berpisah satu jam yang lalu.
"JANGAN SENTUH TEMAN-TEMANKU!" U-Know segera keluar dari tempat persembunyiannya meninggalkan Min seorang diri. Menerjang gerombolan Hunters yang tengah menyeret beberapa anak kecil ke tempat eksekusi. Dengan sekali pijakan pada batu besar di depannya, ia melompat dan mengokang bambu menuju Hunters yang terkejut. Tanpa menyia-nyiakan waktu sedikit pun, ia melompati mereka sambil mengayunkan tongkat bambunya penuh tenaga, mengelak dengan cepat ketika seorang Hunter lain berniat menyergapnya dari belakang, lalu melayangkan tendangan secepat kilat dengan putaran tubuhnya.
Min terperangah melihat kejadian itu.
U-Know… telah mengalahkan 5 orang Hunter, SENDIRIAN.
Kejadian itu tentu menyedot perhatian Pak Tua Shaggy. Iris hitamnya berkilat di tengah pertempuran. Perasaan ingin menguasainya seperti melihat setumpukan emas kembali muncul ketika melihat U-Know. Ia akan menjadi Hunter yang sangat hebat. Dengan cepat, ia pun memerintahkan bawahannya untuk menangkap U-Know.
Tidak akan bisa. Min mengigiti bibirnya ketika melihat berpuluh-puluh Hunter mengepung U-Know. Tubuhnya bergetar, sementara bulir air mata menyesaki matanya. Debaran jantungnya seolah terhenti ketika melihat godaman besar membentur kepala U-Know hingga darah bercucuran keluar dari kepalanya. Dengan mata telanjangnya ia melihat U-Know limbung, hendak jatuh. Namun U-Know segera memantapkan pijakannya. Sekali lagi, ia mengokang senjatanya dan menantang mereka semua dengan tatapan tak gentar.
SRAK!
TAP!
TAP!
TAP!
"U-Know LAAAARRRRIIIIIIIIII!" Min berlari membabi buta, lalu menerjang gerombolan Hunter itu dengan segenggam tanaman dari semak yang tumbuh di dekat persembunyiannya lalu memukul Hunter yang berada di sekitarnya dengan tinju kosong. Dalam dua detik, Hunter yang terkena pukulan Min jatuh seketika.
"A-apa yang terjadi?" Hunter-Hunter itu tak mengerti dengan apa yang terjadi, seperempat dari jumlah Hunter yang menghadang mereka tiba-tiba tumbang. "U-Know, cepat lari dan selamatkan teman-teman kita!"
U-Know terdiam. Tak percaya dengan keberanian adiknya.
"PERGGIIIIIIII!" dengan tangan kiri yang bebas; tak memegang atau mencengkram apapun, Min mendorong U-Know sekuat tenaga. "Setelah menyelamatkan teman-teman kita, datanglah lagi dan selamatkan aku!"
U-Know dan Min saling memandang dalam suasana genting.
U-Know mengangguk tegas, lalu menyeret teman-temannya dengan langkah terseok. "AYO PERGI!" dan meninggalkan Min seorang diri di sana.
"Hahahaha!" tawa Pak Tua Shaggy membuyarkan lamunan Min. "Kau bocah pemberani!" irisnya yang tajam memandang tangan kanan Min yang kini telah membiru. "Kau menggunakan tanaman Hemofilia untuk menyerang anak buahku," tatapannya tak berubah, memandang Min dengan tatapan penasaran. "Entah kau bodoh, atau anak yang kelewat berani," ia mendekatkan wajahnya ke arah Min. "Dengan menyentuhnya saja racunnya akan menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh. Dan kau yang sudah menyentuhnya selama beberapa menit, pasti akan kehilangan tangan kananmu," Min tidak bodoh. Dia tidak ingin membahayakan dirinya selama ini karena ia tahu apa resiko dari segala tindak tanduknya. Berbeda dengan U-Know yang selalu bersikap secara spontan. Min anak yang pintar. Min hanya tak ingin repot. Min sudah tahu apa akibatnya, Min sudah tahu.
