YOURS
By Aoi
Kuroko no Basuke belongs to Fujimaki Tadatoshi
Warn: Semi!AU AominexReader! Typo! And etc.
Summary: Dia muncul tiba-tiba di kamarku. Aku tidak tahu alasan dia berada disini. Tapi aku terlalu bahagia hingga melupakan fakta kenapa dia ada disini. Kenapa berada di kamarku. Kenapa berada di dunia ini. Hanya saja, aku merasa takut dia menghilang. Perasaan apa yang sebenarnya kumiliki terhadapmu, Aomine Daiki?
Chapter II
.
.
.
.
"Check! Tidak ada yang ketinggalan," seruku saat mengecek lagi barang yang harus kubawa ke sekolah. Setelah itu aku menutup kembali tasku rapat. Saat aku melewati cermin, aku melihat pantulan wajah Aomine yang kelihatan lesu. Lucu sekali wajahnya.
Omong-omong ini sudah hari ketiga dia di dunia ini dan hari ketiga pula aku 'menampungnya'. Dan hari pertama aku masuk ke sekolah kembali setelah libur selama 2 hari plus hari Minggu kemarin. Ah, cepat sekali. Padahal aku masih ingin libur.
Kemudian perhatianku kembali ke Aomine. "Kau kenapa Daiki-kun?" tanyaku kepadanya.
"Hm. Tidak apa," jawabnya singkat. Ia sedang tiduran di kasurku meskipun matanya mengarah kepadaku. Aku jadi merasa risih dan malu,—uh pasti ini akibat kemarin ketika aku memeluknya. Ya, ya, Aomine memang tidak mengatakan apa-apa tapi aku kan masih merasa malu.
Cepat-cepat aku menetralisir wajahku yang mulai memanas. "K-kau jangan kemana-mana. Tetaplah di rumah. Aku akan pulang jam 3 nanti." Aku akan keluar kamar ketika dia memanggilku.
"Kau harus ke sekolah ya?" tanyanya.
Aku menghembuskan napas panjang lalu membalikkan badanku, menatapnya yang kini sudah duduk di atas kasurku. "Aku masih cewek normal berumur 16 tahun yang harus pergi ke sekolah Aomine Daiki!"
"Oh begitu…" balasnya datar.
Cih. Ternyata dirinya masih menyebalkan.
"Aku pergi. Jaga rumah baik-baik dan jangan macam-macam!" perintahku.
"Ya, ya, Nona Penguntit."
Empat sudut siku-siku muncul di kepalaku. Aku menatapnya sinis lalu pergi keluar. Ah, sekolah. Semoga hari ini menyenangkan. Tidak membosankan. Do'aku di perjalanan menuju ke sekolah.
Tapi, segalanya akan berjalan baik kan meskipun aku meninggalkan Aomine di rumah sendirian? Semoga.
.
.
.
Aomine Daiki, pemuda pemiliki surai biru tua itu menatap pintu yang digunakan oleh gadis itu keluar untuk pergi ke sekolah. By the way, bicara tentang sekolah ia sudah lama tidak pergi ke sekolah sejak hari dimana dirinya datang ke dunia ini. Ah, kira-kira apa yang dipikirkan oleh Satsuki dan anggota basket Tim Toou lainnya ya? Dia kan menghilang begitu saja. Apalagi Piala Musim Dingin sudah dekat malah dia jatuh ke dunia ini. Bagaimana dengan pertandingannya? Dia tak tahu. Atau… Mungkin berusaha tidak terlalu memikirkannya karena meskipun kurang dipercaya, ia sedikitnya tahu apa yang terjadi dengan pertandingannya dengan Seirin.
Komik. Ya, ia mengetahui hasil pertandingan Seirin melawan Toou dari komik di malam pertama ia berada disini. Aneh memang dan baginya sulit dipercaya tapi bukti-bukti lain sudah meyakinkan dirinya bahwa dia tidak berada di dunianya tapi dunia dimana penciptanya berada. Lucu memang. Tapi Aomine mulai menerima hal itu bahwa ia bukan berada di dunianya.
