Disclaimer: Masashi Kishimoto, Ichi Ishibumi and other

Another Power

Genre: Advanture, Fantasy, Friendship, Family, Romance, Super Power

Warning: Miss typo, AU, GodLike Naru, PlotHole, etc

.

.

.

.

.

.

Pagi hari yang cerah, sangat bagus untuk memulai pekerjaan. Kemarin malam Sebas-san mengatakan bahwa aku dapat bekerja hari ini, di peraturan yang aku baca. Pekerjaan staf kebersihan juga baru dimulai pada pukul tujuh pagi, jadi aku bangun satu jam lebih awal.

Untuk sekarang aku hanya tinggal menunggu Syr-san, gadis berambut abu-abu dengan gaya kuncir kuda yang kemarin membantuku. Kepala staf bilang dia yang akan menunjukkan apa saja yang perlu ku lakukan untuk pekerjaan di hari pertama.

"Hm... Pukul tujuh kurang lima menit."

Tok tok

"Mungkin itu Syr-san." Setelah mengatan demikian, aku langsung melangkahkan kaki menuju pintu. Dan benar saja, setelah kubuka ternyata memang Sry-san.

Tunggu ada yang aneh, kenapa tubuhnya berkeringat? Apakah dia habis melakukan olahraga pagi, atau apa? Nafasnya juga terlihat terengah-engah.

"Baiklah Naruto-kun, seperti yang kepala staf katakan, hari ini aku akan mendampingimu untuk pekerjaan pertama." Syr-san mengakatan itu dengan nada ceria, melupakan fakta bahwa dia tadi terlihat kelelahan.

"Etto, Syr-san. Kenapa kau terlihat kelelahan seperti itu?" Tentu saja aku penasaran, seorang gadis di pagi hari yang terlihat berkeringat dan nafas terengah-engah.

"Hm? Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku. Yang lainnya juga, jadi seperti ini. Hehe..." Tunggu, menyelesaikan pekerjaan? Bukankah diperaturan ditulis pekerjaan dimulai pukul tujuh pagi?

"Syr-san, jam berapa kau bangun?"

"Jam empat pagi, yang lainnya juga sama sepertiku."

Aku hanya menampilkan wajah kosong, jam empat. Bukankah itu terlalu pagi? Apalagi udara yang dingin hingga dapat menusuk sampai ke tulang.

"Tenang saja, Naruto-kun. Yang lainnya sudah terbiasa seperti ini, jadi mereka sedang beristirahat."

"Yang lainnya beristirahat tapi kau masih tetap bekerja?"

"Ano... Ahahaha."

Terlalu imut, aku tidak kuat melihatnya!

Seperti yang gadis di samping ku ini katakan, para staf telah menyelesaikan semua pekerjaan mereka. Semua, aku tekankan SEMUA!

Ya, karena tidak ada pekerjaan yang tersisa untukku jadi Syr-san hanya menjelaskan apa saja yang harus aku lakukan untuk nanti siang. Sambil berjalan-jalan mengelilingi sekolah, dia terus menjelaskan apa saja yang perlu aku lakukan. Ngomong-ngomong saat ini kami sedang berada di halaman depan akademi, dengan para siswa yang terus berdatangan.

Jika dilihat ini juga sudah waktunya para siswa datang, akademi dimulai pukul delapan pagi. Dan jika dilihat-lihat sejak perjalan mengelilingi sekolah ini bersama Syr-san, tidak ada sampah sedikitpun. Bahkan tidak ada bunga yang tampak layu, apakah para staf yang melakukannya? Tapi bagaimana, selisih waktunya hanya dua jam. Apalagi jumlah seluruh staf juga hanya lima belas orang? Dipikir-pikir berapa kali pun itu terlalu cepat mengingat berapa luas sekolah ini.

'Apa mereka menggunakan sihir?'

Dengan cepat aku menggelengkan kepala, bagaimanapun mereka melakukannya. Mereka hebat dapat membersihkan akademi hanya dalam kurun waktu dua jam.

"Jadi begitu Naruto-kun. Jadi ada yang ingin ditanyakan?" Syr-san nampaknya telah selesai menjelaskan apa yang harus ku kerjakan untuk nanti siang.

