🎶 Ooh cant quit, take six 🎶
🎶 Wanna taste you. Language, use lips 🎶
🎶 Kissing strangers, oh 🎶
.
Kau tahu, semua dilema biologis ini benar-benar menyiksa. Tak terkontrol. Tak diinginkan namun tak ingin kehilangan. Dia seperti lumpuh dan malah menikmati semua tindak pelecehan yang nyatanya terasa nikmat ini dengan mau tak mau.
Atau mungkin, dia memang mau?
"Haha Byun Baekhyun, kau munafik sekali!" wajah kurang ajar Luhan mendadak terbayang di benaknya sedang mencemooh.
Tangan pria kurang ajar itu kini sedang meremas penisnya yang masih dibungkus boxer. Baekhyun terengah antara sibuk mendesah atau karena lelah mendorong tubuh kekar yang kini sedang mengurungnya. Dia benar-benar seperti benteng beton dan Baekhyun adalah semut kecil yang berusaha merobohkannya.
"Sshh, diam," pria itu, yang katanya bernama Chanyeol, berbisik tepat di depan bibirnya.
Baekhyun menggeleng, "ahh, hentikan –ngh!"
Tangan besar itu tiba-tiba menyelip masuk dan menurunkan boxernya. Baekhyun terjengit karena kulit penisnya kini bersentuhan dengan telapak tangan si brengsek ini. Gawat! Dia sudah tidak perjaka! Baekhyun sudah tidak suci lagi!
Kedua tangan yang lebih kecil langsung mendorong wajah Chanyeol hingga tubuhnya hampir terjungkal, "hentikan, kau brengsek!"
Dan kau tahu apa? Chanyeol kembali memenjarakan tubuh berkeringat Baekhyun ke tembok dan malah mencium lekuk lehernya, "aku bisa menyelesaikannya untukmu."
Terkutuklah seluruh hormon yang ada di dalam tubuhnya. Baekhyun lemas lagi dan rasanya semua hisapan-hisapan itu akan meninggalkan bekas. Memalukan sekali kalau sampai seisi kampus melihatnya!
"Mmhh, pergi...pergi," dorongan tangannya pada bahu lebar itu melemah seiring dengan pijatan yang kembali mampir di tengah-tengah selangkangan.
Wee woo wee woo wee woo...
Sirine polisi yang datang dari dalam otaknya berbunyi sendiri. Mencoba memperingatkan bahwa sebentar lagi Baekhyun akan benar-benar bersikap seperti si jalang Hyuna. Atau mungkin juga seperti Luhan saat sedang memuaskan pembelinya.
Baekhyun sangat tidak mau bersikap seperti pelacur murahan tapi tubuhnya terasa setuju-setuju saja. Ugh, dasar pengkhianat!
"Kita bisa melakukannya," pria itu berbisik di telinga kiri Baekhyun sambil menciumnya, "setiap hari, kapanpun, dimanapun kau mau."
Kedua mata sang tuan rumah mulai terpejam, larut ke dalam permainan licik si penyusup, "hmm hah," desahnya dengan berat.
"Asal ijinkan aku tinggal di rumahmu selama beberapa hari."
Petir imajiner mendadak bergelora di dalam kepala Baekhyun. Seluruh nafsu yang tadinya menyelimuti tubuh langsung sirna tak berbekas. Apa telinganya yang berharga itu tak salah dengar?
"Apa kau bilang?" seperti mendapat kembali kekuatan dari harga dirinya yang baru saja terinjak-injak, Baekhyun mendorong tubuh si bedebah mesum itu menjauh.
"KAU MAU TINGGAL DI RUMAHKU? HELL NO!" bentaknya sambil menyilangkan tangan berulang kali.
Si Penyusup brengsek kurang ajar yang cabul –begitulah sekarang Baekhyun menyebutnya- itu terlihat belum mau menyerah, "namanya timbal balik. Kau bisa melakukan seks denganku lalu kau biarkan aku tinggal di sini," jelasnya sambil bersedekap.
