Someone like you...
Not suit me
A gift from God that people say...
Maybe right, but it's too much
I've got pure feather in my dirty hands with no regret
.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.=.Kim Jiwon
.
Memang sebelumnya Tae mengemut permen jelly oleh karena itu ia mogok makan dan ingin menghabiskannya terlebih dahulu, tapi nyatanya, sekarang permen itu menjadi bencana untuk hormonnya berkat satu pagutan lengket Jiwon yang menghisap bibirnya pelan.
Jiwon memberi jarak untuk Tae menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, Tae masih menyelami manik hitam Jiwon yang melukisan dirinya, lalu selanjutnya matanya berkerlip, debu-debu emas berterbangan di area pupilnya, ia takjub sekaligus terpana dengan ketampanan seorang Kim Jiwon.
Sebenarnya Tae tidak terima first kissnya direbut oleh pemuda brengsek yang ada di hadapannya, tapi apa daya jika rasa malu yang mendomisli. Yang ada Tae berjalan layaknya ikan kakap yang naik ke darat saat keluar dari ruang kerja Jiwon. Sialnya itu mengundang tawa renyah seorang Kim Jiwon.
Baru saja Tae melewati lorong bercat putih gading, GREB seseorang telah memerangkap tubuhnya dengan pelukan dan senyuman manis. "Wah tadi aktingmu bagus sekali, jika kau tidak muncul pada saat itu juga mungkin latihanku tidak akan lengkap dan bisa jadi grogi disorot kamera" nekad Taehyung membusuk, seperti apel bolong yang digelayuti ulat hijau, jadi geli mengingat kejadian tadi yang membuatnya mabuk kepayang mendengar pernyataan Song Yunhyeong.
Jiwon melewati kamar Tae yang tertutup rapat, tak ada niatan untuk menyapa ataupun berpamitan.
Dibalik dinding, Tae terus mebolak-balik tubuh layaknya ikan gurame yang sedang di bakar, sungguh semburat merah dipipinya yang panas tak kunjung hilang.
Sudah 5 jam Tae mengurung diri, gerah juga di dalam kamar berpenerangan remang-remang, kakinya jadi gatal untuk berlari keliling lapangan. Jarum jam beker yang berputar di setiap 2 angka ganjil dan genap menganggu ketenangannya, bunyi detik jam terus berdentang di gendang telinganya, risih juga jika terus bertahan untuk 10 menit berikutnya, maka dengan segenap rasa campur aduk, ia keluar dari kamar sambil mengendap-endap.
Taehyung menghela nafas lega untuk ke seribu kalinya, setelah berjalan-jalan dari kebun bawang sampai kandang domba, ia akhirnya puas menggempur segala penat, fikirannya fresh sekarang.
Taehyung membengkokan lututnya, sesekali jari-jari kakinya melengkung diatas karpet berbulu, tubuhnya miring untuk melihat siaran televisi LCD yang menayangkan film romantis abad pertengahan, setelah selesai acara selanjutnya MTV, dan Taehyung mulai berkonsentrasi menghafal judul beberapa lagu yang enak di dengar. Seterusnya Tae terlelap, tanpa menyalakan lampu, salahkan ending tampilan televisi yang redup-redup, ceklis berita bencana.
Jiwon membuka pintu kayu rumahnya, ruang tamunya gelap, hanya ada penerangan di ruang tengah karena disana televisi menyala, jas yang tersampir di lengannya segera ia taruh di kursi, melihat Tae terbaring dibalik sofa membuat Jiwon inisiatif mendekat dan berpangku tangan di sebelahnya.
Jiwon merogoh saku kemeja hitamnya dan mendapati sebuah gelang perak cantik. Di kawat besi kecil yang melingkar, bergelantungan salib dan seliweran halus berukuran kecil dari bulu burung, lalu dengan hati-hati ia memasangkannya pada pergelangan tangan Tae tak lupa megunci bandulnya agar tidak terlepas. Jiwon melihat muka damai Tae dari dekat sejenak, kemudian matanya tertutup dan kesadarannya berangsur hilang.
Alarm Cicit cuit burung di ponsel Jiwon yang bergetar membangunkan Tae, kepalanya menopang pada bisep Jiwon. Jiwon pun tersadar saat ada pergerakan di dadanya, seperti melihat bidadara yang turun dari surga, Jiwon terpesona akan lensa mata Taehyung, begitu bening dan kalem.