Tapi… Min tak bisa membiarkan satu-satunya keluarga yang ia miliki mati di depannya.
Satu tangan tak bernilai apa-apa jika dibandingkan nyawa U-Know.
"Mata merah…" Pak Tua Shaggy memegang muka Min dengan paksa. "Sangat langka," ia menolehkan muka Min ke kiri dan ke kanan. "Aku juga menginginkanmu, walau tak sebesar keinginanku pada kakakmu."
"Maukah kau melepaskan anak itu?" tiba-tiba sebuah suara menginterupsi pembicaraan satu arah mereka.
"UUUWWWOOOO! ITU ZACK!"
"Hahaha… ternyata kau datang juga Zack!" Mondas tertawa puas, lalu berjalan pelan mendekati Zack. "Pertarungan kita belum selesai. Aku menginginkan kepalamu!"
"…" Zack sunyi dalam menanggapi perkataan Mondas. "Aku akan menyerahkan diriku jika kalian mau melepaskan semua penduduk di sini."
"Baiklah," Shaggy menyetujui permintaan Zack. Zack tersenyum lega setelah mendengar jawaban Shaggy. Dari yang ia tahu, Shaggy adalah orang yang tepat janji.
"HUAHAHAHAHA! Ternyata benar, kau adalah orang yang lemah!" Mondas melayangkan senyum kecut. "Kau tidak akan pernah menjadi kuat kalau kau masih peduli pada orang lain. Semuanya, SERANG DIIIIAAAAA!"
"YYOOOSSSSSHHHHHH!"
Serempak, semua Hunter yang ada di sana menyerbu Zack.
"ZZZAAAACCCCKKKKK!" teriakan memilukan Min tercampur dengan teriakan penuh konfrontasi adu kekuatan dan pengeksekusian diri.
"Aku akan mengampuni semua nyawa penghuni pulau ini, tapi tidak dengan dua anak yang sudah berunjuk di depanku!" suara Shaggy membahana menyentak kesadaran Zack. Hingga rencana terakhir pun ia lancarkan.
"KEN, BAKAMA, SELAMATKAN MIN!"
Secepat kilat dua makhluk berbeda dunia keluar dari tanah. Panas sinar matahari membuat luka-luka mereka semakin terkuak dan membakar mereka secara konstan. Meskipun tahu resiko menampakkan diri ketika sinar matahari terik, namun mereka tetap maju untuk menyelamatkan Min.
"SUNGMINIIIEEEE!" U-Know yang mendengar teriakan Shaggy terkalapkan dan maju menerobos semua musuhnya. Ia harus menyelamatkan Min!
Namun di tengah pertarungan, Zack meneriakkan kalimat lain.
"MIIINNN, TAHUKAH KAU?" Min terdiam mendengar panggilan Zack. "YUL YANG SELAMA INI AKU CERITAKAN PADAMU…" ia berhenti sejenak untuk menghalau serangan yang datang dari sikut kirinya, lalu kembali meneruskan kata-katanya. "DIA ADALAH… SEEKOR NAGAAAAAA!"
DEG!
Mata Min spontan langsung berbinar di tengah tangisan dan isakkannya.
"Anak itu," Shaggy langsung memberi isyarat kepada Iklima, seorang wanita Hunter di sisinya untuk menangkap U-Know tanpa keributan.
Iklima mengangguk, lalu memisahkan diri dari pasukan Shaggy dan berlari layaknya seorang ninja untuk menghampiri U-Know. Ketika jarak mereka tinggal lima meter lagi, ketika perhatian U-Know teralihkan untuk segera menyelamatkan Min, Iklima mengembuskan sebuah bubuk hitam dari telapak tangannya. "Posisson Attack!"
BRUK!
Dalam sekejap, tubuh U-Know ambruk seketika.
