Chap 2-Decision

.

.

.

Sakura menyenderkan punggungnya pada dinding di pintu masuk sekolah. Sudah 1 jam ia berdiri di sini menunggu seseorang. Sebenarnya ia bisa saja menelponnya, namun Sakura yakin panggilan darinya tak akan pernah diangkat pada pagi hari seperti ini. Entah sudah keberapa kali dalam satu jam ini sang gadis merah jambu menghela nafasnya.

Meski sudah berdiri selama satu jam, namun sekolah belum juga terisi. Rasanya sangat sepi, ya sepi sekali. Sakura menundukkan kepalanya dalam. Rasa sepi ini, tak ada bedanya dengan rasa sepi ketika ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Ketika ia belum bertemu dengan gadis aneh berkaca mata dan bertubuh besar yang selalu menjadi sasaran ejekan orang-orang di sekitarnya.

Ayah dan ibu Sakura telah bercerai sejak lama. Ibu Sakura yang merasa kesepian selalu melarikan diri pada kegiatan kemanusiaan di seluruh dunia. Sangat jarang ia berada di rumah, hingga Sakura yang hak asuhnya jatuh pada sang ibu merasa kesepian. Di sekolah, Sakura sangat disegani dengan segala kekayaan dan wajah cantiknya membuat banyak temannya merasa enggan berteman dengannya.

Namun di bangku sekolah menengah pertama, ia bertemu seorang gadis aneh yang selalu menjadi bahan ejekan satu sekolah. Awalnya Sakura merasa geli dengan segala penampilan gadis yang duduk di belakangnya. Bahkan tiap kali pelajaran olahraga lari, gadis ini akan tertinggal sangat jauh sekali, benar-benar memalukan. Namun, semakin lama, Sakura merasa kasihan padanya, gadis itu juga kesepian seperti dirinya.

Lama Sakura hanya memperhatikannya, tak pernah menyapanya. Mungkin gadis itu peka, hingga ia selalu tersenyum ketika Sakura menatapnya. Dan entah Sakura mendapat keberanian darimana, ia memutuskan menyapa sang gadis aneh. Dan sejak saat itu, mereka bersahabat dekat dan berbagi segalanya. Kedekatan Sakura dan Hinata menjadi buah bibir di mana-mana, tentu saja berkat kepopuleran Sakura.

Sakura tersenyum miris mengingat semua kenangan menyenangkan bersama Hinata. Gadis itu sangat menyenangkan meski pendiam. Ada kalanya mereka bertengkar, namun selalu saja Hinata akan meminta maaf, meski ia jarang sekali berbuat salah. Namun kemarin, adalah kali pertama seorang Haruno Sakura mengemis maaf pada sahabatnya. Hingga pagi ini Sakura masih belum tahu, apakah mereka sudah berbaikan atau belum, karena Hinata tak mau menoleh padanya barang sekalipun.

Suara langkah pelan yang teratur menyapa gendang telinga Sakura. Ia sangat hafal suara pijakan kaki ini, namun Sakura tak berniat mendongak untuk melihat sang pemilik langkah. Sakura bisa melihat sepasang sepatu tersebut berhenti di hadapannya. Tetapi sekali lagi, Sakura tak berani mendongak menatapnya.

Langkah itu kembali terdengar dan sepasang sepatu tersebut semakin tak terlihat oleh mata Sakura. Setelahnya, baru si gadis merah muda mendongak. Ia menatap punggung yang semakin jauh tersebut dengan tatapan sedih. Punggung milik lelaki yang belum lama ini menjadi kekasihnya.

"Bagaimana aku mengatakannya padamu, Sasuke-kun," Sakura bermonolog.

"Bagaimana jika kau nanti akan meninggalkanku untuknya?"

"Aku sangat mencintaimu, Sasuke-kun, aku takut kau meninggalkanku, maaf..."

.

.

.

"Apa kau tidak suka sup ayamnya?" tanya wanita berambut hitam tersebut dengan heran.

