The Lion and The Flea


25th February


"Hei, hei! Orihara-kun!"

"Apa?"

"Bagaimana orangtuamu bisa mating, sih? Mereka berdua kan Alfa! Lagipula, Orihara-kun, bagaimana kau bisa lahir? Jangan-jangan pakai bayi tabung ya? Oh, kenapa kulitmu mulus sekali? Dan juga pinggang—"

Shinichi langsung menarik Shinra menjauh.

Shinra merengek, lalu mengatakan sesuatu seperti 'hanya Celty-ku yang bisa menyentuhku!' lalu dibalas dengan Shinichi yang dengan santai 'aku tidak peduli. Lagipula jangan ganggu Izaya'.

Izaya menggeleng-geleng, heran dengan tingkah laku kedua temannya itu.

Shinra Kishitani, seorang pemuda yang tergila-gila dengan biologi dan pintar diberbagai macam IPA. Dia adalah seorang Beta. Shinra sudah memiliki mate, seorang Alfa bernama Celty Sturluson yang adalah seorang wanita Irish. Cantik, sih... sayangnya dia bisu. Shinra berambut coklat, dengan mata yang sama coklatnya dan juga dia berkacamata. Shinra sangat cerewet—banget, malah. Ceritanya ke Izaya dan Shinichi hampir setiap hari adalah, 'Celty-ku masak loh tadi!', 'Celty-ku pandai membersihkan rumah!', Celty-ku ini... Celty-ku itu... Bosan sudah.

Shinichi Tsukumoya, si Alfa yang selalu melindungi Izaya dari gangguan Shinra. Shinichi pendiam, sih. Kalau-kalau Izaya atau Shinra tidak ada, dia akan bermain handphone atau hanya tidur di kelas sambil menunggu mereka. Shinichi sangat pandai dalam bidang teknologi. Yah, namanya juga anak dari programmer. Shinichi berambut abu-abu kelam dengan mata coklat tua yang hampir mendekati hitam. Shinichi tau segalanya—hampir seperti seorang informan. Lagipula, Shinichi juga rada misterius tapi dia (terkadang) sering menggoda Izaya.

Mereka telah membuat geng bertiga. Dengan Shinra sebagai Beta, dan Shinichi menjadi Alfa. Sekarang tinggal menunggu Izaya. Apakah dia Alfa atau Beta? Atau mungkin...

"Oh, ya, tugas Matematika kalian sudah selesai belum?"

Shinichi menoleh kearahnya, sementara Shinra mengangkat alis dan dengan senangnya berkata, "Tentu saja!~ Aku sudah selesai!"

"Shinra, nyontek dong."

"Eh? Oke deh."

Shinichi berpindah ke bangkunya yang berada disamping Izaya, sementara Shinra mencari-cari buku tulis Matematika di tasnya. "Oh! Ketemu!" sorak pemuda itu riang dan Shinichi langsung menarik kursi ke samping meja Izaya. Sementara Shinra mengoceh tentang betapa cantiknya Celty dan juga terkadang menanggapi pertanyaan dari Izaya dan Shinichi.

"Shinichi, apa kau menggunakan parfum baru?"

Shinichi menoleh kearahnya dan Shinra menghentikan ocehannya. "Huh? Nggak kok." ucap Shinichi kebingungan. "Kenapa emangnya?"

Izaya mengeryit sebelum menarik diri mendekat kearah Shinichi, dan menghirup aroma yang keluar dari... scent gland? "Baumu berbeda. Aku tidak tau bagaimana cara menjelaskannya, tapi baumu sedikit lebih pekat, berat dan..."

Menggoda, pikir Izaya dalam hati dengan wajah memerah.

Shinichi mengeryit ketika melihat ekspresi Izaya. Dia lalu menoleh kearah Shinra yang sepertinya baru saja melihat hantu yang sedang merangkak keluar dari dinding. Lalu tanpa aba-aba, Shinra langsung menarik Shinichi keluar dengan kasar, sukses membuat kaget kedua temannya itu. Mereka lalu pergi keluar kelas, dan ke tempat yang cukup sepi dari murid-murid. Mereka tidak melihat ekspresi kebingungan Izaya.

