Bawa Aku

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Warning: Typo, M for save, alur tidak jelas, mengandung banyak kata kasar dan.

No Flame

DLDR

Suhu semakin dingin, membuat hewan-hewan enggan bersuara. Tak ada satu burungpun yang terbang di langit.

Meski salju belum turun, dinginnya menyayat kulit menembus ke tulang-tulang. Dinginnya suhu yang menusuk tulang membuat sang pemimpi enggan bangkit dari tidurnya walaupun waktu telah termakan banyak.

Sakura menarik selimutnya sampai membungkus seluruh tubuhnya. Ia sudah terbangun tapi suhu sekarang membuat ia enggan bangkit dari ranjangnya. Sampai aku hitung beberapa menit berlalu ia masih bergumul di bawah selimut mencoba memejamkan matanya kembali. Begitu seterusnya sampai jam menunjukkan angka 7 lebih 30 menit, padahal sebelumnya 7 pas.

"Hah..." Sakura menyibak selimutnya.

Ya Tuhan! Wajahnya seram sekali. Matanya merah, rambutnya seperti rambut singa merah muda dan wajahnya itu super kusut karena lingkaran hitam di kantung matanya. Sepertinya ia tidak bisa tidur memikirkan... Memikirkan siapa Sakura? Sasuke?

Sakura bangkit dari ranjang. Berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Ia keluar setelah menghabiskan waktu 20 menit lebih 27 detik dengan hanya mengenakan handuk. Aku beritahu, tubuhnya itu lumayan. Tingginya 164 cm dan rambut merah muda sepunggung menambah kesan cantik untuk wajah yang imut. Dan matanya yang luar biasa indah berwarna hijau bening dengan bulu mata yang lentik membuat ia pantas mendapat nominasi mata terindah. Hanya saja jidatnya itu luas seperti pangkalan pesawat. Jangan salah! Biarpun dahinya lebar, tato spiral ungu berbentuk berlian di dahinya mempermanis wajahnya yang sudah plus itu.

Siap dengan pakaian kasualnya, Sakura keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur lalu menyiapkan sarapan untuknya dan kakak tercinta yang sedang bersemedi di kamar mandi dekat dapur. Durasi semedinya di kamar mandi lebih lama daripada Sakura yang notabene perempuan tulen. Entah apa yang dilakukannya di dalam kamar mandi, mungkin belajar akting di depan cermin.

Sakura memotong kentang dan wortel menjadi bentuk dadu lalu memasukkannya ke dalam kaldu sapi yang sudah mendidih. Gerakkannya gesit bak koki profesional. Tangannya begitu luwes menggunakan pisau dan peralatan masak. Tipe perempuan yang cocok dijadikan istri.

Lagu Colors dari Day6 mengiringi kegiatannya yang super sibuk. Bibirnya komat-kamit mengikuti lirik lagu yang artinya bisa membuat kita larut dalam kesedihan. Begitu dalam.

Ini masih pagi dan harusnya diisi dengan lagu yang lebih bersemangat. Tapi memang playlist lagu di ponselnya hanya berisi lagu-lagu mellow dan slow.

"Kau masak apa?" Tanya Sasori yang baru saja selesai dengan acara semedinya.

"Sup daging sapi dan tempura"

"Kau tidak minta kawin lagi kan?"

"Hey! Semalam aku salah memasukkan bumbu. Aku melamun."

"Melamun memikirkan?" Apa Sakura? Kau memikirkan apa sampai minta kawin? Sasuke? Jangan bilang kau minta kawin dengan Sasuke!

"Kau makan saja. Tidak usah banyak bicara." Balas Sakura ketus dan wajahnya yang super judes.

Sarapan berlangsung dengan khidmat karena mereka sangat kelaparan. Sakura memang memasak makan malam, tapi berujung menjadi kekacauan saat Sasori melepehkan makanannya. Bagaimana tidak? Sakura minta kawin! Makanannya itu benar-benar asin dan itu mengingatkan Sasori akan pepatah "Makanan asin minta kawin".

Alhasil mereka membuang makanan itu sia-sia. Awalnya Sakura mencoba memperbaikinya dengan menambahkan gula. Tapi sialnya toples bertuliskan 'gula' itu masih berisi garam. Wek... Kau bayangkan saja seberapa asinnya makanan buatan Sakura. Dasar! Dia benar-benar melamun.