Taehyung pun sama, ia merasa diangan-angan melihat tampannya pahatan ciptaan Tuhan yang begitu menggairahkan nafsu, jangan salahkan Taehyung jika ia masturbasi.
"Han-bin-shi" Jungkook mengeja satu per-satu kata yang terlampir di buku tulisnya.
"Yap" kata bapak tua di sebelahnya, senyumnya yang keriput membuat Jungkook ikut mengangguk mengerti. "Coba baca yang ini"
"Sa-rang-hae" Jungkook tersipu malu mengucapkan kata demi kata yang tercetak di buku panduan membaca-nya, Jungkook buta huruf dan ternyata Hanbin tidak mengetahuinya, bisa menjadi kejutan untuk orang yang telah merawatnya selama 1 tahun penuh tanpa mengeluh jika saja Jungkook bersuara.
Setelah membongkar celengannya, Jungkook pergi ke supermarket dan berkelana mencari prodak yang menarik minatnya untuk membeli. Dari tanaman, alat-alat rumah tangga, pakaian, mainan anak, miniatur dan pilihannya jatuh pada sebuah relief mungil berbentuk malaikat besayap yang memegang sebuah salib tembaga.
Sang kasir mengemas barang antik itu pada sebuah kotak kaca lalu memasukannya ke dalam kardus kecil agar tidak pecah "Ini barangnya, ada yang bisa dibantu lagi" Jungkook menggeleng lalu menganmbil kantung belanjaannya hati-hati.
Lampu lalu lintas berwarna merah menyala Jungkook langsung menyebrang di zebracross, hadiah yang akan diberikan pada Hanbin banyak mencuri perhatian membuat Jungkook tidak memperhatikan jalan dan akibatnya ia menabrak sekelompok orang bugh "Ah mianhe" kata Jungkook takut-takut, beberapa preman bertato yang mengerikan memandang dongkol barang Jungkook yang sudah bejat.
Tanpa ba-bi-bu lagi Jungkook langsung melarikan diri, "Hya bukankah, anak tadi" kata salah satu preman kerempeng dengan lekton kedodoran memperhatikan Jungkook yang tersandung.
"CEPAT KEJAR DIA!" teriak ketua geng penagih hutang yang berkepala botak.
Jungkook melihat ke belakang, kakinya yang keseleo dipaksa berlari, untung saja apartemen Hanbin tidak jauh dan berada di persimpangan, Jungkook bisa hilang dari pandangan para renternir itu dengan mudah seperti hantu.
BRAKK, Jungkook menutup pintu keras, nafasnya ngos-ngosan, "Wae ireohke?" intrupsi Hanbin membuat Jungkook berjengit. Hanbin dengan rambut kelimisnya telah siap berangkat ke kantor kepolisian dinas. Jungkook menyambar tubuh Hanbin sampai terjatuh lalu sesenggukan di dada bidang Hanbin yang terlapisi kemeja hitam.
Jari kelingking kaki Jungkook bengkak, peredaran darahnya yang rusak menyembulkan warna keunguan di kulitnya. Jungkook merintih ketika letak tulangnya dibenarkan oleh pijatan tangan Hanbin. "Sudah baikan" Jungkook mengangguk risau dan itu tercetak jelas dalam raut Jungkook "Jika kau ada masalah, ceritakanlah."
"Ha...Ha..n..bin-shi, na..neun" kata Jungkook gagap "jeo..ng..mal...mi..an..he"
Tae mondar-mandir di depan kamar Jiwon beberapa kali seperti seterika, setelah dikira aman ia mengintip ke dalam ruangan, dan tidak ada penghuninya disana, Tae ber-hore dengan tangan mengepal di depan, 'Fight' katanya memberi energi spiritual.
'Hanya tinggal kamar ini yang belum aku periksa' kata Taehyung dengan raut huah-nya, gerakan Tae yang gesit memborbardir waktu dalam menggeledah kamar Jiwon, lebih tepatnya menelusup tanpa izin yang sah dari si pemilik kamar yang sekarang tengah berada di lantai bawah.
Tae membuka laci dengan lamban, 'Kuno, Klasik' pikirnya setelah melalap segala ruang dan mengobrak-abrik beberapa barang. Tae mendudukan diri di pinggir ranjang Jiwon, ia merentangkan tangannya, menghembuskan nafas, lalu mengguncang ranjang.
Karamelnya menatap triplek, dan ketika bulu matanya yang panjang hendak mengayun pandangan jatuh pada lemari atas Jiwon, ada kardus kecil bergambar garis, titik, spiral dan beberapa bangun datar dengan latar berwarna hitam.
