"Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu,"ucap Kibum lemah lalu mencium pucuk kepala Siwon lembut. Mata Kibum kini tertuju pada gelang berwarna hitam yang dipakai oleh Siwon, dia masih ingat betapa senangnya saat Kibum memberikan gelang itu pada Siwon. Kibum melepas dan mengambil gelang yang dipakai oleh Siwon dari tangan kekarnya.
"Izinkan aku mengambilnya Wonnie, biarkan ini menjadi penggantimu untukku,"ucap Kibum sekali lagi sebelum ia beranjak pergi dan akhirnya menghilang di balik pintu kedai minuman tersebut.
Author pov*
Kim Kibum sedang duduk melamun di tepi ranjang kamarnya, walaupun ini sudah menunjukkan pukul dua pagi, namun ia sama sekali tidak berniat untuk tidur. Pikirannya melayang membayangkan saat pertama kali ia bertemu dengan Siwon sang kekasih hati.
~ flashback ~
Di malam natal yang dingin duduk seorang yeoja kecil berusia sekitar delapan tahunan di bangku taman yang ramai. Ia tampak sedang menangis sesenggukan. Namja kecil nan tampan yang kebetulan tengah menikmati malam natal bersama kedua orang tuanya di taman itu menghampiri yeoja kecil itu lalu ia duduk disebelahnya.
"Hei, kenapa kau menangis?"tanya namja imut tadi pada sang yeoja kecil.
"Aku tersesat, aku terpisah dari gerombolan panti asuhanku,"jelas sang yeoja kecil tadi masih sesenggukan.
"Gwaenchana, aku akan membantumu mencari teman-temanmu. Khajja !"namja imut tadi menggandeng sang yeoja kecil tadi untuk mencari teman-teman panti asuhannya.
Selama dua jam mereka berdua berusaha mencari disekitar taman hingga kedai-kedai makanan yang ada di dekat taman tersebut, namun hasilnya nihil. Sang yeoja kecil tadi semakin takut dan terus menangis membuat namja imut tadi tak tega melihatnya.
Sepasang suami istri berlari ke arah mereka berdua dengan khawatir.
"Wonnie kau kemana saja hemm? Eomma sangat khawatir padamu,"sang yeoja cantik yang di ketahui bernama Choi Heechul itu memeluk anaknya dengan sangat erat.
"Mianhae eomma, aku tadi sedang membantu teman baruku,"jelas namja imut tadi yang teridentifikasi bernama Choi Siwon.
Choi Heechul dan Choi Hangeng yang mendengar penjelasan dari anak semata wayangnya tentang sang yeoja kecil tadi pun merasa iba.
"Gadis kecil, siapa namamu?"tanya Heechul lembut.
"Kim hiks.. Kibum hiks.. ahjumma,"Jawab Kibum masih sesenggukan.
"Gwaenchana, untuk sementara waktu ikutlah bersama kami ne. Nanti ahjussi akan mencari tahu panti asuhanmu."jelas Hangeng lembut.
"Sudah jangan menangis lagi ne, aku mempunyai banyak mainan di rumahku nanti kau boleh meminjamnya,"Siwon mengurai senyum lembut pada Kibum.
Akhirnya setelah berhasil meyakinkan Kibum bahwa mereka adalah orang baik dan akan membantunya mencari panti asuhan yang ditinggalinya selama ini, Kibum pun akhirnya mau ikut dengan sepasang suami istri tersebut.
Dengan bersusah payah Hangeng sudah berusaha mencari panti asuhan yang sudah merawat Kibum selama ini, namun sama sekali tak ada hasilnya. Untunglah Kibum ternyata betah tinggal bersama mereka bertiga. Choi Heechul dan Choi Hangeng sangat menyayangi Kibum seperti anaknya sendiri bahkan terkadang mereka lebih sayang pada Kibum ketimbang anaknya sendiri yaitu Siwon. Kibum pun sama sekali tak kekurangan karena Choi Hangeng merupakan pengusaha muda yang sukses di Korea.