"Oi! Shinra!" Shinichi mengeryit. "Apaan, sih? Kenapa panik begitu?"

"Ini soal Orihara-kun." tidak ada senyuman di wajah Shinra dan itu berarti berita buruk.

"Izaya? Dia kenapa memangnya?"

"Ingat waktu Orihara-kun bilang kalau kau mengganti parfum?"

Shinichi mengangguk, bingung. "Itu, kan, tadi."

"...Aku cukup ragu dengan ini, tapi..."

Shinichi menunggu dengan sabar.

"Orihara-kun... dia Omega."

Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Empat detik. Lima—

"Candaan yang lucu sekali." Shinichi berkata dengan wajah datar. "Izaya tidak mungkin Omega. Ayah dan Ibu-nya adalah Alfa. Masa anaknya Omega? Aku pikir kau pintar Biologi, Shinra."

"Aku tidak berbohong!" pekik Shinra. "Seorang Omega bisa mencium bau Alfa atau Semi-Alfa! Cek saja nanti di perpustakaan! Aku sumpah!"

Shinichi hanya memutar bola mata. "Aku berani bertaruh 200 ribu kalau Izaya bukan Omega."

Ekspresi Shinra berubah dari panik menjadi senang. "Jujur?"

"Ya. Dan kalau kau benar Izaya itu Omega, aku akan bayar 205 ribu. Bagaimana?"

Senyuman di wajah Shinra melebar. "Deal!"

Saat mereka kembali ke dalam, mereka bisa melihat wajah Izaya yang tampak kebingungan dan juga kesal. Shinra menyeringai maaf sementara Shinichi menggaruk tengkuknya. Mereka lalu duduk kembali ditempat masing-masing. "Uhm, maaf Orihara-kun. Aku baru saja ingat untuk memberi tau Shinichi tentang sesuatu."

Izaya menatap dengan tajam, tidak menyukai kalau dia dikucilkan dari 'informasi' ini. "Oh ya? Tentang apa?"

"Kau tak perlu tau." balas Shinra dan Shinichi buru-buru dan itu sama sekali tidak membantu rasa penasaran yang mencekik Izaya.

Izaya hanya memandang datar, lalu melanjutkan menulis. Dia bahkan tidak mengatakan apapun, bahkan melirik saja tidak. Aduh, inilah yang paling Shinra dan Shinichi benci—silent treatment dari Izaya Orihara. Itu sangat membuat mereka merasa bersalah—banget, malah.

Bahkan saat bel istirahat selesai dan guru pelajaran Matematika mereka masuk, Izaya sama sekali tidak memandang kearah mereka berdua.

Ow, great.


Bel pulang sekolah berbunyi dan semuanya dengan bahagia merapikan buku dan menjejelkan benda-benda itu kedalam tas. Murid-murid berbincang dan menghiraukan guru yang berteriak 'sampai besok!'. Mata Izaya hanya fokus kebawah, tangannya melakukan tugas memasukan buku yang tersebar di meja.

"Hei, Izaya."

Suara berat Shinchi terdengar di samping kanannya, tapi Izaya bahkant tidak menoleh dan malah menarik resleting tasnya hingga menutup dan menyeret tas tersebut keluar kelas. Shinchi dan Shinra masih mengikutinya. God, apa yang diinginkan kedua manusia itu!?

Setelah sunyi beberapa saat—kecuali suara sepatu mereka menepak lantai koridor—Izaya langsung berhenti dan berbalik. "Apa mau kalian?"

Shinichi tersenyum kecil sementara Shinra menyeringai. "Kami ingin minta maaf! Sebenarnya, yang kami bicarakan tanpa kau itu soal buku porno yang Shinichi pinjam dariku!~"

Shinichi tampak akan protes, tapi Izaya langsung menyela. "Kamu punya majalah porno, Shinra? Kupikir Celty membuangnya." ucap pemuda kecil itu dengan ekspresi bingung.

