Unworthy

Bagian 2

Setelah apa yang terjadi di atap kemarin, Woojin membuat jarak di antara mereka.

Ia tak menghindari Jihoon secara langsung. Ia masih menjemputnya di pagi hari. Ia masih duduk di sebelahnya saat di bus. Ia masih menemaninya sampai kelas, meskipun kelas mereka berbeda.

Tapi Woojin hampir tak bicara padanya. Ia menutup mulutnya rapat-rapat, tak mengeluarkan suara apapun kecuali 'ya' dan 'tidak' ketika Jihoon mengajaknya makan bersama.

Hal itu membuat Jihoon jengkel setengah mati. Ia tak mungkin bisa membantu Woojin kalau ia sendiri tak punya ide dengan apa yang terjadi di sekitarnya, dan Woojin sama sekali tak memberinya kemudahan. Ia tak mengerti mengapa Woojin begitu keras kepala untuk menyembunyikan hal itu darinya.

Jihoon mendengus di jalan mereka menuju kantin, "Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyanya dengan nada kesal. Woojin meliriknya sekilas, mengatupkan bibir, dan mengabaikannya.

Jihoon memutar mata, "Ya, ya, ya. Terima kasih atas jawabannya, Park Woojin-ssi," lanjutnya ketus.

Lalu matanya menangkap Kang Daniel dari kejauhan. Pemuda itu tersenyum, tertawa, tertawa, tertawa, dan Jihoon mendadak ingin memecahkan sesuatu.

Sialan.

.

.

Ada hal yang harus aku urus. Tak usah menunggu.

Pesan dari Woojin datang tepat setelah guru yang mengajar meninggalkan kelas dan bel tanda pulang berbunyi di setiap sudut sekolah. Jihoon tak segera membereskan buku-bukunya ke dalam tas seperti siswa lain. Ia mematung di kursinya, menatap layar ponselnya dalam-dalam dengan kerutan di dahi.

Ini pertama kalinya Woojin memberitahunya lewat pesan untuk hal-hal semacam itu. Biasanya ia akan langsung mendatangi Jihoon ke kelas karena ia tahu seberapa malasnya Jihoon mengecek ponselnya. Sepupunya itu mungkin menghindarinya, tapi ia tak akan mungkin menghancurkan kebiasaannya hanya untuk hal-hal sepele, terutama jika itu menyangkut Jihoon.

Ada hal yang harus aku urus. Pesan itu membuat perutnya melilit tak nyaman, terutama setelah Jihoon menemukan luka di bahu Woojin karena… karena

Kepala Jihoon berputar dengan cepat, mencari Joo Haknyeon di antara teman sekelasnya yang mulai menghilang satu persatu. Tak butuh waktu lama baginya untuk menemukan pemuda itu di dekat pintu, hampir melangkah keluar.

Jihoon berseru tanpa pikir panjang, "Joo Haknyeon!"

Langkah kaki Haknyeon terhenti. Ia berbalik, mencari asal suara, dan matanya bertemu Jihoon. Ia memiringkan kepalanya, ekspresi bingung tercetak di wajahnya.

Jihoon tersandung kaki meja ketika ia bergegas menghampiri Haknyeon tanpa memperhatikan jalan. Ia menyeret kakinya sambil meringis. Haknyeon memperhatikannya tanpa kata-kata, hanya tersenyum.

Lalu pemuda itu bertanya setelah Jihoon berdiri di dekatnya. "Ada ap—"

"Bisa kita bicara sebentar?" potong Jihoon, terburu-buru. "Berdua saja?"

"Um," ekspresi bingung kembali menghiasi wajah Haknyeon. "Tentu… saja?" jawabnya ragu.

Jihoon tak pernah bicara dengan Haknyeon selama ini. Kenyataannya, ia tak pernah berinteraksi dengan sebagian besar siswa di kelas karena ia pikir itu merepotkan. Wajar kalau Haknyeon kebingungan ketika seorang Jihoon memulai percakapan dengannya.

"Jadi?"

Tak ada yang tersisa di kelas selain mereka berdua. Haknyeon berdiri di dekat pintu yang tertutup, menunggu dengan kedua tangan terlipat di perut. Ia masih memplester senyum di bibirnya.

Jihoon ikut tersenyum hingga matanya menghilang di balik kelopak matanya, lalu membuka suara, "Beri tahu aku dari mana kau mendapatkan memar di punggungmu itu, Haknyeon-ah."

