ETRASALION

Pemuda dengan jubah dan baju zirah miliknya berjalan mantap di sepanjang salah satu lorong pavilion kerajaan. Mata yang terlihat hangat itu tertuju focus pada sebuah pintu tinggi berukiran naga yang menjadi tujuannya. Pagi ini sang pemuda sebenarnya merasa agak khawatir dengan keadaan kerjaan yang baru saja dilanda masalah padahal sebelumnya keadaan terasa sangat damai namun didetik berikutnya chaos terjadi. Entah apa yang diingkan oleh penguasa dunia ini, tidak bisakah mereka lebih mementingkan perdamaian ?.

Tangannya terangkat untuk mengetuk namun sebelum kepalan tangannya sempat menyentuh daun pintu, pintu tersebut sudah lebih dulu terbuka, menapilkan seorang pemuda tanggung yang terlihat amat gugup. Dibalut dengan baju zirah berwarna cream yang terlihat mencolok, pemuda tanggung itu tersenyum meringis.

"Aku siap".

Aroma roti yang baru saja dibakar tercium disetiap sudut ruang makan yang terlihat penuh itu, meja panjang dengan alas sebuah kain halus panjang dengan rumbaian emas serta selembut sutra itu tersaji berbagai macam makanan yang menjadi acara makan wajib yang diadakan Barstasia setiapkali akan perang sebagai penanda mulainya perang.

Pangeran Jungkook yang duduk dekat dengan Eran Kris -yang selalu terlihat tenang itu- sekarang merasa terasa gugup karena ini adalah perang pertamanya. Astaga umurnya baru saja menginjak 16 tahun beberapa bulan yang lalu, baiklah lupakan fakta bahwa ayahnya yang bisa dibilang monster itu sudah bisa membunuh singa seorang diri sejak umur 14.

Sejak pagi sebelum Jin –pengawal setianya– tadi pagi menjemputnya untuk mengikuti acara makan, ia sudah bangun pagi – pagi buta untuk mempersiapkan diri baik secara mental maupun fisik. Bahkan malam sebelumnya ia hampir saja tidak tidur karena terus memikirkan tentang hal –hal yang berhubungan dengan perang yang akan dia jalani hari ini. Astaga ini adalah perang pertamanya, meskipun ia tidak yakin akan terjun ke medan perang tetap saja ia akan ikut ambil bagian dalam perang kali ini.

Seminggu lalu sebelum Etrasalion mengumumkan tantangan perang pada Barstasia, Jungkook menjalani hari-harinya dengan tenang, namun semenjak surat itu datang ke tangan Raja, Eran langsung menyuruhnya untuk berlatih 2 kali lebih keras dari biasanya . Meskipun jungkook bukan lah seorang Dominan tetap saja kerajaan mewajibkannya untuk perang sebagai tanda bahwa ia sudah bisa diakui sebagai orang yang bisa dikatakan pewaris kerajaan Barstasian ini.

Kemungkinan selama perang nanti yang bisa ia lakukan hanyalah ikut menyusun strategi bersama dengan sang Eran karena ayahnya sendiri pasti akan turun kemedan perang untuk menjadi seorang pemimpin barisan yang paling ganas dan juga Jin akan berada dibelakang sang ayah karena dia adalah salah satu kesatria tangguh yang amat ditakuti di lima negara bagian. Dengan julukan mardan e mardannya1 yang hanya bisa disematkan pada orang-orang tertentu, belum lagi sekarang jin sudah diangkat mejadi Marzban2. Jadi kemungkinan diperang kali ini ia hanya akan dijaga oleh Erlan Kris dan Tuan Sehun, salah satu dari 10 Marzban yang ada.

Erlan Kris adalah salah satu orang kesayangan Raja Nam Joon, ia sudah menjabat sebagai sebagai Erlan semenjak masa kejayaan Raja Joon Myun. Erlan Kris terkenal akan ketangguhan serta rasa setianya yang besar terhadap negaranya, maka ia akan melakukan apapun untuk bisa mempertahankan kerjaan yang dulunya amat diremehkan ini. Sementara Jin adalah keponakan dari Erlan Kris yang sudah dianggapnya sebagai anak karena Erlan sendiri tidak memiliki anak karena pasangannya tidak bisa membuahi, sehingga ia diadopsi dengan marga yang sama dengan sang Eran yaitu Wu.