Hari-hari Kibum pun dihiasi dengan tawa dan keceriaan bersama keluarga barunya. Siwon yang masih kecil itu pun sangat menyayangi Kibum dengan sepenuh hati.
"Bummie kalau besar nanti aku akan menikahimu,"ucap Siwon dengan menggenggam tangan Kibum erat.
"Jinjja? Aku mau Wonnie, tapi banyak yang menyukaimu. Wonnie kenapa mau menikah denganku?"tanya Kibum polos.
"Karena Wonnie sangat menyayangi Bummie. Aku akan selalu menjagamu Bummie,"Jelas Siwon sumringah dan mereka pun berpelukan.
~Flashback end~
Kibum mulai tersadar dari lamunannya saat ia mendapati sebuah panggilan pada layar iPhone-nya. Matanya menyiratkan kebencian yang amat sangat saat mengetahui siapa yang telah menelponnya.
"Yeobseo?"jawab Kibum sinis.
"Aigoo, kenapa kau begitu sinis pada calon suamimu ini Bummie?"tanya namja yang ada diseberang telpon tadi.
"Apa lagi yang kau inginkan Shim Changmin?"tanya Kibum masih dengan nada sinis.
"Aku hanya ingin mengingatkan padamu, besok aku akan menjemputmu dari rumah sialan itu jadi berkemaslah mulai dari sekarang."jelas Changmin.
"Apakah ini sangat menyenangkan bagimu Shim Changmin! Tidak perlu kau ingatkan aku akan melakukannya."jawab Kibum sadis lalu mematikan sambungan telponnya secara sepihak.
.
.
.
Hari pun dengan cepat berganti pagi, matahari bersinar sendu seolah ikut merasakan perasaan Kibum saat ini. Kibum sudah besiap-siap dengan kopernya. Ia melangkahkan kaki jenjangnya menuruni anak tangga rumah keluarga Choi dengan berat. Hatinya seolah menolak dengan semua ini, ia sungguh tak mau meninggalkan rumah yang selalu memberikannya kebahagiaan selama ini. Kibum berhenti sesaat, tangannya meremas dadanya kuat-kuat agar dia kuat menjalani semua ini.
"Kau harus kuat Kim Kibum, demi mereka semua."Kibum menatap nanar pada ketiga orang yang berada di ruang keluarga. Mereka tampak sedang kalut dan sedih. Wajah Choi Heechul yang selama ini selalu terlihat sumringah dan cantik kini berubah menjadi kusut dan matanya sedikit membengkak. Kibum dengan sekuat tenaganya menahan tangisnya yang sudah berada di pucuk mata hitamnya.
Ting... Tong...
Suara bel rumah milik keluarga Choi menggema diseluruh ruangan. Tampak Siwon melangkahkan kakinya dengan malas menuju pintu rumahnya. Sesaat setelah membuka pintunya matanya membulat lebar, disana sudah ada rival abadinya yaitu Shim Changmin yang sudah mengembangkan tawanya lebar.
"Apa yang kau lakukan disini brengsek?"Siwon mencengkeram baju Changmin kuat, sorot matanya menyiratkan kebencian yang amat sangat terhadap namja yang ada dihadapannya sekarang.
"Cih, tidak bisakah kau bersikap biasa Choi Siwon,"ucapnya sembari melepaskan genggaman tangan Siwon pada bajunya.
"Aku tidak bisa bersikap biasa jika itu kau Shim Changmin!"bentak Siwon keras, sementara Choi Hangeng yang mendengar keributan langsung keluar menyusul anaknya. Matanya membulat lebar melihat siapa yang sedang beradu mulut dengan anaknya.
"Mau apa kau kesini?"tanya Hangeng dingin.
"Aku hanya ingin menjemput Bummie dari sini,"ucap Changmin enteng membuat Siwon dan Hangeng membelalak tak percaya.
"Bummie tidak ada urusannya dengan ini semua Changmin, jangan ganggu dia!"ucap Hangeng dengan suara tinggi.