Oh, betapa angkuhnya berandal sialan ini.
Baekhyun menunjuk pintu depan rumahnya sambil menatap si Penyusup brengsek kurang ajar yang cabul, dengan sorot yang dipenuhi kobaran api, "KELUAR-DARI-RUMAHKU-SEKARANG!"
Dia menggeleng sambil menunjuk penisnya sendiri yang terlihat lebih besar dari sebelumnya, "kau yakin tidak mau merasakannya?"
My God, this Dumbass...
Amarah Baekhyun meledak detik itu juga, "GET THE FUCK OUT OF HERE!"
Tiba-tiba suara kucing Hyuna di sebelah sana mengerang ketakutan. Baekhyun baru teringat bahwa sekarang sudah jam dua pagi dan dia berteriak-teriak seperti tarzan. Tapi siapa yang tidak akan berteriak-teriak jika ada penyusup mesum di rumahmu!?
Chanyeol mengedikkan bahu, "aku tetap tinggal. Laporkan saja ke polisi jika kau mau. Aku juga bisa melakukannya."
"Hahahah!" tawa kering Baekhyun terdengar menggema, membelah pagi buta, "tuduhan bodoh apa yang akan kau katakan kepada polisi nan-"
Chanyeol langsung menunjuk bungkusan plastik yang tadi siang Luhan berikan. Jika kau lupa, maka kuingatkan bahwa plastik itu berisi ganja kering yang seharusnya Baekhyun serahkan kepada si Dildo sepulang kuliah.
Bagus. Pertahanannya melemah.
"Itu hanya sampah kering," elak sang Tuan rumah berusaha terlihat setenang mungkin.
Chanyeol memutar bola matanya malas, "sampah kering yang harganya jutaan won?"
Ya! Semuanya jadi kacau. Karena keberadaan barang titipan Luhan yang terkutuk itu sekarang Chanyeol memiliki senjata untuk memerasnya.
"Jadi sekarang kau mengancamku?!"
Byun Baekhyun, ucapkan selamat tinggal pada kedamaian!
"Boleh atau tidak?"
Wajah menyebalkan pria itu kini berputar-putar di kepalanya. Dari satu wajah, dua wajah, beranak lima dan menjadi sangat banyak. Baekhyun memejamkan mata dan menghitung dari satu sampai sepuluh karena darahnya yang mendidih sebentar lagi akan membludak.
"Oke!" Chanyeol buru-buru beranjak dari dapur dan berjalan cepat menuju pintu depan. Baekhyun membuntuti di belakang dengan panik, "aku akan pergi karena kau menolak. Mungkin mengungsi ke kantor polisi terdekat adalah solusi terbaik?"
Dengan cekatan si mungil langsung menarik pergelangan tangan Chanyeol, "OKE-OKE! KAU BISA TINGGAL! PUAS?"
Bibir kurang ajar pria di depannya dikulum menahan senyuman. Menjijikkan sekali di mata Baekhyun karena dia sangat dirugikan dalam hal ini. Tapi mau bagaimana lagi? Dia tidak mau namanya yang bersih itu tercoreng karena terbukti menyimpan barang titipan Luhan.
"Jadi, siapa namamu? Aku harus berterima kasih kepada siapa?" tanya Chanyeol dengan sangat lembut.
Masih terdengar menjijikan di pendengaran Baekhyun.
Sang tuan rumah bergeming dan lebih memilih berjalan menjauh. Pikirannya sedang sangat kacau dan yang lebih menyebalkan adalah, penisnya masih tegang. Tubuhnya benar-benar tidak bisa diajak kompromi dalam keadaan genting.
Sial sial sial sial!
"Mau aku bantu selesaikan?" Chanyeol menghadang di depan sambil melirik ke bawah, ke arah selangkangannya.