Jungkook semakin gelisah dalam duduknya karena sang ayah sekarang mulai mengangkat-angkat gelas yang berisi wine itu, tanda ucapan terakhir sebelum seluruh kaveleri yang ikut perang berjalan ke tanah di bagian barat, mungkin 1 hari perjalanan dari bars, dan bisa dibilang dekat dengan orelain, sekitar setengah hari perjalan bila ingin menuju pusat kota orelain.

Menurut surat yang dilancarkan dari Etrasalion, mereka 'mengundang' Bars disebuah padang kering yang terkenal dengan nama tanah samag, tempat tersebut bisa dibilang sangat menguntungkan pihak Bars karena bedasarkan jumlah, kerajaan Etrasalion sendiri berada di dekat kerajaan Mazīlnieks. Kerajaan kecil itu sebelumnya tidak pernah benar-benar 'berhubungan' dengan Bars, namun entah ada apa dengan kerjaan tersebut sehingga berani melancarkan genjatan senjata.

Sejak tragedy menghilangnya putra mahkota, Barstasian mengalami peningkatan yang bisa dibilang lebih drastis lagi karena raja Nam joon, sangat murka dan benar-benar meluluh lanta kan Marriton hingga tidak tersisa, namun anehnya putra mahkota tidak dapat ditemukan disudut manapun kerajaan oleh sejak itu pemerintahan Bars dibuat lebih kejam lagi, seluruh tawanan perang dewasa kepalanya akan dipenggal dan dipamerkan didepan gerbang masuk kota Bars.

Raja Nam Joon semakin gencar melakukan perluasan daerah sehingga seluruh daerah di selatan bisa dibilang sudah ditaklukannya, kerjaan-kerajaan kecil dibuat tunduk oleh peraturan yang amat mengikat. Belum lagi para buruh yang bekerja pada mereka semakin diperbanyak didalam kerajaan karena sekarang Ibu Kota Bars yaitu kota Armalian Dibuat semakin luas, dengan benteng tinggi yang mengelilingi ibu kota yang bisa dikatakan mewah itu.

"BAIKLAH SEMUA, AKU INGIN SELURUH ORANG YANG BERADA DIRUANGAN INI MENYERAHKAN SEGALA SEMANGAT DAN KEKUATAN KALIAN UNTUK PERANG KITA KALI INI", Suara menggelegar Raja Namjoon terdengar diseluruh ruang makan. Seluruh prajurit bersorak-sorak ramai, mengangkat gelas mereka lalu meninumnya dengan tegukan cepat setelah itu, satu persatu dari mereka keluar ruangan untuk mempersiapkan keberangakatan. Raja Nam Joon sendiri sudah berdiri sekarang, dapat terlihat wajahnya yang berahang tegas itu semakin tegas. Disamping Raja Namjoon, Jungkook dapat melihat sang ibu yang memiliki rambut berwarna hitam pekat yang sama seperti dirinya, hanya berdiri diam tanpa melakukan apapun. Tatapan Permainsuri kerajaan Bars itu amat dingin seperti biasanya, matanya yang berwarna biru terang itu menatap datar keseluruh ruangan, termasuk pada suaminya yang sedang sibuk memikirkan strategi perang.

Tanpa sengaja matanya yang sewarna dengan sang ibu itu saling bersibobok, Jungkook mencoba memberikan sang ibu senyuman manis dan berharap bahwa senyumnya akan dibalas pula dengan senyuman hangat khas seorang ibu, namun harapannya terlalu tinggi. Jin yang sadar akan kekosongan dimata Jungkook dengan segera menarik badan kecil pemuda tanggung yang sedang tadi gelisah itu. Jin hanya berharap semuanya berjalan sesuai rencana yang sudah sejak 3 hari lalu mereka persiapkan, namun entah mengapa firasatnya mengatakan hal yang sebaliknya.

Perjalanan menuju medan perang dihiasi dengan penuh ketenangan karena bisa dibilang Bars sudah menyiapkan banyak sekali prajurit, belum lagi raja Nam Joon yang amat mahir dalam berperang, serta panglima-panglima miliknya yang sudah terkenal akan kebuasan mereka.