"Annyeong Chagi,"sapa Changmin pada Kibum yang baru keluar dari tempat persembunyiannya tadi. Kibum hanya tersenyum palsu pada Changmin.
"Chagi kenapa kau membawa koper?"tanya Heechul heran melihat Kibum menenteng dua koper besar di kedua tangannya.
"Mianhae Eomma.. appa, aku tidak bisa tinggal bersama kalian lagi,"ucapan Kibum barusan sudah berhasil membuat ketiga orang yang sangat dicintainya itu terkejut bukan main. Heechul segera menghampiri Kibum lalu mengelus pipi chubbinya.
"Wae chagi? Kau mau kemana? Jangan tinggalkan kami Bummie, kami sangat menyayangimu,"Heechul memeluk Kibum erat, ia benar-benar takut setelah kehilangan semua hartanya ia juga akan kehilangan Kibum yang sudah ia anggap seperti anak sendiri.
"Aigoo, aku seperti melihat sebuah drama sinetron disini. Bummie ayo cepatlah kita segera pergi dari rumah ini. Bukankah kita akan sibuk dengan acara pertunangan kita?"Changmin menyeringai senang melihat raut kecewa bahkan mungkin marah dari mereka bertiga.
"Jangan sentuh Bummieku!"bentak Siwon saat melihat Changmin berusaha menarik Kibum.
"Ada apa sebenarnya ini?"tanya Heechul kebingungan mendengar penuturan dari Changmin barusan.
"Apa kau belum menjelaskannya pada mereka chagi?"tanya Changmin manja sambil semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping Kibum membuat Siwon semakin geram.
"Well, sebaiknya aku harus menjelaskannya sekarang. Bummie akan bertunangan denganku minggu depan dan setelah itu kita akan menikah di Amerika. Jadi bisakah kalian membiarkan kami pergi dari sini?"jelas Changmin panjang lebar.
"Andwae, Bummie hanya akan menikah dengan Siwon, kau tidak boleh membawanya pergi."teriak Heechul histeris sambil memeluk tubuh Kibum erat.
"Kau sudah sangat keterlauan Shim Changmin. Kau sudah membuat perusahaan kami hancur dan kau sekarang ingin merebut Kibum juga dari kami hah?"Hangeng sudah tidak tahan lagi sekarang menahan amarahnya dari tadi.
"Ahjussi kalau kau tidak pintar dan gesit dalam dunia perbisnisan, maka kau akan di depak dengan sangat menyakitkan seperti sekarang, hahahaha."tawa Changmin lebar.
"Sudahlah menyingkir dari Bummieku Nyonya Choi,"Changmin dengan sengaja mendorong tubuh Heechul yang lemah hingga membuat ia jatuh di atas lantai dingin rumahnya.
"Changmin-ah jangan seperti itu pada ahjumma,"bentak Kibum keras dan segera ingin menghampiri Heechul, namun tangan kekar Changmin segera menariknya dan membawanya keluar dari dalam rumah keluarga Choi dengan paksa.
"Cepat bawa kopernya dan halangi mereka,"ucap Changmin pada keempat bodyguardnya.
"Bummie jangan pergi,"samar-samar terdengar suara Heechul yang masih memanggil Kibum yang dengan paksa dibawa oleh Changmin, sementara Siwon berusaha mengejar Kibum, namun bodyguard Changmin menahannya kuat.
Author pov end*
Kibum pov*
Sudah lima hari aku tinggal di rumah Changmin yang besar, dan selama itu pula Siwon selalu berdiri di depan rumah Changmin hanya sekedar ingin berbicara padaku, namun aku tidak bisa bertemu dengannya. Aku takut kalau aku menemuinya mungkin aku akan berubah pikiran dan pengorbananku sejauh ini hanyalah sia-sia belaka. Aku tidak perlu khawatir Changmin akan mengetahui ini karena dia memang selalu sibuk dikantornya.