Dia memang berada di Tokyo. Tapi bukan 'Tokyo'-nya. Dia berada di Jepang, tapi bukan 'Jepang'-nya. Dia berada di Bumi tapi itu bukan 'Bumi'-nya. Dunia yang ia tinggali sekarang bukan dunia dimana ada Satsuki, Tim Toou bahkan anggota Kiseki. Segalanya berbeda bagi Aomine.
Ia membaringkan dirinya kembali di kasur gadis itu. Mata biru tuanya menelusuri dinding kamar gadis itu yang dipenuhi oleh poster-poster dirinya dan anggota Kiseki. Yang paling banyak adalah poster dirinya dan Kuroko Tetsuya. Selain itu ada juga poster dimana ia tidak pernah merasa melakukannya. Seperti salah satu poster itu, ada dirinya dan Kuroko yang sedang melakukan fist-bump. Ia memang pernah melakukan itu dengan Kuroko tapi sewaktu SMP, sedangkan di poster tersebut ia dan Kuroko sedang memakai seragam tim basket SMA masing-masing.
Meskipun hanya menebak, tapi entah kenapa ia berpikiran bahwa kekalahan timnya dengan Seirin tidak membuat segalanya menjadi buruk. Aneh memang seorang Aomine berpikiran seperti itu ketika dia terus mengucapkan: 'Yang dapat mengalahkan aku adalah aku seorang'. Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat menciptakan senyum tipis yang jarang diperlihatkan olehnya.
Sebenarnya Aomine ingin membaca kelanjutan komik-komik yang diperlihatkan gadis itu kepadanya tempo hari tapi gadis itu dengan liciknya menyimpan komik-komik itu dan menyembunyikannya di suatu tempat.
Katanya, "Tidak boleh Daiki-kun. Jika kau membaca komik-komik itu sama saja aku membacakan masa depan kepadamu."
Dasar gadis menyebalkan dan… aneh.
Ya, aneh. Karena kejadian kemarin ia menyimpulkan bahwa selain menyebalkan gadis itu juga aneh. Menyuruhnya pergi lalu tiba-tiba mencarinya dan mengatakan kalimat-kalimat aneh bahwa dia bahagia kalau dirinya tidak menghilang. Aneh. Benar-benar aneh. Meskipun dia tidak dapat menyangsikan perasaan senang yang tiba-tiba menggelitiki dirinya waktu itu.
Dia hampir saja terlelap ketika merasa gerah jadi dia bangun dari acara 'mau tidur'-nya dan pergi ke kamar mandi. Sebelumnya ia mengambil pakaian kakak lelaki gadis itu untuk dipakainya.
.
.
.
"Hei! Melamun terus." Aku mengangkat kepalaku dan bertemu dengan hazel sahabatku, Kotomi.
"Aku tidak melamun kok," sanggahku lalu mengalihkan pandanganku ke jendela.
"Tidak melamun? Jangan bohong. Cerita padaku ada apa? Apakah salah satu karakter favoritmu ada yang mati lagi?" tanyanya kepadaku dengan nada penasaran yang terselip dalam setiap ucapannya.
"Kau pikir aku sefanatik itu hingga setiap karakter mati aku akan menangisinya terus menerus," kataku kepadanya sambil memicingkan mataku tajam.
"Yah," Dia mengangkat bahunya. "Kau kan memang seperti itu. Dulu kau bahkan menangis melihat kematian Ace sewaktu kita nonton bareng One Piece. Yah, aku tahu semua tentangmu, girl."
Aku tidak membantah. Memang, dulu aku sempat nyaris menangis ketika melihat kematian karakter-karakter favoritku di setiap anime yang kutonton. Terutama karakter yang seharusnya jadi 'suami' terbaruku, Portgas D. Ace harus mati. Aku memang sedih dan mengingatnya membuatku makin sedih, tapi saat ini aku bukan sedang sedih menyesali kematian karakter kesukaanku. Aku sedang risau apakah pemuda yang kutinggalkan di rumah baik-baik saja.
"Melamun kembali kan?"
Aku memajukan bibirku kesal. "Aku tidak melamun! Aku hanya merasa khawatir."