Namun, tetap saja Jungkook merasa terintimidasi saat tadi melewati ibu kota Armalian. Seluruh percakapan rakyat kecil yang amat jarang ia dengar itu malah membuatnya makin merasa terintimidasi dengan segala situasi yang ada. Ia memang bukan seorang dominan namun tetap saja ia seorang laki-laki yang memiliki harga diri yang patut dijunjung.

Rombongan tentara bars yang bejumlah ratusan ribu itu sudah berjalan menuju pintu gerbang ibu kota yang dijaga amat ketat itu. Arak-arakan rombongan panglima dan anggota kerajaan berada ditengah-tengah kumpulan prajurit yang berjalan dengan amat bangga , menaiki kuda sambil memandang lurus. bangga.

Jungkook bisa mendengar para rakyat kecil yang mengelu-elukan nama sang ayah beserta panglima-panglimanya namun telinganya dapat mendengar segerombolan anak kecil dengan mata berbinar menatap kuda hitam legam milik jin dengan tatapan amat kagum, apalagi dengan jubah yang berkibar serta lambang Marzban berbentung singa yang melekat di leher panglima perang di Bars itu.

"Lihatlah itu, Marzban tuan Jin !, ujar salah seorang anak dari gerombolan kecil itu, hebat , bahkan mereka mengetahui nama Jin.

"wahh! Hebat sekali!, ayahku berkata bahwa Marzban Tuan Jin adalah yang termuda di Barstasian"

"Wow ! Aku ingin seperti dirinya bila sudah besar nanti ! aku akan bergabung dengan tentara kaveleri dan melindungi raja !"

"Bodoh ! Raja tidak mungkin butuh perlindungan, dia bahkan sudah bisa membunuh singa seorang diri saat berumur 14 tahun"

"Kau benar! Taukah kalian bahwa Yang Mulia Nam Joon belum perah kalah saat pergi perang", mendengar ucapan anak-anak tersebut jungkook senyumannya semakin lebar, ia merasa kudanya berjalan amat lambat sambil mencuri dengar perkataan anak-anak desa itu.

"Eh, bukankah itu Pangeran Jungkook ?", mendengar namanya terucap ia semakin tertarik.

"wah kau benar!"

"ayahku juga berkata bahwa ini adalah perang pertama Pangeran Jungkook, orang-orang seperti ialah yang akan kita lindungi, bukan Raja Nam Joon"

"begitulah"

Mengingat tentang percakapan anak-anak di ibu kota tadi membuatnya semakin merasa murung, ia sudah berusaha sekaras mungkin semenjak tragedy hilangnya sang Pangeran Mahkota, kakaknya yang paling ia sayangi.

Menghela nafas berat ia kemudia menoleh pada Jin yang sejak tadi memandang sekeliling dengan padangan waspada yang jarang sekali ia lihat diistana, karena biasanya Jin yang ia lihat adalah pemuda baik penuh senyuman hangat dan selera humor yang payah (amat payah sebenarnya) namun tetap tegas dengan caranya sendiri. Sejujurnya Jungkook belum pernah 'benar-benar' melihat kemampuan Jin yang bisa membuatnya bisa diangangkat dengan julukan Mardan e Mardan yang amat terhormat itu.

Selama 16 tahun hidupnya baru pertama kali ia benar-benar menghadapi yang namanya perang, karena selama ini ia hanya bisa mendengarkan cerita tentang ke hebatan-kehebatan yang dimiliki orang-orang yang bisa dibilang dekat dengannya melalui cerita yang diberitahukan Tuan Kris, selebihnya ia disibukkan dengan seluruh pembelajaran teori tentang filsafat,ilmu kealaman, dan Taktik dibandingkan praktek. Tapi ia selalu berusaha yang ia bisa bila ia diikut sertakan dalam pelatihan Kesatria yang biasanya diadakan pada musim panas.

"hey jin, apakah menurutmu kita akan menang pada perang kali ini ?", ia berkata pelan, Jin yang sejak tadi memandang waspada segala hal sekarang memalingkan wajahnya pada jungkook yang sejak tadi terdiam.

"aku tidak tau pasti Yang mulia, tapi yang jelas kita akan berjuang sekuat tenaga pada setiap perang akan datang", menurut Jin itu adalah jawaban yang paling tepat yang bisa ia katakan saat ini.