Tae segera menempatkan kursi kayu di depan almari, menaikinya lalu berjinjit untuk mendapatkan kubus, setelah itu ia membuka tutupnya, debu-debu bertebaran.
Tae sesak nafas dan ia meringankannya dengan terbatuk, tangannya mengibas-ngibas angin di sekitar hidungnya yang anti komedo. Banyak barang-barang antik sebenarnya tapi entah mengapa Tae hanya mau mengambil sebuah kamera polaroid yang membusuk di sudut sana.
'Misi selesai' kata Tae setelah membereskan barang-barang Jiwon dan menutup pintu biru dongker di belakangnya. 'Mungkin sekarang saatnya membujuk si penyihir.'
Julukan tuan Kim yang telah membuat Tae kelepek-kelepek dengan sikapnya, Tae berpendapat begitu karena Jiwon telah membuat sesuatu yang mustahil dalam hidupnya terwujud, dari jantung Tae berdebar ketika di dekatnya, tak lupa gelang pemberian Jiwon yang telah ada di tangannya saat ia menyadari ada sesuatu yang mengganjal, dan ketampanan Jiwon yang menaburkan sinar emas. 'Stop it' Ok Tae tak mau membahas itu.
Tae melenggang ke dapur setelah memikirkan matang-matang bahwa ia akan memberi Jiwon penghargaan, sekarang ia tengah mengiris tipis-tipis daging sapi lokal kualitas terbaik, lalu memanggangnya dengan sayuran segar dan kentang manis.
Saus kental asam manis dengan polesan aroma bawang bombay menambah nikmat masakan yang akan disajikan, dengan cekatan ia mengambil piring yang sudah dihias dan membawanya meja. Tae tersenyum setelah melepas tali apron bermotif bunga yang di kenakannya, ia akan mencari Jiwon dan mengajaknya makan masakan buatannya.
.
Suara gedebum di ruang kerja Jiwon membuat Tae mengernyit keheranan, ia menempelkan daun telinganya lagi ke pintu silver ruang kerja Jiwon untuk kedua kalinya untuk memastikan "A-ku akan meng-ganti-nya" terdengar samar di gendang telinga Tae, setelah itu ia merendahkan pegangan pintu 'terkunci' Tae berkeluh kesah, dengan segenap peluh yang ditanggungnya ia menggedor-gedor pintu.
Bodyguard Jiwon membuka pintu tanpa sepengetahuan sang majikan, namun apa yang terjadi setelahnya, ia malah terpental ke belakang sebab Tae menendang perutnya, sementara Jiwon sama sekali tak bergeming dengan orang yang meronta di bawah kakinya ataupun Tae yang telah kandas rasa tercengangnya.
Seorang digebuki Jiwon tak kenal ampun, pangkal hidungnya mengeluarkan darah, bibirnya sobek dan kesadarannya hampir musnah, itu yang dilihat manik madu Tae.
Tae segera menarik tubuh Jiwon untuk berhenti tapi Jiwon malah menepisnya, ini keadaan darurat. Tae menangkup wajah Jiwon dengan kedua tangannya "Kim Jiwon lihat aku, aku mohon" dengan pandangan sedih Tae merujuk, Jiwon melunak, dan melihat mata Tae yang mengembun.
Tae mengalihkan pandang ketika seseorang dengan rasa bersalahnya memohon sambil memegangi kaki Jiwon "To-long, a-ku yakin se-mu-a da-na-nya akan kembali" kata orang tersebut terbata.
Tae kembali menatap Jiwon "Binar itu tak berbohong, ia tidak berdusta, beri dia waktu 2 bulan, jika tidak ada timbal balik kau bisa membunuhnya" kata Tae dan Jiwon langsung melesat pergi dari sana tak lupa mengambil handuk kecil yang tersampir di lengan bodyguarnya yang tengah menepuk-nepuk bajunya yang kotor.
Tanpa disadari rintik air mata Tae telah menguras sebagian genangan air mata di pelupuknya.
Malam tiba, Jiwon memutuskan pergi ke aula kolam renang untuk menyejukkan fikirannya yang kalang kabut, Tae menyusul kesana setelah menginterogasi si bodyguard yang terlena dengan wajah manis-nya 'memalukan' pikir Tae.