"Jadi kak, berapa kau membayar apartemen ini?" Tanya Sakura setelah menghabiskan sisa makanannya.

"Seratus ribu won."

"Tentu saja murah, apartemen ini kecil sekali. Aku bahkan harus satu ranjang denganmu."

"Kau tidak mau satu ranjang denganku?"

"Tentu saja tidak!"

"Kalau begitu tidur di sofa!" Shit! Kakaknya itu santai sekali.

"Kalau begitu aku akan bayar apartemen ini setengahnya. Asalkan aku tidur di kamar."

"Untuk apa? Aku bahkan bisa membayar apartemen dan biaya kuliahmu untuk tiga tahun kedepan." Che! Sombong sekali.

"Tentu saja kau bisa! Gajimu besar sekali tapi apartemenmu sempit. Padahal ini kawasan elit."

"Kau harus tahu arti hidup hemat."

Hah... Begitulah seterusnya. Mereka sedang tawar-menawar untuk pindah atau tidak. Dan Sasori menolak tegas untuk pindah karena ia malas memindahkan barang-barangnya. Sedangkan Sakura bersikeras dengan keinginannya untuk indah karena ia tidak ingin satu kamar bahkan satu ranjang dengan kakaknya, ia juga tidak mau tidur di sofa. Hey! Dia ini seorang perempuan, Ia butuh privasi.

Dan semua berakhir pada keputusan Sakura untuk pindah ke apartemen yang lebih besar. Tenang saja, Sasori yang membayarnya. Tapi sepertinya Sasori memegang teguh prinsip hidup hemat. Heh! Bilang saja dia pelit.

"Santai saja. Kau pilih-pilih dulu yang cocok denganmu." Ujar Sasori.

Sakura menyeringai mendengar ucapan Sasori. Hehehe... Ia akan mencari apartemen super besar, Gaji kakaknya itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Tidak dimanfaatkan Sasori, dimanfaatkan Sakura juga boleh. Hey Sakura! Siapa tahu Sasori menyimpan uangnya untuk modal nikahnya nanti.

"Cepatlah! Aku bisa terlambat." Sasori berkali-kali menatap jam tangannya. Apa semua perempuan akan lama saat berdandan?

"Ya ya!" Sakura menghampiri Sasori lalu mereka berjalan keluar dan menggunakan lift untuk turun ke basement.

"Apa kau akan membantuku mencari apartemen baru?" Tanya Sakura setelah mendudukkan bokongnya di dalam mobil Sasori.

"Tidak bisa. Aku ada pertemuan dan akan pulang larut."

"Baiklah. Mungkin lain kali."

Sakura memasuki gerbang utama gedung SNU. Ia tersenyum manis siap menghadapi hari meskipun ini musim dingin di mana orang-orang memilih untuk tetap berada di dalam rumah. Ia tersenyum ramah kepada petugas keamanan di pos pertama. Pria paruh baya itu balas tersenyum kepada Sakura. Dan kepala plontosnya itu selalu membuat Sakura gagal fokus.

Ia melewati pos itu menuju beranda parkir yang terhubung dengan lobi gedung utama. Separuh bangunannya sedang di renovasi. Mungkin itu sebabnya ruang administrasi dipindahkan ke pojok collage.

Saat ia tengah berjalan santai, mobil Volvo silver melewatinya dan memakirkannya sempurna, tepatnya serong kiri arah jam sebelas agak jauh dari Sakura.

Sakura kaget bukan main, ia bingung harus apa. Padahal ia hanya perlu menyapanya lalu berjalan lagi menuju fakultasnya. Tapi kakinya terasa kaku dan sulit digerakkan sampai beberapa saat kemudian Sasuke keluar dari mobilnya lalu menoleh ke arah Sakura yang memasang wajah konyol karena kebingungan.

Sakura yang sadar sedang ditatap memerah tidak jelas dan ia tersenyum kaku menatap Sasuke lalu membungkukkan badannya setengah. Sasuke menganggukkan kepalanya tanpa ekspresi setelah Sakura menegakkan tubuhnya kembali.

