Big Thanks for:

peachpeach, liuzhang, Guest, Alizumarch, aafnjyh.

Guest : Iya, habisnya saya kepalang ngebet(?) sendiri karena fanfic cast VIXX langka disini. Ah, ini gak lucu-lucu amat kok. Iya-iya, makasih ya udah baca dan review, kasih semangat juga :)

Terima kasih bagi yang sudah membaca dan mereview. Maaf karena di chapter sebelumnya ada salah pengetikan nama Hakyeon, sudah diperbaiki kok di chapter ini. Terima kasih sudah diingatin :)


SWEET TIGER

.

TAEKWOON X HAKYEON (VIXX)

.

7D


"Dimana Hakyeon?"

Sanghyuk mendongak begitu melihat seorang senior berdiri dihadapan. Hampir saja berteriak begitu melihat putihnya kulit serta datarnya wajah Taekwoon. Dikiranya setan, soalnya ini sudah jam makan malam.

"Aku tidak tau, kak. Dari sore aku tidak melihat kak Hakyeon keluar kamar."

Dua-duanya masih diam. Taekwoon menatap Sanghyuk, tapi Sanghyuk lebih tertarik melihat sesuatu di belakang Taekwoon. Seorang lelaki yang merupakan salah satu adik kesayangan Hakyeon. Gebetan juga sih sebenarnya, hehe.

Si manis Hongbin dengan Jaehwan, si senior berprestasi namun suka menggoda sesama lelaki.

"Bagaimana kalau kita makan disana saja, kak?" Sanghyuk menunjuk ke arah depan dengan kepalan tangan kanan dan ibu jari tangan yang menonjol, khas orang Jawa gitu lho. Menunjuk tempat Hongbin dan Jaehwan yang kini sedang terkikik geli. Entah apa yang ditertawakan.

Namanya juga chabe.

Taekwoon pun mengangguk. Berjalan dengan Sanghyuk mengekor dibelakangnya. Langkahnya yang tegas dan pasti disambut dengan tundukan serta sapaan ramah dari teman seangkatannya maupun adik tingkatnya.

Sanghyuk menjadi yang pertama mendudukkan dirinya di samping Hongbin. Dan Taekwoon memilih berdiri, melihat Jaehwan yang juga menatapnya dengan senyuman sok tampan.

Huek.

"Oh, ada yang bisa kubantu, Senior?" Jaehwan berujar dengan suara mendayu, padahal mereka seangkatan.

"Dimana Hakyeon?"

Jaehwan mengerutkan keningnya, kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Oh iya, Hakyeon tidak ada.

"Tadi ketika aku menjemputnya, kak Hakyeon bilang dia tidak mau makan malam ini. Jemurannya saja masih di luar."

Perkataan Hongbin dibalas oleh langkah putar balik Taekwoon. Ketiganya menatap si Senior yang kini sudah jauh meninggalkan mereka. Pergi begitu saja tanpa mengucapkan basa-basi? Oh, sifat Taekwoon sekali.

"Jadi...celana dalam Hakyeon yang hilang itu benar-benar dibawa...Taekwoon?" beo Jaehwan masih melihat Taekwoon berjalan di depan sana.

Ternyata sedari tadi mereka memperhatikan kain merah yang menyembul di balik saku celana Taekwoon, astaga...


Taekwoon melihat ember pink itu masih tergeletak di dekat tiang jemuran. Pakaian si pujaan hati tersisa dua lagi ketika Taekwoon melongokkan kepalanya. Terpaksa, ia menjemur pakaian Hakyeon yang tersisa dan membawa ember bekas cucian Hakyeon.

Dilemparnya begitu saja ember pink itu hingga terbalik, dan tak ada niatnya untuk mengambil kembali ember itu. Kini ia sudah di depan pintu kamar Hakyeon, menatapnya sejenak lalu mengetukkan tangannya di kayu itu.

"...orangnya lagi tidur. Jangan ganggu."

Hek, darimana orang tidur bisa menjawab ketukan pintu?