"Tidak ada Syr-san, semua yang kau jelaskan sudah cukup."

Dengan demikian kami berjalan kembali ke gedung staf kebersihan, ini sudah waktunya sarapan, setelah membersihkan diri lalu istirahat sejenak. Baru setelah itu para staf kembali bekerja setelah istirahat sekolah usai.

Perasaanku saja atau memang banyak murid yang memandangi kami? Terlebih murid laki-laki, aku tahu pandangan itu bukan ditujukan padaku. Mereka tengah menatap Syr-san, yah mungkin aku sedikit mengerti kenapa mereka memandangi Syr-san. Aku akui wajahnya memang cantik, walaupun tidak secantik ibu.

"Hiraukan saja mereka Naruto-kun dan maafkan wajahku tidak secantik ibumu." Tunggu, dia tahu apa sedang aku pikirkan. Jangan-jangan dia mempunyai kemampuan membaca pikiran, yah walaupun ku rasa itu bukanlah hal aneh di dunia yang penuh akan sihir ini.

"Tidak Naruto-kun, aku tidak memiliki kemampuan seperti itu." Lagi, dia tahu apa yang sedang aku pikirkan. Kalau bukan membaca pikiran, berarti membaca raut wajah? Tapi kenapa dia tahu aku membandingkan wajahnya dengan ibuku.

DUAK

Ugh, kurasa aku menabrak seseorang. Dari suara rintihannya, perempuan?

Perlahan aku membuka kelopak mataku, dan yang kulihat pertama kali adalah seorang perempuan dengan rambut putih panjang menutupi mata kanannya.

Aku lalu mengalihkan pandangan ke arah Syr-san, dia baik-baik saja. Tapi, perasaanku saja atau dia saat ini tengah menatap cemas padaku?

"Etto, maaf atas hal yang baru saja terjadi. Sungguh itu murni ketidak sengajaan, aku benar-benar minta maaf." Bagaimanapun aku harus meminta maaf duluan, entah siapa yang salah, tapi aku merasakan firasat buruk jika tidak cepat-cepat meminta maaf.

Aku lalu menatap gadis itu kembali, dia sudah kembali berdiri. Entah kenapa, tapi yang aku rasakan saat melihat wajahnya. Gadis ini terlihat begitu kosong, wajahnya terlihat seperti boneka dengan iris mata kosong seperti es di dasar laut.

Gadis itu lalu menatap balik ke arahku, errr... Entah kenapa, tapi aku merasa seperti diintimidasi. Dia terus menatapku dengan pandangan kosonya, aku lalu mengalihkan pandangan ke arah lain. Dan yang kulihat adalah, para siswa menatap iba ke arah ku, apa gara-gara aku berurusan dengan gadis ini?

Kemudian gadis di hadapanku ini berlalu setelah bertatapan selama beberapa saat, dan ada yang aneh saat gadis itu melewatiku. Seketika aku menatap gadis itu, tidak salah lagi. Perasaan ini-

"Naruto-kun?"

Langkahku langsung terhenti tatkala seseorang menepuk salah bahuku.

"Naruto-kun, sebaiknya kita segera pergi."

Setelah mengakatan itu kepadaku, Syr-san lalu berjalan berlawanan dengan gadis tadi. Pandanganku masih terpaku ke arah pada gadis dengan rambut putih tadi.

'Perasaan yang aku rasakan darinya ini... Tidak salah, lagi sama seperti yang ku rasakan dulu.'

Saat ini Naruto sedang berada di ruang makan yang berada di gedung staf kebersihan bersama yang lainnya. Mereka tengah sarapan, tidak ada gelak tawa yang menyertai kegiatan mereka seperti malam kemarin kecuali suara hasil dari sendok dan piring yang beradu.

"Ano... Sebas-san, boleh aku bertanya?" Suara Naruto menginterupsi kegiatan mereka, Naruto membuka suaranya ketika sarapan telah usai. Jadi menurutnya tidak apa-apa, apalagi kegiatan staf kebersihan baru dimulai kembali sepuluh menit sebelum waktu istirahat selesai, itu sekitar 30 menit dari sekarang

"Silahkan Naruto-san." Jawab pria dengan rambut serta kumis putih itu mengizinkan.