"Tidak," ujar sang anak singkat. Wanita itu hanya mencoba tersenyum lembut menghadapi putra bungsunya.

"Sasuke-kun bisa cerita pada ibu." Mikoto-nama wanita itu-menarik kursi makan di hadapan sang anak untuk didudukinya. Sasuke hanya memilih bungkam dan menyuap kuah sup yang masih terasa panas ke dalam mulutnya. Hanya kuah tanpa isinya, tak ada selera makan darinya.

"Apa ini ada hubungannya dengan gadis cantik berambut merah muda itu?" Mikoto terkikik geli. Ia senang sekali menggoda putranya, apalagi ketika ia tahu sang anak menjalin hubungan dengan seorang perempuan cantik.

"Aku tak ingin membicarakannya."

Mikoto terhenyak mendengar suara dingin putranya, namun ia segera mengusir keterkejutannya dan tersenyum lembut. Ia menggenggam tangan kiri Sasuke yang bebas.

"Ada yang terjadi? Sepertinya baru kemarin kau tersenyum memandang surat darinya itu?" tanya Mikoto sehalus mungkin.

"Itu bukan surat darinya," Sasuke mencoba mengoreksi perkataan ibunya. Namun yang terdengar justru nada sinis yang tak bisa ia kendalikan. Ada perasaan yang tidak benar ketika ibunya mengaitkan surat itu pada Sakura, karena surat itu memang bukan darinya melainkan dari gadis jelek itu.

Keduanya diam. Ibu dua anak itu merasa bahwa putra bungsunya masih memiliki kelanjutan kalimatnya memilih menunggu. Sementara Sasuke masih dengan pikirannya yang sedang tak ingin ia bagi.

Mikoto mendesah mendapati putranya yang memilih diam. Sebenarnya Mikoto enggan mencampuri masalah putranya, namun sepertinya akhir-akhir ini ia tak melihat senyum Sasuke. Yah, Sasuke memang jarang tersenyum, namun sungguh, beberapa bulan yang lalu Mikoto bisa melihat senyum dan binar bahagia dari putra bungsunya. Ia pikir ini karena Sakura, yang saat itu ia perkenalkan sebagai kekasihnya. Namun sebagai ibu dan seorang wanita, Mikoto tahu, bukan karena Sakura.

"Sasuke-kun, ibu serius, kau bisa bicara dengan ibu."

"Aku mohon, berhentilah memaksaku bu," Sasuke menaikan suaranya, ia mengacak rambutnya dengan asal. Mikoto tersenyum, tangan hangatnya menggenggam tangan Sasuke, mengalirkan segala kenyamanan.

"Ibu pernah melihat Sasuke yang begitu bahagia, penuh senyum, terkadang merona, lucu sekali, tapi itu dulu," ujar Mikoto. "Mungkin bukan Sakura, ibu yakin, lalu kenapa tidak dikejar? Kenapa melampiaskan pada Sakura?"

Sasuke nampak terhenyak. Ia tak menemukan jawaban pasti atas pertanyaan ibunya. Ibunya benar, kenapa ia harus lari dari kenyataan? Kenapa ia tak berusaha?

"Sasuke-kun, dengar, kau sudah memilih Sakura, ibu mohon bertanggung jawablah," ucap Mikoto. "Jika ingin mengejar gadis itu, kejarlah, tentukan sekarang atau semua akan terlambat."

Sasuke menatap ibunya yang tersenyum lembut menatapnya. Entah kenapa mendengar nasehat ibunya, ada perasaan aneh pada hati Sasuke. Seperti perasaan ketika mendengar Santa Claus akan mengunjunginya. Perasaan yang membuncah akan harapan. Tapi ada yang masih mengganjal di benaknya.

"Ia tak secantik Sakura bu, aku bahkan merasa geli padanya," ujar Sasuke pelan.