Ekspresi Haknyeon jatuh dalam hitungan detik. Jihoon telah memperkirakannya. Wajahnya perlahan mengeras. Sorot mata ramah yang ia perlihatkan di awal menghilang sepenuhnya. "Bukan urusanmu," katanya tajam.

"Ah," respon Jihoon, tak terpengaruh nada tajam Haknyeon sama sekali. "Mari katakan ini bukan urusanku, Haknyeon-ah. Tapi luka di punggungmu itu sangat mengundang rasa penasaran orang lain, bukankah begitu?"

Mata Haknyeon memicing mendengarnya. "Kurasa kau tak mengerti istilah privasi, Jihoon-ssi."

"Aku lebih menyukai istilah simpati dibandingkan yang lainnya."

"Aku tak butuh simpati murahanmu."

Ujung bibir Jihoon berkedut. "Simpati murahan?" ulangnya sedikit jengkel. "Haknyeon-ah, aku peduli padamu."

"Aku pikir kita tak sedekat itu untuk saling peduli satu sama lain, Park Jihoon," balas Haknyeon.

Jihoon menarik napas. Cukup, katanya dalam hati. Ia menyisir rambutnya ke belakang, senyum luntur dari wajahnya. Jihoon melangkah lebih dekat. Satu, tiga, lima langkah hingga ia berdiri tepat di hadapan Hakyeon, mendesaknya merapat ke pintu.

"Dengar," desisnya rendah. Tangan kirinya bertumpu pada pintu, mengunci pergerakan Haknyeon pada salah satu sisi tubuhnya. Jihoon melihat mata Haknyeon sedikit melebar, tak percaya dengan apa yang Jihoon lakukan. "Aku tak tahu kenapa kau begitu berusaha menyembunyikannya, Joo Haknyeon. Tapi aku ingin tahu," katanya dingin. "Dimana dia?"

"D-dia?"

"Kang Daniel."

Haknyeon seperti baru saja melihat hantu. Wajahnya mendadak pucat, dan dari jaraknya dengan Haknyeon yang begitu minim, Jihoon bisa melihat dengan jelas pupil matanya yang mengecil. Bahu pemuda itu naik karena tegang.

Jihoon hanya menyebut namanya saja, tapi respon yang ditunjukkan Haknyeon melebihi apa yang Jihoon bayangkan. Sebegitu menakutkannya kah Kang Daniel?

"A-a-aku tak m-mengerti apa m-maksudmu," jawab Haknyeon terbata. Ia seperti anak kecil yang dihadapkan dengan monster dalam mimpi buruknya, gemetar dikungkung ketakutan. Jihoon kasihan melihatnya seperti itu.

Tapi ia teringat Woojin, teringat ekspresi kesakitannya, dan ia tahu ia tak bisa berhenti.

Tangan Jihoon berpindah ke bahu Haknyeon. Ia mencengkramnya erat, lalu mendorong pemuda itu ke bawah dengan kuat hingga ia jatuh terduduk dan memekik. Jihoon membungkuk, menarik dagu Haknyeon ke atas dengan kasar. "Aku tahu kau tak bodoh, Haknyeon-ah," katanya, tersenyum. "Tapi kurasa kau akan lebih mengerti kalau aku menambah hiasan di bagian tubuhmu yang lain."

Haknyeon tersedak salivanya, "A-apa?"

"Katakan padaku, kau ingin di sebelah mana?" Jihoon berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Haknyeon. "Bahumu? Lenganmu? Atau…" tangan Jihoon merayap ke bawah, mengangkat tangan Haknyeon dan melihatnya diiringi tawa kecil, "Jari-jarimu cantik sekali, Haknyeon-ah~ Bagaimana kalau kupatahkan saja?"

"A-a-a—apa y-yang—" Haknyeon kehilangan suaranya. Ia berusaha menarik tangannya menjauh, tapi seluruh energinya menguap begitu saja. Jihoon mengeratkan genggamannya setiap waktu, menegaskan pemuda itu bahwa Jihoon tak bermain-main dengan ucapannya.

"Dimana Kang Daniel?"

Tubuh Haknyeon gemetar tak terkendali. "A-aku tak tahu."

"Hm~?" Jihoon mengangkat sebelah alisnya dengan gaya mengejek, "Sepertinya kau tak keberatan kalau kuhilangkan satu atau dua jarimu, begitu?"

