Ulang tahun Sungjong minggu depan, tepat tujuh hari lagi.

"Nggak, nggak ada ulang tahun ulang tahunan lagi, kan sweet seventeen kemarin udah meriah pestanya," tolak mama saat Sungjong mulai membicarakan soal rencana ulang tahun.

Si cantik itu merengut, memandang papanya, minta bantuan.

Papanya melengos, bukan tak mau membantu, hanya tidak berani melawan istrinya. Bukan, bukan suami takut istri, cuma takut nggak dikasi jatah aja.

Hah...

Padahal Sungjong sudah memimpikan pesta ulang tahun yang meriah, tapi sepertinya tak mungkin terealisasi.

Sungjong bangkit terlebih dahulu, masuk ke kamarnya dan menutup pintu keras-keras.

Sunggyu dan Namu berpandangan, berkomunikasi lewat pandangan mata. Sementara Sungyeol sibuk dengan tabletnya, ngegame lah, apalagi?

Kalo lagi marah Sungjong larinya ke rumah auntie-nya yang ia panggil 'mami' Jisung. Walaupun kakak adik sama mamanya tapi sifat mereka jauh sekali. Mami Jisung rice cooker fairy, sementara mamanya masak nasi aja gosong.

Seperti saat ini, karena sebal dia lari ke rumah maminya, naik sepeda motor matic kakaknya tanpa minta izin, biar aja dicariin, pokoknya Ujong lagi marah.

"Lho kok udah berani naik motor kesini." Mami Jisung yang kebetulan sedang membereskan meja di depan kaget melihat Sungjong yang minggu lalu masih muter-muter perumahan belajar motor sama papanya udah berani ketempatnya sendiri siang-siang rame gini.

"Sebel sih." Sungjong melepaskan helmnya dan masuk, membantu maminya.

Oh ya, maminya Ujong, Uyeol, Seongwoo, Daniel, dan Jaehwan ini buka bisnis kafe di rumahnya untuk menyalurkan hobi memasaknya. Sedang papi Minhyun memiliki stationery shop di sampingnya. Baru bagian belakang dan atas rumah dijadikan tempat tinggal. Jadi mereka bekerjanya di dalam rumah agar tetap bisa menjaga anak-anak.

"Sebel kenapa?" Mami Jisung mengangkat nampan berisi piring-piring kotor dan membawanya ke dapur diikuti oleh Sungjong di belakangnya.

"Minggu depan kan Ujong ulang tahun, masa mama nggak mau ngasi pesta ulang tahun," curhat Ujong sambil bantuin mami cuci piring.

"Mama lagi banyak pengeluaran kali."

"Ih mama kan banyak uang."

"Ya coba nanti kamu ngomong lagi, kalo mama lagi hepi," saran mami.

"Tapi malem ini Ujong bobok sini ya."

"Bobok ama Seongwoo ya depan tivi, hari ini giliran dia jaga bawah," ujar Daniel yang lagi ngiris-ngiris bawang.

"Depan tivi sini?" Ujong menunjuk ruangan di depan dapur.

"Iya, kan ada kasur itu," sahut Jaehwan sambil terus berkutat dengan tabung hijau di hadapannya, lagi mau masang gas ceritanya tapi susah banget harus pake diganjal karet segala.

"Kirain cuma buat nonton tipi, buat bobok juga toh."

"Ya kan harus ada yang jaga tiap hari, bergilir, hari ini giliranku," Seongwoo bergabung.

"Ntar aku aja deh, yang lain bobok atas gapapa, asal pinjemin baju aja."

Kirain tidur depan tivi lebih enak, taunya serem juga. Habisnya ruangan ini ada di belakang toko disamping kafe, cuma ruanga meter berisi sebuah kasur di depan tivi, meja kecil dan sebuah sofa. Di samping tempat tidur yang menempel di dinding ada meja kecil dan disampingnya lagi ada pintu kaca menuju teras belakang. Lah kaca itu yang bikin Ujong ngeri, kayak ada seseorang disana ngeliatin dia, padahal nggak ada.

Ujong akhirnya bangkit dan melangkahkan kaki menaiki tangga yang berada di antara toko dan ruangan tadi, di depan kamar mandi. Atas sudah gelap semua, tanda semua sudah tidur.