Mikoto menatap putranya heran. Ia menaikkan kurva alisnya. Perlahan tawa halus keluar dari bibir wanita paruh baya tersebut. Semakin lama tawa itu semakin menjadi. Sang anak tentu saja merasa tersinggung hanya menatap datar.

"Tak ada wanita yang tak cantik, Sasuke," kata Mikoto setelah tawanya reda. "Kita para wanita memiliki kecantikan sendiri."

Setelahnya ibu dua anak tersebut beranjak. Ia melanjutkan acara memasaknya yang sempat terganggu. Tak lupa sedikit nada ia senandungkan.

Sasuke menghela nafasnya, merasa tak mendapat apa-apa dari ibunya. Ia mengaduk-aduk supnya, pikirannya masih melayang pada gadis menggelikan itu.

"Kisah 'The Ugly Duckling' tidak memiliki pangeran dalam ceritanya. Justru 'Swan Lake' yang memiliki pangeran tampan," ujar Mikoto, ia masih dengan setia memotong beberapa sayuran sembari bercerita. Senyum pun tak pernah lepas. "Jadi, apa sang pangeran salah cerita dan terdampar di cerita 'The Ugly Duckling', atau justru sang Ugly Duckling lah yang salah cerita? Atau, ia memang angsa Swan Lake bukannya si Ugly Duckling, seperti yang pangeran duga?"

Mikoto berbalik menatap putranya.

"Pangeran, kaulah yang menentukan, jika menurutmu dia bebek rupa, berarti kau salah cerita, lepaskan dia. Tapi jika kau merasa seorang pangeran, kau ada di tempat yang tepat. Odet* butuh pangeran, kejar dan dapatkan sang angsa."

.

.

.

Mata hitam itu menatap langit-langit kamarnya dengan datar. Ia masih memikirkan ucapan ibunya yang menggunakan perumpamaan rumit. Segala bualan ibunya tentang cerita fiksi itu membuatnya sakit kepala.

TOK TOK TOK

Sasuke melirik pintu kamarnya yang diketuk. Tak berselang lama, sebuah kepala dengan rambut hitam panjang yang terkuncir menyembul dari sela-selanya. Sasuke masih tak berubah, masih dengan ekspresi yang sama. Sementara pria berkeriput tadi masuk dengan senyumnya membawa kardus kecil. Ia berjalan dengan tenang kearah Sasuke yang tidur terlentang. Kemudian dengan kasar, ia menjatuhkan kotak tersebut di atas perut Sasuke.

"Sial kau, baka aniki!" umpat Sasuke pada kakaknya.

"Makanya dijaga, untung belum kubakar," gerutu Itachi. "Itu kan surat berharga dari kekasihmu kan?"

"Hn."

"Yah, terserah padamu saja, aku juga tak tega membakar barang yang bisa menciptakan senyum dari Sasuke Uchiha."

"Ck! Pergi sana!" usir Sasuke pada kakaknya.

"Aku memang akan pergi ke rumah sakit lagi," kata Itachi dengan tenang.

"Dia hanya muridmu, bukan kekasihmu. Tak perlu sampai setiap hari menemuinya."

"Yah, dia memang hanya muridku, tapi bagaimanapun aku adalah gurunya, berarti dia tanggung jawabku," Itachi terkekeh pelan, ia jadi benar-benar merasa menjadi seorang guru sekarang. Sulung Uchiha tersebut kemudian melenggang keluar dan menutup pintu kamar Sasuke.

Sasuke mengangkat bahunya acuh, ia malas mencampuri urusan kakaknya. Mata sehitam langit malam itu menatap kotak yang berada di pangkuannya. Ia menghela nafas, kemudian dengan perlahan ia membuka kotak itu. Kertas-kertas surat dengan warna biru yang sangat banyak terlihat. Senyum Sasuke terbit, senyum miris lebih tepatnya. Ia harus memilih sekarang, menjadi pangeran di Swan Lake, atau hanya mendengar kisah The Ugly Duckling yang tidak memiliki pangeran di dalamnya.