Kotomi memiringkan kepalanya heran. "Khawatir? Tentang apa? Kupikir kita tidak memiliki nilai ulangan yang harus di khawatirkan."
"Bukan itu…" Aku ingin menceritakannya, aku yakin Kotomi akan mendengarkan meskipun aku tidak yakin ia akan percaya. "Aku akan bercerita tapi tidak disini. Bisa tidak kau ke rumahku sepulang sekolah?"
Kotomi tampak berpikir. "Tidak tahu, aku tidak bisa memastikan apakah hari ini aku kosong atau tidak. Kau tahu, beberapa hari ini Okaa-san selalu meneleponku untuk segera pulang atau mengatakan sesuatu yang membuatku tidak bisa kemana-mana setelah pulang sekolah. Jadi…"
"Baiklah. Tidak masalah. Mungkin besok atau lain kali."
"Ah, sahabatku, kau memang paling bijaksana."
"Ya, ya, aku tahu," kataku sambil membusungkan dada—membanggakan diri sendiri tentunya.
Kotomi terdiam sejenak lalu mengagetkanku dengan tepukannya.
"Kotomi! Kau mau merusak pendengaranku?!" ucapku kesal.
"Gomen, gomen nasai. Hanya saja, apa kau sudah membaca chapter terbaru Kurobas? Akashi memasuki—"
TIDAAAKKK! Jangan katakan baka-Kotomi!
Aku segera menutup kedua telingaku dan memandang keluar jendela—mengabaikan Kotomi yang masih dengan semangat apinya berbicara tentang segala hal yang tidak ingin kudengar yaitu chapter TERBARU KUROBAS!
"—kemudian Kagami—," Kotomi masih melanjutkan sedangkan aku masih tidak mendengarkan. Bhuahaha bicaralah sampai tenggorokanmu kering Kotomi-chan, aku tidak mendengarkan. Lalala~
"—begitu." Kurasa Kotomi telah mengakhiri spoiler manga favoritku. Aku menurunkan tanganku dan menatap Kotomi yang masih berpikir aku mendengarkan, tapi aku pikir dia mengerti dengan senyum-senyum anehku ini. "Lagi?! Kau tidak mendengarkanku lagi, (Your name)!"
"Gomen!" Aku mengatupkan kedua tanganku. "Kau kan tahu aku bukan tipe pembaca yang membaca sesuatu yang ilegal." Aku mengangkat kedua bahuku tidak peduli. Sedangkan Kotomi memasang muka sebal ke arahku.
"Cih, kau akan membacanya kelak jika rasa penasaranmu mengalahkanmu," yakin Kotomi kepadaku.
"Oh, benarkah? Aku tidak yakin. Hahaha," balasku sambil tertawa.
.
.
.
Pemuda berbintang Virgo kelahiran 31 Agustus itu tampak menguap lebar, ia berbaring di kasur yang selama ini di tempatinya—di kamar kakak gadis itu. Mencoba tidur tapi tak bisa meskipun ia sudah mencoba untuk tidur berapa kali pun. Uh, sial. Sejak berada di sini, dia sangat sulit untuk tidur. Bahkan beberapa hari ini dia hanya tidur 3-4 jam karena banyak hal yang dipikirkannya.
Menguap sekali lagi, akhirnya dia tertidur.
.
.
.
"Aomine-kun! Aomine-kun! Mou—kau tidak latihan lagi?" Suara nyaring dari seseorang yang amat dikenalnya, Momoi Satsuki merasuki gendang telinganya.
"Tch, berisik." Ia mengabaikannya kemudian berganti posisi tidur yang tadinya telentang.
"Aomine-kun! Kau harus latihan. Ayo cepat." Suara Satsuki terdengar kembali, Aomine meskipun dengan jelas mendengarnya masih tidak ingin membuka matanya atau bangun dari tidurnya. Ia masih ingin terlelap dalam tidurnya.
"Aomine-kun!"
"Aomine-kun!"
"…-kun!"
"Argh!" Mata Aomine seketika terbuka. "Sial!" decihnya kesal. Ia bangkit dari tidurnya dan memandang sekitar dan masih sama. Ia masih di dunia yang berbeda. Sepertinya ia belum diperbolehkan kembali ke dunianya. Mimpinya tadi seperti bukan mimpi, entahlah, Aomine sulit menjelaskannya tapi ia merasa tadi nyata, tadi ada Satsuki di sampingnya sedang membangunkannya untuk latihan.