The Hunters
In 2nd Episode
"Uhhh…" manik merah itu akhirnya terbuka, mengerjap-ngerjap cepat, lalu tergesek oleh sapuan jemari tangan sang pemilik. "U-Know… Zack…" kedua atensi itu akhirnya fokus memandang pemandangan sekitarnya. Ia berada di bawah naungan hutan gelap yang berada di sebelah barat pulau Crova. Di hutan terlarang….
"Arrrgghhh~"
Sebuah erangan tiba-tiba terdengar, sontak Min mengalihkan pandangannya ke arah asal suara. "Ken… Bakama?" Ken dan Bakama terkapar tak berdaya di sampingnya. Pakaian jirah mereka yang semula berkilat-kilat mewah kini tertutupi warna darah dari tubuh mereka sendiri. Ia akhirnya ingat tentang peristiwa pembantaian di desanya, Zack yang mengorbankan diri, dan U-Know yang berusaha menyelamatkannya. "Apa yang terjadi?" ia segera bergerak menuju Ken dan Bakama.
"Ugghhhh… Min…."
"A-apa yang terjadi? Air mata mulai jatuh membasahi pipi putih itu. Kumohon, tolong beritahu aku apa yang terjadi."
Dengan terengah, Bakama pun menceritakan bahwa setelah mereka menyerbu langsung ke arah Shaggy dan bertarung dengan banteng-badak itu Zack bertarung dengan gagah melawan ratusan Hunter yang dibawa Shaggy dan Mondas… namun berakhir dengan meninggalnya Zack di tangan Mondas. Mondas hendak memisahkan kepala Zack dan membawa pulang kepalanya sebagai bukti bahwa dia yang sudah menghabisi Zack, namun dengan sisa kekuatan yang ada, setelah membawa Min ke tempat yang aman, Ken dan Bakama kembali dan melarikan tubuh Zack. Dengan penuh penyesalan mereka berkata, bahwa mereka tidak bisa menyelamatkan U-Know.
"Hiks…" air mata itu kini tumpah ruah membasahi pipinya tanpa ragu. Ingus keluar dari hidungnya dan pandangan matanya meremang karena racun yang memakan tangannya. "Sekarang… dimana… Zack?" Ken mengangkat sayapnya, lalu menunjuk pada diri Min sendiri.
"Dia… sudah dikuburkan, di belakangmu."
DEG!
Ketika Min menolehkan pandangannya, sebuah gundukan terlihat menonjol dari alas tanah. Di sana berdiri pedang yang ditancapkan dengan kuat. Pedang Zack.
Min terisak di depan makam Zack. Zack yang ia kenal selama satu bulan ini adalah Zack yang selalu tertawa dan mendengarkan keluhannya terhadap penduduk pulau yang tak suka pada mereka. Zack selalu terjun dari tebing tinggi bersama U-Know lalu berenang bersama ikan-ikan di Combodi Lake. Zack selalu bilang pada U-Know untuk selalu akrab kepada Min dan menjaga Min karena Min adalah anak yang cengeng. Zack selalu meladeni tantangan U-Know untuk adu kuat, adu cepat, atau adu kepintaran, walau harus berakhir dengan kekalahan U-Know. Zack selalu menjadi selimut ketika U-Know dan Min kabur dari rumah pamannya yang membuat Min menangis. Zack selalu… selalu dan selalu berada di sisi mereka.
Tanpa sadar, Zack telah menjadi… orang yang sangat berharga bagi mereka.
"ZZZAAAACCCCKKKKKKKK!" tangisan memilukan Min menggema ke seluruh hutan. Membuat binatang buas menjauh, dan membuat burung-burung terbang tak tentu arah.
"Uhuk!" Bakama hendak menyampaikan sesuatu, namun terganggu oleh rasa sakit yang di deritanya. "Min…" ia berbisik. Min memandang Bakama yang tengah sekarat dengan tatapan sedih. "Zack ingin… kau tetap hidup."
"Bakama…" Min segera berlari mendekat ke arah Bakama.
"Kami senang kau selamat, tapi… kami tak bisa terus menyertaimu. Maaf."
