Standard disclaimer applied.
(Full ooc, typo, etc. DLDR!)
Terinspirasi dari Wallbanger, Tangled dan The East-nya Net.
(Sakura)
...
Aku bangun pukul enam dengan waktu tidur tiga jam! Hanya tiga jam! Salahkan si Sasubear karena dia dan wanitanya sungguh mengganggu waktu tidurku! Berulang kali aku mendengar si wanita 'berteriak', lalu merasakan hantaman di dinding dan yang terakhir sebuah tepukan. Ah tidak! Sebuah tamparan. Kalau tebakanku benar itu pasti tamparan di pantat! Bagus sekali, otakku sudah terkontaminasi oleh mereka.
Aku membawa mini cooperku hari ini menuju kantor baru, setelah memarkirkannya dengan baik aku memasuki gedung kemarin. Kali ini tak ada Ino.
Disana sudah ada Kakashi yang menyambut, dia tersenyum mengerikan seperti kemarin.
"Selamat pagi, Sakura" aku membalas seadanya.
"Selamat pagi, jadi bagaimana hari ini?"
"Pertama-tama aku harus memberimu seragam," dia menyerahkan padaku sebuah kemeja yang terbungkus plastik. Warnanya biru dongker dengan bordiran abu-abu.
"Kau bisa memakainya setiap senin dan selasa. Selebihnya bebas dan sopan. Yang kedua kau akan menemui Uchiha Itachi, di lantai dua. Kali ini bersikaplah yang sopan dan terorganisir. Karena kau jawabku, dan aku memastikan kau tetap bekerja disini" oh ya terimakasih untuk sarannya.
Selanjutnya kami menaiki sebuah lift menuju lantai dimana boss baruku bekerja. Hanya aku yang masuk dan Kakashi menunggu di luar sepertinya. Itupun kalau dia tidak kabur dan menggoda beberapa karyawan wanita.
Ruangan boss baruku, si Uchiha Itachi ini cukup luas dimana ada jendela setinggi langit-langit dan memanjang sampai lantai seperti yang ada di apartemenku.
Aku tersenyum begitu mendapati seorang pria setua Kakashi, dengan rambut hitam panjang yang menatapku.
"Kau pasti Sakura? Haruno Sakura?" dia memastikan, lalu aku dipersilahkan untuk duduk setelah menjabat tangannya.
"Ya, Haruno Sakura" aku tersenyum kembali. Kupikir dia adalah boss killer seperti Tsunade, tapi untuk kedua kalinya setelah kemarin, aku salah menduga. Ketampanannya berada sedikit jauh diatas Kakashi, dan satu lagi, dia sangat murah senyum! Oh, mungkin aku akan jatuh cinta padanya.
"Apa kau sudah mengisi formulir pegawai?" Aku mengangguk mantap.
"Kakashi— maksudku Hatake-san sudah memberinya kemarin,"
"Oke jadi, kau akan ditempatkan di divisi reportase. Kami membaginya menjadi beberapa kelompok. Kau bisa bergabung dengan Uzumaki Naruto, mungkin kau bisa bertanya pada Kakashi secara lebih lanjut" aku kembali mengulum senyum. Selain tampan dan ramah dia juga mengenal pegawainya dengan baik.
"Nah kupikir, Kakashi bisa memberikan rincian yang lainnya. Aku hanya ingin tau bagaimana pengalamanmu dan alasan pemecatanmu sebelumnya?" Baik, ini sangat pahit asal kau tau boss. Tapi kupikir adalah hal wajar dia bertanya seperti itu, ya karena dia pemimpinnya dan mungkin dia tidak ingin aku mengulangnya.
"Aku berkecimpung dengan dunia ini sudah empat tahun. Mulai debut dari koran lokal, sampai majalah wanita dengan taraf nasional seperti tempat bekerjaku sebelumnya. Aku handal dalam menembak poin-poin penting narasumber jadi kupikir aku sangat berpengalaman dalam bidang ini" aku ingin menghela nafas berat, namun kutahan.
"Manusia pasti memiliki kekurangan dan aku tidak bisa bersahabat baik dengan jam weker kecuali hari ini. Dan Bossku sebelumnya benci keterlambatan, hingga ada sebuah proyek artikel besar dan aku mengacaukannya" ya walaupun ada alasan satu lagi, tapi kurasa aku harus menyimpannya dalam hati saja.
Itachi menganggukkan kepalanya paham, "Padahal waktu adalah poin penting dalam pekerjaan, tapi perasaanku bilang kau akan selalu tepat waktu saat ini" Itachi tersenyum yakin. Tapi entah kenapa aku sepaham dengannya.
"Baik kurasa tak perlu ada yang diragukan darimu. Dan aku yakin, Kakashi selalu mengingatkanmu. Kau bisa keluar," aku masih terpatung. Apa dia serius? Semudah itu? Mempercayaiku? Dan pegawai-pegawainya?
Masa bodo Sakura, kau harus keluar dari ruangan ini sekarang.
Ternyata Kakashi tengah bersandar di samping pintu ruangan Itachi. "Dia memang baik, sayang sudah punya istri dan anak," timpalnya begitu melihatku menyengir.