Sakura lekas berjalan kembali ingin cepat-cepat keluar dari suasana canggung ini. Tanpa sadar Sasuke menghampirinya dan berjalan di samping Sakura. Ini canggung sekali. Sakura bingung harus bicara apa, apalagi Sasuke orangnya pendiam. Masa' mereka harus saling mendiami seperti pasangan yang tengah merajuk. Eh Apa?

"Selamat pagi Sasuke-san." Sapa Sakura yang kelewat terlambat. Otakmu mendadak buffering ya Sakura?

"Pagi." Ya ampun jutek sekali.

"Hari ini kau sarapan apa Sasuke-san?" Please Sakura! Pertanyaanmu tidak penting sama sekali.

"Aku belum sarapan." Sudah... Sarapan dulu sana.

"Eh? Kenapa?"

"Karena tidak ada yang membuat sarapan."

Sakura sedikit terkejut. Jadi Sasuke tinggal sendiri? Mm... Memang biasanya mahasiswa rantauan itu tinggal sendiri. Sasuke rantauan dari jepang kan? Tapi Sasuke tidak terlihat seperti orang yang tinggal sendiri. Maksudku- Ayolah, mobilnya mewah dan pakaiannya terlihat mahal. Sakura malah sempat mengira Sasuke anak orang kaya. Dan orang kaya itu biasanya punya pelayan di rumahnya. Jadi ia bingung, kenapa tidak ada yang membuat sarapan dirumahnya?

"Kenapa tidak ada yang membuatnya?" Tanya Sakura penasaran.

"Karena aku tinggal sendiri." Jawab Sasuke seadanya menjawab pertanyaan di benak Sakura secara tidak langsung.

"Oh. Lalu kau tidak pernah sarapan setiap hari?" Kenapa kau jadi banyak tanya Sakura?

"Aku sarapan di kantin."

"Kau harus tau arti hidup hemat." Ucap Sakura mengutip perkataan Sasori tadi pagi.

"Aa. Berarti hari ini kau harus mentraktirku." What?!

"Tunggu! Kenapa?"

"Arti hidup hemat." Rasakan itu Sakura!

Jangan bilang aku harus mengulang momen ini seperti di chapter sebelumnya!

Suasana antara Sasuke dan Sakura masih terbilang canggung dan masih di tempat yang sama seperti chapter sebelumnya.

Entah bagaimana aku harus menjelaskan keadaan mereka berdua. Sakura merasa bosan dan akhirnya hanya memainkan ponselnya. Dahinya mengerut dan kadang mulutnya membulat. Dia sangat serius sampai tidak sadar Sasuke memperhatikannnya dari tadi. Ku beruntung Sakura, Di tatap lelaki tampan macam Sasuke. Tapi sialnya, kau tidak melihat tatapan tajam nan seksinya.

Sakura masih memainkan ponsel pintarnya sampai pesanan mereka datang dan itu mengundang perhatian Sasuke. Sakura terlalu fokus dengan ponselnya seperti tidak menganggap keberadaan Sasuke. Hey! Sasuke di depannya! Harusnya mereka mengobrol. Lihatlah! Bahkan wanita pengunjung cafe di meja sebelah saja selalu curi-curi pandang ke arah Sasuke. Tapi Sakura malah mencuekinya. Tenang Sasuke, Sakura hanya sedang membuang bosan.

"Bisa Kau tingalkan ponselmu?" Kau tidak akan didengarnya, Sasuke.

"Sakura!" Bagus Sasuke! Naikkan suaramu sampai Sakura terkejut dan ponselnya hampir jatuh.

"Y-Ya Sasuke-san?"

"Tinggalkan ponselmu. Pesanan sudah datang." Ucap Sasuke datar membuat Sakura kikuk sendiri.

"Baiklah." Sakura merengut. Ia juga kesal. Ia terkejut tadi, bahkan ponselnya hampir jatuh.

Mereka telah menghabiskan makanannya dengan khidmat. Ya, sama seperti kemarin, membosankan. Maka dari itu Sakura kembali fokus ke ponselnya selagi menunggu perutnya mencerna makanan. Terkadang ia berdecak, terkadang juga dahinya mengerut. Berbagai ekspresi itu tidak luput dari pandangan Sasuke. Tenang saja, Sasuke tidak penasaran. Cuma ingin tahu. Lho?