"Etto, ini mungkin tidak terlalu penting. Tapi, bagaimana kalian membersihkan seluruh lingkungan sekolah hanya dalam waktu dua jam? Menurutku setidaknya butuh puluhan orang untuk melakukannya, apalagi hampir tidak ada sampah bahkan bunga layu sekalipun, saat tadi Syr-san mengajakku berjalan-jalan sambil menjelaskan pekerjaan. Jujur itu tidak masuk akal, bagaimanapun aku memikirkannya. Kecuali satu hal, apa kalian menggunakan semacam sihir untuk melakukan itu semua. Tapi kurasa sihir biasa tidak akan cocok mengingat kebanyakan sihir sekarang digunakan untuk bertarung. "

Seketika semua yang yang ada di sana menundukkan kepala mereka, kecuali sang kepala staf kebersihan yang menatap Naruto dengan tajam.

"Kau nyakin ingin mengetahui hal tersebut." Suara yang kepala staf gunakan terdengar dingin, ok sekarang semua orang yang ada di sana juga menatap Naruto dengan sama.

"Ku... Kurasa, i... Iya. Mungkin." Naruto menjawab pertanyaan kepala staf dengan gugup, Bagaimanapun orang yang baru keluar dari 'gua' seperti dirinya tidak akan kuat ditatap dingin oleh semua orang di ruangan ini.

"Kalau begitu, sebaiknya ikut aku ke halaman belakang." Pria tua dengan janggut dan rambut putih itu lalu beranjak dari duduknya, kemudian berjalan ke arah pintu keluar dan diikuti oleh yang lainnya.

Naruto sendiri hanya dapat mengikuti apa yang diucapkan, dirinya sendiri bingung. Kenapa harus ke halaman belakang, mungkin saja asumsinya benar. Bahwa mereka menyelesaikan semua pekerjaan itu dengan sihir?

Saat ini dirinya- Naruto sedang berada di halaman belakang, dengan kepala staf yang bediri sepuluh meter di depannya, juga para staf lainnya yang berada tepat dibelakang kepala staf.

"Etto... Sebenarnya apa yang akan kita lakukan, Sebas-san? Bukankah kita terlalu jauh hanya untuk berbicara?" Sekarang pemuda berambut pirang itu benar-benar bingung. Untuk apa semua ini, bertarung?

Sedangkan lawan bicaranya hanya menatap pemuda berambut kuning itu dengan datar, sebelum tiba-tiba dirinya menghilang dan berapa tepat di depan Naruto.

Bola mata Naruto seketika membola, dengan pupilnya yang tiba-tiba berubah menjadi vertikal. Lalu Naruto melompat ke belakang guna menjaga jarak, ok yang tadi itu mengejutkannya.

"Sekarang kau mengerti, Naruto-san?" Kepala staf lalu bertanya pada Naruto yang berada kira-kira berada tiga meter di depannya.

Gear-gear di otak Naruto seketika berputar, merespon pertanyaan yang dilontarkan oleh kepala stafnya itu. 'Ok, pertama aku meminta kepada kepala staf untuk menjelaskan kenapa pekerjaan mereka dapat selesai dengan cepat. Kemudian kepala staf mengajakku ke halaman belakang, lalu...'

"Souka, jadi seperti itu. Kalian menguasai sihir percepatan untuk melakukannya, tapi bagaimana bisa? Setahuku, sihir percepatan digunakan untuk memangkas jarak, artinya digunakan pada kaki. Jika kalian menggunakannya untuk melakukan pekerjaan, bukankah itu artinya seluruh tubuh kalian menggunakan sihir percepatan?"

Akhirnya ia paham kenapa mereka dapat menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, sihir percepatan. Sebuah sihir yang diperuntukkan untuk mempercepat laju gerakan, tapi sejauh yang Naruto tahu. Sihir percepatan hanya bisa digunakan pada organ gerak bagian bawah saja, yaitu kaki. Sejauh ini hanya itu yang dirinya tahu tapi, seperti yang dirinya katakan barusan. Perlu usaha yang sangat besar untuk melakukan sihir percepatan dengan seluruh organ gerak.