"Yeah, kau benar", Jungkook menjeda sambil mentap langit yang terlihat amat terang itu. "Dengan adanya Ayahanda, Bars dan Armalian pasti akan aman".

"Sepertinya kau sudah salah mengambil kesimpulan yang mulia. Suatu hari nanti aku akan mengenalkanmu pada seorang sahabat lama yang akan membuatmu melupakan prinsipmu saat ini"

Sampainya mereka di Tanah samag, para prajurit segera mendirikan tenda agar bisa mengawasi keadaan karena sejauh mata memandang tidak ada sataupun tanda-tanda keberadaan tentara Etrasalion. Jungkook dan Jin sudah berpisah karena Jin harus berpatroli dengan para Marzban lainnya untuk memutuskan strategi, semetara Jungkook hanya berdiri di luar tenda tempat ayahnya melakukan diskusi dengan Kris.

Tiba-tiba ada seekor burung elang dengan warna coklat terang yang medarat dipundak Jungkook, burung tersebut terlihat amat patuh dengan Jungkook. "Oh janggu, kamu juga baru berkililing ya ?", ujar Jungkook sembari memberikan remahan roti kepada burung tersebut.

Janggu adalah seekor burung elang yang amat jinak, ia mendapatkan janggu dari raja kerajaan sebonia yang menemukan sepasang elang saat sedang berburu dan memutuskan untuk memelihari burung tersebut dan memberikan salah satu nya kapada Jungkook. Janggu merupakan burung yang amat terlatih, ia sering berkililing tanah Parsia untuk mengantarkan pesan antar kerajaan disaat- saat genting. Namun semenjak Jungkook lebih sibuk menekuni pelatihan kesatrianya, janggu menjadi lebih sering berada di Sebonia.

"wahh bulu basah, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan", ujar Jungkook sambil mengelus bulu halus berwarna coklat gelap itu, namun suara dari pengeran dari kerajaan bars itu terdengar oleh beberapa prajurit yang juga berhaga di sekitar tenda raja.

"mana mungkin akan turun hujan, apa lagi tanah samag terkenal amat kering" tak berapa lama awan kabut mulai menghampiri tenda sehingga para prajurit segera berkumpul karena akan lebih menyulitkan untuk berkomunikasi pada keadaan penuh kabut seperti saat ini.

"Pergilah Janggu, cari Seung Cheol", burung tersebut merentangkan sayapnya lebar-lebar dan terbang tinggi melewati langit yang berkabut. Para prajurit yang tadi meremehkan pangeran Jungkook sekarang merasa sedikit bersalah karena sudah meremehkan pangeran muda tersebut.

"Ternyata sesuai dengan apa yang dikatakan pangeran"

Para Marzban sekarang kembali berkumpul untuk menyampaikan hasil patrol mereka. Jin yang ditunjuk untuk menyampaikan startegi terbaik apa yang bisa mereka lakukan pada perang kali ini, sehingga bisa mengurangi kerugian. Dengan wajah amat gusar jin mengadap Yang Mulia Nam Joon, mulutnya masih terkatup, wajhnya menampilkan ekspresi yang amat sulit ditebak.

Sekali lagi, ini partema kalinya ia melihat sisilain dari seorang Seok Jin yang selama ini terlihat amat ramah, ternyata bisa berwajah amat menyeramkan seperti itu. "Jadi apa pendapatmu seok Jin" ujar raja dengan nada amat serius.

Setelah akhirnya selesai memikirkan segala kosekuensi yang bisa terjadi Jin memilih untuk mengatakan.

"Aku pikir kita lebih baik mundur pada perang kali ini yang mulia", ujar jin berseru.

Tanpa peringatan apapun Raja Namjoon melancarkan sebuah lecutan diwajah tampan itu, dengan wajah amat murka. "Aku salah menilai tentang mu SeokJin!. Apakah sekarang prajurit kebanggaan Bars menjadi seorang pengecut ?! Kita bahkan belum memulai perang namun kau sudah berani mengatakan bahwa lebih baik kita mundur?!"

"Paduka, hamba menyampaikan usulan tersebut bukan karena takut"

"Apa itu namanya kalau bukan pengecut, ini bukan lah perang pertamamu!"