"Aku bingung." Sakura menghela nafas.

"Kenapa?"

"Aku sedang mencari apartemen. Di internet tidak ada yang cocok sama sekali."

"Kau mau pindah?"

"Ya. Apartemenku yang sekarang sempit sekali. Pengap."

"Kenapa tidak mencari langsung saja? Kau bisa melihat-lihat dengan leluasa."

Sakura menghela napas lalu menyedot lemon tea-nya. Sakura menggelengkan kepalanya menanggapi Sasuke. Mana mungkin ia mau berkeliling Gwanak dengan kendaraan umum. Boros. Bisa-bisa uang jajannya habis. Mentraktir Sasuke saja sudah sesak napas.

"Kau mau aku kehabisan uang saku?" Calm Sakura! Kenapa kau menyolot? Sasuke kan hanya menyarankan. Siapa tahu ia menawari tumpangan. Siapa tahu kan?

Sasuke mengernyitkan alisnya. Tanda tak mengerti. Bagaimana mau mengerti? Sakura tiba-tiba nyolot.

"Kenapa harus kehabisan uang saku?"

"Aku tidak ada kendaraan. Jika aku memakai kendaraan umum itu akan sangat boros. Aku harus menerapkan prinsip hidup hemat."

"Kau tidak usah membayarku." Hah?

"Maksudmu?" Sakura mengernyitkan alisnya. Bingung dengan perkataan Sasuke.

"Kau akan pergi mencari bersamaku." Entah kenapa perkataan Sasuke ini terdengar romantis.

"Eh? Tidak perlu. Aku bisa naik taksi." Ah, munafik. Padahal kau senang kan Sakura?

"Kau bilang tidak ingin kehabisan uang saku. Aku pikir kau tahu arti hidup hemat."

Sakura menatap Sasuke mencoba bertanya apa ia yakin dengan keputusannya. Sedangkan Sasuke menatap Sakura mencoba meyakinkan Sakura bahwa ia yakin dengan keputusannya.

Hey Sakura, ambil keputusan yang jelas-jelas yakin. Lagi pula kau tidak bisa menolak. Kau bisa-bisa tidak mentraktir Sasuke lagi karena uang sakumu habis.

Dua jam berkeliling Gwanak tak ada satu pun Apartemen yang pas di hati Sakura. Entah harganya yang terlalu mahal, atau fasilitasnya yang kurang. Sakura bahkan mempermasalahkan ukuran ranjangnya. Dia benar-benar merepotkan Sasuke.

"Maaf merepotkan Sasuke-san. Jika kau lelah kita bisa berhenti." Sakura menatap Sasuke yang sedang fokus menyetir. Ia sedari tadi diam saja. Sakura mengira Sasuke marah padanya karena kelelahan. Maklum saja. Sakura banyak meributkan sesuatu seperti warna cat dinding atau bahkan warna sofa.

"Aku tidak merasa kerepotan. Sebaiknya kau diam saja dan lihat-lihat." Dan Sakura pun diam. Entah kenapa perintah Sasuke terasa mutlak. Sasuke bisa membuatnya bungkam dan canggung sendiri. Sakura merasa Sasuke sangat berpengaruh untuknya karena ia banyak membantu Sakura.

Sakura kembali membayangkan bagaimana saat pertama kali bertemu Sasuke. Sungguh memalukan. Ia tidak menyangka akan bersama Sasuke lagi. Padahal ia berpikir mungkin ia tidak akan bertemu Sasuke lagi melihat universitas nya yang luar biasa luas.

Lantunan lagu White Girl mengiringi perjalanan meraka mencari apartemen baru. Tunggu! Kenapa ini terkesan seperti pasangan yang sedang mencari tempat tinggal bersama? Tidak tidak. Mereka mencari apartemen untuk Sakura.

Sakura sesekali menggeleng-gelengkan kepalanya mengikuti irama lagu yang dinyanyikan Monsta X. Lagu ini sangat romantis dan ringan di telinga. Sakura sesekali menyanyikan sepotong bait lagu "Hayansonyeo i wanna love your heart."