Meskipun singkat, ia merasa rindu dengan teriakan Satsuki seperti tadi. Padahal baru tiga hari ia disini bagaimana jika ia harus satu bulan bahkan lebih berada di dunia ini? Segera ia menggelengkan kepalanya memikirkan hal tersebut, ia tidak boleh terlalu lama berada di dunia ini. Ia harus kembali ke dunianya, ke tempat seharusnya berada.
Tiba-tiba ada suara benda terjatuh di lantai bawah dan rintihan seorang perempuan. Aomine pun tersadar dari lamunannya, ia segera keluar dari kamar. Apakah dia sudah pulang? Tanyanya dam hati.
Langkahnya tergesa-gesa menuruni setiap anak tangga, namun segera terhenti ketika melihat siapa yang ada di hadapannya.
"Aduh, kakiku," rintih seorang wanita paruh baya yang masih tampak muda itu sambil memegangi kakinya. Beberapa barang tampak terjatuh di sekitarnya. Rasanya ia masih belum sadar ada seorang pemuda di depannya.
Sedangkan Aomine mematung di tempat, ia bingung harus melakukan apa. Ingin menolong tapi apa reaksi yang akan diberikan pemilik rumah di depannya ini? Ia bingung harus menjelaskan apa nantinya kepada Ibu dari gadis yang telah merawatnya itu.
.
.
.
Banzai! Akhirnya bel tanda pulang sekolah sudah berbunyi. Bebas juga dengan semua mata pelajaran yang membuatku sebal setiap harinya. Hahaha.
Aku mendongak ketika mendengar seseorang memanggilku. Ketika kulihat, oh, ternyata Kotomi. Ia tampak merengut dengan wajah yang lucu.
"Ada apa?" tanyaku padanya sambil merapikan beberapa bukuku yang masih tersisa di atas meja dan dimasukkan ke dalam tas. "Kenapa dengan wajahmu?"
Dia mendekatiku, ponsel keluaran terbarunya digoyang-goyangkan di depanku.
"Sori. Kayaknya aku tidak bisa ke rumahmu. Okaa-san menyuruhku segera pulang katanya ada hal yang harus kulakukan untuknya." Ia tampak sedih ketika mengucapkan hal tersebut.
"Oh, begitu?" Aku memang sedikit merasa kecewa tapi apa boleh buat kurasa untuk saat ini hanya aku yang boleh mengetahui keberadaan Aomine. Belum saatnya ada yang tahu selain aku. Kurasa begitu.
"Baiklah, mungkin besok atau besoknya lagi," lanjutku ceria.
Kotomi menarik lenganku. "Nee, nee, memang tak bisa kauceritakan saja, eh?"
Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak bisa. Ini bukanlah hal yang bisa diceritakan hanya dengan kalimat saja. Harus ada pembuktiannya agar kau percaya, Kotomi-chan."
"Kau sok serius, hm?"
"Hehe… Tidak kok. Ah lihat, semuanya sudah keluar, ayo jalan keluar bareng."
.
.
.
Aku turun di halte dari bus yang kunaiki tadi dari sekolah setelah ini aku akan berjalan kaki untuk sampai ke rumah. Tidak jauh, sekitar 10 menit sampai. Aku berjalan riang ke rumah tanpa tahu bahwa di rumah sedang ada wawancara eksklusif antara penghuni baru rumahku dan Ibuku tersayang.
"Jadi, kau tinggal disini sudah 3 hari, Nak?" tanya seorang wanita kepada pemuda bersurai biru tua di hadapannya—Aomine.
Aomine mengangguk kaku. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sebenarnya sejak tadi ia bingung harus mengatakan apa ke wanita di hadapannya ini. Takut salah bicara atau apa—tch, bukan Aomine sekali jadinya.