Ada dua kamar tidur diatas. Satu kamar mami Jisung dan papi Minhyun di kiri dan kamar anak-anak di kanan, sisanya ruangan tanpa sekat yang luas bisa untuk yoga, dance, ngegame dan apa aja.

Pertama Ujong ke kamar yang kanan, siapa tau ada yang belom tidur dan bisa disuruh nemenin. Atau ada sisa tempat buat dia tidur disitu.

Gelap.

Mana saklar lampunya nggak ketemu-ketemu.

Akhirnya Ujong memanfaatkan ponselnya sebagai senter penerangan.

Tiga sekawan itu tidur berjejer di kasur lantai seperti ikan goreng. Mana banyak baju kotor bertebaran di seluruh penjuru kamar plus bau ini kamar cowok banget, mana tahan Ujong tidur disini sampe pagi.

Si cantik melangkahkan kaki jenjangnya ke kamar lain, kamar utama yang kebetulan sekali pintunya setengah terbuka. Tak sepenuhnya gelap, ada sebuah lampu tidur berbentuk Hellokitty menempel di dinding yang memberi penerangan.

Darisitu Sungjong dapat melihat dengan jelas auntie dan unclenya tengah bertempur hebat.

Ia menutup mulutnya, mencegah untuk bersuara agar tak merusak suasana, tapi tetap lanjut mengintip.

"Ugh, ah, auh... Duh... Ah, ah...," desah Jisung keenakan sambil bergoyang ke kanan dan ke kiri.

"Ah, bunda tahan ya, kita keluar bareng-bareng, bentar lagi ayah sampe," bisik Minhyun, bukan berbisik sih, orang Sungjong aja denger.

Yang nonton kan jadi panas dingin sendiri, sampe lupa sama rasa takutnya tadi.

Gimana nggak ikutan tegang juga Sungjong ngeliat maminya udah merem melek sambil ngremes-remes sprei.

"Uh, ayah, ah... Ah, nggak tahan, Yah..."

Yang diatas bergerak semakin cepat dan ambruk begitu saja di atas istrinya.

Sungjong buru-buru kabur, takut mereka bakal sadar ada orang di pintu karena permainan telah usai, ya kalo nggak ada ronde lanjutan sih.

Sungjong kembali ke ruangan awal dimana ia tidur, duduk di atas ranjang, memeluk kedua kakinya, kan dia jadi pengen juga nonton gituan. Nonton bokep aja jadi pengen, apalagi live.

Myungsoo.

Ya, dia jadi inget Myungsoo. Kira-kira pacarnya itu udah bobok belom ya?

"Anak mommy sayang habis main berapa ronde, uh? Berantakan gitu," komentar mommynya Myungsoo begitu ia masuk rumah. Biasanya anak nggak pulang semalem terus pagi balik berantakan dimarahin ini malah ditanya gitu.

"Ih mommy kepo deh," sahut Myungsoo, ia langsung duduk dan meraih sepotong roti sandwitch ala mommy Joonyoung yang sudah tersedia di atas meja makan.

"Jangan lupa pake pengaman," mommy mengingatkan. Benar-benar ibu yang tidak baik.

"Tambahin makanya uang jajannya buat beli pengaman," sahut Myungsoo di sela-sela kegiatannya mengunyah.

"Ambil tu di lemari sebelah tivi ada banyak persediaan mommy, mau rasa apa aja ada. Komplit. Durian, semangka, vanila blue, milo, cadbury, apel, stroberi..."

"Itu pengaman apa pilihan rasa milkshake mom?"

"Hush! Hush! Ngomongin begituan, ayo sarapan," appa menginterupsi. Ganggu aja...

Sungjong masih tidur nyenyak setelah semalam berhasil tidur dengan dikeloni Myungsoo. Habisnya dia tidur di bawah sendirian takut setan pindah atas lagi ada 'pertempuran', jadilah dia nelpon pacarnya buat kesana nemenin sampe tidur dengan upah dinenenin.

Sementara tiga bersaudara anak-anak mami Jisung dan papi Minhyun udah pada bangun dari tadi, malah udah pada mandi dan siap-siap berangkat ke sekolah.

"Bunda masak apa nih sedap sekali..." Papi Minhyun mendekati istrinya yang tengah berkutat di belakang kompor.