Sasuke menolehkan kepalanya kearah Sakura saat mereka berhenti di lampu merah. Sakura pun membalas tatapan Sasuke yang terkesan datar dan tak terbaca. Sakura heran kenapa Sasuke menatapnya.

Dan tepat pada bait terakhir lagu, Sasuke membuka mulut menyanyikannya. "Geudaeneun yeoppeungeol" Kau cantik.

Sakura membulatkan matanya. Ia terkejut saat Sasuke bernyanyi sambil mentapnya. Walaupun nadanya datar sekali, Sakura merasa Sasuke bernyanyi untuknya dan kata 'cantik' itu ditujukkan padanya. Wajah Sakura memerah memikikannya. Apa yang ia pikirkan itu benar? Ia berharap itu benar. Karena kalau tidak benar, berarti Sakura yang kegeeran. Dan itu memalukan.

Sakura masih terdiam dan wajahnya masih memerah. Sedangkan Sasuke kembali ke posisi semula dan menjalankan mobilnya keluar dari lampu merah.

"Kupikir ini yang terakhir untuk hari ini. Aku lelah." Hey! Kupikir Sasuke yang paling lelah di sini.

Sakura menatap malas gedung di depannya. Sun N' Vill. Begitu yang tertulis di atas gedung berlantai tujuh belas.

Mereka memasuki lobi dan menuju meja resepsionis. Mereka-Sakura dan resepsionis- sedikit mengobrol di bar resepsionis. Sedangkan Sasuke memainkan ponselnya duduk di sofa yang terletak di tengah lobi yang didesain modern yang sangat besar. Jauh lebih besar dibandingkan lobi apartemen Sasori.

Sakura dan wanita resepsionis itu menghampiri sofa di mana Sasuke duduk. Sakura mengambil tempat di samping Sasuke sedangkan resepsionis itu duduk di hadapan Sasuke dan Sakura.

"Silakan Nona. Apartemen kami menyediakan satu sampai empat kamar yang didesain modern yang sangat manis. Sangat cocok untuk pengantin baru seperti kalian."

Ucapan resepsionis itu membuat Sakura cengo. Pengantin baru? Ia bahkan baru mengenal Sasuke dua hari. Sakura cengengesan menanggapinya. Wajahnya memerah dan matanya menyipit. Sasuke menarik sudut bibirnya sedikit saat menangkap reaksi Sakura. Sangat sedikit sampai aku hampir tidak bisa melihatnya.

"Aku membutuhkan dua kamar dan dua kamar mandi. Ah, dan dapurnya."

"Tentu saja. Bagaimana kalau kita melihatnya?"

"Baik."

Mereka berjalan di koridor apartemen. Sakura mengikuti resepsionis yang berbeda, mungkin sudah dibagi tugas. Sasuke mengikuti di belakang Sakura dan menatap rambut pink sepungggung milik Sakura. Mungkin ia berpikir apa rambut sakura asli atau tidak. Itu asli Sasuke.

Mereka memasuki salah satu pintu apartemen dan pemandangan ruang tv merangkap ruang tamu yang didesain modern menyambut indra penglihatan mereka.

Dinding putih bersih dengan motif bunga sakura di dinding bagian bawah mempermanis ruangan. Satu unit televisi 80 inchi ditaruh di atas beffet hitam metalik yang berhadapan dengan sofa merah dan meja putih minimalis yang terletak di atas lantai marmer putih berlapis permadani motif cincin-cincin warna warni. Tak lupa hiasan-hiasan mini mempermanis buffet hitam metalik itu. Sakura begitu terpesona dengan desain yang manis ruang tengah ini.

Sakura memasuki ruangan-ruangan lain dan berkali-kali bertanya kepada Sasuke seperti, "Bagus tidak?" atau "Cocok tidak?" dan Sasuke hanya menjawab 'hn' disetiap pertanyaan Sakura. Sakura yang sibuk terpesona melihat-lihat apartemen ini tidak terlalu peduli dengan tanggapan Sasuke.

Sakura merasa sangat puas dengan apartemen ini. Desainnya sangat pas dengan keinginannya. Sakura bahkan mengambil gambar di setiap ruangan untuk dikirimkannya ke Sasori. Sakura ingin cepat-cepat menyewa apartemen ini. Tak perlu menunggu nanti malam untuk persetujuan Sasori. Ia hanya perlu jawaban 'ya' melalui pesan dari Sasori hari ini, jadi ia bisa langsung pindah besok.