Aku hanya menyipitkan padanya, ingin sekali aku membalas 'Ya tidak seperti kau yang Jejaka Tua' Tapi kurasa itu cukup di batin saja. Seperti yang Ino ceritakan kemarin sewaktu kami keluar dari gedung ini, bahwa Kakashi memang masih belum memiliki kekasih dan istri saat ini.
Kami memasuki ruangan dimana karyawan tengah melakukan pekerjaannya. Aku masih setia membuntuti si Hatake, hingga kami berhenti di sebuah meja yang tampak rapi dengan lelaki pirang tengah berkutat di depan komputernya.
"Yo Naruto," oh ini dia si Uzumaki Naruto, tampaknya dia sangat tenang dan tertata.
"Ada teman baru untukmu, tenang kali ini sudah profesional. Jadi kau bisa menyuruhnya apa saja" baru saja aku ingin berterimakasih saat dia menyebutkan kata profesional.
Naruto terdiam sejenak seolah berpikir, "Kau! Kau pasti Sakura! Haruno Sakura! Pacarku sering membaca majalah wanita itu dulu, dan itu ada namamu di bagian redaksi-nya! Wow! Sungguh aku tidak percaya bertemu Haruno Sakura yang itu! Dan sekarang aku bekerja sama dengannya" Dia. Berbicara. Dalam. Satu. Tarikan. Nafas.
Luntur sudah image-nya yang sudah kurancang di otakku. Tentang, tertata dan tenang. Tunggu... apa dia bilang, Haruno Sakura yang itu? Itu yang bagaimana?!
Dia menjabat tanganku secara paksa dan masih memperlihatkan cengiran lebarnya. "Dan kau pasti, Uzumaki Naruto" aku bicara seadanya.
"Benar!" dia berseru.
Setelahnya, Kakashi meninggalkanku bersama pria pirang ini. Naruto memberiku tempat, lengkap dengan komputernya. Kami berdiskusi tentang pembagian kerja untuk kedepan. Menurutku dia menjadi serius bila menyinggung tentang pekerjaan, tidak seperti beberapa menit yang lalu.
Dia juga langsung memberiku beberapa agenda wawancara yang akan kami tangani. Aku melihat yang paling teratas, dan itu besok lusa. Aku harus mulai melakukan wawancara kepada seorang pengamat ekonomi dan seorang pemilik perusahaan. Yaampun ini benar-benar majalah besar yang luput dari penglihatanku.
"Untuk sekarang kau mungkin bisa membantuku untuk menyusun agenda selanjutnya," aku kemudian mengangguk paham.
Namun aku masih menatapnya yang tengah mengerutkan alis di depan layar komputer, "Naruto?"
"Ya, Sakura?"
"Apa kau selalu seserius ini bila bekerja?" Aku bertanya dengan hati-hati. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arahku.
"Mm tidak, hanya saja..."
"Hanya saja?"
"Aku sedikit gugup,"
Kali ini aku yang mengerutkan alis,"Gugup?"
"Karena ini hari pertamaku bekerja dengan Haruno Sakura yang itu," apa aku boleh terjun ke jurang sekarang juga? Karena Naruto benar-benar merusak pencitraan dirinya yang ada di otakku.
oOo
Aku kembali ke apartemen saat hari sudah larut malam. Banyak yang harus dikerjakan di hari pertama aku bekerja dengan Konoha Street Journal.
Tentunya kali ini tanpa harus menjadi ob dadakan yang mengantarkan kopi kepada staff senior. Tapi setelah dipikir-pikir, karyawan di tempat Itachi cukup ramah dan gampang diajak bekerja sama. Mereka juga-
"Rawr! Kau sangat nakal Candies, ahh" seketika air mineral yang baru kuteguk kusemburkan begitu saja.
Shannaroooo! Mereka lagi! Tunggu...Tunggu sebentar...
Aku mendekatkan diri ke kamarku dan menempelkan telingaku ke dinding sebelah dipan. Oke aku tau ini hal gila! Tapi ada satu hal yang ingin aku pastikan!
"Mmhmmm," aku membulatkan bola mataku.
"Sasuuu! Ah," bola mataku hampir copot saat mendengar sebuah tamparan. Itu pasti tepat di pantat dan sakit.
"Oh Candies!"
"Lebih cepat please, sasu... ah Sasu-Candies"
"Nghhh Candies aku hampir" aku membekap mulutku dengan satu tangan. Lalu segera meninggalkan kamarku sendiri.
Aku tak percaya dengan diriku sendiri, aku baru saja mendengarkan seseorang bercinta. Aku berani bersumpah ini adalah hal paling bodoh yang aku lakukan setelah mematahkan pancingan milik ayahku.
Tapi aku lebih tidak percaya lagi dengan orang yang tinggal di sebelahku ini. Si Sasubear kini berubah nama menjadi Candies. Candies seperti permen, ew. Dan...dan suara si wanita lebih berat dari yang tadi malam. Wanitanya juga tengah mengaum dengan nada yang menjijikan. Apa dia titisan singa?! Sialan si Sasubear! Dia...dia keparat! Meniduri dua wanita yang berbeda di dua malam.
Aku meneguk sebotol air dingin, kerongkonganku benar-benar panas.
Oke tarik nafas, buang. Lupakan kegiatan mereka dan gedoran dindingnya.
Yah dan sepertinya aku harus tidur di sofa bila ingin mendapatkan mimpi indah.
TBC
Cus ke next page aja ya,wkwk