Tuhan aku sungguh rindu sekali padanya. Aku ingin sekali memeluknya dan berbagi kehangatan padanya yang mulai menggigil kedinginan. Sudah empat jam dia berdiri disitu dan tak bergeming sama sekali meskipun kini rintik-rintik hujan mulai turun membasahi tubuhnya, namun ia masih dengan kekeh berdiri disana. Aku benar-benar tidak tega dengannya. Sebaiknya aku segera bertindak sebelum ia akan jatuh sakit karena kehujanan seperti itu.
Aku segera berlari keluar rumah dan mengambil dua buah payung. Aku segera menghampirinya, dia mengembangkan senyumnya lebar melihatku menghampirinya.
"Bummie aku tau kau masih mencintaiku, pulanglah bersamaku ne,"ucap Siwon dengan suara bergetar dan bibir jokernya kini mulai membiru.
"Andwae, kau pulanglah. Dan kumohon jangan melakukan hal BODOH seperti ini terus,"ucapku dingin padanya, sungguh aku tak tahu mendapatkan kekuatan dari mana untuk mengatakan hal yang sangat menyakitkan itu padanya.
"Aku tidak mau, aku akan disini terus sampai kau mau ikut aku pulang dan membatalkan pertunanganmu dengan Changmin sialan itu,"ucapnya lantang. Tuhan sungguh aku ingin merengkuh tubuh rapuhnya sekarang dan menyalurkan cintaku yang begitu besar padanya.
"Terserah kau saja, aku sudah berbaik hati memberikanmu payung, tapi sepertinya kau tak membutuhkannya,"ucapku sinis padanya. Sungguh sangat sulit sekali berakting di depan dia. Aku memutuskan untuk segera masuk ke dalam rumah sebelum hatiku semakin berdenyut sakit harus melihat orang yang sangat aku cintai menderita.
"Saranghae,"Siwon memeluk tubuhku dari belakang, aku bisa merasakan tubuhnya bergetar kedinginan. Aku memegang dadaku yang serasa sesak, berusaha meredam rasa sakit yang ada disana.
"Jeongmal saranghae,"ucapnya lagi namun kali ini dengan suara yang sedikit melemah.
"Mianhae, aku sama sekali tidak pernah mencintaimu karena yang aku cintai selama ini adalah Shim Changmin, orang yang akan bertunangan denganku nanti,"ucapku tegas sambil melepaskan pelukannya pada tubuhku.
Aku segera berlari dan masuk kedala rumah. Sekarang air mataku sudah tidak bisa kutahan lagi. Aku menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan semua rasa sakit yang ada yang selalu menyiksaku.
Sudah dua jam aku menangis, namun sepertinya ini tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang telah aku berikan pada namja yang sangat aku cintai itu. aku menyibakkan tirai merah yang melekat pada jendela kamarku, mataku membelalak tak percaya. Siwon masih berdiri disana, di depan rumahnya hampir dua jam. Dia benar-benar gila. Tak beberapa lama Siwon pun ambruk, dia terjatuh di atas tanah. Dia pingsan.
Aku segera berlari dan menghampirinya berusaha memapahnya ke dalam rumah. Pikiranku benar-benar kalut, aku tak peduli kalau Changmin akan marah besar padaku, yang terpenting saat ini aku harus menolongnya. Setelah berhasil menghubungi Donghae aku segera memeberikannya selimut agar ia tidak kedinginan. Aku memandangi wajah tampannya yang begitu damai dan tenang. Ku elus surai hitamnya yang sedikit basah. Aku benar-benar merindukannya. Merindukan dekapan hangatnya, merindukan kata-kata cinta yang selalu dikatannya padaku, aku benar-benar rindu semua yang ada pada dirinya.
"Apa kau sangat menderita Wonnie?"tanyaku meskipun aku tahu ia tak akan mungkin menjawabku.