Sakura masih melihat-lihat sedangkan Sasuke duduk di sofa ruang tengah. Resepsionis tadi keluar memberi kesempatan mereka untuk melihat-lihat dengan leluasa. Tak berapa lama ponsel Sakura bergetar. Pesan dari Sasori. Sakura membuka pesan itu dan matanya membulat kala membaca pesan bertuliskan "Boleh" dari Sasori. Sakura pun tersenyum dan meloncat-loncat kegirangan di depan meja bar dapur. Sasuke mengernyitkan dahinya melihat keanehan Sakura. Sasuke berpikir Sakura terlalu kekanakan hanya karena menatap ponsel. Sebenarnya Sasuke ini bertanya kenapa Sakura kegirangan. Tapi gengsi dong.

Sakura menghampiri Sasuke yang menatapnya di sofa. Ia mendudukkan dirinya di samping Sasuke. Tidak terlalu jauh tidak terlalu dekat. Biasa saja. Ia tersenyum kepada Sasuke. Lebar sekali senyumnya sampai Sasuke mengangkat sebelas alisnya. Ia merasa aneh dengan sikap Sakura saat ini.

"Kita jadi tinggal di sini." Ucap Sakura begitu bersemangat kepada Sasuke.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya, lagi.

"Kita?"

"Ya!" Sakura masih bersemangat.

"E-Eh maksudku, aku jadi menyewa apartemen ini." Sambung Sakura gelagapan menyadari ucapannya. 'Bodoh! Bodoh! Bodoh!' Sakura mengutuk dirinya dalam hati.

"Aa"

Mereka masih terdiam duduk di atas sofa merah yang empuk. Sakura sibuk dengan ponselnya membalas pesan Sasori yang bertanya ini itu.

Sakura akan kembali ke sini untuk membayar deposito apartemen dan membayar cicilan pertama. Ia harus mengambil ATM Sasori yang dengan mudahnya Sasori memberikan nomor pinnya. Ia masih sibuk dengan urusan kantornya.

"Aku harus pulang mengambil ATM untuk deposito." Ucap Sakura pada Sasuke tanpa mengalihkan tatapannya terhadap ponselnya.

"Kita pulang?" Tanya Sasuke.

"Ya. Tapi aku akan kembali ke sini membayar deposito."

"Aa."

Dan akhirnya mereka kembali lagi ke apartemen Sun N' Vill ini. Sasuke memaksa untuk mengantarkan Sakura. Bukan memaksa, hanya saja Sakura tidak bisa menolak tawaran Sasuke yang terdengar mengharuskan. Ayolah, siapa yang dapat menolak tatapan seksi itu? Sakura saja tidak tahan. Tatapan itu, Astaga. Menghipnotis sekali.

Sakura benar-benar merepotkan Sasuke. Ia harus sering-sering mentraktir Sasuke di kantin. Yang murah saja yang penting mentraktir.

Mereka memasuki lobi dan langsung menuju meja bar resepsionis membayar deposito. Sakura tersenyum manis kepada wanita resepsionis yang tadi menangani Sakura. Dan mereka pun mengurus apartemen Sakura. Sasuke kembali duduk di sofa.

Setelah mengurus segala macam persyaratan, Sakura diminta membawa kartu identitas Sasori. Ia memutuskan untuk besok saja membawanya sekalian orangnya juga. Lagi pula besok ia dan Sasori libur. Jadi ia bisa bersiap-siap langsung pindah apartemen besok.

"Terima kasih telah memilih kami. Semoga kalian nyaman." Resepsionis itu membungkukkan badannya berterimakasih kepada Sakura.

"Ya. Terima kasih."

Mereka kembali ke rumah masing-masing. Sakura sempat menawarkan Sasuke untuk mampir ke apartemennya untuk sekadar minum ingin berterimakasih kepada Sasuke karena telah Sakura telah merepotkan Sasuke. Tapi ia menolak, ia bilang ia akan langsung pulang dan ada urusan.

Mendengar ucapan Sasuke sebelum pulang membuat Sakura merasa tidak enak. Mungkin Sasuke ada urusan tapi ia malah merepotkan Sasuke.