"Asumsimu tidak salah, namun tidak semuanya benar. Sihir percepatan tidak hanya dapat digunakan pada kaki, namun seluruh organ gerak lainnya. Tentu saja dengan tinggat kesulitan yang besar, jika gagal. Resiko terkecilnya mungkin patah tulang, karena bagaimanapun tidak seperti berlari. Kau harus bisa mengontrol keseluruhan anggota tubuhmu dengan tingkat konsentrasi yang sangat tinggi."

Jawaban yang barusan dia dengar dari kepala staf mengubah cara pandangnya, Naruto sekarang berasumsi. Semua anggota staf kebersihan adalah orang-orang yang hebat, dapat menguasai bahkan mengembangkan sebuah teknik sihir sederhana dan menguasainya. Ok, dirinya berjanji tidak akan membuat masalah dengan mereka.

"Jika kau sudah mengerti, sebaiknya kita segera kembali bekerja."

Dan pernyataan dari Sebas-san barusan membuat seluruh orang yang ada di sana membubarkan diri, kecuali seorang pemuda berambut pirang yang masih menatap kearah dimana yang lainnya pergi.

"Ingatkan aku untuk tidak membuat masalah selama bekerja disini."

Saat ini dirinya sedang berada di taman, dengan para siswa yang sedang menghabiskan waktu istirahatnya. Sebenarnya Naruto tidak mengerti, mengapa pekerjaan staf kebersihan dilakukan pada saat seluruh siswa sedang beristirahat. Bukankah itu hanya akan menambah pekerjaan saja? Yah meskipun pekerjaannya berakhir satu jam setelah istirahat, kemudian dilanjutkan saat sekolah usai nanti.

"Memikirkannya hanya akan membuat ku bingung saja." Naruto menghela nafas disela-sela kesibukannya, tangannya kembali memotong bunga yang sudah layu.

Pemuda itu kemudian berdiri setelah memotong semua bunga yang layu, namun saat dirinya akan berbalik. Tidak sengaja Naruto menabrak seseorang.

'Lagi? Bahkan dengan perempuan.'

Dengan segera Naruto menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh, tapi usahanya sia-sia tatkala seseorang yang dia tabrak jatuh ke arahnya.

SRET

Dengan reflek yang bagus dan sedikit tenaga, Naruto menahan tubuhnya dengan memundurkan salah satu kakinya ke belakang. Dirinya lalu menahan si gadis dengan memegang kedua pundak milik orang dia tabrak itu.

Terdiam dalam posisi itu sebentar sebelum akhirnya si gadis menjauhkan tubuhnya ke belakang, kemudian tiba-tiba gadis itu menundukkan tubuhnya.

"Gomennasai, aku tidak tahu bahwa ada seseorang di depanku saat berjalan tadi." Naruto terkejut melihat tindakan yang dilakukan oleh gadis yang dia tabrak barusan.

Setelah meminta maaf, gadis tersebut kemudian menegakkan badannya. Wajahnya langsung menatap orang yang barusan menahannya, kedua iris berbeda warna itu saling memandang.

Sepasang remaja itu kini sedang berada pada momen dimana tidak dapat merasakan keberadaan orang lain disekitar mereka lagi. Setidaknya itu yang di alami oleh gadis dengan surai merah yang masih beradu tatapan dengan Naruto.

"Etto, kurasa aku yang seharusnya minta maaf." Ucap Naruto sambil menundukkan badannya, mengakhiri momen dimana mereka saling bertatapan.

"Eh?! Apa yang anda maksud, justru sayalah yang harus meminta maaf." Si gadis juga terlihat tidak enak, kemudia dengan tinggah gugup. Dirinya juga menundukkan badannya, hingga mereka berdua terlihat seperti patung, dimana kepala mereka nampak berdekatan.

"Maaf, tapi bagaimanapun juga saya yang tidak berhati-hati tadi. Jadi maaf saya ojou-sama!"

"Ie ie, bagaimanapun juga saya juga tidak berhati-hati. Jadi mohon maafkan saya!"