Ow, great. (2)

Izaya lalu menyadari kalau mereka berbohong dan dia sama sekali tidak senang tentang hal itu. Jadilah, kedua pemuda lebih tinggi disampingnya itu mencoba mengeluarkan suara dari Izaya. Tapi tentu saja hal itu tidak berhasil.

Saat mereka sampai ke lapangan yang masih penuh dengan siswa sekolah, mata ketiga orang itu langsung menuju kearah sebuah mobil camaro hitam pekat dan mengilat yang terparkir didepan gerbang sekolah. Sosok figur pria muda yang tinggi bersandar disisi mobil tersebut, memainkan ponsel pintar dengan rokok disela bibirnya. Siswi-siswi yang lewat memandangi sambil cekikikan dan wajah memerah, sementara siswa dengan kagum. Termasuk Shinichi dan Shinra juga.

Izaya? Beda lagi ceritanya.

"Shizu-chan!" teriak pemuda itu dengan senyuman lebar dan melambaikan tangan tinggi-tinggi. Pria yang dipanggil 'Shizu-chan' langsung mendongak dari layar ponselnya, dan melepas rokok lalu berjalan kearah mereka.

Shinra dan Shinichi tidak bisa berhenti tergagap saat Shizu-chan menarik tas Izaya dan berkata dengan suara bariton, "Lama sekali."

Alfa! insting keduanya langsung menjerit.

"Hehe, maaf. Shinra dan Shinichi mengajakku berbincang tadi." bohongan yang mulus sekali, Izaya.

"Masuk kedalam mobil. Kita pulang kerumah."

Izaya berjalan lebih dulu sambil melambaikan tangan kearah Shinichi dan Shinra dengan seringai. Sementara Shizu-chan hanya menoleh kearah mereka berdua dan menatap selama beberapa saat lalu mengikuti Izaya kedalam mobil.

Saat mereka berdua menghilang dari pandangan, Shinra membuka percakapan. "Apa tadi itu... mate Izaya?"

"Mungkin."

Shinra kaget melihat ekspresi kesal yang berada di wajah Shinichi.


Izaya menutup hidung, lagi.

"Kau ini kenapa sih?" tanya Shizuo sambil memutar pengemudi kearah kiri. "Daritadi begitu melulu. Aku yakin mobilku tidak bau."

"Ugh—bau feromon. Shizu-chan, kau terangsang?"

Shizuo hampir saja menabrak pohon yang berada didekat jalan raya. "A—Apa yang kau katakan!? Tentu saja tidak, bodoh!"

"Tapi disini bau sekali."

"Kau kenapa sih?"

"Tidak tau!" ucap Izaya nyaring-nyaring. "Semuanya bau feromon! Shizu-chan juga bau kayak kertas tua, tinta, dan susu. Apa yang terjadi padaku sih? Tubuhku juga terasa seperti sedikit berubah. Masa pinggangku lebih lebar? Apa itu pertanda jadi Alfa?"

Mata Shizuo melebar saat Izaya mengatakan itu. Dia tidak menjawab—suaranya menghilang entah kemana. Untunglah jalanan sepi karena dia tiba-tiba menginjak rem berhenti. Izaya menoleh kearahnya, "Ow! Ada apa sih, Shizu-chan?"

"Apa—tadi katamu?"

"Yang mana?"

"Soal tubuh, pinggang—semuanya lah!"

"Shizu-chan tertarik dengan tubuhku?"

"Ya—maksudku, tidak! Astaga. Lupakan pembicaraan ini." desah Shizuo lalu menginjak gas lagi dan melaju kearah rumahnya.

Izaya tertawa, "Shizu-chan tertarik dengan sesama Alfa! Hahaha!"

"Aku tidak. Hentikan sebelum kita menabrak sesuatu."

Izaya tidak berhenti tertawa.