"TIDAK!" Min berteriak sambil berdiri cepat. Ia menggeram dengan tangan yang saling mencengkram kuat dalam kepalan. "Aku… sudah kehilangan Zack dan U-Know, aku…" ia memandang Ken dan Bakama yang tengah mengembuskan napas-napas terakhirnya dengan pandangan nanar. "AKU TAK INGIN KEHILANGAN SIAPAPUN !"
Srrraaaakkkkk!
Yang terdengar, hanya embusan angin malam.
"Kami… sudah hidup terlalu lama, sekarang waktu kami untuk beristirahat."
"TIDAK!" Min menepis ucapan Ken. "TIDAK! TIDAK! TIDAK! Pasti ada cara untuk menyelamatkan kalian! PASTI ADA!" ia menggigit bibirnya. "KATAKAN! KATAKAN PADAKU BAGAIMANA CARANYA!"
Ken dan Bakama saling berpandangan dalam sakitnya. "Tapi cara itu akan mengambil sisa umurmu..." rintih Bakama.
"TIDAK APA! AKU TIDAK PEDULI!"
Ken dan Bakama terkesiap oleh Min. "Sungguh… tak apa?"
"TAK APA!"
"Kau akan kehilangan… sepuluh tahun dari sisa hidupmu, untuk salah satu dari kami."
"AKU AKAN MENYELAMATKAN KALIAN BERDUA, WALAU AKU HARUS KEHILANGAN SEMUA SISA UMURKU!"
"Tapi, Min…."
"AKU TAK PEEEDDDUUULLLLIIII SSSIIIAAAALLLLLAAAANNNNNNN!" Min akhirnya jatuh dalam duduknya. Kedua tangannya menyilang menutupi mukanya yang tersedan keras.
Min yang selama ini selalu bersikap sopan, selalu menyebut siapapun dengan sebutan Tuan dan Nyonya, selalu tersenyum ramah, selalu bersedia membantu, selalu menunduk dan membungkukkan tubuhnya, kini berteriak kata-kata umpatan?
"Kalau begitu…" dengan susah payah Ken bangun dari tidurnya. "Biarkan kami meminum darahmu."
Min memandang Ken tanpa berkedip. Setelah itu ia mengambil anak panah Ken, dan menyayatkannya pada tangannya sendiri. "Minumlah," ia menyodorkan tangannya pada Ken. "Kalau darahku bisa menyelamatkan kalian, aku mohon, minumlah."
Tanpa kata-kata, Ken dan Bakama beringsut mendekati Min. Lalu secara bergantian menghisap darah Min dalam diam.
SRRAAAAKKKKKK!
Seketika, hutan dan seisinya menjerit—serempak; angin berembus dengan ganas, dedaunan menggila, binatang mengaum ke arah bulan, air tiba-tiba mengalir cepat dan membentuk pusaran, dan tanah bergetar dasyat.
Ken dan Bakama… kini berlutut di hadapan Min.
"Perjanjian… telah dibuat," Ken berucap.
"Kami akan mengabdikan seluruh hidup kami kepada Tuan kami," kali ini berganti Ken yang mengikrarkan janji.
Jantung Min berdegup cepat sekali. Tak mengerti mengapa Ken dan Bakama bisa pulih begitu cepat, tak mengerti mengapa tangan birunya yang terkena racun kini telah ternetralkan, tak mengerti dengan semua yang sedang terjadi di hadapannya.
"Kami sekarang mengabdikan diri… sebagai Guard Anda, Pimpinan."
To be Continued
A/N : Sekali lagi, saya SANGAT menikmati menulis fic bergenre Adventure :3 nyaannn~ Hohoho…
Spoiler chapter selanjutnya :
Min berlatih di pulau Crova bersama Ken dan Bakama untuk menjadi seorang Grogocontrol!
Special Thanks :
kangkyumi, FanboyRaka, Kiri Devil, Leeyasmin, cuneh, EvilBungsu KyuminBaby137 gak login, Who I Am, Yayaa, Yukihyemi, Cristina gmn, NoName