.

.

.

"Pulanglah, " kata Neji yang baru saja keluar dari ruang perawatan Hinata. "Dia tidak ingin bertemu sekarang."

"Tak bisakah nii-san membujuknya?"

"Maaf..."

Sakura menghela napasnya, dengan enggan ia berjalan meninggalkan kamar rawat Hinata. Sebenarnya ada keinginan darinya untuk mendobrak, memaksa, atau apa saja yang bisa ia lakukan untuk bertemu Hinata. Ia merindukan sahabatnya itu, sangat merindukannya.

Sejak kunjungan pertamanya kala itu, ia tak pernah lagi masuk untuk menemui Hinata. Ia setiap hari, setelah pulang sekolah akan mampir ke rumah sakit menjenguk Hinata, meski ia hanya bisa memandang pintu rawat inapnya saja. Dan ini sudah berlangsung selama seminggu.

Jika bertanya apakah Sakura merasa lelah. Maka ia akan menjawab tidak. Baginya, ini adalah salah satu cara untuk menebus kesalahan Sakura pada Hinata. Sejujurnya, Sakura tahu kenapa Hinata tak mau bertemu dengannya. Sakura sendiri sadar kesalahannya, ia telah mengkhianati Hinata, yang Sakura tahu dengan jelas jika gadis berambut indigo tersebut menyukai kekasihnya.

(Flashback)

Mata emerald itu menatap nanar menatap pintu berkarat di hadapannya. Bibir bawahnya ia gigit sebagai usaha meredam isakannya. Tangannya mencengkram pegangan tangga yang dingin itu dengan erat. Namun seseorang yang membuka pintu tersebut menyadarkan Sakura. Ia dengan panik membalik tubuhnya dan berusaha secepat mungkin menuruni tangga. Namun, ia sudah terlambat, pemuda itu melihatnya.

"Kau."

Kaki Sakura mendadak terasa kaku, tak ingin digerakkan. Ia terhenti di tangga ke-4 dari atas. Tanpa disadarinya setetes air mata yang disusul tetesan lainnya terjatuh begitu saja.

"Siapa namamu?" suara itu terkesan datar dan dingin.

Sakura menelan ludahnya paksa. Ia mencoba menahan isakannya. "Haruno Sakura."

Laki-laki itu menghela napasnya. Ia memandang gadis yang gemetar ketakutan di hadapannya yang masih memunggungginya. Gadis yang ia lihat di hadapan lokernya tempo hari. "Apa kau yang mengirim surat-surat padaku?"

Mata sewarna jamrud itu membelalak. Apa maksud pertanyaan pria ini, bukankah dengan jelas ia tahu, kenapa ia menanyakan itu pada Sakura? Sakura kembali menggigit bibirnya bingung. Entah kenapa kata-kata yang ia dengar dari pemuda beberapa saat lalu ketika berbicara dengan sahabatnya terngiang. Apa jika ia tahu yang mengirim surat adalah dirinya, maka responnya akan berbeda? Ia tak suka Hinata karena fisiknya, tapi Sakura berbeda, apa dia juga akan merespon berbeda?

"I-iya," jawab Sakura dengan pelan. Tak ada niat apapun pada diri Sakura. Ia ingin tahu apa respon kakak kelasnya ini. Apakah ia lebih baik daripada Hinata atau tidak.

"Kalau begitu, jadilah kekasihku."

Sakura kembali dibuatnya terkejut. Jantungnya berdebar menggila. Rasa kaku itu semakin menjerajai tubuhnya. Ia hanya bisa diam terkejut hingga tubuh jangkung Sasuke melewatinya dan menuruni tangga hingga tak terlihat oleh mata Sakura.

