A/N: Maaf kalau chapter yang ini kependekan...author lagi rada2 =3=


Normal POV

Latihan sepak bola pun akhirnya selesai juga…semua anggota telah memakai seragam kembali dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing…

Kecuali satu orang yang dari dulu kita kenal sebagai…Tsurugi Kyousuke.

Eh, ternyata tidak, seorang lagi yang bernama Matsukaze Tenma juga masih di sana (dihajar pembaca). Oke…lanjut!

"Tsurugi, sebenarnya tadi kau mau bilang apa sih?" tanya Tenma yang kebingungan.

"Bukan apa-apa kok…" jawab Tsurugi dengan sikap cuek-nya.

Ya…walaupun mereka tidak pernah mengakui-nya, semua orang juga tahu kalau mereka sebenarnya menyukai satu sama lain (kecuali Shindou tadi karena mungkin dia memang ketinggalan info).

Karena tidak ada yang perlu dibicarakan (atau setidaknya itu yang dipikirkan oleh Tsurugi), ia pun mengambil langkahnya menuju pintu keluar sampai…

"Tunggu!" sahut sang midfielder angin. Sang striker kegelapan pun menghentikan langkah-nya oleh perintah sederhana itu.

"Ada apa?" tanyanya singkat. Tenma hanya menelan ludah-nya dan memberanikan diri untuk bertanya pada pujaan- eh, maksudnya teman-nya.

"Bolehkah aku menginap di rumah-mu malam ini?"

Tanpa bertanya yang macam-macam seperti "untuk apa?" atau "memangnya ada apa di rumah-mu?" dan sebagai-nya…Tsurugi hanya menjawab, "silahkan saja."

Saat jam menunjukkan pukul enam sore, Tenma memasuki rumah Tsurugi bersama dengan sang 'pemilik' rumah tersebut (yang punya kan orang tua-nya…bukan Tsurugi).

"Eto…aku tidak merepotkan-mu kan?" tanya Tenma untuk memecah atmosfir keheningan di rumah itu.

"Tidak, kebetulan orang tua-ku sedang pergi tugas ke luar kota."

"Oh, bagus…aku memilih hari yang kurang tepat…" pikir Tenma. "Tidak masalah kok, kebetulan aku sering kesepian karena nii-san masih dirawat di rumah sakit," kata Tsurugi tiba-tiba yang menyentakkan Tenma karena seolah-olah ia bisa membaca pikiran orang lain.

Mereka pun meneruskan perjalanan mereka ke ruang tengah dan Tenma hanya duduk di sofa sementara Tsurugi sedang membuat teh.

Entah Tsurugi tidak ahli membuat teh atau bagaimana tapi waktu sudah berlalu TERLALU lama untuk hanya membuat teh. Tenma akhirnya mulai mengambil remot TV dan mengganti-ganti saluran yang ada…seolah-olah dia lupa kalau dia ada di rumah pacar- eh, maksudnya sahabat-nya.

[Berita hari ini adalah…]


"Tidak ada acara yang menarik ya?" ujar Tsurugi tiba-tiba yang membuat Tenma terkejut hingga nyaris jatuh dari sofa.

"Ah, maaf! Tadi aku hanya bosan, jadi…"

"Tak apa, anggaplah ini rumah sendiri," kata-nya seraya meletakkan dua cangkir berisi teh di atas meja.

Tenma pun kembali ke posisi duduk-nya semula dan mengganti saluran-nya lagi.

"Drama Korea, sinetron, ah sudahlah…kartun saja," pikirnya.

Memang tidak bisa dibayangkan kalau seorang remaja polos seperti dia bisa tergila-gila dengan serial seperti Putih Abu-abu.

Tsurugi kemudian meminum teh-nya dan memulai pembicaraan.

"Matsukaze, bagaimana kerja kelompok-mu kemarin?"

"Seperti-nya lancar-lancar saja…kami kerja kelompok di rumah Aoi dan…aku pulang sendirian."

"Ini mah bukannya ceritain kerja kelompok-nya tapi cara-nya dia pulang…" pikir Tsurugi.

"Kamu sendiri bagaimana, Tsurugi?" tanya Tenma.

"Awalnya sih berjalan lancar di rumah Seto-san, dan ujung-ujungnya aku bawa motor sendirian," ujarnya.

"Tuh kan…anda juga…" pikir Tenma. Aduh…kenapa kalian jadi bisa baca pikiran begini?

"Jadi inti-nya kita berdua sama-sama sendirian dong?"

Ya ampun, Tenma; pernyataanmu tadi ambigu sekali sampai-sampai Tsurugi jadi mematung di sofa sebelah.

