.

.

Aiko Shimazaki present

SUGA

a BTS fanfiction

.

Min Yoongi and Park Jimin

.

.

Min Yoongi adalah seorang laki-laki dewasa biasa. Ia bekerja pada bidang yang ia sukai dan menikmati hari-hari monotonnya yang diawali dengan secangkir kopi panas dan diakhiri dengan sekaleng bir segar di malam hari.

Yoong, yang lebih dikenal sebagai dengan nama SUGA di kalangan masyarakat, adalah seorang komposer. Lagunya pun dikenal di seluruh penghujung negeri, ia berhasil menjangkau seluruh kalangan dengan lagu-lagu buatannya, dan Yoongi tidak bisa lebih bangga dari ini.

Pagi ini, Yoongi berangkat ke studio musiknya setelah ia selesai sarapan. Biasanya, ia mengerjakan proyeknya sampai nanti matahari tenggelam. Barulah Yoongi akan pulang, atau mungkin, sebelum itu ia harus mampir ke supermarket untuk membeli bahan-bahan makanan.

Sekarang, Yoongi sedang mengerjakan lagu pribadinya. Ia mendapat ide dan itu harus segera ia tumpahkan sebelum semuanya menguap dari kepalanya. Persetan apakah lagu ini akan berhasil beredar atau tidak.

Partner kerjanya, Kim Namjoon, terkadang membantunya. Namun Yoongi sering menolak lirik dan komposisi lagu yang diberikan Namjoon padanya. Yoongi menyuruh pria itu untuk menggunakan namanya sendiri, jangan menggunakan nama Yoongi kalau mau menyumbang ide sebanyak itu.

Namjoon biasa ikut menghabiskan hari di studio Yoongi, ia semi pengangguran. Jadi terkadang ia hanya duduk-duduk sambil mendengarkan musik, atau membuat lirik dan merekam suaranya sendiri. Ia sering mengajak Yoongi main keluar, ikut lomba nge-rap bersama orang-orang di klub dan selalu berakhir dengan sebuah kemenanganan. Klub malam tidak seburuk itu, begitu kata Namjoon pada Yoongi setiap ia berusaha membujuk Yoongi keluar.

Yoongi—apabila sudah bosan dengan kegiatan monotonnya—terkadang memilih ikut dengan Namjoon. Menghapus eksistensi SUGA dalam dirinya dan memakai namanya yang lain untuk bersenang-senang.

"Yoongi."

Yoongi hanya bergumam tidak jelas. Matanya tidak lepas dari monitor komputer, ia menaikkan alis sebagai tanda kalau ia mendengarkan.

"Hoseok bilang dia akan mampir," kata Namjoon.

Yoongi mengangguk, dan bergumam 'hmmm' panjang. Namjoon memilih tidak menyahut gumaman itu. Yang terpenting ia sudah memberitahu Yoongi bahwa mereka akan kedatangan tamu.

Namjoon, Hoseok, dan Yoongi adalah teman semasa sekolah menengah atas. Mereka memiliki hobi yang sama, rapping, dan kecintaan mereka pada hip-hop, dan itulah yang membuat mereka dekat. Di tahun terakhir mereka sekolah, mereka berhasil menampilkan sebuah rap hasil usaha mereka bertiga selama ini, mereka merekamnya dan menaruhnya di media sosial.

Banyak tanggapan positif, atas dasar itulah Yoongi dan Namjoon memutuskan untuk menekuni hobi mereka. Sedangkan Hoseok memiliki tujuan berbeda. Ia mempunyai hobi yang lain, ia suka menari. Prestasinya di bidang tari tidak main-main. Sudah banyak sertifikat menang yang dikumpulkan oleh Hoseok. Dan ia bisa saja masuk kuliah hanya dengan bermodal satu dari sekian sertifikatnya. Namun, semenjak lulus sekolah, ada sebuah grup tari besar yang menawari Hoseok ikut dalam tur dunia mereka.

Dan, ya, Hoseok menerimanya. Tiga tahun ia habiskan dengan menari dan berkeliling dunia. Ia berhenti setelah mendengar ibunya jatuh sakit. Kini, Hoseok tinggal bersama kedua orang tuanya dan mendirikan studio tari kecil-kecilan.