Setelah sampai kerumah Shizuo langsung memasuki kamar, dan masuk ke kamar mandi. Dia melepas pakaiannya dan memasukannya ke keranjang cucian yang sudah penuh. Ah, palingan nanti Masaomi mengambilnya. Shizuo lalu memasuki tempat shower dan menutup pintu kaca.

Dia membersihkan seluruh tubuhnya sebelum berpikir apa yang Izaya katakan tadi.

Shizuo menghela nafas dan menjedukkan jidatnya ke dinding. Orang tua Alfa dan Alfa, masa anaknya bisa—Omega? Gila sekali. Mereka tidak pasti menggunakan mutasi genetik kan?

...Apa di keluarga Orihara memiliki seorang Omega?

Duh, dia banyak pikiran lagi. Shizuo meghela nafas. Hari-harinya di kantor sudah buruk, ditambah lagi dengan sekretarisnya, Tom, memaksanya untuk membuka bisnis dengan Haruya Shiki dari grup Awakusu. Shizuo tidak tau siapa Shiki itu, jadinya dia kurang tertarik.

Sambil melingkarkan handuk dipinggang, Shizuo lalu memakai handuk kecil yang lain untuk mengeringkan rambutnya. Dia lalu berhenti didepan cermin. Hmm, mungkin dia harus ke gym lebih sering lagi.

Shizuo lalu keluar dari kamar mandi dan berjalan kearah lemarinya, mencari-cari baju yang akan dikenakan. Shizuo lalu mengeluarkan sebuah sweatpants warna biru muda. Merasa kalau kaos tidak perlu—udaranya tidak begitu dingin—Shizuo lalu turun kebawah sambil mengelus-eluskan handuk ke rambutnya.

Dia benar-benar lupa akan keberadaan Izaya.

Izaya sedang bersandar di sofa ruang keluarga dengan segelas teh, sepiring penuh diisi pancake, dan piringan biskuit berada di meja. Sebuah buku cerita berada di pangkuannya. Namun bukan hal itu yang membuat Shizuo menatap tanpa berkedip.

Izaya mengenakan hoodie abu-abu yang pastinya kebesaran. Bahkan hoodie itu meluncur turun dan menampakkan bahunya! Lalu, sebuah celana pendek yang hanya sampai ke pangkal pahanya tampak dan Shizuo harus menahan diri agar tidak mengigit kaki jenjang nan mulus itu.

Izaya? Alfa? Lupakan. Dia lebih cocok jadi Omega.

"Shizu-chan ngapain sih bengong didepan tangga begitu?"

Shizuo mengeryit ketika melihat kacamata kebesaran—miliknya—bertengger di hidung Izaya. Tidak menjawab apa-apa, pria itu lalu turun kebawah dan memperhatikan apa yang Izaya baca. Buku dalam bahasa Rusia. Oh, terserah deh.

"Apa itu kacamataku?" bukannya membalas, Shizuo malah balik bertanya.

"Yap! Aku butuh karena kacamataku tertinggal di rumah." jawab Izaya santai sambil membalik sebuah halaman.

Shizuo mengangkat bahu dan mengambil satu pancake Izaya yang dilapisi dengan selai blackberry. Mengabaikan protesan Izaya, Shizuo berjalan kearah dapur dan menemukan Mikado dan Masaomi sedang berdiskusi tentang sesuatu. "Ada apa?"

"Ah, Heiwajima-san." Mikado langsung membungkuk dan diikuti Masaomi. "Tidak ada apa-apa, kami hanya mendiskusikan sesuatu."

"Apa itu? Aku ingin tau."

"Uhm, tampaknya persediaan di kulkas semakin menipis. Kami sedang berdiskusi barang apa saja yang akan dibeli." jawab Masaomi.

Shizuo hanya mengangguk singkat, "Panggil saja Kadota dan suruh dia mengantar ke supermarket terdekat." ucapnya enteng. "Oh, pakai saja kartu kreditku." lanjtunya lagi.

Kedua pembantu itu mengangguk dan langsung bergegas menemui Kadota yang Shizuo yakin sedang menyuci mobil dengan Mikage.