Taekwoon meraih gagang pintu dan memutarnya, ternyata tidak dikunci. Ia langsung masuk begitu saja, dan masuk ke kamar berpintu hijau di sisi kirinya.

"YAA! MAU APALAGI! MESUUM!" Hakyeon terlonjak, Taekwoon muncul seperti setan.

"Aku cuma mau kembalikan ini," Taekwoon melempar celana dalam Hakyeon ke wajahnya langsung, dengan ekspresi datar minta di tampar, "Bangunlah. Akan kulaporkan kau ke Pengasuh jika kau tak mau makan."

Walaupun merutuk, Hakyeon tetap bangkit dan mencari kaos loreng di dekat meja. Memakainya cepat dan tak menghiraukan tatapan lapar Taekwoon pada tubuhnya.

"Sudah, ayo. Kau juga belum makan, 'kan?"

Mereka keluar setelah Hakyeon mengunci pintu. Taekwoon masih terdiam sembari memandang punggung Hakyeon. Lalu kemudian berjalan duluan diikuti Hakyeon yang berlari kecil menyusulnya.

Asrama Hakyeon lumayan jauh dari ruang makan mereka. Koridor yang mereka lewati juga sepi, karena semua Taruna sedang berkumpul untuk makan malam. Semilir angin terasa sejuk menerpa kulit tubuh mereka yang hanya terlapisi kaos loreng latex. Tidak membantu sama sekali, sama saja seperti tidak memakai baju.

"Taekwoon..."

"Hmmm..."

"Aku mau tanya, bolehkah?"

Taekwoon hanya memandang ke depan, namun langkahnya melambat. Hakyeon pun mengikuti dengan tatapan sepenuhnya ke wajah pucat itu.

"Apa kau sudah punya pacar?"

"..."

"Woon?"

"Apa ada untungnya jika kau tau?" Taekwoon berujar datar, dengan tatapan dingin yang sebenarnya sangat tidak Hakyeon sukai.

Tapi Hakyeon tidak gentar, ia harus tau jawabannya. Harus! Jadi ia akan memancing Taekwoon lagi.

"Kudengar, ada adik tingkat yang menyukaimu. Dia cantik, lho! Dia juga akan menjadi kandidat pengganti Wonshik menjadi Penata—"

"Jadi maumu apa sekarang?"

Hakyeon kaget setengah mati, astaga. Tiba-tiba saja Taekwoon yang tadinya berjalan disampingnya kini sudah membantingnya, menekan pundak kurusnya merapat di dinding. Nafasnya terasa hangat dan tercium aroma bubble gum, dan tatapan matanya yang semula dingin kini bertambah dingin dan sinis saja. Cengkraman yang ia rasakan memang tidak sakit, namun cukup terasa jika pelakunya sedang berusaha menahan emosi.

"Ti-ti-tid-ahh, kita harus bergegas—"

Taekwoon mendengus sinis, "Kau takut?"

IYA BODOH! AKU TAKUT! Jerit Hakyeon dalam hati.

Mereka saling menatap tanpa ada yang berbicara. Takut-takut Hakyeon menatap langsung mata Taekwoon, tapi ia juga tidak mau terlihat seperti penakut di depan si triplek ini.

Namun rasa takutnya hilang berganti geli ketika melihat hidung Taekwoon.

"Hiii, hidungmu ada upilnya. Jorrroooook!"

Suasana romantis dadakan tadi menghilang begitu saja ketika Hakyeon berseru, sedangkan Taekwoon reflek menutup hidungnya. Mata yang biasanya sinis itu melotot melihat si hitam manis yang tertawa dengan tangan bertumpu pada lutut.

"Aku bercanda, HAHAHAHA! Lain kali akan kufoto wajah jelekmu itu, Jung. Ah, sudahlah ayo. Kita sudah telat."

Hakyeon berlalu setelah tertawa begitu, dan Taekwoon kembali memasang wajah datar karena baru saja dikerjai si pujaan hati. Huh, untung manis, untung sayang, untung bohay.