"Mianhae, Jeongmal mianhae. Aku harus menyakitimu sedalam ini,"aku mengelus wajah tampannya yang sedikit pucat. Aku mendaratkan ciuman singkat pada bibir joker miliknya. Hangat. Meskipun permukaan bibirnya terasa dingin, namun hatiku benar-benar merasa hangat.
Aku memeluk tubuh atlethisnya posesif, merengkuhnya dengan sangat erat mencoba berbagi kehangatan dengannya yang kini masih belum sadar. Kepalanya bergerak-gerak gelisah, ia tampaknya sedang mimpi buruk.
"Jangan tinggalkan aku Bummie, aku sangat mencintaimu."Siwon mengigaukan diriku, sebesar itukah cintanya padaku. Aku benar-benar merasa menjadi wanita yang kejam. Lagi-lagi aku menangis dihadapannya.
"Mianhae Wonnie, Jeongmal mianhae."tangisku pun pecah sudah dihadapannya yang tak berdaya sekarang.
Tiba-tiba pintu rumah Changmin dibuka dengan kasar oleh seseorang, dan muncullah beberapa orang yang sangat aku kenal tengah berlari ke arahku dan Siwon dengan tampang khawatir. aku segera memasang wajah dinginku pada mereka semua, mencoba kembali berakting dihadapan mereka. Choi Heechul langsung berhamburan ke pelukan anaknya yang masih tak sadarkan diri.
"Kenapa dia bisa sampai pingsan Bummie?"tanya Donghae yang melihat perubahan pada sikapku akhir-akhir ini.
"Aku juga tidak tau, dia selalu berdiri disini setiap hari dan aku sudah menyuruhnya pulang, tapi ia sama sekali tidak mau mendengarkan perkataanku dan jadilah dia seperti ini karena kehujanan,"jelasku dingin.
PLAAKKK...
Sebuah tamparan mendarat pada pipi mulusku, hatiku berdenyut sangat sakit. Sepanjang aku mengenal Choi Heechul dia adalah orang yang amat sangat menyayangiku, tapi sekarang pertama kalinya dia menamparku dengan sangat keras. Rasa sakit di pipiku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebencian mereka semua terhadapku sekarang.
"Kau benar-benar wanita hina Kim Kibum,"bentak Heechul eomma padaku.
DEG...
Kenapa rasanya sangat sakit sekali saat Heechul eomma mengatakan kata-kata itu barusan, hatiku seolah-olah ditusuk oleh ribuan jarum. Sangat menyakitkan. Aku hanya diam tanpa berani menatap wajah sendu Heechul eomma yang mulai menangis.
"Cepatlah kau bertunangan dengan Changmin dan segera pergi ke Amerika. Dan satu lagi, jangan pernah muncul dihadapan kita lagi!"teriak Heechul eomma tepat di depan wajahku. Hangeng appa membopong tubuh Siwon yang masih tak sadarkan diri dibantu dengan Donghae.
"Hiks... mianhae hiks..."aku terduduk dilantai dingin rumah Changmin, aku hanya bisa menangis meraung melihat kepergian mereka semua, kepergian orang-orang yang sangat aku cintai.
To be continued...
Annyeong readers^^
Ahh akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan FF ini. Apakah kurang lama updatenya? Atau kurang pendek Ffnya? #Jduakk *jedotin kepala di tembok.
Gimana dengan chapter ini readers? Apakah membosankan? Apakah sudah tidak tertarik lagi dengan jalan ceritanya? Hemm baiklah aku tunggu review dari kalian semua ne^^
Maaf sebenernya pengen banget bales review kalian, tapi belum sempet # ngeles. Chapter depan aku usahain deh bales semua review satu-satu ^^. Okehh see you next chapter chingudeul ^^
The big thanks to :
Wonniebummie: ELFsparKYU : irumachan : thatha : Bumranger89 : bumhanyuk : fikha : zakurafrezee : NaMinra : Choikyuhae : ELF : RistaMbum : snower 0821 : Hungdeul :Brigitta bukan Brigittiw : snowers : dddd :
Jeongmal gomawo readers ^^
Review again please ^^