Baekhyun sungguh sedang pusing sekarang dan mengapa hidupnya jadi sangat rumit? Hari ini sudah berat tanpa adanya Chanyeol ditambah lagi dia sudah resmi menampung seorang antah berantah.
Byun Baekhyun benar sudah sangat lelah dan mental dan fisiknya yang berharga itu butuh istirahat.
"Tolong jangan bersikap lancang di rumahku. Kau berbahaya atau tidak saja, aku belum tahu tapi tolong-" si mungil mengangkat kedua tangannya untuk membuat batasan, "jangan sentuh aku seperti tadi. Kau mengerti?"
Yang dia bicarakan adalah saat Chanyeol tadi mencoba melecehkannya dan Baekhyun sangat takut jika di kemudian hari, dia tak bisa mengendalikan dirinya. Bagaimanapun juga, seks pertamanya harus menjadi momen paling special dengan orang yang special.
Chanyeol mengedikkan bahu, "aku pikir kau suka. Kau mendesah dan-"
"God damn it!" potong Baekhyun sebelum ucapan pria itu semakin merusak kesehatan mentalnya.
Baekhyun berjalan lunglai menuju kamar di belakang. Biasanya Luhan akan tidur di sina jika dia menginap jadi tempat tidur dan sebuah televisi sudah siap sedia. Ada beberapa majalah porno juga di bawah kolong tempat tidur jika Chanyeol beruntung karena Luhan menyimpannya di sana.
Si penyusup mengintip dari belakang punggung Baekhyun namun si mungil buru-buru berbalik, "kamar mandi ada di dalam. Aku akan menguncinya demi keamananku. Masuk."
Bak anak anjing yang penurut, Chanyeol berjalan masuk ke dalam kamar bernuansa krem itu dengan tenang. Sebelum Baekhyun benar menutup pintu, Chanyeol mengganjal dengan lututnya sambil mengintip keluar.
"Hey, Bumblebee," panggil Chanyeol sembarang karena saat itu, boxer Baekhyun bergambar tokoh fiktif Bumblebee. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku bukan orang jahat. Aku sedang terjebak permainan seseorang," jelasnya dengan lelah.
Baekhyun mengangguk tak perduli. Pintu itu rapat ditutup dan dikunci sesuai dengan keinginannya.
Sekarang sudah jam setengah tiga pagi dan Baekhyun benar-benar pusing. Dia bergegas pergi ke kamar mandi, menurunkan boxernya dan lalu menyelesaikan apa yang tadi sempat 'tinggi' dan belum selesai.
Bibir tipis itu terbuka selama kegiatannya berlangsung, "ahh hah hah," nafasnya terengah menggema memenuhi kamar mandi.
Tangan-tangan mungil Baekhyun dengan liar memijat dan memeras penisnya sendiri dengan cepat.
"Aahh hah," Baekhyun menggigit bibirnya sendiri saat klimaks datang. "Chan! Hmph!"
Bodohnya, dia menyebut nama si Penyusup cabul itu saat orgasme tiba. Bodoh. Bodoh sekali.
"Haha Baekhyun, kau munafik dan sangat bodoh!" wajah kurang ajar Luhan mendadak terbayang di benaknya sedang mencemooh.
Baekhyun menatap telapak tangannya yang penuh dengan cairan kentalnya sendiri, "Shit!"
..
...
Pagi hari yang damai...
Kicauan burung parkit di sana-sini. Kokok ayam menemani sinar matahari yang pelan-pelan merambat naik. Aroma telur dadar yang harumnya menyerbak memenuhi seluruh ruangan. Dan juga Chanyeol yang berdiri di pintu dapur hanya mengenakan celana dalam.
"Jesus!" Baekhyun hampir saja menjatuhkan piring berisi sarapannya ketika sosok itu tertangkap mata, "kau memang selalu telanjang atau tidak tahu cara berpakaian?!"
Chanyeol menunduk, menutupi gundukan di balik underwear hitamnya dengan kedua tangan, "bisakah aku meminjam bajumu?"