Berkat teman-temannya, studio tari yang ia kembangkan semakin terkenal. Mereka melakukan promosi di seluruh penjuru dunia. Terakhir kali Hoseok bercerita, ia mendapat murid dari Republik Ceko. Entah bagaimana akhirnya, Namjoon dan Yoongi tidak mendengar cerita tentang itu lagi, Hoseok hanya bercerita bahwa sangat sulit untuk berkomunikasi dengan orang luar.

"Atas dasar apa dia kemari?" tanya Yoongi—yang akhirnya mengalihkan pandangannya dari layar monitor.

"Entahlah. Memastikan kita masih hidup, mungkin?" celetuk Namjoon. Lelaki itu melangkah, memutari meja Yoongi dan menuju kulkas di ujung ruangan. Ia mengambil dua buah cola—karena, yeah, hanya itu yang tersisa di dalam sanadan meletakkan satu di depan Yoongi.

Yoongi mendengus. "Yang penting ia tidak merusak lagu garapanku lagi."

Namjoon tertawa kecil. Ia ingat dulu Hoseok membantu mengaransemen lagu, memang hasilnya tidak buruk, tapi itu malah menghancurkan ekspetasi awal Yoongi. Yoongi harus merombak lirik yang sudah ia siapkan karena mendadak mereka ganti genre.

Yoongi menyudahi kegiatannya duduk di depan komputer. Ia berdiri dan merenggangkan badan sedikit. "Aku mau membeli makanan. Hoseok akan protes kalau tahu di sini tidak ada makanan," beritahunya pada Namjoon.

Namjoon mengangguk. "Aku akan mengecek lagumu," kata Namjoon, menandakan secara tidak langsung bahwa ia tidak akan ikut Yoongi keluar, "dan aku tidak akan merubah apapun," lanjut Namjoon setelah melihat raut wajah Yoongi yang mengkerut berisap marah.

Yoongi akhirnya menyetujui itu. Ia pun melangkah keluar studio.

.

.

Yoongi hanya pergi menuju minimarket yang terletak di ujung jalan. Tidak begitu jauh, namun cukup membuat Yoongi menghela napas kelelahan, karena pergi berjalan kaki di saat matahari bersinar terang adalah hal yang buruk. Pria itu melangkah masuk ke dalam minimarket dan mendesah senang ketika ia merasakan pendingin ruangan menyambutnya disamping petugas yang menyapanya ramah.

Yoongi mengambil beberapa bungkus keripik kentang tanpa memperhatikan. Lalu beralih ke deretan buah-buahan, ia melirik sejenak dan melewatinya. Yoongi meraih beberapa kaleng cola, dan beberapa botol minuman isotonik. Ia butuh semua itu.

Sesampainya di kasir, Yoongi melihat seorang laki-laki yang sibuk merogoh sakunya sendiri. Di meja kasir Yoongi dapat melihat beberapa tablet obat dan satu bungkus bubur instan.

"Aku yakin aku membawanya..."

Yoongi yang berdiri di belakang lelaki itu dapat mendengar jelas apa yang dilirihkannya. Dan kesimpulan dari apa yang ditangkap Yoongi adalah, laki-laki itu mungkin meninggalkan dompet beserta isinya di rumah, dan kini ia sedang dibingungkan dengan cara apa ia bisa membayar semua belanjaannya.

"Kalau begitu, uhm, maaf," petugas kasir menggeser tablet-tablet obat dan bubur instan itu, "biarkan Tuan satu ini membayar duluan."

Yoongi mengangkat alis. Dan ia merasa lelaki yang tadi sibuk berkutat dengan saku celananya kini menoleh ke arahnya. Dari sudut mata, Yoongi dapat melihat gumpalan merah muda dibalik sweater hitam yang dipakai laki-laki tersebut menutupi kepala.

Yoongi meletakkan semua belanjaannya. Keripik kentang, cola, dan minuman isotonik, dan beberapa ramen.

Setelah petugas kasir menyebutkan nominal yang harus dibayar, Yoongi dengan cepat menarik tablet-tablet obat dan bubur instan itu mendekat. "Sekalian saja."

"A-ah, Anda tidak perlu melakukan itu!"