Sakura tak menyangka bahwa respon Sasuke akan seperti itu. Ia tak memungkiri rasa bahagia yang menyelimutinya. Rasa iri tempo lalu ketika ia melihat balasan surat Sasuke dan Hinata seolah sirna. Rasanya seperti ia memenangkan sesuatu, bahagia dan bangga.

Suara isakan hebat itu terdengar. Isakan yang berasal dari balik pintu atap sekolah. Isakan yang berhasil membuang rasa kebahagiaan itu menjadi rasa bersalah secara tiba-tiba. Sakura sudah mengkhianati sahabatnya, sahabat baiknya yang tengah terisak di sana. Tetapi semuanya telah terjadi, ini bukan salah Sakura, Sasuke lah yang menginginkan Sakura. Jadi itu bukan salahnya, iya, bukan salahnya.

Sakura berbalik, ia menatap pintu usang itu, lebih tepatnya menerawang seseorang di baliknya. "Ia memilihku, ia menyukaiku, ini bukan salahku, Hinata."

(End of Flashback)

Sakura menyeka air matanya yang hampir jatuh. Ia menyesali keputusan egoisnya. Ia malu karena merasa iri pada Hinata yang lebih di anggap oleh Sasuke dibandingkan dirinya yang telah melakukan segala hal. Dan rasa iri itulah yang membawanya pada bencana ini.

Sungguh ia menyesal, ia ingin memperbaiki segalanya agar kembali seperti dahulu. Namun tidak dengan hubungannya dengan Sasuke, ia terlalu mencintai pemuda itu, sangat. Dan jika Sasuke tak melepasnya, maka Sakura tak akan mau melepasnya.

Dering ponsel nyaring miliknya menyadarkan lamunan Sakura. Ia melihat layar ponselnya untuk mengetahui siapa yang menelponnya. Dan betapa terkejutnya ia melihat nama kontak yang selalu berada dalam daftar panggilan keluar rutin milik Sakura berbalik menelponnya. Dengan senyum yang lebar ia mengangkat panggilan dari pemuda yang telah menjadi kekasihnya ini.

"Iya, Sasuke-kun?"

"..."

"A-apa?"

"..."

"B-baik."

Sakura tertegun memandang poselnya. Meski pembicaraan itu sangat amat singkat, tapi benar-benar membuat Sakura ingin melambung ke udara. Senyumnya tak pernah lepas dari wajahnya. Dalam sekejap pria itu memang selalu berhasil membuahkan senyum dari Sakura.

.

.

.

Sakura mulai duduk dengan gelisah sekarang. Ia berkali-kali bercermin dan memastikan riasannya tak luntur terkena keringat. Ia kali ini merutuki semangatnya yang menggebu-gebu tadi pagi. Matahari yang bersinar terik membuatnya kembali merutuki semangatnya. Seharusnya ia datang sesuai waktu janji bukannya malah menunggu di sini 2 jam sebelum waktu janji. Tapi ia benar-benar semangat bahkan nyaris tak tidur.

Setelah memperbaiki riasannya dan menyemprot parfum ke bagian tubuhnya, Sakura kembali duduk manis. Pikirannya benar-benar terkuras hanya untuk memikirkan jalannya kencan hari ini agar tampak menarik. Bicara tentang kencan, Sakura kembali merona mengingat kekasihnyalah yang meminta. Dahulu, pria itu selalu menolak ajakannya meski mereka sepasang kekasih. Tapi kali ini pria itulah yang meminta terlebih dahulu, apa ini artinya dia telah melihat Sakura sebagai kekasihnya?

Mata hijau Sakura menangkap personifikasi kekasihnya. Akhirnya pria itu datang, Sakura mengembangkan senyumnya. Ia segera berdiri ketika kekasihnya melihat Sakura dan berjalan menghampirinya.

"Menunggu lama?"

Sebenarnya Sakura ingin tertawa dengan pertanyaan pria ini. Tentu saja sudah lama, ia sudah ada di sini sejak 2 jam yang lalu. Namun alih-alih menjawab jujur, ia lebih memilih jawaban yang menenangkan. "Tidak, aku baru saja kok, Sasuke-kun."