Bagus. Pantas saja kalau bumi beranjak tua dengan cepat dan malah semakin rusak karena penghuninya saja dipenuhi dengan orang-orang bodoh. Macam Chanyeol yang katanya kehilangan baju karena sobek tersangkut pagar rumah dan celananya basah terkena air saat dia buang air besar.
Dia benar-benar payah.
"Aku tak bisa membiarkanmu tinggal selamanya," celetuk Baekhyun sambil melemparkan sebuah celana training Adidas berwarna hitam kesukaannya, yang kedodoran.
"Mm hm," sahut Chanyeol sambil memakai celana itu dengan tenang.
"Tiga hari. Itu batas toleransiku kepada penyusup yang suka mengancam sepertimu," ucap Baekhyun lalu melemparkan sebuah kaos putih polos yang dulu Jingoo berikan sebagai hadiah ulang tahun ke delapan belas.
Yang juga kebesaran.
"Aku terpaksa mengancammu! Aku tidak punya tempat persembunyian lain," elak Chanyeol sambil memakai kaos putih itu.
"Terserah!" jawab sang tuan rumah dengan masa bodoh. Baekhyun langsung beranjak kembali ke dapur karena dia butuh sarapan.
Mereka berdua duduk bersama di meja makan dengan ajaibnya. Chanyeol bergabung meskipun Baekhyun tak mengundangnya karena hakikat manusia di pagi hari adalah lapar. Dia harus makan meskipun Baekhyun tak memintanya karena mereka bukan sepasang kekasih yang berbincang seperti;
Makanlah, aku khawatir jika nanti kau sakit.
Hey, sudah makan belum? Ayo kita makan bersama.
Jangan lupa sarapan sebelum berkegiatan, ya!
...
Oh ayolah! Makan ya makan saja!
"Aku punya saudara kembar," tiba-tiba Chanyeol berbicara disela acara kunyah-mengunyah, "namanya Richard. Dia punya banyak hutang dan rentenir itu mengira aku adalah dia. Jadi, yeah! Aku lari karena aku tak punya uang dan aku belum siap mati," tuntasnya lalu kembali sibuk dengan nasi goreng kimchi di piring.
Baekhyun menelan telur dadarnya lalu berkomentar, "kau Chanyeol atau Richard atau Ricko, Richie, Roki atau siapa pun juga aku tak tahu mana yang benar."
Sang tuan rumah terlihat masih tak percaya. Chanyeol juga maklum karena mana ada orang yang waras mau mempercayai cerita menyedihkan seorang penyusup sepertinya. Tapi dia punya bukti bahwa dia adalah Chanyeol seperti yang dia ceritakan.
Itu berarti dia harus segera menunjukannya.
"Woah woah woah! Kau mau apa?" pekik Baekhyun terkejut ketika tiba-tiba Chanyeol beranjak naik ke kursi.
Pria itu berdiri di kursinya sambil menjinjing kaos ke atas dan lalu menurunkan celana hingga underwear-nya juga, "menunjukkanmu sesuatu."
"SESUATU APA SAMPAI HARUS MELEPASKAN CELANA!?"
Ya ampun! Ya ampun! Ya ampun!
Dia gila dan dia tidak waras! Oke itu sama aja! Dan Baekhyun benar-benar tak mau merusak paginya dengan melihat benda milik seseorang jadi ia menutup matanya rapat-rapat. Berlapis-lapis dengan bantuan telapak tangannya juga.
Sepuluh detik berlalu tapi Chanyeol tak melakukan apapun kepadanya.
Baekhyun pelan-pelan membuka mata. Masih agak buram, dilihatnya pria itu sedang memamerkan sesuatu yang tergambar di pinggang sebelah kiri.
Astaga, itu sebuah tatto. Baekhyun menyipitkan matanya untuk membaca tulisan latin yang terpatri di sana.
Yang lebih kecil menjambak rambutnya frustrasi, "orang macam apa yang mentato pinggangnya dengan namanya sendiri?!"