Yoongi berdecak marah. Ia paling benci dibantah. Yoongi menoleh ke samping dan barulah ia bisa melihat dengan jelas bagaimana rupa pria bersurai merah muda itu.

Sepasang mata sipit, bibir tebal, rahang tegas, dan pipi berbentuk bulat berisi. Yoongi menelan ludahnya tanpa sadar. Kemarahan yang tadi hendak menyembur keluar, dengan ajaibnya berhasil kembali ia telan.

"Sekalian saja," Yoongi kembali berkata pada petugas kasir, kali ini suaranya lebih tegas. Dan barulah petugas tersebut menghitung total seluruh belanja. "Dan kau," Yoongi beralih pada lelaki merah muda, "namamu?"

"Maaf?"

"Nama." Yoongi nyaris mendesis, ia merasa bahwa darahnya berdesir dan jantungnya berdetak lebih kencang. Tanpa sadar Yoongi menggertakkan giginya menahan perasaan senang berlebih yang mendadak memenuhi dadanya. "Aku butuh namamu."

"Eh aku—ehm, namaku Jimin. Park Jimin."

"Baiklah, Jimin," Yoongi menatap langsung ke dalam sepasang mata Jimin, dan ia merasa waktu sedang mempermainkannya—atau, entah bagaimana ia harus menyebutnya. Yoongi hanya ingin waktu berhenti selamanya di titik ini, "kau berhutang padaku."

Dan Yoongi membayar seluruh belajaan mereka. Menyerahkan tablet-tablet obat dan bubur instan ke tangan Jimin kemudian tersenyum miring.

"Aku Min Yoongi," kata Yoongi tiba-tiba, karena ia merasa perlu memberitahukan namanya kepada pemuda itu, diam-diam berharap semoga namanya akan tetap diingat, "senang berkenalan denganmu."

Dan belum sempat Jimin membalas ucapan Yoongi, pria itu sudah lebih dulu pergi dari sana.

.

.

Jung Hoseok menatap jengah kumpulan keripik kentang di dalam kantong belanjaan Yoongi. Sungguh, Hoseok memang hobi memakan camilan, tapi bukan camilan seperti ini. Bukan kentang manipulasi ditambah MSG yang berlebihan.

"Yoongi-ya." Hoseok hampir merengek ketika Yoongi memberinya sekaleng cola. "Aku tidak bisa minum ini."

Yoongi memasang wajah masa bodoh dan menghempaskan diri di atas sofa ruang tengah, tempat ia biasanya menerima tamu. "Lalu? Kau lebih memilih tidak minum? Masih baik aku mau membelikanmu."

Hoseok mencibir. Ia akhirnya membuka kaleng cola-nya dan meneguk isinya dengan setengah hati. Wajahnya masih merengut sebal ketika ia kembali meletakkan kaleng cola-nya kembali di atas meja.

Namjoon datang dari bilik lainnya. Ia membawa laptop dan meletakkannya di atas meja. "Kalian harus dengar ini."

Namjoon tersenyum lebar, ia menekan beberapa tombol dan suara musik mulai memenuhi ruangan. Yoongi menajamkan inderanya sekaligus menggali memorinya. Seketika Yoongi sadar bahwa ini bukan lagunya, ini bukan lagu buatan Yoongi.

"Wow," Hoseok yang pertama kali berucap saat lagu berakhir. "Wow, man."

Yoongi mengulum senyum pada akhirnya. "Buatanmu sendiri?" Dan ia sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa bangga dalam intonasi suaranya.

Namjoon nyengir. Menampilkan lesung pipit manis yang menghiasi di sisi-sisi pipinya. "Baru mencoba. Ini karena Yoongi selalu menyuruhku membuat lagu atas namaku sendiri."

Hoseok beranjak hanya untuk berpindah duduk di sebelah Namjoon dan merangkul leher pria itu dengan sebelah tangan. "Kerja bagus, Namjoonie~" pujinya.

Yoongi mengangguk, setuju dengan Namjoon dan Hoseok. "Kau butuh nama, Namjoon."

Hoseok dan Namjoon langsung terdiam. Masing-masing dari mereka berpikir.