"Sebentar, sebentar, aku seperti pernah melihat wajahmu. Apakah kau salah satu teman anakku yang pernah datang ke rumah?" Wanita itu berhenti sebentar—tampak berpikir. Menggeleng—kacamatanya nyaris jatuh—ia melanjutkan, "Kurasa tidak juga. Tapi aku yakin pernah melihatmu. Apakah aku jadi pikun karena aku sudah tua?" Ia menatap Aomine. "Bagaimana, Nak? Apa aku kelihatan tua?"
Aomine terkekeh ringan, sepertinya ia tahu kenapa gadis itu cerewet. Dari siapa itu berasal, sekarang ia mengetahuinya. Ia berdehem pelan, "Uhm, mungkin Anda pernah melihat saya di suatu tempat," karangnya.
"Ah, souka! Kurasa juga begitu," jawabnya sembari mengangguk. "Jadi, kenapa kau ada di rumah ini?"
Nah, ini dia pertanyaan yang ingin dia hindari. Bagaimana coba menjawabnya? Aomine bingung. Apakah dia harus jujur dan mengatakan kalau dia berasal dari dunia lain? Heh, tentu dia takkan percaya. Bagaimana ini? Akh, Aomine sangat benci dengan keadaan ini lebih benci daripada melawan tim lemah sekalipun.
"Nak?"
"Eh, iya?"
Wanita itu tersenyum. "Siapa nama—"
"Tadaima!" Pertanyaan itu terputus ketika mendengar suara pintu terbuka dan seorang gadis berpakaian seragam masuk dengan wajah tanpa dosa. "Daiki-kun, apa kau—eh?" Kedua matanya melebar kaget, terkejut. "Waah, Mama!"
.
.
.
"Jadi…"
Suara Mama bergaung di telingaku berulang-ulang seperti seorang hakim yang akan mengeksekusi penjahat. Menakutkan! Aku melirik pemuda di sampingku yang tampak gugup juga tapi menurutku dia tidak terlalu peduli dengan situasi ini. Dia juga tak berniat berbicara. Sial! APa dia mau melimpahkan penjelasan ini padaku? U-uh, aku kan bukan anak yang pintar bicara.
"Sayang, bisa kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Mama sekali lagi.
Aku menghindari kedua mata Mama dan melihat sudut ruangan dimana foto keluargaku ada. "Itu Ma, dia ini temanku waktu aku kecil dulu," kataku berdusta.
"Ah, benarkah? Tapi Mama mengenal semua temanmu waktu kecil dulu lho."
"Itu Ma," Aku memutar otakku dan terlintas sebuah cerita di otakku ini. "Mama ingat waktu kita pindah dulu ke rumah Nenek?" Mama mengangguk, aku melanjutkan, "Dulu kan kita pernah tinggal disana selama 1 bulan, aku ketemu sama dia, Ma. Saat itu aku belum pernah mengenalkannya ke Mama. Karena itulah Mama tidak mengenalnya," ceritaku dengan lancar. Di akhir kata aku tersenyum lebar untuk meyakinkan Mama bahwa ceritaku bukanlah karanganku saja. Maaf, Ma aku berbohong. Tapi sekali ini saja kok. Janji…
"Begitu. Seharusnya kalau kamu punya teman sedekat ini kenalin Mama sejak dulu. Apa jangan-jangan kalian pacaran?" tanya Mama dengan raut wajah bahagia. Eh, bahagia? Dan apa pertanyaannya tadi?
"Pacaran, Ma?" Aku tertawa. "Enggak kok. Kami tidak pacaran." Sebenarnya sih aku mau bilang, 'Dia bukan pacarku, Ma. Tapi suamiku.' Tapi tidak jadi, kurasa itu terlalu buruk untuk menjadi sebuah candaan. Haha.
"Lalu apa yang dilakukannya disini?"
Aha! Aku sudah memikirkan jawabannya meskipun agak terlalu didramatisir sih. Peduli amat, yang penting kan Mama percaya.
"—gitu Ma. Jadi boleh kan dia tinggal disini sementara waktu?" tanyaku berharap-harap cemas. Sebaik apapun Mama kepadaku kan tapi tetap saja Aomine itu cowok. Bisa saja Mama tidak memperbolehkannya karena takut akan keselamatanku.