"B-begitulah," balasnya dengan pipi yang cenderung memerah.

Tsurugi pun mulai tak tahan lagi…memang Tenma belakangan ini sering memeluk-nya atau menunjukkan afeksi lain, tapi kesan-nya jauh berbeda karena ia belum memiliki perasaan ini.

"Tsurugi, kenapa wajah-mu merah begitu?" tanya Tenma dengan polos-nya dan entah kenapa ia menjadi polos lagi padahal kemarin dia sudah bagus bisa galau!

Sementara Tsurugi malah terkena musibah layak-nya di acara-acara TV 'jail' itu.

"Tidak…aku hanya…hanya…"

Tsurugi pun mencoba untuk mencari-cari alasan tapi ia mendapat ide begitu mendengar bunyi-bunyi aneh di rumah-nya.

"Woi…kalian semua! Keluarlah!" teriaknya. Tenma hanya kebingungan dengan aksi sang seme awalnya, tapi begitu melihat Shindou, Kirino, Hikaru, dan Hamano turun dari lantai kedua, ia mulai mengerti maksudnya.

"Kariya! Jangan bersembunyi terus!" lanjut Tsurugi. Sosok yang di-sebut pun akhirnya ikutan turun.

"Cih, dasar…padahal tak kusangka akan terbongkar se-cepat ini," ujarnya.

"Sudah kubilang Kariya, jangan mengganggu privasi orang lain," sahut Hikaru.

"Ah, anda juga begitu kan?" balas sang seme tak mau kalah.

Dan daripada memusingkan pasangan MasaHika yang lagi debat gaje itu, Tsurugi pun akhirnya memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.

"Matsukaze…sebenarnya ini yang tadi aku mau bilang…" gumam-nya pelan seraya mempertemukan bibir-nya pelan dengan bibir sang shota. Reaksi sang uke pun jelas; terkejut…tapi lama-kelamaan ia mulai…menikmati-nya.

Walaupun singkat, tapi itu sudah cukup untuk membuat Tenma yang kita tahu menderita penyakit telmi itu untuk mengerti maksudnya Tsurugi.

"Tsurugi…aku juga menyukai-mu…" bisik-nya pelan.

Dan sungguh disayangkan karena Shindou dan Kirino hanya sibuk dengan Kariya dan Hikaru yang entah kapan selesai adu mulut-nya.

Sementara Hamano cukup beruntung untuk mengambil foto dengan HP-nya saat event 'langka' itu terjadi.

"Kariya, sudahlah…turuti saja kata-kata Hikaru. Lagipula dia kan ada benar-nya," tegas kapten.

"Hikaru, mengalah saja. Memang orang seperti Kariya agak susah diladeni," saran Kirino.

Kedua makhluk itu pun langsung tertegun dan menatap satu sama lain. Hanya satu kata yang bisa di-ucapkan di saat-saat kurang mengenakkan seperti ini…

"Maaf…"


Keesokan hari-nya seusai latihan…nampaklah enam manusia masih keliaran di sekitar lapangan sepak bola…

"Akhirnya terwujudlah juga apa yang diinginkan Hamano," canda Kirino.

"Senpai! Jangan begitu dong!" sahut pemilik keshin Pegasus yang mulai salah tingkah. "Dia benar, Ranmaru. Mereka kan masih baru jadi belum terbiasa dengan hal semacam ini," lanjut Shindou.

"Kapten! Jangan begitu juga dong ngomong-nya!" Tenma masih saja merasa terusik oleh niat 'usil' senior-nya. Shindou dan Kirino hanya tertawa sementara Tsurugi hanya tersenyum tipis; entah apa yang membuatnya tersenyum.

"By the way Kariya, bolehkah aku pinjam Hikaru sebentar?" tanya Kirino dan sang pemburu pun langsung menjawab.

"Nggak boleh! Hikaru itu punya-ku!" katanya sambil memeluk Hikaru layaknya anak kecil.

Dan bunyi angin sepoi-sepoi pun tidak terdengar lagi…diganti dengan bunyi gelak tawa dari kelima teman yang lain.

"Setidaknya kau tak sendirian lagi…nee, Soyokaze?"

.

.

.

-END-


A/N: Inti-nya sih KyouTen tapi ada Rantaku dan MasaHika nyelip hehe ^^"

Author sebenernya bikin fic ini udah lama…tapi karena males banyak deadline jadi saia selesaikan dulu saja. Terimakasih buat author2 senior yang sudah membantu saia menulis lebih baik ^^ (tapi sepertinya fic ini tetap saja…=3=) Yosh! Akhir kata…review?