Belum jauh berjalan, langkah mereka berdua terhenti, lagi. Kali ini Taekwoon yang berhenti duluan, kemudian memaksa Hakyeon untuk menghadap kearahnya. Taekwoon meremas kedua bahu Hakyeon, dan menatap wajah lelaki itu. Kemudian ke leher, dada, perut, terus hingga ke ujung sepatunya.

Hakyeon hanya diam kala tatapan Taekwoon begitu tajam. Memperhatikannya dari atas ke bawah tanpa berkedip. Hingga selanjutnya ia merasakan tubuhnya ditarik perlahan, bertubrukan dengan tubuh bidang Taekwoon yang hangat dan tegap. Bisa ia rasakan aroma parfum Taekwoon yang tak berubah dari dulu, dan baru menyadari kalau bahu Taekwoon sekarang lebih berisi dan lebar dibandingkan dirinya. Kedua tangan pria itu mengelus kepala dan pinggangnya, dengan surai hitam Taekwoon di ceruk lehernya.

Kemudian pelukan itu terlepas. Taekwoon menatap wajah Hakyeon sembari membingkai wajah tirus pemuda yang sebaya dengannya dengan lembut.

"Aku menyayangimu, Cha Hakyeon. Sangat." bisik Taekwoon lirih dengan senyum sendu.

Hakyeon masih belum percaya, bahwa orang yang mengganggunya dari dulu hingga sekarang, kini sedang bersamanya, berbisik lembut dengan mata berkaca-kaca.

"Kuharap, setelah ini, kita bisa bertemu lagi. Dengan atau tanpa pasangan, nantinya."

Uhh, Hakyeon tiba-tiba jadi baper. Suasananya kok tiba-tiba mellow gini, sih?

"Jaga dirimu baik-baik. Maaf karena aku selalu mengganggumu selama ini."

Airmata Hakyeon tumpah begitu saja ketika mendengar Taekwoon berujar demikian. Berbanding terbalik dengan Taekwoon yang tersenyum simpul, tanpa ada niatan menghapus airmata lelaki kesayangannya tiga tahun ke belakang.

Ia akan selalu mengingat semua ekspresi Hakyeon. Candanya, marahnya, senyumnya, dan tangisnya. Dan ia tak akan pernah lupa dengan kenangan saat ia menuntut ilmu bersama si pujaan hati. Walaupun pada akhirnya, ia harus meninggalkan perasaannya disini. Tanpa Hakyeon yang membalas perasaannya, serta cintanya yang hilang dan tak akan pernah terungkap.

"Jangan menangis, cengeng. Ayo, sebelum kambing-kambing itu menghabisi makanan kita."

Taekwoon berjalan di depan, dengan Hakyeon menyusul sembari menyeka air mata yang terus meleleh. Memandang bahu tegap yang mungkin tak akan ia lihat lagi untuk beberapa tahun...atau mungkin selamanya, setelah pendidikan ini usai beberapa hari lagi.

Karena setelah esok hari, ia dan seluruh teman-temannya —termasuk Taekwoon— akan berpisah. Mengembankan tugas negara di tempat yang berbeda-beda. Dengan tantangan dan resiko yang sudah menunggu di depan mata. Mengesampingkan urusan pribadi, termasuk soal cinta.

Ah, cinta yang menggantung memang menyakitkan, ya?

EN...

.

..

...

OMAKE

Hakyeon menutup wajahnya yang sudah memerah, malu sekaligus marah. Memalukan! Bagaimana mungkin ia bisa lupa pakai bokser di depan Taekwoon?

"Aaaa! Maluuuu!"

Kakinya menghentak-hentak udara. Pekikan yang mirip seperti suara perempuan teredam oleh telapak tangannya yang menutupi wajah. Masih terbayang wajah Taekwoon saat menggodanya. Saat tawa Taekwoon berderai sambil berlari, bohong kalau Hakyeon tidak tersepona, ehem.

"Haaahh..."

Hakyeon menghela nafas, dan pandangannya menerawang plafon kamar.