"Jadi orangtuamu sedang dalam masalah, Nak?" Mama mengalihkan pandangannya ke Aomine. "Apa kau baik-baik saja?"
Aomine tersenyum tipis."Yah, begitu, Oba-san."
"Baiklah, selamat datang di rumah ini—" Mama melirikku. Aduh, aku lupa memperkenalkan Aomine sama Mama.
"A—" Aomine membuka mulutnya, sesegera mungkin aku langsung meyela.
"Akashi," ucapku cepat. "Akashi Daiki, Ma. Daiki-kun, kenalin ini Mamaku."
Aomine mengangkat alisnya dan menatapku ketika aku menyebutkan 'Akashi'. Ah, maaf Daiki-kun, tapi kau tidak boleh mengatakan namamu yang sebenarnya. Tidak boleh.
"Oh, Akashi Daiki-kun, nama yang lucu ya?" Mama menatap Aomine sambil tertawa. "Kau diterima disini, Akashi-kun, semoga betah ya. Kau juga bisa memakai kamar kakaknya yang kosong."
"Baik, arigatou gozaimau." Aomine menunduk singkat, dia bisa sopan juga ya? Hahaha.
"Nah, Mama mau keatas dulu. Belum mandi. Kalian… bisa menonton TV atau apa. Mama tinggal ya…" Mama melirikku singkat sambil mengedipkan matanya? Aku tidak salah lihat kan? Mama kok kayaknya jadi aneh gitu? Aku bergidik singkat.
"Hei," Aomine menyikutku.
"Ah iya. Ada apa?" Aku menatapnya yang sedang merengut sebal. Wah, wajahnya lucu. Aku menahan tawaku agar tidak tertawa.
"Apa maksudmu namaku Akashi, heh?"
Ah, masalah itu. Aku tertawa pelan.
"Karena kau tidak boleh mengatakan namamu yang sebenarnya," kataku padanya.
"Dan kenapa kau harus memilih Akashi, heh?" Aomine bersidekap dan menatapku tajam—sungguh, kilatan matanya seperti dia akan memasuki Zone. Menakutkan.
"A-ah, jangan marah dulu. Aku kan takut bikin Mama curiga kalau kelamaan mikir. Selain itu Akashi dan Aomine kan hampir sama," jelasku sambil mengangkat bahu tidak peduli.
"Apa maksudmu namaku dan namanya hampir sama?"
"Uhm…" Aku tersenyum tipis. "Bukan namanya saja sih tapi menyebalkannya juga. Hahaha." Aku tertawa keras kemudian aku berjalan melewati Aomine yang masih mencerna ucapanku.
Yah, aku akui Akashi dan Aomine tampan. Dua-duanya jago main basket—nggak perlu ditanyakan lagi. Penuh dengan aura 'keajaiban' di sekeliling mereka. Selain itu mereka juga punya kelebihan masing-masing. Sayangnya Akashi dengan guntingnya dan Aomine dengan 'Hanya aku yang dapat mengalahkanku' itu bikin beberapa orang termasuk aku—dulunya—sebal sama mereka. Tapi sekarang nggak sih, Aomine sudah jadi nomor satu buatku dan Akashi jadi nomor tiga buatku. Kalau yang nomor dua itu Kuroko. Nomor empat itu Midorima. Nomor lima Kise dan terakhir Murasakibara.
Itu khusus buat Kiseki no Sedai, kalau mau daftar lengkapnya bakal ngabisin satu halaman penuh. Haha.
.
.
.
Berhari-hari sudah berlalu sejak pertama kalinya aku 'menemukan' Aomine. Ada yang bikin senangnya dan banyak juga yang bikin aku nyaris mukul wajahnya. Aku memang cinta mati sama dia, tapi setelah tahu kelakuan aslinya gimana seperti… rasa cintaku itu mulai memudar. Padahal mau semenyebalkan apapun dia di manga ataupun anime aku selalu memaafkannya tapi lihat aslinya, dia menyebalkan banget. Hiks. Seperti pagi hari ini…
Pagi hari yang cukup tentram denganku yang bersiap ke sekolah dan pemuda yang tinggal di rumahku ini yang sedang tiduran di kasurku. Wajahnya tampak bosan. Ah, aku kasihan sekali. Akhir-akhir ini aku cukup sibuk mengurusi festival sekolah yang akan datang jadi aku tidak bisa mengajaknya berjalan-jalan.