Pasangan ini memang aneh, keduanya saling memanggil 'ayah-bunda' tapi anak-anak mereka memanggil keduanya dengan 'papi-mami'. Kadang yang denger jadi bingung sendiri.

"Anak-anak ganteng, masi jam enam lebih lima nih, kalian bantu-bantu dulu ya." Bukannya menjawab sang suami Jisung justru mengkomando anak-anaknya, "Jaehwan buang sampah, Daniel nyapu, Seongwoo ngepel!"

Suara itu membangunkan Sungjong. Tentu ia malu udah numpang, yang punya rumah kerja dianya malah ngebo.

"Ujong nggak sekolah?" tegur Jaehwan yang lewat sambil 11 ambil seragam?"

"Daripada bolos."

Tepat sesaat setelah Sungjong selesai mandi, hanya memakai dalaman dan dibalut handuk, mamanya datang dengan canvas bag berisi pakaian seragamnya.

"Ayo cepet pake baju berangkat sekolah!"

"Iya, Ma..."

"Hush kamu tuh ngambek gara-gara nggak boleh ulang tahun, orang kakak kamu aja ulang tahun hari ini nggak ada yang inget," omel mama saat berada di atas sepeda motor, dalam perjalanan menuju ke sekolah Ujong. "Untung tadi pagi mama buka Insta, baca temen-temennya Uyeol pada ngucapin di kolom komentarnya."

"Hah? Ujong juga lupa, hahaa... Mama udah ngucapin?"

"Belom "

"Kok belom?"

"Ntar malem aja kita bikin surprise buat dia."

"Kalo buat kak Uyeol ada surprise berarti buat Ujong juga ada dong?"

Sore hari sepulang sekolah Ujong diantar Myungsoo mampir beli kue ulang tahun buat kakaknya. Boncengan naik sepeda motor lakinya Myungsoo, jadi Ujong bonceng di belakang agak nungging gitu, terus badannya condong ke depan meluk pinggang Myungsoo. Nggak mau rugi, Myungsoo pake ranselnya di depan, buat tadah angin sih alasannya, padahal ya udah jelas.

"Eh! Myung, Myung, belok sini!" Sungjong menepuk-nepuk perut Myungsoo.

Yang mengemudi segera berhenti. Tepat di pertigaan belok ke bakery shop yang dimaksud Sungjong. Untung saja jalan tidak sedang ramai, kalau ramai bisa-bisa mereka tertabrak dari belakang.

"Bagusnya yang mana ya? Yang Kak Uyeol suka," Sungjong meminta pendapat kekasihnya.

Di display ada dua cake yang menarik perhatiannya, coklat dan ungu. "Ini? Atau ini?" Sungjong menunjuknya satu per satu.

"Ini aja kali, hemat." Myungsoo justru menuncuk mini cupcake yang ada di rak atas.

"Yaelah, dikasi mama juga duitnya, pelit amat sama calon kakak ipar."

Myungsoo tertawa bahagia, bahagia karena bukan dia yang bayarin.

"Jadi yang mana nih?" Sungjong kan jadi nggak enak sama si mbaknya kalo lama milihnya.

"Ungu aja, Hellokitty, Uyeol kitty, hahaha..."

Sungjong cemberut. "Gitu ya, bukan Ujong lagi kittynya Myung."

Mereka bertujuh telah berkumpul di ruang keluarga. Satu yang ulang tahun, sepasang orang tuanya, sang adik dengan kekasihnya, sepupunya - Momo - bersama dengan kekasihnya yang merupakan teman sekelas Sungjong, Aron.

Nyanyi selamat ulang tahun udah, tiup lilin udah, potong kue juga udah, tinggal makan aja sekarang. Makan cake, mie goreng, sama minum es puding.

"Eh yang ulang tahun malah yang nggak punya pasangan, hahaha," celetuk Myungsoo di sela-sela makannya.

Si tinggi merengut.

"Kenalin dong itu temen kantor sama Kak Uyeol," Momo pada kekasihnya yang udah oom-oom, nggak tau nemu dimana ni orang.

"Ih ahjussi, gue maunya brondong," sahut Sungyeol memalingkan wajah.

"Myungsoo brondong kan?" celetuk papa spontan, membuat keenam orang lainnya memandang ke arah papa dengan berbagai macam ekspresi. "Eh? Salah ngomong ya?"