"Hn," gumam Sasuke.

"J-Jadi, kita mau kemana dulu?" tanya Sakura dengan kikuk. Mereka memang sepasang kekasih, namun Sakura ingat tak banyak masa yang mereka lewatkan hanya berdua. Bahkan mereka hampir tak pernah pulang bersama layaknya sepasang kekasih lainnya di luar sana. Tak heran ini membuat Sakura gugup dan canggung.

"Terserah padamu, aku tak tahu tempat yang menyenangkan."

"Baiklah, bagaimana jika di taman hiburan?"

"Hn."

.

.

.

Sakura hampir merasa ingin menghentikan waktu sekarang juga. Jika bisa ia ingin kembali mengulang hari ini. Ia bahkan sudah tak memperdulikan lagi waktu yang terus berlalu dan matahari yang semakin condong ke barat. Rasanya hari ini, ia bisa melupakan segala masalahnya, beban hidupnya, dan segala hal yang mengganjal hatinya.

Tunggal Haruno itu mengembangkan senyumnya ketika gondola yang mereka naiki berhenti di atas. Seluruh pemandangan taman hiburan dan kerlip kesibukan Konoha terasa seperti bintang-bintang. Ia kemudian menoleh ke samping, melihat kekasihnya yang terlihat sibuk menatap ponselnya.

Meski hari ini perasaannya benar-benar membuncah bahagia, namun ada yang mengganjal hatinya. Setiap kali ia menatap wajah Sasuke, ada hal yang membuatnya takut. Hari ini, Sasuke benar-benar menjadi pemuda impiannya. Kencan kali ini, adalah kencan yang menakjubkan bagi Sakura.

Ia masih dengan jelas mengingat bagaimana ia mendapatkan sebuah gelang dengan manik-manik berbentuk bunga sakura, sang kekasihlah yang mendapatkannya. Ia dengan jelas mengingat segala hadiah yang dihasilkan Sasuke dari berbagai permainan yang ia lakukan. Bukankah ini adalah kencan yang mirip seperti di komik shoujo kesukaan Sakura? Jadi tak salah jika seorang Haruno Sakura sangat bahagia hari ini. Namun tetap, sorot mata Sasuke membuatnya gelisah. Ada sesuatu yang membuat firasatnya terasa aneh.

"Hari ini menyenangkan, yah? Aku tak menyangka Sasuke-kun bisa menembakkan seluruh bola basket ke ring, itu luar biasa, bahkan ketika kau sed..."

"Sakura."

Kalimat bahagia Sakura terhenti ketika Sasuke memanggil namanya. Dan sekali lagi, perasaan buruk ini datang menimpa kebahagiaan Sakura.

"Aku ingin kita putus."

Empat kata itu seolah membekukan seluruh gerak Sakura. Ia menunduk menyembunyikan wajahnya. Sakura tahu hal ini akan terjadi mengingat bagaimana sikap Sasuke padanya selama ini. Tapi ia tak bisa. Sakura telah mencintai Sasuke melebihi ia mencintai dirinya sendiri. Ia ingin egois, ia ingin mengekang pria ini di sampingnya. Sakura mengepalkan tangannya seolah berusaha mengumpulkan seluruh kekuatannya.

"Aku tak bisa."

Bianglala tersebut kembali bergerak sesuai alurnya. Membawa mereka turun secara perlahan. Sasuke tak terkejut, ia tahu apa yang akan dikatakan Sakura. Baiklah, Sasuke akui bahwa ia brengsek. Ia berani mempermainkan gadis sebaik Sakura, seharusnya ia tak pernah melakukan pernyataan tersebut pada gadis bersurai merah muda ini.

"Percayalah, ini yang terbaik untuk kita berdua."