Shizuo membuka kulkas dan mengambil botol susu yang masih belum dibuka. Dia lalu berjalan ke ruang keluarga, dan duduk disamping Izaya. Pria yang lebih tua itu mengintip sedikit tentang apa yang Izaya baca. "Kenapa kau bisa mengerti bahasa alien itu sih?"

"Itu bahasa Rusia, Shizu-chan. Bukan bahasa alien." komentar Izaya sambil berlanjut ke halaman selanjutnya.

Shizuo hanya mengangkat bahu dan mengambil remot televisi. Dia menyalakan televisi dan mencari-cari saluran yang menarik. Dia baru berhenti saat menemukan saluran yang menayangkan film Mission Impossible.

Shizuo menonton sambil sesekali menenguk minumannya. Dia lalu menoleh kearah Izaya dan menemukan pemuda itu memandanginya dengan tatapan... iri? Penasaran, Shizuo bertanya. "Kau kenapa sih?"

"Shizu-chan, badanmu kok bisa begitu?"

"Hah?"

Izaya menutup bukunya dengan marah dan berputar sehingga dia menghadapinya. "Kenapa sih badanmu bisa begitu? Maskulin, perfect, dan lain-lain untuk membuat ramuan orang ganteng. Apa rahasianya?"

Shizuo berkedip, "Yah, aku makan. Lalu pergi ke gym untuk latihan fisik, lari pagi, push up, dan lain-lain. Kalau kau sih," Shizuo memandangi badan Izaya dari bawah ke atas, "Hmm, kayaknya push up aja nggak bisa."

"Tapi aku bisa yoga," Izaya tertawa saat Shizuo memandang tajam kearahnya.

Memang, dari semua bidang olahraga yang Shizuo kuasai, dia sama sekali tidak bisa senam ataupun yoga. Terlalu lambat. "Shizu-chan menyebutkan push up kan tadi? Palingan nggak bisa push up pakai satu tangan."

Shizuo langsung menaruh botol susu di meja dan bangkit. Dia lalu melakukan posisi push up, tapi dengan satu tangan di lantai dan satunya lagi ia taruh di bawah punggungnya. "Kau yang menghitung."

Izaya lalu menyalakan timer satu menit di ponselnya. "30 dalam satu menit."

"Kalau aku menang kau akan melakukan apapun yang kumau. Dan kebalikannya kalau kau menang."

"Deal," Izaya menyeringai. "Satu, dua, tiga!"

Shizuo langsung mengangkat dan menurunkan tubuhnya dengan Izaya menghitung. "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan—wtf—sepuluh sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas—Shizu—lima belas, enam belas, tujuh belas, delapan belas, sembilan belas, dua puluh—dafuq. Dua puluh satu, dua dua, dua tiga—pelan-pelan oi—dua empat, dua lima, dua enam—dua tujuh dua delapan, dua sembilan, tiga puluh."

Izaya menoleh kearah ponselnya dan, "Masih ada dua belas detik!?"

Shizuo berlanjut menghitung. "Tiga puluh satu, tiga puluh dua, tiga puluh tiga, tiga puluh empat, tiga puluh lima." ucapnya santai. Tepat saat Shizuo menyebutkan kata 'lima', ponsel Izaya berdering. Waktu habis.

"What the hell! Bagaimana kau bisa—" ucap Izaya sambil menodong jari telunjuk kearah Shizuo yang bahkan tidak terengah. "—melakukan 35 dalam 1 menit!?"

"Itu yang dinamakan kekuatan, I~za~ya-kun. Sekarang kau akan melakukan apapun yang kumau."

Izaya memutar bola matanya. "Baiklah. Apa yang kau mau, Shizu-chan?"

Shizuo menyeringai.


A/N: Maaf karena update-nya yang lama! Dan makasih banyak ya atas review-nya! *lope lope* saya bahagia banget XD

More to come. Stay tuned! Oh, review please? Kritik saran always welcome~