"Paduka yang mulia, bisakah anda pikirkan lagi, Kaveleri Bars sudah amat terkenal diseluru penjuru Parsian, lalu mengapa etrasalion malah mengusulkan melakukan perang ditanah yang amat cocok untuk melakuka perang antar kaveleri? Hamba pikir mereka telah menyiapkan perangkap, ditambah dengan kabut ini, para prajurit tidak akan bisa melihat musuh dengan jelas ditengah kabut" , suasana semakin menegang, Raja Namjoon menundukkan wajahnya sedikit kepada SeokJin yang sedang menunduk.

"Seokjin, sepertinya dibandingkan dengan kemampuan berpedang dan memanah mu , mulutmu lebih baik dari itu, Perangkap seperti apa yang Etrasalion bisa buat ditanah yang bahkan mereka sendiri kurang pahami?"

"Hamba tidak tau dengan pasti, namun seandainya ada orang Bars yang berada dipasukan mereka, hamba ragu mereka benar-benar tidak tau tentang tanah samag.", wajah raja sekarang sudah sejajar dengan wajah SeokJin yang dengan semakin berani menjelaskan alasannya.

"jadi kau pikir ada orang Barstasian yang berani berkhianat dan membantu Etrasalion ?! Mustahil!"

"tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi, bisa anda bayangkan bila ada budak dari Bartasian yang mendapat perlakukan semena-mena di Bars dan memilih untuk kabur dan memberikan informasi kepada musuh untuk balas dendam", raja kemudian berdiri tegak dan berjalan menatap Eran Kris yang sejak tadi membiarkan sang Keponakan berbicara.

"Sekarang kau berbicara tentang budak ?! Ku pikir aku akan mendengar ide cermelang dari mu, sepertinya Hoseok telah merusak jalah pikiranmu, mahluk sesat itu sudah kuusir dari istana aku sudah melarang semua abdiku untuk berbicara dengannya, apa kau lupa ?!"

"Tidak yang mulia, hamba tidak pernah berkomunikasi lagi dengannya, hamba setia pada perintah paduka, hamba tidak mungkin lupa dengan sumpah hamba, meskipun hamba dan hoseok bersahabat", Entah apa maksud Seokjin dengan mengatakan bahwa hoseok adalah sahabatnya didepan sang Yang Mulia yang sedang amat murka.

"Sahabat baik! Berani sekali kau berbicara seperti itu!" Yang mulia mengayunkan cambuk kecil yang tadi ia gunakan utuntuk menampar dengan keras pipi Seokjin,Seokjin sekarang hanya pasrah, namun bukannya mendarat dipipinya kembali sekarang cambuk tersebut menjatukan kalung berbentuk singa yang berada di lehernya hingga terlepas.

"Sekarang aku bebaskan kau dari tugas mu sebagai Marzban, status Marban dan shirghir masih bisa kau pertahankan, kau anggap itu rasa belas kasihku. Dan jangan kau perlihatkan lagi wajahmu dihadapanku !" dengan itu seluruh Marzban yang sejak tadi berkumpul membubarkan diri, termasuk Jungkook. Namun Jungkook mengurungkan niatnya untuk pergi dan memanggil sang ayah.

"Ayahanda"

"Jungkook , apa yang kau lakukan disini, aku tidak memanggilmu, lebih baik kau memikirkan cara untuk mengatur prajuritmu!", dan dengan itu Jungkook pergi dengan hati yang kembali kecewa dengan segala penolakan yang ayahnya berikan.

Diluar ia menghampiri sang Eran yang sedang melakukan permbincangan seirus dengan Seokjin yang terlihat amat dingin itu. Lalu tiba-tiba tangan sang Eran melayang ke pipi pemuda tampan tersebut dengan amat keras hingga menimbulkan suara yang cukup keras.

"Tidak tau diuntung lancang sekali sikapmu pada Yang Mulia yang sudah berjasa besar pada kita!", Eran Kris membentak Seokjin yang hanya bisa menunduk sekarang. Jungkook hanya bisa mengawasi dengan pandangan amat khawatir.

Tiba-tiba Raja keluar dari tenda tersebut dan menatap seokjin dalam, hingga membuat Eran yang menyadari hal tersebut menunduk patuh meminta pengampunan. Seokjin dengan berani kembali bersujud dibawah kaki sang Raja dari kerajaan yang amat besar tersebut.