"RM," desis Yoongi. Dan sejurus kemudian, kedua temannya menatapnya dengan tatapan tidak mengerti. "Bagaimana dengan RM?"

"RM?" tanya Namjoon. Matanya menyiratkan bahwa ia lebih dari sekedar tertarik dengan nama itu.

"Rap Monster," jelas Yoongi. "Bukankah kau selalu menggunakan nama itu sejak dahulu?"

"RM," ulang Namjoon, kemudian ia mengangguk setuju.

Hoseok merayakan pembentukan nama tersebut dengan bertepuk tangan senang. Pria itu terkadang terlalu bersemangat. "Oh, benar! Aku hampir lupa dengan tujuanku kemari!" serunya.

Yoongi mengerutkan kening. Ia kira Hoseok datang kemari tanpa tujuan, dan hanya datang merusuh seperti biasa. Yoongi tidak bisa tidak penasaran. "Oh?"

Hoseok yang mendengar keantusiasan Yoongi yang terselip apik dalam tatapannya hanya bisa meringis senang. "Aku ingin kau menemui temanku. Dia salah satu penggemarmu," jelas Hoseok.

Yoongi tidak bisa berbohong, ia terkejut mendengar pernyataan itu. "Hah?"

.

.

to be continued.

Author's :

Halo! Akhirnya saya update lagi, hehe. Sebenarnya ini sudah sampai chapter 7 draft-nya, cuman yah... bingung gimana natanya. Soalnya kalo per chapter 1.5k kayak gini kok berasa pendek banget. Tapi kalo dua chap aku sambungin malah jadi aneh:' *sedih* Ah, tau ah:')

Btw, saya lagi suka-sukanya baca ff MinYoon, karena sumpah... JIMIN GANTENG BANGET. HAHAH. But, saya suka dua-duanya. Untuk pertama kali saya akhirnya punya kapal bolak-balik:')))

Balesan review :

MinJimin : Makasih sambutannya:* Iya, saya penasaran banget kenapa saya bisa kesasar di BTS yang notabene isinya tujuh member gak waras semua:') Kenapa saya mesti masuk ke fandom gesrek semua sih:') Lelah:') Dan—ceilah yang beli albumnya juga:'D Sial banget emang, saya gak minat beli album tapi gegara beranda saya isinya iming-imingan album semua saya jadi ga tahan:') Jahat emang:') Btw, semangat ya puasa dua bulannya:'D

JirinHope : Uh, siapa sih yang gasuka lagu-lagunya SUGA? Nchim aja suka pake banget:'D Hadudu, makasih ucapan selamatnya, saya sedih ini masuk ke fandom gesrek macam BTS:'D

Linkz account : Woaaaa! *bantuin Jimin nabok* *ganti ditabok*

Nida Min : Ini sudah lanjut say:*

LittleOoh : Sudah lanjut iniii~ :DDD

shienya : Makasih ucapan selamatnya say:"D Mohon bantuannya ya(?) Sama ini udah lanjut hehehehe:DD

honeymoon : Lucky(?) Iya saya beruntung banget kenal Bangtan tapi entahlah-kenapa fandomnya gesrek? Kenapa? Kenapa? *cry* Kenapa lagi-lagi saya terjebak di fandom yang gesrek? Btw, ini sudah lanjut~ :DD

thalkm : Hadudu, saya juga suka banget sama Hoseok~ Yoonmin moment? Tunggu saja yaw;) Soalnya saya buat ini alurnya lambat banget, mohon dimaklumi ya kalau Yoonmin moment-nya nanti baru sebatas itu-itu saja. (berusaha buat cerita yang agak realistis itu memang susah*cry*)

rbyyls : Huhuhu, baru baca chap 1 udah suka? Yaampun saya terharu:') Semoga kamu bisa terus-terusan jatuh suka sama cerita ini ya:'D Uh, ini si Jimin sudah ketemu sama SUGA(?) cuman ga tau aja dianya, huahahahahaha

Terima kasih atas semua review-nya!

Btw, kalian lebih suka saya bales review di dalem chapter gini atau saya PM satu-satu aja?

Atau lebih suka gak saya balas? :D

Saya gak masalah sih kalau kalian lebih suka gak suka dibalas *dibuang*