Nampak kedua remaja dengan surai yang berbeda warna itu tertawa kecil, lalu mereka pun kembali menegakkan tubuh mereka sehingga sekarang terlihat keduanya saling bertatapan kembali.

Kemudian Naruto mengulurkan tangan kanannya, mengajak gadis di hadapannya berkenalan. "Naruto. Jika boleh, saya ingin tahu nama anda, ojou-sama."

"Ara, sungguh tidak terduga. Sara, Uzumaki Sara. Senang berkenalan dengan anda." Gadis di hadapannya juga terlihat menerima uluran tangan dari Naruto.

"Maaf jika ini tidak sopan ojou-sama, tapi saya mempunyai keperluan lain. Jadi jika boleh, ijinkan saya untuk undur diri." Ucap Naruto sopan dengan badan yang dia bungkukkan layaknya seorang butler.

"Fufufu, tentu saja. Aku tidak memiliki alasan khusus untuk menahanmu terus disini." Sara menjawab tingkah dari Naruto dengan sedikit kekehan dan senyum di wajah cantiknya itu.

Naruto kemudian menegakkan badannya dan memandang sebentar gadis pemilik surai merah di hadapannya, sebelum Naruto tersenyum lalu berlalu meninggalkan lawan bicaranya.

Setelah Naruto berlalu, Sara kemudian kembali tersenyum. Dengan perlahan Sara merendahkan tubuhnya lalu tangan putih miliknya menyentuh kelopak sebuah bunga di hadapannya.

"Naruto kah, pemuda yang tidak memiliki energi sihir namun memancarkan sebuah aura yang sama seperti 'binatang buas'. Fufufu, sunggu menarik."

Beralih ke tempat Naruto, saat ini ia tengah berjalan santai sambil sesekali dirinya melihat-lihat sekitar.

"Uzumaki Sara, seorang gadis dengan energi sihir yang luar biasa besar namun terasa begitu tenang. Heee, sungguh menarik."

"Seperti yang diumumkan oleh kepala sekolah, sebentar lagi akademi akan menyelenggarakan acara tahunan dimana para siswa akan dihadapkan oleh pertandingan kelompok. Jadi tugas kita adalah mengamankan akademi karena raja beserta keluarganya akan menyaksikan acara tahun ini. Tidak hanya raja, beberapa bangsawan dari berbagai daerah juga akan turut menyaksikan acara tahun ini."

Di ruang makan nampak para staf kebersihan sedang mengadakan perbincangan, semua terlihat mendengarkan apa yang baru saja kepala staf katakan dengan serius. Kecuali satu remaja dengan surai pirang yang terlihat paling mencolok diantara semua yang ada disana yang memasang wajah kebingungan.

Lalu dengan tingkah gugup, Naruto mengangkat tangan kanannya dan menginstrupsi yang lainnya.

"Maaf, tapi hanya perasaanku saja atau memang tadi aku mendengar kata 'mengamankan', bukankah tugas kita membersihkan?"

Seketika semua orang memandang Naruto lucu dan direspon dengan tampang lucu oleh si pemuda berambut pirang. 'Are, apa yang salah dari perkataanku?'

"Maa, kau tidak salah bertanya seperti itu. Lagi pula ini hari pertamamu bekerja, begini Naruto. Sebenarnya tugas kita tidak hanya membersihkan, atau mungkin. 'Membersihkan' dalam artian sebenarnya, ku pikir kau akan mengerti tanpa perlu aku jelaskan lebih lanjut." Semua orang masih memandang Naruto dengan lucu, apalagi sekarang mereka terkikik geli melihat tingkah pemuda tersebut yang nampak sedang berfikir.

'Tunggu, mengamankan. Membersihkan dalam artian sebenarnya. Itu berarti, membuat akademi tetap 'bersih' dari segala ancaman yang akan datang. Souka, itu menjelaskan alasan mengapa mereka dapat menguasai sihir percepatan.'

"Jadi Sebas-san, apa saja yang harus kami lakukan?" Raut wajah Naruto seketika berubah sesaat setelah dirinya memahami pekerjaan yang saat ini ia ambil. Dan itu juga berlaku pada anggota staf yang lainnya.