Di pijakan kaki garis start Tae menjatuhkan bokongnya disana sambil memasukan setengah kakinya di air, ia menunggu Jiwon yang berenang indah dengan teknik kupu-kupu nya, Jiwon masih menggunakan kaos putih yang bernoda darah dan jelana jeans karena oh ayolah tidak ada waktu bagi Jiwon untuk berlena-lena.
Bahu Tae mengendur kedua tangannya melipat, sikunya menopang pada lututnya yang tertekuk setelah menarik kakinya dari air, Jiwon telah berada di pegangan besi kolam renang dan medongakkan wajahnya untuk menarik nafas, di rambutnya yang basah bercucuran air. "Masih marah padaku?" Tanya Tae ragu.
Jiwon tercengak, pita suaranya terjepit ketika melihat manik Tae, "Sejak kapan kau ada disini?"
"Tidak lama" kata Tae meluruskan kakinya dan berdiri di atas lantai licin berair yang menumbuhkan alga-alga hijau. "Aku ingin berenang, tapi takut tenggelam" kata Tae mengalihkan pandang ke sembarang arah.
"Bukankah itu wajar" kata Jiwon yang mengapung di dalam air.
"Aku ingin berlari lalu meloncat melewati ambang batas traumaku" Tae menatap Jiwon lagi.
"Maksudm... HEY!" pekik Jiwon melihat aksi Tae yang tiba-tiba.
BYURR, blubuk-blubuk-blubuk, gelembung-gelembung yang keluar dari hidung dan mulut Tae mulai habis, Jiwon langsung meraih tangan Tae yang berada di dasar air lalu menariknya ke udara Splash "HAH" sembur keduanya setelah berada di pegangan kolam renang.
"Ha... hahaha" Tae terkekeh sambil menutupi mulutnya, membuat Jiwon ikut tersenyum "aku baru tau ternyata rasanya menyenangkan, pantas saja banyak orang yang mencicipinya di tebing laut."
Bukannya memperhatikan perkataan Taehyung, Jiwon malah menggerayangi bibir Tae, Tae jadi tertegun, lalu dengan rakusnya Jiwon melahap penuh bibir Tae, Taehyung menikmati, ia juga mulai mengalungkan lengannya yang mengait ke ceruk Jiwon.
Jiwon memulai ekspedisinya, ia menjilat bibir atas Taehyung, lalu meraup kembali bibir tipis Tae. Tae menanggapi, dengan lihai ia mengecup berkali-kali bibir Jiwon tak mau kalah. Tangan Jiwon mulai menelusup ke dalam sweater merah marun Tae, meraba setiap lekuk tubuh Tae, memilin puting susu Tae "Hn" Tae mengerutkan kening, ia menyamankan posisinya, "Ah" Tae langsung membungkam mulutnya, pen** dibawahnya telah menegang.
Jiwon melepaskan jeplakan telapak tangan Tae yang menjerap mulut kecilnya "Mendesahlah, aku ingin mendengarnya" kata Jiwon berbisik di telinga Tae membuat Tae merinding mendengarnya.
Jiwon mulai melepaskan celana pendek Taehyung di dalam air, membalik badan Tae untuk menghadap dinding kolam dan mulai memasukkan miliknya yang tidak muat di dalam lubang anus Tae "AH!" Taehyung merintih kesakitan.
"Relaks Tae" kata Jiwon menenangkan. Jiwon mulai menggerakkan pinggulnya perlahan, genjotan Jiwon mengenai titik prostat Tae, Tae mendesah keenakkan lalu cairan putih lolos dari batangnya, Jiwon pun sama, sperma nya memenuhi ruang.
.
Sekotak kardus pipih berwarna kuning cerah dan setangkai bunga middle mist kini ada di tangan Tae yang terbuka, ia baru saja mendapat kiriman. Di kamar, Tae membuka bingkisannya, lalu mendapati selembar kertas ada di dalam kotaknya, bunganya telah ia taruh di dalam pot berisi air agar segar. Di meja belajar ia membaca surat itu dengan seksama.
To: Kim Taehyung
Pesta dansa hari ini harus membawa pasangan, aku harap kau bersedia menyiapkan mental. Don't ask, where this letter comes? You know it very well.
Tae tersenyum, setelah mendapat kepercayaan seorang Kim Jiwon berhati terumbu karang, bisa luluh dan jinak karenanya.
TBC
.
.
.
Yang nunggu nih ff, senaeng pasti, tapi sayang nih ff sebentar lagi ending, kayaknya 2 chap lagi. KEEP COMMENT! O MY READER