"J-Jihoon—"

"Ini kesempatan terakhirmu, Haknyeon-ah. Sejujurnya aku bukan orang yang sabar," tukas Jihoon, tangannya berpindah ke bagian belakang kepala Haknyeon. Ia menjambak helaian rambut pemuda itu tanpa ragu, menariknya keras. "Dimana dia?"

.

.

"Apa maksudnya ini, Kang Daniel-sunbae?"

Sepi mengambil alih suasana ruangan itu. Setiap pasang mata menatapnya seolah ia sudah gila.

Jihoon tak peduli. Ia masuk lebih dalam, matanya lurus memandang Daniel dengan senyum setengah hati untuk menyembunyikan kemarahannya yang meledak-ledak. Pemuda itu bergeming di posisinya, ekspresi terkejut muncul sekilas di wajahnya sebelum hilang ditelan senyumnya yang biasa.

Daniel menjawab, terdengar polos dan bersungguh-sungguh, "Ya?" tanyanya, seolah tak paham dengan apa yang ditanyakan Jihoon. Ia tersenyum begitu lebar, dan Jihoon mati-matian menahan keinginannya untuk berlari dan mencakar wajah pemuda itu sampai ia tak bisa tersenyum lagi selamanya.

Dasar brengsek. Sialan. Sialan kau, Kang Daniel!

Alih-alih ia mengayunkan kakinya ke arah Woojin yang tak mau memandangnya. Ia mendorong laki-laki di dekat Woojin dengan kasar, kemudian menggapai tangan Woojin dan menariknya untuk mengikutinya.

Laki-laki di dekat pintu tak tinggal diam. Ia menghadangnya di tengah jalan. "Apa yang kau lakukan, brengsek?!"

Jihoon menengadah, menatapnya dingin. "Bukankah itu yang seharusnya aku tanyakan pada kalian, sunbaenim?" ia mendecih, lantas melirik Daniel lewat bahunya, "Apa yang kalian lakukan disini, sunbae?"

"Yang kami lakukan?" Daniel mengakhirinya dengan tawa. Ugh. "Kami baru saja mau mulai bersenang-senang."

"Bersenang-senang?" ulang Jihoon tajam, hilang sudah kesabarannya. "Jadi, kau pikir, membuat orang terluka itu menyenangkan?" wajah Jihoon menggelap. Tangannya yang bebas mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia berbalik, ingin sekali menghajar Daniel melebihi apa yang Woojin dapatkan, tapi Woojin berkata pelan, menghentikannya.

"Jangan," katanya, meyakinkannya.

Perasaan Jihoon campur aduk. Ia sangat marah, tapi kenapa Woojin mencoba menghentikannya? Kenapa Woojin tidak marah? Kenapa? Kenapa?

"Jihoonie," kata Woojin lagi, putus asa. Suaranya membuat Jihoon merasa pening. Ia mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia tahu saat ini Woojin adalah prioritas utamanya, karena itu ia tak boleh egois. Pandangannya kembali beralih pada laki-laki yang menghalangi pintu. "Sunbae, bisa kau minggir sebentar?"

Mata laki-laki itu memicing, "Apa kau bilang, sial—"

"Taedong." Suara Daniel memecah perkataan laki-laki itu. Jihoon tak melihat bagaimana wajah Daniel saat itu, ia tak mau kehilangan kendali karena melihat wajahnya, tapi hal itu malah membuatnya sedikit terganggu karena sesaat setelahnya, Taedong menjengit. Ia bergeser, memberi jalan bagi Jihoon seraya membuang muka.

Jangan berbalik, jangan melihatnya, rapal Jihoon dalam hati.

Namun di ambang pintu, Jihoon tak bisa menahan keinginannya untuk berbalik. Ia melihat Daniel yang balik melihatnya dengan senyum penuh di mulut, lalu tanpa bisa dicegah mulutnya mengeluarkan suara, "Oh, sunbae," katanya, "Caramu bersenang-senang membosankan sekali, sama seperti orangnya."

Jihoon menghempaskan pintu sama kerasnya seperti saat pertama kali ia masuk.

.

.

Bagian 2, selesai

a/n: terima kasih buat yang udah mereview dan memfavorit chapter yang lalu~ maaf saya gak bisa balas satu-satu karena kuliah udah mulai hectic aja ;; tapi saya baca kok, dan review kalian jadi penyemangat saya buat nulis chapter ini :')

terima kasih sudah membaca~ /tebar wanna one/ kritik, saran, (cacian dan makian karena saya membuli Haknyeon di chapter ini) saya terima dengan senang hati~

-red