"Terbaik?" gumam Sakura. Rasanya seluruh tubuhnya kaku mendengar pernyataan Sasuke. Terbaik? Untuk siapa? Dirinya atau hanya untuk Sasuke? Sakura tahu, Sakura mengerti, hal ini akan terjadi, karena pada dasarnya Sakura tahu dengan jelas siapa sebenarnya yang Sasuke inginkan. Ia tahu dirinya hanya pelarian atas sikap Sasuke yang pengecut. Tetapi semua ini terlanjur terjadi, apa tak ada sedikitpun perasaan Sasuke untuknya?

"Apa aku tak cukup pantas untukmu, Sasuke-kun?" sekali lagi Sakura menahan isakannya yang nyaris keluar. Matanya yang berkaca-kaca ia hadapkan pada Sasuke berharap pemuda itu melihatnya. Namun, tetap saja sang pemuda lebih memilih memandang ujung sepatunya, ia tak memiliki keberanian menatap mata sewarna emerald itu.

"Kau tak pernah tak pantas, hanya saja kau datang disaat yang tidak tepat, Sakura," untuk pertama kalinya Sasuke melembutkan suaranya. Ia bukan bermaksud menghibur gadis itu atau bagaimana, namun itulah kenyataanya. Ia mengagumi Sakura bahkan seluruh hal pada diri gadis musim semi itu. Mulai dari beraneka senyumnya, harum tubuhnya, warna rambutnya, hingga seluruh perhatiannya Sasuke suka. Namun, ia hanya suka, ia tidak menampik bahwa hatinya telah dijerat terlebih dahulu. Bukan oleh Sakura, melainkan seorang lain yang segala darinya tak Sasuke suka.

"Saat aku memintamu menjadi kekasihku kala itu, ada orang lain dibelakangku. Seseorang yang telah aku sakiti," ujar Sasuke pelan.

Sakura menggigit bibir bawahnya berusaha menahan isakannya. Tentu ia tahu, ia tahu dengan jelas apa yang terjadi, dan ia tahu siapa orang lain itu.

Keheningan melanda keduanya hingga tiba waktunya mereka untuk turun. Sakura gamang, ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tak ingin melepaskan Sasuke, tapi disisi lain wajah tirus sahabatny itu menguasai memorinya. Bagaimanapun juga dirinya adalah tokoh antagonis dicerita mereka. Seseorang yang egois yang melakukan apapun untuk keinginannya sendiri.

"Kau tahu Sakura, kau gadis yang baik."

Mata emerald nya membelalak menatap Sasuke disampingnya yang tersenyum. Gadis baik? Sebuah senyum terbit dari bibir kemerahannya. Ditariknya tangan sang mantan kekasih, tanpa peduli pada protes yang dilayangkan pemuda itu. Ya, belum terlambat, ia bukan sedang memainkan sebuah film yang skenarionya telah dibuat, ia sedang menjalani kehidupan dengan skenario yang sedang dibuat, bisa kau belokan sesuka hati dan menentukan sendiri perannya. Kali ini ia akan menjadi tokoh protagonis yang selalu ikhlas dan bahagia atas kebahagiaan yang dicintainya.

.

.

.

Sasuke menatap sekali lagi pada mata emerald Sakura. Tangannya yang memegang kenop pintu tak berani mengambil tindakan. Senyum Sakura yang kali ini berusaha meyakinkannya justru membuatnya bingung. Sasuke menggeleng kemudian melepaskan tangannya dari kenop pintu dan memilih mundur.

"Untuk apa kita kemari?" tanya Sasuke. Ia tak mengerti dengan Sakura yang tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya berlari-lari sejauh 1 km hingga tiba disebuah rumah sakit. Bahkan tanpa berkata, gadis musim semi itu mengarahkannya pada sebuah pintu berwarna putih dengan plang nama marga dan nomor kamar.