Terbayang olehnya wajah Taekwoon dan segala tingkahnya yang Hakyeon akui, sangat menghibur selama ia berada disini. Seperti tidak ada sehari saja mereka tidak bertemu walaupun mereka berbeda gedung asrama, berbeda team, bahkan berbeda jadwal sekalipun mereka satu angkatan pendidikan.

Lelaki tegas itu seakan berubah jika sudah bersamanya. Selama ia mengenal Taekwoon, Taekwoon itu adalah tipikal lelaki yang cerdas, ramah, dan usil, walaupun harus tertutup dengan wajahnya yang datar dan matanya yang tajam. Taekwoon juga tak punya banyak teman seperti Hakyeon, namun Taekwoon bisa berkoordinasi dan mengatur ratusan Taruna di Akademi ini tanpa harus merasa sok senior.

Hakyeon jadi senyum sendiri. Ia merasa, semakin hari ia semakin menyukai Taekwoon.

Hah?

Iya, Hakyeon suka sama Taekwoon. Diam-diam ia sering mengintip Taekwoon di asrama A. Ia juga tau kalau lelaki itu tak hanya mampu memutar Stick Major saja, Taekwoon itu lelaki dingin(kelihatannya) yang penuh dengan bakat. Suaranya juga halus saat bernyanyi dan berbicara dengannya, walaupun kadang suara itu akan hilang jika sudah berteriak garang di tengah lapangan.

Namun senyuman itu luntur tatkala matanya melirik kalender yang terpasang apik di belakang pintu.

Besok, adalah hari serah terima jabatan serta serah terima genderang suling dan penatarama. Ia akan benar-benar mengabadikan aksi Taekwoon besok. Catat.

Dan lusa, mereka akan segera berpisah. Ditempatkan di tempat-tempat terpencil untuk mengabdikan diri sebagai penjaga negara. Fakta menyedihkannya adalah, ia dan Taekwoon akan berpisah jauh sekali, entah sampai kapan. Andai saja ia seorang wanita, mungkin ia tidak akan ragu untuk mengatakan kalau ia mencintai Taekwoon. Hitung-hitung seperti kau mengungkapkan perasaanmu sebelum benar-benar berpisah dengan lelaki incaranmu.

Lelehan air mata terasa panas menyusuri pipi tirus Hakyeon. Berusaha meredam sesak karena cinta yang tak akan mungkin bisa bersatu dan terungkap kapanpun jua. Berharap bulan meminang matahari, memangnya bisa?

Jadi, Hakyeon harap, ia akan banyak bertemu dengan Taekwoon setelah ini. Berani meminta kontak dan sosial medianya, hanya sekedar untuk bertegur sapa jika mereka berpisah nanti. Menikmati segala peristiwa mereka berdua, dan kalau beruntung, ia ingin sekali menggenggam tangan Taekwoon lebih dari teman,

...tetapi sebagai kekasih hati yang terpendam.

...D


A/N : Jadi sendu gini endingnya. Mengecewakan, kah? Jangan marahin saya kalau endingnya jadi gini, gak ada humor-humornya sama sekali. Mungkin lain kali, saya bikin yang endingnya agak cheesy, biar mereka berdua gak keliatan sedih-sedih amat.

Oh iya, kemarin juga ada yang nanya, "Kak, ini beneran sesuai sama pendidikan militer di Indonesia, ya?". Dan jawabannya adalah, iya. Semua istilah-istilah dan nama-nama alat musik disini semua saya tahu dari situ. Karena selama saya camping di markas Yonif, saya gak berhenti nanya ini itu sama mas-mas tentara yang ada disana. Dan—ini banyak banget pakai kata 'dan', mas-mas itu miriiiiip banget sama Taekwoon, ya gak semua sih. Sipitnya, putihnya (sampai sekarang masih heran kenapa ada tentara seputih dan sebersih itu), sama badannya yang besar dan tinggiii sekali. Dia punya temen yang matanya belo, kulitnya hitam, persis kayak Mamih Cha! Karena itulah, taraaaa! Jadilah fanfic nyerempet ini.

See ya di fanfic lainnya! Mind to Read n' Review?