Mm... Mungkin satu kotak bento cukup untuk berterimakasih. Ia akan memberi Sasuke satu kotak bento nanti lusa di kampus jika bertemu. Jika tidak bertemu ya ia akan makan sendiri.

Hari ini pun tiba dan Sakura dengan semangat bersiap-siap untuk pindahan. Sasori bahkan repot-repot menyewa mobil angkut barang untuk mengangkut barang-barang miliknya dan Sakura ke apartemen yang baru. Padahal ia pulang larut dan pagi-pagi harus pindahan. Ini sangat mendadak dan ini semua gara-gara Sakura. Ya meskipun Sakura juga repot mengurus kepindahannya. Ia bahkan harus menunggu dua jam untuk persetujuan kepindahannya dari pihak apartemen lamanya. Kau harus bersyukur Sasori. Kau tidak perlu repot-repot seperti Sakura. Sakura bahkan sangat repot mengurus detak jantungnya saat bersama Sasuke kemarin. Ya kan, Sakura?

Mereka sampai di apartemen barunya. Gedungnya memang hanya 17 lantai. Tapi isinya sangat menakjubkan. Sasori menurunkan barang-barang miliknya dan Sakura yang hanya sebagian. Sebagian yang lain masih di mobil barang yang masih di jalan atau mungkin belum di jalan mengingat Sasori dan Sakura berangkat duluan.

Setelah mengurus ini dan itu akhirnya Sakura dan Sasori memasuki kamar apartemennya yang berada di lantai empat nomor 203.

Mereka sempat berdebat tentang siapa yang akan memegang kunci utama sampai barang-barang mereka yang di angkut jasa berdatangan membuat mereka menghentikan kekonyolan mereka.

"Kau suka kan apartemen ini? Tanya Sakura kepada Sasori yang sedang bersantai di sofa sambil meminum teh buatan Sakura.

"Biasa saja." Sialan.

Mereka selesai membereskan barang-barang. Belum semuanya. Tapi setidaknya sudah sebagian yang beres.

Mereka berdua bersantai di ruang tengah sambil memakan pizza. Mereka sangat kelaparan. Biarlah kardus-kardus itu terbengkalai. Nanti saja membereskannya. Mencicil juga bisa. Pelan-pelan saja supaya tidak lelah. Besok mereka harus memulai aktivitas mereka seperti biasa. Dan itu pasti melelahkan.

Jam menunjukkan pukul empat sore. Sasori memilih membersihkan diri di kamar mandi yang tersedia dikamarnya. Sedangkan Sakura membersihkan dirinya di kamar mandi di dekat dapur. Kamarnya juga dekat dapur. Sasori bilang supaya Sakura gampang bolak-balik ke dapur. Mereka sempat berdebat lagi tentang kamar yang bahkan masalah kunci saja belum selesai. Sebenarnya mereka tidak perlu repot-repot berdebat sedangkan mereka tahu siapa pemenangnya. Tentu saja Sasori! Ia memegang kendali disini. Sakura hanya perlu menurut saja.

Sebenarnya tadi ada sedikit masalah pada saat mereka menuju kamar apartemen. Si resepsionis kemarin, mengantarkan mereka lagi. Bedanya kemarin bersama Sasuke sedangkan sekarang bersama Sasori dan resepsionis itu menanyakan keberadaan Sasuke. Si resepsionis bertanya yang mana suami Sakura yang asli.

Sakura gelagapan apalagi ketika Sasori menatapnya dengan tatapan sejuta arti. Sakura bisa bernapas lega ketika si resepsionis mengiyakan Sakura yang berkata "Dua-dua nya bukan suamiku."

Ah pokoknya rumit sekali hari ini banyak sekali perdebatan.

Bahkan pada saat makan malam pun Sasori mengintrogasi Sakura tentang masalah suami. Sakura bilang itu hanya temannya di kampus. Sasori yang masih kurang percaya menatap Sakura mengintimidasi. Sakura yang jengah pun beranjak ke kamarnya yang untungnya dekat dengan dapur. Sasori yang melihat Sakura ketus dan melengos ke kamarnya pun menghela napas. Kau sih Sasori!