"Aku melakukannya," jawab Chanyeol sambil membenahi pakaiannya, lalu kembali duduk manis di kursi untuk melanjutkan sarapan.
Baekhyun mematung, merasakan detak jantungnya yang menggila tanpa sebab. Lagipula kenapa dia harus bersikap setegang ini? Dia terlalu paranoid.
"Richard adalah...orang yang sangat bermasalah. Kami kembar identik dan bisa saja para gangster salah mengira aku sebagai dirinya dan bisa saja aku yang dipenggal. Tatto ini adalah identitasku jika wajah dan sidik jariku hancur."
Jika benar Chanyeol dan Richard adalah saudara kembar yang berlawanan sifat, itu berarti tindakannya ini bisa disebut sebagai aksi heroik. Katakanlah Baekhyun sedang menolong seorang korban yang terancam celaka karena perbuatan orang lain. Hoho itu sedikit membuatnya bangga.
Tapi jika Chanyeol hanya berbohong untuk membuatnya simpati dan Baekhyun termakan bualannya, itu berarti dirinya sangatlah bodoh karena telah membiarkan seorang bedebah bersembunyi di rumahnya.
Oh dilema.
"Oke, satu minggu."
Hati kecil seorang Byun Baekhyun yang lemah dan lembut itu akhirnya menang. Melihat betapa menyedihkannya nasib si cabul satu ini membuat Baekhyun teringat kepada hidup Luhan –dulu- sebelum dia sukses.
Sukses menjual harga diri dan tubuhnya.
Dan Chanyeol di seberangnya, tak sekalipun berkedip karena dia sendiri tak percaya bahwa seorang yang berperilaku keras dan kasar seperti Baekhyun bisa bersimpati. Mungkin inilah yang orang-orang sebut sebagai sentuhan kasih Tuhan.
Chanyeol tersenyum haru.
Byun Baekhyun akhirnya jengah juga karena sorot si brengsek cabul itu lama-kelamaan terasa menembus dahi, "berhenti menatapku seolah aku adalah bintang porno kesukaanmu!"
Tapi pria itu masih menatapnya dengan cara yang sangat awkward. Baekhyun jengah setengah mati, "terserah! Aku pergi. Jika kau mau kabur, tolong jangan mencuri apa pun. Semua yang ada di rumah ini bukan milikku. Aku miskin, mengerti?"
Chanyeol langsung mengangguk seperti anak anjing.
Baekhyun beranjak dari kursinya setelah tegukan terakhir susu di gelas sudah meluncur di kerongkongan. Chanyeol masih memiliki setengah nasi goreng kimchi karena dia makan seperti bayi enam bulan. Lambat dan suka menimbun makanan di pipi.
Baekhyun itu sibuk, oke? Dia bukan babysitter yang harus menunggu seorang bayi besar menghabiskan makanannya sambil mendongeng.
"Kau mau kemana?" Chanyeol berdiri dari kursinya untuk melihat Baekhyun yang dengan terburu menyambar plastik berisi ganja lalu dimasukkan ke dalam backpack.
Dari ujung pintu, sang tuan rumah berteriak, "aku harus mencari Dildo!"
Dengan tersinggung, Chanyeol pelan-pelan melihat ke tengah selangkangannya sendiri. Baekhyun sudah menyentuhnya tadi malam dan apakah lelaki itu pikir ukurannya sangat payah? Sampai lelaki itu lebih memilih memakai dildo ketimbang menerima Chanyeol yang dengan gamblang telah menawarkan jasanya?!
Jadi, itu berarti Baekhyun sama saja merendahkan kemampuannya begitu? Dia pikir mainan itu akan terasa jauh lebih enak ketimbang penisnya?!
Ohoh, Chanyeol benar-benar tersinggung.
.
🎶 Before you came into my life 🎶
🎶 Everything was black and white ?
🎶 Now all i see is colour🎶
🎶 Like a rainbow in the sky🎶