"Yang Mulia, maaf kelancangan hamba dengan segala perkataan hamba tampa memahami posisi hamba.", Berkata dengan lugas mengungkapkan segala penyesalannya. Eran Kris pun juga turut meminta pengampunan dari Sang Raja yang sudah tidak terlihat terlalu terbakar oleh emosi seperti tadi.

Raja yang sejak tadi menatap Seokjin dalam sekarang kembali mengangkat suaranya "Akan ku berikan satu kesempatan lagi padamu. BIla pada posisi prajurit kau masih bisa membawa dampak besar pada perang kali ini akan ku kembalikan jabatanmu sebagai Marzban" , seusai berkata demikian Raja berlalu pergi.

Seokjin yang mendengar hal tersebut kemudian bangkit berdiri "Tidak ada satupun kata yang bisa menggambarkan kebaikan yang muli pada hamba", dengan itu Seokjin benar-benar menjauh dari dari perkumpulan prajurit hingga.

Sedikit menjaga jarak Jungkook mengikuti kemana pemuda yang digadang-gadang akan mengantikan Eran Kris saat sudah turun jabatan menjadi seorang panglima besar tersebut. Seokjin melangkahkan kakinya menuju sebuah tanah tandus berjarak 10 meter dari tenda para prajurit. Ia mendudukan dirinya diatas tanah tandus tersebut, jubahnya berkibar diterpa angin yang entah kenapa terasa dingin dengan langit amat berkabut, padahal Tanah samag terkena akan kegersangannya.

Jungkook mendudukan tubuhnya disamping Seokjin dan ikut menatap tanah tandus yang mengelilingi mereka. "Ini pertama kalinya aku turun sendiri dan melihat betapa kejamnya Ayahanda, terlebih lagi kau yang terlihat amat berbeda dibandingkan dengan saat kita bertemu diistana"

"Hamba tau, maafkan hamba telah membuat semua kekacauan ini, hingga kepercayaan yang mulia raja menurun akibat tidakan konyol hamba"

"Tapi kau mengatakan hal yang benar kan ?", Jungkook yakin itu, mereka berdua tau hal itu, Jin tidak pernah dan tidak akan pernah berbohong kepada Raja maupun dirinya.

"Hamba mendapatkan informasi tersebut dari Marzban Sehun, yang berada di posisi paling luar barisan"

"Ah, Sehun mendengarkan saranku, ternyata"

"oh, anda sempat berbincang dengan Marzban Sehun", Mereka terdiam, lalu suara terompet keras yang dibunyikan dari tenda tanda bahwa mereka akan melakukan penyerangan sudah dibunyikan.

"baiklah, ini saatnya pergi yang mulia" , Seokjin membersihkan jubah hitamnya dari tanah begitu pula dengan Jungkook, namun sebelum mereka pergi Seokjin memegang erat tangan Jungkook membuat Jungkook sekarang menaruh atensi penuh pada Seokjin yang memasang wajah amat serius, aura yang dikeluarkan pemuda tersebut sekali lagi adalah ekspresi lain yang tidak pernah dilihatnya.

"Tuanku Pangeran Jungkook maafkan kelancagan hamba sudah memegang tangan Yang Mulia, tapi hamba memohon dengan amat sangat Anda tidak berpisah jauh dari prajurit Bars kalau bisa selalu ada didalam barisan.

Hamba bersumpah demi hidup yang hamba miliki akan selalu mengikuti apapun keputusan yang dipilih Pangeran Jungkook kecuali perintah untuk menginggalkan pangeran dan mengabdikan hidup hamba pada Yang Mulia dan kerjaan Barstasian hingga titik darah penghabisan"

Dengan itu, Seokjin pergi menuju para prajurit untuk menyerang dibarisan pertama karena ia bukan lagi seorang Marzban. Jungkook hanya bisa terdiam, ia merasa familiar dengan apa yang Seokjin ucapkan dan segera berkumpul dengan para prajurit yang akan mengawalnya selama perang.

OMG, Thank You , yang udh review , selanjutnya semoga aku bisa lebih bagus lagi hehehe :v

HOPE U LIKE IT :), btw sorry for typo(s)