"Daiki-kun, maaf ya selama ini aku sibuk di sekolah. Kau pasti merasa bosan di rumah terus," ucapku menyesal padanya. "Ah, festival nanti kau bisa datang ke sekolahku."
Aomine menatapku heran. "Bukankah selama ini kau selalu melarangku berjalan-jalan keluar tanpa pengawasanmu?" Dia bertanya padaku seakan-akan aku adalah baby-sister-nya.
"Khusus untuk festival sekolahku ini ada yang spesial. Kami—aku salah satu pengurus festival—mencanangkan cosplay party untuk festival kali ini. Kami juga berniat untuk mengundang beberapa penyanyi. Pokoknya festival kali ini akan jadi spesial!" Aku bercerita dengan menggebu-gebu. Ini festival pertamaku di sekolah karena itu aku merasa sangat excited kali ini.
"Oh," balasnya malas. Ah, kok cuma 'oh' sih? Tidak punya kata lainnya apa?!
Tapi berterimakasih lah, karena hari ini aku sedang bahagia Aomine Daiki "Daiki-kun, apa kau membutuhkan sesuatu? Mungkin aku bisa membelinya sepulang sekolah," ucapku sambil duduk di tepi kasur yang sedang ditidurinya.
"Aku?" Ia terdiam sebentar. Lalu tersenyum tipis. "Kurasa aku membutuhkan sesuatu." Dia bangkit dari tidurnya lalu mengambil majalahku yang berisi tentang kabar anime dan manga terbaru. Eh? Apa dia mau meminta majalah itu untuk kubelikannya? Aku terheran-heran dan bingung.
"Ini. Bisa kau belikan aku majalah ini?" Dia bertanya padaku sambil menunjukkan sebuah halaman di majalah itu. Aku memajukan diriku untuk memastikan apa yang diminta Aomine dan setelah aku lihat apa yang diinginkannya, wajahku memerah. Aku merebut wajah itu lalu kulempar ke wajahnya.
"Dasar Ahomine hentai!" teriakku padanya lalu keluar kamar dengan langkah lebar tanpa menengok ke Aomine.
"Jangan mengataiku, cerewet!" balasnya padaku sambil mengusap wajahnya yang kena lempar. Aduh maaf ya, Daiki-kun, tapi sifatmu itu memang tak bisa dirubah ya?
Aku kecewa tahu…
"Cih, dasar gadis bodoh." Aomine mengambil kembali majalah itu. Halaman yang sedang dibukanya adalah halaman promo sebuah majalah lain. Majalah ber-cover seorang gadis yang tampak berkedip genit sambil berpose dengan hanya memakai bikini.
"Bukan D-cup tapi cukup," lanjutnya tanpa merasa bersalah.
Ah, dasar Aomine. Sifatmu satu ini memang sulit dirubah ya? -_-
.
.
.
Tsudzuku
.
.
A/N: Arigatou gozaimasu yang suah bersedia meluangkan waktunya buat baca fic Aoi ini, thanks yang sudah mem-fav dan alert, terimakasih banyak…
Balas Review!
PinKrystal: Sudah terimakasih sudah bersedia meluangkan waktu untuk membaca fic ini, aku sudah berpikir untuk menambah anggota Kiseki tapi itu akan merombak seluruh jalan cerita di fic ini. Untuk saat ini hanya berfokus ke Aomine dan 'aku' / yuuki(titik)hanami(titik)5: Terimakasih sudah mampir ke fic ini, maaf sepertinya untuk saat ini hanya berfokus pada Aomine dan 'aku' di dunia nyata. Khusus untuk Momoi hanya terselip di beberapa bagian. Sekali lagi makasih. / Kumada Chiyu: Kalau Akashi yang muncul, harus ada yang mau mengatasi sifat psycho dan 'gunting'nya itu ya hehe… Terimakasih sudah mampir :D
Review again? Concrit? No problem.