Sakura tersenyum menatap Sasuke. Diraihnya tangan besar sang bungsu Uchiha. "Maafkan aku Sasuke-kun, seharusnya sejak awal aku tak menerima tawaranmu kala itu. Aku tahu diriku hanya pelarianmu dari sifat pengecutmu, aku tahu benar siapa yang kau cintai. Dan sejak kau memutuskanku, aku yakin kau sudah membuat keputusan dan melawan sikap pengecutmu. Karena itu, aku percayakan sahabatku padamu, kembalikan ia seperti semula, seperti dahulu."

"Apa maksudmu?" Sasuke tak mengerti, ia tak mengerti segala racauan Sakura.

"Kau beberapa hari ini mencarinya kan? Dan aku yakin usahamu itu tak membuahkan hasil," kata Sakura dengan lembut. Ia membiarkan Sasuke mencari makna kalimatnya sendiri, karena ia yakin Sasuke cukup pintar. Sakura berjalan kearah pintu, memegang kenopnya, dan tersenyum pada Sasuke seolah meminta lelaki itu agar mendekat.

Sasuke mendekat, berdiri dihadapan pintu putih itu. Menahan rasa penasaran dan gugupnya yang datang secara bersamaan. Ada juga rasa takut yang Sasuke rasakan. Sakura tersenyum menenangkan dan dengan ia putar kenop pintu itu menimbulkan bunyi 'klik'. "Temuilah ia."

Dan mata Sasuke membelalak. Terkejut dengan apa yang dilihatnya. Aliran darahnya seolah berhenti. Keterkejutan itu bukan milik Sasuke seorang, nyatanya sosok itu juga memiliki reaksi yang sama.

"Sasuke-kun."

.

.

.

"Itachi..."

TBC...

XXXX

Hey! Hey! Hey!/teriak ala owel jejadian/ ADA YANG RINDU SAMA SAYAAAA... /kedip2 manjah/

Chap 2 up baby... Lama ya? Hehehe... Maaf banget, saya agak stuck sama pair ini, gegara beradu tegang sama beberapa pihak membuat saya agak empet ke fandom kampung halaman ini, ampuni saya... /sungkem/

Lho kok itachi? Kok ga Hinata? Jujur, ini saya juga ga tau kenapa fic ini jadi begini, alurnya tiba-tiba menguap entah kemana, saya lagi demen cinta segibanyak nih/ga nanya/ makanya jadi molor, chap 3 juga saya belum tahu gimana nanti. Seharusnya tamat di chap ini, tapi malah ga tau lagi mau gimana konklusinya, saya itu susah menemukan ending buat fic2 saya sendiri*bukan penulis yang baik.

Saya cuma berharap biar cepat dapet wangsit biar ini fic juga jelas juntrungannya, ga ngegantung gini. Saya mohon semangatnya/bow/ atau mungkin saran2 dan kritik juga boleh, atau mau rekomendasiin gua buat bertapa biar dapat wangsit juga boleh kok, asal jangan gua akatsuki aja, kan horror kalau dapatnya wangsit dari Pein atau Kisame, serem oi. Tapi chap depan, saya pastikan hime-sama kita akan keluar, SAYA PASTIKAN!

Okelah sekian curhatan ga penting saya, see you in next chapter^^

p.s: thank you banget buat Kak Skrup a.k.a Kak Ai a.k.a Kak Nejia. Sumpah kak namamu terlalu banyak aliasnya/disepak/ makasih banget udah mau diajak ngebahas chap ini sampai2 mau meladeni kelakuan absurdku hingga kakak ketularan. Jangan bosen ya meladeni bocah kayak aku^^ aku sayang kakak, sayang banget/peluk cium/ muach muach

eh, buat NurmalaPrisska juga, thank you cantik, entah kenapa nongolnya kamu tiba-tiba ide dan mood langsung meluap, sampe tumpeh-tumpeh meski kemudian kembali menguap bak es di tengah gurun sahara hehehehe... thank you baby :*

SEE YOUUUUU...

Love,

Betel, Bella, Trix (terserah mau manggil saya gimana)