"Aku terkejut kau tidak bertingkah heboh setelah mengetahui maksud sebenarnya dari pekerjaan yang kau ambil."

"Maa... Di dunia yang penuh akan segala hal yang seharusnya tidak mungkin ini, aku rasa seorang keamanan yang berkedok sebagai tukang bersih-bersih masihlah hal yang normal." Semua orang lalu tertawa setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Naruto barusan. Setidaknya suasan tidak terlalu tegang.

"Kembali ke topik utama Sebas-san, jadi apa yang perlu aku lakukan?" Mengalihkan topik kembali, wajah Naruto juga kembali serius.

"Untuk tahun ini terjadi perubahan peraturan pada acara yang akan diselenggarakan, dan untuk pekerjaan yang akan kita lakukan. Kepala akademi sendiri yang akan menjelaskannya secara langsung." Seorang pria dengan poni rambut yang berbeda warna lalu muncul dari balik pintu masuk, kemudian secara serempak seluruh anggota staf berdiri dan memberi salam.

"Maa... Maa... Jangan bersikap terlalu formal seperti itu, lagi pula ini bukan pertemuan formal." Seorang pria yang baru saja muncul dari balik pintu barusan adalah sang kepala akademi, Azazel.

"Terimakasih Azazel-sama." Setelah itu seluruh anggota staf kembali duduk, diikuti oleh Azazel yang mengambil kursi kosong di sebelah Sebas.

"Langsung saja pada intinya, tugas kalian seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja akan ada sedikit perubahan dimana kali ini kalian akan berjaga berpasangan, dan untukmu Naruto. Aku yakin kau telah mengerti keadaannya, tapi karena kau masih baru. Maka Yuri Alpha yang akan menjadi rekanmu." Azazel lalu mengalihkan pandangannya pada orang yang dia maksud untuk meminta persetujuan, setelah mendapat persetujuan dari orang yang dia maksud. Azazel kemudian melanjutkan kembali penjelasannya.

"Terakhir, tidak hanya kalian. Namun para guru dan beberapa orang dari kerajaan juga akan turut mengamankan acara tahun ini. Tapi seperti biasa, tugas kalian adalah bermain dibalik layar, tanpa diketahui oleh masyarakat awam. Juga Naruto, sebelummya aku minta maaf .Bisakah kau memberitahu kami kekuatanmu? Bukan bermaksud merendahkan, tapi kau sendiri pasti mengerti kenapa aku menanyakan perihal hal ini, Naruto."

Naruto terdiam sambil menundukkan kepalanya, membuat sebagian orang yang mengerti dengan yang diucapkan oleh Azazel menatapnya dengan khawatir.

"Jika kau tidak ingin menja-"

"Tidak, tidak apa-apa. Aku akan menjawabnya, tapi aku tidak bisa memberitahu banyak. Yang dapat aku beritahukan pada kalian hanyalah, aku dapat mengendalikan petir. Itu saja, mohon dimengerti." Sebelum Azazel menyelesaikan kalimatnya, terlebih dahulu Naruto menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya.

"Maa... Ku rasa itu sudah cukup. Baiklah, kalian dapat kembali bekerja. Aku masih ingin minum teh disini." Mengerti dengan yang Azazel ucapkan, seluruh staf kebersihan kecuali sang kepala staf. Secara bersamaan mereka berdiri lalu meninggalkan ruang makan. Meninggalkan dua orang yang tengah duduk menikmati secangkir teh di hadapan mereka.

"Jadi, bagaimana menurutmu anak baru itu?"

"Seperti perintah anda, Azazel-sama. Saya telah mengetesnya, dan jika boleh, saya sepenuhnya percaya dengan apa yang Naruto ungkapan mengenai kekuatannya, Azazel-sama."

Azazel kemudian menyesap tehnya, menikmati sebuah rasa yang menyentuh lidahnya.

"Begitu kah, jika kau berkata seperti itu. Maka aku juga akan mempercayainya." Azazel lalu meletakkan cangkir tehnya, sambil kepalanya mengadah. Menatap langit-langit ruangan.

"Tanpa energi sihir sedikit pun, tapi menurut pengakuannya, dia dapat mengendalikan petir. Apalagi pupil matanya yang sempat berubah menjadi vertikal tadi, juga aura 'binatang buas' yang sempat dia keluarkan. Sial, dia membuatku penasaran. Khe, semenarik apa sebenarnya dirimu, Naruto."

Beralih pada Naruto yang saat ini sedang berada di hutan belakang akademi, karena pekerjaan sudah selesai jadi pemuda dengan tiga pasang whisker itu memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak.

"Hanya perasaanku saja atau memang sedang terjadi sesuatu di hutan ini?" Instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tengah terjadi di hutan ini, dan itu terbukti sesaat setelah Naruto memfokuskan seluruh indranya.

Seperti saat dirinya berhadapan dengan Sebas, atau kepala akademi tadi di ruang makan. Pupil matanya kembali berubah menjadi vertikal.

"Energi sihir? Tapi auranya berbeda-beda, sebuah perkumpulan?" Dengan rasa penasaran yang tinggi, Naruto memutuskan untuk memeriksa ke tempat asal dari energi sihir yang dia rasakan.

Berlari kecil, sebelum akhirnya ia berhenti di sebuah tanah yang cukup lapang. Tidak ada pepohonan yang tumbuh pada area tertentu, seolah-olah tempat ini sudah ditata sedemikian rupa.

"Sebentar lagi, rencana yang telah kita susun akan terlaksana. Kukuku, akan aku pastikan tidak ada yang bisa menghentikan kita."

Indra pendengar menangkap sebuah suara, namun tidak ada apa-apa disekitarnya selain pohon-pohon yang melingkar. Menyisakan beberapa area kosong yang saat ini tengah dia tempati.

'Tunggu dulu, area kosong di tengah hutan. Bagaimanapun ini terdengar aneh, apalagi dari yang aku lihat, hutan ini jarang sekali dijamah oleh manusia. Dan suara yang datang entah dari mana, berarti tempat ini merupakan sebuah penanda.'

"Seperti yang anda minta, saya telah membawa bendanya." Sebuah suara kembali terdengar, namun anehnya tidak ada siapapun selain dirinya di tempat itu.

"Tunggu dulu..." Secara tiba-tiba Naruto kemudian menempelkan salah satu telinganya pada permukaan tanah.

"Hahahaha, dengan ini tidak ada yang bisa menghentikan kita!" Dan suara itu kembali terdengar, bahkan lebih jelas dari sebelumnya.

"Sudah aku duga, entah berapa kali aku harus berterimakasih pada 'mereka'. Yang terpenting untuk saat ini aku harus segera melaporkan apa yang telah ku dengar kepada kepala staf." Lalu dengan gerakan cepat, Naruto segera berlari meninggalkan tempat itu. Bukan tanpa sebab dirinya bersikap seperti ini, melainkan karena sebuah aura gelap yang terkumpul di tempat tadi.

"Jika hipotesis ku tidak salah, maka akan terjadi sebuah tragedi tidak lama lagi."

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Yo yo yo... Minna genki? Hehehe, maafkan diriku ini yang up terlalu lama. Bukan tanpa sebab, tapi aku baru memasuki masa SMK jadi lumayan menguras waktu luang.

Hm... Tidak banyak yang ingin aku bicarakan tentang chapter ini, aku juga sudah 'sedikit' memperlihatkan kekuatan Naruto. Dan maaf juga jika kesan alurnya terlalu dipaksakan, juga pengulangan kata terus-menerus terjadi. Itu murni kesalahanku.

Ok cukup curhatnya, maaf juga aku tidak membalas review. Tapi sunggu aku sangat berterimakasih kepada kalian yang sempat-sempatnya meninggalkan komentar pada cerita pertamaku ini. Oh, ku tambahkan 1k. Mungkin cukup, berharap saja semoga terus nambah wordnya setiap chapter.

Terakhir, sedikit catatan. Walaupun fic ini up-nya tidak menentu, tapi aku usahan untuk terus berlanjut.

Sekian dariku, dan aku minta kepada kalian untuk setidaknya memberikan komentar pada ceritaku ini...

Don't be panic make something awasome

Arubatorion, Blazing Dark Dragon out...